Dalam Wiktionary (ensiklopedia
multi bahasa) kata Menara Gading didefinisikan sebagai `tempat atau kedudukan
yang serba mulia, enak, dan menyenangkan atau boleh juga tempat untuk
menyendiri, misal tempat studi, yang memberi kesempatan untuk bersikap masa
bodoh terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya` (https://id.wiktionary.org/wiki/menara_gading).
Kalau begitu memang patut orang-orang kampus alias makhluk akademis tinggal di Menara
Gading karena mereka merasa nyaman dengan kedudukannya yang serba mulia. Bukankah
mereka merasa mulia terutama para pengajar (dosen) karena sebutan dosen saja
itu di mata masyarakat punya kelas tersendiri (lebih tinggi daripada guru di
sekolah). Bukankah juga dianggap mulia karena punya berderet gelar akademis
baik dari perguruan tinggi (PT) ternama di negeri ini maupun lulusan luar
negeri kelas dunia sehingga untuk menghormati mereka orang yang di bawahnya
atau sesama teman sejawatnya menyapanya dengan `Pak Dosen`, `Doktor`, atau
`Prof` (untuk professor)? Yang bukan teman sejawatnya (sekelas mahasiswa atau
karyawan/pegawai PT) karena menyapanya dengan sapaan di atas setidak-tidaknya
membuat “Sang Dosen“, `Sang Doktor`, atau `Sang Profesor` merasa tersanjung
dengan sapaan tersebut. Jangan coba-coba menyapa mereka dengan sapaan `Pak
Guru` atau `Bu Guru` karena buat mereka sapaan itu hanya ada di tingkat
pendidikan SD,SMP, SMA atau SMK. Menyapa mereka dengan sapaan seperti itu sama
halnya juga merendahkan mereka. Mudah-mudahan saja tidak semua dosen bawa
perasaan (baper) seperti itu karena juga masih banyak dosen yang egaliter.
***
Itu
baru dari segi sapaan `Sang Dosen` merasa nyaman. Tapi ada yang lebih jauh dari
itu, yaitu `Sang Dosen` (yang menyandang S2, S3, atau profesor) merasa nyaman
jika semakin jauh dari realitas kehidupan di sekitarnya. `Sang Dosen` itu
artinya tidak/kurang peduli alias `cuek bebek` terhadap masalah-masalah sosial
sekitarnya. Gimana gak `cuek bebek` kalau dari status saja mereka merasa lebih
tinggi dari masyarakat biasa. Gimana juga gak `cuek bebek` kalau `Sang Dosen`
yang telah mendapat tunjangan baik dari PT tempat mereka mengajar maupun dari
pemerintah melalui sertifikasi atau tunjangan selaku guru besar membuat mereka
merasa nyaman hidupnya. Dari besarnya tunjangan (belum termasuk tunjangan
jabatan di PT mereka mengajar) lumayanlah asal tidak terpengaruh oleh gaya
hidup yang semakin menggila. Kalau ada dosen punya gaya hidup hedonis, sering
gonta-ganti hp atau sering menuruti apa maunya anak-istri yang juga
hedonis, memang tunjangan itu tidak akan mencukupi. Akhirnya, dosen
seperti ini sering `ngobyek` di luar kampus.
Istilah
`ngobyek` di luar ditujukan pada dosen yang karena `ngoyonya` mengejar
kebutuhan gaya hidupnya (termasuk kebutuhan hedonis anak-istrinya) dengan
mengajar di beberapa perguruan tinggi. Terkadang juga ada dosen yang `ngobyek`
cari proyek di beberapa lembaga-lembaga konsultan di luar kampus. Kalau sasaran
obyekannya lembaga-lembaga semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) masih
bolehlah karena masih banyak LSM yang idealis. Tapi, kalau LSM-LSM plat merah,
yang jadi alat pemerintah sudah lain bab. Begitu juga perusahaan-perusahaan
swasta yang bergerak di bidang penelitian, yang sudah jelas-jelas profit
oriented lain lagi ceritanya. Jelas, perusahaan-perusahaan seperti ini
terkadang hanya memanfaatkan orang-orang akademis untuk mencari keuntungan
walaupun sekedar pasang nama agar proposalnya diterima oleh instansi
pemerintah tertentu.Karena `Sang Dosen` juga butuh pemasukan tambahan,
terjadilah peristiwa mutual simbiosis. Sama-sama butuh, sama-sama
cari keuntungan.
Dosen-dosen
yang punya jabatan di PT tempat mereka mengajar karena tuntutan jabatan mau
tidak mau harus bekerja full time di kampusnya. Agar mereka
tidak `ngobyek` di luar diberikan tunjangan yang cukup lumayan untuk ukuran `Sang
Dosen`. Atau bisa juga sedikit ditakut-takuti oleh sanksi aturan akademis kalau
mereka coba-coba mangkir. Dengan alasan sering ada rapat, mereka minta
kebijakan agar beban jam mengajarnya tidak sama dengan dosen yang tidak
memiliki jabatan. Karena juga jenuh jika berlama-lama di belakang meja, mereka
juga pada akhirnya mengajar dengan jumlah jam mengajar yang terkadang lebih
banyak daripada dosen biasa. Yang dikejar oleh mereka yang punya jabatan
apalagi kalau bukan kelebihan jam mengajar yang tentu saja ada kompensasinya.
Meskipun demikian, ada juga dosen yang kreatif mengisi waktu-waktu luang dengan
membuat penelitian baik yang ada di tempatnya mengajar atau dari luar entah
dari instansi pemerintah atau dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)
lewat berbagai macam penelitian yang memang ditawarkan oleh instansi tersebut.
Singkat
kata, `Sang Dosen` yang asyik dengan dunianya semakin hari semakin jauh dari
masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya. Sindrom bahwa PT telah menjadi `Menara
Gading` memang semakin terbukti manakala terbukti `Sang Mahasiswa` juga
bersikap sama persis dengan `Sang Dosen`, yaitu sama-sama `cuek bebek` terhadap
masalah-masalah sosial di sekitarnya. Lho, kok bisa begitu, ya? Bukankah ada
adagium `guru kencing berdiri, murid kencing berlari`? Jadi, tanpa disadari
aktivitas `Sang Dosen` sebagai pengajar di kampusnya memberikan sebuah
pembelajaran yang buruk tentang bersikap `cuek bebek` terhadap masalah-masalah
sosial di sekitarnya pada para intelektual muda, yaitu para mahasiswanya.
Gimana para mahasiswa mau peduli dengan sekitarnya kalau `Sang Dosen` juga
tidak peduli? Kalau ada banyak penelitian yang dilakukan `Sang Dosen`,
sekalipun penelitian itu tentang masalah-masalah sosial, selama ini tidak pernah
diimplementasikan. Banyak hasil penelitian yang tersimpan di arsip yang tidak
pernah ada tindak lanjutnya. Pada akhirnya tidak perlu tersinggung kalau
kalangan akademis itu digelari orang golongan makhluk-makhluk `borju` (untuk
menyebut borjuis).
Bagaimana
supaya terhindar dari sebutan yang menyakitkan itu? Goyang saja Menara Gading
itu sampai rubuh. Caranya, hidupkan kerja-kerja pengabdian masyarakat (PM).
Hasil-hasil penelitian yang telah memenuhi arsip-arsip di perpustakaan harus
diimplementasikan dalam bentuk PM. Bikin kegiatan PM jangan cuma sekedar
menyenangi orang sesaat (kuratif) tetapi membikin kesengsaraan berkepanjangan.
Kegiatan-kegiatan kuratif harus disingkirkan. Sudah tidak layak lagi
`orang-orang intelek` di kampus bikin kegiatan kuratif seperti bakti sosial
sementara mempertontonkan kemewahan hidupnya di tengah-tengah masyarakat duafa.
Sudah saatnya `orang-orang intelek` di kampus juga mengintelekkan masyarakat
sekitarnya. Sudah saatnya `orang-orang intelek` di kampus melihat dengan mata
kepala sendiri tentang kenyataan hidup bangsanya yang jauh dari kecukupan
hidup. Mereka (`orang-orang intelek` yang ada di kampus) harus bisa melihat
dunia masyarakat yang bertentangan dengan dunia kampus. Mereka harus punya
pandangan heterogen karena selama ini pandangan mereka cenderung homogen.
Selain itu, mereka harus benar-benar mau bersentuhan dengan kondisi kehidupan
masyarakat yang kompleks permasalahannya. Jadi, mata mereka harus benar-benar
melek melihat permasalahan dunia masyarakat yang ada di sekitarnya. Mereka
tidak bisa bertahan dengan masalahan dunia kampus yang permasalahannya
cenderung dalam bentuk model atau teori. `Orang-orang intelek` dari kampus coba
terapkan teori yang dimilikinya untuk memecahkan permasalahan yang ada di
masyarakat. Sanggup tidak dengan teorinya itu memecahkan berbagai permasalahan
di masyarakat? Ini sebuah tantangan bagi kalangan akademis untuk menyelamatkan
masalah-masalah sosial yang semakin hari semakin menumpuk. Masalah-masalah
sosial itu manakala suatu saat telah mencapai titik kulminasinya akan
terjadi erupsi. Erupsi dari masalah-masalah sosial bisa jadi dalam bentuk
tindakan radikal (semacam kerusuhan/konflik sosial) yang sering terjadi di
negeri ini. Kalau hal itu sering terjadi, maka negeri ini telah terkena sindrom
patologi sosial.
Agar
tidak terjadi sindrom patologi sosial yang boleh jadi berawal dari adanya
kesenjangan sosial, setiap PT di negeri ini harus melaksanakan dharma ketiga,
yaitu dharma pengabdian pada masyarakat (PM). PT di negeri ini baik negeri
maupun swasta menurut catatan Kemenristek-dikti sampai dengan tahun ini jumlah
unit perguruan tinggi yang terdaftar mencapai 4.504 unit. Angka ini didominasi
oleh perguruan tinggi swasta (PTS) yang mencapai 3.136 unit. Sedangkan
perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi unit paling sedikit, yakni 122 unit.
Sisanya adalah perguruan tinggi agama dan perguruan tinggi di bawah kementerian
atau lembaga negara dengan sistem
kedinasan. (databoks.katadata.co.id/datapublish/…/berapa-jumlah-perguru-an-tinggi-di-indonesia). Kalau
dari jumlah tersebut ada 1.000 PT baik PTN maupun PTS yang melakukan
kerja-kerja PM seperti Desa Binaan akan ada seribu desa yang terbina.
Sebuah PTN/PTS bisa saja membuat lebih dari satu desa binaan. Bisa jadi sebuah
PTN/PTS yang jumlah mahasiswanya cukup besar lebih dari sepuluh desa yang
dijadikan objek Desa Binaan. Di Desa Binaan tempat PTN/PTS itu melakukan
kerja-kerja PM bisa juga dilakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selain itu, bisa
dilakukan kerja-kerja penelitian. Kalau perlu sebuah PTN/PTS bisa saja
membangun sekolah/ madrasah setingkat SD, SMP,SMA/SMK, terutama di desa-desa
tertinggal yang dibiayai oleh PTN/PTS bersangkutan. Bukankah sekarang biaya
kuliah juga cukup tinggi? Apa salahnya dari biaya kuliah sebesar 5% saja
disisihkan sebagian untuk membangun lembaga-lembaga pendidikan? Boleh juga
membuka semacam poliklinik (puskesmas), perpustakaan, atau tempat-tempat
aktivitas pemuda desa (semacam gedung Karang Taruna) agar mereka juga jadi
`orang intelek`, kreatif, dan punya keterampilan yang semuanya dibiayai dari
kantong-kantong PTN/PTS yang telah mengadakan PM dengan membentuk Desa Binaan.
Sekali lagi PTN/PTS di negeri ini sebenarnya telah berlebih dananya. Tidak usah
PTN/PTS minta-minta dana pada pemerintah. Nanti malah memberatkan pemerintah
sehingga harus berutang lagi pada lembaga-lembaga donor. Jadi, dana yang
berlebih itu jangan cuma disimpan dengan alasan untuk ini-itu yang tidak jelas.
Nanti ujung-ujungnya dikorup oleh pejabat struktural di PTN/PTS tersebut.
Bukankah akan lebih baik jika digunakan untuk menggoyang Menara Gading agar
insan-insan akademis itu terbangun dari kenyamanannya selama ini?
(Bersambung)
.jpg)
.jpg)



.jpg)




.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)