Minggu, 30 Oktober 2022

Bahasa dan Sastra (107)

8. AWALI DENGAN KUTIPAN (2) 

Subagio S.Waluyo


… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…. (Ar-Raad:11).

Potongan ayat Al-Quran di atas menjadi pemicu dan pemacu bagi umat Islam untuk mengubah nasib dirinya. Bahkan, ayat tersebut juga bisa dijadikan motivasi buat umat-umat lain untuk mengubah nasibnya. Yang jadi masalah masih banyak orang tidak berusaha  melakukan perubahan nasib. Mereka cenderung fatalis. Banyak di antara mereka bersikap menerima nasib yang katanya sudah digariskan Tuhan. Kok, bisa tahu ya kalau nasibnya kurang baik atau buruk karena sudah digariskan Tuhan? Bukankah masalah mati, jodoh, dan nasib (rezeki) hanya Tuhan yang tahu? Atau jangan-jangan ini hanya ungkapan orang-orang yang kalah bersaing dalam mengais rezeki di muka bumi ini? Terlepas dari itu semua, kita jadikan uraian di atas sebagai bahan masukan untuk kita belajar menulis yang diawali dengan kutipan dari Al-Quran atau hadits-hadits Nabi.

Jumat, 28 Oktober 2022

Bahasa dan Sastra (106)

7. AWALI DENGAN KUTIPAN (1) 

Subagio S. Waluyo



Mengawali dengan kutipan apakah dibolehkan? Apakah kita akan kena delik kalau mengutip tulisan orang lain? Apakah dengan melakukan copy paste (copas) tulisan orang lain yang kita tempatkan di awal kalimat sebagai pencurian? Mengawali sebuah kutipan entah diambil dari ungkapan seorang tokoh baik tokoh nasional maupun internasional sah-sah saja selama kita mencantumkan sumber tulisannya. Kita tidak akan dituding sebagai plagiator atau tukang copas. Karena mencantumkan sumber tulisan, kita tidak akan kena delik hukum. Kita tidak akan disebut penyerobot tulisan orang lain. 

Rabu, 26 Oktober 2022

Bahasa dan Sastra (105)

6. AWALI DENGAN YANG MEMIKAT 

Subagio S.Waluyo


Bagaimana caranya agar dapat memikat pembaca? Awali dengan kata-kata, frase-frase, atau kalimat-kalimat yang bombastis! Tetapi, ingat, biar bagaimana pun kita harus berpatokan pada data yaang valid. Tanpa data kita akan dikatakan orang asal `ngecap`, asal `bunyi, atau asal `bersuara`. Jadi, supaya terhindar dari itu semua, sekali lagi, setiap kali kita mau menulis harus memiliki data yang valid. Paling tidak kita harus berpatokan pada 5 W + 1 H. Dengan berpatokan pada 5 W + 1 H kita bisa mempertanggungjawabkan tulisan kita manakala ada orang yang penasaran ingin menelusuri tulisan kita. 

Minggu, 16 Oktober 2022

Bahasa dan Sastra (104)

5. MEMULAINYA DENGAN PERTANYAAN 

Subagio S.Waluyo


Selain memulai tulisan dengan definisi juga bisa kita lakukan dengan mengajukan pertanyaan. Bahkan, boleh jadi sebuah definisi bisa dimunculkan setelah diajukan pertanyaan. Pertanyaan `apa` yang kita letakkan di awal tulisan salah satu di antaranya bisa diwujudkan dalam bentuk definisi. Kita bisa ambil contoh ketika ada orang yang menulis tentang `vandalisme`. Bisa saja orang itu mengajukan pertanyaan apa itu `vandalisme`? Ada alternatif buat orang itu apakah mau langsung mendefinisikan `vandalisme` atau selain mengajukan pertanyaan apa, bisa saja mengajukan pertanyaan siapa yang melakukan `vandalisme`, mengapa orang melakukan `vandalisme`, dan bagaimana cara mengantisipasi perilaku `vandalisme`? Di sini setiap orang yang mau menulis diberi kebebasan apakah langsung membuat definisi atau mengajukan berbagai pertanyaan di seputar `vandalisme`.

Selasa, 11 Oktober 2022

Bahasa dan Sastra (103)

 4. AWALI DENGAN DEFINISI

Subagio S. Waluyo




Ada cara lain yang bisa dilakukan ketika seseorang mengalami kesulitan mengawali sebuah tulisan. Selain menggunakan pengulangan kata kunci bisa juga dilakukan dengan menggunakan sebuah definisi. Khusus untuk tulisan yang dimulai dengan definisi kalau kesulitan mendefinisikan suatu kata atau frasa bisa dicari di kamus (dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI) atau buku-buku keilmuan yang berkaitan dengan kata atau frasa yang dicari. Bisa juga dicari di buku-buku yang memuat istilah-istilah keilmuan. Kalau tidak mau berlelah-lelah cari saja lewat google atau di wikipedia yang terdapat di internet.

***


Berkaitan dengan uraian di atas, sekarang kita coba membuat tulisan yang mengangkat masalah kata `menguap`. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kata tersebut digunakan KBBI. Di KBBI ternyata kita bukan hanya menemukan kata `menguap` yang didapatkan, tetapi juga asal-usul kata tersebut. Selain itu, juga banyak pilihan kata yang bisa kita gunakan sehingga kita bebas kata yang mana saja yang mau kita gunakan. Setelah diperoleh definisi yang mau digunakan, baru dari kata yang telah diketahui definisinya kita kembangkan menjadi tulisan utuh. 

Pada kutipan di atas ada sebuah kata yang menarik perhatian kita: `menguap`. Kata `menguap` menurut Kamus Besar bahasa Indonesia kalau berasal dari kata `kuap` berarti `mengangakan mulut dengan mengeluarkan napas karena mengantuk`. Meskipun demikian, kata `menguap` kalau berasal dari kata `uap` berarti 1` menjadi uap, mengeluarkan uap` misalnya dalam kalimat `Spiritus itu benda cair yang mudah menguap`. Bisa juga 2 `hilang,lenyap` misalnya dalam kalimat `Jika tidak kamu kunci, sepedamu akan menguap.` Tampaknya, kata `menguap` yang berarti `hilang, lenyap` yang digunakan dalam tulisan ini.

(http://subagiowaluyo.blogspot.com/2020/09/all-you-need-is-love-71.html)

 

Ternyata, dari kata `menguap` kita bisa membuat sebuah paragraf. Walaupun sebagian besar isi paragraf berisikan arti yang dikandung dari kata `kuap`, dari kata tersebut bisa dipastikan akan menjadi sebuah wacana. Untuk mewujudkan sebuah wacana yang utuh tinggal memfokuskan pada kalimat terakhir di paragraf tersebut:Tampaknya, kata `menguap` yang berarti `hilang`, `lenyap` yang digunakan dalam tulisan ini. Kalimat tersebut jelas menjadi stimulus untuk kita respon ke dalam pembuatan paragraf berikutnya. Bisa saja pada kalimat pertama di awal paragraf berbunyi seperti ini: Kata `masalah-masalah` atau `kasus-kasus` jika dirangkaikan dengan kata `menguap` menjadi `masalah-masalah` atau `kasus-kasus` (yang) menguap berarti `masalah-masalah` atau `kasus-kasus` (yang) `hilang, lenyap.`  Setelah kita awali dengan kalimat tersebut, langkah berikutnya kita fokuskan pada `masalah-masalah atau kasus-kasus yang menguap`.Dari pernyataan tersebut baru kita menulis di seputar `masalah-masalah atau kasus-kasus yang menguap` tersebut.

***


Buku A. Mangun Hardjana Isme-Isme dari A sampai Z yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2001 (cetakan kelima), ternyata juga cukup banyak membantu. Buku tersebut memuat 64 kata yang menggunakan akhiran –isme. Dimulai dari kata Aksiologisme sampai dengan kata Zelotisme. Buku tersebut memang tergolong jadul. Tetapi, lewat buku tersebut ketika seseorang menemukan sebuah kata, misalnya, kata `sinisme`, begitu dia membuka buku tersebut ditemukan definisi yang menarik untuk membuat sebuah tulisan tentang hal-hal yang berkaitan dengan `sinisme`. Kata `sinisme` di buku Isme-Isme dari A sampai Z (2001:213) didefinisikan sebagai sikap suka mengejek, mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan kritik. Dari definisi tersebut boleh jadi semua itu mengarah pada satu kata yang biasa digunakan di media sosial, yaitu yang biasa disebut `nyinyir`. Nah, dari kata `nyinyir` inilah orang bisa mengembangkan sebuah tulisan menarik. Bisa saja nanti di dalamnya sang penulis mencoba membedakan orang yang `nyinyir` dengan orang yang `kritis`. Kalau perlu, masukkan saja dampak yang akan dimunculkan dengan kebiasaan orang yang suka `nyinyir`. Di bawah ini ada sebuah paragraf yang memuat definisi dan uraian singkat di seputar kata `sinisme` dan `nyinyir.     

 

Istilah `sinisme` menurut A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (2001:213) ialah sikap suka mengejek, mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan kritik. Dalam istilah yang ada di media sosial (medsos) biasa disebut `nyinyir`. Sebagai bukti kalau istilah sinisme ada kemiripan dengan `nyinyir di dunia medsos bisa dilihat dari pengertian `nyinyir` menurut orang-orang yang terlibat di dunia maya (netizen). Para netizen sepakat menganggap nyinyir ini sama artinya dengan menggunjing, menyindir atau mengkritik seseorang atau pihak lawan. Si tukang nyinyir ini, menurut para netizen artinya sama saja dengan tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik, dan menggunjing orang lain dan tukang sebar berita hoax (https://inspirasipedia.com/2019/04/20/ apa-itu-nyinyir/). Bisa juga mereka orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik dan menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah orang-orang yang sinis. Orang-orang penganut paham sinisme.

(http://subagiowaluyo.blogspot.com/2020/08/all-you-need-is-love-76.html)

 

Dua kalimat terakhir yang bisa dijadikan pemancing untuk menulis lebih jauh lagi, yaitu kalimat yang berbunyi: Bisa juga mereka orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik dan menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah orang-orang yang sinis. Orang-orang penganut paham sinisme. Maksudnya, pada paragraf berikutnya kita bisa menguraikan bahwa orang-orang yang `nyinyir` adalah orang-orang penggosip, penyebar aib orang, pengeritik (perlu dijelaskan dan diuraikan di sini orang-orang yang suka mengeritik kekurangan orang lain), dan penyebar berita hoax. Mereka ini yang tergolong sebagai penganut paham sinisme. Karena sudah dimasukkan ke dalam penganut paham sinisme, kita tinggal menguraikan misalnya saja mencari faktor penyebab orang menjadi penganut paham sinisme. Kalau masih dirasakan kurang, coba tulis dampak yang diakibatkan oleh adanya sikap sinisme baik terhadap diri sendiri, masyarakat, maupun bangsa. Terakhir, upaya-upaya apa saja perlu dilakukan untuk menghindari sikap sinisme.

***

 


Setiap orang yang belajar ilmu ekonomi sudah bisa dipastikan akan diawali dengan pengertian ekonomi. Untuk mencari pengertian ekonomi kita bisa mencari di buku-buku yang khusus membahas ilmu ekonomi. Meskipun demikian, karena sudah diketahui secara umum, orang bisa memulainya dengan cara menguraikan akar kata dari kata `ekonomi`. Ternyata, kalau   melihat dari akar katanya, kita akan dapati pengertian yang unik, yaitu `hukum` atau `aturan-aturan dalam rumah tangga`. Jadi,semua `hukum` atau `aturan dalam rumah tangga` itu `ekonomi`? Kalau  coba dicari di wikipedia, kita akan menemukan pengertian ekonomi itu ialah ilmu sosial yang mempelajari perilaku manusia dalam mengelola sumber daya yang terbatas dan menyalurkannya ke dalam berbagai individu atau kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. Kok, bisa jauh berbeda ya? Di sini seorang penulis harus menjelaskan dulu pengertian yang diambil dari akar kata tersebut yang boleh jadi entah mengalami perluasan makna atau kebalikannya, penyempitan makna, sehingga muncul pengertian baru yang lebih bisa diterima oleh setiap orang. Tidak bisa hanya menyebutkan garis besarnya. Memang, dengan cara menyebutkan garis besarnya saja orang bisa memahami pengertian ekonomi. Tetapi, tulisan yang baik setidaknya harus bisa mensugesti orang bahwa dari sebuah kata, sebagaimana juga diuraikan oleh bidang-bidang ilmu lainnya, kerap mengalami perubahan makna sehingga tidak mustahil memunculkan pengertian baru yang bisa diterima oleh semua orang. Berikut ini bisa kita lihat konsep tentang `ekonomi` yang definisinya dimulai dari menentukan akar katanya.

 

Ekonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah tangga dan nomos yang berarti aturan atau hukum. Jadi, ekonomi adalah aturan-aturan dalam rumah tangga. Tetapi, secara garis besar pengertian ekonomi adalah sebuah keilmuan yang mempelajari tentang aktivitas manusia dalam lingkup ekonomi yang berhubungan dengan aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi. Ilmu ini mempelajari tiga proses ekonomi yang telah disebutkan di atas, di antaranya adalah aktivitas produksi. Dalam hal ini ekonomi membahas tentang cara barang tersebut dibuat, seperti bahan baku, cara pengolahan, biaya, dan pembuat. Sementara itu, dalam hal aktivitas distribusi, ekonomi mempelajari cara barang atau jasa tersebut bertemu dengan konsumen, seperti pemasaran, pemasokan, dan tempat penjualan. Kemudian aktivitas yang terakhir adalah konsumsi. Dalam hal ini ilmu ekonomi membahas tentang cara barang atau jasa tersebut setelah sampai kepada konsumen. Aktivitas ekonomi membahas tentang pembeli, alat pertukaran atau biaya, dan lain-lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekonomi adalah sebuah cabang keilmuan yang membahas tentang aktivitas manusia dalam hal pembelian, penyaluran, dan pemakaian barang atau jasa.

(https://brainly.co.id/tugas/8865008)

 

Paragraf di atas menggunakan dua kalimat utama (di awal dan akhir paragraf). Di awal paragraf dimulai dengan kalimat berbunyi: Ekonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah tangga dan nomos yang berarti aturan atau hukum. Sementara itu, di akhir paragraf kita dapati kalimat berbunyi: Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekonomi adalah sebuah cabang keilmuan yang membahas tentang aktivitas manusia dalam hal pembelian, penyaluran, dan pemakaian barang atau jasa. Bagaimana cara meneruskan ke paragraf berikutnya agar terwujud menjadi sebuah wacana? Fokuskan saja pada bunyi kalimat di akhir paragraf tersebut. Caranya mudah kok! Kita bisa membahasnya dari aktivitas manusia dalam hal pembelian, penyaluran, dan pemakaian barang dan jasa sebagaimana tercantum dalam kalimat tersebut. Agar pembaca lebih memahami konsep `ekonomi` yang mau kita uraikan, kita bisa memulainya dengan aktivitas manusia dalam hal pembelian barang dan jasa. Kemudian kita teruskan yang berkaitan dengan penyalurannya. Terakhir, kita uraikan yang berkaitan dengan pemakaiannya. Kalau mengalami kesulitan untuk menuangkannya ke dalam tulisan, tidak ada salahnya kita mencoba mengambil dari berbagai referensi yang berkaitan dengan tiga hal di atas: pembelian, penyaluran, dan pemakaian barang dan jasa.

***


Di dunia pendidikan orang yang belajar bahasa pasti memulainya dengan menyimak/mendengarkan. Tahap berikutnya adalah membaca. Apa itu membaca? Tulisan berikut ini dimulai dengan definisi `membaca`. Setelah diuraikan definisi `membaca`, penulis juga menjelaskan bahwa membaca merupakan salah satu dari empat kegiatan berbahasa. Lebih jauh dari itu, penulis juga menjelaskan tentang pengklafikasian jenis membaca, yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Kedua jenis membaca tersebut juga oleh penulisnya dituliskan definisinya sehingga kita mendapati dalam satu paragraf tersebut ada tiga definisi, yaitu `membaca`, `membaca nyaring`, dan `membaca dalam hati`. Untuk lebih jelasnya, bisa kita lihat tulisan berikut ini.  

 

Membaca ialah salah satu aktivitas berbahasa yang secara teknis melakukan analisis, interpretasi, dan memahami sebuah wacana atau tulisan tertentu. Membaca juga merupakan salah satu dari empat kegiatan berbahasa. Beberapa di antaranya adalah menyimak, berbicara, dan menulis. Jika didasarkan pada cara membaca itu dilakukan, membaca dapat diklasifikasikan ke dalam dua macam. Jenis membaca berdasarkan cara tersebut di antaranya adalah membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca nyaring ialah suatu aktivitas membaca yang dilakukan dengan cara mengeraskan suara dengan tujuan agar dapat disimak oleh orang lain. Sedangkan membaca dalam hati ialah membaca dengan lirih tanpa mengeluarkan suara yang keras atau bisa juga membaca dengan tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Membaca dalam hati biasa dilakukan untuk memahami maksud dan tujuan tulisan atau wacana yang sedang dibaca.

(https://www.kakakpintar.id/4-contoh-paragraf-definisi-pengertiannya/)

 

Dari dua jenis membaca (membaca nyaring dan membaca dalam hati), mana yang mau kita teruskan ke paragraf berikutnya? Kalau mau menulis membaca nyaring, kita bisa tulis, misalnya, cara membaca nyaring yang benar. Bisa juga kita mau fokus pada kalimat terakhir di paragraf tersebut yang berbicara tentang membaca dalam hati, kita tuliskan hal-hal yang berkaitan dengan membaca dalam hati. Entah nanti kita tuliskan cara yang tepat membaca dalam hati. Bisa juga kita menulis kiat-kiat membaca dalam hati yang baik. Bahkan, boleh saja kita menambahkannya dengan manfaat yang bisa diambil dari membaca dalam hati.  

***

Sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan terdahulu, setiap orang yang mau menulis apapun harus dimulai dengan menemukan masalah. Setelah masalah ditemukan, kalau kita menemukan ada kata (frasa) atau istilah yang perlu definisi, kita memulainya dengan membuat definisi dari kata (frasa)  atau istilah tersebut. Salah satu contoh menarik ketika di masa Pandemi Covid 19 ada fenomena orang yang mengisi waktu luangnya dengan memanfaatkan setiap jengkal tanah untuk ditanami palawija. Kita namakan aktivitas tersebut dengan `environmentalis`. Untuk memperoleh definisi kata `environmentalis`, kita perlu mencari kata atau istilah tersebut dari beberapa referensi. Nanti dari kata atau istilah yang kita dapati, boleh jadi kita bukan hanya menemukan arti kata tersebut, tetapi juga kata atau istilah `environmentalisme`. Lalu,  dari kata atau istilah tersebut kita kembangkan menjadi sebuah tulisan dalam sebuah paragraf. Jika telah dikembangkan menjadi sebuah paragraf, langkah berikutnya yang paling mudah adalah meneruskan kalimat terakhir di paragraf tersebut. 









Kamis, 22 September 2022

Bahasa dan Sastra (102)

3. PENGGUNAAN PENGULANGAN KATA KUNCI

Subagio S.Waluyo




Menulis paragraf selain bisa menggunakan konjungsi juga bisa menggunakan pengulangan kata kunci. Memang, agak sulit menggunakan kata kunci yang sama yang diletakkan di hampir semua kalimat dalam satu paragraf. Sebagai penulis pemula perlu kehati-hatian untuk menggunakan kata-kata kunci yang berulang. Di samping perlu kehati-hatian juga perlu fokus terhadap kata kunci yang mau ditulis berulang-ulang. Kata `sampah`, misalnya, yang dijadikan contoh berikut ini harus tepat penempatannya agar terlihat enak dibaca dan mudah dipahami. Coba kita lihat paragraf berikut ini yang menggunakan pengulangan kata kunci yang sama, tapi tidak terkesan membosankan ketika membacanya. 

 

(1) Sampah selamanya selalu memusingkan. (2) Berkali-kali masalahnya diseminarkan dan berkali-kali pula jalan pemecahannya dirancang. (2) Namun, keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki tetap menjadikan sampah sebagai masalah yang pelik. (3) Pada waktu seminar-seminar itu berlangsung, penimbunan sampah masih terjadi. (4) Hal ini sedikit banyaknya mempunyai kaitan dengan masalah pencemaran air dan banjir. (5) Selama pengumpulan, pengangkutan, pembuangan akhir, dan pengolahan sampah itu belum dapat dilaksanakan dengan baik, selama itu pula sampah menjadi masalah.  

 

(dikutip dari Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi oleh E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai)

 

Pada paragraf di atas ada lima kata `sampah` yang digunakan berulang-ulang. Penulis dengan cermat menggunakannya sehingga tidak merusak keutuhan sebuah paragraf. Kita pun bisa mudah memahami isi paragraf tersebut. Selain itu, kita yang membacanya pun tidak merasa jenuh. Paragraf di atas menunjukkan bahwa sang penulis adalah seorang penulis yang handal karena tidak mudah menempatkan kata kunci yang sama berulang-ulang di hampir setiap kalimat di paragraf tersebut. Contoh berikut ini juga terlihat adanya pengulangan kata `sesak` yang ditulis berulang-ulang.

 

(1) Kalau ditanya tentang tahun 2020 yang segera ditinggalkan, saya akan menjawab tahun yang menyesakkan. (2) Saya tidak mengatakan menyesakkan buat kesejahteraan saya karena sampai akhir tahun 2020 ini saya masih diberi Allah SWT rezeki yang berkecukupan. (3) Saya tidak mengatakan bahwa keluarga saya tergangggu kesejahteraannya. (4) Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa sesak dada ini melihat perilaku pemimpin negara ini yang telah membuat anak bangsa ini sesak dadanya. (4) Bagaimana tidak sesak kalau di luar Indonesia di awal tahun ini orang sudah ribut-ribut masalah corona di negara ini pemimpin-pemimpin negara dengan angkuhnya mengatakan kalau negara ini tidak akan mungkin terpapar pandemi covid-19? (5) Bagaimana tidak sesak kalau sebagian anak bangsa ini banyak yang berjuang dengan maut karena corona enak-enaknya saja anggota dewan yang katanya terhormat mensahkan UU yang kontroversial, seperti UU Cipta Kerja yang memakan korban yang tidak sedikit? (6) Bagaimana tidak sesak kalau ada kado yang tidak mengenakkan apalagi kalau bukan perilaku pejabat publik yang bernama menteri tega-teganya makan uang haram bantuan sosial yang seharusnya disalurkan sepenuhnya pada anak bangsanya yang terpapar ekonominya akibat pandemi covid-19? (7) Bagaimana juga tidak sesak dada ini kalau terjadi lagi pelanggaran HAM oleh pihak berwajib yang menghabisi nyawa bangsa sendiri lewat peluru yang dananya dibeli dari uang rakyat? (8) Saya sesak melihat pemimpin-pemimpin bangsa ini yang sampai sekarang hanya memberi janji tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah terpampang di sila kelima Pancasila yang tidak pernah dan mungkin juga tidak mau mewujudkannya. (9) Wajar saja kalau dada ini sesak melihat perilaku rezim yang berkuasa saat ini.

 

(Dikutip dari “Tahun yang Menyesakkan” oleh Subagio S.Waluyo)

Ada delapan kata `sesak` yang digunakan secara berulang-ulang.  Dari segi jumlah kalimat dan panjangnya paragraf, jelas paragraf di atas kalimatnya lebih banyak daripada paragraf yang sebelumnya. Paragrafnya juga lebih panjang. Penempatan kata `sesak` baru dilakukan di kalimat keempat. Sementara paragraf yang membahas tentang sampah sudah ditempatkan kata `sampah` di awal kalimat. Meskipun lebih panjang paragrafnya dan lebih banyak kalimatnya, tulisan tersebut tidak terkesan membosankan. Mengapa? Masalah yang diangkat cukup menarik tentang perilaku pejabat publik di negara ini yang melakukan penyimpangan. Selain itu, ada beberapa kalimat tanya yang diawali kata tanya `bagaimana` yang juga digunakan berulang-ulang agar pembacanya mau berpikir dan merenungkan masalah yang juga paling tidak menyentuh hati nuraninya. Jadi, sebenarnya ada dua macam kata kunci yang diulang penggunaannya, yaitu kata `sesak` dan `bagaimana`. Keunikannya kedua kata kunci tersebut digunakan secara bersamaan dalam satu kalimat. Ada tiga kalimat yang ditulis bersamaan sehingga membentuk sebuah frasa `bagaimana tidak sesak`. Ditutup dengan bunyi yang hampir sama `bagaimana juga tidak sesak` yang menimbulkan kesan tersendiri ketika membacanya. Dijamin dengan cara penggunaan pengulangan kata sejenis yang ditempatkan di hampir setiap kalimat yang dikombinasikan dengan kata tanya yang juga diulang di beberapa kalimat pembaca mudah memahami isi tulisan. Agar lebih jelas lagi tentang penggunaan kata kunci dalam penulisan paragraf, berikut ini bisa dilihat contoh paragraf yang juga menggunakan kata kunci berulang-ulang.

 

Carolyn Kane seorang penulis Amerika ketika menulis tentang konsep berpikir juga menggunakan pengulangan kata berpikir sampai lima kali. Meskipun sampai lima kali diulang kata yang sama, pembacanya tidak akan pernah jenuh membacanya karena tulisan itu dikemas sedemikian rupa sehingga enak dibaca. Yang dikemukakan Carolyn Kane sederhana saja bahwa semua hal yang dilakukan manusia tidak lebih daripada berpikir. Jika semua orang ketika ingin melakukan sesuatu harus berpikir dulu, boleh jadi pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat akan tertunda karena harus dipikirkan dulu. Kita bisa bayangkan sesuatu yang dikemukakan oleh Carolyn Kane yang begitu sederhana ternyata ketika dituangkan dalam tulisannya bisa mengerutkan dahi. Carolyn Kane dengan pengulangan kata berpikir sampai lima kali yang dituangkannya ke dalam tulisannya terbukti berhasil membuat pembacanya merenung bahwa berpikir tidak harus lebih diutamakan sehingga mengganggu di hampir semua aktivitas manusia walaupun semua aktivitas manusia memerlukan sarana berpikir.   

 

(1) Kami orang Amerika adalah orang yang dermawan dan manusiawi: kami memiliki institusi yang ditujukan untuk setiap tujuan baik dari menyelamatkan kucing tunawisma untuk mencegah Perang Dunia III. (2) Tetapi apa yang telah kami lakukan untuk mempromosikan seni berpikir? (3) Tentu saja kita tidak punya tempat untuk itu pikir dalam kehidupan sehari-hari kita. (4) Misalkan seorang pria berkata kepada teman-temannya, "Aku tidak akan pergi ke PTA malam ini (atau latihan koor atau pertandingan bisbol) karena aku butuh waktu untuk diriku sendiri, suatu waktu untuk berpikir"? Orang seperti itu akan dijauhi oleh tetangganya; keluarganya akan merasa malu padanya. Bagaimana jika seorang remaja berkata," Aku tidak akan pergi ke pesta dansa malam ini karena aku butuh waktu untuk berpikir" Orangtuanya akan segera mulai mencari di Halaman Kuning untuk psikiater. Kita semua terlalu mirip Julius Caesar: kita takut dan tidak mempercayai orang yang berpikir terlalu banyak. Kami percaya bahwa hampir semua hal lebih penting daripada berpikir.

 

(Carolyn Kane, dari "Berpikir: Seni yang Terabaikan." Newsweek, 14 Desember 1981)

 

Tulisan berikut ini cukup panjang paragrafnya. Pengulangan katanya juga demikian banyak. Ada 27 kata `menulis` yang diulang di setiap kalimat. Karena paragraf ini tergolong panjang, jumlah kalimatnya pun cukup banyak: 24 kalimat. Di beberapa kalimat ada dua kata `menulis`, yaitu kalimat (2), (18), dan (21). Meskipun paragraf tersebut tergolong sangat panjang, pembaca tidak akan merasa jenuh karena kalimat-kalimatnya menarik untuk disimak dan direnungkan isinya. Coba saja perhatikan kalimat nomor 3 yang berbunyi: “(3) Saya menulis karena saya tidak dapat melakukan pekerjaan normal seperti yang dilakukan orang lain”. Kalimat tersebut menunjukkan keterus-terangan sang penulis bahwa tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan kecuali menulis. Di kalimat nomor (14)  penulis menulis: “Saya menulis untuk menyendiri”. Itu menunjukkan menulis sebagai tempat yang layak untuk menyendiri? Boleh-boleh saja kita perlu menyendiri karena menulis memerlukan imajinasi dan kontemplasi. Tapi, jangan karena menulis orang menjadi psikopat atau sosiopat. Begitu juga Kalimat di nomor (20): “Saya menulis karena menarik untuk mengubah semua keindahan dan kekayaan kehidupan menjadi kata-kata”. Dapatkah hanya dengan menulis dapat mengubah semua keindahan dan kekayaan menjadi kata-kata? Kalimat itu demikian mendalam maknanya. Susah untuk dicerna apa yang diinginkan penulisnya? Kita baru bisa mengetahuinya di akhir paragraf di kalimat nomor (24): “Saya menulis untuk menjadi bahagia”. Jadi, kebahagiaan itu baginya terletak pada saat dia menulis. Bagi sebagian orang yang terbiasa menulis juga mengakui bahwa ketika menuntaskan tulisannya, dia menemukan sebuah kebahagiaan yang tidak tergantikan.    

 

(1) Pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh penulis, pertanyaan favorit, adalah: mengapa Anda menulis? (2) Saya menulis karena saya memiliki kebutuhan bawaan untuk menulis. (3) Saya menulis karena saya tidak dapat melakukan pekerjaan normal seperti yang dilakukan orang lain. (4) Saya menulis karena saya ingin membaca buku seperti yang saya tulis. (5) Saya menulis karena saya marah kepada semua orang. (6) Saya menulis karena saya suka duduk di kamar seharian menulis. (7) Saya menulis karena saya dapat mengambil bagian dalam kehidupan nyata hanya dengan mengubahnya. (8) Saya menulis karena saya ingin orang lain, seluruh dunia, untuk mengetahui seperti apa kehidupan yang kita jalani, dan terus hidup, di Istanbul, di Turki. (9) Saya menulis karena saya suka bau kertas, pena, dan tinta. (10) Saya menulis karena saya percaya pada sastra, dalam seni novel, lebih dari yang saya percayai dalam hal lain. (11) Saya menulis karena itu kebiasaan, gairah. (12) Saya menulis karena saya takut dilupakan. (13) Saya menulis karena saya suka kemuliaan dan minat yang dibawa oleh tulisan. (14) Saya menulis untuk menyendiri. (15) Mungkin saya menulis karena saya berharap memahami mengapa saya sangat, sangat marah pada semua orang. (16) Saya menulis karena saya suka dibaca. (17) Saya menulis karena begitu saya memulai sebuah novel, esai, halaman yang ingin saya selesaikan. (18) Saya menulis karena semua orang mengharapkan saya untuk menulis. (19) Saya menulis karena saya memiliki keyakinan kekanak-kanakan terhadap keabadian perpustakaan, dan dalam cara buku-buku saya duduk di rak. (20) Saya menulis karena menarik untuk mengubah semua keindahan dan kekayaan kehidupan menjadi kata-kata. (21) Saya menulis untuk tidak menceritakan sebuah kisah tetapi untuk menulis cerita. (22) Saya menulis karena saya ingin melarikan diri dari firasat bahwa ada tempat yang harus saya kunjungi tetapi - seperti dalam mimpi-tidak bisa begitu. (23) Saya menulis karena saya tidak pernah berhasil bahagia. (24) Saya menulis untuk menjadi bahagia.

 

(The Nobel Lecture, 7 Desember 2006. Diterjemahkan dari bahasa Turki, oleh Maureen Freely. The Nobel Foundation 2006)

 

Karikaturis seperti GM Sudarta dalam salah satu karikaturnya juga dengan sengaja menggunakan kata `tidak` sampai tujuh kali. Penggunaan kata `tidak` yang diulang sampai tujuh kali tentu saja akan memberikan efek yang mendalam bagi orang yang melihat karikatur tersebut. Bisa jadi orang yang memang benar-benar Pancasilais sejati atau yang masih ada di dalam dirinya nilai-nilai kebenaran akan menghindari untuk melakukan korupsi, makan suap, mempolitisasi Sara, intoleransi, menebar hoax, menebar hasutan kebencian, dan banyak omong. Sebaliknya, bagi orang-orang yang memang dalam kesehariannya tidak terbebas dari itu semua hanya tersenyum atau menertawakan dirinya sendiri. Bisa jadi juga untuk orang jenis ini hanya teriak `persetan dengan GM Sudarta` dan karikaturnya. Bagi kita orang-orang awam selain memberikan senyuman juga minimal menghargai sesuatu yang sudah dikerjakan GM Sudarta karena kebenaran harus ditegakkan walaupun hanya membuat karikatur yang menggelitik setiap orang termasuk para pejabat publik yang hidupnya tidak lepas dari yang telah disebutkannya di gambar karikatur tersebut. Bukankah celetukan GM Sudarta dengan cara pengulangan kata tidak sampai tujuh kali mencerdaskan, menghibur, menggelitik, dan menyegarkan? 

Pernyataan yang terdapat pada karikatur tersebut juga bisa dituliskan dalam paragraf utuh. Mulai saja dengan pertanyaan: siapa itu Pancasilais sejati? Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak korupsi dan tidak makan suap. Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak mempolitisir sara sehingga kelak memunculkan sikap tidak intoleransi (maksudnya mereka menjadi memiliki sikap tololeransi. Juga mereka-mereka yang tidak suka menebar hoax karena hoax menumbuhkan salah satunya sikap intoleransi. Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak nebar hasutan kebencian. Termasuk juga Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak `ngomong doang` (cuma bisa mengomong) tapi minim tindakan.  Tanpa disadari kita pun oleh gambar karikatur yang dibuat GM Sudarta dituntun menulis penggunaan frasa yang berulang: `Pancasilais sejati adalah`. Tidak ada salahnya kita belajar menulis paragraf melalui karikatur yang dibuat oleh GM Sudarta. Karikatur GM Sudarta benar-benar menginspirasi kita!  


(https://www.kompas.id/baca/utama/2018/06/30/gm-sudarta)

Gambar karikatur di bawah ini yang juga dibuat oleh GM Sudarta juga menggunakan pengulangan frasa dalam hal ini frasa `orang pintar`. Dari karikatur tersebut yang menggunakan pengulangan frasa yang sama bisa saja ditulis menjadi sebuah paragraf. Mau coba? Silakan saja! Bisa saja di setiap kalimat diawali dengan frasa `orang pintar`. Silakan kalau frasa tersebut mau diletakkan di awal paragraf. Atau bisa juga ditulis di kalimat kedua atau ketiga. Semua sangat tergantung pada keinginan kita.  

 

        (https://slideplayer.info/amp/2870250/)

Setelah kita melihat contoh-contoh di atas, ternyata menulis paragraf dengan pengulangan kata atau frasa yang bisa diletakkan di setiap kalimat demikian menarik bukan? Sebuah tulisan yang panjang sekalipun kalau di setiap kalimatnya digunakan pengulangan kata/frasa karena kepiawaian penulisnya, ternyata jika direnungkan memiliki makna yang demikian mendalam. Setiap pembaca yang mencoba menelusuri tulisan dengan pengulangan kata `menulis` yang ditempatkan di setiap kalimat (bahkan ada satu kalimat digunakan dua kali), kalau si penulis bisa menyusun kata-kata dengan baik ternyata tidak akan membosankan. Boleh jadi pembacanya akan merasa penasaran untuk menuntaskan bacaannya. Di sini diperlukan adanya latihan. Salah satu latihan yang bisa juga dilakukan adalah mencoba menggunakan kata-kata/frasa-frasa yang juga kerap digunakan oleh seorang karikaturis seperti GM Sudarta. Sebagai penutup, coba kita cari gambar kartun yang ditulis kartunis di luar GM Sudarta yang juga kerap menggunakan kata-kata/ frasa-frasa yang berulang. Dengan cara demikian kita lambat-laun akan menjadi penulis yang handal.


 


Selasa, 30 Agustus 2022

Kebahasaan dan Kesastraan (101)

 2. SAATNYA MENULIS


Subagio S. Waluyo



 


Masalah sudah ditemukan. Sekarang coba dari masalah itu kita mulai saja menulis kalimat pertama. Kalau sekarang ini sedang ramai-ramainya orang bicara tentang virus Corona atau Covid-19, dari sisi mana mau kita bahas. Kita bisa saja membahas hal-hal yang berkaitan dengan virus tersebut dari bidang kedokteran atau kesehatan entah itu ciri-cirinya atau indikator orang yang terkena virus Corona atau gejala- gejalanya. Boleh juga asal-muasal virus tersebut sehingga dengan cepat bisa menyebar ke seantero dunia ini. Boleh juga jumlah korban yang berjatuhan akibat virus Corona. Atau sah-sah saja kejadian ini berkaitan dengan perang antar negara yang berkaitan dengan masalah ekonomi.

Coba kita ambil salah satu dari pilihan di atas, misalnya, kita cenderung mengambil jumlah korban yang berjatuhan akibat virus Corona. Kalau sudah berkaitan dengan jumlah korban, mau tidak mau kita harus cari data. Kita sepakat cari data di Google. Kita temukan data tentang korban virus Corona seperti terlihat pada kutipan berita berikut ini.  

 

Update corona di dunia pada Minggu (15/3/2020) sore, angka infeksi Covid-19 mencapai 157.476 orang di 155 negara dan satu alat angkut internasional (kapal pesiar Diamond Princess berlabuh di Yokohama, Jepang). Angka kematian untuk pandemi Covid-19 ada 5.845 dan pasien yang sudah dinyatakan sembuh menjadi 75.953 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan pandemi virus corona, menyusul penyebaran SARS-CoV-2 yang semakin meluas di sejumlah negara di dunia..

 

(https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/15/113100723/update-virus-corona-15-maret-75953-pasien-di-155-negara-sembuh)

Kita sudah menemukan data singkat. Sekarang kita mulai saja menulis. Kita tulis saja kalimat pertama seperti ini:

(1) Sampai dengan hari Minggu (15/3-2020) ada 157.476 orang terinfeksi virus Corona.

Bagaimana meneruskan kalimat yang kedua? Untuk meneruskan kalimat yang kedua kita boleh saja mengambil sebagian dari data di atas. Kita tulis saja seperti ini:

(2) Jumlah itu tersebar di 155 negara termasuk mereka yang ada di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama (Jepang).

Nah, sekarang kita sudah menulis dua kalimat. Coba kita teruskan lagi kalimat ketiga. Untuk menulis kalimat ketiga, kita juga diperbolehkan mencomot data di atas. Kita tulis saja begini:

(3)  Virus Corona yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obatnya menelan korban sebanyak 5.845 orang yang meninggal.


Kita sudah menulis tiga kalimat. Sekarang kita teruskan kalimat yang keempat. Kita masih tetap mencomot data di atas. Kita tulis saja seperti ini:

(4) Meskipun demikian, ada 75.953 orang dinyatakan sembuh.

 

Karena berniat menulis lima kalimat dalam satu paragraf, kita tulis saja kalimat terakhirnya:

 

(5) Dengan demikian, wajar saja jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi.

 

Sekarang, coba kita masukkan semua kalimat di atas ke dalam satu paragraf.

 

(1) Sampai dengan hari Minggu (15/3-2020) ada 157.476 orang terinfeksi virus Corona. (2) Jumlah itu tersebar di 155 negara termasuk mereka yang ada di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama (Jepang). (3) Virus Corona yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obatnya menelan korban sebanyak 5.845 orang yang meninggal. (4) Meskipun demikian, ada 75.953 orang dinyatakan sembuh. (5) Dengan demikian, wajar saja jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi.

 

Ternyata, kita sudah membuat satu paragraf yang terdiri dari lima kalimat. Kenapa kita bisa menulisnya? Sekarang kita coba analisis paragraf tersebut. Pertama, di kalimat (1) kita dapati ada jumlah orang yang terinfeksi virus Corona, yaitu sebanyak 157.476 orang. Untuk meneruskan ke kalimat (2), kita cukup masukkan kata `jumlah` dan diletakkan di awal kalimat. Kalau mau ditulis jumlah orang yang terinfeksi virus Corona sehingga menjadi seperti ini: “157. 476 orang yang terinfeksi virus Corona tersebar di 155 negara ...” boleh-boleh saja. Tapi, kalimat yang ditulis itu kurang efektif. Daripada menulis lengkap seperti itu, cukup ditulis sepeti ini saja: ”Jumlah itu tersebar di 155 negara...” Jauh lebih sederhana bukan? Kedua, coba kita fokuskan kalimat (2). Di sana ada bagian kalimat yang bisa kita teruskan di kalimat (3). Kita dapati di sana ada bunyi kalimat:”Jumlah itu tersebar di 155 negara...” Kita perlu bertanya: kenapa virus Corona dalam waktu cepat bisa tersebar di 155 negara? Kita bisa berasumsi (asumsi kita juga bisa diperkuat data) bahwa penyakit jenis ini yang memang tergolong baru belum ada vaksin dan obatnya sehingga wajar-wajar saja belum sampai hitungan setengah tahun sudah tersebar di 155 negara. Untuk itu, kita tulis saja seperti yang tercantum di kalimat (3):”Virus Corona yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obatnya menelan korban sebanyak 5.845 orang yang meninggal”.  

Ketiga, kita telah menyebutkan orang yang terinfeksi virus Corona, jumlah penyebarannya di 155 negara, dan korban yang meninggal sebanyak 5.845 orang. Di kalimat (4) kita perlu memberikan suatu harapan bahwa virus Corona ternyata juga bisa disembuhkan karena menurut data yang kita peroleh ada 75.953 orang dinyatakan sembuh. Karena itu, kita masukkan frasa `meskipun demikian` yang kita letakkan di awal kalimat sehingga menjadi “Meskipun demikian,ada 75.953 orang dinyatakan sembuh. Sebagai penutup, kita bisa gunakan frasa `dengan demikian` sehingga bunyi kalimat penutup di paragraf tersebut adalah:”Dengan demikian, wajar saja jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi”. Kalimat penutup dalam sebuah paragraf bisa kita katakan sebagai kesimpulan. Apa kesimpulannya? Virus Corona bukan lagi sebagai endemi karena kalau endemi hanya terjadi pada satu daerah atau wilayah. Dia tidak berpotensi menyebar ke mana-mana. Kenyataannya virus Corona tersebar kemana-mana ke seantero dunia sehingga ada 155 negara yang warganya terkena atau minimal dicurigai (suspect) terinfeksi virus Corona.  

Sebagai catatan tambahan sebagai penulis pemula, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini. Pertama, sebagai alat bantu untuk memulai sebuah tulisan boleh-boleh saja kita gunakan data dari mana pun asal jangan lupa kita sebutkan sumbernya. Di atas di bagian akhir kutipan ada tertulis:(https:// www.kompas.com /sains/read/2020/03/15/113100723/up-date-virus-corona-15-maret-75953-pasien-di-155-negara-sembuh). Berarti kita mengutip dari sumber yang disebutkan di atas, yaitu dari Google (internet). Kedua, kita juga boleh mengutip sebagian dari bahan yang kita peroleh. Tapi, ingat! Kita tidak boleh meng-copy paste (copas) seutuhnya. Kalau cara itu dilakukan, sama saja kita melakukan pencurian data sehingga sebenarnya tulisan kita itu lebih merupakan pemindahan data orang lain ke tulisan kita. Yang paling parah kalau tulisan kita isinya lebih  merupakan kutipan-kutipan orang yang kita copas dari berbagai tulisan. Setelah jadi tulisan utuh sering kali tulisan tersebut satu paragraf dengan paragraf berikutnya tidak ada kesinambungan. Kalau dalam satu wacana satu paragraf dengan paragraf tidak ada kesinambungan, bisa dipastikan wacana tersebut susah ditangkap isinya.

Ketiga, agar terjadi kesinambungan tulisan antara kalimat pertama dan kalimat kedua dan seterusnya, bisa digunakan kata penghubung (konjungsi) antar- kalimat. Konjungsi antarkalimat dalam penulisan paragraf diletakkan bukan di awal paragraf, melainkan di tengah paragraf. Boleh juga di kalimat kedua setelah kalimat pertama. Kita ambil contoh:”Pemerintah pusat dinilai lamban dalam mensikapi pandemi virus Corona. Sebaliknya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, langsung  membentuk posko begitu ada warganya yang diduga terinfeksi virus Corona.” Pada kalimat tersebut bisa terlihat kata sebaliknya sebagai konjungsi ditempatkan di kalimat kedua bukan di kalimat pertama. Berikut ini bisa dilihat daftar konjungsi antarkalimat yang biasa digunakan dalam penulisan paragraf.

 

(1) Agaknya, ...

(2) Akan tetapi, ...

(3) Akhirnya, ...

(4) Akibatnya, ...

(5) Artinya, ...

(6) Berkaitan dengan itu, ...

(7) Biarpun begitu, ...

(8) Biarpun demikian, ...

(9) Contohnya, ...

(10) Dalam hal ini, ...

(11) Dalam hubungan ini, ...

(12) Dalam konteks ini, ...

(13) Dengan demikian, ...

(14) Dengan kata lain, ...

(15) Di pihak lain, ...

(16) Di samping itu, ...

(17) Di satu pihak, ...

(18) Jadi, ...

(19) Jika demikian, ...

(20) Kalau begitu, ...

(21) Kalau tidak salah, ...

(22) Karena itu, ...

(23) Kecuali itu, ...

(24) Lagi pula, ...

(25) Meskipun begitu, ...

(26) Meskipun demikian, ...

(27) Misalnya, ...

(28) Namun, ...

(29) Oleh karena itu, ...

(30) Oleh sebab itu, ...

(31) Pada dasarnya, ...

(32) Pada hakikatnya, ...

(33) Pada prinsipnya, ...

(34) Paling tidak, ...

(35) Sebagai kesimpulan, ...

(36) Sebaiknya, ...

(37) Sebaliknya, ...

(38) Sebelumnya, ...

(39) Sebenarnya, ...

(40) Sebetulnya, ...

(41) Sehubungan dengan itu, ...

(42) Selain itu, ...

(43) Selanjutnya, ...

(44) Sementara itu, ...

(45) Sesudah itu, ...

(46) Sesungguhnya, ...

(47) Setelah itu, ...

(48) Sungguhpun begitu, ...

(49) Sungguhpun demikian, ...

(50) Tambahan lagi, ...

(51) Tambahan pula, ...

(52) Untuk itu, ...

(53) Walaupun demikian, ...

 

(https://beritagar.id/artikel/tabik/penghubung-antarkalimat) 

Penggunaan konjungsi (semuanya ada 53 konjungsi) sebagaimana dijelaskan di atas merupakan salah satu cara mengaitkan satu kalimat dengan kalimat berikutnya. Berikut ini bisa kita lihat contoh penulisan paragraf yang menggunakan konjungsi.

Berbicara tentang penggusuran, seorang Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hafidz Abbas, dengan tegas menyatakan bahwa penggusuran secara paksa adalah bentuk pelanggaran HAM. Kalau itu sudah jelas pelanggaran HAM, mengapa sampai saat ini pemerintah masih giat melakukan penggusuran? Penggusuran dilakukan terhadap tempat-tempat tinggal masyarakat kecil. Sementara itu, kenapa tidak dilakukan penggusuran terhadap vila-vila mewah yang dibangun orang-orang kaya di pegunungan yang sudah jelas-jelas melanggar peraturan?  Kok, hukum yang berlaku di negara ini tidak adil? Artinya, hukum itu diibaratkan `pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas`? Hukum itu hanya berlaku untuk orang-orang kecil yang sudah jelas tidak akan ada usaha melawan kalau sudah berhadapan dengan hukum. Untuk kalangan atas, hukum itu tidak berlaku. Hukum di negara ini bisa diatur. Jadi, kita tidak usah berbusa-busa bicara tentang penegakan hukum kalau masih ada sebagian anak bangsa ini masih jadi korban penggusuran. Hukum di negara ini hanya sebatas retorika. Dengan demikian, kita bisa mengatakan negara menutup mata ketika orang-orang kecil terjerat hukum. Tetapi negara akan benar-benar melek matanya kalau menyangkut orang-orang besar, orang-orang berduit, atau orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan di negara ini. Negara ini memang belum menjamin sama sekali rasa kenyamanan, keamanan, kesejahteraan, dan ketenangan bagi orang-orang kecil. Orang-orang yang teralienasi! 

 

Dari paragraf di atas, kita menemukan ada empat konjungsi, yaitu sementara itu, artinya, jadi, dan dengan demikian. Keempat konjungsi itu terbukti dapat merekatkan kalimat yang sebelumnya dengan kalimat sesudahnya. Coba kita uraikan satu persatu. Kalimat yang berbunyi ...Penggusuran dilakukan terhadap tempat-tempat tinggal masyarakat kecil..ketika ingin diteruskan ke kalimat berikutnya dikaitkan dengan konjungsi sementara itu. Bagaimana kalau bukan sementara itu yang digunakan? Misalnya menggunakan konjungsi dengan kata lain. Kalau kita menggunakan konjungsi tersebut,  kalimatnya akan berbunya kira-kira seperti ini: Dengan kata lain, dengan melakukan penggusuran terhadap tempat-tempat tinggal masyarakat kecil secara tidak langsung akan menyebabkan orang-orang miskin akan tambah miskin karena mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal. Kalau sudah seperti itu kalimatnya, fokus penulisannya akan berubah bukan seperti yang dijadikan contoh pada kalimat di atas. Jadi, tidak boleh sembarangan kita menggunakan konjungsi karena kurang tepat dalam penggunaan konjungsi akan berakibat pada peralihan fokus penulisan. Konjungsi artinya sebagaimana terdapat dalam kalimat Artinya, hukum itu diibaratkan `pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas`?, sengaja memang penulis menggunakan konjungsi tersebut karena penulis mau menjelaskan kalimat sebelumnya: Kok, hukum yang berlaku di negara ini tidak adil?  Ketika diteruskan ke kalimat berikutnya dengan diawali konjungsi artinya, pembaca paling tidak bisa memahami isi kalimat sebelumnya. Kata jadi sebagai konjungsi yang ditempatkan di awal kalimat yang berbunyi Jadi, kita tidak usah berbusa-busa bicara tentang penegakan hukum kalau masih ada sebagian anak bangsa ini masih jadi korban penggusuran, bisa saja dihilangkan. Tapi, boleh jadi akan ketidak ada kesinambungan dengan kalimat berikutnya. Artinya, kalimat yang sebelumnya  Hukum di negara ini bisa diatur, tidak berkaitan dengan kalimat sesudahnya: Jadi, kita tidak usah berbusa-busa bicara tentang penegakan hukum kalau masih ada sebagian anak bangsa ini masih jadi korban penggusuran. Agar terjadi keterkaitan mau tidak mau digunakan konjungsi jadi. Begitu juga (ini juga konjungsi) dengan konjungsi dengan demikian ini juga berfungsi mengaitkan kalimat yang sebelumnya Hukum di negara ini hanya sebatas retorika dengan kalimat sesudahnya Dengan demikian, kita bisa mengatakan negara menutup mata ketika orang-orang kecil terjerat hukum. Khusus untuk kalimat tersebut, seandainya tidak digunakan konjungsi dengan demikian, tidak menjadi masalah karena tidak akan merusak hubungan kalimat yang sebelumnya dengan kalimat sesudahnya. Agar paragraf tersebut terlihat apik ketika konjungsi dengan demikian dihilangkan, pindahkan saja konjungsi tersebut ke kalimat terakahir: Dengan demikian, negara ini memang belum menjamin sama sekali rasa kenyamanan, keamanan, kesejahteraan, dan ketenangan bagi orang-orang kecil: orang-orang yang teralienasi. 



Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...