HARGA
ASASI KEMANUSIAAN
Subagio
S. Waluyo
“Wahai
jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam surga-Ku.”
(Surat Al-Fajr: 27-30)
Karman,
mantan tahanan politik (tapol), yang baru saja dibebaskan dari masa
penahanannya di Pulau Buru, Maluku, merasa sangat bahagia. Orang-orang yang
dulu pernah membencinya berbalik menjadi makin ramah padanya. Mereka memujinya meskipun dia merasa tidak berhak menerima
puji-pujian itu. Bukan hanya banjir pujian, wajah-wajah yang penuh senyum
menjadikan Karman merasa telah terlahir kembali. Semua itu lebih disebabkan oleh
kubah masjid yang berhasil dibuatnya.
Kubah masjid itu yang di bagian lehernya dihiasi dengan bunyi Surat Al-Fajr
(27-30) menjadikan Karman semakin sadar akan kemanusiaannya. Bukankah di
penghujung surat Al-Fajr orang-orang yang jiwanya tenang layak untuk memasuki
surga-Nya? Bukankah dengan berhasilnya Karman membuat kubah masjid jiwanya
menjadi tenang?
Karman
mendengar puji-pujian itu. Rasanya dia yakin bahwa dirinya tidak berhak
menerima semua pujian itu.Tetapi wajah orang-orang Pegaten yang berhias senyum,
sikap mereka yang makin ramah, membuat Karman merasa sangat bahagia. Karman
sudah melihat jalan kembali menuju kebersamaan dan kesetaraan dalam pergaulan
yang hingga hari-hari kemarin terasa mengucilkan dirinya. Oh,kubah yang
sederhana itu. Dalam kebisuannya, mahkota mesjid itu terasa terus
mengumandangkan janji akan memberikan harga asasi kepada setiap manusia yang
sadar akan kemanusiaannya. Dan Karman merasa tidak terkecuali.
Karman
sebagai mantan tapol bisa memperoleh kebahagiaan bermula ketika masjid Haji
Bakir suatu kali perlu dipugar mengingat usianya sudah cukup lanjut. Selain itu,
masjid tersebut kondisinya sudah memprihatinkan dan jamaahnya pun semakin
membludak sehingga masjid tersebut tidak bisa menampung jamaah yang ingin
beribadah di masjid tersebut. Agar para
jamaah bisa beribadah dengan khusuk dan nyaman dilakukanlah pemugaran. Tanpa
dibentuk kepanitiaan pekerjaan pemugaran masjid segera dilakukan. Langsung saja
diadakan pembagian pekerjaan kepada setiap jamaah sesuai dengan kemampuannya.
Termasuk Karman juga mendapat bagian pekerjaan. Karman berani mengajukan diri
untuk membuat kubah masjid karena selama dalam penahanan (dalam cerita tersebut
disebut pengasingan) Karman belajar mengelas dan mematri. Bermodalkan kedua
kemampuan itu dan keinginan untuk menemukan sesuatu yang selama ini dianggapnya
telah hilang, Karman bekerja tanpa mengharapkan upah. Meskipun demikian, Karman
bekerja sangat hati-hati dan penuh ketekunan. Dalam mengerjakan pembuatan kubah
masjid Karman juga memperhatikan hal-hal yang bersifat teknis dan estetika
sehingga kubah masjid yang dibuat tidak ada kerutan-kerutan. Hasilnya, sebuah
kubah masjid yang sempurna. Bahkan, yang lebih elok lagi di leher kubah masjid
itu ada kaligrafi yang dikutip dari Surat Al-Fajr ayat 27-30. Karena
pekerjaannya yang dinilai sempurna, jamaah banyak yang memujinya.
Mesjid
Haji Bakir makin tua seperti usia pemiliknya.Temboknya rapuh dan tampak retak-
retak di sana-sini. Ubin di serambi banyak yang lepas. Langit-langit yang
terbuat dari bilik bambu banyak yang sudah kendur, keropos oleh air yang
menetes dari genting yang pecah. Serta kubah mesjid itu. Bila angin bertiup,
akan terdengar suara derit seng yang saling bergesekan. Rupanya seng yang
membentuk kubah banyak yang lepas dari patrinya, atau aus termakan karat.
Para
jamah sepakat hendak memugar mesjid itu. Pikiran demikian makin mendesak karena
jumlah jamaah terus bertambah banyak. Tanpa membentuk sebuah panitia, pekerjaan
itu dimulai. Semua orang mendapat bagian menurut kecakapan masing-masing.
Karman memberanikan diri meminta bagiannya. Ia menyanggupi membuat kubah yang
baru bila tersedia bahan dan perkakasnya. Ketika tinggal dalam pengasingan
Karman pernah belajar mematri dan mengelas.
Keinginan
Karman mendapat sambutan. Hasyim menjual tiga ekor kambing untuk membeli
bahan-bahan pembuat kubah serta biaya sewa alat-alat las dan patri. Hanya
membuat sebuah kubah yang tidak terlalu besar.Berkerangka besi pelat,
berkulitkan seng tebal.Semua orang tahu bagaimana bentuk sebuah kubah.Dengan
upah tak seberapa besar, seorang las di pinggir jalan dapat menyelesaikan
pekerjaan itu. Bilamana upah yang diterimanya lebih banyak,ia akan bekerja
lebih hati-hati,lebih saksama.Jika kubah itu sudah dipasang menjadi mahkota
mesjid, habislah segala urusan. Orang takakan membicarakannya lagi, tidak juga
tukang las itu.
Tetapi
Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa.
Sesenpun ia tak mengharapkan upah. Bahkan dengan menyanggupi pekerjaan itu ia
hanya ingin memberi jasa. Bagaimana juga sepulang dari pengasingan ia merasa
ada yang hilang pada dirinya.Ia ingin memperoleh kembali bagian yang hilang
itu.Bila ia dapat memberi sebuah kubah yang bagus kepada orang-orang Pegaten, ia
berharap akan memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa
membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat
diharapkan sesuatu!
Maka
Karman bekerja dengan sangat hati-hati. Ia menggabungkan kesempurnaan teknik,
keindahan estetika, serta ketekunan.Hasilnya adalah sebuah mahkota mesjid yang
sempurna.Tidak ada kerutan-kerutan.Setiap sambungan terpatri rapi. Kerangkanya
kokoh dengan pengelasan saksama.Leher kubah dihiasi kaligrafi dengan
teralis.Empat ayat terakhir dari Surat AlFajr terbaca di sana:Hai jiwa yang
tentram,yang telah sampai kepada kebenaran hakiki.Kembalilah engkau kepada
Tuhanmu. Maka masuklah engkau ke dalam barisan hamba-hamba-Ku.Dan masuklah
engkau ke dalam ke damaian abadi,di surga-Ku.
“Luar
biasa bagusnya,”kata seseorang ketika kubah mesjid hasil kerja Karman selesai
dipasang menjadi puncak bangunan mesjid.
“Beruntung,”sambung
yang lain,“kita mendapatkan Karman kembali. Kalau tidak,
Niscaya
kita tidak bisa bersembah yang di dalam mesjid sebagus ini.”
Kenapa
Karman ingin memperoleh kembali bagian yang hilang itu? Atau seperti yang
disampaikan para jamaah bahwa mereka merasa telah mendapatkan Karman kembali
sehingga mereka bisa sholat di masjid yang telah selesai dipugar dengan kubah
masjid yang indah itu. Boleh jadi Karman merasa ada bagian yang hilang dan
jamaah masjid merasakan selama ini kehilangan Karman karena Karman sempat di
pengasingan cukup lama. Karman sempat ditahan sebagai tapol di Pulau Buru (dalam novel Kubah disebut Pulau B) oleh rezim yang
berkuasa pada waktu itu. Sebagai mantan tapol, Karman memiliki
catatan hitam dalam hidupnya, yaitu ia pernah terlibat dalam aktivitas politik
kekirian alias aktivitas partai yang berbau komunis di negara ini (PKI). Keterlibatan Karman di partai politik terlarang
dimulai ketika ia lulus ujian ulangan untuk jadi pegawai di kantor kecamatan.
Sebenarnya di ujian pertama oleh seorang penilai dari kabupaten dia dinyatakan
lulus. Tetapi, oleh Margo (gembong tokoh PKI di kabupaten yang juga menjadi
anggota tim penilai) dinyatakan tidak lulus. Agar pada ujian berikutnya bisa
lulus ujian, Karman selama tiga bulan digarap oleh Margo dan kawan-kawan
melalui berbagai bacaan yang bermuatan doktrin-doktrin komunisme. Tanpa
disadari Karman muda telah tersusupi pemikiran-pemikiran komunis. Margo dan
kawan-kawan dengan demikian telah berhasil merekrut Karman menjadi pengikutnya.
Pada ujian ulangan, Karman lulus. Ia takkan pernah mengaku bahwa ia membayar mahal untuk keberhasilannya itu. Gerak alam bawah sadarnya telah dibelokkan ke arah meyakini komunisme yang secara sabar dan teratur diajarkan oleh kelompok Margo. Melalui buku-buku yang diberikan kepada Karman, orang-orang partai itu berhasil menyusun dasar-dasar kejiwaan yang akan mempermudah mereka membina anak didik yang masih hijau itu menjadi pengikut mereka.
Selain
telah kemasukan doktrin-doktrin komunis, Karman juga kecewa dengan sikap Haji
Bakir yang menolak lamarannya untuk memperistri anaknya, Rifah. Haji Bakir
lebih cenderung memilih pemuda dari kalangan yang seimbang dilihat dari
kekayaannya, Abdulrahman. Seorang anak pedagang akik (batu cincin) yang konon
kabarnya memiliki satu kotak batu akik. Masih kabarnya, Abdulrahman kalau
berangkat ke pesantrennya, tempat dia belajar di Jombang, menggunakan motor Harley
Davidson (motor termahal di tahun-tahun 50-an). Penolakan ini menjadi titik
puncak kebencian Karman pada seorang tokoh agama seperti Haji Bakir sehingga
perlahan-lahan dia mulai meninggalkan ajaran agamanya.
Apa yang diperbuat Karman adalah balas dendam. Ia merasa disakiti, dinista. Dengan meninggalkan mesjid Haji Bakir, ia pun bermaksud membalas dendam. Bahkan ketika ia mulai sekali-dua meninggalkan sembahyang wajib, ia juga merasa sedang membayar kesumat. Haji Bakir mempunyai mesjid, dan bagi Karman, orang tua itu adalah tokoh agama . Dan wujud nyata agama di desa Pegaten adalah pribadi Haji Bakir itulah! Maka makin sering meninggalkan peribadatan, Karman makin-makin merasa puas.
Dua orang tokoh PKI yang diam-diam
telah menanamkan doktrin-doktrin komunisme pada Karman mendekatinya. Mereka
berpura-pura menolong Karman yang sedang galau. Karman pun menerima kehadiran
mereka. Jadilah Karman sebagai kader PKI binaan mereka.
Pemberontakan jiwa anak muda itu segera diketahui oleh Triman dan Margo. Mereka tahu,apa yang sedang dibutuhkan Karman dalam rangka pemberontakannya itu; sokongan dan tepuk tangan! Orang-orang partai itu dengan senang hati akan memberikannya. Mereka berbuat seolah-olah menolong si anak malang. Bukan hendak menenteramkan jiwa Karman, melainkan sebaliknya. Melihat ada dua orang yang memberikan dukungan, Karman bersikap seperti anak kecil yang menangis karena berkelahi dengan teman sepermainan. Di dekat ibunya ia mengepalkan tinju:ini dadaku!
Tidak
perlu lama untuk meracuni Karman dengan doktrin-doktrin komunis, cukup setahun
Karman telah berubah perilakunya. Telah terjadi pergeseran nilai dalam diri
Karman. Bila suatu saat ada pembicaraan tentang Haji Bakir, ia selalu saja
berprasangka buruk. Tanpa tedeng aling-aling Karman pun berani mengatakan agama
adalah candu yang membius kaum tertindas (proletar). Bahkan, suatu kali Karman
menghancurkan padasan (tempat wudu) yang terbuat dari bambu meski padasan itu
(hanya tiga ruas bambu) sebenarnya sudah jarang digunakan. Sikap Karman yang
menghancurkan tempat wudu merupakan bukti perlawanannya terhadap nilai-nilai
agama.
Hanya setahun sejak perkenalannya dengan kelompok Margo,
perubahan besar terjadi pada pribadi Karman. Ia menjadi sinis. Segala sesuatu, apalagi
yang menyangkut Haji Bakir selalu ditanggapi dengan prasangka buruk. Karmanpun mulai
berani berterus terang meninggalkan mesjid, meninggalkan peribadatan. Bahkan tentang
agama, Karman sudah pandai mengutip kata-kataMargo, bahwa agama adalah candu untuk
membius kaum tertindas.
Namun puncak perubahan kepribadian Karman terjadi dekat
sumur di belakang rumah. Siang itu Karman berdiri di sana. Tangannya memegang sebuah
parang. Kelihatannya ia agak ragu-ragu. Alisnya turun-naik beberapa kali. Namun
akhirnya ia maju mendekati padasan bambu itu dan langsung membelahnya. Penampung
air wudu itu dibuatnya menjadi serpihan bambu kecil-kecil. Karman hanya menghancurkan
tiga ruas bambu yang tampak tidak berarti itu. Tetapi itulah perlambang yang nyata
atas pergeseran nilai yang telah melanda dirinya.
Meskipun Rifah telah menjanda, suaminya meninggal karena motor yang
dikendarainya menabrak pohon, Haji Bakir tetap menolak lamaran Karman karena
dalam pandangannya Karman telah jauh dari nilai-nilai agama. Haji Bakir tidak
ingin memiliki menantu yang tipis keimanan dan ketakwaannya. Dengan demikian,
Karman telah dua kali ditolak
lamarannya. Tetapi, pada akhirnya Karman mendapatkan pengganti Rifah, yaitu
seorang gadis desa kebanyakan yang kondisi ekonominya boleh dikatakan
pas-pasan. Gadis desa itu, Marni, boleh dikatakan tidak setaat Rifah. Di sini
Karman setelah melangsungkan pernikahannya dengan Marni, justru melihat bahwa
Marni bukan hanya sekedar istri yang layak dicintai, tapi juga dihormati karena
Marni menganggap Karman bukan hanya sebagai suami tetapi juga sebagai ayah.
Jadi, dia menemukan Marni adalah sosok seorang istri yang memiliki kepribadian
matang. Pasangan suami istri itupun semakin lengkap kebahagiaannya ketika lahir
anak laki-laki pertama mereka, Rudio. Mereka pun dari sebidang tanah yang
dibeli telah berhasil membangun rumah. Hanya ada satu hal yang tampaknya sangat
mengganjal hubungan kedua suami istri ini, yaitu masalah agama. Marni ternyata
seorang Muslimah yang taat menjalankan ibadahnya. Sementara itu, Karman, terus
terang menyatakan kalau dirinya seorang ateis, tidak bertuhan. Di sini Karman
diuji, satu sisi sebagai seorang ateis sangat bertentangan jika berhadapan
dengan orang yang jelas-jelas
menjalankan agamanya karena bagi seorang ateis agama itu candu. Di sisi lain, Karman, sangat
mencintai bahkan menghormati istrinya. Istrinya, meskipun berkeinginan sekali
mengajak suaminya beribadah bersama, tetapi sangat berharap agar Karman
bersikap toleran. Ternyata, Karman pun menerima tawaran istrinya. Melihat
hubungan yang seperti itu, wajar-wajar saja jika teman-temannya seperti Margo
sering menyindirnya.
Perkawinan dilangsungkan. Kehampaan di hati Karman cepat terisi oleh sikap istrinya yang mantap, penuh pengertian. Seperti mendapat tempat berteduh, setelah lama berjalan di bawah matahari, demikian perasaan Karman. Karman tidak tahu mengapa Marni mencoba membahagiakan suami dengan menganggapnya sebagai ayah, suami, bahkan anaknya sekaligus. Tidak berbeda dengan garis fitrah setiap laki-laki yang merasa kecil apabila berhadapan dengan kepribadian seorang istri yang matang, Karman tidak hanya mencintai Marni, bahkan menghormatinya.
Pada tahun pertama perkawinan mereka, Rudio lahir. Kehidupan keluarga muda itu mantap. Sebidang tanah dapat mereka beli. Di atas tanah itu, setahun kemudian mereka mendirikan rumah.
Yang tidak bersesuaian di antara mereka hanya satu hal. Sementara Marni merasa tidak bisa meninggalkan ibadahnya, Karman bahkan terang-terangan mengaku sebagai seorang ateis. Maka apabila Marni merasa kebahagiaannya kurang utuh, itulah dia. Sering ia memohon kepada Tuhan agar keberuntungannya disempurnakan. Tidak heran kalau Marni sering bermimpi bersembahyang berjamaah bersama suaminya.
Sekali pernah ketika jiwa dan badan Marni amat berdekatan dengan Karman, ia bertanya,
“Apakah kau tak tahu bahwa apabila kau tidak melupakan kewajiban terhadap Tuhan aku akan sangat bahagia?”
Karman sudah menduga pada suatu ketika pasti istrinya akan bertanya seperti itu. Walaupun begitu ia tidak segera menjawab, bahkan berbalik bertanya,“Jadi dengan keadaanku yang demikian kau merasa kurang beruntung?”
“Tidak sedemikian jauh maksudku, Kak,tetapi...”
“Cukuplah. Cukup bila kukatakan agama adalah urusan pribadi. Seharusnya kau senang
aku tidak melarangmu beribadah.”
Marni diam meskipun ada rasa kecewa di hatinya. Tanpa mengurangi kelembutan kata- katanya, ia meneruskan, “Tetapi kau tidak mempunyai maksud pada suatu saat akan memaksaku memutuskan hubungan dengan Tuhan, bukan?”
Suami itu makin kikuk karena istrinya makin rapat memeluknya.
“Oh...”
Dan begitu. Karman tidak pernah melarang istrinya beribadah, meskipun hal yang
demikian bertentangan dengan ajaran partainya. Bukan Karman juga tidak ingin mengajak istrinya ingkar, bukan! Karman tidak berani melakukannya! Dari kepribadian Marni, ketenangannya, terpancar wibawa. Seorang revolusioner muda seperti Karman ternyata mandul ketika berhadapan dengan keanggunan istrinya. Karena kelemahan Karman ini, dalam suatu diskusi yang dihadiri oleh banyak orang, Margo pernah menyindirnya dengan tajam.
Dari
hasil pernikahannya dengan Marni, Karman memiliki tiga anak. Pertama, Rudio
(laki-laki), kedua, Tini (perempuan), dan ketiga Tono (laki-laki).Tetapi,
bahtera rumah tangga yang ia bangun bersama istrinya tidak berumur panjang.
Setelah tiga bulan istrinya melahirkan anak yang ketiga (Tono) terjadi
peristiwa yang mengejutkan, Karman tiba-tiba saja menjadi seorang yang pendiam.
Ada sikap dan kebiasaan Karman, yang selama ini Karman banyak bicara, tiba-tiba
saja menjadi pendiam. Bukan hanya itu, Karman yang dikenal ateis diam-diam
mengerjakan sholat (meskipun sholat itu sekedar pura-pura). Karman melakukan
sholat karena terjadi penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang
diduga komunis (PKI). Peristiwa itu menggoncangkan batin Karman. Masyarakat di
desanya, Pegaten, tahu kalau Karman termasuk kader PKI. Untuk mengelabui
orang-orang kampung, Karman berpura-pura sholat meskipun dia masih enggan
sholat di masjid Haji Bakir. Ketidaktenangan batin Karman terlihat dari
kegelisahannya. Karman berusaha bersembunyi di tempat-tempat kerabatnya.
Terkadang dia harus bermalam di rumah ibunya atau ke masjid Haji Bakir
berkerumun dengan jamaah masjid lainnya. Tetapi, itu semua tidak bisa
menghilangkan kegelisahannya. Suatu saat dia pamit pada istrinya ke rumah
Triman, temannya, dan sebelum berangkat dia
berpesan
pada istrinya agar sang istri menjaga tiga orang anaknya.
Sang istri mendapat
firasat buruk yang akan menimpa suaminya. Firasat buruk itu terbukti, lebih
dari satu bulan setelah Karman pamit pada istrinya ia ditangkap dalam kondisi
sangat payah. Masih untung ia tidak dihabisi nyawanya karena orang-orang
kampung tidak tega melihatnya. Karman diserahkan pihak berwajib. Setelah itu,
Karman menjalani proses penahanan yang berujung pada pengasingannya ke Pulau
Buru.
Di
Pulau Buru inilah Karman menjalani pengasingan. Selama menjalani pengasingan
Karman banyak berinteraksi dengan salah seorang tentara yang tergolong ahli
ibadah. Tentara ini memang diamanahi oleh atasannya untuk melakukan pembinaan
mental para tapol. Tentara yang melakukan pembinaanmental ini, Kapten Somad,
dikenal sebagai orang yang memiliki empati pada para tapol yang dibinanya.
Kapten Somad menurut A. Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z
(1997:16) termasuk orang-orang yang altruistis, yaitu orang yang tidak hanya
terserap oleh kepentingan pribadi, tetapi juga menaruh perhatian pada
kepentingan orang lain. Boleh juga disebut sebagai orang yang punya pandangan
dan sikap hidup yang menaruh perhatian pada kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan orang lain
(altruisme). Orang jenis ini tergolong sedikit. Karena itu tidak aneh ketika
suatu saat orang seperti Karman saja tidak habis pikir jika Kapten Somad mau
mengunjunginya sehingga Karman sempat merenungkan kebaikan Kapten Somad.
Kunjungan Kapten Somad dan nilai-nilai kebenaran yang disampaikannya merasuk ke
dalam hati Karman. Ia merasa beruntung memiliki teman yang demikian tulus. Dadanya
juga lapang manakala temannya, Kapten Somad, mau mendengar keluhan-keluhannya.
Lama
sekali Karman merenungkan kunjungan Kapten Somad siang itu. Mula-mula ia merasa
bimbang terhadap dirinya sendiri; haruskah anjuran Kapten Somad dituruti? Atau,
biarlah aku ikuti keputusasaan sampai diriku hancur dan dengan demikian
kepedihan ini cepat berakhir?
Karman
kembali menarik napas panjang. Tetapi kemudian ada titik-titik bening muncul
pada akal budinya yang semula hampir mati. “Seorang kapten dengan ikhlas
menunjukkan pengertian dan simpatinya padaku. Kebenaran yang disampaikan padaku
sukar kubantah. Ah, setidaknya telah ada satu orang yang mau memahami diriku,
pikir Karman. Tetapi betulkah penderitaanku telah terbagi? Bisakah aku
memastikan aku telah mempunyai seorang teman di duniaini?
Kapten
Somad berjanji akan membantuku mencari jalan yang terbaik. Dan mestinya aku
sendiri sudah mengerti. Menginginkan Marni tetap menjadi istriku adalah sangat
sulit, hampir mustahil. Jadi keputusan yang terbaik adalah melepaskannya. Ya.
Malah hal itu pun sudah kulaksanakan. Tetapi ternyata bagiku persoalan belum selesai.
Kini aku tak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mererima kenyataan aku telah ditinggalkan
oleh Marni. Aku telah kehilangan satu-satunya milikku. Oh, andaikata aku hidup di
alam yang wajar, pastilah persoalannya akan menjadi lebih sederhana. Seorang istri
minta cerai, dan cerailah. Aku bisa dengan mudah mencari ganti. Tetapi kini aku
sedang terpencil dalam buangan. Dan harus pula kehilangan istri. Oh, betapa mengerikan
hidup yang harus kujalani. Mengerikan!”
Benar,
secara teratur Kapten Somad menjenguk Karman. Tulus senyumnya, lapang dadanya selagi
perwira itu menerima segala keluhan laki-laki yang hampir putus asa itu. Si sakit
sendiri merasakan nikmatnya sesuatu yang sukar didapat dipulau buangan itu:
kemanusiaan.
Merupakan
suatu keberuntungan bagi Karman karena selama dalam pengasingan ia berteman
dengan Kapten Somad. Seorang tentara yang soleh dan selalu memberi motivasi
sehingga sedikit demi sedikit Karman mengalami perubahan. Perubahan yang paling
mendasar bagi Karman adalah pandangannya tentang Tuhan. Walaupun selama aktif
sebagai kader partai dicap sebagai seorang ateis, bahkan dia sendiri mengaku
sebagai ateis, jauh di dalam lubuk hatinya ia masih mengakui keberadaan Tuhan.
Ketika Kapten Somad mengingatkan tentang Tuhan, ia mudah menerima tausiah
Kapten Somad.
“Kapten,
syarat yang diajukan dengan mudah bisa saya terima. Ya, meskipun saya malu mengatakannya
namun sebenarnya masih ada kepercayaan terhadap Tuhan dalam hidup saya. Sungguh,
Kapten. Tetapi kenyataan bahwa Kapten mengajukan syarat seperti itu, itulah yang
membuat saya merasa sedih.”
Kapten
Somad merasa tersodok. Namun perwira itu cepat bisa tersenyum.
“Kalau
begitu, maafkanlah aku. Dan baiklah, mari kita mulai sekarang. Sebelum datang
kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara tiga cobaan; sulit mendapat
rezeki, kesehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Yang kini sedang
terjadi pada dirimu, saya kira, adalah gabungan ketiga cobaan hidup itu. Luar biasa
memang. Namun apa bila kamu percaya dan berserah diri kepada Tuhan, maka jalan
keluar selalu tersedia. Jadi, hanya kepercayaan terhadap kebesaran dan kasih sayang
Tuhan-lah yang bisa membuat kamu tenang, tak merasa sia-sia. Apakah kata-kataku
bisa sampai ke hatimu?”
“Sedikit,Kapten.”
“Ketika
kau merasa berada dalam pikiran yang amat gelap, ketika kau merasa benar-benar tak
berdaya, sesungguhnya ada tangan-tangan terjulur kepadamu. Tangan pertama
mewakili pertolongan Tuhan, dan tangan lainnya mewakili kuasa buruk yang menghendaki
kehancuran atas dirimu. Kau dapat mengatakan siapa yang mengajakmu berputus asa
serta meyakinkan dirimu bahwa jalan itulah yang terbaik. Jangan ikuti ajakan dari
kuasa buruk itu. Lebih baik kau dengarkan suara nuranimu sendiri karena dia dapat
melihat jalan yang disukai Tuhan. Turutilah jalan itu, karena bersama Dia segala
penderitaan jadi terasa ringan atau bahkan tak ada sama sekali.”
Keberuntungan kedua ketika sampai di kampung halamannya, ternyata
yang sebelumnya ia khawatir kehadirannya akan ditolak oleh warga desa di luar
dugaan mereka tetap ramah dan penuh keakraban. Haji Bakir sendiri yang sudah
demikian sepuh ternyata juga bisa memaafkan dan menerima kehadirannya.
Di
rumah orang tuanya, Karman sedang dirubung oleh para tamu, tetangga-tetangga yang
sudah amat lama ditinggalkan. Ia merasa heran dan terharu, ternyata orang-orang
Pegaten tetap pada watak mereka yang asli. Ramah, bersaudara, dan yang penting:
gampang melupakan kesalahan orang lain. Padahal yang sangat dikhawatirkan oleh
Karman adalah sikap membenci dan dendam yang mungkin diterimanya begitu ia muncul
kembali di Pegaten. Haji Bakir datang berdua dengan istrinya meskipun ia harus
dibantu dengan tongkat yang menopang tubuhnya yang sudah bungkuk. Apabila Karman
menyambut tamu-tamu yang lain secara wajar, tidak demikian halnya ketika ia menerima
kedatangan haji yang sudah sangat tua itu.
Begitu
Haji Bakir masuk kerumah Bu Mantri itu, Karman berlari menjemputnya, lalu menjatuhkan
diri. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, Karman memeluk orangtua itu pada pinggangnya.
Ia menangis seperti anak kecil. Haji Bakir yang merasa tidak bisa berbuat apa-apa
membiarkan Karman memuaskan tangisnya.
Bahkan, di luar dugaannya anak perempuannya,
Tini, dilamar oleh Jabir, anak Rifah yang pernah dilamarnya sebelum dia
menikahi Marni yang sekarang jadi istri Parta. Karman juga layak bersyukur
karena Haji Bakir memberikan hadiah berupa tanah sawah seluas satu setengah
hektar. Ternyata, tanah sawah itu adalah warisan neneknya yang sempat dibarter
dengan satu ton beras oleh almarhum bapaknya pada Haji Bakir. Bukankah ini
merupakan suatu keberuntungan bagi Karman sekeluarga?
Tengah
malam perundingan itu berakhir. Semua pihak bangkit dari tempat duduk dengan
rasa lega dan puas. Sebelum meninggalkan rumah Bu Mantri, Ibu Haji Bakir menyerahkan
kain kebaya untuk diberikan kepada Tini sebagai tanda pengikat. Telah disepakati
pula hari dan bulan untuk melaksanakan perkawinan antara Tini dan Jabir. Setelah
semua tamu pergi, Karman tidak segera masuk ke kamar tidur. Ia duduk seorang
diri dengan perasaan yang galau. Karman merasa senang karena anak gadisnya akan
menikah dengan perjaka dari keluarga baik-baik. Tetapi Karman juga merasa gelisah.
Ia teringat masa belasan tahun lalu ketika ia bersama ajaran partainya menganggap
Haji Bakir adalah manusia penindas yang jahat, sekaligus menjadi musuh kaum progresif-
revolusioner. Dan kini ternyata orang tua itu akan menjadi besannya.Dan lebih dari
itu, Karman sungguh tidak lagi bisa melihat sesuatu pada Haji Bakir yang membuatnya
pantas dibenci. Bahkan Karman merasa kecil dan hina ketika kelak, sesudah perkawinan
itu diselenggarakan, Haji Bakir memberi hadiah kepadaTini.
“Tini,untuk
bekal hidupmu bersama Jabir, kuberikan kepadamu sawah yang terletak di sebelah utara
Kali Mundu itu. Luasnya satu setengah hektar. Peliharalah baik-baik pemberianku
itu. Barangkali engkau tidak tahu bahwa dahulu sawah itu adalah milik nenekmu.”
Mereka dicurigai karena lembaran-lembaran
hidupnya pernah diisi dengan noda dan dosa sebagai komunis. Sejarah hidupnya
penuh dengan lumuran darah ketika mereka menghabisi nyawa sesamanya sehingga
wajar-wajar saja jika orang belum bisa menerima kehadirannya.
Kalian Dengar Keluhanku
Ebiet G.Ade
Dari
pintu ke pintu
Kucoba
tawarkan nama
Demi
terhenti tangis anakku
Dan
keluh ibunya
Tetapi
nampaknya semua mata
Memandangku
curiga
Seakan
hendak telanjangi
Dan
kulit jiwaku
Apakah
buku diri ini selalu hitam pekat
Apakah
dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan
Sedang
Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
Dengan
sorot mata yang lebih tajam dari matahari
Kemanakah
sirnanya
Nurani
embun pagi
Yang
biasanya ramah
Kini
membakar hati
Apakah
bila terlanjur salah
Akan
tetap dianggap salah
Tak
ada waktu lagi benahi diri
Tak
ada tempat lagi 'tuk kembali
Sikap seperti ini sebaiknya memang
harus ditinggalkan. Sebagai orang beragama sudah selayaknya mau memaafkan
kesalahan orang lain. Yang lebih utama lagi juga mau menerima kehadirannya.
Alangkah indahnya jika dalam hidup ini orang dengan tulus memaafkan kesalahan
orang lain dan menerima dengan tangan terbuka kehadiran orang yang telah
dimaafkan. Ahmad Tohari telah berhasil lewat novelnya, Kubah, mengajak semua komponen bangsa ini menerima kehadiran orang
semacam Karman. Siapa lagi yang akan menyusul?
Sumber Gambar:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar