BERAGAM
WAJAH
Subagio
S. Waluyo
PANGGUNG
SANDIWARA
Taufik Ismail
Dunia
ini panggung sandiwara
Ceritanya
mudah berubah
Kisah
Mahabrata atau tragedi dari Yunani
Setiap
kita dapat satu peranan
Yang
harus kita mainkan
Ada
peran wajar dan ada peran berpura-pura
Mengapa
kita bersandiwara?
Mengapa
kita bersandiwara?
Peran
yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran
bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia
ini penuh peranan
Dunia
ini bagaikan jembatan kehidupan
Mengapa
kita bersandiwara?
Mengapa
kita bersandiwara?
Dunia
ini kata Taufik Ismail (TI) adalah panggung sandiwara. Tidak usah heran kalau
ceritanya mudah berubah. Kadang ceritanya bisa cerita serius yang
mengguncangkan lubuk hati kita yang paling dalam sehingga tanpa terasa kita
meneteskan air mata. Suatu saat kita juga terpingkal-pingkal (minimal tersenyum
sendiri) kalau mengingat kejadian lucu atau kita berhasil menipu orang dan
beranggapan orang yang kita tipu itu bodoh.
Kita yang terkadang bisa menangis dan bisa juga tertawa adalah subjek
dan sekaligus juga objek. Kita menjadi subjek karena kitalah pelakunya yang
telah punya andil entah melakukan kebaikan atau keburukan. Kita menjadi objek
karena kitalah yang dibuat menangis atau
tertawa. Atau kitalah yang menjadi objek permainan orang atau pihak lain.
TI
tidak salah kalau kehidupan di dunia ini memang benar panggung sandiwara. TI
sebagai penyair mengamati aktivitas manusia di seluruh jagat ini. TI pada akhirnya
menyimpulkan bahwa dunia ini memang panggung sandiwara. Meskipun dunia ini
memang panggung sandiwara, sebagai hamba Allah kita harus menyadari bahwa apapun
yang kita kerjakan memang sudah digariskan oleh-Nya. Kita pun nanti diminta
pertanggung-jawabannya di hadapan-Nya di Hari Akhir. Tapi, manusia diberi
kebebasan untuk melakukan sesuatu karena manusia diberi akal yang sempurna yang
justru tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan di luar manusia. Jadi, silakan kita
merancang sesuatu sebelum melakukannya. Tidak ada larangan untuk melakukan
sesuatu sepanjang yang kita lakukan tidak bertentangan dengan nilai-nilai
agama. Justru yang terjadi saat ini banyak manusia baik secara sadar maupun
tidak sadar bermain sandiwara. Akhirnya, apapun yang dilakukan baik itu
perorangan, masyarakat, maupun negara sekalipun penuh dengan kepura-puraan,
penuh dengan sandiwara. Padahal kalau manusia menyadari bahwa kehidupan di
dunia ini sementara dan memandang dunia sebatas sebagai perantara untuk menuju
kehidupan yang abadi, yaitu akhirat, kita sebagai manusia tidak perlu mengisi
kehidupan ini dengan kepura-puraan. TI membahasakan kehidupan dunia ini `bagaikan
jembatan kehidupan`. Apakah kita layak masuk surga atau neraka sangat
ditentukan oleh peran yang kita mainkan atau sejauhmana peranan yang kita emban
di dunia ini, apakah kita berperan jadi orang jahat atau baik? Jangan menjadi
seorang koruptor yang ketika diwawancarai menyesal karena merasa kurang banyak
korupsi yang dilakukannya. Sang koruptor beranggapan kalau korupsinya banyak,
dia punya persediaan buat melakukan apapun termasuk jaga-jaga untuk berobat.
Muatan yang terkandung dalam puisi TI
di atas relevan dengan puisi yang ditulis Hamid Jabbar (HJ) dalam salah satu
puisinya berjudul “Wajah Kita”.
WAJAH KITA
Hamid Jabbar
Bila kita selalu berkaca setiap saat
Dan di setiap tempat
Maka tergambarlah:
Alangkah bermacamnya
Wajah kita
Yang berderet bagai patung
Di toko mainan di jalan braga:
Wajah kita adalah wajah bulan
Yang purnama dan coreng-moreng
Serta gradakan dan bopeng-bopeng
Wajah kita adalah wajah manusia
Yang bukan lagi manusia
Dan terbenam dalam wayang
Wajah kita adalah wajah rupawan
Yang bersolek menghias lembaran
Kitab suci dan kitab undang-undang
Wajah kita adalah wajah politisi
Yang mengepalkan tangan bersikutan
Menebalkan muka meraih kedudukan
Wajah kita adalah wajah setan
Yang menari bagai bidadari
Merayu kita menyatu onani
Bila kita selalu berkaca dengan kaca
Yang buram tak sempurna
Maka tergambarlah
Alangkah berperseginya :
Wajah kita Yang terkadang bagai binatang
Di kota di taman margasatwa
Wajah kita adalah wajah serigala
Yang mengaum menerkam mangsanya
Dengan buas, lahap dan gairahnya
Wajah kita adalah wajah anjing
Yang mengejar bangkai dan kotoran
Di tong sampah dan selokan-selokan
Wajah kita adalah wajah kuda
Yang berpacu mengelus bayu
Mendenguskan napas-napas nafsu
Wajah kita adalah wajah wajah babi
Yang menyeruduk dalam membuta
Menyembah tumpukan harta-benda
Wajah kita adalah wajah buaya
Yang meratap dalam riangnya
Dan tertawa dengan sedihnya
Bila kita selalu berkaca dengan kaca
Yang mengkilap dan rata
Maka tergambarlah
Alangkah berseadanya
Wajah kita
Yang mendengar segala erang
Berkerendahan hati dan berkelapangan dada
Wajah kita adalah wajah
Yang kurang tambah
Serta selebihnya
Wajah kita adalah wajah
Yang sujud rebah
Bagi-Nya jua
Wajah kita adalah wajah
Yang bukan wajah
Hanya fatamorgana
Hanya fatamorgana
Wajah kita adalah wajah bulan
Yang purnama dan coreng-moreng
Serta gradakan dan
bopeng-bopeng
Wajah kita adalah wajah manusia
Yang bukan lagi manusia
Dan terbenam dalam wayang
Wajah kita adalah wajah rupawan
Yang bersolek menghias lembaran
Kitab suci dan kitab
undang-undang
Wajah kita adalah wajah
politisi
Yang mengepalkan tangan
bersikutan
Menebalkan muka meraih
kedudukan
Orang
menjadi politisi kutu loncat jelas semata-mata hanya untuk meraih kedudukan.
Dengan menjadi wakil rakyat di parlemen dia merasa jadi orang terhormat
sehingga apapun dia lakukan. Kalau perlu menggunakan dalih agama atau berbagai
undang-undang yang memang menurutnya sah-sah saja menjadi politisi kutu loncat.
Di sisi lain, ada juga manusia yang
dikuasai setan bisa berwajah setan, Setan perilakunya jelas buruk. Dia pasti
mengajak pada keburukan. Setan sangat lihai memperdaya manusia. Lewat
penyamarannya yang membikin manusia tersihir sehingga tidak sadarkan diri kalau
telah dikuasai setan. Manusia yang telah dikuasai setan, dia akan memandang
sesuatu yang sebenarnya buram, kusam, tetapi di matanya terlihat indah. Jenis
manusia setan adalah manusia pengganggu sekaligus perayu. Suatu saat manusia
juga bisa berwajah binatang, serigala, misalnya. Perilakunya persis serigala.
Kita tahu serigala jenis binatang yang buas, lahap/rakus, dan serakah. Manusia
yang rakus termasuk dalam golongan manusia berwajah serigala.
Wajah kita adalah wajah setan
Yang menari bagai bidadari
Merayu kita menyatu onani
Bila kita selalu berkaca dengan
kaca
Yang buram tak sempurna
Maka tergambarlah
Alangkah berperseginya :
Wajah kita Yang terkadang bagai
binatang
Di kota di taman margasatwa
Wajah kita adalah wajah
serigala
Yang mengaum menerkam mangsanya
Dengan buas, lahap dan
gairahnya
Kita
sebagai manusia juga terkadang bisa saja berperilaku seperti anjing kalau sudah
tidak bisa membedakan barang halal dan haram. Bukan saja yang masuk ke dalam
tubuh kita termasuk halal-haram menurut agama, tetapi juga tidak jelas
halal-haram cara memperoleh sesuatu yang nantinya masuk ke tubuh kita. Binatang
seperti anjing tidak pernah dipilih dan dipilah makanan yang masuk ke perutnya,
apakah bangkai atau kotoran? Semuanya bisa masuk. Manusia di samping bisa
seperti anjing terkadang juga bisa seperti kuda kalau nafsunya tidak bisa
dikendalikan. Energi yang ada manusia kalau tidak bisa dikendalikan persis
seperti kuda yang tidak bisa dikendalikan nafsu libidonya. Hasrat untuk menyalurkan
nafsu seksualnya boleh-boleh saja kalau disalurkan ke istri/suaminya. Tetapi,
kalau diumbar-umbar ke pelacur atau gigolo yang jelas-jelas bukan
istri/suaminya sama saja dia dengan kuda. Paling repot kalau orang sudah cukup
umur masih punya libido seperti kuda. Di sinilah manusia harus bisa mengendalikan dirinya. Dia
harus mencoba menata hati dan pikirannya bahwa hidup itu bukan semata-mata
memuaskan nafsu seks. Masih ada aktivitas lain yang jauh lebih bermanfaat
ketimbang memuaskan nafsu syahwat. Untuk itu, agar kita terhindar dari
perzinahan, mau tidak mau kita sebagai manusia juga harus membersihkan diri
dari penghambaan terhadap harta benda. Jadi, kita jangan memper-Tuhan-kan harta
benda. Kalau telah jadi hamba harta benda, tidak mustahil kita akan seperti
babi yang selalu menyeruduk apa saja benda yang ada di depannya.
Wajah kita adalah
wajah anjing
Yang mengejar bangkai
dan kotoran
Di tong sampah dan
selokan-selokan
Wajah kita adalah
wajah kuda
Yang berpacu mengelus
bayu
Mendenguskan napas-napas
nafsu
Wajah kita adalah
wajah wajah babi
Yang menyeruduk dalam
membuta
Menyembah tumpukan
harta-benda
HJ
juga menunjukkan bahwa ada manusia yang
perilakunya seperti buaya. Artinya, manusia yang pandai berpura-pura atau menipu.
Buaya makhluk Tuhan yang pandai berpura-pura. Buaya bisa mengeluarkan air mata
sehingga kedua pelupuk matanya banjir dengan air mata. Buaya seperti menyesal
ketika mengkonsumsi mangsanya. Tipe buaya yang begitu mudah mengeluarkan air
mata persis orang hipokrit yang berempati pada orang yang telah dizalimi. Orang
hipokrit seolah-olah berempati pada penderitaan orang lain. Sebenarnya,itu hanya
kamuflase agar orang tertarik padanya. Ketika orang sudah tertarik, barulah
orang bermental buaya ini menghabisinya. Perilaku seperti ini banyak dilakukan
oleh orang-orang yang punya vested
interest terhadap sesuatu apakah sesuatu itu bernama jabatan, pangkat, atau
harta. Boleh juga orang yang punya keinginan rendah, apalagi kalau bukan
kekuasaan atau kekayaan.
Wajah kita adalah
wajah buaya
Yang meratap dalam
riangnya
Dan tertawa dengan
sedihnya
Bila kita selalu
berkaca dengan kaca
Yang mengkilap dan
rata
Maka
tergambarlah
Alangkah berseadanya
Wajah
apa yang dikehendaki HJ? Wajah orang yang rendah hati. Wajah orang yang
bersikap rendah hati (egaliter) bisa dilihat dari caranya ketika berbicara atau
dari bahasa tubuhnya dengan siapapun dia berbicara. Orang yang rendah hati
tidak akan pernah menunjukkan dirinya seraya mengagungkan dirinya `siapa aku?`.
Lain halnya, dengan orang tinggi hati (sombong,angkuh, takabur) kalau berbicara
selalu menunjukkan dirinya `siapa aku?`. Kalau perlu ditunjukkan di hadapan
orang kekayaannya, kepangkatannya, keluarganya, gelar akademiknya, atau apapun
yang bisa-bisa menunjukkan bahwa dirinya datang dari kasta yang tergolong
paling tinggi agar orang manut. Orang yang rendah hati adalah orang berlapang
dada. Orang yang merasa bahwa dirinya masih banyak kekurangan. Agar bisa rendah
hati, orang harus banyak menunjukkan ketundukannya di hadapan Sang Khalik
dengan rukuk dan sujud pada-Nya. Wajah orang yang banyak rukuk dan sujud tidak
akan menampilkan fatamorgana karena fatamorgana hanya memberi janji dan mimpi
tidak memberikan sesuatu yang real, sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.
Banyak orang tertipu dengan wajah yang seolah-olah memberikan janji yang memastikan. Pada kenyataannya wajah itu penuh
tipuan. Wajah itu tidak menjanjikan. Wajah itu hanya sebuah fatamorgana. Wajah
itu seperti orang yang berjalan di tengah padang pasir yang terlihat dari jauh
seperti air, ternyata setelah dekat tidak lain pasir melulu.
Wajah
kita
Yang
mendengar segala erang
Berkerendahan
hati dan berkelapangan dada
Wajah
kita adalah wajah
Yang
kurang tambah
Serta
selebihnya
Wajah
kita adalah wajah
Yang
sujud rebah
Bagi-Nya
jua
Wajah
kita adalah wajah
Yang
bukan wajah
Hanya
fatamorgana
Untuk
memperkuat isi bait puisi di atas ada baiknya menyimak ucapan Pak Haji, salah
satu tokoh di novel Harimau! Harimau!
karya Mochtar Lubis di menit-menit terakhir menjelang kematiannya. Di situ Pak
Haji berpesan agar setiap orang (terutama orang-orang muda) agar banyak
mengambil pelajaran dari setiap hal di dunia ini. Sebagai makhluk yang lemah
kita harus menyadari tidak ada manusia yang sempurna. Untuk itu, manusia tidak
boleh hidup sendiri. Dia harus hidup bermasyarakat karena manusia yang hidup
sendiri tidak bisa mengembangkan kemanusiaannya. Pak Haji juga berpesan bahwa
Tuhan itu ada. Tetapi, kita tidak boleh memaksa orang lain untuk mengakui
keberadaan Tuhan sama halnya dengan memaksakan kemanusiaan kita pada orang
lain.
Berkaitan
dengan masalah kemanusiaan, kata Pak Haji, manusia harus belajar dari kesalahan
dan kekurangannya. Untuk itu, sikap yang paling baik adalah mau memaafkan
kesalahan orang lain padanya. Pada ucapan `Bismillahir rohmaanir rohim` terkandung
makna bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang menunjukkan juga
Tuhan itu pasti memaafkan segala kesalahan manusia. Pada kalimat itu juga
terlihat kunci kemanusiaannya manusia. Artinya, rasa kemanusiaan hanya bisa dibina
dengan saling mencintai bukan saling membenci. Kalau Tuhan saja yang memiliki
sifat Maha Pengasih dan Penyayang mau memaafkan segala kesalahan manusia yang
datang pada-Nya dengan dosa-dosa yang begitu banyak, apalagi kita selaku
manusia yang demikian kecil dan lemah di hadapan Tuhan. Selain itu, Pak Haji
sebagai hamba Tuhan yang rendah hati juga mengakui kalau selama ini telah tersesat,
hati dan pikirannya buta. Bahkan, dia juga mengakui kalau selama ini terlalu
sombong dan angkuh. Meskipun demikian, ada ungkapan yang perlu direnungkan,
yaitu orang yang berkuasa jika dihinggapi ketakutan selalu berbuat zalim.
Sebagai tambahan, Pak Haji mengingatkan sebelum membunuh harimau yang ada di
hadapan kita, selayaknya kita membunuh harimau yang ada dalam diri kita.
"Kalian
masih muda, ambillah pelajaran dari apa yang terjadi... aku pun kini sadar ...
kita tak hidup sendiri di dunia... manusia sendiri-sendiri tak dapat hidup
sempurna, dan tak mungkin hidup sebagai manusia, tak mungkin lengkap manusianya.
Manusia yang mau hidup sendiri tak mungkin mengembangkan kemanusiaannya.
Manusia perlu manusia lain. Sungguh kini aku sadari. Aku salah selama ini, kehilangan
kepercayaan pada manusia dan pada Tuhan.
Tuhan ada, anak-anak,
percayalah. Tapi jangan paksakanTuhanmu pada orang lain, seperti juga jangan
paksakan kemanusiaanmu pada orang lain. Manusia perlu manusia lain ... manusia
harus belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain. Wak Katok
jangan dibenci. Maafkan dia. Ampuni dia. Kita harus selalu bersedia mengampuni
dan memaafkan kesalahan dan dosa-dosa orang lain. Juga kita harus selalu
memaafkan dan mengampuni orang-orang yang berdosa terhadap diri kita sendiri
...Ingatlah ucapan Bismillahhirrokhmanirrokhiim... Tuhan adalah yang Maha
Pemurah dan Pengampun. Di sinilah kunci kemanusiaannya manusia yang diturunkan
Tuhan kepada manusia. Sedang Tuhan dapat mengampuni segala dosa jika yang
berdosa datang padanya dengan kejujuran dan penyesalan yang sungguh. Apalagi
kita, manusia yang biasa dan daif ini, di mana kekuasaan kita untuk menjadi
hakim yang mutlak, dan menjatuhkan hukuman tanpa ampun kepada sesama manusia?
Aku tersesat selama ini, aku telah menghukum seluruh manusia, dan dengan itu
menghukum diriku sendiri ... aku tahu kini, akulah yang paling berdosa. Aku lah
yang paling tua, akan tetapi hatiku dan pikiranku buta. Aku terlalu sombong dan
angkuh ... aku menghendaki manusia sempurna, sedang manusia hanya dapat
berikhtiar dan berusaha menjadi sempurna... kini aku sadar,
kemanusiaan hanya dapat dibina
dengan mencinta, dan bukan dengan membenci. Orang yang membenci tidak saja hendak
merusak manusia lain, tetapi pertama sekali merusak manusia dirinya sendiri...
kasihani Wak Katok ... Orang yang berkuasa, jika dihinggapi ketakutan, selalu
berbuat zalim...ingatlah hidup orang lain adalah hidup kalian juga ... sebelum kalian
membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu
sendiri ... mengertikah kalian...percayalah pada Tuhan ... Tuhan ada... manusia
perlu bertuhan.. Ashaduala
ilaha Mallah, wa asyhadu amia
Muhammadarrosulullah ... ampuni
dosa-dosaku, Ya Tuhanku ... Engkau tak dapat hidup sendiri... cintailah
manusia...bunuhlah harimau dalam hatimu..." dan tiba-tiba kepalanya terkulai,
dan sesuatu seakan bergerak dalam dadanya, darah mengalir ke luar dari
mulutnya... Pak Haji pun telah meninggalkan mereka.
Ucapan
Pak Haji jelas ucapan orang saleh menjelang kematiannya. Ucapan itu menjadi
penutup yang baik (khusnul khotimah). Ucapan itu juga menunjukkan kerendahan
hati dan kelapangan dadanya. Ucapan itu pula yang mengantarkannya ke surga.
Mungkinkah kita bisa seperti itu walaupun itu hanya dalam kisah fiktif?
Mudah-mudahan saja! Wallahu a`lam
bissawab.
Sumber Gambar:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar