MEMBUNUH HARIMAU
DALAM DIRI SENDIRI
Subagio S. Waluyo
Setiap
orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga
kezaliman
itu berada. Salahlah bagi orang memencilkan diri,
dan
pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang
menimpa
diri orang lain ... besar kecil kezaliman, atau ada
dan
tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya
terjadi
dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia
harus
mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia
haruslah
orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam
dirinya.
Dia kini mengerti benar apa yang dimaksud oleh Pak
Haji
dengan kata-katanya - bunuhlah dahulu harimau dalam
dirimu
....
(Harimau! Harimau!/Mochtar Lubis)
***
Membaca
novel Harimau! Harimau (NHH) karya Mochtar Lubis (ML) kita seperti
diingatkan sebagai makhluk yang lemah kita tidak luput dari dosa-dosa. Kita
juga diingatkan agar setiap orang melakukan introspeksi diri. Memang, orang
yang benar-benar beriman kalau mau hidup selamat dunia- akhirat harus melakukan introspeksi diri
sebelum orang lain mengintrospeksi dirinya. Sesuatu yang indah jika ada orang
yang mengingatkan kita baik di masjid melalui khutbah-khutbah jum`at dan
pengajian, di majelis taklim, maupun pada saat kita membaca buku-buku Islam
yang bermuatan nasihat. Bisa juga ajakan introspeksi diri (bisa dalam bentuk bertobat)
dilakukan seseorang menjelang
kematiannya. Di saat-saat kritis orang yang mau dipanggil Allah bila ada
kesempatan bisa mengajak orang di sekitarnya untuk melakukan introspeksi diri.
Pak
Balam, salah satu tokoh yang menjadi
korban terkaman harimau dalam NHH, di saat-saat
kritis menjelang malaikat maut menjemputnya masih sempat mengajak
teman-temannya untuk mengintrospeksi diri. Pak Balam mengingatkan kalau harimau
yang menerkamnya punya misi bukan semata-mata
mau memburu dia dan teman-temannya, tapi juga ada misi mau menghukum dirinya dan teman-temannya sesama
pencari damar yang konon kabarnya hidupnya telah berlumur dosa. Jadi,
menurutnya harimau itu dikirim Tuhan untuk menghukum dirinya dan teman-temannya
yang berdosa.
Untuk
itu, Pak Balam meminta teman-temannya mengakui dosa-dosanya, Rupanya tidak cukup
sampai di situ, dia juga membongkar aib pimpinan rombongan pencari damar, Wak
Katok, di hadapan teman-temannya yang lain. Meskipun demikian, dia masih bijak
karena meminta secara khusus kepada Wak Katok agar mengakui dosa-dosanya.Dia
juga meminta Wak Katok untuk bertobat.
"Awaslah,
harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita yang berdosa — awaslah
harimau — dikirim Allah — awaslah harimau -akuilah dosa-dosa kalian – akuilah
dosa-dosa kalian." Mereka diam saja mendengarkannya, rasa takut mulai timbul
dalam hati mereka, seluruh gelap rimba raya di sekeliling terasa penuh dengan
ancaman dan raksasa hitam yang ganas yang bersembunyi menunggu saat hendak menerkam,
dan mereka merasa seakan harimau dengan gelisah berjalan mundar-mandir di
seberang batas gelap antara pinggiran lingkaran api dan gelap hutan, mengawasi
mereka, memeriksa dosa-dosa mereka,' memutuskan siapakah lagi yang harus
dihukum karena dosa-dosanya...
Mereka
tak berani lagi saling berpandangan muka, takut yang lain akan dapat membaca
apa yang mereka rasakan dan pikirkan, karena ucapan-ucapan Pak Balam yang masih
terus juga dari waktu ke waktu ke luar dari mulutnya — "akuilah dosa-dosa
kalian -- bawalah harimau — dikirim Allah akuilah dosa-dosa kalian"
memaksa mereka untuk memandang dengan jujur ke dalam lubuk hati, memaksa mereka
meninjau kembali perbuatan-perbuatan selama hidup. Dan aduh, banyaklah dosa dan
kesalahan yang mereka lihat. Mata mereka silau melihat kejahatan dan dosa-dosa
mereka sendiri. Mereka lebih suka menyembunyikannya dan tak melihatnya. Tak
mengingatnya dan tak membukanya. Jangankan membukanya kepada orang lain, kepada
diri sendiri pun, masing-masing enggan dan tak hendak mengakuinya. Karena orang
yang mencoba membuka kebenaran dibenci dan dimusuhi oleh mereka yang bersalah
dan berdosa. Banyak orang yang takut hidup menghadapi kebenaran, dan hanya
sedikit orang yang merasa tak dapat hidup tanpa kebenaran dalam hidupnya.Mulai
pula timbul, di samping rasa takut mereka, rasa tak senang terhadap diri Pak
Balam, yang mereka kasihani selama ini, sejak dia diterkam harimau dan berkat
ketangkasan mereka bersama berhasil mereka rebut kembali dari rahang harimau.
Dan kini, Pak Balam yang telah mereka selamatkan itulah pula yang menyuruh
mereka membongkar kopor-kopor rahasia dalam hati dan jiwa mereka.
(NHH, hlm. 94-95)
Aku
ikut bersalah. Aku berdosa. Barangkali aku yang lebih bersalah lagi dari Wak
Katok. Karena dalam hatiku aku telah tahu apa yang hendak dilakukan oleh Wak
Katok, ketika dia membawa aku pergi ke sumur. Tetapi hatiku begitu cinta pada
hidup diriku, hingga aku rela untuk membayar apa saja agar aku dapat hidup
terus. Biarlah Sarip yang mati, asal aku dapat hidup. Aku amat pengecut sekali,
aku takut mati, aku tak mau mati. Jika aku melarang Wak Katok, dan berkeras supaya
Sarip kami bawa, pasti Wak Katok akan menuruti
kehendakku.
Tetapi aku biarkan saja. Orang yang membiarkan orang lain melakukan kejahatan
dan dosa, sedang dia mampu menghalanginya, sama besar dosanya dengan orang yang
melakukan dosa itu. Apalagi jika dia tahu,
bahwa
karena perbuatan dosa itu, dia sendiri mendapat keuntungan. Itulah perbuatan
Wak Katok, kawanku yang amat karib, yang pertama, yang aku biarkan, dan aku pun
tak kurang ikut memikul dosanya.
Selama
pemberontakan banyaklah hal-hal lain yang aku biarkan Wak Katok melakukannya,
dan aku pun harus ikut memikul dosa-dosanya. Seperti ketika Wak Katok
memperkosa istri Demang, kemudian membunuh Demang, istri dan tiga orang anaknya,
dan merampas emas dan perak di rumah Demang. Aku ada bersama Wak Katok, dan aku
tak berusaha untuk melarang Wak Katok berbuat dosa demikian.
(NHH,
hlm. 93)
"Akuilah
dosa-dosamu,
Wak Katok, dan sujudlah ke hadirat Tuhan, mintalah ampun kepada Tuhan Yang Maha
Penyayang dan Maha Pengampun, akuilah dosa-dosa kalian, juga kalian yang lain,
supaya kalian dapat selamat ke luar dari rimba ini, terjauh dari bahaya yang
dibawa harimau ... biarlah aku
seorang
yang jadi korban”
(NHH,
hlm. 94)
***
Sebagai pimpinan dan orang yang
dianggap berilmu, Wak Katok tidak bisa menerima ajakan Pak Balam. Tanpa
sepengetahuan Pak Balam, dengan melakukan cara-cara ritual, akhirnya
dia menemukan bukti bahwa harimau yang membuntuti dan memburu Wak Katok dan
kawan-kawan bukan harimau jadi-jadian atau siluman. Harimau itu hanya harimau
biasa. Karena hanya harimau biasa, menurutnya mustahil kalau harimau itu dikirim
Tuhan untuk membongkar dosa-dosa para pencari damar itu. Dengan penjelasan Wak
Katok, teman-temannya, kecuali Pak Balam, bernafas lega. Mereka tidak lagi
merasa bahwa harimau yang membuntuti dan memburu mereka bukan harimau utusan Tuhan yang punya
misi membuka kedok-kedok mereka. Atau harimau yang diutus untuk menekan mereka
agar
mengakui dosa-dosanya seperti yang dikatakan Pak Balam. Untuk sementara,
ajakan Pak Balam dianggap tidak mempan buat mereka. Mereka sebagai manusia biasa tidak mau menelanjangi
dirinya sendiri.
"Syukur
alhamdulillah, harimau bukan harimau siluman. Menurut darah di pisau,"
kata Wak Katok, dan menunjukkan pada mereka belatinya. Di ujung belati
kelihatan bekas darah yang kini berwarna hitam,
dan mereka melihat Wak Katok mencicip ujung jari kirinya, yang bekas ditusuknya
dengan pisau belati.
"Jika
harimau itu harimau siluman, maka darah di pisau akan tetap tinggal merah
setelah dibakar di api," kata Wak Katok menerangkan. "Akan tetapi
lihatlah, darahnya jadi hitam, jadi darah biasa, dan karena itu darah harimau
adalah juga darah biasa, dan dia adalah harimau biasa."
Terdengar
mereka semua menarik napas lega setelah mendengar kata Wak Katok. Harimau
biasa, meskipun menakutkan, akan tetapi tidak begitu dahsyat menakutkan
seperti
harimau siluman. Harimau biasa adalah binatang buas biasa, yang dapat dilawan.
Sedang harimau siluman tak seorang manusia juga yang kuasa melawannya. Orang
merasa tak berdaya dan tak bertenaga sama sekali jika harus menghadapi harimau
jadi-jadian. Apalagi jika harimau siluman menjadi pesuruh Yang Maha Kuasa untuk
menghukum dosadosa mereka. Menghadapi harimau demikian orang hanya tinggal
menunggu nasib saja. Menunggu terus-menerus dalam ketakutan, hingga saat setiap
orang tiba untuk dipanggil kembali ke alam baka. Tetapi harimau biasa dapat
dilawan. Dan Buyung sendiri merasa mempunyai cukup kecakapan menembak untuk
memburu harimau biasa.
Dan
yang lebih menyenangkan hati mereka lagi adalah, kini persoalan harus mengakui
dosa-dosanya telah dikesampingkan. Kini tak perlu lagi mereka memeriksa dirinya,
dan melihat dan berhadapan dengan dosa-dosanya, yang selama ini mereka simpan
jauh-jauh di dasar ingatan, kesadaran dan hati nuraninya. Tak seorangpun juga
merasa senang menelanjangi dirinya sendiri. Jangankan di depan orang lain,
meskipun pada dirinya sendiri, ketika orang seorang hanya sendiri dengan
dirinya, tak ada yang suka bertentangan mata dengan hati nuraninya.
(NHH,
hlm.100-101 )
Mereka memang untuk sementara waktu
terselamatkan dari ajakan Pak Balam menelanjangi dirinya agar muncul dari
setiap orang mengakui segala kesalahannya. Tapi, faktanya mereka diliputi
kegelisahan. Talib, misalnya, masih teringat tentang Siti Nurbaiti yang masih
terhitung `bau kencur` harus meregang nyawa karena diperkosa. Pelaku
pemerkosaannya sampai saat ini (kejadian itu sudah berlangsung dua tahun yang
lalu) masih belum jelas. Talib sendiri ada perasaan bersalah karena libidonya
sempat memuncak setiap kali memandang anak gadis itu. Di luar itu, Pak Haji,
Wak Katok, Sanip, Sutan, dan buyung pun diliputi kegelisahan. Mereka tidak bisa
memicingkan matanya karena masing-masing masih terbawa alam pikirannya. Pak
Balam pun tidurnya lebih gelisah lagi. Manusia biarpun dia terselamatkan dari
tidak jadinya menelanjangi dirinya, tapi hati nurani manusia tidak bisa
dibohongi. Hati nurani manusia yang masih bersih menuntut pengakuan.
Masing-masing penuh dengan perasaan dan pikiran tentang
diri sendiri dan tentang kawan-kawannya. Talib teringat pada Siti Nurbaiti,
anak gadis berumur tiga belas
tahun yang terdapat mati di ladang di luar kampung dan
membuat heboh seluruh daerah berbulan lamanya, kurang lebih dua tahun yang
lalu. Pakaian gadis itu koyak-koyak, dan menurut cerita, dia diperkosa.
Sampai kini tak diketahui siapa yang memperkosa dan membunuhnya.
Siapakah yang berbuat demikian? Adakah dia di antara mereka ini? Dia merasa
ikut berdosa juga, karena bukan sekali saja timbul rasa berahinya melihat gadis
umur tiga belas yang
badannya lekas menjadi dewasa itu, dengan buah dada
yang besar dan kencang mendorong baju kurungnya, raut mukanya yang manis, dan
cahaya matanya yang berani dan penuh tantangan. Kemudian dia menutup pikiran
dan menahan hati nuraninya, ketika pikiran-pikiran serupa itu membawanya terlalu
dekat pada dosa-dosanya sendiri.
Pak Haji, Sanip, Sutan, Buyung dan Wak Katok pun tidur
gelisah. Meskipun mereka memicingkan mata, akan tetapi pikirannya tak berhenti.
Ketukan Pak Balam terhadap hati nurani mereka masih berkumandang juga di dalam
relung hati dan pikiran, bergema ke bawah sadar. Pak Balam sendiri pun, entah
karena lukanya, entah karena hatinya, tidur lebih gelisah lagi...
Api unggun menyala besar, melontarkan lingkaran cahaya
kecil di tengah gelap rimba raya menahan gelap yang hendak menelan mereka.
Bunyi hutan di malam hari yang penuh dengan bunyi-bunyi rahasia dan gaib melingkari
mereka. Hati nurani manusia memburu-buru minta pengakuan.
(NHH,
hlm. 103)
***
Meskipun Pak Balam yang pertama kali diterkam harimau,
justru Talib yang pertama kali menemui ajalnya setelah diterkam harimau.
Luka-lukanya di sekujur tubuhnya yang terbilang sangat parah tidak bisa diobati
sehingga Talib harus meregang nyawanya. Kematian Talib mengakibatkan mereka
yang tersisa semakin gelisah. Di satu sisi mereka mengakui ucapan Pak Balam
bahwa harimau yang masih masif membuntuti dan memburu mereka bukan harimau
biasa. Itu harimau yang dikirim Tuhan agar mereka mengakui dosa-dosanya dan
segera bertobat. Tapi, di sisi lain karena
masih ada nafsu duniawi yang demikian kuat, mereka tetap saja percaya bahwa
peristiwa yang baru saja terjadi tidak berkaitan dengan dosa-dosa yang telah
mereka lakukan. Hal yang wajar kalau setiap orang dalam kondisi seperti itu
ingin segera ke luar dari hutan, bertemu kembali dengan keluarganya, dan tentu
saja mereka tidak ingin diterkam harimau seperti yang dialami Pak Balam dan
Talib.
Mereka berpandangan.
Seorang dari mereka kini telah mati akibat serangan,
harimau, yang menurut Pak Balam dikirim Tuhan untuk menghukum mereka yang
berdosa. Mungkinkah Pak Balam benar? Dan harimau itu bukanlah harimau biasa?
Akan tetapi harimau yang dikirim oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, harimau gaib, yang
datang untuk menghukum mereka? Apa daya mereka terhadapnya, selain menyerahkan
diri kepada Tuhan?
Jika memang telah tersurat, bahwa mereka harus mati
diterkam harimau di tengah hutan karena dosa-dosanya, maka haruslah mereka
menerima takdir yang demikian.
Akan tetapi dalam bawah sadar mereka nafsu hidup tetap
menyala dengan kuat. Malahan kini, di tengah ancaman yang dahsyat, menyala
lebih besar dan lebih kuat lagi. Mereka hendak hidup terus, mereka hendak ke
luar dari hutan, mereka hendak meninggalkan rimba dengan selamat. Mereka hendak
pulang ke kampungnya. Mereka hendak kembali kepada istri dan anaknya. Mereka
hendak mencinta kembali. Mereka hendak hidup kembali di tengah manusia. Mereka
tak hendak mati diserang harimau yang ganas dan zalim. Bawah sadar mereka
berteriak menyuruh mereka berjuang, berkelahi, bertarung untuk mepertahankan
hak hidupnya.
(NHH,
hlm. 114)
Talib sebelum wafat sempat melontarkan
sebuah pengakuan bahwa dia pernah mencuri. Masalah itu sempat ditanyakan Pak
Haji. Rupanya, Sanip meresponnya walaupun sempat terjadi perkelahian antara
Sanip dan Sutan. Menurut pengakuan Sanip, dia bersama Talib dan Sutan pernah
mencuri empat ekor kerbau milik Haji Serdang. Aksi mereka sempat diketahui
penjaga kerbau. Talib bertindak cepat dengan menikam sang penjaga kerbau.
Penjaga kerbau sempat mengenali wajahnya. Meskipun mereka bertiga selamat, tapi
Sanip sebagai salah seorang pelakunya mengakui itu merupakan perbuatan dosa.
Peristiwa yang dialami kedua orang temannya merupakan balasan atas perbuatan
dosa yang mereka lakukan. Dia pun pada akhirnya mengakui yang dikatakan Pak
Balam, yang masih terbaring lemah karena luka-lukanya, itu benar. Harimau itu menurut
Sanip memang dikirim Tuhan agar dia dan teman-temannya mengakui segala
kesalahan dan dosa-dosanya. Sanip di bawah tekanan Pak Balam dan Wak Katok pada
akhirnya menceritakan semua perbuatannya yang pernah dilakukan selama hidupnya.
Setelah menyampaikan semua itu, dia merasa lega. Tekanan batin yang selama ini menghimpitnya seolah-olah terlepas dari
dirinya. Dari ceritanya Buyung tahu kalau Sanip ternyata seorang penzina,
pencuri, dan pendusta.
Daya Sanip menguasai dirinya patah di bawah ancaman Wak
Katok. Dia lalu bercerita. Semuanya diceritakannya. Tak ada satu pun yang
ditahan-lahannya. Dan dalam bercerita mulai pula terasa kelegaan dalam hatinya.
Akhirnya dia pun terlepas pula dari tekanan dosa-dosa yang selama ini melekat di
jiwanya.
Buyung mendengarkan dengan penuh takjub. Berbagai perasaan
timbul dalam hatinya. Perasaan marah, kecewa, kesal, jijik. Mungkinkah Sanip
bercerita sekarang adalah Sanip kawannya selama ini? Sanip yang periang, Sanip
yang termasuk orang baik-baik di kampung, yang dihormati dan disayanginya, dan
dipercayainya selama ini? Ternyata dia seorang tukang berzinah, seorang
pencuri, seorang pendusta?
(NH, hlm. 120)
***
Bagaimana dengan Wak Katok yang telah dibongkar
perilakunya oleh Pak Balam? Ternyata, Wak Katok jiwanya mulai tidak tenang. Dia mulai galau.
Kelemahan-kelemahannya
yang telah dibongkar Pak Balam membuat jiwanya sebenarnya makin lemah. Kematian
Talib akibat serangan harimau membuat jiwanya semakin tertekan. Usulan Buyung
untuk memburu harimau yang segera disambut olehnya sebenarnya juga makin
membuat jiwanya tertekan. Hanya karena gengsi saja di hadapan murid-muridnya
(Talib, Sutan, Sanip, dan Buyung adalah murid-murid Wak Katok) dia berinisiatif
untuk memimpin perburuan itu. Sejujurnya dia sebenarnya meragukan kemahirannya
dalam memburu harimau karena memang tidak punya pengalaman memburu dan (bahkan)
menembak harimau. Sepintas ada pikiran untuk menyerahkan senapan yang
dipegangnya pada Buyung. Tapi, karena kesombongannya, dia tidak mau
menyerahkannya. Selain itu, dengan senapan itu dia merasa aman. Bahkan, dengan senapan itu pula
dia merasa sebagai pimpinan rombongan yang layak untuk disegani bawahannya.
Meskipun demikian, ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan, yaitu di balik
kekukuhan, kekerasan, dan ketegangan wajahnya Wak Katok di hati kecilnya adalah
seorang yang galau hatiya, penuh keraguan dan kebimbangan, dan dirinya dihantui
perasaan kekhawatiran.
Sejak serangan harimau yang pertama, dan sejak Pak Balam
membongkar rahasia kejahatan-kejahatannya di waktu dulu, Wak Katok telah berada
di bawah tekanan jiwa yang semakin hari semakin besar. Dia merasa kelemahan-kelemahannya
yang dirahasiakannya selama ini telah terbongkar, dan membuat dia lemah
kembali. Dan serangan harimau yang kedua terhadap Talib telah lebih memperbesar
tekanan ini. Dan kini sambil menunggu-nunggu harimau, datang tekanan lebih
besar lagi. Bagaimana jika dia menembak tak tepat? Jika harimau lolos kembali?
Atau jika dia menembaknya hanya luka, dan harimau dalang mengamuk menyerang
mereka? Mereka kini tidak berada dialas pohon yang aman. Ingin dia sebenarnya
mengusulkan
supaya mereka pindah tempat, naik ke atas pohon,
membuat tempat menunggu di atas pohon. Akan tetapi dia tahu, bahwa usulnya akan
didengar dengan perasaan aneh dan ganjil oleh Buyung. Karena keadaan kini tidak
mengizinkan mereka berburu cara demikian.
Kini soalnya mengadu kemahiran berburu dan kekuatan hati
dengan harimau. Dan inilah yang dirasakan sekarang amat kurang cukup
dimilikinya. Dia bukan saja takut
menghadapi harimau yang kini datang semakin dekat ke tempatnya
bersembunyi, akan tetapi dia pun tak kurang takutnya, nanti akan terbukti, di
depan mata Sanip dan Buyung, jika gagal menembak. Bagaimana jika ketika melihat
dan mendengar auman harimau, badannya jadi beku dan kaku?
Alangkah senangnya jika dia dapat mencari alasan untuk
memberikan senapan kepada Buyung. Biarlah Buyung yang menembak. Jika meleset,
maka Buyunglah yang salah. Akan dikatakankah, bahwa tangannya sakit, atau kaku,
semutan...? Akan tetapi hatinya amat enggan melepaskan senapan dari tangannya.
Sejak bahaya mengancam, tak pernah dia melepaskan
senapan dari tangannya lagi, jika tak amat perlu sekali. Dia mendapatkan
sesuatu perasaan aman dari besi laras senapannya. Senapannya itulah yang
memberikan padanya kedudukan pimpinan dan kekuasaan antara mereka kini. Tanpa
senapannya dia tak punya arti. Wak Katok, meskipun seluruh tampangnya dan
mukanya menunjukkan kekukuhan dan kekerasan dan ketegangan, sebenarnya jauh
dalam lubuk hatinya, adalah seorang yang rusuh hatinya, kacau perasaannya,
ragu-ragu pikirannya, penuh dilanda kebimbangan, keraguan dan kekhawatiran.
Tangan beku dan jari-jari beku, ketakutan pun meremas-remas hatinya tak
berhenti-hentinya.
(NHH, hlm. 135)
Sebagai tambahan,
sikap Wak Katok yang menunjukkan kelemahan dirinya juga tampak ketika suatu
malam dia mendapat giliran jaga malam. Seperti biasanya dia seharusnya membangunkan Buyung dan Sanip untuk giliran jaga.
Entah kenapa, malam itu dia membiarkan kedua orang itu tidur. Sebagai pimpinan yang
sebenarnya penakut setiap kali ada suara gesekan sebenarnya dia ingin teriak
dan melompat. Tetapi, sekali lagi karena ketinggian hatinya, dia tahan semua
keinginan itu. Wak Katok cermin seorang pemimpin yang penakut, yang penuh
dengan kebimbangan, keraguan, dan kekhawatiran hanya demi prestise dia melakukan kamuflase. Sikap seperti ini jelas akan
membahayakan bukan saja buat dirinya, tapi juga buat orang-orang yang dipimpinnya.
Biasanya Wak Katok membangunkan Buyung dan Sanip, menurut
giliran mereka untuk berjaga-jaga, selelah mereka mulai diserang harimau. Akan
tetapi malam itu Wak Katok tak hendak melepaskan senapan dari pegangannya. Dia
duduk sendiri dekat api. Tiap sebentar matanya mengawasi hutan gelap di luar
lingkaran cahaya api. Semakin lama ketegangan yang menekan itu semakin besar,
dan semakin besar pula dan semakin besar, dan ada beberapa kali seakan Wak
Katok pun tak dapat menahan rasa takut yang memeras hati dengan amat kuatnya,
dan dia merasa ingin melompat dan menjerit, melakukan sesuatu kekerasan untuk
menghapuskan rasa takut demikian dari hatinya.
Beberapa kali hatinya berdebar-debar amat kerasnya mendengar
bunyi berkeresekan di antara belukar gelap di luar cahaya api unggun, dan
timbul hasratnya untuk membangunkan Pak Haji, atau Buyung, atau membangunkan mereka
semua. Akan tetapi ditahannya dirinya. Takut dia akan merasa malu, mereka akan
tahu, bahwa dia merasa takut. Karena bukankah dia adalah Wak Katok, orang yang paling
berani di kampungnya, yang tidak takut pada setan, jin atau iblis, seorang
dukun yang amat tinggi ilmunya, yang dapat mengobati segala penyakit, yang
dapat memanggil angin dan hujan, menundukkan api, menundukkan racun dan guna-guna,
seorang pemburu yang merajai semua rimba, guru silat yang tak ada tandingannya?
(NHH, hlm. 143-144)
Sebenarnya Buyung telah melihat
perubahan sikap pada diri Wak Katok. Digambarkan air mukanya yang biasanya
menunjukkan kekerasan tekad, lambat laun mulai goyah. Buyung mulai meragukan
kekuatan tekad Wak Katok menghadapi peristiwa penerkaman yang dialami
teman-temannya. Dimulai dari Pak Balam, Talib, sampai Sutan. Semua itu membuat
goyahnya Wak Katok. Tentu saja kalau sang pimpinan sudah seperti itu, tidak
mustahil akan membahayakan rombongan pencari damar yang masih tersisa.
Sejak mereka mulai menunggu datangnya harimau di tempat
persembunyian mereka, Buyung dapat merasakan sesuatu perubahan di dalam diri
Wak Katok. Air mukanya
yang keras kini seakan goyah. Seakan Wak Katok
meragukan kekerasan dirinya sendiri. Sesuatu yang goyah yang dapat membahayakan,
bukan saja diri Wak Katok sendiri, akan tetapi diri mereka semua.
(NH, hlm. 142)
Bukan hanya Buyung, Pak Haji juga bisa
merasakannya. Ucapan-ucapan Wak Katok yang penuh keraguan dan tingkah laku yang
terbaca di mata Pak Haji sebagai orang yang sebenarnya penakut menimbulkan
kekhawatiran di diri Pak Haji karena suatu saat perbuatan Wak Katok akan
menimbulkan bencana seperti yang dialaminya saat ini.
Dia tahu bahwa Wak Katok menghadapi krisis dalam dirinya.
Dari ucapan-ucapan dan tingkah laku Wak Katok, Pak Haji dapat menyimpulkan,
bahwa tekanan yang lebih besar akan mungkin meledakkan krisis ini, dan tak
seorang juga yang dapat mengatakan apa yang akan dilakukan Wak Katok.
Perbuatannya mungkin akan menimbulkan bencana bagi mereka semua.
(NHH, hlm. 156)
Selain itu, Pak Haji sejak lama telah
melihat kalau Wak Katok memiliki pribadi yang lemah. Dia juga tahu kalau Wak
Katok sebenarnya tidak sehebat yang disebut orang-orang kampung sebagai orang
yang punya berbagai ilmu entah ilmu silat, kekebalan, atau perdukunan. Hanya
saja dia tidak mau ambil pusing dengan membuka aib orang di depan orang banyak.
Kalau sampai dilakukan, tidak mustahil dia akan diusir orang-orang
sekampungnya. Dia ingin cari aman mengingat usianya yang sudah lanjut. Di
hari-hari tuanya dia ingin hidup nyaman.
Pak
Haji sejak lama telah dapat melihat kelemahan-kelemahan dalam pribadi Wak Katok
dan juga kelemahan dalam ilmu yang dimasyhur-masyhurkan orang tentang Wak
Katok. Akan tetapi dia berdiam diri. Apa perlunya? Mengapa dia harus membongkar
kedok Wak Katok pada orang-orang sekampungnya? Jika mereka senang dan
berbahagia mengikuti Wak Katok, mengangkatnya jadi pemimpin dan gurunya, maka
itu persoalan mereka. Apa untungnya baginya membuka mata orang banyak? Dialah
yang akan celaka. Dia akan dibenci orang jika dia berbuat demikian. Dia hanya
akan mendapat musuh saja. Dan dia telah bosan pindah dari satu tempat ke tempat
yang lain. Di hari tuanya dia ingin hidup tak terganggu dan tak mengganggu
orang lain. Suka hati orang lainlah apa yang hendak mereka lakukan.
(NHH,
hlm. 156)
***
Meskipun
Wak Katok berusaha menutup-nutupi kelemahannya, lambat-laun terbongkar juga
kedoknya. Suatu saat ketika mereka menghadapi seekor harimau yang selama ini
membuntuti dan memburunya, Wak Katok
berupaya bersembunyi ke dalam tanah. Tindakan Wak Katok jelas diketahui mereka
bertiga (Buyung, Sanip, Pak Haji). Upaya Wak Katok menyelamatkan diri ternyata
berbuah kebencian bagi teman-temannya. Sanip spontan dengan kata-katanya yang
cukup pedas menyerang Wak Katok. Tidak cukup sampai di situ, Sanip juga menuduh
kalau penyebab munculnya musibah beruntun itu akibat dari Wak Katok yang telah
meniduri istri Wak Hitam, Siti Rubiyah. Sanip melihat langsung kejadian itu. Mendengar
ucapan Sanip terakhir itu spontan Wak Katok naik pitam. Wak Katok meminta Sanip
untuk berhenti bicara seraya membela diri kalau Siti Rubiyah, istri Wak Hitam,
mau tidur dengan siapapun yang penting ada yang membayarnya. Wak Katok justru
menuduh balik Sanip dan teman-temannya juga bernafsu untuk meniduri Rubiyah.
Tidak cukup sampai di situ, Wak Katok yang sudah panik dan juga tersudut mengusir
mereka.
"Inikah Wak Katok yang gagah perkasa itu, guru
paling besar, dukun paling besar, guru silat yang paling
pandai, pemimpin yang paling besar. Mengapa Wak Katok kini
hendak bersembunyi ke dalam tanah? Engkau guru palsu. Lihat
ini..." Dia membuka ikatan jimat-jimat di pinggangnya, dan
dilemparkannya ke tanah.
"Jimat-jimatmu palsu, manteramanteramu
palsu. Inilah jimat-jimat
yang dipakai juga oleh Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan, lihatlah, di mana
mereka kini, karena mempercayai engkau... mereka telah mati,
telah binasa. Engkau memaksa orang mengakui dosa-dosa,
tetapi bagaimana dengan dosa-dosamu sendiri, dan bukan saja
dosa-dosamu yang
diberitahukan oleh Pak Balam. Akan aku ceritakankah padamu dosamu...?" Wak Katok diam
saja.
(NHH,
hlm. 171)
"Ya,
kalian mungkin tak percaya, tetapi aku lihat dengan mata kepataku sendiri.
Pangkal celaka kita tak lain adalah Wak Katok sendiri. Harimau yang datang
menyerang kita adalah harimau Wak Hitam. Karena Wak Katok telah memaksa istri
Wak Hitam, aku lihat, di pinggir sungai..."
(NHH, hlm.
171)
"Berhenti
engkau berbicara, bangsat!" serunya, "oh, engkau lihat, ya? Tapi
matamu tak cukup tajam. Aku tak paksa dia. Engkau tahu, aku bayar dia. Dan dia
pun akan mau tidur dengan siapa saja yang mau memberinya uang atau membelikannya
baju. Kalian juga bernafsu hendak tidur dengan dia, bukan? Kalau tidak mengapa
engkau di sana,
Sanip, kalau
tidak mengintipnya sedang mandi, bukan? Tapi kalian bukan jantan, kalian takut
pada Wak Hitam, bukan?"
(NHH, hlm. 171)
"Pergi
kalian sekarang juga dari sini! Siapa yang tak pergi aku tembak!"
(NHH, hlm 172)
Wak
Katok setelah ditinggal sendirian semakin gundah. Ada perasaan tidak tenang
sepeninggal ketiga temannya. Ketidaktenangan itu terlihat ketika dia membuat
sekian banyak api unggun semata-mata untuk melindungi dirinya. Ketiga temannya
yang meninggalkannya diam-diam mengatur strategi cara menaklukkannya.
Sayangnya, upaya mereka menaklukkan Wak Katok memakan korban. Adalah Pak Haji
yang menjadi korban kebrutalan Wak Katok. Dadanya tertembak ketika Pak Haji dan
Sanip menyerang dari depan. Wak Katok memang berhasil ditaklukkan, tapi nyawa
Pak Haji tak tertolong. Di saat-saat terakhir menjelang ajalnya, Pak Haji
sempat mengakui kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya. Selain itu, ia berpesan
pada Sanip dan Buyung agar memaafkan kesalahan Wak Katok. Pak Haji juga
menekankan kepada keduanya agar membunuh harimau dalam hati mereka berdua.
"Kalian masih muda, ambillah pelajaran dari apa
yang terjadi... aku pun kini sadar ... kita tak hidup sendiri di dunia...
manusia sendiri-sendiri tak dapat hidup sempurna, dan tak mungkin hidup sebagai
manusia, tak mungkin lengkap manusianya. Manusia yang mau hidup sendiri tak
mungkin mengembangkan kemanusiaannya. Manusia perlu manusia lain. Sungguh kini
aku sadari. Aku salah selama ini, kehilangan kepercayaan pada manusia dan pada
Tuhan.
Tuhan ada, anak-anak, percayalah. Tapi jangan
paksakanTuhanmu pada orang lain, seperti juga jangan paksakan kemanusiaanmu
pada orang lain. Manusia perlu manusia lain ... manusia harus belajar hidup
dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain. Wak Katok jangan dibenci. Maafkan
dia. Ampuni dia. Kita harus selalu bersedia mengampuni dan memaafkan kesalahan
dan dosa-dosa orang lain. Juga kita harus selalu memaafkan dan mengampuni
orang-orang yang berdosa terhadap diri kita sendiri ...Ingatlah ucapan
Bismillahhirrokhmanirrokhiim... Tuhan adalah yang Maha Pemurah dan Pengampun.
Di sinilah kunci kemanusiaannya manusia yang diturunkan Tuhan kepada manusia.
Sedang Tuhan dapat mengampuni segala dosa jika yang berdosa datang padanya
dengan kejujuran dan penyesalan yang sungguh. Apalagi kita, manusia yang biasa
dan daif ini, di mana kekuasaan kita untuk menjadi hakim yang mutlak, dan
menjatuhkan hukuman tanpa ampun kepada sesama manusia? Aku tersesat selama ini,
aku telah menghukum seluruh manusia, dan dengan itu menghukum diriku sendiri
... aku tahu kini, akulah yang paling berdosa. Aku lah yang paling tua, akan
tetapi hatiku dan pikiranku buta. Aku terlalu sombong dan angkuh ... aku
menghendaki manusia sempurna, sedang manusia hanya dapat berikhtiar dan
berusaha menjadi sempurna... kini aku sadar, kemanusiaan hanya dapat dibina
dengan mencinta, dan bukan dengan membenci. Orang yang membenci tidak saja
hendak merusak manusia lain, tetapi pertama sekali merusak manusia dirinya
sendiri... kasihani Wak Katok ... Orang yang berkuasa, jika dihinggapi
ketakutan, selalu berbuat zalim...ingatlah hidup orang lain adalah hidup kalian
juga ... sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu
harimau dalam hatimu sendiri ... mengertikah kalian...percayalah pada Tuhan ...
Tuhan ada... manusia perlu bertuhan.. Ashaduala ilaha Mallah, wa asyhadu anna Muhammadar
rosulullah ... ampuni dosa-dosaku, Ya Tuhanku ... Engkau tak dapat hidup
sendiri... cintailah manusia...bunuhlah harimau dalam hatimu..." dan
tiba-tiba kepalanya terkulai, dan sesuatu seakan bergerak dalam dadanya, darah
mengalir ke luar dari mulutnya... Pak Haji pun telah meninggalkan mereka.
Buyung dan Sanip memang menerima pesan
Pak Haji. Tapi, urusan dengan Wak Katok harus diselesaikan. Bukankah Wak Katok
telah menghabisi nyawa Pak Haji lewat tembakannya? Selain itu, sebelumnya Wak
Katok telah mengusir mereka sehingga wajar saja jika sekarang giliran Wak Katok
yang harus diberi pelajaran. Jadi, setelah mengurus kematian Pak Haji, mereka
berdua mengikat Wak Katok dan mematikan api unggun yang demikian banyak dipasang
Wak Katok. Wak Katok yang siuman kaget ketika tubuhnya diikat di pondok.
Keesokan harinya mereka bertiga menyusuri jejak-jejak harimau yang terbukti
memang telah memburu Sutan. Ditemukan pakaian Sutan yang telah tercabik-cabik
dan tulang belulang yang diduga merupakan tulang belulang Sutan. Setelah
diketahui keberadaan harimau, mereka berdua mengikat kembali Wak Katok di
batang pohon. Wak Katok dijadikan umpan agar Buyung dan Sanip bisa melumpuhkan
harimau. Strateginya memang berhasil, harimau yang sekian lama membuntuti dan
memburu mereka berhasil dilumpuhkan dengan menjadikan Wak Katok sebagai
umpannya.
***
Peristiwa
yang cukup memeras energi itu memberikan kesadaran baru pada Buyung. Buyung
sadar bahwa setiap orang di manapun dia berada berkewajiban memerangi
kezaliman. Adalah perbuatan yang salah kalau orang cenderung berdiam diri
melihat kezaliman. Juga termasuk perbuatan yang hina kalau ada sebagian orang
berupaya menutup-nutupi kezaliman. Di luar itu semua, manusia harus saling
mencintai satu sama lain. Untuk itu, setiap manusia harus terlebih dahulu
membunuh harimau di dalam dirinya. Ucapan Pak Haji benar-benar baru disadarinya
di saat-saat terakhir dia berhasil membunuh harimau dalam dirinya. Dengan kata
lain, dia berhasil mengatasi keraguan, kekhawatiran, ketakutan, dan
kegelisahan. Yang lebih baik lagi, dia telah bisa mengatasi segala macam
penyakit hati pada dirinya.
Setiap
orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah
bagi orang memencilkan diri, dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang
menimpa diri orang lain ... besar kecil kezaliman, atau ada dan tak adanya
kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari diri seseorang. Manusia
di mana juga di dunia harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia
haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya. Dia kini
mengerti benar apa yang dimaksud oleh Pak Haji dengan kata-katanya - bunuhlah
dahulu harimau dalam dirimu ....
(NHH,
hlm. 186)
***
ML
dalam NHH mengajak umat manusia untuk melakukan introspeksi/ evaluasi diri. Allah
swt telah menganjurkan kepada umat-Nya yang beriman agar setiap diri melakukan
introspeksi (evaluasi) diri. Dalam Al-Qur`an, Surat Al-Hasyr ayat 18-20
disebutkan bahwa orang-orang beriman dianjurkan untuk bertaqwa (kata taqwa
disebutkan dua kali) dan memperhatikan yang telah diperbuatnya (maksudnya
mengintrospeksi/mengevaluasi diri) untuk hari esok (akhirat). Selain itu, juga
ditekankan agar orang-orang yang beriman tidak lupa pada Allah sehingga kalau
orang yang semula beriman itu telah melupakan Allah, Allah akan melupakan
mereka. Kalau sudah seperti itu, dia bukan lagi disebut orang beriman tetapi
fasik. Sebagai pelengkap disebutkan bahwa penghuni surga adalah orang-orang
yang beruntung dan penghuni neraka adalah orang yang merugi. Untuk itu, tidak
sama penghuni surga dan penghuni neraka.
Sebenarnya, ML sebagai sastrawan
menuangkan gagasan nilai-nilai Islam ke dalam NHH. Kepiawaian ML dalam menulis
NHH yang menyebabkan setiap pembaca merenungi arti kehidupan. Lewat lisan Pak
Haji yang berpesan pada Buyung dan Sanip, misalnya, ML menyampaikan agar manusia
bisa mengembangkan kemanusiaannya. Melalui apa? Tentu saja menghindari
prinsip hidup yang terasing (sendiri). Jadi, manusia sebagai makhluk sosial perlu
hidup bermasyarakat. ML juga mengingatkan bahwa manusia itu makhluk yang tidak
sempurna. Karena tidak sempurna, manusia perlu membina hubungannya pada sesama
manusia dan Tuhan (hablummina Allah wa
hablumminnaas). Manusia tidak boleh hilang kepercayaannya pada Tuhan dan
juga pada sesama manusia. Untuk bisa mewujudkannya, menurut ML manusia harus
bisa membunuh harimau dalam diri sendiri. Wallahu
a`alam bissawab.
Sumber
Gambar:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar