LEBARAN TAHUN INI SEPI
Subagio S. Waluyo
"Dan
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau
membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
(QS. al-Isra’ : 23).
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
(QS
Al-Ahqaf: 15)
***
Is, laki-laki
tua, yang ditinggal mati istrinya setahun lalu. Ia merasa kesepian. Di rumah yang dulu penuh tawa dan tangis,
penuh canda dan kelahi anak-anaknya, sekarang telah hilang. Ia sekarang merasa bukan hanya ditinggal
istrinya, tapi juga anak-anaknya. Rumah besar yang ia tempati terasa lengang. Hanya ada pasangan suami-istri, Sumo, yang
masih setia menempati belakang rumahnya. Komunikasi dengan mereka hanya
sekali-kali ketika memang ia membutuhkan bantuan. Inilah sebuah kehidupan. Di awal pernikahan, ia hanya
berdua dengan istrinya. Satu persatu lahir dari rahim istrinya anak-anak yang
sangat dicintainya. Satu persatu pula ketika anak-anak berangkat dewasa mereka
meninggalkan kedua orang tuanya. Terakhir, istrinya turut juga meninggalkannya.
Meninggalkannya untuk selamanya. Jadilah ia seorang diri.
Menjelang hari-hari Lebaran yang semakin dekat, Is
merasa rumahnya semakin kelihatan besar dan kosong lagi. Betapa tidak. Empat
ruang tidur di tengah rumah itu hanya dia tempati sendiri sejak istrinya
meninggal setahun yang lalu. Ruang-ruang tidur selebihnya selalu kosong sejak
anak-anaknya pindah ke luar negeri dan ruang tamu itu lebih lama lagi tidak
disinggahi orang. Di bagian belakang rumah, dipisahkan oleh lorong belakang
rumah, adalah kamar tempat tinggal sepasang suami-istri Sumo yang sudah ikut
keluarga Is selama bertahun-tahun. Mereka akan muncul ke dalam rumah kalau Is
memanggil mereka untuk keperluan ini dan itu. Selebihnya tidak ada komunikasi
antara mereka.
Cerpen Umar Kayam “Lebaran di Karet. Di Karet….”
|
Kenapa
anak-anak Is tidak ada satu pun yang tinggal bersamanya? Jawabannya mudah saja karena sejak kecil tidak ditanamkan pendidikan agama. Maksudnya, pendidikan
agama yang mengajarkan anak-anak agar
berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Bukankah agama (dalam hal ini Islam)
memerintahkan agar ketika orangtua berusia lanjut sang anak berbuat baik pada
kedua orangtuanya (17/23-24; 31/14; 46/15).
Karena kedua orangtuanya lalai menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya,
mengakibatkankan anak-anaknya ketika dewasa tidak punya kepedulian pada ayahnya.
Kalau sejak kanak-kanak ditanamkan nilai-nilai agama, kedua anaknya tidak akan
tega membiarkan ayahnya sendirian di rumahnya. Boleh jadi Is dan istrinya yang
tanpa disadari gaya hidupnya sedikit mewah seperti diplomat dan anak-anaknya
dididik di Barat yang cenderung sekuler dan liberal menjadikan anak-anaknya
tidak punya kepedulian pada kedua orangtuanya. Akar masalahnya sudah jelas,
yaitu kesalahan pada Is dan istrinya yang sama sekali tidak menanamkan
nilai-nilai agama pada anak-anaknya. Ayahnya tidak akan kesepian kalau saja di
hari Lebaran anak-anaknya berkumpul di rumahnya. Tetapi, sesuatu yang
seharusnya demikian indah itu tidak terjadi. Anak-anaknya hanya mengirim kartu
lebaran. Walaupun disertai dengan permintaan maaf, hal itu jelas mencerminkan
sikap masa bodoh anak-anaknya pada ayahnya.
Dalam hari-hari mendekati Lebaran, Is berharap surat
anak-anaknya akan mulai berdatangan, seperti layaknya kebiasaan pada
hari-hari seperti itu. Dan, memang betul saja, surat mereka memang pada
berdatangan. Tetapi surat-surat itu mengecewakan Is karena pendeknya. Dengan
bersungut-sungut surat-surat tersebut dalam beberapa detik telah selesai
dibacanya. Huh, wong surat Lebaran buat orangtua kok dikirim dalam kartu pos
bergambar… Itu pun dalam beberapa baris… Nana yang menulis dari Geneva minta
maaf liburan winter tahun ini tidak jadi pulang ke Indonesia karena sudah
janji sama si Jon (kakak si temanten baru nih ye), buat mengajari main ski di
Alpen. Opo ora hebat, Dad. Maaf banget, nggih Dad? Makam Mommy apa sudah
ditutup nisan? Love kita semua. Kemudian Jon hanya titip salam “Hi, Dad”.
Kemudian surat dari Suryo, anaknya yang sulung, yang masih menetap di New
York yang masih kerja magang di IBM yang juga minta maaf tidak bisa pulang ke
bapaknya karena sudah terlanjur janji untuk libur dengan pacarnya anak Puerto
Rico. Sambil terus bersungut kartu pos bergambar dari anak-anaknya itu
dilemparkannya ke meja. Huh, anak-anak! Yang tanya ibunya juga cuma satu! Itu
pun soal sudah dinisan apa belum…
Idem
|
***
Perilaku
seperti itu juga terjadi pada Mudakir dalam cerpen “Jakarta Sunyi Sekali di
Malam Hari” karya Jujur Prananto. Dalam cerpen yang ditulis Jujur Prananto,
Mudakir sebagai bapak di hari Lebaran juga mau berkumpul dengan anaknya yang
bungsu. Kalau Is dalam cerpen “Lebaran di Karet, di Karet..., anak-anaknya berpencar-pencar
berdomisili di beberapa negara di Amerika dan Eropa, anak-anak Mudakir juga
sama. Anak yang pertama dan kedua bekerja di luar negeri. Anak yang ketiga
menjadi PNS seperti Mudakir. Sedangkan anak yang bungsu, perempuan, menjadi ibu
rumah tangga. Suaminya seorang pengusaha yang bergerak di bidang kuliner
(memiliki restoran di Roxy). Mudakir yang ditinggal mati istrinya juga suatu
saat rindu ingin bertemu dengan anaknya yang bungsu. Anak bungsunya,Wanti,telah
dua kali lebaran tidak berkunjung ke rumahnya di Magelang.
Dibandingkan
dengan Is, Mudakir lebih beruntung karena ia tinggal dengan anaknya yang ketiga
dan kerabat-kerabatnya. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari ada orang-orang
yang masih diajak berkomunikasi. Memang, ia punya anak-anak yang bekerja di
luar negeri, tetapi karena memaklumi kesibukan anak-anaknya ia tidak ambil
pusing. Sementara sikapnya terhadap Wanti jelas berbeda. Baginya ada sesuatu
yang kurang kalau anak bungsunya sudah dua kali lebaran tidak datang
berkunjung. Ada sebuah kerinduan yang harus ia penuhi. Ia harus berkunjung ke
rumah Wanti di Jakarta. Rupanya niat berkunjung ke rumah Wanti tidak
kesampaian. Ketika ia bermalam di sebuah penginapan semua uang miliknya
terakhir ludes dicopet wanita tua penjaga penginapan yang melayaninya. Wanti
sendiri telah pindah rumahnya. Mereka juga tidak memberikan kabar kepindahan
rumahnya. Nasib Mudakir, laki-laki tua yang kesepian setelah ditinggal
istrinya, jadi tidak jelas.
Kurang lebih dua bulan kemudian, Hasmanan
mengajak Wanti dan kedua anaknya ke Semarang dalam rangka pembukaan cabang
baru restorannya di daerah Gombel, naik sedan baru yang mereka beli menjelang
lebaran. Selesai acara di sana Hasmanan bertanya pada istrinya. “Kita mampir
ke Magelang apa tidak?”
Wanti tidak segera menjawab.
“Sudahlah. Sekali-sekali tengoklah ayahmu. Soal
ada perempuan di rumah itu jangan terlalu kamu hiraukan. Kalau dia memang
pacar Bapak, biarkan saja. Apa salah Bapak mempersiapkan diri untuk menikah
lagi?”
“Menikah lagi setelah bertahun-tahun membuat Ibu
menderita?”
“Mungkin Bapak gagal membahagiakan Ibu, tetapi
jangan pernah menuduh dia sengaja membuat Ibu menderita. Bapak cuma tidak
pintar mencari uang. Terlalu jujur sebagai seorang pegawai negeri. Di sisi
lain ibumu bercita-cita tinggi menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana
tetapi tak kesampaian karena ketidakpandaian ayah mencari uang itu tadi, lalu
diam-diam memendam penderitaan batin sampai benar-benar sakit dan meninggal
dunia. Intinya itu ‘kan, masalahnya?”
Wanti tidak mengiyakan atau pun membantah
pendapat suaminya, tetapi juga tidak melarang ketika akhirnya Hasmanan
meluncurkan sedan barunya memasuki Kota Magelang.
Cerpen Jujur Prananto ““Jakarta Sunyi Sekali di
Malam Hari”
|
Nasib Mudakir yang tidak jelas
rimbanya karena dua bulan setelah lebaran tidak diketahui keberadaannya lebih
disebabkan oleh kelalaian anaknya yang tidak memberitahukan kepindahan
rumahnya. Selain itu, ada sangka buruk anaknya terhadap ayahnya. Wanti, anak
bungsu, sejak kematian ibunya tidak suka kalau ayahnya menikah lagi. Selama ini
dia beranggapan bahwa ayahnya telah gagal membahagiakan ibunya. Ayahnya hanya
seorang PNS yang jujur. Sementara ibunya punya keinginan kuat agar anak-anaknya
bisa mengecap bangku pendidikan tinggi. Mungkin karena itu penyebabnya sehingga
ibunya menderita batinnya sehingga jatuh sakit dan meninggal dunia. Prasangka buruk Wanti sebagai
seorang istri terbaca oleh suaminya. Sang suami jelas seorang yang bijak.
Keputusan berkunjung ke rumah mertuanya merupakan langkah yang tepat.
Seandainya saja mereka tidak berkunjung ke Magelang, tempat orangtua Wanti,
kerabat-kerabatnya beranggapan bahwa selama dua bulan sang ayah tak kunjung
pulang karena berada di rumah Wanti di Jakarta.
Para mantan tetangga kaget melihat Wanti turun dari
sedan baru dengan penampilannya yang cantik. Bergantian mereka menyalami dan
memuji-muji keberhasilan hidup Wanti di Jakarta. Namun setelah semua
penumpang sedan turun, mereka pada bertanya. “Mana Bapak?”
Wanti seketika merasa heran. “Memang Bapak ke mana?”
“Lebaran kemarin Bapak ‘kan ke Jakarta, ke rumah
kamu.”
“Lalu sekarang di mana?”
“Lho, kita mengira kamu kemari ini dalam rangka
mengantar Bapak pulang.”
“Bapak tidak pernah datang ke rumahku di Jakarta”.
“Kalau tidak ke Jakarta lalu ke mana?” semua pada
bertanya-tanya. Wanti mulai berpikir ke arah kemungkinan yang terburuk.
“Atau… jangan-jangan Bapak ke tempat perempuan itu untuk menikah diam-diam?”
“Maksudmu yu Ijum yang pernah kamu lihat waktu
terakhir kamu kemari? Dia sudah kawin sama orang lain setelah ayahmu mengaku
tak mau menikah lagi.”
Wanti merasa lemas. “Jadi Bapak ke mana???”
Setelah berpikir beberapa saat, jantung Wanti
sekonyong-konyong berdegup keras.
“Ya Allah! Saya belum pernah kirim kabar ke Bapak
kalau kita sudah pindah dari Tanahabang!”
Idem
|
***
Nasib Is dan
Mudakir di penghujung usianya sangat tidak mengenakkan. Anak-anaknya lebih
mementingkan diri sendiri. Kalau Is dan istrinya karena anak-anaknya dididik di
Barat sampai mereka memperoleh gelar pendidikan tertinggi, tidak demikian dengan Mudakir
yang karena PNS, jujur, dan bergaji kecil tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya
sampai jenjang tertinggi di perguruan tinggi. Is dan istrinya melepas
anak-anaknya bersekolah di negara-negara yang jelas-jelas menanamkan
nilai-nilai sekuler dan liberal. Wajar-wajar saja kalau gaya hidup anak-anaknya
kebarat-baratan. Acuh tak acuh pada orang tua dan tidak punya rasa kasihan
serta hormat pada orangtuanya. Hal itu terbukti ketika sang ayah yang telah
menduda selama satu tahun sendirian di hari yang fitri itu. Beginikah cara
pendidikan Barat mendidik anak negeri ini sampai-sampai di hari-hari ketika
satu keluarga berkumpul dalam keceriaan, dalam kebersamaan yang dibungkus
dengan saling memaafkan sama sekali tidak terwujud.
Mudakir karena
keterbatasan dana tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Ketiadaan dana itu
menjadi sesalan salah seorang anaknya, Wanti, karena kemampuan otaknya yang
dinilai cukup tinggi tidak bisa meraih gelar sarjana.
Bukan hanya
Wanti, kakak-kakaknya pun tidak ada satu orang pun yang bisa menikmati bangku
perguruan tinggi. Apakah semua itu bisa ditimpakan pada ayahnya seorang PNS
yang jujur dan berpenghasilan pas-pasan? Bagi suami Wanti, Hasmanan, yang
realistis sikap Wanti yang menaruh dendam dan sangka buruk pada ayahnya tidak
bisa diterima. Sangka buruk Wanti tentang ayahnya yang mungkin saja nikah pada
seorang janda, Yu Ijum, tidak jadi masalah bagi Hasmanan. Menurut Hasmanan
tidak ada masalah kalau ayah Wanti menikah lagi. Hasmanan tidak menyalahkan
istrinya kalau ayah Wanti tidak berhasil membahagiakan istrinya. Tapi, Hasmanan
sangat tidak setuju kalau Wanti menuduh ayahnya telah membuat ibunya menderita.
Sikap diam Wanti menunjukkan bahwa selama ini Wanti cenderung menuduh ayahnya
telah membuat ibunya menderita. Sikap Wanti pada ayahnya menunjukkan bahwa
Wanti termasuk anak yang tidak menunjukkan rasa hormat pada orangtuanya,
terutama ayahnya. Sikap tidak hormat itu berbuah sesuatu yang menyakitkan buat
dia dan semua anggota keluarga dan kerabat-kerabatnya, yaitu tidak diketahui di
mana ayahnya berada selama dua bulan setelah pergi ke Jakarta. Seandainya saja memiliki
rasa hormat pada ayahnya, Wanti akan menyurati kepindahan rumahnya. Bukan hanya
itu, pasti setiap tahun di hari Lebaran dia mau bersilaturahim ke rumah orangtuanya
di Magelang.
***
Baik Is dan
Mudakir di hari-hari akhir hidupnya menuai hasil pernikahan yang jelas tidak
diharapkan. Mereka pasti menginginkan di akhir hidupnya, di hari-hari yang
fitri itu berkumpul bersama keluarganya. Mereka ingin menikmati kecerian
bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Tapi, itu semua tidak terjadi. Anak-anaknya
sibuk dengan urusannya masing-masing. Is sebagai duda hanya bisa mengelus dada
ketika anak-anaknya hanya mengirim surat singkat yang berisikan beberapa baris
kata-kata saja dengan latar belakang gambar di negara tempat mereka tinggal
(Swiss, Belanda, Amerika). Surat-surat singkat yang mereka kirim nyaris seperti
kartu lebaran. Is yang terbawa perasaannya akhirnya memutuskan untuk menziarahi
istrinya di TPU Karet. Mudakir juga terbawa perasaannya. Kesendirian, walaupun
di Magelang ada anaknya dan kerabat-kerabatnya, dan kerinduan pada anak
bungsunya membuat ia berniat mengunjungi anaknya di Jakarta. Tapi, niat Mudakir
tidak kesampaian karena anaknya telah pindah rumah. Bukan saja gagal ketemu
anaknya, dia juga kehilangan uang. Dia harus melawan ganasnya ibukota dengan
ketiadaan uang sama sekali. Hanya baju yang menempel di badan dan sebagian
pakaian yang dibawanya. Mudakir benar-benar tidak bisa menikmati kehidupan yang
mengenakkan di akhir-akhir hidupnya. Di dunia ini demikian banyak orang seperti
Is dan Mudakir yang tidak bisa menikmati kehidupan yang mengenakkan di
akhir-akhir hidupnya. Semua itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada anak-anak
yang dibesarkannya. Kesalahan bisa juga terjadi karena salah asuh orang tua
terutama lalai dalam menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya. Sudah
saatnya bagi orangtua untuk belajar dari setiap peristiwa yang dialaminya.
Boleh juga setiap orangtua belajar dari kasus-kasus yang muncul baik dari
informasi yang diterima maupun melalui media-media sosial. Dengan banyak belajar
dari peristiwa-peristiwa itu, ada harapan akan ada perbaikan dalam pola asuh
anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibu yang solehah. Mudah-mudahan
hamba-hamba Allah yang soleh-solehah terhindar dari pengalaman pahit yang dialami Is
dan Mudakir di usia senjanya. Wallahu
a`lam bissawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar