DI MANA-MANA ADA CERPEN
Subagio S. Waluyo
(https://www.liputan6.com/citizen6/read/2062070/kreatif-foto-foto-hasil-manipulasi-yang-menakjubkan)
Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai orang-orang yang senang bercerita, terutama dalam proses berkomunikasi antar sesamanya. Si pencerita tak jarang membumbui bahan percakapannya dengan hal-hal di luar fakta. Kadang-kadang si pencerita dijuluki oleh orang-orang sekelilingnya sebagai "si pembual" karena sikapnya yang suka melebih-lebihkan suatu bahan omongan.
(Harris Effendi Thahar, Kiat Menulis Cerita Pendek, 1999:21)
Cerpen
ada di mana-mana. Memang, cerpen ada di mana-mana. Cerpen ada di media cetak
atau online baik yang ada media
mingguan, seperti Kompas, Republika,
Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dan Suara
Merdeka maupun di majalah hiburan (cetak dan online). Cerpen juga ada di majalah sastra, seperti Majalah Sastra Horison. Banyak juga majalah atau tabloid terbitan
perguruan tinggi yang punya Fakultas Bahasa dan Sastra atau Fakultas Ilmu
Budaya yang memuat cerpen. Bahkan, saking banyaknya orang yang ingin memberikan
manfaat buat orang lain, banyak juga blogspot
atau website yang memuat
cerpen-cerpen. Semua media itu bisa dibaca lewat gadget atau android. Bisa
juga (kalau mau agak repot) dibuka lewat laptop atau notebook. Pokoknya, zaman
kiwari ini banyak kemudahan orang untuk
sekedar menikmati hiburan lewat bacaan. Kalau begitu, apa itu cerpen?
Cerpen
itu akronim dari cerita pendek. Namanya juga cerita pendek, ya pendeklah. Tidak
usah panjang-panjang ceritanya. Kalau ceritanya panjang, itu novel atau roman.
Ada juga orang yang menyebut cerpenpan cerita pendek yang panjang. Tapi,
sepanjang-panjangnya cerpen tidak mungkin sampai 40 halaman. Tidak mungkin juga
sampai lebih dari 100 halaman. Kalau ada yang mengatakan cerita yang panjangnya
cuma satu halaman, juga bisa disebut cerpen. Bisa sih bisa, cuma di dalam
cerpen itu apakah sudah memenuhi kriteria seperti yang dikatakan HB Jassin ada
kriteria tertentu yang di dalamnya ada bagian perkenalan, pertikaian, dan
penyelesaian? (Korrie Layun Rampan, Apresiasi
Cerpen Indonesia Mutakhir, 2009:1). Kesimpulannya, kalau tidak ada tiga
kriteria di atas, tidak bisa disebut cerpen .
***
Sebuah
persoalan selesai dengan perkataan “maaf” dari pihak petugas barulah Salamat
sadar, betapa pentingnya arti kekuasaan. Selama ini ia memang sering membaca
dalam surat kabar, tentang banyaknya orang-orang berkuasa yang telah
menggunakan kekuasaannya sesuka hati. Tapi soal kekuasaan itu tidak menarik
hati. Baru setelah ia sendiri korban dari kekuasaan orang lain, ia menyadari
betapa pentingnya untuk memperhatikan keadaan sekitar. Betapa perlunya
prihatin kalau ada kemalangan menimpa orang-orang lain, betapa perlunya
berjuang bersama-sama memenangkan apa yang dianggap benar. Betapa pentingnya
kebersamaan dalam menghadapi suatu peristiwa.
Selama ini Salamat lebih senang
berjalan sendiri. Apapun yang terjadi di sekitarnya tidak diperdulikannya.
Tidak pernah mendapat perhatiannya. Bahwa ada tetangganya yang kemalingan, ia
tidak perduli. Ketika sebuah kecelakaan lalu lintas mengambil korban tiga
nyawa tetangganya, ia juga tidak acuh. Bahkan ketika atasannya di kantor
menampar seorang rekannya yang dianggap melanggar disiplin, ia juga bersikap
masa bodoh terus mengetik tanpa berpaling seakan-akan tidak ada apapun
terjadi di sekitarnya.
Kisahnya
peristiwa yang terjadi kemarin dulu menyentuhnya untuk berubah sikap.
Kejadiannya sederhana saja. Rantai jam tangannya tidak mau dikatupkan, karena
malam sebelumnya, ketika ia bangkit dari kursi, rantai itu terpukul keras ke
tangan kursi dan kemudian jam tangannya meluncur jatuh ke lantai. Ketika
Salamat mengambil jam tangan itu kembali memasukkannya ke pergelangan
tangannya dan mengatupkan rantainya agar melekat dipergelangan tangannya
ternyata rantai tidak mau mengatup. Hentakan yang keras dengan tangan kursi
membuat ada sesuatu yang tidak beres pada rantai jam tangan itu. Salamat
mencoba memperbaikinya dengan menggunakan tang dan gunting. Setelah
berkali-kali dicobanya ternyata ia tidak berhasil.
Lalu diputuskannya untuk membawanya
ke tukang jam yang biasa ahli mereparasi. Esok paginya ---itulah dia
peristiwa yang terjadi kemarin dulu itu---Salamat membawanya ke tukang jam.
Ketika tukang jam sedang menyetel rantai jamnya, seseorang mendekatinya.
Setelah menunjukkan identitasnya, orang itu mengajaknya ke kantor.
Cerpen
“Maaf” karya Sori Siregar
|
Apa
yang bisa kita katakan setelah melihat kutipan cerpen di atas? Sederhana sekali
`kan cara Sori Siregar memulai sebuah cerita? Sori mulai dari mengambil sebuah
hikmah atas sebuah kejadian yang menimpa sang tokoh bernama Salamat. Dari situ
cerita bergulir. Cerita dimulai ketika rantai jam tangannya lepas. Dia berupaya
perbaiki, tetap tidak bisa. Akhirnya, dia bawa jam tangan itu ke tukang servis
jam tangan. Tiba-tiba saja ketika dia menyerahkan jam tangan itu ada petugas
yang mengajaknya ke kantor (maksudnya kantor polisi). Kira-kira seperti itu
sebagai pembuka cerpen itu. Kalau kita amati isi petikan di atas sesuai dengan
kriteria yang disampaikan HB Jassin, yaitu masuk kriteria pertama yang
berkaitan dengan perkenalan. Sedangkan yang berkaitan dengan kriteria kedua:
pertikaian bisa dilihat pada petikan berikutnya.
“Untuk
apa?,” tanya Salamat
“Untuk itu!,” jawab orang tadi sambi
menunjuk ke arah jam yang sedang disetel oleh tukang jam.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, petugas tadi
mengambil jam tangan Salamat dari tukang jam dan kemudian menarik Salamat
mengikutinya. Di kantor petugas ia dipaksa mengakui bahwa jam itu adalah jam
curian. Tentu saja Salamat ngotot mengatakan jam itu adalah miliknya. Ia tidak
pernah merasa mencuri jam.
Setelah petugas yang satu tidak
dapat memaksa Salamat untuk mengakui bahwa jam itu adalah curian, muncul
petugas lain dengan wajah seram. Pertanyaan yang sebelumnya telah diajukan
pertama diulang lagi oleh petugas berwajah seram ini. Salamat tetap pada
pendiriannya. Tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
Walaupun petugas yang kedua ini menginterogasi Salamat dengan menghardik dan
menggertak, Salamat tetap tidak mengaku.
Pemeriksaan berikut dilakukan oleh
petugas ketiga. Wajahnya tidak sekejam petugas kedua. Namun di tangannya ia
memegang pentung karet. Pentung itu berkali-kali dipukulnya ke meja untuk
mendapatkan pengakuan, Salamat tidak mengaku.
“Saya telah memukulkan pentung ini
lima belas kali ke atas meja,” kata petugas, “Jangan paksa saya memukulnya ke tubuh Anda. Biasanya setelah
pukulan kedua puluh, saya tidak sadar lagi, apakah saya memukul meja atau
memukul tubuh orang yang saya periksa.”
“Bagaimana saya harus mengaku, kalau
saya memang membelinya dan bukan mencurinya,” jawab Salamat.
“Jangan banyak omong penjambret jam
meningkat akhir-akhir ini, terutama sekali di daerah sekitar sini Anda
termasuk yang kami cari dan foto serta keterangan tentang diri Anda lengkap
pada kami.” Salamat tentu saja terkejut. Lalu ia menggelengkan kepala.
“Jangan main-main. Pak” katanya. “Bangsat,” teriak petugas sambil mengayunkan
pentungnya ke meja untuk keenam belas kalinya.
Bagaimana
keterangan tentang diri saya dan foto saya dimiliki petugas, kalau saya tidak
pernah memberikannya,” sahut Salamat dengan sedikit gemetar.
“Binatang. Sudah berapa kali kau
tertangkap, masih juga kau berlagak
pilon,” hardik petugas sambil menghantamkan lagi pentungnya ke meja untuk
ketujuh belas kalinya.
Salamat sadar petugas ini memang
marah sekali. Mungkin ia merasa dirinya dipermainkan. Tapi pengakuan apa yang
harus diberikan kalau aku memang tidak pernah mencuri jam?, pikir Salamat.
“Hayo mengaku,” teriak petugas itu
lagi sambil memukul meja untuk kedelapan belas kalinya.
Salamat menatap petugas itu memohon
belas kasihan. Ia sadar petugas itu akan berbuat apa saja, kalau ia mau. Ia
punya alasan dan kekuasaan untuk itu. Tatapan memohon belas kasihan dibalas
petugas dengan pandangan penuh kebencian.
“Pak,” terdengar suara Salamat
lirih, “Saya menyerah. Namun saya tidak mau
memberikan pengakuan yang Bapak minta. Saya menyerah. Saya pasrah
untuk diperlakukan apa saja.”
Tang-tang terdengan pukulan pentung
karet ke atas meja. Dua puluh kali sudah. Dan setelah itu petugas tersenyum.
Sekarang tinggal teken proses verbal. Setelah itu beres.” “Beres?”
Cerpen
“Maaf” karya Sori Siregar
|
Pada
bagian pertikaian terjadi sesuatu yang menegangkan antara Salamat dan
orang-orang yang menginterogasinya. Pertama-tama jam tangan Salamat tanpa
ba-bi-bu diambil petugas (polisi). Kemudian Salamat ditarik polisi agar mengikutinya ke kantor
polisi. Sesampai di kantor polisi mulailah Salamat diinterogasi. Pertama-tama
Salamat diinterogasi oleh polisi yang menangkapnya. Salamat tidak mau mengaku
karena memang itu jam tangan miliknya. Karena tidak bisa mengorek pengakuan
dari orang yang ditangkapnya, penginterogasi yang pertama meminta rekannya yang
lain untuk melakukan hal yang sama. Penginterogasi kedua wajahnya seram. Sama
seperti sebelumnya, penginterogasi kedua juga mengajukan hal yang sama. Terang
saja Salamat masih tetap tidak mengaku. Akhirnya, karena masih juga tidak mau
mengaku, tiba gilirannya penginterogasi yang ketiga. Memang, orangnya tidak
seseram penginterogasi kedua tetapi orang yang menginterogasi Salamat kali ini
menggunakan pentungan.
Setiap kali mengajukan pertanyaan setiap kali pula sang penginterogasi memukul pentungannya ke meja. Sambil memukul pentungan keluarlah kata-kata (lebih mirip bentakan) yang keras dan kasar. Sampai akhirnya sang penginterogasi memukulkan pentungannya yang kedua puluh. Kalau sampai jatuh pentungan yang kedua puluh satu bukan lagi meja yang dipukul begitu ancaman sang penginterogasi. Salamat karena sudah lelah dan tidak ada jalan lagi pada akhirnya menyerah.
Setiap kali mengajukan pertanyaan setiap kali pula sang penginterogasi memukul pentungannya ke meja. Sambil memukul pentungan keluarlah kata-kata (lebih mirip bentakan) yang keras dan kasar. Sampai akhirnya sang penginterogasi memukulkan pentungannya yang kedua puluh. Kalau sampai jatuh pentungan yang kedua puluh satu bukan lagi meja yang dipukul begitu ancaman sang penginterogasi. Salamat karena sudah lelah dan tidak ada jalan lagi pada akhirnya menyerah.
Interogasi
yang disertai dengan ancaman dari penginterogasi ketiga membuat Salamat
menyerah walaupun tetap saja dia tidak bersedia memberikan pengakuannya. Di
detik-detik akhir mendekati keputusasaannya
menghadapi sikap sang petugas yang tidak bisa diajak kompromi tiba-tiba saja
ada keajaiban. Dia mendengar ada ucapan `maaf` dari petugas yang
menginterogasinya pertama kali. Ternyata, di saat-saat genting yang seharusnya
dia masuk penjara istrinya datang sambil membawa surat pembelian jam tangan
sebagai bukti bahwa jam tangan yang direbut petugas adalah memang miliknya.
Kalau saja istrinya tidak datang ke kantor polisi, boleh jadi dia akan
menandatangani proses verbal. Begitu selesai menandatangani proses verbal, dia
harus masuk penjara. Seperti itu prosedurnya. Tetapi, nasibnya memang masih
tergolong baik sehingga dia tidak jadi masuk penjara gara-gara istrinya yang
datang ke kantor polisi yang membuat sang polisi meminta maaf padanya. Dengan
demikian berakhir sudah drama pertikaian Salamat dengan pihak berwajib yang telah
berbuat sewenang-wenang terhadap orang
yang belum tentu bersalah.
Salamat
terhenyak. Selesailah sudah, ia harus menanggung beban yang tidak pernah
dibuatnya. Dalam keadaan putus asa ia
menunduk. Petugas meninggalkan Salamat di kamar pemeriksaan seorang
diri, dalam keadaan putus asa dan akhirnya ia mendengar kata “maaf.”
Seseorang telah mengucapkannya. Ia berpaling. Ternyata kata itu dilontarkan
petugas pertama yang tadi menghampirinya di tukang jam dan membawanya ke
kantor itu.
“Maaf,” kata petugas itu lagi, “Kami
salah tangkap.”
Salamat tidak percaya pada
pendengarannya. Ia menggosok matanya berkali-kali.
Petugas itu mengamati Salamat dengan
tersenyum manis dan kemudian
mengajaknya meninggalkan kamar periksa. Petugas yang terus tersenyum itu
kemudian mempertemukan Salamat dengan istrinya di kamar tunggu. Salamat tidak
mengerti mengapa istrinya berada di sana.
Cerpen
“Maaf” karya Sori Siregar
|
Bagaimana
penyelesaiannya? Sesuai dengan judulnya, “Maaf”, cerpen tersebut ditutup dengan
ucapan sang polisi yang merasa salah tangkap. Jadi, kalau di bagian pertikaian
Salamat dibikin tegang oleh tiga orang polisi yang menginterogasinya,
sampai-sampai polisi yang terakhir itu memukulkan pentungannya sampai dua puluh
kali. Di bagian penyelesaian sang polisi akhirnya hanya mengucapkan maaf.
Dengan ucapan itu dianggap sudah selesai persoalannya. Sang polisi yang
membikinnya harus menyerah dan mengakui perbuatannya tidak terlihat batang
hidungnya. Begitu sederhana bukan sebenarnya isi cerpen tersebut?
***
Jika
melihat pada pendapat Nyoman Tusthi Eddy bahwa sebuah cerpen cukup memuat
berlangsungnya kejadian/peristiwa. Dengan milihat pada petikan cerpen di atas,
hal itu sudah terpenuhi. Begitu juga bicara masalah waktu peristiwa atau
kejadiannya tidak begitu lama. Cukup setengah hari dari pagi ketika Salamat
datang ke tukang jam, diseret ke kantor polisi, diinterogasi polisi, sampai
dipersilakan ke luar dari kantor polisi dan (karena masih ada waktu) Salamat
masih sempat pamitan ke istrinya untuk berangkat kerja. Jadi, berlangsungnya
kejadian atau peristiwa tidak begitu lama. Tempat kejadian/peristiwanya juga
tidak banyak makan tempat: dari tukang jam ke kantor polisi. Kalau istrinya,
dari rumah ke tukang jam. Setelah urusannya selesai dengan tukang jam langsung
ke kantor polisi. Sebagai pelengkap, kalau bicara tentang watak
pelakunya, memang watak pelaku-pelakunya
oleh penulis tidak dilukiskan secara mendalam. Coba kita bandingkan dengan
bagian pembuka dari sebuah novel Harimau!
Harimau! karya Mochtar Lubis berikut ini.
1
Hutan
Raya terhampar di seluruh pulau, dari tepi pantai tempat ombak-ombak samudera
yang terentang hingga ke Kutub Selatan menghempaskan diri setelah perjalanan
yang amat jauhnya hingga ke puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dan
setiap hari diselimuti awan tebal. Hutan raya berubah-ubah wajahnya. Yang
dekat pantai merupakan hutan-hutan kayu bakau, dan semakin jauh ke darat dan
semakin tinggi letaknya, berubah pula kayu-kayu dan tanaman di dalamnya,
hingga tiba pada pohon-pohon besar dan tinggi, sepanjang masa ditutup lumut,
yang merupakan renda-renda terurai dari cabang dan dahan.
Sebagian
terbesar bagian hutan raya tak pernah dijejak manusia dan di dalam hutan raya
hidup bernapas dengan kuatnya. Berbagai margasatwa dan serangga penghuninya
mempertahankan hidup di dalamnya. Demikian pula tanaman dan bunga-bunga
anggrek, yang banyak merupakan mahkota di puncak-puncak pohon tinggi.
Di
bahagian atas hutan raya hidup siamang, beruk dan sebangsanya dan
burung-burung; dan di bawah, di atas tanah, hidup harimau kumbang, gajah dan
beruang; di sepanjang sungai tapir, badak, ular, buaya, rusa, kancil dan
ratusan makhluk lain. Dan di dalam tanah serangga berkembang biak.
Banyak
bagian hutan raya yang menakutkan, yang penuh dengan paya yang mengandung
bahaya maut dan hutan-hutan gelap yang basah senantiasa dari abad ke abad.
Akan tetapi pula ada bahagian yang indah dan amat menarik hati, tak ubahnya
seakan hutan dalam cerita tentang dunia peri dan bidadari, hutan-hutan kecil
yang dialasi oleh rumput hijau yang rata, yang seakan selalu dipelihara dan
dibersihkan, dikelilingi oleh pohon-pohon cemara yang tinggi dan langsing
semampai dan yang menyebarkan wangi minyak cemara ke seluruh hutan. Di tengah
hutan yang demikian sebuah anak sungai kecil, dengan airnya yang sejuk dan
bersih mengalir, menccraeah, menyanyi-nyanyi dan berbisik-bisik, dan akan
inginlah orang tinggal di sana selama-lamanya.
Di
dalam hutan terdapat pula sumber-sumber nafkah hidup manusia, rotan dan damar
dan berbagai bahan kayu. Manusia yang dahulu hidup di dalam hutan seperti
binatang, dan kemudian meninggalkan hutan untuk membangun kota
dan
desa, kini pun selalu kembali ke dalam hutan untuk berburu atau mencari
nafkah.
Mereka
bertujuh telah seminggu lamanya tinggal di dalam hutan mengumpulkan damar.
Pak Haji Rakhmad, yang tertua di antara mereka. Pak Haji demikian
panggilannya sehari-hari, telah berumur enam puluh tahun. Meskipun umurnya
telah selanjut itu, akan tetapi badannya masih tetap sehat dan kuat, mata dan
pendengarannya masih terang. Mendaki dan menuruni gunung membawa beban damar
atau rotan yang berat, menghirup udara segar di alam terbuka yang luas,
menyebabkan orang tinggal sehat dan kuat. Pak Haji selalu membanggakan diri,
bahwa dia tak pernah sakit seumur hidupnya. Dia bangga benar tak pernah
merasa sakit pinggang atau sakit kepala.
Di
waktu mudanya ketika dia berumur sembilan belas tahun, dia pernah
meninggalkan kampungnya, dan pergi mengembara ke negeri-negeri lain. Ada lima
tahun lamanya dia bekerja di kapal. Dia pernah tinggal dua tahun di India, belajar
mengaji di sana. Pak Haji juga pernah mengembara ke negeri Jepang, ke negeri
Cina, ke benua Afrika dan ke bandarbandar orang kulit putih dengan
kota-kotanya yang ramai.
Akan
tetapi kampung halaman memanggilnya juga kembali. Dan setelah dua puluh tahun
mengembara, akhirnya Pak Haji menunaikan ibadah haji, dan kemudian kembali ke
kampung. Dia kembali bekerja mencari damar, seperti yang
dilakukan
oleh ayahnya dahulu, dan yang telah dilakukannya pula sejak dia berumur tiga
belas tahun mengikuti ayahnya. Pak Haji selalu berkata, setelah merasakan
semua pengalamannya di dunia, dia lebih senang juga jadi orang
pendamar.
Wak
Katok berumur lima puluh tahun. Perawakannya kukuh dan keras, rambutnya masih
hitam, kumisnya panjang dan lebat, otot-otot tangan dan kakinya bergumpalan. Tampangnya
masih serupa orang yang baru berumur empat puluhan saja. Bibirnya penuh dan
tebal, matanya bersinar tajam. Dia juga ahli pencak dan dianggap dukun besar
di kampung. Dia terkenal juga sebagai pemburu yang mahir.
Yang
muda-muda di antara mereka bertujuh, Sutan, berumur dua puluh dua tahun dan
telah berkeluarga, Talib berumur dua puluh tujuh tahun dan telah beristri dan
beranak tiga, Sanip berumur dua puluh lima tahun, juga telah beristri dan
punya empat anak, dan Buyung, yang termuda di antara mereka, baru berumur
sembilan belas tahun.Anak-anak muda itu semuanya murid pencak Wak Katok.Mereka
juga belajar ilmu sihir dan gaib padanya.
Novel
Harimau! Harimau! karya Mochtar
Lubis
|
Petikan
di atas baru diambil dari sebuah pembukaan dari novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis. Dari pembukaan saja sudah
demikian panjang. Isinya berkisar tentang gambaran hutan lebat yang ada di
negara ini. Hutan di negara ini di sepanjang pulau terhampar dimulai dari
pegunungan sampai ke tepi laut. Di sepanjang tepi laut hutan yang terbentang
adalah hutan-hutan bakau. Pepohonan di
tepi laut pun tidak begitu tinggi. Lain halnya dengan jenis pepohonan yang hutannya
semakin ke tengah, ke arah pegunungan terhampar hutan dengan pepohonan yang
tinggi menjulang. Hutan-hutan yang mengarah ke pegunungan dihuni oleh berbagai
margasatwa yang sangat mungkin belum dijajaki manusia. Bukan hanya margasatwa
yang bisa saja di antaranya dijadikan kebutuhan pokok manusia, tetapi juga
di hutan itu terdapat berbagai tumbuhan yang bisa dimanfaatkan manusia, entah rotan,
damar, atau buah-buahan. Meskipun demikian, hutan itu juga penuh misteri karena
banyak kisah atau cerita tentang makhluk-makhluk gaib seperti jin, peri, dan
sejenisnya yang membuat buluk kuduk orang berdiri.
Setelah
selesai berkisah tentang hutan, penulis mulai berkisah tentang tujuh orang
pemburu yang telah satu minggu berada di tengah hutan. Pekerjaan mereka sebagai
pengumpul damar dan hasil hutan lainnya (sekalian
memburu kijang atau rusa). Penulis secara lengkap selain menyebutkan namanya
juga usianya, kondisi fisiknya, dan pengalaman atau latar belakang kehidupannya
(terutama untuk tokoh-tokoh yang terbilang sudah tua). Dari tujuh orang pemburu
itu, dua orang tergolong tua (berusia di atas lima puluh tahun) dan lima orang
masih relatif muda. Digambarkan oleh penulis secara detail nama-nama orangnya
beserta usianya ke lima orang yang berusia muda itu. Dari lima orang muda itu, empat
orang sudah berkeluarga dan tiga orang di antara mereka sudah punya anak. Hanya
satu orang yang paling muda (baru berusia sembilan belas tahun) masih bujangan.
Kelima orang muda itu murid-murid Wak Katok. Mereka
belajar sihir dan (alam) gaib pada Wak Katok. Penulis sebelum meneruskan jalan ceritanya
menguraikan terlebih dulu pelaku-pelakunya sehingga pembaca memiliki gambaran
tentang pelaku-pelaku di novel tersebut. Dengan demikian, kita bisa
menyimpulkan bahwa kita setuju dengan pendapat yang disampaikan baik oleh HB
Jassin maupun Nyoman Tusthi Eddy tentang kriteria cerpen yang disampaikan
mereka di atas.
Terlepas
dari kriteria yang disampaikan kedua sastrawan tersebut, umumnya orang memang
lebih suka membaca cerpen. Membaca cerpen tidak perlu waktu lama. Membaca
cerpen tidak perlu mengernyitkan dahi. Membaca cerpen benar-benar sebuah media
buat kita untuk refreshing. Terkadang membaca cerpen membuat kita senyum-senyum
sendiri bahkan tertawa karena isi cerpennya cenderung humoris (walaupun sebenarnya menertawakan kelemahan diri sendiri). Terkadang juga membuat kita
hanyut terbawa emosi kalau jalan ceritanya menggambarkan perilaku orang yang
kejam, serakah, nyinyir, zolim, tidak punya kepedulian, atau mau menang
sendiri. Wajar-wajar saja kalau media cetak atau online menyisihkan sebagian halamannya untuk cerpen. Tidak mustahil
dengan hanya membaca cerpen orang yang membacanya bisa memperkaya kosa kata
sekaligus memperluas wawasan entah wawasan kemanusiaan dan kesosialannya. Bisa
saja orang yang membaca cerpen mau melakukan introspeksi diri tentang perilakunya
yang menurut penilaiannya selama ini cenderung negatif. Atau minimal orang yang
membaca cerpen otot-otot syarafnya yang semula tegang bisa kendor. Makanya, cerpen ada di mana-mana dan di mana-mana bisa saja ada cerpen.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar