Rabu, 01 Januari 2014

Artikel Agama (21)

ALLAH MASIH MENUTUP AIB KITA


Ketika di bulan Ramadhan, kita memenuhi bulan yang suci itu dengan berbagai aktivitas ibadah. Kita mengisi kurikulum yang telah kita susun. Hasilnya, bulan Ramadhan menampakkan diri sebagai bulan yang benar- benar penuh dengan limpahan rahmat, maghfiroh, dan (insya Allah) menjadikan hamba-Nya itqum minan naar. Ketika ramadhan itu berakhir, apakah kita meneruskan kurikulum yang telah kita susun di luar bulan suci itu? Rasa-rasanya kita tidak pernah lagi mengisinya. Bahkan, banyak sekali aktivitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan bukan saja berkurang, tetapi juga kita tidak lakukan lagi.

Artikel Agama (20)



BERLINDUNG DARI 5 K


Prolog

Tulisan ini berangkat dari Sabda Nabi Muhammad SAW dari Anas yang merupakan do`a yang disampaikan Rasulullah SAW. Isi do`a tersebut adalah:

“Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, berlindung kepada-Mu dari bencana kehidupan (dunia) dan bencana (setelah) kematian” (HR. Asy-Syaikhani).

Dari do`a di atas kita dapati ada 5 K, yaitu kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Kelima K tersebut jelas menunjukkan hal-hal yang negatif bagi seorang Muslim sehingga sangat layak kalau kita berdo`a mohon perlindungan pada Allah SWT. Selain itu, juga kita perlu berlindung dari siksa kubur, bencana kehidupan, dan bencana setelah kematian. Namun, dalam kesempatan ini kita akan lebih menekankan pada 5 K di atas.

Selasa, 24 Desember 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (22)

PELANGGARAN HAM DALAM SOROTAN SASTRAWAN

Subagio S. Waluyo

/1/

Untuk kesekian kalinya terjadi lagi pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) di negara kita. Entah berapa kali lagi peristiwa pelanggaran HAM akan terjadi lagi di negara yang kita cintai ini. Kita berharap, semua orang yang mempunyai hati nurani pun berharap, agar peristiwa yang mengenaskan, yang memakan korban manusia yang tidak sedikit, yang melecehkan hak-hak yang paling mendasar dalam hidup manusia dan kemanusiaan tidak terulang lagi. Meskipun demikian, tampaknya di masa reformasi ini, peristiwa yang pernah terjadi di masa-masa Orde Baru terulang kembali. Mengapa di masa-masa setiap orang sudah demikian bebas menyatakan euphoria-nya masih saja ada segelintir orang diselimuti tabir ketakutan dengan teror-teror ninja, bentrokan antaragama yang memakan korban manusia tak terhitung jumlahnya, tindakan sewenang-wenang aparat militer yang membunuh bangsanya sendiri, demonstrasi mahasiswa yang diterjang nyawanya oleh rentetan timah-timah panas, dan ditampilkannya di hadapan kita badut-badut politik produk Orde Baru yang yang mengulang kembali perilaku Orde dengan bermain dagelan di lembaga terhormat (KPU dan mungkin juga DPR/MPR) di negara ini? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut berpulang pada masih adanya pelecehan HAM di negara ini.

Minggu, 15 Desember 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (21)

Di Seputar Prosa  dan Puisi

Subagio S.Waluyo


          /a/
  Secara sederhana yang dimaksudkan dengan prosa dalam KBBI ialah  karangan bebas, maksudnya tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada puisi  (1999:790).    Tampaknya, definisi yang tercantum dalam  KBBI belum memuaskan kita dalam menentukan  jawaban yang tepat tentang prosa karena hanya  dibedakan dengan pernyataan  “… tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada  puisi.”  Untuk itu, kita lihat pendapat lain, yaitu pendapat Abdul Rozak Zaidan  yang mendefinisikan prosa sebagai jenis karya sastra yang dibedakan dari puisi  karena tidak terikat oleh kaidah puitika.  Selain itu, prosa lebih cenderung  memakai bahasa sehari-hari.  Prosa itu sendiri ada juga yang disebut prosa  puitis atau prosa lirik dan sajak prosa atau prosa berirama (1994:157).  Yang menjadi pertanyaan, prosa lirik dan prosa berirama tergolong puisi atau prosa?  Coba saja kita simak sebait prosa lirik berikut ini.    

Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (19)

DIMANA-MANA SELALU DISIPLIN



Tabrakan kereta api (KA) dengan truk tanki BBM Pertamina yang terjadi 9 Desember 2013, di Bintaro, Jakarta yang memakan korban meninggal dan puluhan luka-luka kalau diteliti lebih jauh lebih disebabkan oleh ketidakadanya kedisiplinan. Dimulai dari supir tanki minyak BBM Pertamina yang tidak disiplin, yang dengan seenaknya menyeberangi pintu pelintasan KA sehingga terjadi tabrakan truk tanki minyak BBM Pertamina dengan lokomotif. Akhirnya, lokomotif dan gerbong KA terbakar dan memakan korban. Kalau saja supir tanki BBM Pertamina itu mau disiplin sangat dimungkinkan tidak terjadi musibah tersebut. Di negara ini sekian banyak musibah yang terjadi di jalan raya lebih disebabkan oleh tidak tegaknya disiplin. Masyarakat negara ini memang cenderung mengabaikan sebuah kata bernama `disiplin`.

Artikel Agama (18)

MENGELOLA WAKTU



“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Surat Al-Asr : 1—3).

Banyak orang yang tahu, bahkan paham, isi yang terkandung dalam Surat Al-Asr yang tercantum di atas. Tetapi, mengapa masih banyak (sebagian besar) orang yang tergolong merugi? Artinya, orang-orang yang diberi umur panjang oleh Allah SWT tapi selama hidup di dunia tidak/kurang memberikan manfaat buat sesamanya. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang-orang yang disebut sukarelawan yang telah mendarmabaktikan hampir seluruh hidupnya untuk menolong sesama manusia? Sepanjang dia beriman pada Allah tentu saja dia termasuk orang yang tidak merugi. Sebaliknya, kalau yang dia lakukan tidak dilandasi iman pada Allah SWT akan sia-sia saja apapun yang dia lakukan. Karena itu, sukarelawan sejati sebenarnya adalah orang-orang yang bekerja demi kemanusiaan tapi semua yang dia lakukan dilandasi iman pada Allah SWT.

Artikel Agama (17)

MENGKRANGKENG NAFSU



Nafsu dalam diri manusia seperti orang gila. Nafsu akan selalu memprovokasi manusia untuk melakukan  keburukan. Nafsu itu bagi seorang Muslim harus ditundukkan. Nafsu harus dikrangkeng dengan vonis selamanya. Jadi, tidak ada remisi atau keringanan hukuman buat yang namanya nafsu. Tetapi, nafsu suatu saat bisa menghirup udara bebas manakala manusia yang punya nafsu lalai. Bahkan, tidak mustahil nafsu saking kuatnya bisa berkuasa dan mengendalikan manusia. Untuk itu, ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak berhasil mengkrangkeng nafsu.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...