DIMANA-MANA SELALU DISIPLIN
Tabrakan kereta api (KA)
dengan truk tanki BBM Pertamina yang terjadi 9 Desember 2013, di Bintaro, Jakarta yang memakan
korban meninggal dan puluhan luka-luka kalau diteliti lebih jauh lebih disebabkan
oleh ketidakadanya kedisiplinan. Dimulai dari supir tanki minyak BBM Pertamina
yang tidak disiplin, yang dengan seenaknya menyeberangi pintu pelintasan KA sehingga
terjadi tabrakan truk tanki minyak BBM Pertamina dengan lokomotif. Akhirnya, lokomotif
dan gerbong KA terbakar dan memakan korban. Kalau saja supir tanki BBM
Pertamina itu mau disiplin sangat dimungkinkan tidak terjadi musibah tersebut. Di
negara ini sekian banyak musibah yang terjadi di jalan raya lebih disebabkan
oleh tidak tegaknya disiplin. Masyarakat negara ini memang cenderung
mengabaikan sebuah kata bernama `disiplin`.
Seorang Muslim yang sholeh
bukan saja dia disiplin di saat dia sholat atau ibadah lainnya, tapi di setiap aktivitas
dia akan berusaha menegakkan disiplin karena Islam sebagai agama yang sempurna
telah mengajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan keteraturan dan kedisiplinan.
Dua kata ini demikian mudah diucapkan, tapi demikian sulit untuk diterapkan. Hal
ini boleh jadi lebih disebabkan oleh mentalitas bangsa Indonesia yang menganut
paham paternalisme (sistem kepemimimpinan yang berdasarkan hubungan antara
pimpinan dan yang dipimpin seperti hubungan ayah dan anak). Boleh juga bersifat kebapaan (paternalistis).
Jadi, kalau pimpinan yang dijadikan panutan tidak disiplin, bawahan akan sama
dengan pimpinan. Kalau anak bangsa ini tidak mau diatur dan tidak disiplin,
lebih disebabkan orang-orang yang lebih tua (dituakan) lebih kurang sama
perilakunya.
Sebagai seorang Muslim
yang sholeh sebenarnya bisa banyak belajar dari aturan-aturan yang terdapat
dalam setiap kali ibadah pada Allah. Di sana ada seperangkat aturan yang harus
ditaati dan dijalankan. Selayaknya, aturan-aturan yang ditaati dan dijalankan dalam
beribadah juga diterapkan dalam melakukan kegiatan di luar ibadah. Artinya,
dalam kehidupan ber-hablum minan naas,
hamba Allah yang sholeh juga bersikap sama. Jangan membeda-bedakan antara
aktivitas yang ditujukan pada Allah (hablum
minaallah) dengan aktivitas sesama manusia/sosial (hablum minannaas) dengan catatan hubungan sosial itu tidak
bertentangan dengan nilai-nilai agama. Jadi, demi kemaslahatan bersama tidak
ada salahnya jika manusia sebagai anggota masyarakat mentaati aturan-aturan yang telah disepakati
bersama seperti mentaati rambu-rambu lalu lintas. Kalau disiplin untuk mentaati
aturan sudah ada, musibah-musibah yang menimpa sesama umat manusia yang sering
terjadi di jalan raya akan jauh berkurang.
Umat Islam sebagai umat
terbaik wajib menerapkan disiplin dalam segala urusan kehidupannya. Dia harus
disiplin dalam pekerjaan. Dalam hal ini dia tidak boleh menunda-nunda pekerjaan
dengan harapan pekerjaan tersebut nanti bisa dikerjakan tuntas dengan harapan
dihitung sebagai pekerjaan lembur. Dia disiplin dalam hal berkaitan dengan
waktu istirahat. Dia akan tidur secukupnya dengan berpegang teguh pada Sunnah
Rasul. Dia juga disiplin dalam hal mengkonsumsi makanan dan minuman. Dia tidak
boleh berlebihan baik makan maupun minum karena dia sadar semua yang berlebihan
(mubadzir) menjadi temannya setan. Siapa yang mau berteman dengan setan yang
mengajak manusia ke jurang neraka? Dia harus disiplin dalam hal membagi waktu
berdasarkan urutan-urutan kewajibannya. Dengan demikian, seorang Muslim yang
baik manakala menyadari akan pentingnya sebuah disiplin, dia akan menjadi
seorang Muslim yang profesional di bidang pekerjaannya. Tubuhnya akan sehat
karena dia bisa mengatur waktu-waktu untuk istirahat dan mengkonsumsi makanan
dan minuman. Dia akan menjadi seorang Muslim yang teratur hidupnya karena
secara ketat sudah mengatur kewajiban-kewajibannya.
Sebenarnya, bukan hal yang
sulit untuk melakukan kedisiplinan. Hanya yang menjadi masalah buat umat ini,
maukah umat ini menghilangkan perilaku yang cenderung paternalistis? Kalau atasan
melakukan kesalahan dia tidak menirunya. Begitu seharusnya seorang Muslim yang
baik. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar