Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (19)

DIMANA-MANA SELALU DISIPLIN



Tabrakan kereta api (KA) dengan truk tanki BBM Pertamina yang terjadi 9 Desember 2013, di Bintaro, Jakarta yang memakan korban meninggal dan puluhan luka-luka kalau diteliti lebih jauh lebih disebabkan oleh ketidakadanya kedisiplinan. Dimulai dari supir tanki minyak BBM Pertamina yang tidak disiplin, yang dengan seenaknya menyeberangi pintu pelintasan KA sehingga terjadi tabrakan truk tanki minyak BBM Pertamina dengan lokomotif. Akhirnya, lokomotif dan gerbong KA terbakar dan memakan korban. Kalau saja supir tanki BBM Pertamina itu mau disiplin sangat dimungkinkan tidak terjadi musibah tersebut. Di negara ini sekian banyak musibah yang terjadi di jalan raya lebih disebabkan oleh tidak tegaknya disiplin. Masyarakat negara ini memang cenderung mengabaikan sebuah kata bernama `disiplin`.


Seorang Muslim yang sholeh bukan saja dia disiplin di saat dia sholat atau ibadah lainnya, tapi di setiap aktivitas dia akan berusaha menegakkan disiplin karena Islam sebagai agama yang sempurna telah mengajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan keteraturan dan kedisiplinan. Dua kata ini demikian mudah diucapkan, tapi demikian sulit untuk diterapkan. Hal ini boleh jadi lebih disebabkan oleh mentalitas bangsa Indonesia yang menganut paham paternalisme (sistem kepemimimpinan yang berdasarkan hubungan antara pimpinan dan yang dipimpin seperti hubungan ayah dan anak).  Boleh juga bersifat kebapaan (paternalistis). Jadi, kalau pimpinan yang dijadikan panutan tidak disiplin, bawahan akan sama dengan pimpinan. Kalau anak bangsa ini tidak mau diatur dan tidak disiplin, lebih disebabkan orang-orang yang lebih tua (dituakan) lebih kurang sama perilakunya.

Sebagai seorang Muslim yang sholeh sebenarnya bisa banyak belajar dari aturan-aturan yang terdapat dalam setiap kali ibadah pada Allah. Di sana ada seperangkat aturan yang harus ditaati dan dijalankan. Selayaknya, aturan-aturan yang ditaati dan dijalankan dalam beribadah juga diterapkan dalam melakukan kegiatan di luar ibadah. Artinya, dalam kehidupan ber-hablum minan naas, hamba Allah yang sholeh juga bersikap sama. Jangan membeda-bedakan antara aktivitas yang ditujukan pada Allah (hablum minaallah) dengan aktivitas sesama manusia/sosial (hablum minannaas) dengan catatan hubungan sosial itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Jadi, demi kemaslahatan bersama tidak ada salahnya jika manusia sebagai anggota masyarakat  mentaati aturan-aturan yang telah disepakati bersama seperti mentaati rambu-rambu lalu lintas. Kalau disiplin untuk mentaati aturan sudah ada, musibah-musibah yang menimpa sesama umat manusia yang sering terjadi di jalan raya akan jauh berkurang.   

Umat Islam sebagai umat terbaik wajib menerapkan disiplin dalam segala urusan kehidupannya. Dia harus disiplin dalam pekerjaan. Dalam hal ini dia tidak boleh menunda-nunda pekerjaan dengan harapan pekerjaan tersebut nanti bisa dikerjakan tuntas dengan harapan dihitung sebagai pekerjaan lembur. Dia disiplin dalam hal berkaitan dengan waktu istirahat. Dia akan tidur secukupnya dengan berpegang teguh pada Sunnah Rasul. Dia juga disiplin dalam hal mengkonsumsi makanan dan minuman. Dia tidak boleh berlebihan baik makan maupun minum karena dia sadar semua yang berlebihan (mubadzir) menjadi temannya setan. Siapa yang mau berteman dengan setan yang mengajak manusia ke jurang neraka? Dia harus disiplin dalam hal membagi waktu berdasarkan urutan-urutan kewajibannya. Dengan demikian, seorang Muslim yang baik manakala menyadari akan pentingnya sebuah disiplin, dia akan menjadi seorang Muslim yang profesional di bidang pekerjaannya. Tubuhnya akan sehat karena dia bisa mengatur waktu-waktu untuk istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman. Dia akan menjadi seorang Muslim yang teratur hidupnya karena secara ketat sudah mengatur kewajiban-kewajibannya.


Sebenarnya, bukan hal yang sulit untuk melakukan kedisiplinan. Hanya yang menjadi masalah buat umat ini, maukah umat ini menghilangkan perilaku yang cenderung paternalistis? Kalau atasan melakukan kesalahan dia tidak menirunya. Begitu seharusnya seorang Muslim yang baik. Wallahu a`lam bissawab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...