Di Seputar Prosa dan Puisi
/a/
Secara sederhana yang dimaksudkan dengan prosa dalam KBBI ialah karangan bebas, maksudnya tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada puisi (1999:790). Tampaknya, definisi yang tercantum dalam KBBI belum memuaskan kita dalam menentukan jawaban yang tepat tentang prosa karena hanya dibedakan dengan pernyataan “… tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada puisi.” Untuk itu, kita lihat pendapat lain, yaitu pendapat Abdul Rozak Zaidan yang mendefinisikan prosa sebagai jenis karya sastra yang dibedakan dari puisi karena tidak terikat oleh kaidah puitika. Selain itu, prosa lebih cenderung memakai bahasa sehari-hari. Prosa itu sendiri ada juga yang disebut prosa puitis atau prosa lirik dan sajak prosa atau prosa berirama (1994:157). Yang menjadi pertanyaan, prosa lirik dan prosa berirama tergolong puisi atau prosa? Coba saja kita simak sebait prosa lirik berikut ini.
“O, Allah, Gusti nyuwun ngapura
O,Allah, apakah dosa?!”
Sedang mulut melahap nasi
saya pun sibuk bertanya-tanya
Tapi benarkah orang Jawa itu
punya konsep perkara dosa?
Benarkah dia menghayatinya?
Simbah saya berpesan:
Orang berisi itu orang yang
semakin runduk ke bumi
-itulah ngelmu padi
Sikap congkak dan sombong diri
tanda orang itu kurang pekerti
“Wani ngalah luhur wekasanipun”
-itulah wejangannya
(Linus Suryadi AG, 1981:40)
Secara sepintas kita menjawabnya sebagai sebait puisi. Jawaban itu tidak bisa disalahkan karena kita hanya melihat dari segi bentuknya. Bagaimana kalau kita lihat dari segi isinya? Melihat isinya tanpa membaca secara lengkap prosa berirama: Pengakuan Pariyem yang ditulis Linus Suryadi AG tidak akan bisa memperoleh jawaban isi prosa berirama tersebut. Artinya, kIta diminta untuk membacanya secara utuh sehingga kita memperoleh isi yang terkandung dalam Pengakuan Pariyem tersebut.
/b/
Pengakuan Pariyem jika kita lihat dari segi isinya persis seperti sebuah cerita, hanya dalam penyusunan cerita itu Linus Suryadi AG menyusunnya dalam bentuk puisi. Kalau bisa dikatakan, Pengakuan Pariyem merupakan sebuah prosa yang disusun dalam bentuk puisi yang cukup panjang. Karya Linus Suryadi AG ini bisa dikategorikan sebagai prosa berirama, yaitu prosa yang dekat dengan puisi dalam pemakaian irama, khususnya dalam pemakaian majas, seperti onomatopae, asonansi, dan metafora (Abdul Razak Zaidan, 1994:157). Jadi, sebuah cerita yang ditulis secara puitis tetap saja ia sebuah prosa. Dengan demikian yang membedakan puisi dengan prosa bukan semata-mata pada bentuknya (definisi di atas cenderung hanya melihatnya dari segi bentuk), tetapi juga dari segi isinya.
Ketika kita membaca sebuah prosa (novel, misalnya) akan tampak di hadapan kita bukan saja jalannya cerita (plot), tetapi juga penokohan serta gambaran karakter para tokohnya. Selain itu, dalam sebuah prosa juga digambarkan yang menjadi latar terjadinya cerita, amanat yang disampaikan penulis, dan (kalau diperlukan) juga memuat gaya bahasa yang digunakan penulis. Hal-hal itulah yang membedakan prosa dengan puisi. Sebagai bukti dari uraian di atas bisa dilihat pada petikan sebuah cerpen di bawah ini.
……………………………………………………………………………………………..
Di depan warung dua anak perempuan asyik bermain badminton. Kelihatannya mereka sudah terbiasa bermain di bawah lampu jalan yang terang benderang itu. Mereka saling memukul bola bulu ayam tanpa net pembatas.
Tiba-tiba secara tak terduga bola bulu ayam itu jatuh ke dalam piring laki-laki yang duduk di depanku. Bola bulu ayam itu bertengger di atas tumpuk- an nasi.
Aku bersikap seakan tidak melihat peristiwa itu. Di belakang laki-laki itu muncul seorang anak perempuan. Dia mematung melihat bola bulu ayamnya. Orang itu bereaksi menoleh ke belakang. Tampaklah olehnya anak perempuan itu. Dia berpaling ke piringnya. Dipandangnya bola bulu ayam itu. Diambilnya dan diberikannya kepada anak perempuan itu.
Dia kembali melanjutkan makannya tanpa sedikit pun membuang nasi yang tercemar bola bulu ayam itu. Dia menyuap nasinya seperti tidak terjadi apa-apa. Anak perempuan itu tercengang melihat peristiwa itu. Dia tampaknya seperti terpukau. Dia tampak tidak yakin dengan apa yang dia lihat. Tiba-tiba dia tersentak, berlari meninggalkan kami.
Aku terus saja makan dan melupakan peristiwa itu. Kukira orang lain pun tak menghiraukan kejadian itu. Bahkan si pemilik warung.
Sejurus kemudian terjadilah hal yang tidak diduga sama sekali. Anak perempuan itu muncul bersama seorang wanita. Dia menunjuk ke arah laki-laki itu. Wanita yang datang bersamanya mendekat ke arah laki-laki itu. Dia menyentuh tangan orang itu.
“Maafkan anak saya, Pak. Dia tidak sengaja.”
“Ada apa ini?” tanya laki-laki itu menoleh.
“Bola bulu ayam itu kata anak saya jatuh ke dalam piring Bapak. Mengotori nasi Bapak. Anak saya menangis menceritakan kejadian itu di rumah. Dia melihat Bapak memakan nasi di bekas bola bulu ayam itu. Ia takut sekali kalau Bapak akan sakit. Ia sangat khawatir. Ia menangis menceritakannya. Katanya bola itu jatuh ke dalam got. Dipungutnya. Dipukulnya dan jatuh ke piring Bapak. Dia khawatir Bapak akan sakit. Kami semua khawatir Bapak akan sakit. Saya tidak ingin Bapak sakit karena kecerobohan anak saya. Maafkan anak saya ya, Pak.”
“Tidak usah terlalu dipikirkan. Saya malah tidak menghiraukan kejadian itu.”
Tetapi kejadian itu menjadi beban pikiran anak saya. Juga menjadi beban pikiran saya.”
Wanita itu menarik tangan anaknya. Dia suruh anak itu mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Anak perempuan itu menangis mengulurkan tangannya.
“Saya minta mama menemui Bapak. Saya takut Bapak sakit. Saya lihat di dalam got, dekat bola itu jatuh, ada bangkai tikus. Saya takut Bapak akan sakit. Saya minta mama memberi Bapak uang. Kalau Bapak sakit, Bapak bisa menggunakannya ke dokter.”
Wanita itu mengambil sesuatu di dalam saku bajunya.Dia mengeluarkan amplop.
“Terimalah ini, Pak. Mungkin besok Bapak memerlukannya. Kalau Bapak sakit, Bapak harus ke dokter, ya.”
“Aduh, mengapa sampai begitu? Aku tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan.”
“Terimalah, Pak. Agar tenteram hati kami.”
Lelaki itu tersenyum sambil menolak amplop itu. “Jangan terlampau di-besar-besarkan.”
“Anak saya melihat Bapak menyuap nasi di bekas bola itu. Dia takut sekali. Dia menangis menceritakan itu. Ambillah ini supaya hatinya tenteram. Kalau Bapak sakit, Bapak bisa gunakan ke dokter.”
“Jangan, Bu. Saya tidak mau menerima sesuatu karena rasa bersalah orang lain.”
“Kami ingin batin kami dalam tenteram menyambut takbir dan sembah-yang Id besok pagi. Biarkan kami tidak dibebani pikiran yang bukan-bukan. Terimalah, Pak.”
Aku terkejut melihat lelaki itu menangis. Air matanya meleleh menuruni pipinya. Melihat itu aku tiba-tiba berucap, “Biarkan saya yang memberikannya nanti, Bu. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, permberian Ibu ini akan saya sampaikan.” Kuulurkan tanganku ke arahnya.
“Tolong Bapak berikan biar tenteram hati kami.”
Diserahkannya amplop itu kepadaku.
“Terima kasih ya, Pak,” katanya setelah amplop itu berada di tanganku. “Maafkan anak saya ya, Pak,” katanya kepada lelaki itu.
Laki-laki itu mengangguk sambil tersedu-sedu.
………………………………………………………………………………………………
(Hamsad Rangkuti, 2000:58-59)
Dari petikan cerpen di atas, kita bisa menentukan yang menjadi latar terjadinya kisah di atas,watak para tokohnya, dan pesan moral (amanat ) yang disampaikan Hamsad Rangkuti selaku penulis melalui cerpennya itu.
Cerita tersebut terjadi di sebuah warung. Sebagai bukti bisa dilihat pada kalimat pertama di awal paragraf potongan kisah di atas yang berbunyi “Di depan warung dua anak perempuan asyik bermain badminton……..” Selain itu, jika dilihat dari waktu kejadiannya,kjsah itu terjadi di akhir bulan Ramadhan.Tepatnya, menjelang lebaran (malamtakbiran) sehingga masih dalam suasana peralihan dari Ramadhan ke Idul Fitri. Sebagai bukti dari pernyataan itu bisa dilihat pada ucapan sang ibu. “Kami ingin batin kami dalam tenteram menyambut takbir dan sembahyang Id besok pagi….” Jadi, yang menjadi latar pada kisah di atas adalah warung nasi dan di saat menjelang hari Lebaran (Idul Fitri) atau tepatnya di malam takbiran.
Watak para tokohnya juga bisa di analisis, yaitu:
- Tokoh `Aku` adalah seorang laki-laki yang sedang makan malam di warung, tampaknya bisa dipercaya (jujur), tidak mau tahu urusan orang meskipun mempunyai kepedulian, religius, dan memiliki rasa kesetiakawanan yang cukup tinggi.
- Tokoh laki-laki yang tidak disebutkan identitas dirinya, yang juga sedang makan malam di warung, adalah seorang laki-laki yang jujur, egaliter, religius, tergolong orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan tetapi masih mempunyai harga diri sehingga tidak mau menerima pemberian karena belas kasihan, tidak mudah tersinggung (justru berbuat sebaliknya), dan mempunyai rasa belas kasihan yang tinggi pada anak-anak.
- Anak perempuan sebagaimana sifat anak-anak umumnya adalah anak yang masih polos, jujur, prihatin, memiliki rasa kasihan, dan mempunyai kepedulian pada sesamanya.
- Ibu si anak perempuan (mama) adalah seorang ibu yang mempunyai kepeduliaan pada sesamanya, religius, jujur, prihatin, dan sangat memperhatikan yang dirasakan anaknya.
Lalu, bagaimana dengan pesan moral (amanat) yang ingin disampaikan penulis cepen itu? Yang ingin disampaikan penulis cerpen itu adalah:
- mengubah paradigma bahwa setiap kejadian yang selama ini dianggap biasa atau lumrah sebaiknya perlu ditinjau kembali sehingga tidak menimbulkan kejadian yang nantinya merugikan orang lain atau melanggar norma-norma masyarakat;
- mengajarkan pada anak-anak agar memiliki kepedulian dan tidak menyepelekan setiap perbuatan yang dilakukannya karena boleh jadi perbuatannya bisa berakibat fatal bagi orang lain;
- mengajarkan pada setiap orang untuk berlaku jujur, baik anak-anak maupun orang tua, karena kejujuran akan memberikan banyak nilai kebaikan; dan
- menginformasikan pada penikmat cerpen itu bahwa sebuah ibadah yang sempurna jangan sampai dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang justru merusak nilai-nilai ibadah sehingga Allah tidak memberikan ganjaran yang setimpal (ibadahnya sia-sia).
Dengan menganalisisnya dari segi latar, karakter, dan pesan moral semakin jelas di hadapan kita bahwa ada hal yang berbeda antara prosa dan puisi. Artinya, untuk meninjau sebuah puisi tidak diperlukan analisis seperti di atas. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan iuraikan hal-hal yang berada di seputar puisi.
/c/
“Puisi adalah panglima. Artinya, puisi juga bisa dipakai sebagai alat penyadaran” (Wowok Hesti Prabowo, Republika 13 Juni 2001). Penyadaran? Kata itu mungkin yang pertama kali kita tanyakan. Atau kalau mau lebih lengkap lagi pertanyaan yang kita ajukan: apakah mungkin puisi bisa berperan sebagai alat penyadaran? Sebuah pertanyaan yang memerlukan uraian panjang lebar sehingga pada akhirnya kita menyimpulkan apa itu puisi sebenarnya.
Sapardi Djoko Damono dalam Politik Ideologi dan Sastra Hibrida (1999:85) mengatakan bahwa sejak zaman Penjajahan Belanda sampai saat ini sastra kita tidak pernah lepas untuk mengkritik ketimpangan sosial (yang dalam bahasa Wowok Hesti Prabowo sebagai penyadaran). Namun, semua kritikan yang pernah dilontarkan oleh para sastrawan lebih diibaratkan lebah tanpa sengat. Bisa juga dikatakan tidak memiliki dampak apa-apa atau tidak berpengaruh terhadap yang dikritiknya. Dengan kata lain, karya sastra itu bukan sarana efektif untuk penyadaran. Jadi, penyadaran untuk siapa?
Diakui atau tidak puisi merupakan salah satu sarana untuk menyadarkan manusia akan jati dirinya sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lain-Nya. Selain puisi masih ada lagi sarana lainnya. Karena hanya merupakan salah satu sarana, sangat mungkin saja peran puisi dalam penyadaran manusia dianggap kurang efektif. Kekurangefektifan puisi terlihat pada siapa pembaca puisi itu? Pembaca puisi tentu saja hanya orang-orang tertentu. Atau pembaca puisi bukan orang sembarang. Puisi hanya bisa dinikmati oleh `orang-orang terdidik` meskipun untuk golongan ini pun terhitung sangat rendah. Mengapa bisa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan adanya sedikit tinjauan tentang puisi sebagaimana diuraikan lewat bait-bait puisi berikut ini.
SAJAK
Subagio Sastrowardojo
Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu
Kalau istri mengeluh
tentang kurang tidur, tentang gajiku
yang tekor buat bayar dokter, bujang dan makan sehari,
Kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun;
Hidup ini makin mengikat dan mengurung
Apakah arti sajak ini:
Piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir?
Ah, sajak ini
Mengingatkan aku langit dan mega,
Sajak ini mengingatkan kepada kisah keabadian
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan aku kepada bunuh diri
(Simponi, 1975)
Sebagian besar isi puisi di atas merupakan jawaban bahwa puisi tidak berperan sebagai sarana penyadaran manakala anak semalam batuk-batuk, istri mengeluh karena kurang tidur, penghasilan yang tidak mencukupi (sampai-sampai untuk biaya dokter dan pembantu rumah tangga pun tekor), dan pantalon yang sobek sudah sebulan tak terjahit. Selain itu, puisi pun tidak banyak bermanfaat jika setiap malam orang terganggu tidurnya karena hidup yang semakin mengikat dan mengurung. Namun, puisi (mungkin bagian ini yang merupakan penyadaran) ternyata mengingatkan orang pada misi utama yang diemban sebagai sebuah karya seni (sastra), yaitu mengingatkan akan kisah dan keabadian. Bahkan, puisi melupakan kita pada pisau dan tali, dan melupakan kita akan bunuh diri. Jika demikian, apa itu puisi?
Puisi menurut KBBI (1999:794) adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Sedangkan Abdul Rozak Zaidan (1994:159) mendefinisikannya sebagai 1 ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rima, dan tata puitika yang lain; 2 gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak. Sebagai bahan bandingan, setelah kita mengamati kedua pendapat itu, kita lihat pendapat Herman J Waluyo (1995:25) yang mengatakan bahwa puisi ialah salah satu bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif. Karya tersebut disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian, baik pada struktur fisik maupun struktur batin.
Tampaknya, dari ketiga definisi yang dicantumkan di atas, definisi ketiga bisa kita ambil sebagai definisi puisi karena pada definisi pertama dan definisi kedua untuk puisi-puisi yang muncul sebelum kemerdekaan definisi tersebut memang tepat. Tetapi, pada puisi-puisi modern definisi yang disampaikan oleh kedua pendapat di atas sudah kurang tepat lagi. Selain itu, pada definisi ketiga kita melihat bahwa Herman J.Waluyo, sebagai orang yang menyampaikan pendapatnya tentang puisi, tidak mengikat puisi dalam penyusunannya dengan aturan adanya irama, rima, matra, dan tata puitika lainnya melainkan dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batin. Di samping itu, ditambahkan juga adanya ungkapan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif. Untuk itu, dengan alasan-alasan tersebut adalah sangat wajar jika kita mengambil definisi terakhir.
Pada definisi yang disampaikan Herman J. Waluyo kalau kita analisis akan tampak di hadapan kita bahwa:
- puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra;
- puisi merupakan sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan;
- puisi merupakan kerja imajinatif penyairnya;
- puisi disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa; dan
- puisi disusun bukan saja dengan mengkonsentrasikan struktur fisik, tetapi juga struktur batin.
Setelah kita melihat hasil analisis tersebut, coba kita uraikan satu persatu butir-butir di atas (kalau memungkinkan, meskipun tidak semuanya, di setiap butir kita cantumkan sebuah/sebait puisi). Dengan cara demikian, kita akan memperoleh pemahaman yang lebih jauh lagi tentang puisi.
/d/
Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra telah kita ketahui bersama sehingga tidak perlu kita bicarakan lagi. Namun, puisi merupakan sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran ini justru menarik perhatian kita untuk dibicarakan. Meskipun demikian, agar terlihat di hadapan kita bahwa puisi merupakan sarana mengungkapkan perasaan dan pikiran, coba kita simak puisi Taufik Ismail berikut ini.
DHARMA WANITA
Karena sayang pada
Ibu-ibu Dharma Wanita
Maka ini saran saya
Bubarkanlah Dharma Wanita
Mari kita buka sebuah rahasia
Bahwa sudah sangat lama
Ibu-ibu diperalat saja
Oleh institusi bernama negara
Kalau kegiatan wajar dan biasa-biasa
Tidak apa-apa dan baik saja
Tapi over acting lebih sering
Dan sengaja dibiarkan negara
Tanyakanlah pada negara, kalau tak percaya
Yang menjajarkan ibu-ibu di layar kaca
Berambut sasak, berseragam membosankan
Dengan make up kadang-kadang berlebihan
Bu, paling penting pendidikan anak di rumah
Mengontrol pergaulan mereka sangat susah
Pada mereka berikan sebanyak-banyak waktu
Itu agenda rumahtangga paling nomor satu
Karis suami biarkan berproses sewajarnya
Dia harus berprestasi sendiri
Kalau ibu ikut campur juga
Terpaksa menjilat sebagai strategi
Karena sayang pada
Ibu-ibu Dharma Wanita
Pertimbangkan ini saran saya
Bubarkanlah Dharma Wanita
Kalau mau over acting juga.
1998
Apakah puisi Taufik Ismail di atas sudah mencerminkan bahwa puisi merupakan sarana mengungkapkan perasaan dan pikiran? Jawabannya, sudah! Sebagai bukti bisa dilihat pada baris pertama saja “Karena sayang pada/Ibu-ibu Dharma Wanita/Maka ini saran saya/Bubarkanlah Dharma Wanita.” sudah tampak adanya ungkapan perasaan dan pikiran penyairnya. Di sini Taufik Ismail selaku penyair menampakkan kekurangsukaannya pada Dharma Wanita dengan menyuruh untuk dibubarkan lembaga tersebut.
Pada bait pertama puisi di atas penyair menggunakan pola pikir yang bersifat umum (lebih menampakkan dulu akibat). Kemudian, pada bait-bait berikutnya penyair memberikan alasan-alasan (sebab-sebab) dimunculkannya saran yang dituangkan di bait pertama itu, yaitu “…sudah sangat lama/Ibu-ibu diperalat saja/Oleh institusi bernama negara sehingga berbagai kegiatannya dinilai tidak wajar, bahkan cenderung over acting. Selain itu, Taufik Ismail melihat bahwa ibu-ibu Dharma Wanita sering mempengaruhi karir suaminya. Untuk itu, Taufik menyarankan agar “Karir suami biarkan berproses sewajarnya/Dia harus berprestasi sendiri/Kalau ibu ikut campur juga/Terpaksa menjilat sebagai strategi” karena dengan cara demikian tidak terjadi penyakit yang namanya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Lalu, sebagai penutup, di bait terakhir sekali lagi Taufik Ismail menyampaikan sarannya agar Dharma Wanita dibubarkan saja.
/e/
Dalam penulisan puisi imajinatif penyair jauh lebih dominan daripada imajinatif prosais (cerpenis, novelis) sehingga bisa disimpulkan kerja seorang penyair memerlukan kreativitas yang lebih tinggi dari-pada seorang prosais. Kalau bisa ditampilkan kembali contoh sebait puisi yang ditulis Jamal D Rahman:
kuimpikan daun-daun menggugurkan rindu,
mendekap angin dalam gerak hujan,
lalu menggariskan hijau pada doaku.
kucari-cari dalam gelisah kabut, dalam sungai saat menusuk laut.
aku tahu, saat kabut gelisah dan sungai menusuk laut,
ada yang gugur dari rinduku
…………………………………………………………………
Dari bait puisi di atas, kita mencatat beberapa frase yang tidak mungkin muncul dalam prosa seperti `menggugurkan rindu` , `mendekap angin` , `menggariskan hijau` , `gelisah kabut` , `sungai sangat menusuk laut` , dan `gugur dari rinduku`. Lahirnya frase-frase di atas membuktikan bahwa kerja seorang penyair jauh lebih kreatif daripada seorang prosais. Dengan kreativitasnya, seorang penyair bisa menggandengkan dua buah kata atau lebih yang justru tidak didapati dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Coba saja kita bayangkan apakah ada frase `menggugurkan rindu`? atau `mendekap angin` dalam pembicaraan sehari-hari.
Adakah sebuah novel atau cerpen yang menggunakan seperti frase-frase di atas? Seandainya ada sebuah novel atau cerpen yang memunculkan kata-kata atau frase-frase serupa itu, novel atau cerpen semacam itu bisa dihitung dengan jari. Hal di atas boleh jadi sangat jarang terjadi pada sebuah prosa mengingat prosa tidak/kurang mengandalkan kekuatan bahasa. Jadi, selain adanya kerja imajinatif yang mengandalkan kreativitas, kerja seorang penyair juga mengandalkan kekuatan bahasanya.
/f/
Selain terletak pada kekuatan bahasa, puisi disusun bukan saja dengan mengkonsentrasikan struktur fisik, tetapi juga struktur batin. Artinya, pada saat kita berhadapan dengan sebuah puisi, kita harus memandang bahwa sebuah puisi merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh atau merupakan kesatuan yang padu (Herman J. Waluyo, 1995:25). Karena ia merupakan kesatuan yang bulat, utuh, dan padu, kita tidak dapat memilah-milah dengan mengambil salah satu unsurnya saja. Berikut ini kita tampilkan sebuah puisi yang ditulis Amal Hamzah:
LAUT
Berdiri aku di tepi pantai
Memandang lepas ke tengah laut
Ombak pulang, memecah berderai
Ke ribaan pasir rindu berpaut.
Ombak datang bergulung-gulung
Balik kembali ke tengah segara
Aku takjub, berdiri termenung
Beginilah rupanya permainan masa.
Hatiku juga seperti dia
Bergelombang-gelombang memecah pantai
Arus suka beralih duka
Payah mendapat perasaan damai.
Amal Hamzah melalui puisinya di atas ingin menyampaikan beginilah gambaran kehidupan manusia yang diibaratkan gelombang di lautan. Namun, pada puisi di atas kita mendapatkan hal-hal yang menarik, yaitu dari segi susunannya puisi di atas masih terikat pada rima bersilang dan ungkapan-ungkapan yang turut memperkaya perbendaharaan gaya bahasa kita, seperti `ombak pulang`, `ombak datang`, dan `keribaan pasir` . Gaya bahasa tersebut merupakan gaya bahasa personifikasi.
Itu baru dalam bentuk bahasa. Kalangan sastrawan dan ahli sastra telah setuju menyebutnya sebagai struktur fisik. Bagaimana dalam struktur batinnya? Struktur batinnya atau struktur maknanya terletak pada isi yang terkandung dalam puisi tersebut. Struktur batin dalam puisi menurut Herman J. Waluyo (1995:28) terdiri atas tema, nada, perasaan, dan amanat. Jadi, untuk mengetahui struktur batin pada puisi di atas kita harus menentukan temanya, nadanya, perasaannya, dan amanatnya. Untuk menemukan semua itu diperlukan adanya perenungan (kontemplasi) dan pengetahuan (seperti agama, filsafat, seni, dan pengetahuan umum) yang memadai. Sedangkan struktur fisik terdiri atas diksi, pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi, dan tipografi puisi.
/g/
Kembali pada pernyataan Wowok Hesti Prabowo bahwa puisi juga bisa dipakai sebagai alat penyadaran. Dengan melihat pada uraian di atas bahwa dalam pengkajian puisi tidak bisa dilepaskan dari unsur imajinatif, kekuatan bahasa, dan pengkonsentrasian pada struktur fisik dan batin, hal itu berarti yang bisa mengapresiasikan puisi adalah orang yang bisa melihat keseluruh unsur tersebut. Orang yang telah dapat melihat keseluruh unsur yang terdapat pada sebuah puisi, mau tidak mau akan merasakan bahwa puisi memang benar sebagai alat penyadaran. Sebaliknya, orang yang tidak bisa (bahkan tidak mau tahu atau tidak mau melihat) keseluruhan unsur itu sudah bisa dipastikan tidak akan bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa puisi berperan sebagai alat penyadaran. Artinya, sampai kapanpun hati nuraninya yang bersih tidak akan pernah tersentuh dengan puisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar