Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (17)

MENGKRANGKENG NAFSU



Nafsu dalam diri manusia seperti orang gila. Nafsu akan selalu memprovokasi manusia untuk melakukan  keburukan. Nafsu itu bagi seorang Muslim harus ditundukkan. Nafsu harus dikrangkeng dengan vonis selamanya. Jadi, tidak ada remisi atau keringanan hukuman buat yang namanya nafsu. Tetapi, nafsu suatu saat bisa menghirup udara bebas manakala manusia yang punya nafsu lalai. Bahkan, tidak mustahil nafsu saking kuatnya bisa berkuasa dan mengendalikan manusia. Untuk itu, ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak berhasil mengkrangkeng nafsu.


Nafsu itu lebih cenderung kepada keburukan.  Nafsu `cuek bebek` terhadap yang namanya syari`at. Allah telah mengingatkan manusia untuk tidak mengikuti nafsu karena dia akan menyesatkan manusia dari jalan Allah (Surat As-Shad: 26). Nafsu itu sumber kesesatan dan kemaksiatan. Jangan coba-coba memanjakan nafsu karena dia akan menyeret manusia ke berbagai jalan kesesatan dan kemaksiatan. Termasuk dalam hal ini manusia yang memanjakan nafsu itu adalah orang-orang yang menyeleweng aqidahnya, orang-orang yang melakukan perbuatan bid`ah, dan orang yang ingkar pada ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi SAW. Meskipun ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi SAW sudah jelas, mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas dan shahih tentang kebenaran karena mereka telah dikrangkeng oleh nafsu (Surat Al-Qashash: 50).

Nafsu tidak boleh diikuti. Nafsu akan bisa menggantikan posisi manusia terhadap Allah sehingga sangat-sangat mungkin nafsu bisa dijadikan Tuhan (manusia yang memper-Tuhan-kan nafsu).  Kalau ada manusia yang telah memper-Tuhan-kan nafsu, dia akan diatur oleh nafsu (Surat Al-Furqon: 42). Untuk itu, jika ada manusia jenis itu (yang memper-Tuhan-kan nafsu) ada indikasi dia adalah orang yang lemah. Orang-orang  yang mulia di sisi Allah bukan terletak pada pangkat, jabatan, harta, atau kekuasaan  tetapi kemampuan mengkrangkeng nafsu. Memang manusia diberi kebebasan untuk memilih antara jalan kefasikan dan ketaqwaan (Surat Asy-Syams: 7-8), tapi harap diingat nafsu yang memang sudah ada pada manusia akan selalu mencari sela-sela cara keluar dari kerangkeng. Karena itu, manusia sebagai makhluk yang berakal harus bisa mengendalikan dirinya  dari provokasi nafsu yang sering mengajak manusia pada dorongan kesesatan dan kemaksiatan.

Orang yang memperoleh kemenangan adalah orang yang kerapkali mensucikan jiwanya. Sebaliknya, orang yang merugi adalah orang yang mengotori jiwanya karena tidak berhasil mengkrangkeng nafsunya (Surat Asy-Syams: 9-10). Agar seorang Muslim tidak mudah diprovokasi dan dikelola oleh nafsu, hanya ada satu cara, yaitu mendekatkan diri pada Allah dengan ketaatan. Cara mendekatkan diri pada Allah menurut Rasulullah SAW adalah memperbanyak sujud (Hadits Imam Muslim dengan sanad dari Abi Firas Al-Aslamiy RA). Sebagai tambahan, untuk mengkrangkeng nafsu itu ada beberapa tingkatan. Tingkatan pertama, nafsu itu harus ditundukkan agar tidak jatuh pada kesesatan, kemaksiatan, dan menyalahi jalan Allah. Kedua, jangan biarkan nafsu selalu dalam kondisi negatif atau dalam kondisi tidak melakukan kebaikan. Ketiga, usahakan jangan sampai nafsu berhasil menggiring manusia untuk tidak mengerjakan kebaikan. Untuk itu, manusia harus banyak beramal sholeh. Keempat, mengkrangkeng nafsu yang selalu mendorong si pelakunya untuk mencari-cari alasan pembenaran.  Untuk itu, buang jauh-jauh segala macam bentuk pembenaran yang sudah jelas-jelas salah.

Ingat, nafsu itu ada sutradaranya, yaitu setan. Setan inilah yang selalu memberikan stimulus dengan janji-janji yang menggiurkan. Setan itu yang selalu menggoda nafsu agar manusia berpaling dari jalan Allah. Padahal, janji-janji setan itu palsu. Agar manusia Muslim tidak tergoda dan terbius dengan janji-janji setan segera saja manusia berlindung pada Allah SWT. Seandainya, sebagian besar umat Islam  (jika perlu seluruhnya) berlindung pada Allah dan mengkrangkeng nafsunya sudah bisa dipastikan umat ini hidup penuh dengan kedamaian, ketenteraman, keselamtan, dan kesejahteraan. Wallahu a`lam bissawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...