MENGKRANGKENG NAFSU
Nafsu dalam diri manusia
seperti orang gila. Nafsu akan selalu memprovokasi manusia untuk melakukan keburukan. Nafsu itu bagi seorang Muslim
harus ditundukkan. Nafsu harus dikrangkeng dengan vonis selamanya. Jadi, tidak ada
remisi atau keringanan hukuman buat yang namanya nafsu. Tetapi, nafsu suatu
saat bisa menghirup udara bebas manakala manusia yang punya nafsu lalai.
Bahkan, tidak mustahil nafsu saking kuatnya bisa berkuasa dan mengendalikan
manusia. Untuk itu, ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak berhasil
mengkrangkeng nafsu.
Nafsu itu lebih cenderung
kepada keburukan. Nafsu `cuek bebek`
terhadap yang namanya syari`at. Allah telah mengingatkan manusia untuk tidak
mengikuti nafsu karena dia akan menyesatkan manusia dari jalan Allah (Surat
As-Shad: 26). Nafsu itu sumber kesesatan dan kemaksiatan. Jangan coba-coba
memanjakan nafsu karena dia akan menyeret manusia ke berbagai jalan kesesatan
dan kemaksiatan. Termasuk dalam hal ini manusia yang memanjakan nafsu itu
adalah orang-orang yang menyeleweng aqidahnya, orang-orang yang melakukan
perbuatan bid`ah, dan orang yang
ingkar pada ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi SAW. Meskipun ayat-ayat
Allah dan hadits-hadits Nabi SAW sudah jelas, mereka tidak memiliki pemahaman
yang jelas dan shahih tentang
kebenaran karena mereka telah dikrangkeng oleh nafsu (Surat Al-Qashash: 50).
Nafsu tidak boleh diikuti.
Nafsu akan bisa menggantikan posisi manusia terhadap Allah sehingga
sangat-sangat mungkin nafsu bisa dijadikan Tuhan (manusia yang memper-Tuhan-kan
nafsu). Kalau ada manusia yang telah
memper-Tuhan-kan nafsu, dia akan diatur oleh nafsu (Surat Al-Furqon: 42). Untuk
itu, jika ada manusia jenis itu (yang memper-Tuhan-kan nafsu) ada indikasi dia
adalah orang yang lemah. Orang-orang
yang mulia di sisi Allah bukan terletak pada pangkat, jabatan, harta,
atau kekuasaan tetapi kemampuan
mengkrangkeng nafsu. Memang manusia diberi kebebasan untuk memilih antara jalan
kefasikan dan ketaqwaan (Surat Asy-Syams: 7-8), tapi harap diingat nafsu yang
memang sudah ada pada manusia akan selalu mencari sela-sela cara keluar dari
kerangkeng. Karena itu, manusia sebagai makhluk yang berakal harus bisa
mengendalikan dirinya dari provokasi
nafsu yang sering mengajak manusia pada dorongan kesesatan dan kemaksiatan.
Orang yang memperoleh
kemenangan adalah orang yang kerapkali mensucikan jiwanya. Sebaliknya, orang
yang merugi adalah orang yang mengotori jiwanya karena tidak berhasil
mengkrangkeng nafsunya (Surat Asy-Syams: 9-10). Agar seorang Muslim tidak mudah
diprovokasi dan dikelola oleh nafsu, hanya ada satu cara, yaitu mendekatkan
diri pada Allah dengan ketaatan. Cara mendekatkan diri pada Allah menurut
Rasulullah SAW adalah memperbanyak sujud (Hadits Imam Muslim dengan sanad dari
Abi Firas Al-Aslamiy RA). Sebagai tambahan, untuk mengkrangkeng nafsu itu ada
beberapa tingkatan. Tingkatan pertama, nafsu itu harus ditundukkan agar tidak
jatuh pada kesesatan, kemaksiatan, dan menyalahi jalan Allah. Kedua, jangan
biarkan nafsu selalu dalam kondisi negatif atau dalam kondisi tidak melakukan
kebaikan. Ketiga, usahakan jangan sampai nafsu berhasil menggiring manusia
untuk tidak mengerjakan kebaikan. Untuk itu, manusia harus banyak beramal
sholeh. Keempat, mengkrangkeng nafsu yang selalu mendorong si pelakunya untuk
mencari-cari alasan pembenaran. Untuk
itu, buang jauh-jauh segala macam bentuk pembenaran yang sudah jelas-jelas
salah.
Ingat, nafsu itu ada
sutradaranya, yaitu setan. Setan inilah yang selalu memberikan stimulus dengan
janji-janji yang menggiurkan. Setan itu yang selalu menggoda nafsu agar manusia
berpaling dari jalan Allah. Padahal, janji-janji setan itu palsu. Agar manusia
Muslim tidak tergoda dan terbius dengan janji-janji setan segera saja manusia
berlindung pada Allah SWT. Seandainya, sebagian besar umat Islam (jika perlu seluruhnya) berlindung pada Allah
dan mengkrangkeng nafsunya sudah bisa dipastikan umat ini hidup penuh dengan
kedamaian, ketenteraman, keselamtan, dan kesejahteraan. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar