MENGELOLA WAKTU
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling
menasihati untuk kesabaran” (Surat Al-Asr : 1—3).
Banyak orang yang tahu,
bahkan paham, isi yang terkandung dalam Surat Al-Asr yang tercantum di atas.
Tetapi, mengapa masih banyak (sebagian besar) orang yang tergolong merugi?
Artinya, orang-orang yang diberi umur panjang oleh Allah SWT tapi selama hidup
di dunia tidak/kurang memberikan manfaat buat sesamanya. Timbul pertanyaan,
bagaimana dengan orang-orang yang disebut sukarelawan yang telah
mendarmabaktikan hampir seluruh hidupnya untuk menolong sesama manusia?
Sepanjang dia beriman pada Allah tentu saja dia termasuk orang yang tidak
merugi. Sebaliknya, kalau yang dia lakukan tidak dilandasi iman pada Allah SWT
akan sia-sia saja apapun yang dia lakukan. Karena itu, sukarelawan sejati
sebenarnya adalah orang-orang yang bekerja demi kemanusiaan tapi semua yang dia
lakukan dilandasi iman pada Allah SWT.
Berkaitan dengan uraian
di atas sebagai hamba Allah selayaknya patut juga mengetahui bahwa
kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan demikian banyak. Namun, waktu yang
Allah sediakan demikian singkat. Di sini, ada ketidakseimbangan antara
kewajiban dan waktu untuk melaksanakannya. Padahal, sebagai hamba Allah yang
Muslim dia ingin dalam hidupnya bisa bermanfaat buat orang banyak, orang yang
membutuhkan pertolongan. Untuk itu, manakala ada kesempatan untuk menolong orang,
mau tidak mau hamba yang mukhlish
akan segera memberikan pertolongan.
Hamba-hamba Allah yang mukhlish perlu mengetahui beberapa hal yang
berkaitan dengan mengelola waktunya. Pertama,
dia perlu tahu bahwa tentang kematian tidak dapat diketahui waktunya karena hal
itu merupakan rahasia Allah. Kedua,
selama Allah masih memberi kesempatan untuk menikmati kehidupan di dunia ini
gunakan waktu dengan sebaik-baiknya dengan kesungguhan beramal sebagaimana
Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam
sebuah haditsnya bahwa setiap manusia harus ingat lima hal. Kelima hal itu
adalah masa muda sebelum masa tua; sehat sebelum datang masa sakit; kesempatan
sebelum datang kesibukan; hidup sebelum datangnya mati; dan kekayaan sebelum
datang kefakiran. Ketiga, semua yang
dilakukan selama di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan
Allah SWT. Untuk itu, seorang hamba Allah yang beriman akan memanfaatkan waktunya menghasilkan sesuatu
yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain (masyarakat di sekitarnya).
Keempat, memberi petunjuk pada orang
lain supaya tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia ini (berdakwah
ilaallah). Kelima, mengasihi orang
yang lemah dan menghormati orang yang lebih tua. Keenam, mengisi waktu-waktunya dengan membaca buku-buku agama, pengetahuan,
dan karya-karya fiksi (novel, cerpen, atau puisi) yang bisa menggugah nurani
dan menajamkan kepekaan/kepedulian.
Salah satu indikator
adanya perubahan dan perbaikan dalam hidup ini manakala di tengah-tengah umat
ini ada generasi yang secara masif melaksanakan sepenuhnya keenam butir di
atas. Kalau masih belum didapati,
berarti masih belum adanya perubahan apalagi perbaikan. Salah satu cara untuk
bisa mewujudkan kelima hal itu jalan satu-satunya adalah melalui tarbiyah. Tarbiyah harus dimulai dari keluarga. Karena itu, dalam sebuah
keluarga harus terbentuk dulu setiap pribadi Muslim yang bersih aqidahnya,
benar ibadahnya, dan baik akhlaknya. Kalau setiap pribadi Muslim dalam sebuah
keluarga telah memenuhi ketiga hal itu, barulah tarbiyah di keluarga itu telah terwujud. Secara pelahan namun pasti
seiring dengan perjalanan waktu tanpa disadari keluarga tersebut telah
mewujudkan sebuah keluarga dakwah yang siap memberikan manfaat buat orang lain.
Seandainya, memang ini terjadi sudah bisa dipastikan keluarga tersebut telah
memanfaatkan waktunya dengan baik.
Memang terus terang
saja terasa sulit untuk membentuk keluarga seperti yang diuraikan di atas
apalagi di tengah-tengah arus kehidupan yang sekarang ini menunjukkan kuatnya
arus globalisasi yang disertai dengan serangan ghozwul fikri yang bertubi-tubi. Arus ghazwul fikri yang telah jauh merasuk ke dalam rumah-rumah keluarga
Muslim menjadi sebuah tantangan bagi setiap keluarga untuk secara intens
melakukan filterisasi. Arus ghazwul fikri
jelas-jelas bertujuan merusak keluarga Muslim agar di tengah-tengah umat ini
tidak ada generasi yang mengemban amanah untuk melaksanakan perubahan dan
perbaikan. Arus ghazwul fikri yang
merusak akhlak anak-anak keluarga Muslim (bahkan termasuk orang tuanya) telah
berhasil menjauhkan diri dari Islam sehingga mereka asing dengan agamanya
sendiri. Meskipun demikian, arus ghazwul
fikri harus dilawan dengan melakukan tarbiyah secara intens dan masif. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar