Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (18)

MENGELOLA WAKTU



“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Surat Al-Asr : 1—3).

Banyak orang yang tahu, bahkan paham, isi yang terkandung dalam Surat Al-Asr yang tercantum di atas. Tetapi, mengapa masih banyak (sebagian besar) orang yang tergolong merugi? Artinya, orang-orang yang diberi umur panjang oleh Allah SWT tapi selama hidup di dunia tidak/kurang memberikan manfaat buat sesamanya. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang-orang yang disebut sukarelawan yang telah mendarmabaktikan hampir seluruh hidupnya untuk menolong sesama manusia? Sepanjang dia beriman pada Allah tentu saja dia termasuk orang yang tidak merugi. Sebaliknya, kalau yang dia lakukan tidak dilandasi iman pada Allah SWT akan sia-sia saja apapun yang dia lakukan. Karena itu, sukarelawan sejati sebenarnya adalah orang-orang yang bekerja demi kemanusiaan tapi semua yang dia lakukan dilandasi iman pada Allah SWT.
 
Berkaitan dengan uraian di atas sebagai hamba Allah selayaknya patut juga mengetahui bahwa kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan demikian banyak. Namun, waktu yang Allah sediakan demikian singkat. Di sini, ada ketidakseimbangan antara kewajiban dan waktu untuk melaksanakannya. Padahal, sebagai hamba Allah yang Muslim dia ingin dalam hidupnya bisa bermanfaat buat orang banyak, orang yang membutuhkan pertolongan. Untuk itu, manakala ada kesempatan untuk menolong orang, mau tidak mau hamba yang mukhlish akan segera memberikan pertolongan. 

Hamba-hamba Allah yang mukhlish perlu mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan mengelola waktunya. Pertama, dia perlu tahu bahwa tentang kematian tidak dapat diketahui waktunya karena hal itu merupakan rahasia Allah. Kedua, selama Allah masih memberi kesempatan untuk menikmati kehidupan di dunia ini gunakan waktu dengan sebaik-baiknya dengan kesungguhan beramal sebagaimana Rasulullah SAW telah  mengingatkan dalam sebuah haditsnya bahwa setiap manusia harus ingat lima hal. Kelima hal itu adalah masa muda sebelum masa tua; sehat sebelum datang masa sakit; kesempatan sebelum datang kesibukan; hidup sebelum datangnya mati; dan kekayaan sebelum datang kefakiran. Ketiga, semua yang dilakukan selama di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Untuk itu, seorang hamba Allah yang beriman akan  memanfaatkan waktunya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain (masyarakat di sekitarnya). Keempat, memberi petunjuk pada orang lain supaya tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia ini (berdakwah ilaallah). Kelima, mengasihi orang yang lemah dan menghormati orang yang lebih tua. Keenam, mengisi waktu-waktunya dengan membaca buku-buku agama, pengetahuan, dan karya-karya fiksi (novel, cerpen, atau puisi) yang bisa menggugah nurani dan menajamkan kepekaan/kepedulian.

Salah satu indikator adanya perubahan dan perbaikan dalam hidup ini manakala di tengah-tengah umat ini ada generasi yang secara masif melaksanakan sepenuhnya keenam butir di atas.  Kalau masih belum didapati, berarti masih belum adanya perubahan apalagi perbaikan. Salah satu cara untuk bisa mewujudkan kelima hal itu jalan satu-satunya adalah melalui tarbiyah. Tarbiyah harus dimulai dari keluarga. Karena itu, dalam sebuah keluarga harus terbentuk dulu setiap pribadi Muslim yang bersih aqidahnya, benar ibadahnya, dan baik akhlaknya. Kalau setiap pribadi Muslim dalam sebuah keluarga telah memenuhi ketiga hal itu, barulah tarbiyah di keluarga itu telah terwujud. Secara pelahan namun pasti seiring dengan perjalanan waktu tanpa disadari keluarga tersebut telah mewujudkan sebuah keluarga dakwah yang siap memberikan manfaat buat orang lain. Seandainya, memang ini terjadi sudah bisa dipastikan keluarga tersebut telah memanfaatkan waktunya dengan baik.


Memang terus terang saja terasa sulit untuk membentuk keluarga seperti yang diuraikan di atas apalagi di tengah-tengah arus kehidupan yang sekarang ini menunjukkan kuatnya arus globalisasi yang disertai dengan serangan ghozwul fikri yang bertubi-tubi. Arus ghazwul fikri yang telah jauh merasuk ke dalam rumah-rumah keluarga Muslim menjadi sebuah tantangan bagi setiap keluarga untuk secara intens melakukan filterisasi. Arus ghazwul fikri jelas-jelas bertujuan merusak keluarga Muslim agar di tengah-tengah umat ini tidak ada generasi yang mengemban amanah untuk melaksanakan perubahan dan perbaikan. Arus ghazwul fikri yang merusak akhlak anak-anak keluarga Muslim (bahkan termasuk orang tuanya) telah berhasil menjauhkan diri dari Islam sehingga mereka asing dengan agamanya sendiri. Meskipun demikian, arus ghazwul fikri harus dilawan dengan melakukan tarbiyah secara intens dan masif. Wallahu a`lam bissawab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...