Sabtu, 29 April 2017

Artikel Agama (31)

REVOLUSI AKHLAK (3)
Subagio S.Waluyo

         
Sebutan Islam sebagai agama ‘rahmatan lil alamin’ tidak akan pernah hilang sampai akhir zaman (hari kiamat). Tetapi, bagaimana dengan umatnya? Saat ini sebagian kecil umat Islam masih bisa menunjukkan dalam praktek kehidupannya sehari-hari masih relevan dengan sebutan tersebut. Artinya, hanya sedikit sekali dari umat Islam yang benar-benar kehadirannya di muka bumi ini memiliki ‘rahmatan lil alamin’. Sementara itu bagian besar umat Islam jauh dari nilai-nilai tersebut. Mengapa bisa seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu uraian yang mendetail.

Selasa, 25 April 2017

Artikel Agama (30)

REVOLUSI AKHLAK (2)

Subagio S. Waluyo


          Islam adalah agama yang syumul (universal). Karena Islam itu agama yang universal, ada karakteristik yang membedakan Islam dengan baik agama-agama manusia, filsafat-filsafat, maupun aliran-aliran lainnya yang ada di dunia ini. Pengertian Islam sebagai agama yang universal menurut Yusuf Al-Qardhawi dalam Karakteristik Islam:Kajian Analitik (1995:117) adalah agama yang meliputi semua zaman, kehidupan, dan keberadaan manusia. Imam Yusuf Al-Qardhawi di buku yang sama juga mengutip pendapat Imam Syahid Hasan Al-Banna yang mengatakan bahwa Islam adalah risalah yang panjang terbentang sehingga meliputi semua abad sepanjang zaman. Terhampar luas sehingga meliputi semua cakrawala umat. Begitu mendetail sehingga memuat semua urusan dunia dan akhirat (1995:117). Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika Islam itu merupakan ‘rahmatan lil alamin’. 

Senin, 24 April 2017

Artikel Agama (29)

REVOLUSI AKHLAK (1)

Subagio S.Waluyo

         
Kata “revolusi” selalu dikaitkan dengan “kekerasan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memang ada terselip kata “kekerasan”. Sebagai bukti bahwa kata “kekerasan” memang terdapat pada definisi yang terdapat di KBBI bisa dilihat berikut ini.
revolusi/re·vo·lu·si/ /révolusi/ n 1 perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); 2 perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang: dialah pelopor -- dalam bidang arsitektur bangunan bertingkat; 3 peredaran bumi dan planet-planet lain dalam mengelilingi matahari;
-- industri perubahan radikal dalam usaha mencapai produksi dengan menggunakan mesin-mesin, baik untuk tenaga penggerak maupun untuk tenaga pemroses;

berevolusi/be·re·vo·lu·si/ v mengadakan perlawanan dan sebagainya untuk mengubah sistem ketatanegaraan (pemerintahan atau keadilan sosial)

Kamis, 30 Maret 2017

All You Need Is Love (31)

YANG DIPANDANG SEBELAH MATA

Subagio S.Waluyo

Ketika mempelajari masalah pemberdayaan daerah, ada kompetensi dasar yang perlu dipenuhi, yaitu mendiskusikan pemberdayaan pegawai. Salah satu indikator untuk bisa mendiskusikan pemberdayaan pegawai adalah mahasiswa dapat mengapresiasikan adanya pelayanan publik yang baik di daerah yang dijadikan objek penelitian. Indikator yang perlu dipenuhi dalam mempelajari masalah pemberdayaan pegawai jelas bukan pekerjaan mudah karena ada target yang harus dicapai mahasiswa, yaitu bagaimana caranya mengapresiasi aktivitas pelayanan publik di sebuah tempat atau daerah yang dijadikan objek penelitian. Perlu juga diketahui, yang harus dilakukan mahasiswa bukan semata mengapresiasi pelayanan publiknya, tetapi mencari jawaban pertanyaan mengapa sampai bisa terwujud sebuah pelayanan yang baik di daerah yang dijadikan objek penelitian itu. Jika dikaitkan dengan kompetensi dasarnya, yaitu masalah pemberdayaan daerah, jelas yang harus ditelusuri sang mahasiswa adalah tentang pemberdayaan pegawai/birokrat sehingga para pegawai/birokrat di tempat objek penelitian itu layak diapresiasi.
Sebelum melangkah lebih jauh, ada hal yang sangat penting yang perlu dilakukan, dosen terlebih dahulu harus membuat kisi-kisi penugasan. Kisi-kisi tugas yang berkenaan dengan pemberdayaan daerah tersebut nantinya berisikan butir-butir berikut ini.
1.   Data Geografis dan Demografis
2.   Visi dan Misi daerah yang dijadikan objek penugasan
3.   Tujuan dan Strateginya
4.   Definisi-Definisinya
5.   Kriteria dan Indikatornya
6.   Fungsi dan Peranannya
7.   Hasil Temuan
8.   Faktor Penyebab Keberhasilan atau Kegagalannya
9.   Langkah-Langkah Penyelesaiannya
10.        Kesimpulan
11.        Referensi  
Dengan adanya kisi-kisi di atas, sang mahasiswa akan banyak terbantu ketika mengerjakan tugasnya. Meskipun demikian, berkaitan dengan masalah yang diangkat untuk dapat melaksanakan tuntutan indikator dari kompetensi dasar itu, yaitu pemberdayaan pegawai sehingga para pegawai dapat melakukan pelayanan publik dengan baik bagi sang mahasiswa bukan pekerjaan mudah. Sang mahasiswa dituntut harus memahami dulu kata-kata kunci yang terdapat di dalamnya. Jadi, kalau sang mahasiswa menulis “Efektivitas Pemberdayaan Pegawai dalam Mewujudkan Pelayanan Publik yang Berkualitas di Kantor Pemerintah Kota XYZ”, sudah harus disiapkan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan judul tersebut. Kata-kata seperti `efektivitas` harus dicari dari definisinya sampai dengan kriteria dan indikatornya sesuai dengan yang terdapat dalam kisi-kisi. Berikutnya, frase `pemberdayaan pegawai` juga harus dilakukan hal yang sama. Singkatnya, untuk semua hal yang berkaitan dengan efektivitas, pemberdayaan pegawai, maupun pelayanan publik harus mengutip beberapa pakar administrasi publik untuk diambil pendapatnya. Kalau perlu juga undang-undangnya karena di undang-undang selain definisi juga ada butir-butir yang bisa diambil yang berkenaan dengan semua itu.
Bagaimana dengan Kantor Pemerintah Kota XYZ yang dijadikan tempat penelitian tersebut? Terlebih dahulu sang mahasiswa harus memasukkan data-data geografis, demografis, sampai dengan gambaran singkat objek penelitian. Di skripsi, tesis, atau disertasi biasanya dimasukkan di bab tersendiri pada saat memberikan deskripsi tentang objek penelitian. Kalau hanya diminta membuat kertas kerja/paper yang akan didiskusikan, sang mahasiswa cukup membuat bahan presentasi (biasanya dalam bentuk hand out) yang siap dipresentasikan. Karena hanya berupa bahan untuk dipresentasikan, cukup butir-butir penting  yang dimasukkan dalam hand out. Jadi, seperti definisi dan uraiannya yang dikutip dari beberapa pendapat pakar administrasi publik atau undang-undang tentang efektivitas, pemberdayaan pegawai, dan pelayanan publik tidak perlu ditulis lengkap dalam hand out. Bahan selengkapnya, jika dipandang perlu, dimasukkan ke dalam lembar-lembar tersendiri dalam bentuk lampiran.  Dengan demikian, setiap mahasiswa yang terlibat dalam mendiskusikan masalah pemberdayaan daerah akan membuat dua bahan, yaitu bahan presentasi dan lampirannya.
Bahan-bahan yang dipresentasikan para mahasiswa ketika mendiskusikan masalah pemberdayaan daerah tentu saja belum dianggap final. Dalam diskusi di kelas masukan-masukan baik dari dosen sebagai fasilitator maupun teman-teman sesama mahasiswa sebagai peserta diskusi diharapkan dapat menyempurnakan isi bahan presentasi tersebut. Dosen sebagai fasilitator mempunyai peranan penting untuk membantu sang mahasiswa agar bahan presentasinya suatu saat bisa dijadikan bahan pengayaan pembelajaran mata kuliah yang diampunya. Bahkan, tidak mustahil di tangan dosen yang kreatif bahan-bahan hasil diskusi itu akan dikumpulkan dan suatu saat bisa saja dijadikan buku teks pembelajaran di perguruan tinggi. Seandainya, ada tiga puluh mata kuliah di setiap program studi melakukan hal  yang sama, akan ada tiga puluh buku teks yang siap diterbitkan. Kalau di sebuah perguruan tinggi ada sepuluh program studi akan ada tiga ratus buku teks yang dapat menjawab masalah kelangkaan buku-buku teks. Bukankah ini merupakan jawaban terhadap miringnya orang yang menganggap remeh tentang proses belajar-mengajar di perguruan tinggi yang selama ini hanya mirip-mirip lembaga kursus?    
Selain melalui jalur penugasan pada para mahasiswa bisa juga dilakukan dengan menyeleksi skripsi-skripsi, tesis-tesis, atau disertasi-disertasi yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Semua hasil karya mahasiswa calon sarjana pada prinsipnya jangan disia-siakan karena penelitian yang benar-benar murni justru hasil karya mereka. Bagaimana tidak murni kalau semua itu benar-benar hasil jerih payah mereka di bawah bimbingan dosen yang siap membantu mereka  setiap saat? Mereka melakukan penelitian atas biaya sendiri. Kalau memang ada orang atau lembaga yang membantu mereka, umumnya orang-orang atau lembaga-lembaga tersebut sebatas memberikan bantuan keuangan. Tidak ada ketentuan yang biasanya diberlakukan ketika orang-orang `pintar` di luar mereka di perguruan tinggi mengerjakan proyek-proyek penelitian yang biayai oleh lembaga donor.  
Skripsi, tesis, atau disertasi yang diterbitkan menjadi buku bukan barang baru. Sejak tahun `60-an sudah ada hasil karya insan akademis yang diterbitkan jadi buku. Memang, untuk mengubah hasil karya akademis menjadi buku bukan pekerjaan yang mudah. Biar bagaimanapun ada kriteria yang diberlakukan jika hasil karya mahasiswa calon sarjana yang mau diterbitkan menjadi buku.  Buku-buku tersebut ternyata sangat membantu pembelajaran di perguruan tinggi. Berikut ini ada beberapa contoh skripsi, tesis, atau disertasi yang diterbitkan berikut sedikit uraian penggunaannya.
Buku ini semula merupakan skripsi yang ditulis oleh Bambang Trimansyah ketika kuliah di Fakultas Sastra Unpad. Skripsi yang ditulisnya dibukukan dan lolos dalam penilaian Program Pustaka I kerjasama Adikaya Ikapi dan Ford Foundation. Buku yang bisa digolongkan sebagai studi karya sastra ini berisikan tentang analisis struktural karya sastra anak (novel) Indonesia. Penulisnya mengubah total outline skripsinya meskipun kontennya tidak berubah. Untuk mengubah skripsi menjadi buku diperlukan konversi di sana-sini. Menurut pengakuan si penulis untuk mengkonversi dari skripsi menjadi buku tidak memerlukan waktu yang lama. Hal itu menurutnya tergantung pada niat seseorang. Dengan demikian, seseorang yang baru saja selesai menyelesaikan studinya, jika berniat mau menerbitkan bukunya dari skripsi yang ditulisnya mau tidak mau harus sedikit menguras tenaga dan waktu untuk melakukan konversi karena pekerjaan tersebut tidak mungkin dilakukan oleh pihak penerbit.  (https://manistebu. com /2013/03/mengubah-skripsi-tesis-disertasi-menjadi-buku/) 
Buku Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru semula merupakan tesis yang ditulis Abdul Azis Thaba ketika menempuh pendidikan S2 di Fisipol UGM. Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press ini berisikan tentang hubungan Islam dan negara di masa Orde Baru yang dibaginya dalam tiga priode, yaitu periode antagonistic (1967-1982), resiprokal kritis (1982-1985), dan akomodatif (1985-1994). Tidak seperti buku yang ditulis oleh Bambang Trimansyah ada sedikit uraian penjelasan konversi dari skripsi ke buku, dalam buku yang merupakan hasil konversi dari tesis ke buku ini memang sangat minim informasi yang diperoleh. Meskipun demikian, sebagai sebuah contoh bahwa tesis juga bisa diterbitkan menjadi buku sudah dianggap mewakili. Selain itu, yang patut diberikan nilai tambah, buku ini ternyata banyak dirujuk oleh para calon sarjana baik yang menulis skripsi, tesis, maupun disertasi yang konsens terhadap hal-hal yang berkaitan dengan politik Islam. Salah satu di antaranya adalah Dedek Sulaiman dari Jurusan Pemikiran Politik Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah.  (http:// repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/8230/1/DEDEK%20SULAIMAN-FUF.pdf)
Buku Demokrasi di Tangan Netizen Tantangan & Prospek Demokrasi Digital semula juga merupakan disertasi yang ditulis Fayakhun Andriadi dari FISIP UI.  Buku ini juga merupakan hasil konversi penulisnya dari disertasi yang berjudul "Demokrasi Era Digital: Studi Kasus Penggunaan Media Sosial dalam Partisipasi Politik Oleh Pendukung Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Periode 2012-2017". (https://id.wikipedia.org/ wiki/Fayakhun_Andriadi). Sama halnya dengan tesis yang dikonversikan Abdul Azis Thaba dari tesis ke buku, tidak ada informasi yang jelas. Sebagai contoh saja bahwa ada disertasi yang bisa diterbitkan menjadi buku tampaknya hal itu sudah cukup.
Sebagai pelengkap saja bahwa dosen yang cenderung inovatif dan kreatif bisa menjadikan bahan-bahan pembelajaran selama perkuliahan menjadi buku teks di perguruan tinggi yang siap digunakan. Bahkan, buku-buku tersebut tidak sedikit yang dijadikan referensi oleh penulis-penulis lainnya. Salah satu buku yang juga merupakan hasil kerja kreatif sang dosen selama pembelajaran adalah Ismail Marahimin dosen FSUI. Selama hidupnya sebagai dosen di FSUI, Ismail Marahimin yang dikenal sebagai sastrawan mengumpulkan hasil karya anak-anak didiknya. Meskipun hasil karya para mahasiswanya hanya dijadikan sebagai contoh, ternyata setelah menjadi buku layak untuk dijadikan buku teks dan rujukan oleh beberapa penulis dan dosen yang mengajarkan penulisan kreatif. Buku hasil karyanya juga bisa dijadikan rujukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Sebagai tambahan, Ismail Marahimin dikenal sebagai sastrawan  pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1977. Buku roman tersebut diterbitkan Pustaka Jaya tahun 1979 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris  dengan judul And the War is Over oleh John H. Mc Glynn yang kemudian diterbitkan oleh Lousiana State University Press tahun 1986.
Dari uraian di atas perlu ditekankan bahwa selama pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh dosen dan para mahasiswanya merupakan sebuah peluang emas untuk melakukan kerja penelitian. Kerja-kerja penelitian selama proses belajar-mengajar di ruang kuliah itu terjadi tidak bisa dianggap remeh karena justru dari situlah bisa digali kemampuan dosen dan para mahasiswanya dalam berpikir ilmiah. Dari hasil-hasil proses berpikir ilmiah akan diperoleh hasil-hasil penelitian yang tidak sedikit. Semua produk dari proses belajar-mengajar itu jika ditekuni oleh dosen-dosen yang kreatif dan inovatif akan menghasilkan sekian banyak buku teks. Buku-buku teks yang dihasilkan dari produk pembelajaran selama di ruang-ruang kuliah tentu saja akan bermanfaat bukan saja bagi sang dosen dan para mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat luas baik yang mereka berkecimpung di dunia akademis maupun di luar dunia akademis. Semoga saja di masa depan akan bermunculan dosen-dosen kreatif dan inovatif yang siap menghadapi tantangan zaman. Wallahu`alam bissawab.   
    

 



    

Rabu, 29 Maret 2017

All You Need Is Love (30)

PENELITIAN... PENELITIAN...

Subagio S.Waluyo


          Bagi sivitas akademika (mahasiswa dan dosen) penelitian merupakan suatu kegiatan yang tidak asing lagi karena dalam dunia akademik selalu dituntut untuk selalu berpikir ilmiah (Metode Penelitian Sosial/Nanang Martono, 2015: xvii). Jadi, kalau tidak ada penelitian insan akademis yang bernama mahasiswa dan dosen, tidak akan bisa berpikir ilmiah. Kalau tidak bisa berpikir ilmiah, insan akademis itu ketika melakukan suatu analisis terhadap suatu kejadian akan mengalami kesulitan karena keduanya tidak bisa berpikir logis dan empiris. Dengan demikian, ketika keduanya melakukan pembahasan tidak dapat membahas fakta yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana jadinya kalau sang insan akademis tidak dapat membahas fakta yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan?

Senin, 27 Februari 2017

All You Need Is Love (29)

Menjauh dari Kenyataan Hidup 

Subagio S.Waluyo


Apa respons kita kalau John Lennon, sang maestro musik legendaris sampai abad 21 ini, menulis di Imagine seperti ini.
Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man

Imagine all the people
Sharing all the world
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one

Minggu, 26 Februari 2017

All You Need Is Love (28)

HOAX HASANAH

Subagio S.Waluyo

Suatu saat seseorang mem-posting sebuah tulisan dari grup WA yang selama ini dipercaya sumber tulisannya ke grup WA lainnya. Beberapa saat setelah di-posting ada salah seorang anggota grup WA yang langsung mengomentarinya `hoax` (tulisan tersebut dianggap bohong, sulit dipertanggungjawabkan isinya). Orang itu tidak kaget atau gusar (apalagi marah) kalau posting-annya dikomentari `hoax,`. Dia cukup menjawab `hoax` yang bermanfaat. Mungkin ada yang bertanya: `hoax` kok bermanfaat?

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...