MENGGOYANG MENARA GADING
Subagio
S. Waluyo
Dalam Wiktionary (ensiklopedia multi bahasa)
kata menara gading didefinisikan sebagai `tempat atau kedudukan yang serba
mulia, enak, dan menyenangkan atau boleh juga tempat untuk menyendiri, misal
tempat studi, yang memberi kesempatan untuk bersikap masa bodoh terhadap
hal-hal yang terjadi di sekitarnya` (https:// id.wiktionary.org/wiki/menara_gading).
Kalau begitu memang patut orang-orang kampus alias makhluk akademis tinggal di
menara gading karena mereka merasa nyaman dengan kedudukannya yang serba mulia.
Bukankah mereka merasa mulia terutama para pengajar (dosen) karena sebutan
dosen saja itu di mata masyarakat punya kelas tersendiri (lebih tinggi daripada
guru di sekolah). Bukankah juga dianggap mulia karena punya berderet gelar
akademis baik dari perguruan tinggi (PT) ternama di negeri ini maupun lulusan luar negeri
kelas dunia sehingga untuk menghormati mereka orang yang di bawahnya atau
sesama teman sejawatnya menyapanya dengan `Pak Dosen`, `Doktor`, atau `Prof`
(untuk professor)? Yang bukan teman sejawatnya (sekelas mahasiswa atau
karyawan/pegawai PT) karena menyapanya dengan sapaan di atas setidak-tidaknya membuat
``Sang Dosen``, `Sang Doktor`, atau `Sang Profesor` merasa tersanjung dengan
sapaan tersebut. Jangan coba-coba menyapa mereka dengan sapaan `Pak Guru` atau
`Bu Guru` karena buat mereka sapaan itu hanya ada di tingkat pendidikan SD,SMP,
SMA atau SMK. Menyapa mereka dengan sapaan seperti itu sama halnya juga merendahkan
mereka. Mudah-mudahan saja tidak semua dosen
bawa perasaan (baper) seperti itu karena juga masih banyak dosen yang egaliter.




