Sabtu, 17 Desember 2022

Bahasa dan Sastra (119)

20. BELAJAR MENULIS WACANA EKSPOSISI (3)

Subagio S.Waluyo


Seorang akademikus dari UGM, Samodra Wibawa, sebagai seorang yang ahli di bidang Manajemen Publik dan Kebijakan Publik pernah menulis di seputar Pandemi Covid-19 yang dikaitkan dengan tindak pidana kriminalitas. Judul tulisannya “Pandemi dan Kriminalitas” bisa digolongkan sebagai tulisan eksposisi yang mengarah pada pemberian informasi. Meskipun demikian, di dalam tulisannya itu Samodra Wibawa mengingatkan kita akan kematian. Di samping itu, sesuai dengan judul tulisannya, penulis juga membahas tentang banyaknya orang di masa Pandemi Covid melakukan perbuatan kriminal. Untuk lebih jelasnya, coba kita simak tesis tulisannya yang dimulai dari mengingatkan kita akan kematian. 

Kamis, 15 Desember 2022

Bahasa dan Sastra (118)

19. BELAJAR MENULIS WACANA EKSPOSISI (2)

Subagio S. Waluyo 


   Dalam penulisan wacana eksposisi bisa saja diawali dengan sebuah narasi singkat. Di sini penulis mengajak pembacanya untuk menyimak yang dilakukan penulis sebelum membahas inti tulisannya. Jadi, penulis di bagian tesis (pembuka) menyampaikan sebuah cerita yang diambil dari pengalaman hidupnya. Bisa saja pengalaman hidup itu diperoleh secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang membuat dirinya tertarik sampai beberapa saat yang ditemukannya terus tersimpan di benaknya. Suatu saat sesuatu yang dulu pernah ditemukannya dan membuat dirinya penasaran juga secara tidak sengaja ditemukan. Dari situ si penulis berusaha membuat tulisan eksposisi karena boleh jadi sesuatu yang ditemukannya itu berkaitan dengan, misalnya, masalah penyimpangan sosial. Setelah memiliki referensi yang berkaitan dengan masalah penyimpangan sosial, si penulis mulai menggerakkan jari-jarinya di tuts laptopnya sehingga menjadi sebuah tulisan eksposisi.

Rabu, 14 Desember 2022

Bahasa dan Sastra (117)

18. BELAJAR MENULIS WACANA EKSPOSISI (1) 

Subagio S. Waluyo



    Dimaksudkan dengan eksposisi menurut Ismail Marahamin dalam Menulis Secara Populer adalah menyingkap. Dalam hal ini menurutnya yang disingkap adalah sesuatu yang selama ini tertutup, terlindungi, atau tersembunyi. Apa yang disingkap? Tentu saja buah pikiran, ide, perasaan, atau pendapat penulisnya. Di dalam tulisan eksposisi yang disingkap itu disebut sebagai tesis (2009: 193). Tesis merupakan bagian awal dalam tulisan eksposisi. Bisa juga tesis disebut sebagai pembuka. Karena sebagai pembuka, dalam tesis penulis menyajikan pengenalan isu, masalah, pandangan penulis, dan gagasan utamanya. Di bagian tesis inilah penulis mau tidak mau harus menyatakan pendapatnya. Untuk itu, penulis harus menentukan terlebih dahulu tujuan menulis eksposisi sebelum menuliskannya dalam tesisnya (https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6371253/cara-membuat-teks-ekspo-sisi -berbagai-tema-dengan-mudah-beserta-contohnya).   

Kamis, 08 Desember 2022

Bahasa dan Sastra (116)

17. BELAJAR MENULIS WACANA DESKRIPSI (4) 

Subagio S.Waluyo


Bagian akhir dari penulisan wacana deskripsi adalah menulis deskripsi berdasarkan kutipan teks cerita rekaan yang dibacanya. Apakah bisa menulis deskripsi dari kutipan teks cerita rekaan yang kita baca? Bisa-bisa saja, kenapa tidak? Di bawah ini ada tulisan deskripsi yang ditulis berdasarkan kutipan teks cerita rekaan, tepatnya dari sebuah novel barat berjudul Never Let Me Go (NLMG) oleh Kazuo Ishiguro (KI). Novel tersebut ditulis penulis Inggris kelahiran Nagasaki, Jepang, 8 November 1954. Penulis ini pindah ke Inggris tahun 1960. Sejak saat itu sampai sekarang ini KI tinggal di Inggris. Sebagai penulis KI adalah salah satu penulis fiksi kontemporer paling terkenal di dunia berbahasa Inggris. KI telah menerima empat nominasi Man Booker Prize dan memenangkan penghargaan pada tahun 1989 untuk novelnya The Remains of the Day . Novel KI (2005), Never Let Me Go , dinamai oleh Time sebagai novel terbaik tahun ini. Novel tersebut dimasukkan dalam daftar 100 novel berbahasa Inggris terbaik majalah yang diterbitkan antara tahun 1923 sampai dengan 2005. Akademi Swedia (2017) menghadiahkan Ishiguro Penghargaan Nobel Sastra, menggambarkannya dalam kutipannya sebagai penulis "yang, dalam novel-novel dengan kekuatan emosional yang besar, telah menemukan jurang di bawah rasa ilusi kita tentang koneksi dengan dunia". Karena prestasinya di bidang sastra, KI dianugerahi gelar bangsawan dalam Daftar Penghargaan Ulang Tahun Ratu 2018 (https://id.wikipedia.org/wiki/ Kazuo_Ishiguro).

Selasa, 06 Desember 2022

Bahasa dan Sastra (115)

 

16. BELAJAR MENULIS WACANA DESKRIPSI (3)

Subagio S. Waluyo 



      Setelah kita membahas wacana deskripsi yang menggambarkan suatu peristiwa dan suasana. Sekarang kita beralih membahas tulisan deskripsi yang juga masih mengambil gambaran suasana atau keadaan. Tetapi, untuk kali ini kita membahas gambaran suasana yang diambil dari karya fiksi (novel). Novel yang cukup panjang menggambarkan suasana (keadaan) di antaranya adalah novel yang ditulis oleh Mochtar Lubis: Harimau Harimau (HH). Novel ini ditulis ketika penulisnya masih mendekam di sebuah penjara di Madiun. Novel ini lebih merupakan sebuah tanggapan terhadap kepemimpinan Presiden Soekarno. Novel ini bercerita tentang tujuh orang pengumpul damar yang diserang oleh seekor harimau ketika pulang ke desanya. Pimpinan yang karismatik dalam novel ini pun gagal menghindari serangan harimau. Justru pimpinan tersebut yang dijadikan umpan untuk mengakhiri petualangan sang harimau yang telah memakan korban tiga orang dari tujuh orang pencari damar (satu orang dibunuh oleh Wak Katok sang pemimpin karismatik). Sebagai tambahan, novel yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Mandarin ini mendapat penghargaan sebagai Buku Terbaik dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (https://id. wikipedia.org/wiki/Harimau!_ Harimau!).  

Bahasa dan Sastra (114)

 

15. BELAJAR MENULIS WACANA DESKRIPSI (2)

Subagio S. Waluyo



    Di samping bisa menulis deskripsi berkaitan dengan peristiwa yang dialaminya, seseorang bisa juga menulis deskripsi berdasarkan pengalaman hidupnya. Maksudnya, seseorang bisa saja menulis tulisan yang bersifat argumentasi yang didahului dengan tulisan deskripsi. Tulisan dengan judul `Kota Anak-Anak Alfa` yang dijadikan salah satu contoh tulisan di sini, ditulis oleh penulisnya (saya sendiri) sebagai pengantar sebelum membahas lebih jauh tentang gambaran anak-anak yang lahir di atas tahun 2010. Anak-anak yang lahir di tahun 2010 disebut sebagai `Anak-anak Alfa`. Mengutip pendapat Mark Mc Crindle (Nova, 22 September 2015), dimaksudkan dengan `generasi alfa` atau `generasi broadband` atau mobile ialah generasi keturunan awal generasi Y dan  terakhir generasi X. Karena yang dibicarakan adalah anak-anak yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia, jadilah tulisan tersebut berjudul `Kota Anak-Anak Alfa`.

Kamis, 01 Desember 2022

Bahasa dan Sastra (113)

 14. BELAJAR MENULIS WACANA DESKRIPSI (1)

Subagio S. Waluyo


    Kita telah belajar menulis paragraf dengan menggunakan berbagai cara seperti yang dicontohkan dalam tulisan-tulisan yang terdapat di website: www.subagiowaluyo.com. Secara berurutan dijelaskan di website tersebut cara-cara, baik mengaitkan kalimat pertama dengan kalimat yang kedua dan seterusnya maupun mengawali tulisan pada saat kita kesulitan menuliskan kalimat pertama di sebuah paragraf. Cara pertama kita bisa menggunakan konjungsi atau kata penghubung antar kalimat. Ada 53 konjungsi baik berupa kata maupun frasa yang bisa kita gunakan (“2. Saatnya Menulis”). Cara kedua kita bisa menggunakan kata-kata kunci yang bisa digunakan secara berulang-ulang di setiap atau beberapa kalimat dalam satu paragraf (“3. Penggunaan Pengulangan Kata Kunci”). Cara ketiga kita bisa menggunakan definisi. Maksudnya, kita bisa mengawali sebuah tulisan dengan mengutip sebuah definisi (“4. Awali dengan Definisi”). Cara keempat kita juga bisa menggunakan kata tanya seperti apa, kapan, di mana, siapa, mengapa, dan bagaimana (“5. Memulainya dengan Pertanyaan”). Cara kelima kita tentu saja bisa menggunakan pernyataan-pernyataan yang memikat. Dalam hal ini bisa saja kita mengawali tulisan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang bikin pembacanya penasaran. Dengan kata lain, bisa menggunakan kata-kata atau frasa-frasa, bahkan kalimat-kalimat yang bombastis (“6. Awali dengan yang Memikat”). Cara keenam sampai kesepuluh kita bisa mengawali tulisan dengan cara mengutip entah itu dari ungkapan para pakar atau ilmuwan, ayat-ayat Al-Quran dan hadis, lirik-lirik lagu, bait-bait puisi, atau petikan-petikan yang terdapat di cerpen, novel, atau naskah drama. Semua itu bisa dilihat dalam tulisan yang dimulai dari “7. Awali dengan Kutipan (1)” sampai dengan “11. Awali dengan Kutipan (5)”. Sebagai pelengkap, masih di website tersebut, kita juga diarahkan untuk bisa menulis paragraf yang dipancing dengan gambar-gambar, baik gambar-gambar ilustrasi maupun gambar-gambar karikatur (“12. Dipancing dengan Gambar Ilustrasi” dan “13. Dipancing dengan Gambar Karikatur”). Diharapkan dengan cara-cara tersebut, kita dimudahkan menulis paragraf pada saat kita mengalami kebuntuan untuk menuangkan gagasan kita ke dalam sebuah tulisan.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...