15. BELAJAR MENULIS WACANA DESKRIPSI (2)
Di samping bisa menulis deskripsi berkaitan dengan peristiwa yang dialaminya, seseorang bisa juga menulis deskripsi berdasarkan pengalaman hidupnya. Maksudnya, seseorang bisa saja menulis tulisan yang bersifat argumentasi yang didahului dengan tulisan deskripsi. Tulisan dengan judul `Kota Anak-Anak Alfa` yang dijadikan salah satu contoh tulisan di sini, ditulis oleh penulisnya (saya sendiri) sebagai pengantar sebelum membahas lebih jauh tentang gambaran anak-anak yang lahir di atas tahun 2010. Anak-anak yang lahir di tahun 2010 disebut sebagai `Anak-anak Alfa`. Mengutip pendapat Mark Mc Crindle (Nova, 22 September 2015), dimaksudkan dengan `generasi alfa` atau `generasi broadband` atau mobile ialah generasi keturunan awal generasi Y dan terakhir generasi X. Karena yang dibicarakan adalah anak-anak yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia, jadilah tulisan tersebut berjudul `Kota Anak-Anak Alfa`.
Berkaitan dengan uraian di atas, ketika seseorang menulis deskripsi bisa saja tulisannya berisikan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa seperti yang dibahas di “16. Belajar Menulis Wacana Deskripsi (1)”, bisa juga berkaitan dengan suasana seperti yang akan kita bahas berikut ini. Ketika menulis wacana deskripsi yang berkaitan dengan suasana, seseorang bisa menggambarkan secara mendetail suasana yang dirasakannya. Dalam tulisan yang akan dibahas berikut ini saya selaku penulis menggambarkan suasana masa kecil penulis di tahun-tahun `60-an dan `70-an di Jakarta. Suasana Jakarta di tahun-tahun tersebut jelas sangat jauh berbeda dengan suasana saat ini. Silakan di simak wacana deskripsi berikut ini yang menggambarkan aktivitas masa kecil saya di kota Jakarta.
|
Masa kecil saya banyak
diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran
lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa
kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya
belajar di luar sekolah, sedikit
sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. `Itu
pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai
datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil
saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain. Selain, belajar di
malam hari sore harinya (itupun cuma paling lama satu jam) saya mengaji.
Mengaji waktu itu baru sekedar belajar membaca Al-Qur`an (alif ba ta).
Orang tua saya sengaja mendatangkan guru mengaji (ustadz) ke rumah. Saya dan
adik-adik saya ikut belajar mengaji. Selesai mengaji saya ke mushola yang letaknya
di sebelah rumah untuk salat magrib. Sementara menunggu waktu salat, sebagai
anak-anak ya saya gunakan untuk bermain. Singkatnya, kapan saja ada
kesempatan tidak ada aktivitas yang lain kecuali bermain. Orang tua saya bukan
melakukan pembiaran kalau aktivitas anaknya cuma bermain. Sekali-sekali juga
turut memarahi. Bahkan, kalau dalam pandangan mereka sang anak sudah dianggap
keterlaluan karena seringnya bermain, sekali-sekali juga orang tua saya
menjewer atau menyentil telinga. Tetapi, namanya juga anak-anak, perilaku
yang dalam pandangan mereka dinilai negatif (karena seringnya bermain) tidak
akan mempan, tetap saja saya dan adik-adik mengulanginya lagi. Meskipun saya
lebih banyak waktunya untuk bermain daripada belajar atau mengaji, prestasi
belajar saya di sekolah tidak pernah buruk. Jika ada pekerjaan rumah (PR),
tanpa disuruh segera saya kerjakan. Kalau PR itu sulit (terutama untuk
belajar berhitung atau matematika) saya bertanya pada teman-teman yang
pendidikannya jauh lebih tinggi daripada saya. Di samping itu, dalam masalah
ibadah sejak kecil saya sudah terbiasa salat lima waktu dan puasa di bulan
Ramadhan. Mungkin karena kebiasaan positif ini yang membuat orang tua saya
pada akhirnya jenuh menegur atau memarahi saya. Ketika kecil orang tua
saya jarang membelikan mainan. Pada waktu itu walaupun sudah ada jenis mainan
produksi pabrik (kebanyakan produk-produk luar dari China), orang tua saya
sekali-sekali saja membelikan mainan. Mungkin karena ada kebiasaan buruk yang
saya lakukan, yaitu mainan yang mereka belikan umumnya umurnya tidak panjang.
Kalau tidak rusak, karena sering dibongkar atau dikutak-katik, ya hilang
tidak jelas rimbanya. Di rumah saya tidak ada tempat khusus untuk tempat
mainan (tidak seperti sekarang ketika saya mempunyai anak dan cucu). Buat
saya dan adik-adik dengan jarangnya orang tua membelikan mainan tidak jadi
masalah karena masih banyak permainan yang bisa mengisi aktivitas bermain
saya yang tentu saja tidak akan mengurangi kesenangan saya. Dengan jarangnya orang
tua membelikan mainan produk pabrik, saya dan adik-adik menjadi kreatif.
Apapun barang-barang bekas di hadapan saya pada waktu itu jadi mainan. Kalau
ada kulit jeruk bali, saya jadikan mobil-mobilan. Kalau ada kertas bekas,
saya jadikan pesawat terbang atau kapal laut. Bahkan, sekali-sekali saya buat
layangan dari kertas koran atau kertas bekas pembungkus (semacam kertas
minyak yang berwarna merah, kuning, hijau, atau putih). Uang jajan saya
belikan benang gelasan. Sekali-sekali dengan teman-teman saya buat benang
gelasan dengan hanya melihat orang yang membuat benang gelasan. Walaupun
hasil buatan saya tergolong tidak bagus, buat saya yang penting saya bisa
ikut bermain layang-layang. Kali lain, ada balon
gas yang sudah meletus saya bakar untuk dijadikan alat menangkap capung.
Karena kurang hati-hati, hasil bakaran itu mengenai tangan kiri saya. Lumayan
panas dan melepuh. Beberapa hari tangan saya melembung seperti ada cairan.
Ketika saya tusuk cairan itu, sakitnya luar biasa. Tapi, memang dasar
anak-anak, tetap saja saya melakukan hal yang sama walaupun saya telah
belajar dari pengalaman terdahulu agar tidak lagi melukai tangan saya.
Lelehan balon itu saya tempelkan di lidi. Jadilah dengan alat itu saya
menangkap capung. Benar-benar permainan yang murah yang menimbulkan kepuasan
jiwa anak-anak. Untuk membeli mainan
tradisional seperti meriam bambu, saya harus merogoh dari kantung sendiri.
Dulu di pinggiran kali Ciliwung ada orang yang menjual bambu-bambu yang bisa
digunakan meriam bambu. Biasanya, saya membeli bambu bersama adik-adik saya
dan beberapa teman. Bermain meriam bambu dengan modal yang relatif kecil
sangat menyenangkan. Tetapi, aktivitas meniup asap yang ada di bambu yang
diteruskan dengan menyundutnya sehingga terdengar gelegarnya sebuah
kenikmatan tersendiri meskipun suara
letupannya jika dibandingkan dengan petasan tentu saja jauh lebih keras suara
petasan. Terkadang sebagai
anak-anak, mungkin ini efek dari seringnya baca-baca komik yang penuh dengan
cerita heroik atau nonton film-film perang di TV (pada waktu itu cuma ada
TVRI) yang hitam putih saya dan teman-teman membuat ketapel. Lagi-lagi bahan
dasar untuk membuat ketapel juga dari barang-barang bekas yang ada di sekitar
kita yang sangat mudah didapat. Masih tentang kisah-kisah heroik, karena saya
dan teman-teman sering nonton tv yang bercerita tentang kehebatan samurai
yang tokohnya utamanya (kalau tidak salah) Shintaro, saya membuat
pedang-pedangan dari bambu bekas pagar rumah. Sebagai pelindung agar tangan
yang memegang alat itu tidak terluka ketika bermain saya gunakan karet bekas
sendal jepit yang dipotong pas ukuran genggaman tangan. Singkat kata,
semua benda yang dijadikan mainan relatif dari bahan-bahan yang mudah
didapat. Kalau terpaksa harus beli, juga tidak harus merogoh kantung terlalu
dalam alias murah. Jadi, permainan anak-anak di masa itu yang mahal bukan
harganya tetapi kreativitasnya. Meskipun saya lahir
tinggal dan besar (sampai dewasa dan berkeluarga) di ibukota, Jakarta,
kondisi Jakarta pada tahun-tahun `60-an dan `70-an tidak seperti sekarang.
Pada waktu itu halaman-halaman rumah masih cukup luas. Masih banyak didapati
tanah lapang yang bisa saya gunakan untuk bermain dengan teman-teman. Segala
macam bentuk permainan anak-anak yang sekarang ini dikenal sebagai permainan
tradisional banyak dimainkan. Umumnya, permainan tradisional itu sebagian
besar tidak perlu keluar uang. Permainan anak-anak seperti `galasin` (kalau
di Jawa Tengah dinamakan `gobak sodor`) yang dimainkan secara massal yang
terbagi dalam dua grup (satu grup bisa sampai empat atau enam orang).
Permainan ini hanya butuh tanah yang agak luas dan rata (ada tanah yang
luasnya 100 meter juga sudah cukup) atau kalau ada lapangan badminton yang
sedang tidak digunakan juga bisa dipakai untuk bermain `galasin` (bahasa
Jawanya `gobak sodor`). Permainan ini akan terasa lebih nikmat jika dimainkan
di malam hari ketika terang bulan. Hampir semua permainan
anak-anak yang tergolong tradisional yang bisa dimainkan bersama-sama dan
tidak butuh biaya (kalau terpaksa harus keluar uang juga relatif murah),
seperti `petak umpet`, `benteng`, `egrang`, `perang-perangan`, `bola kasti`,
`layangan`, dan `galasin` membutuhkan tenaga ekstra. Dengan bermain `galasin
saja, misalnya, anak harus bisa berlari cepat, lincah, cekatan, dan harus
bisa mengelabui musuhnya yang menjadi penjaga. Jenis permainan seperti
galasin juga mebutuhkan kekompakan kelompok. Dalam permainan ini dibutuhkan
adanya kesatuan komando sehingga untuk bisa memainkannya dengan apik harus
ada satu orang yang menjadi kepala regu. Permainan yang membutuhkan tenaga yang kuat, keterampilan, dan keseimbangan seperti `egrang` tidak semua anak bisa memainkannya. Agar anak bisa memainkan `egrang` dengan lancar dibutuhkan latihan berkali-kali. Banyak juga anak yang tidak bisa menjaga keseimbangan ketika bermain `egrang` sering terjatuh dan terkilir. Jenis permainan seperti ini memang sedikit membahayakan. Tetapi, tetap saja, jenis permainan ini menggembirakan baik bagi anak yang bermain maupun yang hanya menjadi penonton. Sebagai pelengkap, perlu juga diketahui permainan tradisional yang dimainkan anak-anak juga mengajarkan anak belajar berhitung. Jenis permainan seperti `congklak`/`dakon` baru bisa dimainkan kalau anak sudah bisa berhitung. Tentu saja, ini yang sangat perlu diketahui, semua jenis permainan tradisional membutuhkan keterampilan dan kejujuran. (Dikutip dari “Kota Anak-Anak Alfa” oleh Subagio S.Waluyo) |
Tulisan di atas
menggambarkan masa kecil saya (selaku penulis) yang sebagian besar waktunya
dihabiskan untuk bermain. Jika di bandingkan dengan anak-anak alfa seperti
sekarang ini, aktivitas bermain saya di waktu kecil lebih kreatif. Di atas
digambarkan permainan yang saya lakoni di waktu kecil pertama, ada kebersamaan,
seperti bermain petak umpet atau perang-perangan.
Kedua, dibutuhkan energi, seperti bermain galasin (gobak sodor)
dan bermain bola kasti. Ketiga, dibutuhkan keterampilan khusus, seperti bermain
egrang (bahkan permainan ini juga dibutuhkan keseimbangan dan
keterampilan). Keempat, dibutuhkan kemampuan berhitung, seperti bermain congklak
(dakon). Kelima, dibutuhkan kreativitas dengan memanfaatkan semua benda
yang ada di hadapan kita, seperti membuat perahu-perahuan dari kulit jeruk bali
atau membuat benang gelasan untuk bermain layang-layang atau membuat
layang-layang dari kertas koran. Singkatnya, tulisan di atas jelas-jelas
menggambarkan permainan tradisional membutuhkan keterampilan, kreativitas, dan
kejujuran. Bagaimana dengan permainan anak-anak sekarang ini? Anak-anak yang
lahir di atas tahun 2010 (bahkan beberapa tahun sebelumnya), boleh dikatakan
jauh dari kebersamaan, keterampilan, kekuatan energi, kreativitas, dan
kejujuran.
***
Daron Acemoglu dan James
A.Robinson ketika menulis Mengapa Negara
Gagal memulainya dengan mengambil contoh dua kota di dua negara. Uniknya kota
itu sama namanya. Satu di wilayah Amerika Serikat (AS), kota Nogales, Arizona.
Satu lagi di wilayah Meksiko, Nogales, Sonora. Kedua penulis itu
mendeskripsikan kedua kota tersebut bukan sebatas adanya pagar tapal batas,
tapi juga suasana dan kondisi kota berikut penduduknya. Disebutkan terlebih
dahulu kota Nogales, Arizona yang terletak di sebelah utara. Kota ini pendapatan
per kapitanya tergolong tinggi, yaitu $30.000 per tahun. Secara fisik mereka sehat
karena terjamin oleh sistem pelayanan kesehatan di AS. Orang-orang lansia juga dijamin
oleh asuransi kesehatan. Kebutuhan penduduknya entah itu listrik, jaringan
telepon, sampai dengan jaringan jalan terhubung dengan baik ke beberapa kota.
Bahkan, pendidikannya juga terjamin karena para remaja di kota tersebut
berpendidikan minimal menengah ke atas. Meskipun tidak bersih dari korupsi
(sesekali ada korupsi) umumnya beranggapan kalau itu semua dilakukan untuk melayani masyarakat juga. Yang lebih penting, masyarakat diberi kebebasan untuk
melakukan entah pemilihan walikota,anggota kongres, senator, dan presiden.
Bagaimana dengan kota
Nogales, Sonora yang terletak di wilayah Meksiko? Justru, kebalikannya dengan
kota Nogales, Arizona, yang jauh lebih makmur. Kota Nogales, Sonora,
benar-benar kondisinya memprihatinkan. Nanti bisa kita lihat pada tulisan di
bawah ini. Meskipun demikian, ada satu hal yang menarik dari tulisan kedua
penulis buku tersebut ketika mengawali tulisan membandingkan dua kota yang
bersebelahan, yaitu menampilkan dua sisi kota yang bernasib berseberangan. Dari
kota yang penduduknya bernasib kurang baik boleh jadi itu merupakan jawaban
pertama dari judul buku yang diawali dengan kata tanya `mengapa`. Judul buku
Mengapa Negara Gagal sudah langsung dijawab dengan tulisan deskripsi yang
berisikan nasib dua kota yang nasib penduduknya juga berbeda. Untuk lebih
jelasnya kita baca saja tulisan berikut ini.
|
Kota Nogales terbelah
oleh bentangan pagar tapal batas. Jika Anda berdiri di balik pagar itu dan
menghadap ke utara, di depan mata terhampar kota Nogales, Arizona, yang
termasuk ke dalam wilayah Santa Cruz County. Pendapatan perkapita rata-rata
warga di sana kurang lebih $30.000 per tahun. Kebanyakan remajanya bersekolah
dan mayoritas warga dewasa lulus sekolah menengah. Meski banyak orang
mengecam payahnya sistem pelayanan kesehatan Amerika Serikat, populasi kota
Nogales, Arizona relatif sehat dan harapan hidup mereka cukup tinggi menurut
standar global. Banyak warganya yang sudah berusia di atas enam puluh lima
tahun dan memiliki akses layanan asuransi kesehatan. Jaminan kesehatan adalah
satu dari sekian banyak layanan pemerintah yang pasti bisa dinikmati warga,
seperti halnya sambungan listrik, jaringan telepon, sistem pembuangan limbah,
pelayanan kesehatan publik, jaringan jalan yang menghubungkan segenap
penduduk dengan kota-kota lain di wilayah itu dan semua penjuru Amerika
Serikat jaminan penegakan hukum dan ketertiban. Para warga Nozales, Arizona,
bebas beraktivitas setiap hari tanpa mencemaskan keselamatan jiwanya, tanpa
takut dirampok atau haknya dirampas, atau mencemaskan hal-hal lain yang bisa
mengacaukan investasi mereka dalam bidang usaha maupun kepemilikan tempat tinggalnya.
Dan yang tak kalah penting, para warga kota Nogales, Arizona, tahu bahwa
pemerintah yang dianggap kurang efisien dan sesekali korup itu bekerja untuk
mereka. Mereka bisa memberi suara untuk mengganti walikota, anggota kongres
dan senator, serta mengikuti pemilu kepresidenan untuk memilih orang yang
akan memimpin negaranya. Demokrasi sudah mendarah daging dalam kehidupan
mereka. Kehidupan di sebelah
selatan pagar tapal batas, walau jaraknya hanya beberapa meter, terasa agak
berbeda. Meski warga kota Nogales, Sonora, hidup di wilayah yang relatif
makmur di negara Meksiko, rata-rata pendapatan penduduknya hanya sepertiga
dari pendapatan saudara mereka yang tinggal di Nogales, Arizona. Sebagian
besar warga dewasa kota Nogales, Sonora, tidak sempat mengenyam pendidikan
tingkat menengah dan banyak remaja yang tidak bersekolah. Kaum ibu dicekam
oleh tingginya angka kematian bayi. Kondisi pelayanan kesehatan yang buruk
menyebabkan harapan hidup warga Kota Nogales, Sonora, tidak setinggi tetangga
mereka yang hidup di seberang tapal batas. Mereka juga tak bisa menikmati
sejumlah pelayanan publik. Jalan-jalan di sebelah selatan tapal batas
kondisinya sunggu memprihatinkan. Penegakan hukum dan ketertiban umum jauh
lebih mengenaskan. Angka kejahatan sangat tinggi dan membuka usaha di sana
adalah aktivitas yang penuh risiko. Bukan cuma aksi perampokan yang mengancam
para pelaku usaha; sulitnya mengurus perizinan dan membagi uang pelicin dari
meja ke meja sekadar untuk memulai usaha menjadi risiko yang luar biasa
besarnya. Sehari-hari, para warga kota Nogales, Sonora, hidup di bawah
bayang-bayang politisi korup dan pemerintah yang payah. Berbeda dengan kehidupan
tetangganya yang ada di sebelah utara tapal batas, demokrasi merupakan
pengalaman baru bagi mereka. Sebelum terjadinya reformasi politik tahun 2000,
Nogales, Sonora, seperti kota-kota lainnya di Meksiko, dikuasai oleh Partai
Revolusioner Institusional atau Paratido Revolucionario Institucional (PRI)
yang terkenal korup. |
***
Kita juga bisa menulis
tentang kota Berlin yang dulu pernah terbelah ke dalam dua bagian besar: kota
Berlin Barat dan Berlin Timur. Keduanya juga dikuasai oleh dua negara: Republik
Federasi Jerman dan Republik Demokrasi Jerman. Kedua kota tersebut juga mencerminkan
dua sisi ideologi negara: kapitalis dan komunis. Untuk menulis deskripsi yang
menggambarkan tentang kedua kota tersebut, silakan dicari referensinya! Di
internet banyak referensi yang pernah ditulis orang atau tim penulis tentang
kedua kota tersebut. Bisa kita cari di Wikipedia atau di Google search. Silakan
dicoba menulis tentang dua kota di Jerman yang pernah terbelah: kota Berlin
Barat dan Berlin Timur!
1. (https://kumparan.com/yusuf-arifin/kisah-dua-nagoles)
2.(https://bolaskor.com/post/read/union-vs-hertha-alasan-derby-berlin-jadi-laga-spesial)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar