Minggu, 22 Januari 2023

Bahasa dan Sastra (130)

31. MASALAH-MASALAH KEBAHASAAN (2) 

Subagio S.Waluyo



Masalah kebahasaan berikutnya, setelah membahas masalah kata bentukan dan pilihan kata adalah masalah kalimat. Masalah kalimat yang perlu dibahas di antaranya adalah frasa, klausa dan kalimat, kalimat efektif, dan kalimat partisipial. Karena demikian banyak yang harus dibahas, untuk kali ini kita hanya membahas masalah frasa, klausa, dan kalimat. Untuk kalimat itu sendiri juga belum tuntas bisa dibahas seperti kalimat kompleks, kalimat majemuk, kalimat majemuk kompleks, kalimat efektif, dan kalimat partisipial. Karena itu, kalimat-kalimat yang belum dibahas akan dituntaskan pada “32. Masalah-Masalah Kebahasaan (3)”.

1. Frasa

Sebelum membahas masalah kalimat, kita membahas dulu masalah frasa. Apa itu frasa? Apa ciri-ciri frasa (lihat di Informasi Tambahan)? Apa saja jenis-jenis frasa? Apa saja wujud frasa? Terakhir, contoh-contoh frasa yang perlu dimasukkan dalam pembahasan ini. Semua hal yang berkaitan dengan frasa bisa dilihat pada slide yang ditampilkan di bawah ini. Diharapkan dengan membahas masalah frasa, kita semakin tahu bahwa dalam kalimat dibutuhkan adanya frasa.

Informasi Tambahan

Dari slide-slide di atas telah kita ketahui pengertian frasa dan contoh-contohnya. Kita juga perlu tahu tentang ciri-ciri frasa. Ciri-ciri frasa antara lain:

  1. Frasa harus terdiri minimal dua kata atau lebih.
  2. Menduduki atau mempunyai fungsi gramatikal dalam kalimat.
  3. Frasa harus mempunyai satu makna gramatikal.
  4. Frasa bersifat nonpredikatif.
  5. Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat.

(https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-frasa/)

Sebagai tambahan, pada saat membahas masalah frasa, kita juga harus tahu bahwa frasa itu ada dua macam, yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Kita juga perlu mengetahui lebih jauh tentang wujud frasa dan hubungan antarunsur dalam frasa. Kita coba lihat slide-slide berikut ini.

2.  Klausa dan Kalimat

Setelah membahas masalah frasa, sekarang kita membahas klausa dan kalimat. Apa itu klausa? Apa yang menjadi ciri-ciri klausa? Apa bedanya klausa dengan kalimat? Untuk mengetahui perbedaan keduanya bisa dilihat contoh-contohnya. Sebagai pelengkap, tentu saja akan ada sedikit Informasi Tambahan. Dengan cara seperti ini kita semakin bertambah memahami tentang klausa dan kalimat. Kita lihat dulu slide-slidenya.

(https://www.ruangguru.com/blog/frasa-klausa-kalimat)

Informasi Tambahan

(https://www.ruangguru.com/blog/frasa-klausa-kalimat)

Berkaitan dengan masalah kalimat, sebagaimana telah disampaikan di atas, masih ada masalah kalimat yang belum kita bahas. Pada “32. Masalah-Masalah Kebahasaan (3)” akan kita bahas secara lengkap yang berkaitan dengan kalimat di antaranya kalimat kompleks, kalimat majemuk, kalimat majemuk kompleks, kalimat efektif, dan kalimat partisipial. Sama seperti yang kita bahas di atas, pada bagian lanjutan tentang kalimat akan dilengkapi dengan pengertian, ciri-ciri, jenis-jenis, contoh-contoh, perhatian-perhatian, dan informasi tambahan. Silakan kita pelajari tentang kalimat berikutnya!

Sumber Gambar:

(https://basinggris.blogspot.com/2020/01/apa-itu-sentence.html )

Jumat, 20 Januari 2023

Bahasa dan Sastra (129)

 30. MASALAH-MASALAH KEBAHASAAN (1)

Subagio S. Waluyo

`Berjalan pelihara kaki. Berbicara pelihara lisan`, demikian orang membuat adagium yang ditujukan pada orang yang tidak bisa berbicara baik. Jadi, untuk mematahkan pembicaraan orang cukup dengan menyampaikan adagium tersebut. Syukur-syukur kalau orang itu mengerti, kalau tidak, akan keluar bentakan `jaga mulutmu!`, kata orang yang sudah sebel dengar kata-katanya yang (mungkin) tidak mengenakkan. Itu dalam bahasa lisan. Dalam bahasa tulisan juga berlaku adagium sama tapi tak serupa, yaitu: `menulis pelihara diksi`. Maksudnya, siapapun orangnya yang mau menulis pandai-pandai memilih diksi (pilihan kata).

Rabu, 18 Januari 2023

Bahasa dan Sastra (128)

29. BELAJAR MENULIS WACANA NARASI (2)

Subagio S. Waluyo



Narasi selain ceritanya diangkat dari fakta juga bisa dari fiksi. Orang sebut sebagai cerita rekaan. Namanya juga karya fiksi atau cerita rekaan, jenis tulisan seperti ini didominasi oleh reka-reka atau dari hasil khayalan. Karya hasil khayalan sudah tentu berasal dari khayalan (imajinasi) penulisnya. Selain imajinasi juga didominasi oleh perenungan (kontemplasi). Jadi, perpaduan imajinasi dan kontemplasi menghasilkan karya fiksi entah itu namanya cerita pendek (cerpen), novel, atau naskah drama. Orang semakin mendalam melakukan imajinasi dan kontemplasi, semakin baik hasil karya fiksinya. Sebaliknya, semakin cetek imajinasi dan kontemplasinya, semakin cetek juga hasil karya fiksinya. Kira-kira begitu kita berasumsi. Apakah bisa dibenarkan asumsi kita itu? Silakan saja dilakukan penelitian lebih mendalam tentang itu! Mudah-mudahan saja asumsi itu bisa dibuktikan!

Bahasa dan Sastra (127)

28. BELAJAR MENULIS WACANA NARASI (1)

 Subagio S.Waluyo


Narasi itu disebut juga cerita. Cerita bisa berangkat dari fakta. Orang sebut sebagai autobiografi atau biografi. Autobiografi Wikipedia menyebutnya sebagai riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh dirinya sendiri (https://id.wikipedia.org/wiki/ Autobiografi). Sedangkan biografi Wikipedia menyebutnya sebagai karya sastra yang berisikan riwayat hidup seorang tokoh yang dianggap penting oleh masyarakat tertentu (https://id.wikipedia.org/ wiki/Biografi). Jadi, kalau merujuk pada Wikipedia biografi merupakan karya sastra. Autobiografi bukan karya sastra walaupun ditulis oleh seorang sastrawan? Tampaknya, kita tidak perlu memasalahkan kedua kata tersebut. Kita hanya memastikan autobiografi dan biografi termasuk narasi yang berangkat dari fakta walaupun terkadang muatan keduanya ada juga unsur imajinasinya. Berikut ini contoh keduanya yang bisa kita pelajari penulisannya. 

Jumat, 13 Januari 2023

Bahasa dan Sastra (126)

 27. BELAJAR MENULIS WACANA PETUNJUK/TIPS (3)

Subagio S.Waluyo


Bagian terakhir dari “Belajar Menulis Petunjuk/Tips” adalah tips menulis wacana. Untuk tips menulis wacana, alangkah baiknya kalau kita meninjau kembali tulisan-tulisan yang berkaitan dengan seseorang yang mengalami kesulitan ketika mengawali sebuah tulisan. Orang yang mengalami kesulitan ketika mengawali sebuah tulisan sebagaimana pernah disinggung dalam tulisan-tulisan terdahulu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara yang pernah ditawarkan di antaranya diawali dengan:

1.   menuliskan definisi;

2.   mengajukan berbagai pertanyaan;

3.   menunjukkan sesuatu yang memikat;

4.   mengutip dari berbagai kutipan;

5.   dipancing melalui gambar ilustrasi; dan

6.   menjadikan gambar karikatur sebagai insipirasi.

Keenam cara tersebut bisa kita coba pratekkan dalam tulisan kita kali ini yang membahas tentang tips menulis wacana.

 [Uraian di atas bisa dijadikan paragraf pembuka dalam tips menulis wacana.] 

Selasa, 10 Januari 2023

Bahasa dan Sastra (125)

 

26. BELAJAR MENULIS WACANA PETUNJUK/TIPS (2)

Subagio S. Waluyo


 

  1. Siapa lagi ..??? ya jelas  tikus got yg itu-itu aje bro. 
  2. Yang komen pada ga . ga tau permasalahannya dasar xxxx..lu pada.
  3. Untuk menusuk  pemerintah dari dalam dan menambah kekuatan mereka yang sudah ada di dalam plus mendapatkan proyek pemerintah agar kocek partai terisi kembali.
  4. Menpora wajib diganti sudah membunuh sepakbola yg merupakan olahraga masyarakat.
  5. Sejak kapan waras  otak lu. Apa lu udah baru saja minum obat. Tumben otak lu encer.
  6. Kalo semua keinginan warga dituruti sodetan ndak bakalan selesai. Sialnya warga maunya banyak. Sampe kiamatpun pun tak terwujud karena kalian kalo disuruh baik-baik tak di gubris jd terpaksa di gusur sajalah.
  7. kalau DPR-RI itu ibaratnya lampu lalulintas jalan: ada hijau (tanda jalan), ada kuning (peringatan), kemudian lampu merah (Stop): kegaduhan isu reshuffle!

(Dikutip dari Skripsi Dewi Erlinawati: “Penggunaan Disfemia dalam Komentar Para Netizen di Situs Online Kompas.Com pada Rubrik Politik)

 

Ketika membaca kutipan di atas, di mana biasanya kita temukan tulisan dengan gaya seperti itu? Kita pasti akan mengatakannya di What`s App (WA). Ya, memang gaya penulisan seperti itu adanya di WA. Rupanya ada juga yang tertarik melakukan penelitian tentang gaya penulisan di WA atau di dunia maya. Adalah Dewi Erlinawati seorang mahasiswa calon sarjana yang tertarik melakukan penelitian tentang “Penggunaan Disfemia dalam Komentar Para Netizen di Situs Kompas.Com pada Rubrik Politik”. Kata `disfemia` menurut Dewi Erlinawati merupakan antonim dari eufemisme: mengubah ungkapan halus menjadi ungkapan kasar dan digunakan untuk mengungkapkan rasa tidak senang. Ungkapan disfemia memang banyak digunakan para netizen ketika berselancar di dunia maya. Ungkapan-ungkapan yang disampaikan netizen tentu saja ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, menjijikkan, vulgar, tabu, dan tidak senonoh.

***


Sesuai dengan uraian di atas, kali ini kita akan belajar menulis wacana dengan memasukkan tips yang berkaitan tips berselancar di dunia maya. Di atas telah dijelaskan bahwa ketika para netizen berselancar di dunia maya sering menyampaikan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, vulgar, tabu, menjijikkan, dan tidak senonoh. Ungkapan-ungkapan yang termasuk dalam disfemia itu jelas-jelas bertujuan menjatuhkan entah lawan bicaranya, orang-orang atau masyarakat yang dianggap berseberangan, atau pihak-pihak tertentu (bisa juga penguasa atau pemerintah) yang dikategorikan sebagai musuh yang layak untuk dideskriditkan atau dinyinyirkan. Perilaku seperti itu jelas merupakan cermin orang-orang yang dengki atau hasad. Perilaku seperti itu tidak bisa dibiarkan. Perilaku seperti itu harus dieliminasi. Meskipun boleh dikatakan sulit dan tidak mungkin mengeliminasinya, minimal kita harus berusaha setidak-tidaknya perilaku seperti itu harus berkurang. Bagaimana caranya? Ini sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Sebagai langkah awal menjawab pertanyaan itu adalah kita tulis dulu paragraf pembukanya. Untuk paragraf pembukanya bisa saja kita ambil dari tulisan di atas dengan terlebih dahulu memasukkan contoh-contoh ungkapan yang dikategorikan sebagai disfemia tersebut.

 

       Ketika membaca kutipan di atas, di mana biasanya kita temukan tulisan dengan gaya seperti itu? Kita pasti akan mengatakannya di What`s App (WA). Ya, memang gaya penulisan seperti itu adanya di WA. Rupanya ada juga yang tertarik melakukan penelitian tentang gaya penulisan di WA atau di dunia maya. Adalah Dewi Erlinawati seorang mahasiswa calon sarjana yang tertarik melakukan penelitian tentang “Penggunaan Disfemia dalam Komentar Para Netizen di Situs Kompas.Com pada Rubrik Politik”. Kata `disfemia` menurut Dewi Erlinawati merupakan antonim dari eufemisme: mengubah ungkapan halus menjadi ungkapan kasar dan digunakan untuk mengungkapkan rasa tidak senang. Ungkapan disfemia memang banyak digunakan para netizen ketika berselancar di dunia maya. Ungkapan-ungkapan yang disampaikan netizen tentu saja ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, menjijikkan, vulgar, tabu, dan tidak senonoh.

 

          Setelah menuliskan satu paragraf yang kita ambil dari paragraf di atas, langkah selanjutnya kita tuliskan tips berselancar di dunia maya.Tips yang akan kita sampaikan itu merupakan paragraf isi. Sama halnya yang pernah ditulis di “25. Belajar Menulis Petunjuk/Tips (1)”, kita bisa saja memulainya dengan menuliskan butir-butirnya. Butir-butirnya di antaranya adalah:

1.   cermat dalam membagikan unggahan;

2.   jangan mudah menyebarkan informasi tidak akurat atau isu sara;

3.   manfaatkan sisi positif media sosial;

4.   tetap menjaga etika berbahasa;

5.   harus bisa menahan emosi;

6.   mengikuti orang-orang yang inspiratif;

7.   membangun koneksi.

Ketujuh butir tersebut memang bukan murni dari hasil tulisan kita. Tapi, tidak ada salahnya kita mencoba menguraikan setiap butir tersebut ke dalam tulisan kita. Sebelum menuliskan uraiannya, boleh-boleh saja kita menjadikan uraian yang disampaikan penulis sebagai bahan referensi atau bandingan yang bisa menginspirasi kita untuk menulis. Tentang ketujuh tips tersebut bisa kita lihat dalam tulisan yang terdapat pada tabel berikut ini.

 

 

1. Cermat dalam membagikan unggahan

 

Sebelum memutuskan untuk mengunggah sesuatu, kita harus selalu berhati-hati ketika membagikan suatu postingan. Karena akan ada banyak orang yang melihat unggahan kita, hal tersebut akan menjadi berbahaya apabila Anda mengunggah sembarangan konten. Oleh sebab itu, pikirkan terlebih dahulu sebelum mem-posting sesuatu. Jangan sampai postingan tersebut malah menjadi boomerang bagi kita ataupun orang lain.

 

2. Jangan mudah menyebarluaskan informasi tidak akurat maupun isu SARA

 

Tidak menyebarkan hoax atau isu SARA juga menjadi salah satu cara menggunakan media sosial dengan bijak. Mengingat saat ini banyak berita hoax maupun isu SARA tersebar di media sosial sehingga tak jarang ada juga orang yang mempercayainya. Ada baiknya Anda telusuri fakta sebelum menyebarkan hal-hal yang tidak dipahami di media sosial.

Sebaliknya, saat menerima informasi yang terasa aneh dan janggal, telusuri dulu kebenarannya. Jangan menelan informasi secara bulat-bulat, filter dan telaah. Melihat fenomena tersebut, jangan sampai Anda ikut-ikutan membagikan berita tidak benar di platform social media. Sebab, perilaku itu akan membuat Anda rentan terjerat hukum.

 

3. Manfaatkan sisi positif media sosial

 

Banyak sisi positif dari media sosial yang bisa kita rasakan, antara lain: menjalin silaturahmi, memamerkan jualan atau dagangan kita, menemukan jejak teman lama dan lainnya. Di sisi lain, kita juga bisa mengubah hal negatif menjadi hal positif, seperti saat kita iri ketika melihat teman yang selalu membagikan kesuksesannya di Instagram. Daripada iri terus-menerus, kita bisa  menggunakan hal tersebut sebagai pendorong untuk memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik lagi dan bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.

 

4. Tetap menjaga etika berbahasa

 

Walaupun kita sedang berada di media sosial. Pasal undang-undang mengawasi dan jejak digital tidak akan hilang. Oleh sebab itu, tetaplah menjaga kesantunan dalam memberikan komentar. Jangan sampai menyinggung, menyakiti atau membully orang lain.

 

5. Harus bisa menahan emosi

 

Sebelum nekat memberikan komentar atau mengunggah curahan hati alias curhat. Ada baiknya tahan emosi dan jangan meluapkan emosi di media sosial, atau Anda bisa merugi sebab dapat mempermalukan diri sendiri dan/atau merugikan orang lain.


6. Mengikuti orang-orang yang inspiratif

 

Untuk mencapai kesuksesan hidup, tak ada salahnya Anda mengikuti kisah-kisah orang sukses yang inspiratif di media sosial. Selain dijadikan motivasi, dari mereka kita juga bisa belajar tentang cara membuat rencana yang baik demi meraih apa yang ditargetkan. Kita bisa menggunakan media sosial sebagai platform untuk mengembangkan diri. Misal bagi yang suka berbicara, Anda bisa menjadi content creator seputar public speaking. Jika banyak orang menyukai video Anda, bukan tidak mungkin ini jadi sumber penghasilan Anda, lho!


7. Membangun koneksi


Karena ruang lingkup media sosial sangatlah luas bahkan dapat dijangkau ke seluruh dunia, Anda bisa memanfaatkannya untuk membangun relasi sebanyak-banyaknya. Tujuannya adalah menambah wawasan yang baru. Semakin banyak Anda mendapatkan insight dari banyak orang di berbagai negara maka wawasan Anda juga akan semakin luas. Selain itu, akan lebih baik jika Anda juga mencari orang-orang yang bekerja di bidang yang Anda minati supaya bisa bertukar pengetahuan dan pikiran.

 Penulis: Sri Widyastuti

 (https://www.fimela.com/lifestyle/read/5049641/7-cara-cerdas-dan-bijak-menggunakan-media-sosial)

 ***


Sebagai kalimat pertama di paragraf isi, kita bisa menulis kalimat seperti ini: “Ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, menjijikkan, vulgar, tabu, dan tidak senonoh yang dilakukan para nitizen tidak bisa dilakukan pembiaran”. Kemudian, teruskan dengan kalimat kedua yang isinya alasan tidak dibolehkan adanya pembiaran. Setelah itu, baru kita masukkan tips berselancar di dunia maya yang kesemuanya ada tujuh butir itu. Setiap butir dijelaskan entah itu pengertiannya (maksudnya apa), alasannya, dan solusinya. Boleh-boleh saja kita menuliskannya satu butir satu paragraf. Kalau tidak mampu menuliskan satu butir jadi satu paragraf, kita boleh saja menuliskannya dalam satu paragraf ada dua butir sehingga diperkirakan kita akan bisa menulis di paragraf isi ada empat paragraf. Langkah terakhir, kita menulis paragraf penutup. Di paragraf penutup, kita sah-sah saja memberikan rekomendasi pada pembaca untuk mencari referensi di luar tulisan kita yang diperkirakan akan memperkaya wawasan pembaca. Meskipun demikian, kita jangan sampai lupa untuk memberikan sedikit kesimpulan tentang isi tulisan kita.






Senin, 09 Januari 2023

Bahasa dan Sastra (124)

 25. BELAJAR MENULIS WACANA PETUNJUK/TIPS (1)

Subagio S. Waluyo


Manusia hidup harus dibekali dengan petunjuk. Ya, dengan petunjuk! Tanpa petunjuk manusia akan melakukan apa saja yang dia maui. Memang, manusia diberi kebebasan untuk melakukan apapun. Tapi, harap diingat, manusia ketika mau melakukan apapun yang dia maui baik yang dia maui itu masih dalam batas-batas kewajaran maupun yang dipandang sesama manusia tidak wajar harus mengikuti petunjuk. Kalau masih mengaku sebagai orang beragama, misalnya dalam hal ini Islam, petunjuknya sudah ada dalam kitab suci Al-Quran dan Hadis. Jadi,sebagai seorang Islam (Muslim) semua yang mau dilakukan harus berpatokan pada petunjuk yang sudah jelas-jelas ada: Al-Quran dan Hadis.

     Dalam kehidupan bermasyarakat juga ada petunjuk. Petunjuk itu boleh jadi dibuat oleh masyarakat. Bisa saja petunjuk itu tidak tertulis. Tapi, akan lebih baik lagi kalau tertulis. Petunjuk itu bisa saja disebut peraturan atau hukum adat yang sudah disepakati bersama. Hukum adat yang sudah disepakati bersama itu harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat yang ada di wilayah hukum adat itu diberlakukan. Konsekuensinya adalah siapa pun yang melanggar aturan harus mendapat sanksi hukum.   

     Dalam lingkup yang lebih besar, kehidupan bernegara, juga harus ada petunjuk. Petunjuk itu bisa bernama undang-undang, peraturan daerah, atau peraturan gubernur, peraturan walikota, dan peraturan bupati. Peraturan itu dibuat oleh anggota dewan, baik anggota dewan level daerah (provinsi dan kota atau kabupaten) maupun level nasional (anggota dewan pusat). Peraturan itu memang diamanahkan pada anggota dewan dalam penyusunannya. Tapi, dalam prakteknya bisa saja dipercayakan pada `orang-orang akademis` yang berasal dari perguruan tinggi (PT) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). Setelah naskah akademik dan peraturan daerah atau undang-undang selesai disusun, kini tiba gilirannya para wakil rakyat terhormat mempelajari dan sekaligus mengesahkan naskah akademik, peraturan daerah, atau undang-undang yang telah disusun oleh `orang-orang akademis`. Peraturan daerah atau undang-undang yang sudah disahkan harus diimplementasikan untuk dilaksanakan.

***

     Dalam menulis wacana juga bisa dimulai dari sebuah petunjuk. Orang biasa menyebut petunjuk dengan `tips`. Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ditemukan kata `tips`. Kata tersebut dianggap tidak baku. Yang ada `tip3 atau `tip (3)`. Tapi, kata tersebut tidak lazim digunakan. Untuk menghindari ketidaklaziman, kita gunakan saja kata `tips` sambil kita berdoa semoga saja Pusat Bahasa suatu saat mau menerima kata `tips`. Kalau sudah diterima, orang nanti akan lebih leluasa menggunakannya sehingga tidak mustahil orang akan menulis tentang, misalnya, tips hidup sehat. Menulis wacana yang berkaitan dengan tips banyak kita temukan. Tapi, dalam pembahasannya nanti di samping dimasukkan tipsnya bisa saja dipadukan dengan menulis wacana eksposisi. Dengan demikian, dalam pembahasannya kita tidak berhenti dari sekedar menulis tips, misalnya, hidup sehat tapi juga cara kita menerapkan hidup sehat setelah menemukan data banyaknya orang yang di masa muda sudah mengidap berbagai penyakit internis. 


Pada uraian di atas sudah dijelaskan bahwa dalam menulis wacana, baik wacana eksposisi maupun narasi boleh memasukkan tulisan yang di dalamnya ada tips.  Karena sudah terlanjur kita menjadikan tips hidup sehat sebagai permisalan, pada pembahasan kali ini kita coba menulis tips hidup sehat yang dikembangkan ke dalam tulisan wacana eksposisi. Sebagai langkah awal, kita bisa menuliskan tentang kondisi kesehatan sebagian besar bangsa kita. Kita uraikan saja bahwa bangsa kita adalah bangsa yang rentan terkena berbagai macam penyakit. Hal ini lebih disebabkan pola hidup sebagian besar bangsa kita yang kurang memperhatikan masalah makanan sehat. Padatnya aktivitas dan kesibukan yang luar biasa menyebabkan sebagian besar bangsa kita cenderung memakan makanan atau minuman cepat saji (instan). Padahal makanan dan minuman jenis ini jelas kurang sehat dan bisa dipastikan menimbulkan efek samping. Untuk itu, diperlukan tips hidup sehat seperti yang bisa kita lihat pada tabel di bawah ini. 

 

Halodoc, Jakarta - Cara menjaga gaya hidup sehat sehari-hari yang baik dan benar adalah bagaimana cara kamu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik terutama pada kesehatan. Banyak orang lupa menyisihkan waktu untuk makan, memilih menyelesaikan pekerjaan sampai larut malam, sehingga jam tidur tidak lagi 7-8 jam perhari.

 

Jika gaya hidup seperti itu terus dilakukan, maka akan berdampak negatif pada tubuh. Untuk memiliki tubuh yang sehat ada banyak cara yang bisa kamu terapkan, namun memang tidak mudah untuk mengubah gaya hidup yang tidak teratur menjadi gaya hidup sehat.

 

Memang benar ada banyak kendala yang akan kamu hadapi untuk mengubah dan menjaganya dengan gaya hidup sehat. Kendala terbesar adalah rasa malas yang timbul pada diri kamu dan menyepelekan pentingnya kesehatan. Oleh karena itu dibutuhkan niat yang cukup kuat dari dalam diri, jika sudah ada niat maka selanjutnya adalah memiliki kemauan, dengan begitu akan terwujudnya gaya hidup sehat yang kamu inginkan. Berikut tips 6 cara menjaga gaya hidup sehat yang bisa diterpakan pada kehidupan kamu sehari-hari:

 

6 Cara Menjaga Gaya Hidup Sehat

 

1.  Istirahat yang Cukup

Perlu kamu ketahui bahwa istirahat yang cukup sangat beperan penting untuk kesehatan tubuh. Karena jika tubuh disibukan dengan banyak aktivitas setiap harinya dan kurang beristirahat,  maka tubuh akan rentan terkena penyakit. Dengan istirahat yang cukup setiap harinya maka kamu sudah melakukan cara menjaga gaya hidup sehat dengan baik.

 

2.  Memperhatikan Asupan Makanan

 

Untuk cara menjaga gaya hidup sehat, kamu perlu mengatur makanan apa saja yang akan dikonsumsi setiap harinya. Contohnya berbagai macam zat gizi yang dibutuhkan oleh manusia adalah karbohidrat, protein, vitamin dan juga mineral. Selain itu kamu juga harus menghindari makanan berlemak tinggi. Makanan berlemak dapat menyebabkan penimbunan kolesterol dalam pembuluh darah. Hal ini bisa memicu berbagai macam penyakit kronis.

 

3.  Minum Air Putih

 

Minum air putih merupakan salah satu cara hidup sehat yang mudah. Karena dengan meminum air putih, bisa mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh, yang dikeluarkan melalui air seni. Tubuh sangat membutuhkan unsur cairan karena banyaknya aktivitas setiap hari sehingga kamu sangat dianjurkan untuk minum minimal setidaknya 8 gelas per hari.

 

4.  Rajin Berolahraga

 

Meluangkan waktu untuk berolahraga merupakan salah satu cara menjalani gaya hidup sehat. Karena olahraga membuat tubuh menjadi lebih fit dan bugar. Berolahraga dapat mengeluarkan racun dalam tubuh, yang dikeluarkan melalui keringat. Menjaga gaya hidup sehat tidak lengkap jika tidak berolahraga.

 

5.  Membiasakan Hidup Bersih

 

Menjaga kebersihan termasuk cara hidup sehat. Selain untuk kenyamanan dan kesehatan, kebersihan juga membuat suasana hati yang baik saat untuk kamu memulai beraktivitas. Tidak lupa juga untuk memperhatikan kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan. Karena dalam beraktivitas sehari-hari pastinya kamu memegang banyak benda atau barang-barang yang tidak diketahui kebersihannya.

 

6.  Meninggalkan Kebiasaan Buruk

 

Pada poin ini kamu harus benar-benar meninggalkan kebiasaan negatif, seperti merokok dan meminum-minuman berakohol. Karena merokok dan minum-minuman berakohol akan mengakibatkan organ-organ di dalam tubuh menjadi rusak.

 

Selain 6 tips di atas kamu juga bisa berdiskusi dengan dokter tentang cara menjaga gaya hidup sehat. Kamu bisa melakukannya dengan cara download aplikasi Halodoc pada smartphone, sehingga kamu tidak perlu repot datang ke rumah sakit. Lewat Halodoc kamu bisa bertanya seputar kesehatan melalui Chat dan Voice/Video Call dengan pilihan ribuan dokter terpercaya. Kamu juga bisa membeli obat secara online yang akan diantarkan ke rumah dalam waktu 1 jam. Segera download aplikasinya di App Store dan Google Play.

(https://www.halodoc.com/artikel/6-cara-mudah-menjaga-gaya-hidup-sehat )

 

          Berdasarkan bahan yang diperoleh dari google search, kita bisa mulai menulis paragraf pertama (dan kedua) yang merupakan sebuah prolog. Untuk menulis paragraf pertama tidak ada salahnya kita mengambil kutipan di atas yang dimulai dari paragraf pertama (paragraf-paragraf pada tulisan di atas tergolong pendek) sampai paragraf ketiga. Ketiga paragraf tersebut kita gabungkan saja menjadi dua paragraf. Paragraf pertama dimulai dari kalimat yang berbunyi: “Cara menjaga gaya hidup sehat……” sampai dengan “Jika gaya hidup seperti itu….”. Paragraf kedua dimulai dari untuk memiliki tubuh yang sehat ……” sampai dengan “Berikut tips 6 cara…..”. Meskipun mengambil tulisan orang, karena telah menyebutkan sumber kutipannya, mudah-mudahan kita bukan dicap sebagai plagiat. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat hasil pekerjaan kita di bawah ini. 

 

       Cara menjaga gaya hidup sehat sehari-hari yang baik dan benar adalah bagaimana cara kamu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik terutama pada kesehatan. Banyak orang lupa menyisihkan waktu untuk makan, memilih menyelesaikan pekerjaan sampai larut malam, sehingga jam tidur tidak lagi 7-8 jam perhari. Jika gaya hidup seperti itu terus dilakukan, maka akan berdampak negatif pada tubuh.

       Untuk memiliki tubuh yang sehat ada banyak cara yang bisa kamu terapkan, namun memang tidak mudah untuk mengubah gaya hidup yang tidak teratur menjadi gaya hidup sehat. Memang benar ada banyak kendala yang akan kamu hadapi untuk mengubah dan menjaganya dengan gaya hidup sehat. Kendala terbesar adalah rasa malas yang timbul pada diri kamu dan menyepelekan pentingnya kesehatan. Oleh karena itu dibutuhkan niat yang cukup kuat dari dalam diri, jika sudah ada niat maka selanjutnya adalah memiliki kemauan, dengan begitu akan terwujudnya gaya hidup sehat yang kamu inginkan. Berikut tips enam cara menjaga gaya hidup sehat yang bisa diterapkan pada kehidupan kamu sehari-hari.

(https://www.halodoc.com/artikel/6-cara-mudah-menjaga-gaya-hidup-sehat )

    Setelah menulis paragraf pertama dan kedua yang merupakan paragraf pembuka (prolog), selanjutnya kita menulis paragraf isi (penghubung). Dengan menjadikan kutipan di atas sebagai sumber dalam penulisan wacana petunjuk (tips), kita bisa menuliskan terlebih dahulu dalam bentuk butir-butirnya saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjaga gaya hidup sehat. Yang harus diperhatikan untuk menjaga gaya hidup sehat di antaranya:

1.   istirahat yang cukup;

2.   memperhatikan asupan makanan;

3.   minum air putih;

4.   rajin berolah raga;

5.   membiasakan hidup bersih; dan

6.   meninggalkan kebiasaan buruk.

Keenam butir di atas, bisa kita tulis dalam tiga sampai enam paragraf. Setiap butir bisa saja kita jelaskan maksudnya, alasannya, dan caranya. Dengan cara menuliskan ketiga hal tersebut (maksudnya, alasannya, dan caranya) kita setidaknya telah menulis minimal tiga kalimat. Kalau ditetapkan satu paragraf memuat dua butir di atas (misalnya: istirahat yang cukup dan memperhatikan asupan makan), kita sudah menuliskan minimal enam kalimat dalam satu paragraf. Agar lebih baik lagi, setiap paragraf di awali dengan kalimat yang menjadi pembukanya. Kita bisa memulainya dengan kalimat yang berbunyi seperti ini: “Salah satu yang sering luput dalam menjalankan gaya hidup sehat adalah istirahat yang cukup.” Bisa  juga diteruskan dengan “Saking luputnya seseorang terkadang sering menyepelekan untuk beristirahat yang cukup”. Baru setelah itu kita mencoba menjelaskan yang dimaksudkan dengan istirahat yang cukup dan seterusnya.

    Setelah paragraf pembuka dan paragaf isi telah ditulis, untuk langkah selanjutnya kita menulis satu paragraf penutup.Sekali lagi, tidak ada salahnya kita mengutip bagian terakhir yang terdapat di kutipan di atas.Di bagian akhir kutipan di atas tertulis “Selain enam tips di atas kamu juga bisa berdiskusi dengan dokter tentang cara menjaga gaya hidup sehat. Kamu bisa melakukannya dengan cara download aplikasi Halodoc pada smartphone sehingga kamu tidak perlu repot datang ke rumah sakit. Lewat Halodoc kamu bisa bertanya seputar kesehatan melalui Chat dan Voice/ Video Call dengan pilihan ribuan dokter terpercaya. Kamu juga bisa membeli obat secara online yang akan diantarkan ke rumah dalam waktu satu jam. Segera download aplikasinya di App Store dan Google Play”. Karena hanya sebuah saran, boleh-boleh saja kita menulis dalam bentuk lain (sekalian kita belajar menulis paragraf penutup) yang bisa jadi menjadi bukti kemampuan kita menulis wacana.  

Sumber Gambar:

(https://retizen.republika.co.id/posts/26720/bagaimana-pola-hidup-sehat)





Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...