29. BELAJAR MENULIS WACANA NARASI (2)
Subagio S. Waluyo
Narasi selain ceritanya diangkat dari fakta juga bisa dari fiksi. Orang
sebut sebagai cerita rekaan. Namanya juga karya fiksi atau cerita rekaan, jenis
tulisan seperti ini didominasi oleh reka-reka atau dari hasil khayalan. Karya
hasil khayalan sudah tentu berasal dari khayalan (imajinasi) penulisnya. Selain
imajinasi juga didominasi oleh perenungan (kontemplasi). Jadi, perpaduan
imajinasi dan kontemplasi menghasilkan karya fiksi entah itu namanya cerita
pendek (cerpen), novel, atau naskah drama. Orang semakin mendalam melakukan
imajinasi dan kontemplasi, semakin baik hasil karya fiksinya. Sebaliknya,
semakin cetek imajinasi dan kontemplasinya, semakin cetek juga hasil karya
fiksinya. Kira-kira begitu kita berasumsi. Apakah bisa dibenarkan asumsi kita
itu? Silakan saja dilakukan penelitian lebih mendalam tentang itu!
Mudah-mudahan saja asumsi itu bisa dibuktikan!
***
Di atas disebutkan salah
satu cerita rekaan adalah cerita pendek (cerpen). Sebagai sebuah karya sastra, cerpen
ada di mana-mana. Memang, cerpen ada di mana-mana. Cerpen ada di media cetak
atau online baik yang ada media
mingguan, seperti Kompas, Republika,
Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dan Suara Merdeka
maupun di majalah hiburan (cetak dan
online). Cerpen juga ada di
majalah sastra, seperti Majalah Sastra
Horison. Banyak juga majalah atau tabloid terbitan perguruan tinggi yang
punya Fakultas Bahasa dan Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya yang memuat cerpen.
Bahkan, saking banyaknya orang yang ingin memberikan manfaat buat orang lain,
banyak juga blogspot atau website yang memuat cerpen-cerpen. Semua
media itu bisa dibaca lewat gadget
atau android. Bisa juga (kalau mau
agak repot) dibuka lewat laptop atau notebook. Pokoknya, zaman kiwari ini
banyak kemudahan orang untuk sekedar
menikmati hiburan lewat bacaan. Kalau begitu, apa itu cerpen?
Cerpen sudah bisa
dipastikan pendeklah ceritanya. Kalau ceritanya panjang itu novel atau roman. Ada
juga orang yang menyebut cerpenpan cerita pendek yang panjang. Tapi,
sepanjang-panjangnya cerpen tidak mungkin sampai 40 halaman. Tidak mungkin juga
sampai lebih dari 100 halaman. Kalau ada yang mengatakan cerita yang panjangnya
cuma satu halaman, juga bisa disebut cerpen. Bisa sih bisa, cuma di dalam
cerpen itu apakah sudah memenuhi kriteria seperti yang dikatakan HB Jassin ada
kriteria tertentu yang di dalamnya ada bagian perkenalan, pertikaian, dan
penyelesaian? (Korrie Layun Rampan, Apresiasi
Cerpen Indonesia Mutakhir, 2009:1). Kesimpulannya, kalau tidak ada tiga
kriteria di atas, tidak bisa disebut cerpen.
Terlalu
repot ya kalau harus memenuhi tiga kriteria itu? Korrie `kan mengutip dari HB
Jassin ketika memberi contoh dari cerpen “Tikus dan Manusia” karya Trisno
Sumardjo. HB Jassin ketika menganalisis cerpen Trisno Sumardjo menyimpulkan
beginilah bentuk ideal sebuah cerpen. Di dalamnya paling tidak ada tiga
kriteria seperti disebutkan di atas. Kalau mau mendetail lagi juga boleh
seperti yang dikatakan Harris Effendi Thahar dalam Kiat Menulis Cerita Pendek (1999:9) yang mengatakan bahwa dalam
cerpen jalan ceritanya bisa lebih padat, latar atau kilas baliknya (kalau
memang ada kilas balik) disinggung sambil lalu saja. Jadi, dalam cerpen
semuanya serba dipadatkan. Tidak perlu digambarkan tentang misalnya watak
tokoh-tokohnya demikian mendetail atau kalau pakai latar dimulai dengan latar
yang demikian lengkap seperti novel. Bahkan, kalau mau pakai kilas balik
dikisahkan sedemikian rupa sampai sekian halaman dihabiskan hanya untuk kilas
balik. Kesimpulannya tidak sejauh itulah. Kalau mau mengutip pendapat Nyoman
Tusthi Eddy cukup sebuah cerpen memuat berlangsungnya kejadian/ peristiwa.
Berlangsungnya kejadian/ peristiwa tidak begitu lama. Tempat
kejadian/peristiwanya berkisar antara satu sampai tiga tempat. Jumlah pelaku
paling banyak lima orang. Selain itu, watak pelaku tidak dilukiskan secara
mendalam (Korrie, 2009:1).
Terlepas
dari kriteria yang disampaikan kedua sastrawan tersebut, umumnya orang memang
lebih suka membaca cerpen. Membaca cerpen tidak perlu waktu lama. Membaca
cerpen tidak perlu mengernyitkan dahi. Membaca cerpen benar-benar sebuah media
buat kita untuk refreshing. Terkadang membaca cerpen membuat kita senyum-senyum
sendiri bahkan tertawa sendiri karena
isi cerpennya cenderung humoris (walaupun sebenarnya menertawakan diri sendiri).
Terkadang juga membuat kita hanyut terbawa emosi kalau jalan ceritanya
menggambarkan perilaku orang yang kejam, serakah, nyinyir, zolim, tidak punya
kepedulian, atau mau menang sendiri. Wajar-wajar saja kalau media cetak atau online menyisihkan sebagian halamannya
untuk cerpen. Tidak mustahil dengan hanya membaca cerpen orang yang membacanya
bisa memperkaya kosa kata sekaligus memperluas wawasan entah wawasan
kemanusiaan dan kesosialannya. Bisa saja orang yang membaca cerpen mau
melakukan introspeksi diri tentang perilakunya yang menurut penilaiannya selama
ini cenderung negatif. Atau minimal orang yang membaca cerpen otot-otot
syarafnya yang semula tegang bisa kendor. Makanya, cerpen ada di mana-mana dan di
mana-mana bisa saja ada cerpen. Supaya tidak
`mudeng` bisa dilihat contoh cerpen berjudul “Muammar Memilih Jalan Sendiri” oleh Sori Siregar berikut ini.
MUAMMAR MEMILIH JALAN SENDIRI
MALAM telah
merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik
di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam
menjelang pagi itu ia tetap terjaga.
Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu.
Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini
untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu
Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini
dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu.
Bagi Maludin hidup di negeri baru ini jauh lebih menyenangkan daripada
di kota yang ditinggalkannya. Bukan saja karena pendapatannya lebih besar
daripada yang dulu diperolehnya sebagai guru SMA di kotanya, tetapi juga
karena ia berdomisili di lingkungan permukiman yang lebih baik, tidak sumpek
dan bersih serta berbagai hal lain seperti dekatnya jarak kantor dan
rumahnya, transportasi umum yang selalu tepat waktu dan dapatnya Maryam
sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga tanpa harus membantu Maludin mencari
nafkah dengan menjahit pakaian anak-anak.
Waktu berjalan seirama dengan peredaran bumi mengitari titik pusat
tata surya. Perjalanan waktu itu sering luput dari perhatian. Maludin dan
Maryam baru menyadari bahwa mereka telah empat tahun tinggal di negeri yang
jauh ini, ketika Muammar memasuki usia sekolah. Semula suami istri itu
menduga beban ekonomi akan meningkat dengan masuknya Muammar ke sekolah.
Ternyata tidak. Muammar dapat belajar tanpa biaya
apa pun. Bahkan, Maludin tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk membayar
ongkos bus yang setiap hari mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Hidup
sehari-hari pun semakin menyenangkan buat Maludin dan Maryam. Pada saat tiba
giliran bagi Fatur dan Fayed untuk bersekolah, perasaan senang Maludin tetap
tidak berkurang, karena kedua anak ini pun tidak membebaninya dengan biaya
sekolah.
Sekolah gratis ini dilalui ketiga anak Maludin dalam kurun waktu yang
cukup lama, sehingga Maludin terkejut ketika anaknya harus membayar uang
kuliah untuk dapat belajar di perguruan tinggi. Beban pertama dalam dunia
pendidikan ini pun akhirnya tak perlu disandangnya, karena Muammar dapat
memperoleh pinjaman dari bank mana pun, dengan jaminan ayahnya. Kelonggaran
yang diberikan merupakan pertolongan yang tidak terbayangkan sebelumnya,
karena Muammar diizinkan untuk membayar pinjamannya setelah ia bekerja,
seusai menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi.
Tanpa disadari Maludin dan Maryam, Muammar, Fatur, dan Fayed melebur
dengan sempurna ke dalam kondisi lingkungan mereka. Satu-satunya kehidupan
yang mereka kenal adalah kehidupan di sekitar mereka itu dan semua nilai yang
melekat di sana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, jika mereka
bertiga masih mau mendengarkan suara ayah dan ibu mereka, suara yang
mengandung makna hidup, jalan yang tidak berliku, tetap berpijak pada tempat
asal dan keyakinan yang harus dipegang teguh di mana pun berada.
Namun, mendengarkan suara ayah dan ibunya itulah yang sangat sukar
bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra Maludin yang
disebutkan belakangan ini masih tetap anak-anak yang menilai suara ayah dan
ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan. Ini
menyejukkan perasaan kedua orang tua mereka, yang tetap berpegang teguh
kepada keyakinan yang mereka kenal sejak masa kanak-kanak.
Karena itu, alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur dan
Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya
menginap di kamarnya di rumah mereka. Guntur menggelegar bagi Maludin dan
Maryam. Bencana apa yang akan dibawa anak sulung mereka itu? Itulah
pertanyaan yang menyerbu ke dalam benak Maludin dan Maryam. Mungkin pertanyaan
itu pula yang hinggap di kepala Fatur dan Fayed.
Maludin dengan halus meyakinkan Muammar bahwa berdasarkan keyakinan
yang mereka peluk, tindakan yang akan dilakukan Muammar itu adalah salah.
Bahkan, agama apa pun tidak akan membenarkan hal itu. Mendengar keterangan
ayahnya, Muammar menjelaskan, Joyce, pacarnya itu, ingin menginap di rumah
mereka karena ingin mengenal lebih jauh Maludin, Maryam, Fatur, dan Fayed.
Maludin kembali meyakinkan Muammar, kalau ingin mengenal keluarga
mereka lebih jauh silakan saja Joyce berkunjung setiap hari. Kemudian Maludin
yang bertanya, mengapa Joyce ingin mengenal mereka lebih jauh. Kan dia hanya
teman akrab Muammar. Bolehlah kalau anak sulung Maludin itu menyebut Joyce
pacarnya. Tapi Muammar harus ingat bahwa Joyce belum menjadi pacarnya secara
resmi.
Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan lancar dari mulut
ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku, katanya dalam hati.
Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata hatinya melanjutkan.
Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran seperti itu muncul
tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukannya keesokan harinya.
Pada suatu tengah malam setelah pembicaraan ayah dan anak itu, Muammar
pulang dengan membawa Joyce. Empat anggota di rumah itu merasa dipojokkan,
terutama Maludin yang saleh itu. Setelah mempersilakan Joyce duduk dan
bertanya sedikit tentang keluarganya, Maludin meminta Muammar untuk
mengikutinya ke ruangan kerjanya. Begitu Maludin menutup pintu, dengan wajah merah
padam ia menghardik Muammar dengan suara keras. Ia berani berteriak seperti
itu karena ia tahu suaranya tidak akan terdengar ke ruang tamu.
“Apa maksudmu membawa perempuan itu ke rumah ini? Kan Bapak telah
berbicara panjang lebar denganmu tentang hal ini. Sebagai mahasiswa semester
empat tidak mungkin kau tidak tahu apa yang Bapak jelaskan.”
Muammar mendengarkan hardikan ayahnya dengan tenang. Baginya, kekunoan
ayahnya semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar merasa ayah, ibu, dan
kedua adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang mengekang. Dua puluh
tahun di negeri yang jauh ini tidak membuat mereka dapat menyerap keragaman
nilai di sekitar mereka.
“Ajaklah Joyce pergi. Yakinkan dia bahwa keluarga kita tidak menolak
kehadirannya. Tapi, kita tidak dapat memberikan ruang kepadanya untuk
menginap di rumah ini sebelum ia resmi menjadi istrimu. Joyce boleh
menganggap Bapak kuno, konservatif, atau apa saja karena sikap Bapak yang tak
dapat ditawar ini.”
Tanpa memberikan komentar sepatah kata pun, Muammar meninggalkan
ayahnya seorang diri di ruang kerja itu. Ia kembali ke ruang tamu menemui
Joyce yang sedang berbicara dengan Maryam. Ia membisikkan sesuatu ke telinga
perempuan kulit putih itu. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum kepada
Maryam. Kemudian ia meminta diri untuk meninggalkan rumah itu. Ketika Joyce
dan Muammar melangkah keluar ruang tamu mereka dilepas Maryam dengan ucapan
selamat malam.
Satu minggu setelah peristiwa malam itu, Muammar menelepon ayahnya.
Dengan suara tenang dan perlahan ia menyatakan kecewa dengan sikap ayahnya.
Ia meminta ayahnya untuk membebaskan diri dari belenggu keyakinan yang
menghimpitnya. Keyakinan atau agama, apa pun agama dan keyakinan itu
seharusnya tidak membuat pemeluknya senantiasa berdiri di tempat dan tidak
berupaya untuk melangkah maju.
“Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita
berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat
mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampuradukkan keyakinan
dan rasio. Salah satu di antaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa
memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah
melepaskan keyakinan keluarga kita, yang juga keyakinan yang ananda pegang
selama ini.”
Begitu mendengar kalimat Muammar terakhir, Maludin tidak mendengarkan
lagi apa yang diucapkan anaknya, walaupun gagang telepon masih tetap
terpegang erat di tangannya. Lama ia terdiam sebelum meletakkan gagang
telepon ke tempatnya. Begitu mudahnya Muammar melepas keyakinan keagamaannya
hanya karena persoalan yang masih dapat dicari pemecahannya.
Sebenarnya ada kalimat terakhir yang ingin diucapkan Maludin kepada
Muammar sebelum anak muda itu meninggalkan ruang kerjanya. Ia ingin
menyarankan agar Joyce menikmati malam yang dingin itu seorang diri di kamar
Muammar, sedangkan Muammar bergabung dengan kedua adiknya di kamar lain.
Tetapi, Muammar tanpa komentar apa pun telah meninggalkannya di ruang kerja
itu sebelum ia sempat melontarkan kalimatnya terakhir.
Berat bagi Maludin untuk menyampaikan keputusan yang telah diambil
Muammar itu. Ia masih ingin bertemu dengan anaknya itu untuk menemukan jalan
keluar yang dapat diterima Muammar. Namun, ia tidak tahu bagaimana menemukan
jalan keluar itu, karena ia dan Muammar telah berada pada posisi
berseberangan. Kompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang
berkaitan langsung dengan Tuhan, adalah langkah yang tidak akan pernah
diambil oleh Maludin. Ia lebih siap untuk kehilangan anaknya daripada
mengingkari keyakinan yang telah dipeluknya puluhan tahun.
Malam ini, sebenarnya hingga pagi ini, Maludin tetap terjaga.
Keputusan Muammar telah membuatnya menoleh ke masa lampau. Ke masa pada saat
ia dan istrinya merasakan kesenangan dan kegembiraan ketika menjejakkan kaki
di negeri ini. Kegembiraan dan kesenangan yang juga mereka rasakan pada saat
anak-anak mereka dapat bersekolah tanpa harus mengeluarkan biaya, di samping
mereka dapat berdomisili di lingkungan yang tidak sumpek. Ditambah lagi
dengan pendapatan yang jauh melebihi kebutuhan. Dalam kondisi seperti itulah
mereka membesarkan Muammar dan kedua adiknya.
Beberapa hari Maludin menyimpan rahasia itu dalam dirinya. Akhirnya ia
tak mampu memiliki rahasia itu seorang diri. Ia harus berbagi rahasia ini
dengan istrinya Maryam, karena Muammar adalah putra mereka berdua. Dan ia
tidak ingin terlalu sering terjaga pada saat ketika ia seharusnya menikmati
istirahat pada malam hari.
Saat yang ditunggunya itu akhirnya tiba ketika Maryam bertanya mengapa
Muammar tidak pernah pulang beberapa hari terakhir. Maryam mendengarkan
dengan hati teriris ketika suaminya membuka lembar-lembar cerita itu
kepadanya. Ia benar-benar merasa tersayat pada saat Maludin mengutarakan
bahwa Muammar bukan saja telah meninggalkan keyakinan yang dipeluknya, tetapi
juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan ayahnya kalau saja hal itu
tidak menyebabkan terputusnya jaminan untuk memperoleh pinjaman dari bank
yang digunakan untuk membiayai kuliahnya.
Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam
hati. Setelah itu ia memandang suaminya dengan penuh pengertian.
“Kesenangan dan kegembiraan kita selama ini harus kita bayar terlalu
mahal,” ujar Maludin kepada Maryam.
Perempuan itu mengangguk. (*)
(https://lakonhidup.com/2012/10/19/muammar-memilih-jalan-sendiri/)
***
Cerpen sebagai cerita
rekaan menurut Suminto A.Sayuti setidaknya memiliki empat kriteria sebagai
berikut:
1)
cerita rekaan sebagai ekspresi pengarang,
2)
cerita rekaan sebagai sebuah struktur,
3)
cerita rekaan sebagai refleksi kenyataan, dan
4)
cerita rekaan sebagai sumber nilai.
Sebagai ekspresi pengarang cerpen merupakan curahan perasaan dan atau
pikiran pengarang. Bisa juga cerpen sebagai produk imajinasi pengarang yang bekerja
dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, atau perasaan-perasaan pengarangnya.
Sebagai sebuah struktur mandiri, cerpen harus terbebas dari baik hubungannya
dengan pengarang, pembaca, maupun realita. Artinya, cerpen dari dan untuk
cerpen itu sendiri sehingga cerpen benar-benar otonom dari pengaruh apapun. Sebagai
refleksi kenyataan, cerpen merupakan sebuah proses kreatif yang menjadikan
kenyataan sebagai titik tolak pengarang untuk menciptakan kembali kenyataan. Dalam
konteks ini cerpen merupakan imitasi atau (bisa juga) refleksi, atau referentasi
dunia dan kehidupan manusia. Yang terakhir, sebagai sumber nilai, cerpen diciptakan
untuk mencapai tujuan tertentu (dampaknya) pada pembaca. Sebuah cerpen bisa
saja bertujuan politis, moral, agama, pendidikan, atau tujuan-tujuan yang lain.
Oleh karena itu, sebuah cerpen bisa saja
bermuatan, misalnya, yang berkaitan dengan perubahan sosial seperti
cerpen-cerpen karya Ahmad Tohari atau Sori Siregar.
Cerpen dengan judul
“Muammar Memilih Jalan Sendiri” karya Sori Siregar di atas berkisah tentang
pertentangan antara anak dan ayahnya. Atau antara
anak dan ayah terjadi konflik. Konflik itu bermula ketika Muammar, anak tertua
pasangan Maludin dan Maryam, suatu kali mengajak pacarnya menginap di rumahnya.
Bukan hanya ayahnya, ibunya, dan kedua adiknya, Fathur dan Fayed juga terkejut.
Ayahnya berusaha menjelaskan bahwa agamanya (Islam) dan agama apapun tidak
membenarkan seseorang mengajak yang bukan istrinya bermalam di kamarnya
walaupun alasan sang pacar agar dia bisa mengenal keluarganya lebih jauh.
Muammar tidak bisa menerima pendapat ayahnya. Dia menganggap ayahnya dan juga
ibu serta adik-adiknya masih berpikiran kuno. Dia beranggapan selama dua puluh
tahun tinggal di negeri orang selayaknya mereka telah bisa menyerap nilai-nilai
keragaman yang hidup di sekitarnya. Singkatnya, Muammar dan Joyce pergi dari
rumah itu. Muammar melalui telpon mengungkapkan bahwa dia telah meninggalkan
keyakinannya. Baginya rasio lebih harus diutamakan daripada keyakinan. Rasio
menurutnya jangan bercampur dengan keyakinan. Dengan demikian, cerpen Sori Siregar boleh jadi bermuatan perubahan
sosial.
***
Cerpen itu netral.
Dikatakan netral karena cerpen bisa bermuatan apa saja tergantung penulisnya.
Kalau mau diisi tentang cinta, jadilah cerpen yang penuh dengan kisah cinta.
Yang namanya cinta bisa cinta kepada Tuhan, bisa juga cinta kepada sesamanya,
atau (bahkan) cinta kasih erotis. Kalau mau diisi tentang dunia kriminal
(kejahatan), jadilah cerpen kriminal seperti cerita kriminal. Kalau mau diisi
tentang pendidikan, jadilah cerpen yang bermuatan nilai-nilai pendidikan. Atau
kalau ada orang religius ingin menulis cerpen yang bernuansa religius, jadilah
cerpen-cerpen yang religius. Cerpen juga bisa diisi dengan seputar
masalah-masalah sosial, jadilah cerpen yang sarat dengan muatan masalah-masalah
sosial. Salah satu yang dekat temanya dengan sekitar muatan masalah sosial
adalah perubahan sosial. Sah-sah saja kalau ada cerpen yang bermuatan
masalah-masalah perubahan sosial karena perubahan sosial akrab dengan kehidupan
manusia. Masalah perubahan sosial yang pernah disampaikan dalam hal ini bisa
perubahan sosial dari dalam atau dari luar.
Perubahan sosial yang datangnya dari dalam
mencakup bertambah dan berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru,
pertentangan atau konflik, dan terjadinya pemberontakan atau revolusi.
Sedangkan yang datangnya dari luar mencakup bencana alam atau kondisi
lingkungan fisik, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Cerpen-cerpen di negara ini banyak bicara tentang hal-hal yang disebutkan di
atas. Bahkan, bukan hanya faktor yang datang baik dari dalam maupun dari luar,
faktor yang mempercepat dan menghambat perubahan sosial juga dibahas dalam
cerpen-cerpen Indonesia. Faktor-faktor yang mempercepat seperti kontak dengan
budaya lain, sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya
seseorang dan keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang
menyimpang, sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka, penduduk yang
heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu, adanya
orientasi masa depan, dan adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha
memperbaiki kehidupannya juga banyak dibahas dalam cerpen-cerpen Indonesia.
Tidak hanya yang mempercepat perubahan sosial, hal-hal yang berkaitan yang
menghambat perubahan sosial juga dibahas. Sebut saja yang menghambat perubahan
sosial di sini adalah kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan
sainstek yang lambat, sikap masyarakat yang sangat tradisional, adanya
kepentingan-kepentingan yang telah tertanam (vested interest), rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada
integrasi kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap
yang tertutup, hambatan-hambatan yang bersifat ideologis, dan adat atau
kebiasaan (Nanang Martono, Sosiologi
Perubahan Sosial, 2016:16-23).
***
Berdasarkan uraian dan contoh cerpen di atas, sekarang kita fokus belajar
menulis wacana narasi (cerpen). Menulis cerpen yang berkaitan dengan masalah
perubahan sosial tampaknya menarik untuk dicoba. Sebagai langkah awal, coba
kita perhatikan gambar di atas! Kita sepakat gambar di atas itu menunjukkan orang
yang sedang gelisah. Sebagai pancingan kita ajukan beberapa pertanyaan: apa itu
orang yang gelisah (di sini kita berusaha mencari referensi tentang gelisah
atau boleh juga diperluas dengan manusia dan kegelisahan)? Siapa saja orang
yang gelisah (dalam hal ini silakan saja kalau mau menggunakan tokohnya
apakah menggunakan tokoh aku, nama orang, atau dia dan bisa saja ditentukan
jenis kelaminnya)? Di mana kejadiannya (bisa ditentukan lokasinya: di
rumah, di bar, di pedestarian, di lorong-lorong jalan yang gelap, atau di
tempat umum lainnya)? Kenapa bisa seperti itu (di sini kita dituntut
mencari faktor penyebabnya). Terakhir, bagaimana dengan solusinya (cara
mengatasi masalah yang bisa dikaitkan dengan akhir cerita apakah cerita
berakhir dengan peristiwa yang tragis atau kebalikannya: happy ending)? Semuanya
sangat bergantung pada keinginan kita. Meskipun sulit, kita harus tetap mencoba
menuliskannya. Caranya, pelajari uraian di atas. Kalau masih dirasakan kurang silakan
cara bahan-bahan referensi lainnya di luar. Yang lebih penting lagi, kita perlu
melakukan imajinasi dan kontemplasi. Ini sebuah proses yang berat, tetapi tetap
harus dicoba.
Sumber Gambar:
1. (https://shopee.co.id/Cerpen-Pilihan-Kompas-i.4176923.9931486948)
Narasi selain ceritanya diangkat dari fakta juga bisa dari fiksi. Orang sebut sebagai cerita rekaan. Namanya juga karya fiksi atau cerita rekaan, jenis tulisan seperti ini didominasi oleh reka-reka atau dari hasil khayalan. Karya hasil khayalan sudah tentu berasal dari khayalan (imajinasi) penulisnya. Selain imajinasi juga didominasi oleh perenungan (kontemplasi). Jadi, perpaduan imajinasi dan kontemplasi menghasilkan karya fiksi entah itu namanya cerita pendek (cerpen), novel, atau naskah drama. Orang semakin mendalam melakukan imajinasi dan kontemplasi, semakin baik hasil karya fiksinya. Sebaliknya, semakin cetek imajinasi dan kontemplasinya, semakin cetek juga hasil karya fiksinya. Kira-kira begitu kita berasumsi. Apakah bisa dibenarkan asumsi kita itu? Silakan saja dilakukan penelitian lebih mendalam tentang itu! Mudah-mudahan saja asumsi itu bisa dibuktikan!
***
Di atas disebutkan salah
satu cerita rekaan adalah cerita pendek (cerpen). Sebagai sebuah karya sastra, cerpen
ada di mana-mana. Memang, cerpen ada di mana-mana. Cerpen ada di media cetak
atau online baik yang ada media
mingguan, seperti Kompas, Republika,
Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dan Suara Merdeka
maupun di majalah hiburan (cetak dan
online). Cerpen juga ada di
majalah sastra, seperti Majalah Sastra
Horison. Banyak juga majalah atau tabloid terbitan perguruan tinggi yang
punya Fakultas Bahasa dan Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya yang memuat cerpen.
Bahkan, saking banyaknya orang yang ingin memberikan manfaat buat orang lain,
banyak juga blogspot atau website yang memuat cerpen-cerpen. Semua
media itu bisa dibaca lewat gadget
atau android. Bisa juga (kalau mau
agak repot) dibuka lewat laptop atau notebook. Pokoknya, zaman kiwari ini
banyak kemudahan orang untuk sekedar
menikmati hiburan lewat bacaan. Kalau begitu, apa itu cerpen?
Cerpen sudah bisa
dipastikan pendeklah ceritanya. Kalau ceritanya panjang itu novel atau roman. Ada
juga orang yang menyebut cerpenpan cerita pendek yang panjang. Tapi,
sepanjang-panjangnya cerpen tidak mungkin sampai 40 halaman. Tidak mungkin juga
sampai lebih dari 100 halaman. Kalau ada yang mengatakan cerita yang panjangnya
cuma satu halaman, juga bisa disebut cerpen. Bisa sih bisa, cuma di dalam
cerpen itu apakah sudah memenuhi kriteria seperti yang dikatakan HB Jassin ada
kriteria tertentu yang di dalamnya ada bagian perkenalan, pertikaian, dan
penyelesaian? (Korrie Layun Rampan, Apresiasi
Cerpen Indonesia Mutakhir, 2009:1). Kesimpulannya, kalau tidak ada tiga
kriteria di atas, tidak bisa disebut cerpen.
Terlalu
repot ya kalau harus memenuhi tiga kriteria itu? Korrie `kan mengutip dari HB
Jassin ketika memberi contoh dari cerpen “Tikus dan Manusia” karya Trisno
Sumardjo. HB Jassin ketika menganalisis cerpen Trisno Sumardjo menyimpulkan
beginilah bentuk ideal sebuah cerpen. Di dalamnya paling tidak ada tiga
kriteria seperti disebutkan di atas. Kalau mau mendetail lagi juga boleh
seperti yang dikatakan Harris Effendi Thahar dalam Kiat Menulis Cerita Pendek (1999:9) yang mengatakan bahwa dalam
cerpen jalan ceritanya bisa lebih padat, latar atau kilas baliknya (kalau
memang ada kilas balik) disinggung sambil lalu saja. Jadi, dalam cerpen
semuanya serba dipadatkan. Tidak perlu digambarkan tentang misalnya watak
tokoh-tokohnya demikian mendetail atau kalau pakai latar dimulai dengan latar
yang demikian lengkap seperti novel. Bahkan, kalau mau pakai kilas balik
dikisahkan sedemikian rupa sampai sekian halaman dihabiskan hanya untuk kilas
balik. Kesimpulannya tidak sejauh itulah. Kalau mau mengutip pendapat Nyoman
Tusthi Eddy cukup sebuah cerpen memuat berlangsungnya kejadian/ peristiwa.
Berlangsungnya kejadian/ peristiwa tidak begitu lama. Tempat
kejadian/peristiwanya berkisar antara satu sampai tiga tempat. Jumlah pelaku
paling banyak lima orang. Selain itu, watak pelaku tidak dilukiskan secara
mendalam (Korrie, 2009:1).
Terlepas dari kriteria yang disampaikan kedua sastrawan tersebut, umumnya orang memang lebih suka membaca cerpen. Membaca cerpen tidak perlu waktu lama. Membaca cerpen tidak perlu mengernyitkan dahi. Membaca cerpen benar-benar sebuah media buat kita untuk refreshing. Terkadang membaca cerpen membuat kita senyum-senyum sendiri bahkan tertawa sendiri karena isi cerpennya cenderung humoris (walaupun sebenarnya menertawakan diri sendiri). Terkadang juga membuat kita hanyut terbawa emosi kalau jalan ceritanya menggambarkan perilaku orang yang kejam, serakah, nyinyir, zolim, tidak punya kepedulian, atau mau menang sendiri. Wajar-wajar saja kalau media cetak atau online menyisihkan sebagian halamannya untuk cerpen. Tidak mustahil dengan hanya membaca cerpen orang yang membacanya bisa memperkaya kosa kata sekaligus memperluas wawasan entah wawasan kemanusiaan dan kesosialannya. Bisa saja orang yang membaca cerpen mau melakukan introspeksi diri tentang perilakunya yang menurut penilaiannya selama ini cenderung negatif. Atau minimal orang yang membaca cerpen otot-otot syarafnya yang semula tegang bisa kendor. Makanya, cerpen ada di mana-mana dan di mana-mana bisa saja ada cerpen. Supaya tidak `mudeng` bisa dilihat contoh cerpen berjudul “Muammar Memilih Jalan Sendiri” oleh Sori Siregar berikut ini.
|
MUAMMAR MEMILIH JALAN SENDIRI MALAM telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga. Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu. Bagi Maludin hidup di negeri baru ini jauh lebih menyenangkan daripada di kota yang ditinggalkannya. Bukan saja karena pendapatannya lebih besar daripada yang dulu diperolehnya sebagai guru SMA di kotanya, tetapi juga karena ia berdomisili di lingkungan permukiman yang lebih baik, tidak sumpek dan bersih serta berbagai hal lain seperti dekatnya jarak kantor dan rumahnya, transportasi umum yang selalu tepat waktu dan dapatnya Maryam sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga tanpa harus membantu Maludin mencari nafkah dengan menjahit pakaian anak-anak. Waktu berjalan seirama dengan peredaran bumi mengitari titik pusat tata surya. Perjalanan waktu itu sering luput dari perhatian. Maludin dan Maryam baru menyadari bahwa mereka telah empat tahun tinggal di negeri yang jauh ini, ketika Muammar memasuki usia sekolah. Semula suami istri itu menduga beban ekonomi akan meningkat dengan masuknya Muammar ke sekolah. Ternyata tidak. Muammar dapat belajar tanpa biaya apa pun. Bahkan, Maludin tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk membayar ongkos bus yang setiap hari mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Hidup sehari-hari pun semakin menyenangkan buat Maludin dan Maryam. Pada saat tiba giliran bagi Fatur dan Fayed untuk bersekolah, perasaan senang Maludin tetap tidak berkurang, karena kedua anak ini pun tidak membebaninya dengan biaya sekolah. Sekolah gratis ini dilalui ketiga anak Maludin dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga Maludin terkejut ketika anaknya harus membayar uang kuliah untuk dapat belajar di perguruan tinggi. Beban pertama dalam dunia pendidikan ini pun akhirnya tak perlu disandangnya, karena Muammar dapat memperoleh pinjaman dari bank mana pun, dengan jaminan ayahnya. Kelonggaran yang diberikan merupakan pertolongan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena Muammar diizinkan untuk membayar pinjamannya setelah ia bekerja, seusai menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Tanpa disadari Maludin dan Maryam, Muammar, Fatur, dan Fayed melebur dengan sempurna ke dalam kondisi lingkungan mereka. Satu-satunya kehidupan yang mereka kenal adalah kehidupan di sekitar mereka itu dan semua nilai yang melekat di sana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, jika mereka bertiga masih mau mendengarkan suara ayah dan ibu mereka, suara yang mengandung makna hidup, jalan yang tidak berliku, tetap berpijak pada tempat asal dan keyakinan yang harus dipegang teguh di mana pun berada. Namun, mendengarkan suara ayah dan ibunya itulah yang sangat sukar bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra Maludin yang disebutkan belakangan ini masih tetap anak-anak yang menilai suara ayah dan ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan. Ini menyejukkan perasaan kedua orang tua mereka, yang tetap berpegang teguh kepada keyakinan yang mereka kenal sejak masa kanak-kanak. Karena itu, alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur dan Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya menginap di kamarnya di rumah mereka. Guntur menggelegar bagi Maludin dan Maryam. Bencana apa yang akan dibawa anak sulung mereka itu? Itulah pertanyaan yang menyerbu ke dalam benak Maludin dan Maryam. Mungkin pertanyaan itu pula yang hinggap di kepala Fatur dan Fayed. Maludin dengan halus meyakinkan Muammar bahwa berdasarkan keyakinan yang mereka peluk, tindakan yang akan dilakukan Muammar itu adalah salah. Bahkan, agama apa pun tidak akan membenarkan hal itu. Mendengar keterangan ayahnya, Muammar menjelaskan, Joyce, pacarnya itu, ingin menginap di rumah mereka karena ingin mengenal lebih jauh Maludin, Maryam, Fatur, dan Fayed. Maludin kembali meyakinkan Muammar, kalau ingin mengenal keluarga mereka lebih jauh silakan saja Joyce berkunjung setiap hari. Kemudian Maludin yang bertanya, mengapa Joyce ingin mengenal mereka lebih jauh. Kan dia hanya teman akrab Muammar. Bolehlah kalau anak sulung Maludin itu menyebut Joyce pacarnya. Tapi Muammar harus ingat bahwa Joyce belum menjadi pacarnya secara resmi. Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan lancar dari mulut ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku, katanya dalam hati. Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata hatinya melanjutkan. Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran seperti itu muncul tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukannya keesokan harinya. Pada suatu tengah malam setelah pembicaraan ayah dan anak itu, Muammar
pulang dengan membawa Joyce. Empat anggota di rumah itu merasa dipojokkan,
terutama Maludin yang saleh itu. Setelah mempersilakan Joyce duduk dan
bertanya sedikit tentang keluarganya, Maludin meminta Muammar untuk
mengikutinya ke ruangan kerjanya. Begitu Maludin menutup pintu, dengan wajah merah
padam ia menghardik Muammar dengan suara keras. Ia berani berteriak seperti
itu karena ia tahu suaranya tidak akan terdengar ke ruang tamu. “Apa maksudmu membawa perempuan itu ke rumah ini? Kan Bapak telah berbicara panjang lebar denganmu tentang hal ini. Sebagai mahasiswa semester empat tidak mungkin kau tidak tahu apa yang Bapak jelaskan.” Muammar mendengarkan hardikan ayahnya dengan tenang. Baginya, kekunoan ayahnya semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar merasa ayah, ibu, dan kedua adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang mengekang. Dua puluh tahun di negeri yang jauh ini tidak membuat mereka dapat menyerap keragaman nilai di sekitar mereka. “Ajaklah Joyce pergi. Yakinkan dia bahwa keluarga kita tidak menolak kehadirannya. Tapi, kita tidak dapat memberikan ruang kepadanya untuk menginap di rumah ini sebelum ia resmi menjadi istrimu. Joyce boleh menganggap Bapak kuno, konservatif, atau apa saja karena sikap Bapak yang tak dapat ditawar ini.” Tanpa memberikan komentar sepatah kata pun, Muammar meninggalkan ayahnya seorang diri di ruang kerja itu. Ia kembali ke ruang tamu menemui Joyce yang sedang berbicara dengan Maryam. Ia membisikkan sesuatu ke telinga perempuan kulit putih itu. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum kepada Maryam. Kemudian ia meminta diri untuk meninggalkan rumah itu. Ketika Joyce dan Muammar melangkah keluar ruang tamu mereka dilepas Maryam dengan ucapan selamat malam. Satu minggu setelah peristiwa malam itu, Muammar menelepon ayahnya. Dengan suara tenang dan perlahan ia menyatakan kecewa dengan sikap ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membebaskan diri dari belenggu keyakinan yang menghimpitnya. Keyakinan atau agama, apa pun agama dan keyakinan itu seharusnya tidak membuat pemeluknya senantiasa berdiri di tempat dan tidak berupaya untuk melangkah maju. “Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampuradukkan keyakinan dan rasio. Salah satu di antaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah melepaskan keyakinan keluarga kita, yang juga keyakinan yang ananda pegang selama ini.” Begitu mendengar kalimat Muammar terakhir, Maludin tidak mendengarkan lagi apa yang diucapkan anaknya, walaupun gagang telepon masih tetap terpegang erat di tangannya. Lama ia terdiam sebelum meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Begitu mudahnya Muammar melepas keyakinan keagamaannya hanya karena persoalan yang masih dapat dicari pemecahannya. Sebenarnya ada kalimat terakhir yang ingin diucapkan Maludin kepada Muammar sebelum anak muda itu meninggalkan ruang kerjanya. Ia ingin menyarankan agar Joyce menikmati malam yang dingin itu seorang diri di kamar Muammar, sedangkan Muammar bergabung dengan kedua adiknya di kamar lain. Tetapi, Muammar tanpa komentar apa pun telah meninggalkannya di ruang kerja itu sebelum ia sempat melontarkan kalimatnya terakhir. Berat bagi Maludin untuk menyampaikan keputusan yang telah diambil Muammar itu. Ia masih ingin bertemu dengan anaknya itu untuk menemukan jalan keluar yang dapat diterima Muammar. Namun, ia tidak tahu bagaimana menemukan jalan keluar itu, karena ia dan Muammar telah berada pada posisi berseberangan. Kompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang berkaitan langsung dengan Tuhan, adalah langkah yang tidak akan pernah diambil oleh Maludin. Ia lebih siap untuk kehilangan anaknya daripada mengingkari keyakinan yang telah dipeluknya puluhan tahun. Malam ini, sebenarnya hingga pagi ini, Maludin tetap terjaga. Keputusan Muammar telah membuatnya menoleh ke masa lampau. Ke masa pada saat ia dan istrinya merasakan kesenangan dan kegembiraan ketika menjejakkan kaki di negeri ini. Kegembiraan dan kesenangan yang juga mereka rasakan pada saat anak-anak mereka dapat bersekolah tanpa harus mengeluarkan biaya, di samping mereka dapat berdomisili di lingkungan yang tidak sumpek. Ditambah lagi dengan pendapatan yang jauh melebihi kebutuhan. Dalam kondisi seperti itulah mereka membesarkan Muammar dan kedua adiknya. Beberapa hari Maludin menyimpan rahasia itu dalam dirinya. Akhirnya ia tak mampu memiliki rahasia itu seorang diri. Ia harus berbagi rahasia ini dengan istrinya Maryam, karena Muammar adalah putra mereka berdua. Dan ia tidak ingin terlalu sering terjaga pada saat ketika ia seharusnya menikmati istirahat pada malam hari. Saat yang ditunggunya itu akhirnya tiba ketika Maryam bertanya mengapa Muammar tidak pernah pulang beberapa hari terakhir. Maryam mendengarkan dengan hati teriris ketika suaminya membuka lembar-lembar cerita itu kepadanya. Ia benar-benar merasa tersayat pada saat Maludin mengutarakan bahwa Muammar bukan saja telah meninggalkan keyakinan yang dipeluknya, tetapi juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan ayahnya kalau saja hal itu tidak menyebabkan terputusnya jaminan untuk memperoleh pinjaman dari bank yang digunakan untuk membiayai kuliahnya. Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam
hati. Setelah itu ia memandang suaminya dengan penuh pengertian. “Kesenangan dan kegembiraan kita selama ini harus kita bayar terlalu
mahal,” ujar Maludin kepada Maryam. Perempuan itu mengangguk. (*) (https://lakonhidup.com/2012/10/19/muammar-memilih-jalan-sendiri/)
|
***
Cerpen sebagai cerita
rekaan menurut Suminto A.Sayuti setidaknya memiliki empat kriteria sebagai
berikut:
1)
cerita rekaan sebagai ekspresi pengarang,
2)
cerita rekaan sebagai sebuah struktur,
3)
cerita rekaan sebagai refleksi kenyataan, dan
4)
cerita rekaan sebagai sumber nilai.
Sebagai ekspresi pengarang cerpen merupakan curahan perasaan dan atau
pikiran pengarang. Bisa juga cerpen sebagai produk imajinasi pengarang yang bekerja
dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, atau perasaan-perasaan pengarangnya.
Sebagai sebuah struktur mandiri, cerpen harus terbebas dari baik hubungannya
dengan pengarang, pembaca, maupun realita. Artinya, cerpen dari dan untuk
cerpen itu sendiri sehingga cerpen benar-benar otonom dari pengaruh apapun. Sebagai
refleksi kenyataan, cerpen merupakan sebuah proses kreatif yang menjadikan
kenyataan sebagai titik tolak pengarang untuk menciptakan kembali kenyataan. Dalam
konteks ini cerpen merupakan imitasi atau (bisa juga) refleksi, atau referentasi
dunia dan kehidupan manusia. Yang terakhir, sebagai sumber nilai, cerpen diciptakan
untuk mencapai tujuan tertentu (dampaknya) pada pembaca. Sebuah cerpen bisa
saja bertujuan politis, moral, agama, pendidikan, atau tujuan-tujuan yang lain.
Oleh karena itu, sebuah cerpen bisa saja
bermuatan, misalnya, yang berkaitan dengan perubahan sosial seperti
cerpen-cerpen karya Ahmad Tohari atau Sori Siregar.
Cerpen dengan judul
“Muammar Memilih Jalan Sendiri” karya Sori Siregar di atas berkisah tentang
pertentangan antara anak dan ayahnya. Atau antara
anak dan ayah terjadi konflik. Konflik itu bermula ketika Muammar, anak tertua
pasangan Maludin dan Maryam, suatu kali mengajak pacarnya menginap di rumahnya.
Bukan hanya ayahnya, ibunya, dan kedua adiknya, Fathur dan Fayed juga terkejut.
Ayahnya berusaha menjelaskan bahwa agamanya (Islam) dan agama apapun tidak
membenarkan seseorang mengajak yang bukan istrinya bermalam di kamarnya
walaupun alasan sang pacar agar dia bisa mengenal keluarganya lebih jauh.
Muammar tidak bisa menerima pendapat ayahnya. Dia menganggap ayahnya dan juga
ibu serta adik-adiknya masih berpikiran kuno. Dia beranggapan selama dua puluh
tahun tinggal di negeri orang selayaknya mereka telah bisa menyerap nilai-nilai
keragaman yang hidup di sekitarnya. Singkatnya, Muammar dan Joyce pergi dari
rumah itu. Muammar melalui telpon mengungkapkan bahwa dia telah meninggalkan
keyakinannya. Baginya rasio lebih harus diutamakan daripada keyakinan. Rasio
menurutnya jangan bercampur dengan keyakinan. Dengan demikian, cerpen Sori Siregar boleh jadi bermuatan perubahan
sosial.
***
Cerpen itu netral.
Dikatakan netral karena cerpen bisa bermuatan apa saja tergantung penulisnya.
Kalau mau diisi tentang cinta, jadilah cerpen yang penuh dengan kisah cinta.
Yang namanya cinta bisa cinta kepada Tuhan, bisa juga cinta kepada sesamanya,
atau (bahkan) cinta kasih erotis. Kalau mau diisi tentang dunia kriminal
(kejahatan), jadilah cerpen kriminal seperti cerita kriminal. Kalau mau diisi
tentang pendidikan, jadilah cerpen yang bermuatan nilai-nilai pendidikan. Atau
kalau ada orang religius ingin menulis cerpen yang bernuansa religius, jadilah
cerpen-cerpen yang religius. Cerpen juga bisa diisi dengan seputar
masalah-masalah sosial, jadilah cerpen yang sarat dengan muatan masalah-masalah
sosial. Salah satu yang dekat temanya dengan sekitar muatan masalah sosial
adalah perubahan sosial. Sah-sah saja kalau ada cerpen yang bermuatan
masalah-masalah perubahan sosial karena perubahan sosial akrab dengan kehidupan
manusia. Masalah perubahan sosial yang pernah disampaikan dalam hal ini bisa
perubahan sosial dari dalam atau dari luar.
Perubahan sosial yang datangnya dari dalam
mencakup bertambah dan berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru,
pertentangan atau konflik, dan terjadinya pemberontakan atau revolusi.
Sedangkan yang datangnya dari luar mencakup bencana alam atau kondisi
lingkungan fisik, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Cerpen-cerpen di negara ini banyak bicara tentang hal-hal yang disebutkan di
atas. Bahkan, bukan hanya faktor yang datang baik dari dalam maupun dari luar,
faktor yang mempercepat dan menghambat perubahan sosial juga dibahas dalam
cerpen-cerpen Indonesia. Faktor-faktor yang mempercepat seperti kontak dengan
budaya lain, sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya
seseorang dan keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang
menyimpang, sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka, penduduk yang
heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu, adanya
orientasi masa depan, dan adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha
memperbaiki kehidupannya juga banyak dibahas dalam cerpen-cerpen Indonesia.
Tidak hanya yang mempercepat perubahan sosial, hal-hal yang berkaitan yang
menghambat perubahan sosial juga dibahas. Sebut saja yang menghambat perubahan
sosial di sini adalah kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan
sainstek yang lambat, sikap masyarakat yang sangat tradisional, adanya
kepentingan-kepentingan yang telah tertanam (vested interest), rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada
integrasi kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap
yang tertutup, hambatan-hambatan yang bersifat ideologis, dan adat atau
kebiasaan (Nanang Martono, Sosiologi
Perubahan Sosial, 2016:16-23).
***
Berdasarkan uraian dan contoh cerpen di atas, sekarang kita fokus belajar menulis wacana narasi (cerpen). Menulis cerpen yang berkaitan dengan masalah perubahan sosial tampaknya menarik untuk dicoba. Sebagai langkah awal, coba kita perhatikan gambar di atas! Kita sepakat gambar di atas itu menunjukkan orang yang sedang gelisah. Sebagai pancingan kita ajukan beberapa pertanyaan: apa itu orang yang gelisah (di sini kita berusaha mencari referensi tentang gelisah atau boleh juga diperluas dengan manusia dan kegelisahan)? Siapa saja orang yang gelisah (dalam hal ini silakan saja kalau mau menggunakan tokohnya apakah menggunakan tokoh aku, nama orang, atau dia dan bisa saja ditentukan jenis kelaminnya)? Di mana kejadiannya (bisa ditentukan lokasinya: di rumah, di bar, di pedestarian, di lorong-lorong jalan yang gelap, atau di tempat umum lainnya)? Kenapa bisa seperti itu (di sini kita dituntut mencari faktor penyebabnya). Terakhir, bagaimana dengan solusinya (cara mengatasi masalah yang bisa dikaitkan dengan akhir cerita apakah cerita berakhir dengan peristiwa yang tragis atau kebalikannya: happy ending)? Semuanya sangat bergantung pada keinginan kita. Meskipun sulit, kita harus tetap mencoba menuliskannya. Caranya, pelajari uraian di atas. Kalau masih dirasakan kurang silakan cara bahan-bahan referensi lainnya di luar. Yang lebih penting lagi, kita perlu melakukan imajinasi dan kontemplasi. Ini sebuah proses yang berat, tetapi tetap harus dicoba.
Sumber Gambar:
1. (https://shopee.co.id/Cerpen-Pilihan-Kompas-i.4176923.9931486948)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar