30. MASALAH-MASALAH KEBAHASAAN (1)
`Berjalan pelihara kaki. Berbicara pelihara lisan`, demikian orang membuat adagium yang ditujukan pada orang yang tidak bisa berbicara baik. Jadi, untuk mematahkan pembicaraan orang cukup dengan menyampaikan adagium tersebut. Syukur-syukur kalau orang itu mengerti, kalau tidak, akan keluar bentakan `jaga mulutmu!`, kata orang yang sudah sebel dengar kata-katanya yang (mungkin) tidak mengenakkan. Itu dalam bahasa lisan. Dalam bahasa tulisan juga berlaku adagium sama tapi tak serupa, yaitu: `menulis pelihara diksi`. Maksudnya, siapapun orangnya yang mau menulis pandai-pandai memilih diksi (pilihan kata).
Dalam menulis bukan hanya
diksi, tapi juga ketika menulis kalimat harus jelas: mana dalam kalimat yang
ditulis Subjek(S)-nya dan mana pula Predikat (P)-nya. Minimal ketika menulis
harus ada kejelasan, baik S maupun P. Tentang kalimat yang mau ditulis ada
tidak Keterangan (Ket.), Pelengkap (Pel), atau Objek (O) sekalipun bukan hal
yang mendasar. Selain itu, kalimat yang ditulis juga harus bisa diterima
logika. Maksudnya, kalimat yang ditulis harus memenuhi kriteria kewajaran.
Misalnya, ada kalimat seperti ini: `Anjing menggigit Mr. Postman`. Itu wajar
(sesuai logika). Tapi, `Mr Postman menggigit anjing.` Itu sudah tidak wajar
(tidak sesuai logika). Memang benar kalau kita analisis kedua kalimat tersebut
ada S, P, dan O. Cuma `kan tidak mungkin ada orang menggigit anjing? Apa kata
dunia?
Masalah-masalah
kebahasaan yang perlu kita ketahui di antaranya adalah ejaan, kata bentukan,
pilihan kata, dan kalimat. Untuk masalah ejaan disarankan coba cari buku-buku
Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Sebaiknya buku EBI yang digunakan adalah buku EBI
yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Pusat Bahasa). Begitu juga untuk buku-buku yang berkaitan
dengan bentuk kata, pilihan kata, kalimat, dan paragraf silakan diunduh dari
Pusat Bahasa. Semua buku yang diterbitkan Pusat Bahasa sebaiknya memang harus
dipelajari. Tapi, dalam kesempatan ini kita hanya mencoba mempelajari bentuk
kata, pilihan kata, dan kalimat. Selebihnya, seperti ejaan bisa dibaca dan
dipelajari sendiri. Tentang paragraf sudah dibahas sejak dari “2. Saatnya
Menulis” sampai dengan “13. Dipancing Pakai Gambar Karikatur” sehingga tidak
perlu dibahas lagi.
***
Kata Bentukan
Proses pembentukan kata
ada lima, yaitu pengimbuhan, penggabungan kata dasar dan kata dasar,
penggabungan unsur terikat dan kata dasar, pengulangan, dan pengakroniman. Tentang
proses pembentukan kata bisa dilihat pada bahan-bahan presentasi berikut ini.
Meskipun demikian, perlu diketahui saja, nanti di hampir setiap bahan
presentasi ada sedikit komentar. Komentar tersebut lebih mengingatkan kita
bahwa dalam penggunaan kata-kata berimbuhan kita sering melakukan kesalahan.
Dengan adanya komentar dan bahan-bahan presentasi, kesalahan dalam berbahasa
bisa diminimalisasi (nah, kata apa lagi diminimalisasi kok bukan
diminimalisir?).
(Masalah pengimbuhan jangan dianggap sepele. Perhatikan cara
penulisannya. Kita sering salah dalam penulisan imbuhan walaupun tampaknya
sederhana saja. )
(Jadi, imbuhan dalam bahasa Indonesia cuma ada empat: awalan,
akhiran, sisipan, dan gabungan imbuhan.)
(Banyak orang melakukan kesalahan ketika menulis kata-kata berimbuhan
seperti yang terlihat di atas.)
(Bentukan kata di atas dijadikan analogi di bidang olah raga sehingga
muncul bentukan kata-kata baru, seperti: pegolf, pecatur, pesepakbola, dan
pejudo.)
(Walaupun kata dasarnya sama `kembang` karena imbuhannya berbeda:
`mengembang` dan `berkembang` ketika diberi imbuhan pe-an, hasilnya bisa
berbeda. Jika hasilnya berbeda, artinya bisa dipastikan juga berbeda.)
(Kata-kata yang di sebelah kiri juga sering salah digunakan orang. Kata-kata
sejenis yang berasal dari bahasa asing yang berakhiran –ir jangan lagi kita
gunakan. Ganti kata-kata tersebut dengan yang berakhiran –si atau -isasi
seperti contoh di atas.)
(Seringkali kita dapati orang ingin menggunakan kata yang lebih
singkat daripada menyampaikannya secara lengkap. Padahal ketika menggunakan
kata yang lebih singkat justru terjadi kesalahan berbahasa. Contoh di atas
menunjukkan ternyata kata `dikesayakan` atau `dikebapakkan` justru salah. )
(Dalam penulisan gabungan kata kita juga sering melakukan kesalahan.
Dengan milihat bahan presentasi di atas kita semakin sadar untuk tidak lagi
melakukan kesalahan yang sama. )
(Perlu juga diperhatikan penulisan frasa seperti `tidak adil` yang diberikan imbuhan bentukan yang tepat seperti contoh di atas. Meskipun orang sering melakukan kesalahan dalam penulisannya jangan ditiru!)
(Penulisan gabungan kata yang diberi imbuhan tidak sama dengan yang terdapat pada frasa.)
(Dari tabel di atas, mungkin hanya imbuhan pra-, swa-, maha-, dan adi- yang kalau dirangkaikan dengan kata yang lain, seperti `prasejarah, swadaya, mahasiswa, atau adidaya saja yang dalam penulisannya benar. Selain itu, orang sering melakukan kesalahan.)
(Untuk pembentukan kata dengan pengulangan kata dan pengakroniman
tidak perlu dipaparkan karena jarang orang melakukan kesalahan. Sekarang kita
teruskan dengan pilihan kata atau diksi.)
***
Diksi (Pilihan Kata)
Di atas telah ditulis sebuah adigium `menulis pelihara diksi`. Mengapa pelihara diksi? Pernahkah kita mengalami dalam sepanjang hidup kita cuma karena salah tulisan yang berawal dari salah memilih kata membuat orang yang membaca tulisan kita tersinggung? Atau kalau memang di antara kita tidak pernah mengalaminya, mungkin kita pernah mendapat informasi bahwa sebuah negara, instansi pemerintahan, atau perusahaan membuat jagat menjadi ramai karena salah memilih kata. Adalah sebuah perusahaan penerbangan Korea Selatan, Korean Air, yang membuat iklan rute baru ke Nairobi (Kenya). Iklan itu berbunyi: “Fly Korean Air and enjoy the grand African Savanna, the safari tour, and the indigenous people full of primitive energy,” (https://www.kompasiana. com/dearmarintan /5511445 ba333110643 ba7e58 /salah-diksi-fatal-akibatnya). Di situ ada tertulis kata `primitive` yang jika ditulis dalam bahasa Indonesia `primitif`. Kata tersebut menurut KBBI didefinisikan sebagai keadaan yang sangat sederhana; belum maju (tt peradaban; terbelakang): kebudayaan –; 2 sederhana; kuno (tidak modern tt peralatan). Gara-gara mencantumkan kata `primitive` Korean Air mengundang cicitan dari sekian banyak orang yang mengkritisinya. Jadi, sekali lagi, hati-hatilah dalam memilih kata, baik ketika kita bicara maupun menulis.
Atas dasar uraian itu, tiba saatnya kita membahas masalah diksi. Ketika bicara tentang diksi, ada dua hal yang dibicarakan: pemilihan kata dan pilihan kata. Keduanya jelas berbeda. Sebagai langkah awal, kita membahas dulu pilihan kata. Berkaitan dengan pilihan kata, kita diingatkan walaupun kata-kata yang disampaikan bermakna sama, dalam pemakaian sehari-hari harus disesuaikan dengan situasinya. Di slide-slide yang tercantum di bawah ini dijelaskan kapan kita, misalnya, menggunakan kata Diam!; Tutup mulutmu!; atau Jangan berisik! Kapan pula kita menggunakan kata, misalnya, Saya harap Anda tenang! atau Dapatkah Anda tenang sebentar! Kelima kata tersebut memiliki arti yang sama. Tapi,pemakaiannya bisa berbeda. Kemudian diteruskan dengan langkah kedua, yaitu pemilihan kata. Pemilihan kata itu sendiri mencakup ketepatan, kecermatan, keserasian. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada slide-slide berikut ini.
![]() | ||
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
Apa yang harus kita lakukan ketika pertama kali ingin menulis? Diakui atau tidak ketika mau menulis kita pasti mengalami kesulitan dalam memulai sebuah tulisan. Kesulitannya selalu berawal dari memilih kata yang harus kita gunakan. Dalam hal ini kita kesulitan memilih kata yang paling tepat untuk kita sampaikan. Prinsipnya, kita tidak usah panik. Sebagaimana telah disampaikan dalam pembelajaran penulisan terdahulu banyak cara yang bisa kita lakukan. Kita tentukan dulu tema tulisan yang mau kita angkat tentang apa? Jawaban dari pertanyaan tersebut boleh jadi merupakan tema yang mau kita angkat. Kalau sudah menemukan temanya, langkah berikut segera cari referensi yang berhubungan dengan tema yang mau kita tulis. Di saat kita mencari referensi, di saat itu pula kita menemukan banyak kata yang bisa digunakan dalam menulis. Misalnya, kita ingin menulis tentang kejahatan cyber (cyber crime). Kita pasti akan menemukan kata-kata atau istilah-istilah yang ada kaitannya dengan kejahatan cyber. Di antara kata-kata dan istilah-istilah yang kita temukan, ambil salah satu kata atau istilah, misalnya kata `pornografi`. Nah, dari kata `pornografi` coba mulai kita tulis tentang definisi, pertanyaan di seputar `pornografi`,mengapa orang tertarik dengan `pornografi`, dan bagaimana cara solusi menghindari `pornografi` itu sendiri? Dengan kita menjawab berbagai pertanyaan tersebut diharapkan kita bisa menulis sebuah wacana, entah wacana deskripsi atau eksposisi. Jadi, tidak perlu khawatir kita tidak bisa menulis karena keterbatasan kemampuan memilih kata. Agar tidak miskin kata-kata, kita harus banyak baca. Dengan banyak membaca kita akan kaya dengan pilihan kata. Meskipun demikian, sekarang kita pelajari dulu slide-slide yang ditampilkan di bawah ini agar kita banyak tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan kata. | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ||
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
![]() | ![]() | |
Dua struktur bahasa yang kita gunakan: kata bentukan dan pilihan kata, menjadi modal utama kita menulis. Tanpa memiliki kedua struktur itu, kita tidak bisa menulis dengan baik dan benar (meniru berbahasa Indonesia dengan baik dan benar). Kita bisa saja menulis, tapi kata-kata yang digunakan boleh jadi kurang variatif. Kata-kata bentukan yang kita gunakan boleh jadi banyak ditemukan kesalahan dalam penggunaannya. Selain itu, kita miskin dengan pilihan kata karena boleh jadi kita menggunakan kata-kata yang itu-itu saja (kurang variatif). Bahkan, ada kecenderungan kata yang kita gunakan membuat orang lain geram seperti kasus Korean Air yang menggunakan kata `primitive` yang mengundang kritikan dari netizen. Supaya terhindar dari kata-kata yang tidak mengenakkan dari semua pihak, sejak dini kita usahakan untuk belajar memilih kata dengan baik. Caranya, tidak ada cara yang paling mudah kecuali banyak membaca. Dengan banyak membaca kita akan kaya dengan kosa. Kalau kaya dengan kosa kata, kita akan memudah memilih kata. Wallahu a`lam bissawab.
Sumber Gambar:
(https://www.kompasiana.com/dearmarintan/5511445ba333110643ba7e58/salah-diksi-fatal-akibatnya)






























































Tidak ada komentar:
Posting Komentar