27. BELAJAR MENULIS WACANA PETUNJUK/TIPS (3)
Subagio S.Waluyo
Bagian terakhir dari “Belajar Menulis Petunjuk/Tips” adalah tips menulis
wacana. Untuk tips menulis wacana, alangkah baiknya kalau kita meninjau kembali
tulisan-tulisan yang berkaitan dengan seseorang yang mengalami kesulitan ketika
mengawali sebuah tulisan. Orang yang mengalami kesulitan ketika mengawali sebuah
tulisan sebagaimana pernah disinggung dalam tulisan-tulisan terdahulu bisa
dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara yang pernah ditawarkan di antaranya
diawali dengan:
1. menuliskan definisi;
2. mengajukan berbagai pertanyaan;
3. menunjukkan sesuatu yang memikat;
4. mengutip dari berbagai kutipan;
5. dipancing melalui gambar ilustrasi; dan
6. menjadikan gambar karikatur sebagai insipirasi.
Keenam cara tersebut bisa kita coba pratekkan dalam tulisan kita kali
ini yang membahas tentang tips menulis wacana.
[Uraian di atas bisa dijadikan paragraf pembuka dalam tips menulis wacana.]
***
Bagaimana cara mempraktekkannya? Mudah saja, kita jadikan saja uraian di
atas sebagai paragraf pembuka. Setelah itu kita menulis paragraf berikutnya
tentang menuliskan definisi. Untuk itu, kita bisa mencuplik tulisan terdahulu
yang terdapat “4. Awali dengan
Definisi”. Pada tulisan tersebut dijelaskan bahwa untuk tulisan yang
dimulai dengan definisi kalau kesulitan mendefinisikan suatu kata atau frasa
bisa dicari di kamus (dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI)
atau buku-buku keilmuan yang berkaitan dengan kata atau frasa yang dicari. Langkah berikutnya setelah paragraf pembuka kita
tulis adalah mencoba menuliskan tips-tips yang ada diuraian di atas satu
persatu berikut ini.
Tips menulis wacana diperuntukkan bagi penulis pemula yang bisa dipastikan mengalami kesulitan untuk menuangkan gagasannya. Ketika ada kesulitan menuangkan gagasan, tidak ada salahnya kita membuat sebuah pancingan memunculkan kata/frasa yang perlu didefinisikan. Kata/frasa yang mau didefinisikan itu perlu dicari di KBBI atau kamus-kamus yang berkaitan dengan salah satu bidang keilmuan yang mau kita tulis. Misalnya, kalau mau menulis tentang `environmentalisme`,kita tidak akan bisa menemukan definisi tersebut di KBBI. Kita baru bisa menemukannya di buku Isme-Isme dari A sampai Z yang ditulis oleh A.Mangunhardjana. Bisa juga kita cara di Wikipedia atau Google Search. Kalau sudah menemukannya, kita salin saja definisinya dan kita teruskan menulis tentang environtalisme itu.
[ Untuk tips pertama ini, yang perlu dipersiapkan semua bahan referensi yang bisa dijadikan rujukan dalam menulis definisi.]
Itu sebagai cara pertama. Cara kedua, kita bisa mengajukan berbagai pertanyaan. Masih berkaitan dengan `environmentalisme`, coba kita ajukan pertanyaan apa itu `environmentalisme`? Kita pasti mencoba mencari definisi kata tersebut. Tapi, coba ajukan pertanyaan siapa yang termasuk dalam komunitas atau golongan `environmentalisme`? Mengapa kita memerlukan komunitas `environmentalisme`? Bagaimana menjadikan `environmentalisme` sebagai cara untuk melestarikan lingkungan? Semua pertanyaan yang kita ajukan itu bisa memancing kita untuk menulis.
[ Dengan mengajukan berbagai pertanyaan mau tidak mau kita termotivasi untuk memberikan jawaban. Jawaban yang dikehendaki tentu saja jawaban yang membuat pembaca bertambah wawasannya.]
Tips ketiga, kita bisa mengutip ungkapan seseorang yang diperkirakan akan mengejutkan pembacanya. Kita bisa mengambil contoh pernyataan WS Rendra tentang politik. Apa katanya? `Politik adalah cara merampok dunia`. Pernyataan ini cenderung sarkasme, kan? Kalau memang benar, kita tinggal coba meneruskan saja dengan memberikan penjelasan. Bila perlu tidak ada salahnya kita tulis ilustrasi tentang para politisi yang syahwat politiknya kuat yang cenderung melalukan berbagai cara untuk merebut kekuasaan atau jabatan. Kita juga bisa menuliskan dampaknya yang akan muncul akibat dari perilaku politisi yang demikian kuat syahwat politiknya.
[ Sah-sah saja orang mengutip pernyataan seseorang yang sangat mungkin bisa memerahkan telinga orang yang membacanya karena dengan cara itu orang akan bebas menuangkan gagasannya asal ketika menyampaikannya masih berpegang pada prinsip kesantunan berbahasa.]Tips keempat menulis wacana adalah mengutip dari berbagai kutipan. Maksudnya, di awal tulisan kita dibolehkan mengutip dari berbagai sumber entah dari kitab suci, buku-buku ilmiah, novel, cerpen, puisi, bahkan lirik-lirik lagu. Tentu saja jangan lupa kita menyebutkan sumber kutipannya. Sah-sah saja kita mengutip. Tidak ada yang melarang sepanjang kita menyebutkan sumber tulisannya. Sebagai contoh, misalnya, kita mau menulis tentang pelayanan publik. Kita bisa saja memulainya dengan sebuah pertanyaan apa itu pelayanan publik? Untuk memperoleh jawabannya kita coba mencarinya di buku-buku yang secara khusus membahas tentang pelayanan publik. Di buku Manajemen Pelayanan Publik oleh Hayat, 2017:21 disebutkan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mendefinisikan pelayatan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negera dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Jadi, Hayat selaku penulis saja untuk mendefinisikan pelayanan publik masih mengutip dari UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Kita pun selaku orang yang menulis tentang pelayanan publik juga tidak ada salahnya mengutip pendapat yang sama. Dengan mengutip pendapat orang, kita dimudahkan menguraikan pendapat orang tentang pelayanan publik, misalnya, dan sekaligus mencoba menjelaskan muatan yang ada pada pendapat tersebut. Dengan cara demikian kita sudah mulai menulis wacana yang salah satu tipnya adalah mengutip dari kutipan.
[ Setiap orang yang belajar menulis sejak dini berupaya menghindari
stigma `plagiator` karena stigma itu kalau sudah melekat pada seseorang susah
untuk dihilangkan. Agar terhindar dari stigma itu, setiap kutipan yang
dicantumkan dalam tulisan jangan lupa dituliskan sumbernya.]
Agar dimudahkan menuangkan gagasan ke dalam tulisan, sebagai tips kelima, kita memulai sebuah tulisan melalui gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi di atas, misalnya, bisa ditebak bahwa gambar itu ditujukan pada orang-orang yang mengalami kesulitan menggunakan gawainya. Anak-anak milenial biasa menyebutnya sebagai `gagap teknologi` alias `gaptek`. Gambar ilustrasi itu bisa dijadikan inspirasi untuk menulis tentang, misalnya, mensikapi orang-orang yang gaptek. Untuk memudahkan menuliskannya, kita bisa mengajukan berbagai pertanyaan di seputar apa yang dimaksud dengan mensikapi orang-orang yang gaptek? Siapa saja orang-orang yang dikategorikan gaptek? Mengapa kita harus mensikapi orang-orang yang gaptek? Bagaimana caranya mensikapi orang-orang yang gaptek. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mustahil kita bisa menulis satu wacana utuh.
[ Dari sebuah gambar ilustrasi kita bisa menulis sebuah wacana. Apakah
wacana itu nantinya menjadi sebuah tulisan deskriptif atau eksposisi sangat bergantung
pada kehendak penulisnya.]
Tips keenam, terakhir, yang juga tidak kalah menariknya untuk dicoba
menulis wacana adalah menjadikan gambar karikatur sebagai insipirasi. Sama
halnya dengan gambar ilustrasi, gambar karikatur seperti yang terdapat di “13.
Dipancing Pakai Gambar Karikatur” dijelaskan bahwa dalam menulis wacana yang
menggunakan gambar karikatur sebagai ilustrasinya dibutuhkan adanya pengamatan
yang mendalam. Artinya, kita harus secara teliti mencoba mengamati secara
detail, baik kata-kata maupun gambar karikatur itu sendiri sampai kita bisa
mengambil sebuah kesimpulan tentang isi gambar karikatur tersebut. Gambar
karikatur di atas, misalnya, sangat mudah ditebak isinya, yaitu politik uang di
masa kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada). Dari gambar karikatur silakan
saja ditulis tentang apa itu politik uang? Siapa yang menjadi pelaku-pelakunya?
Kenapa orang melakukan politik uang? Atau boleh juga kenapa dalam pilkada
sekalipun masih ada politik uang? Bagaimana cara mengatasi perilaku buruk yang
berkaitan dengan politik uang? Satu wacana eksposisi yang ditulis secara utuh
sangat mungkin bisa diwujudkan.
[ Gambar karikatur juga tidak kalah menariknya untuk dijadikan
inspirasi menulis. Buktinya, gambar karikatur di atas bisa dijadikan inspirasi
untuk menulis tentang politik uang.]
Menulis wacana yang diarahkan lewat tips ternyata banyak membantu penulis pemula. Dengan mempraktekkan keenam tips di atas, ternyata kita bisa menerapkannya. Semua itu tentu saja harus dicoba. Tanpa mencobanya, kita tidak akan pernah bisa menulis wacana. Walaupun terasa sulit untuk menuangkan gagasan ke dalam tulisan, kita harus punya tekad kuat untuk belajar menulis. Yang lebih penting lagi, kita harus fokus belajar menulis. Tidak ada waktu terlambat untuk belajar menulis. Menulislah sampai kita tidak bisa lagi menulis.
[ Sebagai tugas terakhir, mari kita masukkan semua yang tertulis di atas ke dalam kotak di bawah ini!]
|
Bagian terakhir dari
“Belajar Menulis Petunjuk/Tips” adalah tips menulis wacana. Untuk tips
menulis wacana, alangkah baiknya kalau kita meninjau kembali tulisan-tulisan
yang berkaitan dengan seseorang yang mengalami kesulitan ketika mengawali
sebuah tulisan. Orang yang mengalami kesulitan ketika mengawali sebuah
tulisan sebagaimana pernah disinggung dalam tulisan-tulisan terdahulu bisa
dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara yang pernah ditawarkan di antaranya
di awali dengan: 1. menuliskan definisi; 2. mengajukan berbagai
pertanyaan; 3. menunjukkan sesuatu yang
memikat; 4. mencuplik berbagai
kutipan; 5. dipancing melalui gambar
ilustrasi; dan 6. menjadikan gambar
karikatur sebagai insipirasi. Keenam cara tersebut bisa kita coba pratekkan dalam tulisan kita kali
ini yang membahas tentang tips menulis wacana. Tips menulis wacana
diperuntukkan bagi penulis pemula yang bisa dipastikan mengalami kesulitan
untuk menuangkan gagasannya. Ketika ada kesulitan menuangkan gagasan, tidak
ada salahnya kita membuat sebuah pancingan memunculkan kata/frasa yang perlu
didefinisikan. Kata/frasa yang mau didefinisikan itu perlu dicari di KBBI
atau kamus-kamus yang berkaitan dengan salah satu bidang keilmuan yang mau
kita tulis. Misalnya, kalau mau menulis tentang `environmentalisme`, kita
tidak akan bisa menemukan definisi tersebut di KBBI. Kita baru bisa
menemukannya di buku Isme-Isme dari A sampai Z yang ditulis oleh
A.Mangunhardjana. Bisa juga kita cara di Wikipedia atau Google Search. Kalau
sudah menemukannya, kita salin saja definisinya dan kita teruskan menulis
tentang environtalisme itu. Itu sebagai cara pertama.
Cara kedua, kita bisa mengajukan berbagai pertanyaan. Masih berkaitan dengan
`environmentalisme`, coba kita ajukan pertanyaan apa itu `environmentalisme`?
Kita pasti mencoba mencari definisi kata tersebut. Tapi, coba ajukan
pertanyaan siapa yang termasuk dalam komunitas atau golongan
`environmentalisme`? Mengapa kita memerlukan komunitas `environmentalisme`?
Bagaimana menjadikan `environmentalisme` sebagai cara untuk melestarikan
lingkungan? Semua pertanyaan yang kita ajukan itu bisa memancing kita untuk
menulis. Tips ketiga, kita bisa
mengutip ungkapan seseorang yang diperkirakan akan mengejutkan pembacanya.
Kita bisa mengambil contoh pernyataan WS Rendra tentang politik. Apa katanya?
`Politik adalah cara merampok dunia`. Pernyataan ini cenderung sarkasme, kan?
Kalau memang benar, kita tinggal coba meneruskan saja dengan memberikan
penjelasan. Bila perlu tidak ada salahnya kita tulis ilustrasi tentang para
politisi yang syahwat politiknya kuat yang cenderung melalukan berbagai cara
untuk merebut kekuasaan atau jabatan. Kita juga bisa menuliskan dampaknya
yang akan muncul akibat dari perilaku
politisi yang demikian kuat syahwat politiknya. Tips keempat menulis
wacana adalah mengutip dari berbagai kutipan. Maksudnya, di awal tulisan kita
dibolehkan mengutip dari berbagai sumber entah dari kitab suci, buku-buku
ilmiah, novel, cerpen, puisi, bahkan lirik-lirik lagu. Tentu saja jangan lupa
kita menyebutkan sumber kutipannya. Sah-sah saja kita mengutip. Tidak ada
yang melarang sepanjang kita menyebutkan sumber tulisannya. Sebagai contoh,
misalnya, kita mau menulis tentang pelayanan publik. Kita bisa saja
memulainya dengan sebuah pertanyaan apa itu pelayanan publik? Untuk
memperoleh jawabannya kita coba mencarinya di buku-buku yang secara khusus
membahas tentang pelayanan publik. Di buku Manajemen Pelayanan Publik
oleh Hayat, 2017:21 disebutkan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik mendefinisikan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negera dan penduduk atas barang, jasa,
dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik. Jadi, Hayat selaku penulis saja untuk mendefinisikan pelayanan publik
masih mengutip dari UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Kita pun selaku orang yang menulis tentang pelayanan publik juga tidak ada
salahnya mengutip pendapat yang sama. Dengan mengutip pendapat orang, kita
dimudahkan menguraikan pendapat orang tentang
pelayanan publik, misalnya, dan sekaligus mencoba menjelaskan muatan
yang ada pada pendapat tersebut. Dengan cara demikian kita sudah mulai
menulis wacana yang salah satu tipnya adalah mengutip dari kutipan. Agar dimudahkan
menuangkan gagasan ke dalam tulisan, sebagai tips ke lima, kita memulai
sebuah tulisan melalui gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi di atas, misalnya,
bisa ditebak bahwa gambar itu ditujukan pada orang-orang yang mengalami
kesulitan menggunakan gawainya. Anak-anak milenial biasa menyebutnya sebagai
`gagap teknologi` alias `gaptek`. Gambar ilustrasi itu bisa dijadikan
inspirasi untuk menulis tentang, misalnya, mensikapi orang-orang yang gaptek.
Untuk memudahkan menuliskannya, kita bisa mengajukan berbagai pertanyaan di
seputar apa yang dimaksud dengan mensikapi orang-orang yang gaptek? Siapa
saja orang-orang yang dikategorikan gaptek? Mengapa kita harus mensikapi
orang-orang yang gaptek? Bagaimana caranya mensikapi orang-orang yang gaptek.
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mustahil kita bisa
menulis satu wacana utuh. Tips keeenam, terakhir,
yang juga tidak kalah menariknya untuk dicoba menulis wacana adalah
menjadikan gambar karikatur sebagai insipirasi. Sama halnya dengan gambar
ilustrasi, gambar karikatur seperti yang terdapat di “13. Dipancing Pakai
Gambar Karikatur” dijelaskan bahwa dalam menulis wacana yang menggunakan
gambar karikatur sebagai ilustrasinya dibutuhkan adanya pengamatan yang
mendalam. Artinya, kita harus secara teliti mencoba mengamati secara detail,
baik kata-kata maupun gambar karikatur itu sendiri sampai kita bisa mengambil
sebuah kesimpulan tentang isi gambar karikatur tersebut. Gambar karikatur di
atas, misalnya, sangat mudah ditebak isinya, yaitu politik uang di masa
kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada). Dari gambar karikatur silakan
saja ditulis tentang apa itu politik uang? Siapa yang menjadi
pelaku-pelakunya? Kenapa orang melakukan politik uang? Atau boleh juga kenapa
dalam pilkada sekalipun masih ada politik uang? Bagaimana cara mengatasi
perilaku buruk yang berkaitan dengan politik uang? Satu wacana eksposisi yang
ditulis secara utuh sangat mungkin bisa diwujudkan. Menulis wacana yang
diarahkan lewat tips ternyata banyak membantu penulis pemula. Dengan
mempraktekkan keenam tips di atas, ternyata kita bisa menerapkannya. Semua
itu tentu saja harus dicoba. Tanpa mencobanya, kita tidak akan pernah bisa
menulis wacana. Walaupun terasa sulit untuk menuangkan gagasan ke dalam
tulisan, kita harus punya tekad kuat untuk belajar menulis. Yang lebih
penting lagi, kita harus fokus belajar menulis. Tidak ada waktu terlambat
untuk belajar menulis. Menulislah sampai kita tidak bisa lagi menulis. |
[ Ternyata, demikian mudah ya, menulis sebuah wacana dengan menerapkan
tips-tips yang tercantum di atas? Kalau ada yang punya konsep lain di
sekitar tips menulis wacana, boleh kita berbagi. Mudah-mudahan kita makin kaya dalam
menggunakan berbagai variasi penulisan wacana!]
Sumber Gambar:
1. (https://www.pngdownload.id/download/man-writing.html)
2. (https://blog.gamatechno.com/5-tips-menghindari-plagiarisme-dalam-menulis/)
3. (https://www.laduni.id/post/read/55118/hindari-money-politik-dalam-pesta-demokrasi)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar