26. BELAJAR MENULIS WACANA PETUNJUK/TIPS (2)
Subagio S. Waluyo
|
(Dikutip dari Skripsi Dewi Erlinawati: “Penggunaan Disfemia dalam
Komentar Para Netizen di Situs Online Kompas.Com pada Rubrik Politik)
|
Ketika membaca kutipan di atas, di mana biasanya kita temukan tulisan
dengan gaya seperti itu? Kita pasti akan mengatakannya di What`s App
(WA). Ya, memang gaya penulisan seperti itu adanya di WA. Rupanya ada juga yang
tertarik melakukan penelitian tentang gaya penulisan di WA atau di dunia maya.
Adalah Dewi Erlinawati seorang mahasiswa calon sarjana yang tertarik melakukan
penelitian tentang “Penggunaan Disfemia dalam Komentar Para Netizen di Situs Kompas.Com
pada Rubrik Politik”. Kata `disfemia` menurut Dewi Erlinawati merupakan antonim
dari eufemisme: mengubah ungkapan halus menjadi ungkapan kasar dan digunakan
untuk mengungkapkan rasa tidak senang. Ungkapan disfemia memang banyak
digunakan para netizen ketika berselancar di dunia maya. Ungkapan-ungkapan
yang disampaikan netizen tentu saja ungkapan-ungkapan yang menyakitkan
hati, menjijikkan, vulgar, tabu, dan tidak senonoh.
***
Sesuai dengan uraian di atas, kali ini kita akan belajar menulis wacana
dengan memasukkan tips yang berkaitan tips berselancar di dunia maya. Di atas
telah dijelaskan bahwa ketika para netizen berselancar di dunia maya sering
menyampaikan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, vulgar, tabu,
menjijikkan, dan tidak senonoh. Ungkapan-ungkapan yang termasuk dalam disfemia
itu jelas-jelas bertujuan menjatuhkan entah lawan bicaranya, orang-orang atau
masyarakat yang dianggap berseberangan, atau pihak-pihak tertentu (bisa juga
penguasa atau pemerintah) yang dikategorikan sebagai musuh yang layak untuk
dideskriditkan atau dinyinyirkan. Perilaku seperti itu jelas merupakan cermin
orang-orang yang dengki atau hasad. Perilaku seperti itu tidak bisa dibiarkan.
Perilaku seperti itu harus dieliminasi. Meskipun boleh dikatakan sulit dan
tidak mungkin mengeliminasinya, minimal kita harus berusaha setidak-tidaknya
perilaku seperti itu harus berkurang. Bagaimana caranya? Ini sebuah pertanyaan
yang harus dijawab. Sebagai langkah awal menjawab pertanyaan itu adalah kita
tulis dulu paragraf pembukanya. Untuk paragraf pembukanya bisa saja kita ambil
dari tulisan di atas dengan terlebih dahulu memasukkan contoh-contoh ungkapan
yang dikategorikan sebagai disfemia tersebut.
|
Ketika membaca kutipan di
atas, di mana biasanya kita temukan tulisan dengan gaya seperti itu? Kita
pasti akan mengatakannya di What`s App (WA). Ya, memang gaya penulisan
seperti itu adanya di WA. Rupanya ada juga yang tertarik melakukan penelitian
tentang gaya penulisan di WA atau di dunia maya. Adalah Dewi Erlinawati seorang
mahasiswa calon sarjana yang tertarik melakukan penelitian tentang
“Penggunaan Disfemia dalam Komentar Para Netizen di Situs Kompas.Com
pada Rubrik Politik”. Kata `disfemia` menurut Dewi Erlinawati merupakan
antonim dari eufemisme: mengubah ungkapan halus menjadi ungkapan kasar dan
digunakan untuk mengungkapkan rasa tidak senang. Ungkapan disfemia memang
banyak digunakan para netizen ketika berselancar di dunia maya. Ungkapan-ungkapan
yang disampaikan netizen tentu saja ungkapan-ungkapan yang menyakitkan
hati, menjijikkan, vulgar, tabu, dan tidak senonoh. |
Setelah menuliskan satu
paragraf yang kita ambil dari paragraf di atas, langkah selanjutnya kita
tuliskan tips berselancar di dunia maya.Tips yang akan kita sampaikan itu
merupakan paragraf isi. Sama halnya yang pernah ditulis di “25. Belajar Menulis
Petunjuk/Tips (1)”, kita bisa saja memulainya dengan menuliskan butir-butirnya.
Butir-butirnya di antaranya adalah:
1. cermat dalam membagikan unggahan;
2.
jangan mudah menyebarkan informasi tidak akurat atau isu sara;
3.
manfaatkan sisi positif media sosial;
4.
tetap menjaga etika berbahasa;
5.
harus bisa menahan emosi;
6.
mengikuti orang-orang yang inspiratif;
7. membangun koneksi.
Ketujuh butir tersebut memang bukan murni dari hasil tulisan kita. Tapi,
tidak ada salahnya kita mencoba menguraikan setiap butir tersebut ke dalam
tulisan kita. Sebelum menuliskan uraiannya, boleh-boleh saja kita menjadikan
uraian yang disampaikan penulis sebagai bahan referensi atau bandingan yang
bisa menginspirasi kita untuk menulis. Tentang ketujuh tips tersebut bisa kita
lihat dalam tulisan yang terdapat pada tabel berikut ini.
|
1. Cermat dalam membagikan unggahan
Sebelum memutuskan untuk mengunggah sesuatu, kita harus selalu
berhati-hati ketika membagikan suatu postingan. Karena akan ada banyak orang
yang melihat unggahan kita, hal tersebut akan menjadi berbahaya apabila Anda
mengunggah sembarangan konten. Oleh sebab itu, pikirkan terlebih dahulu
sebelum mem-posting sesuatu. Jangan sampai postingan tersebut malah menjadi
boomerang bagi kita ataupun orang lain.
2. Jangan mudah menyebarluaskan informasi tidak akurat maupun isu SARA
Tidak menyebarkan hoax atau isu SARA juga menjadi salah satu cara
menggunakan media sosial dengan bijak. Mengingat saat ini banyak berita hoax
maupun isu SARA tersebar di media sosial sehingga tak jarang ada juga orang
yang mempercayainya. Ada baiknya Anda telusuri fakta sebelum menyebarkan hal-hal
yang tidak dipahami di media sosial. Sebaliknya, saat menerima informasi yang terasa aneh dan janggal,
telusuri dulu kebenarannya. Jangan menelan informasi secara bulat-bulat,
filter dan telaah. Melihat fenomena tersebut, jangan sampai Anda ikut-ikutan
membagikan berita tidak benar di platform social media. Sebab, perilaku itu
akan membuat Anda rentan terjerat hukum.
3. Manfaatkan sisi positif media sosial
Banyak sisi positif dari media sosial yang bisa kita rasakan, antara
lain: menjalin silaturahmi, memamerkan jualan atau dagangan kita, menemukan
jejak teman lama dan lainnya. Di sisi lain, kita juga bisa mengubah hal
negatif menjadi hal positif, seperti saat kita iri ketika melihat teman yang
selalu membagikan kesuksesannya di Instagram. Daripada iri terus-menerus,
kita bisa menggunakan hal tersebut sebagai pendorong untuk memperbaiki
diri supaya menjadi lebih baik lagi dan bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.
4. Tetap menjaga etika berbahasa
Walaupun kita sedang berada di media sosial. Pasal undang-undang
mengawasi dan jejak digital tidak akan hilang. Oleh sebab itu, tetaplah
menjaga kesantunan dalam memberikan komentar. Jangan sampai menyinggung,
menyakiti atau membully orang lain.
5. Harus bisa menahan emosi
Sebelum nekat memberikan komentar atau mengunggah curahan hati alias
curhat. Ada baiknya tahan emosi dan jangan meluapkan emosi di media sosial,
atau Anda bisa merugi sebab dapat mempermalukan diri sendiri dan/atau
merugikan orang lain. 6. Mengikuti orang-orang yang inspiratif
Untuk mencapai kesuksesan hidup, tak ada salahnya Anda mengikuti
kisah-kisah orang sukses yang inspiratif di media sosial. Selain dijadikan
motivasi, dari mereka kita juga bisa belajar tentang cara membuat rencana
yang baik demi meraih apa yang ditargetkan. Kita bisa menggunakan media
sosial sebagai platform untuk mengembangkan diri. Misal bagi yang suka
berbicara, Anda bisa menjadi content creator seputar public speaking. Jika
banyak orang menyukai video Anda, bukan tidak mungkin ini jadi sumber
penghasilan Anda, lho! 7. Membangun koneksi Karena ruang lingkup media sosial sangatlah luas bahkan dapat
dijangkau ke seluruh dunia, Anda bisa memanfaatkannya untuk membangun relasi
sebanyak-banyaknya. Tujuannya adalah menambah wawasan yang baru. Semakin
banyak Anda mendapatkan insight dari banyak orang di berbagai negara maka
wawasan Anda juga akan semakin luas. Selain itu, akan lebih baik jika Anda juga
mencari orang-orang yang bekerja di bidang yang Anda minati supaya bisa
bertukar pengetahuan dan pikiran. Penulis: Sri Widyastuti (https://www.fimela.com/lifestyle/read/5049641/7-cara-cerdas-dan-bijak-menggunakan-media-sosial) |
***
Sebagai kalimat pertama di paragraf isi, kita bisa menulis kalimat
seperti ini: “Ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, menjijikkan, vulgar,
tabu, dan tidak senonoh yang dilakukan para nitizen tidak bisa dilakukan
pembiaran”. Kemudian, teruskan dengan kalimat kedua yang isinya alasan tidak
dibolehkan adanya pembiaran. Setelah itu, baru kita masukkan tips berselancar
di dunia maya yang kesemuanya ada tujuh butir itu. Setiap butir dijelaskan
entah itu pengertiannya (maksudnya apa), alasannya, dan solusinya. Boleh-boleh
saja kita menuliskannya satu butir satu paragraf. Kalau tidak mampu menuliskan
satu butir jadi satu paragraf, kita boleh saja menuliskannya dalam satu
paragraf ada dua butir sehingga diperkirakan kita akan bisa menulis di paragraf
isi ada empat paragraf. Langkah terakhir, kita menulis paragraf penutup. Di
paragraf penutup, kita sah-sah saja memberikan rekomendasi pada pembaca untuk
mencari referensi di luar tulisan kita yang diperkirakan akan memperkaya
wawasan pembaca. Meskipun demikian, kita jangan sampai lupa untuk memberikan
sedikit kesimpulan tentang isi tulisan kita.
Sumber Gambar:
1. (https://www.rismayani.id/2018/11/bijak-dalam-media-sosial-no-nyinyir.html)

.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar