BERPUPUR
DARAH
Subagio S. Waluyo
Bulan
kabangan ditandai dengan mega menutupi bulan tatkala bulan bersinar penuh pada
purnama tanggal lima belas. Orang percaya pada ketika itu bencana akan datang
dikarenakan raja penguasa para rakyat jelata meminta persembahan darah untuk
membasuh segala dendam dan peneguhan atas kekuasaannya.
***
Bre Redana (BR) membuka cerpen “Bulan
Kabangan” (BK) dengan kalimat-kalimat di atas. Sebagai sebuah prolog, BR ternyata
berhasil memancing rasa penasaran pembacanya. Bagaimana tidak terpancing kalau
di antara kalimat-kalimat tersebut ada ungkapan berbunyi “Orang percaya pada
ketika itu bencana akan datang dikarenakan raja penguasa para rakyat jelata
meminta persembahan darah untuk membasuh segala dendam dan peneguhan atas
kekuasaannya.”? Apakah ada hubungannya BK yang
ditandai dengan mega yang menutupi bulan di saat purnama tanggal 15
(bulan-bulan Hijriah) dengan penguasa yang zalim yang mempersembahkan darah
demi melanggengkan kekusaannya? Apakah BR terlalu berlebihan mengait-ngaitkan
bulan purnama yang tiba-tiba tertutup awan dengan peristiwa yang bersimbah
darah Trunajaya? Meskipun demikian, cerpen yang ditulis BR merupakan
interpretasi dari Serat Babad Tanah Djawi
Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647 (Kaetjap Wonten Ing Tanah
Nederlan Ing Taoen Welandi 1941). Karena sebuah interpretasi, sah-sah saja BR
berupaya mengungkapkan sebuah potongan sejarah lewat sebuah cerpen. Kita tidak
perlu membahas berpanjang lebar tentang kesahihan kisah yang ditulis pujangga
asal tanah Jawa ini. Kita hanya ingin membahas cerpen yang ditulis BR ini yang
bisa menjadi bahan masukan bagi penguasa di negara kita.
***
Kisah dimulai dari Trunajaya yang meneteskan
air mata karena menyesali perbuatannya menentang kekuasaan Kerajaan Mataram
yang pada waktu itu Amangkurat II atau Amangkurat Amaral sebagai rajanya.
Trunajaya yang menyerah kalah, terpaksa mengikuti arahan baik istrinya, Kleting
Wungu, maupun pamannya Cakraningrat. Kleting Wungu adik tiri Amangkurat II.
Sedangkan Cakraningrat, sang paman, yang memimpin pengepungan di Bukit Ngantang,
Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jadi, baik istri maupun pamannya sama-sama
sepakat meminta agar Trunajaya menyerah dan menyesali kesalahannya karena
Amangkurat II tidak akan tega menghabisi nyawanya. Selain itu, ada jaminan dari
pamannya bahwa dia akan melindunginya.
“Kalau kanda sudah merasa
bersalah, mari menghadap baginda raja minta pengampunan. Menurut saya, baginda
raja tidak akan tega membunuh kanda. Beliau pasti menaruh iba kepada saya.
Kalau kanda tidak bersedia, biarkan saya yang menghadap dulu sendirian,” kata
Klenting Wungu, istri Trunajaya yang masih terhitung adik tiri Amangkurat.
Susana penuh ratap tangis mendadak terpotong oleh kehadiran Cakraningrat, paman Trunajaya, yang memimpin pengepungan Bukit Ngantang. Langsung Trunajaya menghaturkan sembah. Cakraningrat membimbing Trunajaya untuk berdiri dan dipeluknya sang keponakan ini. “Anakku, jangan khawatir dan bimbang hatimu. Kalau ada kemarahan baginda raja, biar aku yang memagarimu,” ucap Cakraningrat sambil menepuk-nepuk pundak keponakannya yang tulang punggungnya menjadi menonjol karena kurus, baju hitamnya berlepot lumpur.
Susana penuh ratap tangis mendadak terpotong oleh kehadiran Cakraningrat, paman Trunajaya, yang memimpin pengepungan Bukit Ngantang. Langsung Trunajaya menghaturkan sembah. Cakraningrat membimbing Trunajaya untuk berdiri dan dipeluknya sang keponakan ini. “Anakku, jangan khawatir dan bimbang hatimu. Kalau ada kemarahan baginda raja, biar aku yang memagarimu,” ucap Cakraningrat sambil menepuk-nepuk pundak keponakannya yang tulang punggungnya menjadi menonjol karena kurus, baju hitamnya berlepot lumpur.
Apa yang terjadi?
Ternyata, masih ada dendam bagi sang raja. Dia masih teringat betapa sakit
hatinya ketika Trunajaya menghinanya sebelum terkepung di Bukit Ngantang. Masih
teringat ketika Trunajaya dengan lantangnya mengucapkan kalau Raja Mataram
seperti tebu yang ujungnya saja tidak manis apalagi bongkotnya. Selain itu,
Trunajaya juga dengan beraninya mengatakan kalau sang raja adalah trah petani
yang dinilai tidak layak menjadi pemimpin di Pulau Jawa. Padahal selama ini
Amangkurat II selalu membangga-banggakan dirinya trah petani dihina oleh
Trunajaya. Bahkan, sang pangeran, Trunajaya selama ini mengaku dirinya adalah
pangeran, berani-beraninya menghina kalau yang berhak menjadi raja itu
keturunan Wishnu bukan sapi. Kata-kata itu yang membikin dirinya murka yang
suatu saat pasti akan pecah.
“…Raja Mataram itu kalau
diumpamakan tebu, ujungnya saja tidak manis, apalagi bongkotnya. Kamu trah
petani, sebaiknya kembali ke ladang saja,
macul. Pulau Jawa sudah tergariskan nasib, akan dipimpin Trunajaya.
“Hemmm…,”
Amangkurat mendehem, kembali menyungging senyum. Itu pertanda kemarahannya
memuncak. Baru kali itu seseorang mengaku pangeran. Belum pernah kepercayaan
dirinya segoyah waktu itu. Kepercayaan atas asal-usul, dunia kecil dirinya di
tengah dunia besar yang diam-diam sering diragukannya sendiri, menjadi
miyar-miyur seperti pucuk bambu tertiup angin. Rasa kecil hati sempat
menyergap: “Adakah aku memang tidak pantas menjadi raja?”
“Yang
berhak di situ adalah keturunan Wishnu, bukan sapi….,” ledek Trunajaya.
Kata-kata
itu terus terngiang di telinga. Senyumnya makin tipis, menjadi sisi lain dari
murkanya yang sudah pasti akan pecah.
Memang peristiwa berdarah akibat
murkanya sang raja itu terjadi. Dimulai dari basa-basi sang raja agar Trunajaya
duduk mendekat. Setelah itu, sang raja sempat berpura-pura dengan mengatakan kalau
seluruh tanah Jawa itu diminta Trunajaya yang memerintahnya.
Sampai tiga kali sang raja menyampaikan hal yang sama. Trunajaya tetap saja
tidak mau menerima dan tidak mau berbicara sepatah kata pun. Sampai-sampai
Pangeran Selarong menegurnya. Ternyata, Trunajaya bersedia menerima permintaan
tersebut. Tetapi, rupanya sang raja juga mengingatkan bahwa dia punya janji
kalau keris Kyai Balabar sengaja tidak diganti kalau belum dihujamkan ke dada
Trunajaya. Di sinilah letak kelicinan Amangkurat II. Ternyata, terbukti masih
ada rasa sakit hati (dendam) Amangkurat II terhadap Trunajaya.
“Sebagai raja, aku tak punya dua ucapan. Ucapan saya yang sekarang, ya ucapan saya yang dulu, dan juga ucapan saya di masa datang. Aku pernah berucap, sewaktu zaman kemuliaan tiba, aku akan bertahta di dalam kerajaan saja, dan yang di luar ini, seluruh tanah Jawa, biar kamu yang menguasainya. Karenanya, terimalah titahku padamu untuk memerintah tanah Jawa ini. Terserah mau kamu apakan. Mangsa bodoa…”
Trunajaya
tak berani berucap sepatah kata.Raja mengulangi pernyataannya sampai tiga kali,
tapi Trunajaya tetap tidak mau menerima dan diam seribu bahasa.
Pangeran Selarong yang duduk di pinggir mengeluarkan kata-kata, “Trunajaya, apakah kamu tidak mendengar titah baginda? Kalau kamu trah perwira, harus menerimanya, kecuali kamu cuma trah sudra. Ini titah baginda, di mana ada orang baik ingkar janji?”
Segera
Trunajaya menghaturkan sembah,pertanda menerima titah tersebut. Semua yang
hadir mengangguk-anggukkan kepala. Pangeran Selarong juga mengangguk-angguk,
sambil berbisik-bisik pada kanan-kirinya.
Amangkurat
melanjutkan kata-katanya.
“Sekarang permintaanku cuma tinggal satu. Ketika aku mengiringkan ayahanda ke Tegal dulu saat Keraton Kertasura kamu rebut, aku punya janji:keris Kyai Balabar ini sengaja tidak aku ganti atau beri sarung, kalau belum aku sarungkan ke dada kamu…”
Para
pangeran dan petinggi istana yang memenuhi ruangan pertemuan segera menangkap
maksud dan isyarat raja. Pangeran Selarong memberi isyarat dengan gelengan
kepalanya kepada para pengawal. Seketika beberapa pengawal bergerak, menyeret
Trunajaya untuk didekatkan sampai ke depan raja. Raja berdiri dari kursi,
menyambut tubuh dengan wajah yang pucat pasi itu dengan tusukan keris Kyai
Balabar. Tusukan tepat di dada, menembus punggung. Darah muncrat membasahi
raja.
“Para bupati sekalian, sekarang giliran kalian. Kalian makan jantung makhluk celaka ini,” ucapnya dengan suara bergetar. Tanpa menunggu perintah dua kali, para bupati maju menyarangkan keris masing-masing ke tubuh Trunajaya. Dalam sesaat, tubuh Trunajaya telah tercabik-cabik bagai kain yang diurai benangnya satu-satu. Para adipati memakan jantungnya. Ketika Tumenggung Jangrana dan Tumenggung Anggajaya datang dari Pasuruan, keduanya sudah tak dapat tempat lagi di mana keris hendah ditusukkan. Mereka cuma kebagian upacara melumuri tubuh dan wajah dengan darah.
Sebagai
penutup dari upacara pelampiasan dendam itu, Amangkurat II memerintahkan
memenggal leher Trunajaya. Sang raja menenteng kepala Trunajaya ke tempat
peristirahatannya. Semua selir disuruh menginjakkan kakinya ke kepala
Trunajaya. Dini hari dia perintahkan para penumbuk padi memasukkan kepala
Trunajaya ke lesung dan menghancurkan kepala itu. Begitu kejinya seorang
penguasa di masa lalu sampai-sampai untuk melampiaskan dendam kesumatnya dia
harus menghancurkan musuhnya sampai benar-benar hancur fisiknya. Jangankan
manusia, alam semesta seperti bulan saja digambarkan oleh BR malu melihat
kebengisan itu.
Sebelum Amangkurat meninggalkan
ruangan, ia memerintahkan agar leher Trunajaya dipenggal, dan kepalanya dia
tenteng menuju balai peristirahatan.
Semua selir wanita simpanan dia suruh menginjakkan kakinya di atas kepala
Trunajaya sebelum para wanita ini masuk ke peraduan. Dini hari nantinya, ia perintahkan kepala
tersebut dimasukkan lesung dan dihancurkan.
Bulan menutup mukanya, malu
melihat kebengisan ini. Mega berarak
kian pekat menutup purnama.
Sungguh agung Keraton Mataram
di masa lalu. Puja-puji atas
kebesarannya terdengar di mana-mana.
Bulan kabangan mengambang di
angkasa. Rakyat di desa-desa biasa
berjaga-jaga – mengikuti petuah lama – untuk tidak jatuh tertidur pada petang
hari saat bulan purnama.
Bulan kabangan mengisyaratkan
masih ada dendam di muka bumi, tersimpan di dada para penguasa yang menjaga
kekuasaannya dengan berpupur darah. Penyesalan,
pengampunan,pemberian,dan apa saja yang berasal dari mereka adalah kepura-puraan.
Jangan tertidur, bersiap dan
berwaspadalah ketika di angkasa menggantung bulan kabangan.
***
Lewat
cerpennya BK, BR mau mengajak para pembacanya agar ketika berkuasa menghindari
cara-cara kekerasan. Termasuk juga menghindari cara-cara otoriter dan diktator.
Lebih jauh dari itu, BR juga mengajak kita untuk menjauhi sifat buruk seperti
masih ada dendam. Seorang pemimpin di manapun dia berada kalau masih ada rasa
dendam berarti dia penderita psikopat. Sangat berbahaya jika ada pemimpin
penderita psikopat. Sang raja tanah Jawa, Amangkurat II, patut diduga penderita
psikopat. Kalau bukan psikopat, begitu apiknya dia bermain peran meminta
kesediaan sang tawanan, Trunajaya, mendekatinya. Kemudian dia berkata
seolah-olah memberikan tawaran kekuasaan pada lawannya. Setelah itu, mulai terlihat
perilaku yang sebenarnya, dia hunuskan keris Kyai Balabar-nya dan tanpa
ba-bi-bu dia benamkan keris itu ke dada Trunajaya. Bukankah ini perilaku
penderita psikopat? Di luar itu semua, ada sebuah konspirasi terselubung antara
sang raja, Cakraningrat (sang paman), Pangeran Selarong, dan mungkin saja,
istrinya, Klenting Wungu. Atau Klenting Wungu ditawan dan diintimidasi oleh
sang raja dan seluruh pejabat publik di Kerajaan Mataram sehingga dia mau
berkhianat? Pengkhianatan Klenting Wungu (kalau memang diduga berkhianat) jelas
sebuah kejahatan terselubung. Rasa-rasanya istri yang setia tidak mau
berkhianat yang mengakibatkan sang suami jadi korban kebengisan sang raja.
Kita tidak tahu persis kesahihan mautan
sejarah yang terdapat dalam isi cerpen tersebut. Kita hanya mencatat bahwa dalam dunia
politik yang berkaitan dengan kekuasaan, selalu saja diwarnai kekejian,
ketamakan, dan kelicikan. Kita juga perlu mencatat bahwa dalam dunia politik
untuk mempertahankan kekuasaan, seseorang bisa berlaku seperti yang dikatakan
Nicollo Machiavelli, sebagai singa dan juga bisa sebagai kancil. Tidak usah
aneh karena kekuasaan sampai-sampai
orang yang saking maruknya pada kekuasaan, dia harus melakukan berbagai cara.
Kalau cara-cara halus tidak bisa ditempuh, dia harus melakukan cara-cara kasar. Menghabisi
lawan politiknya buat orang yang terlibat dalam kekuasaan bukan sesuatu yang
baru. Buat mereka yang haus kekuasaan di zaman kiwari ini mereka juga melakukan
hal-hal yang sama. Mereka ingin berkuasa dengan cara mengurangi sesedikit
mungkin orang-orang yang menjadi lawannya. Tanpa disadari, ternyata mereka
sudah mewujudkan oligarki. Tidak mustahil, demi melanggengkan kekuasaan pasti
terbetik di benak sang penguasa untuk mewujudkan negara totaliter. Kalau sudah
terwujud tinggal melanggah sedikit lagi ke arah negara yang otoriter
dan diktator.
Menjadikan negara
(bisa juga daerah) yang mengarah pada oligarki, totaliter, otoriter, dan
diktator jelas menghancurkan demokrasi. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai
cara paling ampuh dalam mengelola negara ternyata jangankan di negara kita, di
negara Paman Sam (Amerika Serikat) yang konon kabarnya paling demokratis pun
sekarang perlu dipertanyakan kekonsistenannya. Donald Trump dalam Bagaimana Demokrasi Mati/Steven Levitsky
dan Daniel Ziblat (2019:152-153) menyebutkan kalau Trump jelas-jelas
menunjukkan permusuhan mencolok terhadap para wasit (dalam hal ini penegak
hukum), intelijen, badan etika, dan pengadilan. Dia memastikan bahwa para
kepala badan intelejen AS, termasuk FBI, CIA, dan National Security Agency
bakal setia secara pribadi kepadanya dengan harapan menggunakan badan-badan itu
sebagai perisai untuk melindungi diri dari penyelidikan terkait dugaan
hubungannya dengan Rusia dalam kampanye yang dia lakukan tempo hari. Belum
cukup sampai di situ, ternyata trump juga mencoba membersihkan lembaga-lembaga
yang independen. Dengan demikian semakin jelas bukan kalau biang penganut
demokrasi sendiri pun sudah diragukan kekonsitenannya menegakkan demokrasi? Buktinya, Trump sendiri pun berupaya
menundukkan lembaga-lembaga independen. Tidak mustahil dia juga berupaya mendekati
kelompok-kelompok oposisi agar tidak mengganggu
jalannya pemerintahan yang saat ini di bawah kepemimpinannya.
Dalam alam demokrasi sah-sah saja jika ada sebagian
kelompok yang ingin beroposisi. Sekarang tinggal sang penguasanya saja apakah
oposisi dianggap sebagai musuh? Baik di tingkat nasional maupun daerah orang
boleh-boleh saja beroposisi. Sepanjang mereka yang beroposisi tidak menganggap
orang-orang yang berkuasa sebagai musuh tidak ada masalah. Mereka yang
beroposisi berperan sebagai pengawas. Mereka mengawasi jalannya kekuasaan.
Kalau di level daerah, mereka mengawasi sampai sejauh mana sebuah kebijakan
diimplementasikan oleh pemerintah daerah (gubernur, walikota/bupati)? Kalau
memang ada kebijakan yang belum diimplementasikan atau menyimpang dari yang
digariskan dalam kebijakan apa salahnya diberi masukan? Pemerintah yang
berkuasa tidak perlu `baper` kalau ada kritikan. Tidak perlu berang. Apa lagi
sampai menyebut mereka-mereka yang dianggap berseberangan dengan
istilah-istilah yang kasar, entah pembangkang, radikal, atau teroris. Jadi,
kalau ada kritikan terima saja. Kalau memang ada kesalahan diperbaiki. Tidak
usah membikin suasana tambah `runyem` karena ada kritikan atau masukan. Di alam
demokrasi ini bebas kok orang mau menyampaikan apapun sepanjang dalam
penyampaiannya terbilang santun dan bisa dipertanggungjawabkan. Karena kita
hidup di alam demokrasi, orang-orang akademis silakan saja melakukan penelitian
yang berkenaan dengan kebijakan-kebijakan baik di level daerah maupun nasional.
Hasil penelitiannya jangan hanya tersimpan di arsip tapi diseminarkan.
Masyarakat di luar perguruan tinggi biar tahu hasil penelitian segelintir
`orang-orang pintar` tentang perkembangan ekonomi, pendidikan, sosial, atau
politik sekalipun yang terjadi baik di daerah maupun di negara ini.
Kalau ada kebijakan pemekaran daerah
di sebuah provinsi atau kabupaten, kemudian ada kalangan akademis yang mau
melakukan penelitian pihak pemerintah harus mendukungnya. Walaupun hasilnya
nanti ada kemungkinan sedikit mengkritisi kebijakannya, pemerintah tidak perlu
berkecil hati. Pemerintah juga tidak perlu naik pitam karena hasil
penelitiannya ternyata sedikit banyak menyinggung harga dirinya sebagai aparat
pemerintahan. Jadi, pemerintah tidak perlu seperti Amangkurat II yang begitu
dendam pada Trunajaya. Tipe penguasa seperti Amangkurat II itu tipe psikopat.
Dia bisa berbaik-baik pada orang, tapi ternyata di balik kebaikan itu ada
sesuatu yang membahayakan, yaitu melampiaskan dendam dengan cara menghabisi dan
menghancurkan jasad orang yang menjadi musuhnya (oposisinya). Itu kalau oposisi
disamakan dengan musuh. Kalau oposisi dinilai sebagai ruh yang bisa
menumbuhsuburkan alam demokrasi, sikapnya tidak bisa demikian. Dia harus merangkul
semua orang. Dia akan benar-benar konsisten bahwa kekuasaan itu sebuah beban
atau amanah yang harus dijalankan. Untuk bisa menjalankan amanah tentu saja
harus ada sistem check and balance. Dengan
adanya sistem check and balance akan
terjadi saling mengontrol dan menyeimbangkan pelaksanaan kekuasaan.
***
Berbicara
tentang demokrasi belum lengkap kalau belum menyimak puisi yang berisikan
kritikan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kesejahteraan
rakyat. Rakyat menjerit ketika tanahnya digusur untuk kepentingan segelintir
orang-orang elit yang berhasil mengendalikan negara/daerah. Mereka, kaum elit
itu, berhasil menekan penguasa agar diizinkan mendirikan hotel, apartemen,
supermarket, dan tempat-tempat hiburan. Caranya? Gusur tanah rakyat. Bayar
dengan harga murah. Bukan hanya rakyat yang tinggal di perkotaan, para nelayan
pun tak lepas dari penderitaan manakala mereka berhadapan dengan kapal-kapal
besar yang siap menangkap ikan secara besar-besaran. Sementara nelayan kecil
hanya bisa gigit jari karena mereka dengan peralatan seadanya memperoleh ikan
juga seadanya. Rakyat kecil lainnya, seperti TKI, pedagang asongan, juga
mengeluh tentang susahnya mereka mencari nafkah hidup. Tidak ada tempat bagi
rakyat kecil untuk menggantungkan hidupnya. Mereka warga negara sendiri, tetapi
mereka diasingkan (teralienasi) akibat para pemimpin yang serakah, haus harta,
gila wanita, dan haus kekuasaan. Jadi, tidak ada lagi pemimpin yang bisa
dijadikan teladan. Mereka, para pemimpin itu, cuma sibuk pencitraan untuk menutupi
kebusukan. Para pemimpin negara ini telah gagal mewujudkan kedamaian, keamanan,
dan kenyamanan buat warga negaranya.
Rintihan Rakyat
Di mana lagi kami rakyat bisa hidup, bila di kota tanah serta rumah kami digusur
untuk dibangun hotel, apartemen, super market dan tempat hiburan.
Di
mana lagi kami nelayan bisa memperoleh penghasian, jika laut sudah dipenuhi
kapal-kapal besar penangkap ikan dari negeri luar dan pantai dikapling
direklamasi
Di
mana lagi kami rakyat bisa bekerja selain menjadi TKI, jika di dalam negeri
kami dijadikan kuli, hidup seperti zaman kompeni.
Di
mana lagi kami rakyat bisa hidup dengan berjualan rokok dan kopi, jika di
samping kios kami sudah menjamur mal, Alfamart, Indomart, Seven Eleven dll.
Di
mana lagi kami rakyat bisa membuka warung makan, jika usaha kami sudah
dikelilingi Kentucky, Pizza Hut, McD dll.
Ke
mana kami rakyat akan mengadu dan menggantungkan harapan, jika para pemimpin
pada serakah, haus harta, gila wanita, rakus kuasa.
Ke
mana kami rakyat harus mencari pemimpin teladan, jika mereka sibuk beriklan,
membangun pencitraan untuk menutup kebusukan.
Ke
mana kami rakyat mencari ketenteraman, jika negara gaduh tanpa henti dan negara
cuma menjadi tameng kehidupan bagi mereka yang beruang.
Siapa
yg mau dengar rintihan hati kami ini?
Apakah
kami harus MATI TANPA MARTABAT DI NEGERI SENDIRI?
*Dari
Catatan Petang Agus Jabo Priyono. Diedit menjadi puisi oleh M. Hatta Taliwang
Dengan
puisi ini aku bersaksi
Bahwa
rakyat Indonesia belum merdeka.
Rakyat
yang tanpa hak hukum
bukanlah
rakyat merdeka.
Hak
hukum yang tidak dilindungi
oleh
lembaga pengadilan yang mandiri
adalah
hukum yang ditulis di atas air !
Bagaimana
rakyat bisa merdeka
bila
polisi menjadi aparat pemerintah
Dan
tidak menjadi aparat hukum
yang
melindungi hak warga negara ?
Bagaimana
rakyat bisa merdeka
bila
birokrasi negara
tidak
menjadi abdi rakyat,
melainkan
menjadi abdi
pemerintah
yang berkuasa?
***
Kita tidak menghendaki ada penguasa
seperti Amangkurat II yang demikian kejinya menghukum Trunajaya. Yang demi
mempertahankan kekuasaannya sampai-sampai harus menghabisi lawan-lawannya dengan
cara-cara yang di luar rasa kemanusiaan. Kita juga tidak menghendaki penguasa
yang melecehkan nilai-nilai demokrasi dengan menghalalkan segala cara yang
jelas-jelas telah melanggar hukum atau kebijakan negara. Kita tidak ingin ada
penguasa yang secara diam-diam menghidupkan lagi oligarki sehingga tidak
mustahil akan memunculkan totaliterisme model baru. Tidak mustahil dari situ
juga akan muncul kediktatoran pola baru. Kita sudah banyak belajar dari
pemimpin-pemimpin terdahulu yang saking lamanya berkuasa sampai-sampai rakyat
ini masih saja hidup dalam keterbelakangan dan kesengsaraan. Kita berharap
bangsa ini banyak belajar dari setiap peristiwa yang pernah dialami. Bukankah
Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
Sungguh,
telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu
ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang
mendustakan (rasul-rasul).
(Ali Imran:137).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar