CERPEN BERMUATAN PERUBAHAN SOSIAL (1)
Subagio S.Waluyo
(https://images.app.goo.gl/UozQjBUBwtvGMqtX8)
Kapan
ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Tidak juga Wali Kota yang
memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. Ikan itu terus saja berenang dalam
akuarium kaca berukuran cukup besar, berputar-putar dengan gagahnya. Sesekali
melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Usaha ikan arwana
itu kelihatan bodoh, tapi meyakinkan keganasannya. Siripnya yang mengilap
keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu
yang terpesona melihatnya. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan
untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang
duduk itu, seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik
ikan cantik yang garang itu.
(Cerpen "Arwana"/Hariis Effendi Thahar)
Cerpen itu netral. Dikatakan netral
karena cerpen bisa bermuatan apa saja tergantung penulisnya. Kalau mau diisi
tentang cinta, jadilah cerpen yang penuh dengan kisah cinta. Yang namanya cinta
bisa cinta kepada Tuhan, bisa juga cinta kepada sesamanya, atau (bahkan) cinta
kasih erotis. Kalau mau diisi tentang dunia kriminal (kejahatan), jadilah
cerpen kriminal seperti cerita kriminal. Kalau mau diisi tentang pendidikan,
jadilah cerpen yang bermuatan nilai-nilai pendidikan. Atau kalau ada orang
religius ingin menulis cerpen yang bernuansa religius, jadilah cerpen-cerpen
yang religius. Cerpen juga bisa diisi dengan seputar masalah-masalah sosial,
jadilah cerpen yang sarat dengan muatan masalah-masalah sosial. Salah satu yang
dekat temanya dengan sekitar muatan masalah sosial adalah perubahan sosial. Sah-sah
saja kalau ada cerpen yang bermuatan masalah-masalah perubahan sosial karena
perubahan sosial akrab dengan kehidupan manusia. Masalah perubahan sosial yang
pernah disampaikan dalam hal ini bisa perubahan sosial dari dalam atau dari
luar.
Perubahan sosial yang datangnya dari
dalam mencakup bertambah dan berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru,
pertentangan atau konflik, dan terjadinya pemberontakan atau revolusi.
Sedangkan yang datangnya dari luar mencakup bencana alam atau kondisi
lingkungan fisik, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Cerpen-cerpen di negara ini banyak bicara tentang hal-hal yang disebutkan di
atas. Bahkan, bukan hanya faktor yang datang baik dari dalam maupun dari luar,
faktor yang mempercepat dan menghambat perubahan sosial juga dibahas dalam
cerpen-cerpen Indonesia. Faktor-faktor yang mempercepat seperti kontak dengan
budaya lain, sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya
seseorang dan keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang
menyimpang, sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka, penduduk yang
heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu, adanya
orientasi masa depan, dan adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha
memperbaiki kehidupannya juga banyak dibahas dalam cerpen-cerpen Indonesia.
Tidak hanya yang mempercepat perubahan sosial, hal-hal yang berkaitan yang
menghambat perubahan sosial juga dibahas. Sebut saja yang menghambat perubahan
sosial di sini adalah kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, perkembangan
sainstek yang lambat, sikap masyarakat yang sangat tradisional, adanya
kepentingan-kepentingan yang telah tertanam (vested interest), rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada
integrasi kebudayaan, prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap
yang tertutup, hambatan-hambatan yang bersifat ideologis, dan adat atau
kebiasaan (Nanang Martono, Sosiologi
Perubahan Sosial, 2016:16-23). Supaya mudah dipahami bisa kita lihat dalam tabel
berikut ini.
TABEL 1
PERUBAHAN SOSIAL (1)
PERUBAHAN SOSIAL (1)
|
|
DARI DALAM
|
DARI LUAR
|
1. Bertambah dan berkurangnya penduduk
2. Penemuan-penemuan baru
3. Pertentangan/konflik
4. Pemberontakan/revolusi
|
1. Bencana alam atau kondisi lingkungan fisik
2. Peperangan
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
|
TABEL 2
PERUBAHAN SOSIAL (2)
PERUBAHAN SOSIAL (2)
|
|
MEMPERCEPAT
|
MENGHAMBAT
|
1. Kontak dengan budaya lain
2. Sistem pendidikan formal
3. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju
4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang
5. Sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka
6. Penduduk yang heterogen
7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu
8. Adanya orientasi masa depan
9. Adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk memperbaiki
kehidupannya
|
1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat
3. Sikap masyarakat yang sangat tradisional
4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam (vested interest)
5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan
6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap yang tertutup
7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis
8. Adat atau kebiasaan
9. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin
diperbaiki
|
***
Cerpen-cerpen Indonesia banyak memuat baik hal-hal
yang berkaitan dengan perubahan sosial yang datangnya dari dalam maupun dari
luar. Cerpen dengan judul “Muammar Memilih Jalan Sendiri” karya Sori Siregar,
misalnya, berkisah tentang pertentangan antara anak dan ayahnya. Atau
antara anak dan ayah terjadi konflik. Konflik itu bermula ketika Muammar, anak
tertua pasangan Maludin dan Maryam, suatu kali mengajak pacarnya menginap di
rumahnya. Bukan hanya ayahnya, ibunya, dan kedua adiknya, Fathur dan Fayed juga
terkejut. Ayahnya berusaha menjelaskan bahwa agamanya (Islam) dan agama apapun
tidak membenarkan seseorang mengajak yang bukan istrinya bermalam di kamarnya
walaupun alasan sang pacar agar dia bisa mengenal keluarganya lebih jauh. Muammar
tidak bisa menerima pendapat ayahnya. Dia menganggap ayahnya dan juga ibu serta
adik-adiknya masih berpikiran kuno. Dia beranggapan selama dua puluh tahun
tinggal di negeri orang selayaknya mereka telah bisa menyerap nilai-nilai
keragaman yang hidup di sekitarnya. Singkatnya, Muammar dan Joyce pergi dari
rumah itu. Muammar melalui telpon mengungkapkan bahwa dia telah meninggalkan
keyakinannya. Baginya rasio lebih harus diutamakan daripada keyakinan. Rasio
menurutnya jangan bercampur dengan keyakinan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat
teks lengkap cerpen Sori Siregar di bawah ini.
MUAMMAR MEMILIH JALAN
SENDIRI
MALAM telah merangkak
jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar.
Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi
itu ia tetap terjaga.
Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua
puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke
negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga
pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir
di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun
setelah itu.
Bagi Maludin hidup di negeri baru ini jauh lebih
menyenangkan daripada di kota yang ditinggalkannya. Bukan saja karena
pendapatannya lebih besar daripada yang dulu diperolehnya sebagai guru SMA di
kotanya, tetapi juga karena ia berdomisili di lingkungan permukiman yang
lebih baik, tidak sumpek dan bersih serta berbagai hal lain seperti dekatnya
jarak kantor dan rumahnya, transportasi umum yang selalu tepat waktu dan
dapatnya Maryam sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga tanpa harus membantu
Maludin mencari nafkah dengan menjahit pakaian anak-anak.
Waktu berjalan seirama dengan peredaran bumi
mengitari titik pusat tata surya. Perjalanan waktu itu sering luput dari
perhatian. Maludin dan Maryam baru menyadari bahwa mereka telah empat tahun
tinggal di negeri yang jauh ini, ketika Muammar memasuki usia sekolah. Semula
suami istri itu menduga beban ekonomi akan meningkat dengan masuknya Muammar
ke sekolah.
Ternyata tidak. Muammar dapat belajar tanpa biaya
apa pun. Bahkan, Maludin tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk membayar
ongkos bus yang setiap hari mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Hidup
sehari-hari pun semakin menyenangkan buat Maludin dan Maryam. Pada saat tiba
giliran bagi Fatur dan Fayed untuk bersekolah, perasaan senang Maludin tetap
tidak berkurang, karena kedua anak ini pun tidak membebaninya dengan biaya
sekolah.
Sekolah gratis ini dilalui ketiga anak Maludin dalam
kurun waktu yang cukup lama, sehingga Maludin terkejut ketika anaknya harus
membayar uang kuliah untuk dapat belajar di perguruan tinggi. Beban pertama
dalam dunia pendidikan ini pun akhirnya tak perlu disandangnya, karena
Muammar dapat memperoleh pinjaman dari bank mana pun, dengan jaminan ayahnya.
Kelonggaran yang diberikan merupakan pertolongan yang tidak terbayangkan
sebelumnya, karena Muammar diizinkan untuk membayar pinjamannya setelah ia
bekerja, seusai menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi.
Tanpa disadari Maludin dan Maryam, Muammar, Fatur,
dan Fayed melebur dengan sempurna ke dalam kondisi lingkungan mereka.
Satu-satunya kehidupan yang mereka kenal adalah kehidupan di sekitar mereka
itu dan semua nilai yang melekat di sana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan
sebenarnya, jika mereka bertiga masih mau mendengarkan suara ayah dan ibu
mereka, suara yang mengandung makna hidup, jalan yang tidak berliku, tetap
berpijak pada tempat asal dan keyakinan yang harus dipegang teguh di mana pun
berada.
Namun, mendengarkan suara ayah dan ibunya itulah
yang sangat sukar bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra
Maludin yang disebutkan belakangan ini masih tetap anak-anak yang menilai
suara ayah dan ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di
kegelapan. Ini menyejukkan perasaan kedua orang tua mereka, yang tetap
berpegang teguh kepada keyakinan yang mereka kenal sejak masa kanak-kanak.
Karena itu, alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam,
juga Fatur dan Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa
pacarnya menginap di kamarnya di rumah mereka. Guntur menggelegar bagi
Maludin dan Maryam. Bencana apa yang akan dibawa anak sulung mereka itu?
Itulah pertanyaan yang menyerbu ke dalam benak Maludin dan Maryam. Mungkin
pertanyaan itu pula yang hinggap di kepala Fatur dan Fayed.
Maludin dengan halus meyakinkan Muammar bahwa
berdasarkan keyakinan yang mereka peluk, tindakan yang akan dilakukan Muammar
itu adalah salah. Bahkan, agama apa pun tidak akan membenarkan hal itu.
Mendengar keterangan ayahnya, Muammar menjelaskan, Joyce, pacarnya itu, ingin
menginap di rumah mereka karena ingin mengenal lebih jauh Maludin, Maryam,
Fatur, dan Fayed.
Maludin kembali meyakinkan Muammar, kalau ingin
mengenal keluarga mereka lebih jauh silakan saja Joyce berkunjung setiap
hari. Kemudian Maludin yang bertanya, mengapa Joyce ingin mengenal mereka
lebih jauh. Kan dia hanya teman akrab Muammar. Bolehlah kalau anak sulung
Maludin itu menyebut Joyce pacarnya. Tapi Muammar harus ingat bahwa Joyce
belum menjadi pacarnya secara resmi.
Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan
lancar dari mulut ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku,
katanya dalam hati. Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata
hatinya melanjutkan. Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran
seperti itu muncul tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukannya
keesokan harinya.
Pada suatu tengah malam setelah pembicaraan ayah dan
anak itu, Muammar pulang dengan membawa Joyce. Empat anggota di rumah itu
merasa dipojokkan, terutama Maludin yang saleh itu. Setelah mempersilakan
Joyce duduk dan bertanya sedikit tentang keluarganya, Maludin meminta Muammar
untuk mengikutinya ke ruangan kerjanya. Begitu Maludin menutup pintu, dengan
wajah merah padam ia menghardik Muammar dengan suara keras. Ia berani
berteriak seperti itu karena ia tahu suaranya tidak akan terdengar ke ruang
tamu.
“Apa maksudmu membawa perempuan itu ke rumah ini?
Kan Bapak telah berbicara panjang lebar denganmu tentang hal ini. Sebagai
mahasiswa semester empat tidak mungkin kau tidak tahu apa yang Bapak
jelaskan.”
Muammar mendengarkan hardikan ayahnya dengan tenang.
Baginya, kekunoan ayahnya semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar
merasa ayah, ibu, dan kedua adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang
mengekang. Dua puluh tahun di negeri yang jauh ini tidak membuat mereka dapat
menyerap keragaman nilai di sekitar mereka.
“Ajaklah Joyce pergi. Yakinkan dia bahwa keluarga
kita tidak menolak kehadirannya. Tapi, kita tidak dapat memberikan ruang
kepadanya untuk menginap di rumah ini sebelum ia resmi menjadi istrimu. Joyce
boleh menganggap Bapak kuno, konservatif, atau apa saja karena sikap Bapak
yang tak dapat ditawar ini.”
Tanpa memberikan komentar sepatah kata pun, Muammar
meninggalkan ayahnya seorang diri di ruang kerja itu. Ia kembali ke ruang
tamu menemui Joyce yang sedang berbicara dengan Maryam. Ia membisikkan
sesuatu ke telinga perempuan kulit putih itu. Perempuan itu mengangguk dan
tersenyum kepada Maryam. Kemudian ia meminta diri untuk meninggalkan rumah
itu. Ketika Joyce dan Muammar melangkah keluar ruang tamu mereka dilepas
Maryam dengan ucapan selamat malam.
Satu minggu setelah peristiwa malam itu, Muammar
menelepon ayahnya. Dengan suara tenang dan perlahan ia menyatakan kecewa
dengan sikap ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membebaskan diri dari belenggu
keyakinan yang menghimpitnya. Keyakinan atau agama, apa pun agama dan
keyakinan itu seharusnya tidak membuat pemeluknya senantiasa berdiri di
tempat dan tidak berupaya untuk melangkah maju.
“Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang
jauh dari tempat kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi
orang yang sangat mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin
mencampuradukkan keyakinan dan rasio. Salah satu di antaranya harus
diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala.
Dengan alasan itu pula ananda telah melepaskan keyakinan keluarga kita, yang
juga keyakinan yang ananda pegang selama ini.”
Begitu mendengar kalimat Muammar terakhir, Maludin
tidak mendengarkan lagi apa yang diucapkan anaknya, walaupun gagang telepon
masih tetap terpegang erat di tangannya. Lama ia terdiam sebelum meletakkan
gagang telepon ke tempatnya. Begitu mudahnya Muammar melepas keyakinan
keagamaannya hanya karena persoalan yang masih dapat dicari pemecahannya.
Sebenarnya ada kalimat terakhir yang ingin diucapkan
Maludin kepada Muammar sebelum anak muda itu meninggalkan ruang kerjanya. Ia
ingin menyarankan agar Joyce menikmati malam yang dingin itu seorang diri di
kamar Muammar, sedangkan Muammar bergabung dengan kedua adiknya di kamar
lain. Tetapi, Muammar tanpa komentar apa pun telah meninggalkannya di ruang
kerja itu sebelum ia sempat melontarkan kalimatnya terakhir.
Berat bagi Maludin untuk menyampaikan keputusan yang
telah diambil Muammar itu. Ia masih ingin bertemu dengan anaknya itu untuk
menemukan jalan keluar yang dapat diterima Muammar. Namun, ia tidak tahu
bagaimana menemukan jalan keluar itu, karena ia dan Muammar telah berada pada
posisi berseberangan. Kompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk
keyakinan yang berkaitan langsung dengan Tuhan, adalah langkah yang tidak
akan pernah diambil oleh Maludin. Ia lebih siap untuk kehilangan anaknya
daripada mengingkari keyakinan yang telah dipeluknya puluhan tahun.
Malam ini, sebenarnya hingga pagi ini, Maludin tetap
terjaga. Keputusan Muammar telah membuatnya menoleh ke masa lampau. Ke masa
pada saat ia dan istrinya merasakan kesenangan dan kegembiraan ketika
menjejakkan kaki di negeri ini. Kegembiraan dan kesenangan yang juga mereka
rasakan pada saat anak-anak mereka dapat bersekolah tanpa harus mengeluarkan
biaya, di samping mereka dapat berdomisili di lingkungan yang tidak sumpek.
Ditambah lagi dengan pendapatan yang jauh melebihi kebutuhan. Dalam kondisi
seperti itulah mereka membesarkan Muammar dan kedua adiknya.
Beberapa hari Maludin menyimpan rahasia itu dalam
dirinya. Akhirnya ia tak mampu memiliki rahasia itu seorang diri. Ia harus
berbagi rahasia ini dengan istrinya Maryam, karena Muammar adalah putra
mereka berdua. Dan ia tidak ingin terlalu sering terjaga pada saat ketika ia
seharusnya menikmati istirahat pada malam hari.
Saat yang ditunggunya itu akhirnya tiba ketika
Maryam bertanya mengapa Muammar tidak pernah pulang beberapa hari terakhir.
Maryam mendengarkan dengan hati teriris ketika suaminya membuka lembar-lembar
cerita itu kepadanya. Ia benar-benar merasa tersayat pada saat Maludin
mengutarakan bahwa Muammar bukan saja telah meninggalkan keyakinan yang
dipeluknya, tetapi juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan ayahnya
kalau saja hal itu tidak menyebabkan terputusnya jaminan untuk memperoleh
pinjaman dari bank yang digunakan untuk membiayai kuliahnya.
Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri,
ujar Maryam dalam hati. Setelah itu ia memandang suaminya dengan penuh
pengertian.
“Kesenangan dan kegembiraan kita selama ini harus
kita bayar terlalu mahal,” ujar Maludin kepada Maryam.
Perempuan itu mengangguk. (*)
(https://lakonhidup.com/2012/10/19/muammar-memilih-jalan-sendiri/) |
***
Kalau
teks cerpen di atas diianalisis, kita akan menemukan ternyata bukan hanya
konflik antara ayah dan anak. Kita akan dapati di dalamnya adanya pengaruh
kebudayaan masyarakat lain (dalam hal ini keluarga Maludin terpengaruh
kebudayaan di tempat tinggal yang baru). Memang, di awal kehidupannya di tempat
yang baru mereka mendapat banyak sekali kemudahan. Suatu kemudahan yang tidak
terbayangkan dua puluh tahun yang lalu ketika mereka baru saja menginjakkan
kakinya di tempat baru itu. Dalam dua puluh tahun tinggal di tempat baru itu,
mereka tinggal di tempat pemukiman yang jauh lebih baik daripada tempat asal
mereka. Selain itu, pendapatan Maludin juga lebih besar. Anak-anak Maludin juga
bisa menikmati pendidikan secara gratis. Mereka merasakan hidup di negara yang
baru ini jauh lebih menyenangkan.
Waktu
berjalan seirama dengan peredaran bumi mengitari titik pusat tata surya.
Perjalanan waktu itu sering luput dari perhatian. Maludin dan Maryam baru
menyadari bahwa mereka telah empat tahun tinggal di negeri yang jauh ini,
ketika Muammar memasuki usia sekolah. Semula suami istri itu menduga beban
ekonomi akan meningkat dengan masuknya Muammar ke sekolah. Ternyata tidak.
Muammar dapat belajar tanpa biaya apa pun. Bahkan, Maludin tak perlu
mengeluarkan sepeser pun untuk membayar ongkos bus yang setiap hari mengantar
dan menjemput anaknya ke sekolah. Hidup sehari-hari pun semakin menyenangkan
buat Maludin dan Maryam. Pada saat tiba giliran bagi Fatur dan Fayed untuk
bersekolah, perasaan senang Maludin tetap tidak berkurang, karena kedua anak
ini pun tidak membebaninya dengan biaya sekolah.
Sekolah
gratis ini dilalui ketiga anak Maludin dalam kurun waktu yang cukup lama,
sehingga Maludin terkejut ketika anaknya harus membayar uang kuliah untuk
dapat belajar di perguruan tinggi. Beban pertama dalam dunia pendidikan ini
pun akhirnya tak perlu disandangnya, karena Muammar dapat memperoleh pinjaman
dari bank mana pun, dengan jaminan ayahnya. Kelonggaran yang diberikan
merupakan pertolongan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena Muammar
diizinkan untuk membayar pinjamannya setelah ia bekerja, seusai menyelesaikan
pendidikannya di perguruan tinggi.
|
Di
balik kesenangan hidup itu ternyata juga memakan korban. Anak sulungnya,
Muammar, karena terjadi kontak dengan budaya lain yang cenderung liberal dan sekuler
(salah satu di antaranya lewat pendidikan formal) sehingga menjadi anak yang sangat
toleran terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang. Muammar sebagai anak sulung memang
berbeda dengan kedua adiknya. Kedua adiknya karena masih memandang tuntunan
orang tuanya menjadi pedoman dalam meniti kehidupan, perilaku mereka tidak sama
dengan Muammar. Muammar saking tolerannya terhadap perilaku penyimpangan dia sendiri justru juga turut serta mempraktekkan perilaku menyimpang dari keyakinan yang dianutnya. Salah
satu di antaranya ketika dia meminta pada orang tuanya agar diperbolehkan
pacarnya menginap di kamarnya. Jelas permintaannya ditolak oleh orang tuanya
sehingga terjadi konflik seperti yang diuraikan di atas.
Tanpa
disadari Maludin dan Maryam, Muammar, Fatur, dan Fayed melebur dengan
sempurna ke dalam kondisi lingkungan mereka. Satu-satunya kehidupan yang mereka
kenal adalah kehidupan di sekitar mereka itu dan semua nilai yang melekat di
sana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, jika mereka bertiga masih
mau mendengarkan suara ayah dan ibu mereka, suara yang mengandung makna
hidup, jalan yang tidak berliku, tetap berpijak pada tempat asal dan
keyakinan yang harus dipegang teguh di mana pun berada.
Namun,
mendengarkan suara ayah dan ibunya itulah yang sangat sukar bagi Muammar,
berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra Maludin yang disebutkan belakangan
ini masih tetap anak-anak yang menilai suara ayah dan ibu mereka sebagai
pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan. Ini menyejukkan perasaan
kedua orang tua mereka, yang tetap berpegang teguh kepada keyakinan yang
mereka kenal sejak masa kanak-kanak.
Karena
itu, alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur dan Fayed, ketika
pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya menginap di kamarnya
di rumah mereka. Guntur menggelegar bagi Maludin dan Maryam. Bencana apa yang
akan dibawa anak sulung mereka itu? Itulah pertanyaan yang menyerbu ke dalam
benak Maludin dan Maryam. Mungkin pertanyaan itu pula yang hinggap di kepala
Fatur dan Fayed.
|
***
Disebabkan
oleh kuatnya kontak dengan budaya lain, budaya lain ternyata lebih kuat
daripada budaya yang dianut anaknya, Muammar, ditambah lagi dengan sistem
pendidikan formal yang sekuler dan liberal membentuk sang anak menjadi orang yang sangat mengutamakan rasio. Saking mengutamakan rasio, Muammar, terpaksa harus
memisahkan rasio dari keyakinan. Sebagai bukti bahwa dia lebih mengutamakan rasio
daripada keyakinan, dia tinggalkan keyakinannya yang lama yang sebenarnya bisa
diselesaikan dengan baik. Dia juga harus tega meninggalkan keluarganya. Dia juga
harus melepaskan ikatan keluarganya yang justru di tempat negara asalnya sangat
dijunjung tinggi. Masalah melepaskan keyakinan dan ikatan kekeluargaan yang
membuat sang ayah terpukul.
“Ananda
dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita berasal.
Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat mengutamakan
otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampuradukkan keyakinan dan rasio.
Salah satu di antaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi
tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah
melepaskan keyakinan keluarga kita, yang juga keyakinan yang ananda pegang
selama ini.”
Begitu
mendengar kalimat Muammar terakhir, Maludin tidak mendengarkan lagi apa yang
diucapkan anaknya, walaupun gagang telepon masih tetap terpegang erat di
tangannya. Lama ia terdiam sebelum meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
Begitu mudahnya Muammar melepas keyakinan keagamaannya hanya karena persoalan
yang masih dapat dicari pemecahannya.
......................................................................................................................
Anak
kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam hati. Setelah
itu ia memandang suaminya dengan penuh pengertian.
“Kesenangan
dan kegembiraan kita selama ini harus kita bayar terlalu mahal,” ujar Maludin
kepada Maryam.
Perempuan
itu mengangguk. (*)
|
Inikah
sebuah pengorbanan bagi Maludin dan istrinya, Maryam, ketika sang anak harus
meninggalkan keyakinannya dan melepaskan ikatan kekeluargaannya? Atau inikah
sebuah ujian yang harus ditempuh oleh sebuah keluarga, ujian yang datangnya
dari perilaku anaknya akibat pendidikan formal yang cenderung liberal dan
sekuler? Melepas anak di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang cenderung
permisif, yang lebih mengutamakan rasio daripada keyakinan bukankah lebih
disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari kedua orangtuanya? Apakah bisa
dibenarkan jika sang anak harus memilih jalannya sendiri? Begitu banyak
pertanyaan yang diajukan, begitu sulit juga direnungkan apabila di balik
kesenangan dan kegembiraan ternyata berbuah kepahitan hidup yang harus dibayar.
Ah, di
dunia ini banyak orang yang bernasib seperti Maludin dan istrinya. Orang-orang
yang jadi korban dari perubahan sosial.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar