HILANGNYA
MUTIARA KEINGINAN
Subagio S. Waluyo
Uwak Bandi
kehabisan tenaga, kehilangan doa. Tubuhnya dilumpuhkan air pasang. Kepalanya
terdongak ke langit. Ei, mengapa dalam gontai kuyup pandangan, ia menyaksikan
Haji Sazali melayang ke pekarangan langit, menuju bulan? Haji Sazali tersenyum
sambil melambaikan tangan, semacam kibas ajakan. Uwak Bandi ingin menyahut
lambaian itu. Tapi, bentang tangannya tengah berjuang menjadi benteng. Air
menyandera Uwak Bandi. Bahkan, memerosokkan tubuhnya ke nganga lubang. Tenaga
Uwak Bandi tinggal ampas. Tubuhnya timbul tenggelam, diisap diembuskan air
pasang. Ah, adakah yang mampu mendengar gelepar tangisnya di perut air?
”Haji Sazali,
tega nian kau meninggalkanku….”
( Cerpen Hasan Al-Banna “15 Hari
Bulan”)
Setiap hamba Allah yang beriman pasti
punya kerinduan ingin ke Tanah Suci menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Ada
perasaan belum sempurna sebagai seorang muslim bila belum ke Tanah
Suci,beribadah haji di Mekah. Walaupun kesempatan berhaji semakin tahun semakin
sulit, orang tetap bertekad kuat untuk melaksanakannya. Kalau bukan karena
iman, tidak mungkin orang sampai demikian bersemangat untuk berhaji. Iman pula
yang memotivasi orang-orang beriman untuk berhaji walaupun harus mengeluarkan
biaya besar dan menunggu sekian tahun. Orang-orang beriman percaya penuh bahwa
kalau Allah sudah memanggil hamba-Nya untuk berhaji tidak ada yang bisa
menghalanginya walaupun usia telah senja.
***
Adalah Uwak Bandi yang usianya telah
condong ke barat (usia senja) yang punya semangat besar untuk berhaji.
Sayangnya, kondisi ekonomi Uwak Bandi tidak mengizinkan. Hasrat yang demikian
kuat mengalahkan usia dan rezekinya. Khusus untuk masalah rezeki bagi Uwak
Bandi bukan persoalan besar karena rezeki diibaratkan teka-teki yang tidak bisa
ditebak. Untuk bisa mengatasinya, Uwak Bandi berusaha kerja keras dan berdoa.
Apakah usaha Uwak Bandi berhasil?
Dalam cerpen yang ditulis Hasan
Al-Banna, “15 Hari Bulan”, Uwak Bandi gagal berangkat haji. Justru, Uwak Bandi
yang sangat berharap dari hasil tambaknya (udang Tiger) yang dalam hitungan
hari akan dipanennya pada akhirnya dia sendiri jadi korban hanyut ditelan
gelombang laut. Bukan hanya dirinya yang jadi korban, udang-udang Tiger-nya
yang sebentar lagi dipanen juga ditelan gelombang air laut pasang. Tambak udangnya
hancur diterjang gelombang air laut. Udang-udang yang semula ada di tambaknya
juga terseret air laut yang pasang. Uwak Bandi yang sudah membangun seapik
mungkin tambak udang itu begitu diterjang gelombang pasang air laut langsung
hancur berantakan. Begitu mungkin cara Allah menguji seorang hamba-Nya yang
ingin berkunjung ke rumah-Nya. Belum sampai hamba-Nya datang berkunjung ke
rumah-NYa, gelombang laut pasang bukan hanya meluluhlantakkan tambaknya, tapi
juga niatnya untuk berkunjung ke Baitullah.
***
Dalam kehidupan sehari-hari banyak
kita jumpai orang yang gagal pergi menunaikan ibadah haji. Orang-orang yang
gagal berhaji lebih disebabkan oleh kondisi ekonomi, usia (sudah lanjut),
musibah yang menimpanya (bisa juga termasuk ke dalamnya kematian), dan bisa
juga hamba Allah itu tiba-tiba saja berbalik pikir membatalkannya. Kasus Uwak
Bandi lebih karena faktor ekonomi. Uwak Bandi termasuk orang dhuafa. Tapi, dia
tidak mau karena miskin tidak bisa berhaji. Karena menurutnya banyak orang yang
kondisi ekonominya pas-pasan bisa berhaji. Dia ingin dirinya seperti itu.
Banyak
orang yang dinilai tak berharta, tapi lulus pergi haji. Uwak Bandi ingin
masuk dalam golongan tersebut. Tak kaya, tak mengapa. Tapi, pantang baginya
memiskinkan cita-cita. Asal jangan cita-cita yang disusupi cela, titah
hatinya. Jangan pula sampai terjangkit penyakit riya: berlomba naik haji biar
diseru kaya raya! Andai boleh memilih, ia rela dituding miskin sebelum maupun
sepulang dari Mekkah.
|
Boleh jadi ada salah satu syarat yang
dilupakan Uwak Bandi, yaitu untuk bisa berhaji orang harus mampu. Pernyataan
mampu itu terkait ekonomi dan usia. Dari segi ekonomi Uwak Bandi jelas termasuk
tidak mampu. Di sini Uwak Bandi lebih dipengaruhi oleh Haji Sazali karibnya.
Karibnya itu selalu bercerita tentang nikmatnya ibadah haji. Mungkin saking
hebatnya Haji Sazali memberikan dorongan (bahkan disarankan untuk mendaftar
dulu) membuat Uwak Bandi semakin kepincut untuk berhaji. Sebagai bukti kalau
memang benar-benar ingin berangkat ibadah haji di Mekah, ketika Uwak Bandi
mendapat pesangon enam juta rupiah dari hasil kerjanya selama tiga puluh tahun,
dia menyetor sejuta rupiah sebagai tanda bukti mendaftar haji setelah sebagian uangnya digunakan
istrinya berjualan lontong. Masalah sisa pembayarannya menurutnya itu perkara
mudah.
Ya,
soal keinginan kuat, Uwak Bandi tak terhadang lagi. Dorongan Haji Sazali,
sahabatnya, pensiunan pegawai Bea dan Cukai pun makin memanjangkan galah
tekad Uwak Bandi. Pula Haji Sazali yang hendak menunaikan ibadah haji untuk
kali ketiga mengajaknya pergi bersama. Jujur, percakapan keduanya, terkait
apa pun, pada hilirnya menyinggung kisah Haji Sazali sewaktu di Mekkah.
Berbunga-bunga hati Uwak Bandi mendengarnya.
”Mana
tahu rezekimu melimpah setelah mendaftar, Bandi,” nasihat Haji Sazali suatu
kali. ”Pokoknya daftar dulu. Kasih tanda jadi. Tinggal dicicil. Insya Allah
ada jalan untuk niat muliamu itu.” Maka, seusai menyimpulkan saran Haji
Sazali: niat tak akan lunas kalau terus-terusan menunggu ongkos haji cukup,
Uwak Bandi pun menegakkan tiang keyakinan.
|
Sayangnya Uwak Bandi termasuk orang
yang tidak tega jika melihat ada anggota keluarganya yang terlilit masalah
uang. Ketika anaknya melahirkan dengan cara cesar, karena sang anak tidak punya
uang, terpaksa Uwak Bandi merelakan uangnya diberikan begitu saja pada sang
anak. Begitu juga ketika anaknya yang kedua yang bekerja sebagai satpam dipecat
dan sang anak harus menebus keteledorannya lagi-lagi Uwak Bandi tidak mampu
mempertahankan uangnya. Uwak Bandi juga tidak ada keinginan untuk menagihnya
(walaupun semua itu disebut sebagai hutang) mengingat anak-anaknya termasuk
orang-orang dhuafa, dia ikhlas kalau uang itu tidak kembali.
Bayangkan,
ia harus menanggung biaya operasi caesar putri sulungnya, Maemunah, sewaktu
melahirkan anak ketiga. Ia maklum, suami Maemunah hanya pekerja kasar di
pabrik pengalengan ikan. Ha, lain pula Ruslan, adik lelaki Maemunah, butuh
uang demi menebus keteledorannya saat bekerja. Ruslan satpam di perusahaan
pengolahan besi baja dan sedang mendapat giliran jaga ketika gudang perusahaan
ditelikung maling. Sialnya, uang tebusan dibalas dengan surat pemecatan.
Sejatinya,
Maemunah dan Ruslan tetap menganggap bantuan ayah mereka sebagai utang yang
mesti dilunasi. Namun, Uwak Bandi tak pernah sampai hati menagihnya. Apalagi
kepada Ruslan, yang akhirnya harus membiayai anak-istri dari
mocok-mocok—bekerja serabutan. Bahkan, meski tak sepenuhnya disetujui Dariah,
ia ikhlas (tepatnya mencoba ikhlas).
|
***
Bukan Uwak Bandi kalau tidak nekad.
Meskipun boleh dikatakan tidak punya lagi simpanan, Uwak Bandi demi mewujudkan
hasratnya nekad menyewa sebidang tanah yang biasa digunakan sebagai tambak.
Atas kebaikan A Siong, pemilik tambak, Uwak Bandi diperbolehkan berhutang dulu
selagi belum ada uang untuk menyewa. Singkat kata, jadilah Uwak Bandi
mewujudkan keinginannya mengolah tambak udang. Udang-udang Tiger yang sebentar
lagi dipanennya sepanjang hari dijaganya. Uwak Bandi terjun langsung mengawasi
tambaknya. Karena di sekitar tambak rawan pencurian, selama tiga bulan dia
terpaksa bermalam di tambak. Beruntung di tepi tambak ada pondok yang bisa
digunakan untuk beristirahat meski tentu saja tidak nyaman karena serangga laut
kerap mengganggu tidurnya.
Uwak Bandi bukan saja khawatir terhadap
maling yang kerap menyatroni tambak-tambak udang. Dia juga khawatir bulan
purnama yang di setiap pertengahan bulan-bulan hijriah selalu menampakkan
keindahannya di balik keindahannya ternyata juga sering mengundang air laut
pasang. Air laut pasang menjadi musuh utama bagi petani tambak karena tidak
sedikit tambak yang rusak, terendam air, dan
menghanyutkan ikan dan udang yang dibudidayakan petani tambak. Di malam
tanggal 15 bulan hijriah bulan purnama benar-benar menampakkan keindahannya. Melihat
bulan purnama yang demikian indah, yang pantulannya jatuh di tengah pusaran
tambak Uwak Bandi sempat berzikir walaupun zikirnya terasa aneh di telinga
orang yang mendengarnya. Apakah zikirnya dikabulkan Allah mengingat selama ini
dia dikenal sebagai orang yang selalu diminta di acara perhelatan untuk
membacakan doa?
Ia
memang harus tetap awas. Selain maling tiger, masa 15 hari bulan—purnama
masak—memaksa Uwak Bandi harus jeli mengeja air. Pasang besar sering terjadi
pada 15 hari bulan. Tak jarang pasang besar menyeberangkan udang ke luar
tambak. Tapi Uwak Bandi boleh lega karena benteng sudah ditinggikannya dua
hari lalu.
Dalam
kewaspadaan, Uwak Bandi masih sempat menatap purnama di jantung langit.
Pantulannya jatuh persis di pusar tambak. Sambil memutari sisi tambak, ia
membayangkan dirinya sedang tawaf, mengelilingi Kabah. ”Ya Allah, izinkan aku
mencium bulan,” zikirnya penuh geli. Aih, tak sampai sepekan lagi masa panen
tiba. Entahlah, berbagai kemudahan memihak kepadanya. Bukankah kemudahan
namanya ketika wabah penyakit tak menyerang tiger-tigerpiaraannya? Pun
maling seperti enggan mengusik tambaknya.
|
Untuk kali ini tampaknya doa Uwak
Bandi belum dikabulkan Allah. Sesaat setelah sempat tertidur, dia mendengar
gemuruh air laut yang mulai naik dan merendam tambaknya. Dia sempat menyatroni
pintu air yang letaknya tidak jauh dari tambaknya. Ternyata, pintu air itu
jebol diterjang air laut pasang. Di sini Uwak Bandi panik. Saking paniknya dia
lakukan berbagai cara agar udang-udang Tiger-nya yang sebentar lagi dipanennya
tidak berhamburan ke luar tambak. Tapi, semua usahanya sia-sia. Bukan hanya
udang-udang Tiger-nya yang hanyut ditelan gelombang laut air pasang, Uwak Bandi
sendiri pun yang karena usia dan fisiknya sudah condong ke barat ikut terbawa
arus. Segala doa dan upaya tampaknya sia-sia saja. Hancurnya tambak, hancur
pula keinginannya untuk mencium bulan (Hajar
Aswad).
Angin
menyalak! Suara hewan malam siur! Uwak Bandi banting langkah ke pintu air.
Ampun, pintu air jebol didongkel pasang. Ia kembali ke benteng yang terluka.
Sebab, tak ada faedahnya mengurusi pintu air yang roboh. Sudah pasti lubang
yang bersemayam di luka benteng bakal mengirim isi tambak ke paloh, terus ke
laut. Uwak Bandi terperangah, terengah. Ia sibuk merajut siasat, kewalahan
mencari akal. Debur air, sepadan ternak yang hambur keluar kandang,
menciutkan nyalinya.
Uwak
Bandi berlari ke pondok, lalu kembali sambil menggendong setumpuk kayu waru.
Dengan tubuh yang bergetar, ia tancapkan kayu-kayu itu di mulut benteng yang
jebol. Mana tahu mumpuni menghadang pasang yang hendak pergi ke alam. Tapi,
apalah daya tancapan kayu di kumparan lumpur. Uwak Bandi menceburkan diri ke
tambak. Ia jongkok, menyurukkan lengkung punggungnya ke liang benteng.
Pinak-pinak air seperti jemari yang mencengkeram lehernya. Tapi, ia tak
peduli. Sepasang tangannya terus mendorong-dorong air agar pulang ke tambak.
”Ayo, timpas! Surut kau air!” Uwak Bandi menghardik, terbata. Air bercampur
lumpur menerobos mulutnya. Menyumbat kerongkongannya!
Tapi,
air tak kunjung timpas—surut tak diturut. Terkaman pasang malah makin buas,
menciptakan lubang yang lebih besar. Tubuhnya tak mampu menjadi akar bakau
penentang arus. Pasang yang bergelicak deras memberantakkan wujud purnama di
permukaan air. Cahaya keemasan pecah, menjelma kilau kecemasan. ”Kabahku!
Hancur Kabahku!” Uwak Bandi meronta seperti kanak-kanak. Menempeleng pipi air
bertubi-tubi untuk apa? Toh, kerumunan tiger sebesar kuncup telapak tangan
orang dewasa terus melintasi tubuhnya sebelum akhirnya dirampas paloh,
ditelan alam.
|
***
Manusia boleh saja berencana, tapi
semuanya Allah yang menentukan. Tidak selamanya rencana manusia bisa konek
dengan rencana Allah. Rencana Allah tentu saja lebih baik daripada rencana
manusia (Surat Ali Imran:54). Kasus Uwak Bandi yang sudah sampai ke ubun-ubun
ingin mencium Hajar Aswad (sesuatu
yang boleh jadi sangat disukainya) bukan hanya ditunda, tapi juga dibatalkan.
Kalau saja peristiwa itu tidak merenggut nyawanya, Uwak Bandi masih bisa
mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa dirinya. Tapi, kejadian itu justru
merenggut nyawanya karena dia tertelan deras gelombang air laut pasang. Di sini
manusia harus bisa merenungkan peringatan Allah dalam Surat Al-Baqarah: 216:
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.”
Di sini pula manusia harus merenungkan
bahwa sesuatu yang sangat diinginkan (seperti Uwak Bandi yang ingin sekali
berhaji) ternyata di mata Allah belum tentu baik. Di sini pula manusia yang
beriman harus yakin adanya takdir baik dan buruk. Kalau itu sebuah keburukan (seperti yang dialami Uwak Bandi),
dia harus siap menerimanya. Namun, juga manusia tidak boleh berserah diri pada
takdir tanpa melakukan apapun. Di tengah pendemi Covid-19, misalnya, manusia
tidak boleh terlalu yakin bahwa tidak mungkin Corona menghampirinya karena
dirinya sudah benar-benar beriman. Kalau ini terjadi pada sebagian orang yang
mengaku beriman, jelas sikap ini termasuk sikap orang-orang fatalis. Boleh jadi
pada dirinya ada kesombongan sehingga suatu saat Corona benar-benar
menerjangnya yang membuat dia terpapar. Naudzubillahi
min mindzaalik. Wallahu`alam bissawab.
Sumber Gambar: (https://images.app.goo.gl/bq8gmpRSqHH1ALkV9)
Sumber Gambar: (https://images.app.goo.gl/bq8gmpRSqHH1ALkV9)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar