TERTIPU
MITOS (2)
Subagio S. Waluyo
Orang
tua itu mendengar apa yang dibicarakan anak dan menantunya. Dia melihat ke
depan, ke arah yang dikatakan anak dan menantunya. Tampak olehnya Polisi Patung
di bawah guyuran hujan lebat dalam posisi memberi hormat kepada mereka. Mobil
pun berjalan karena lampu telah hijau. Dari jendela orang tua itu melihat ke
luar. Dia perhatikan patung polisi itu dalam guyuran hujan. Dia iba melihat
Polisi Patung itu. Dia tiba-tiba tersentak.
“Ya
Allah. Polisi itu…, menjadi batu….”
(Cerpen
Hamsad Rangkuti ”Si Lugu dan Si Malin Kundang”)
***
Banyak kalangan umat Islam yang
tertipu oleh cerita-cerita yang tidak jelas tentang hal-hal di sekitar karomah
seseorang entah ustadz, kyai, ajengan, syekh, atau habaib. Mendengar kabar ada
seorang kiai yang bisa bikin mengubah nasib seseorang lewat tamparan Sang Kiai
(lihat “Tertipu Mitos (1)) spontan Sang Kiai disebut memiliki kesaktian. Tidak
cukup sampai di situ, mereka juga bersegera mendatangi tempat kediaman Sang
Kiai `ngalap berkah` istilah yang kerap dipakai di kalangan umat Islam yang
minim nilai agamanya. Mereka-mereka ini karena minimnya nilai agama (walaupun
banyak juga di antara mereka rajin beribadah dan berpendidikan tinggi) sering ikut-ikutan
dengan orang-orang di sekitarnya yang pernah bertemu dengan Sang Kiai.
Mereka-mereka ini yang kita sebut sebagai umat Islam yang jumud. Dikatakan
jumud karena mereka beragama ikut-ikutan, tidak didasari oleh ilmu agama
(syariat Islam) yang memadai. Mereka-mereka ini yang sering tertipu oleh
berbagai macam mitos yang memang banyak orang sengaja menghembus-hembuskan
mitos yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Bicara tentang mitos dari sejak dulu
di negara ini sudah beredar sekian banyak mitos. Salah satu mitos yang sampai
saat ini banyak dikenal orang adalah
kisah Si Malin Kundang. Dalam kisah tersebut Malin Kundang dikutuk menjadi batu
karena berbuat durhaka pada ibunya. Malin Kundang tidak mengakui seorang wanita
tua, miskin, dan berpakaian lusuh yang datang menemuinya. Bahkan, Malin Kundang
mengusir wanita tua itu. Sang Wanita tua yang tidak suka dengan perilaku Malin
Kundang kemudian mengutuknya. Akibat kutukannya, Si Malin Kundang menjadi batu.
Memang, di balik kisah tersebut ada pembelajaran, yaitu agar setiap anak
berbuat baik pada orang tuanya sehingga tidak boleh seorang anak menyia-nyiakan
orang tuanya. Meskipun tujuan kisah tersebut demikian mulia, karena di akhir
kisah ada orang dikutuk menjadi batu, bagi orang-orang yang berpikir realistis
jadi masalah tersendiri.
Kisah Si Malin Kundang juga dijadikan
alat bagi seorang bapak tua dari kampung yang mau bertemu dengan anaknya yang
menurut pengakuannya tinggal di komplek perumahan mewah itu. Pihak sekuriti
jelas tidak percaya ada orang dari kampung yang dari penampilannya saja tidak
meyakinkan. Selain itu, barang-barang bawaannya pun tidak meyakinkan Sang
Sekuriti kalau ada penghuni komplek perumahan itu yang punya orang tua semacam
itu. Tapi, orang tua dari kampung ini bersikeras kalau anaknya memang tinggal
di komplek perumahan mewah itu. Di saat-saat terjadi perselisihan itu datang
seorang polisi lalu lintas yang bukan melerai malah membuat persoalan baru,
yaitu membunuh ayam bawaan orang tua dari kampung itu. Tentu saja bapak tua itu
tidak terima diperlakukan kasar seperti itu. Keluarlah perkataan yang membuat
Pak Polisi terkejut karena dia dikutuk akan jadi batu. Kutukan tersebut setahu
Pak Polisi pernah ada dalam kisah Si Malin Kundang yang di akhir cerita dikutuk
ibunya menjadi batu.
Keluarnya kutukan dari mulut Si Bapak
Tua tidak keluar begitu saja tanpa didahului perlakuan kasar dari Pak Polisi.
Pak Polisi sendiri punya alasan terpaksa
membunuh ayam bawaan Si Bapak Tua karena dikhawatirkan ayam bawaannya
itu membawa virus. Karena itu, setelah ditetak dengan gagang pistol, Pak Polisi
menyuruh sekuriti untuk membuat lubang dan membakarnya. Perlakuan kasar seperti
itu (walaupun didahului dengan permintaan maaf dari Pak Polisi) tetap tidak
bisa diterima Si Bapak Tua sehingga keluarlah kutukan tersebut. Si Bapak Tua
yang sejak awal sudah dicurigai oleh Pak Polisi dan Pak Sekuriti karena
penampilannya yang tidak meyakinkan (orang kampung yang kumal bawa hasil kebun
dan ayam kampung) mengeluarkan kutukan yang di telinga Pak Polisi seperti
lelucon saja.Meskipun demikian, kutukan itu sempat membuat Pak Polisi
terobsesi.
“Ayam
ini tidak boleh dibiarkan hidup di sekitar kita. Kulihat tanda-tanda pembawa
virus dimilikinya.” Dicabutnya pistol. “Mengorbankan sebutir peluru lebih
baik daripada membiarkan virus yang dibawanya menyebar di kompleks perumahan
ini.” Dia arahkan moncong pistol ke kepala ayam itu. Dia lihat ulang mata
ayam itu. Paruhnya yang menganga, kerongkongan yang bergerak terus mengatur
napas. Lidah menjulur mengeluarkan liur. “Maaf Pak. Ayam ini harus
dimusnahkan. Satu butir peluru…,” dia mulai menimbang-nimbang, “sayang juga.”
Dia balikkan arah pistol. Moncong pistol dia pegang. Dia sangat berbakat
dalam hal tak berperasaan. Dia tetak kepala ayam itu dengan gagang pistol.
Ayam menggelupur dalam anyaman daun kelapa. Dia menoleh ke sekuriti, “Bawa ke
sana. Gali lubang. Bakar!” Sekuriti rumah mewah itu mengambil ayam yang masih
menggelepar-gelepar di dalam anyaman daun kelapa. Dia pun menggali lubang,
memasukkan ayam yang masih terus menggelepar ke dalam lubang, dan membakarnya
dengan ranting-ranting kering dan daun-daun kering. Orang tua itu ternganga
melihat semua itu.
“Maaf
Bapak. Ini terpaksa saya lakukan.” Katanya sambil menggosokkan gagang pistol
ke rumput. “Coba Bapak katakan apa yang ingin Bapak lakukan bila kami izinkan
Bapak masuk ke dalam kompleks perumahan mewah ini?”
“Aku
akan mendatangi rumah anakku di dalam kompleks perumahan yang Engkau katakan
mewah ini.”
“O,
begitu. Tapi itu tidak mungkin. Tidak masuk akal kami. Kami tidak yakin Bapak
adalah ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini.”
“Jadi
Engkau juga tidak percaya kalau aku adalah ayah dari salah seorang penghuni
kompleks perumahan ini? Aku tidak boleh masuk mencari rumah anakku. Aku tidak
boleh mengetuk dari pintu ke pintu sampai aku menemukan pintu rumah anakku.”
...............................................................................................................................
“Jadi Engkau tidak percaya kalau aku
adalah orangtua salah seorang penghuni rumah mewah yang kalian katakan itu?
Kalian adalah masyarakat Malin Kundang. Engkau mewakili masyarakat itu!
Engkau akan menjadi batu.” Orang tua itu menunjuk ke polisi lalu lintas itu.
Polisi lalu lintas itu terkejut:
Apa
maksud orang tua ini? Aku mewakili masyarakat Malin Kundang? Legenda itu
menceritakan orang-orang tidak percaya kalau wanita tua yang mengenakan
pakaian yang dia punya adalah ibu si Malin Kundang. Tidaklah mungkin wanita
tua terlunta-lunta di tepi pantai menunggu kedatangan anaknya adalah ibu
seorang kaya raya. Ibu orang yang bepergian dengan kapal miliknya dari pulau
ke pulau, menjalankan usaha di jalur perdagangannya. Dia datang ke pulau itu
rindu akan kampung halamannya. Ibunya mendengar kabar kedatangan anaknya. Dia
datang menyambut, tetapi orang-orang menertawakannya dan mengejeknya. Malin
Kundang tidak mengakuinya sebagai ibu. Jadi, orang tua ini merasa
diperlakukan seperti yang dilakukan Malin Kundang terhadap ibunya.
|
***
Si Bapak Tua yang sudah hampir putus
asa menghadapi dua orang petugas yang sejak semula tidak percaya kalau dia
mempunyai anak yang tinggal di komplek perumahan itu, tiba-tiba ada sedikit
harapan ketika anaknya dan menantunya yang mengendarai mobil mewah berhenti di
dekatnya. Mereka mendekati Si Bapak Tua dan mengajaknya masuk ke mobil dan menuju rumahnya. Susah dibayangkan kalau di
detik-detik yang menggentingkan itu Sang Anak dan menantunya tidak kunjung
datang. Perlakuan kasar dari Pak Polisi dan sikap tidak percaya yang
ditunjukkan kedua petugas itu boleh jadi membuat Si Bapak Tua itu panik,
jiwanya tidak tenang, stres. Kedatangan anak dan menantunya membuat semuanya
jadi cair meskipun kedua petugas itu hanya bisa tertegun tidak mengerti
(bisa-bisanya seorang bapak tua dari kampung dengan pakaian yang lusuh dan
membawa hasil kebunnya mempunyai anak yang tinggal di komplek perumahan mewah).
Sebuah
mobil kelas termahal berbelok ke arah pintu gerbang perumahan mewah itu.
Lelaki yang duduk di bangku belakang menyentuh pundak sopir dan meminta
kendaraan itu dihentikan. Lelaki itu bersama istrinya sedang pulang dari
bepergian.
“Tunggu
sebentar,” katanya. Dia perhatikan orang tua yang duduk di bendul jalan. Dia
menoleh kepada istrinya. “Orang tua itu seperti ayah. Coba kau lihat. Ya…,
seperti ayah. Ya! Itu Ayah! Lihat, apa yang dia bawa? Setandan pisang. Dua
ikat jagung, dan sebuah nangka.”
“Ya,
betul. Itu ayahmu. Ayahku juga. Mertuaku!”
“Ya,
itu adalah ayah!”
Lelaki
itu membuka pintu mobil. Dia turun. Langkahnya diikuti istrinya.
“Ayah!”
Kata lelaki itu. Orang tua itu melihat ke lelaki itu. Dia berdiri dan air
matanya menetes. Lelaki itu menerkam tubuh orang tua itu dan memasukkannya ke
dalam dekapannya. Si istri mencium tangan laki-laki tua itu.
“Ayah!”
Katanya.
Si
Polisi lalu lintas tercengang menyaksikan peristiwa itu. Penjaga kompleks
perumahan mewah itu juga tercengang. Buru-buru dia membuka pintu gerbang.
“Ayo,
Ayah!” Kata laki-laki itu membimbing ayahnya masuk ke dalam mobil. Si wanita
memeluk ayah suaminya itu dan mendudukkannya di bangku depan. Sebelum pintu
tertutup, orang tua itu masih sempat menoleh ke polisi lalu lintas itu.
|
Dalam kehidupan sehari-hari sering
orang tertipu dengan penampilan luar seseorang yang tidak dikenalnya. Orang
hanya melihat penampilan luarnya kemudian mengambil kesimpulan yang salah
karena juga memiliki stigma yang juga salah. Orang lebih cederung melayani
seseorang dengan melihat terlebih dahulu tampilan luarnya. Kalau dari
tampilannya terlihat berduit atau punya kedudukan, pasti orang seperti itu
dilayani. Tapi, kalau yang di hadapannya seorang tua lusuh, datang dari
kampung, sudah pasti tidak dilayani. Bahkan, orang seperti itu layak dicurigai.
Padahal di mata Allah semua orang kedudukannya sama. Yang berbeda adalah
tingkat ketakwaannya (Surat Al-Hujurat:13). Seandainya saja semua orang
berpatokan pada bunyi ayat di Surat Al-Hujurat ayat 13 itu, peristiwa yang
sempat membuat ketegangan antara petugas dan bapak tua tidak mungkin terjadi.
Hamsad Rangkuti melalui cerpennya (“Si
Lugu dan Si Malin Kundang”) ingin mengajak pembacanya agar menghormati,
melayani, dan menolong setiap orang tanpa memandang tampilan luarnya. Tampilan
luar bisa saja lusuh, kampungan, tidak berpendidikan. Tapi, sebagai hamba Allah
orang seperti itu tetap harus dilayani. Bukankah semua agama juga mengajarkan
pada setiap umatnya untuk menghormati orang lain? Alangkah indah hidup ini
kalau orang muda menghormati orang yang lebih tua (apalagi orang tersebut sudah
lansia). Begitu pun orang yang tua mengasihi orang-orang muda. Dalam Islam
telah dicontohkan oleh Rasulullah menghormati orang-orang yang lanjut usia.
Rasulullah juga mengasihi anak-anak. Semua itu selayaknya ditiru oleh kita
semua karena itu merupakan salah satu contoh akhlak mulia yang saat ini sudah
memudar di tengah-tengah kehidupan yang serba materialistis. Budaya materialistis
telah membutakan mata hati kita sehingga kita silau oleh sesuatu yang di
hadapan kita serba berkilau. Kita akan hormati orang yang berpenampilan
meyakinkan sementara itu kita mencampakkan orang-orang yang dianggap kampungan
atau tidak terdidik. Mudah-mudahan pengalaman hidup kita mengajarkan kita untuk
saling menghormati dan melayani siapapun yang ada di hadapan kita. Wallahu`alam bissawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar