TERTIPU
MITOS (1)
Dan
janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran,
penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
(Surat
Bani Israil: 36)
Dan
sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia.
Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih
sssat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.
(Surat
Al-A`raf: 179)
Sesungguhnya
Allah SWT tidaklah mencabut ilmu (agama) dengan cara mencabutnya langsung dari
hamba-hamba-Nya, tapi ia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama,
hingga tiada seorang ulama pun yang tertinggal maka manusia mengambil
pemimpin-pemimpin yang jahil (bodoh dalam masalah agama). Lalu, mereka ditanya
(tentang masalah agama), maka mereka memberikan fatwanya tanpa pengetahuan,
karena itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan.
***
Rumor yang beredar menyebutkan kalau
Kiai Genggong pernah menampar orang. Orang yang ditampar itu konon kabarnya
hidupnya sukses. Artinya, mereka memiliki harta dan kedudukan terhormat.
Orang-orang di sekitar tinggal Kiai Genggong ada yang percaya, ada yang ragu,
dan ada juga orang tidak percaya sama sekali. Di cerpen “Kiai Genggong” yang
ditulis Moh Wan Anwar dalam sebuah dialognya disebutkan kalau Kiai Genggong
termasuk orang tidak tega menampar. Kalau begitu, perlu konfirmasi apakah benar
pernah ada orang yang ditampar Kiai Genggong? Apakah benar orang yang ditampar
Kiai Genggong jadi sukses hidupnya? Jangan-jangan ini hanya hoax yang sengaja dibuat-buat orang-orang
yang tidak bertanggung jawab agar masyarakat kita semakin jumud (beku, statis,
bisa juga bodoh). Atau boleh juga ini merupakan progam penjumudan?
Moh Wan Anwar mengangkat masalah
kejumudan di kalangan umat Islam yang bermula dari sikap berlebihan terhadap
orang-orang berilmu. Sikap ini seolah-olah memitoskan orang-orang berilmu.
Saking kuatnya umat Islam memitoskan orang-orang pintar, sampai-sampai ada
orang mengkultuskan orang-orang pintar itu. Salah satu perilaku berlebihan
dalam memitoskan orang-orang berilmu diangkat oleh Moh Wan Anwar (dalam
cerpennya) ada pada diri Kiai Genggong. Padahal Kiai Genggong ulama muda.
Mungkin karena kemudaannya ada sedikit tempramental. Meskipun demikian,
kalau melihat dialog berikut ini, kita
bisa menyimpulkan Kiai Genggong orang yang lembut karena termasuk orang yang
tidak tega menampar orang. Ketika dipukuli oleh Bung Hamid dan Bung Jamal yang
berkeinginan ditampar olehnya, dia tidak berupaya melawan. Justru, Om Sarjono,
satpam pesantren yang akhirnya menanganinya sehingga keduanya dibuat babak belur.
“Bapak-bapak
teh ada keperluan apa, tolong segera katakan!”
“Pertama-tama.…”
“Mohon
langsung ajah ke pokok tujuan!”
“Kami
ingin bersilaturahmi.…”
“Alhamdulillah,
kita sekarang sudah bertemu bukan?”
“Kami…
ehm… ingin belajar.…”
“Niat
yang mulia.…”
“Maksud
kami…, kami… punya masalah.”
“Subhanallah,
bertawakalah kepada Allah!” Dan Kiai seakan mau beranjak.
“Tapi…
Kiai, kami…, kami… membutuhkan bantuan.…”
“Berdoalah
kepada Allah, lalu berusaha.…”
“Kami…
sengaja… kami mau memohon nasihat….”
“Bacalah
kitab suci dan….”
“Maksud
kami…, kami… ingin menyumbang.…”
“Alhamdulillah,
nuhun, bersedekahlah terutama ke fakir miskin.”
“Kiai,
kami ada perlu,” kata Bung Hamid tiba-tiba tegas.
“Dan
penting sekali!” sambung Bung Jamal.
“Perlu
apa atuh, mohon segera katakan!” Kiai Genggong suaranya dalam.
“Kami
banyak kehilangan harta….”
“Carilah
kembali dengan jalan yang benar.”
“Kami
ingin kembali kaya.”
“Niat
yang bagus, asal demi kemaslahatan dunya akherat.”
“Kami
membutuhkan Kiai!” kata Bung Hamid lepas.
“Kiai
harus membantu kami!” Bung Jamal teriak.
Kiai
Genggong beranjak dan hendak meninggalkan mereka, tetapi Bung Hamid dan Bung
Jamal berbarengan teriak, “Kami minta Kiai menampar kami!”
Kiai
Genggong benar-benar meninggalkan mereka, menuju pintu ruang tengah,
menyentuh gerendel kunci, tetapi Bung Hamid dan Bung Jamal sigap menepuk
punggung Kiai, membalikkannya, dan kembali teriak, “Tamparlah kami, tamparlah
Kiai!”
Kiai
Genggong melepaskan cengkeraman tangan mereka, tapi Bung Hamid menghadang
dekat pintu ruang tengah. “Kami mohon Kiai, tamparlah kami!”
“Maafkan
Bapak-bapak, sayah tak pernah tega menampar orang!”
“Jangan
berdusta, Kiai!” Dan plak! Bung Hamid menampar Kiai hingga terhuyung ke sudut
ruang dan juga plak, sebuah tamparan lagi kali ini dari telapak tangan Bung
Jamal. Darah tipis mengalir dari sela bibir Kiai. “Tamparlah kami, Kiai,
kalau tidak terpaksa.…”
Namun
tiba-tiba buuk, buuk, tinju Om Sarjono yang sejak tadi mengawasi mereka
mendarat di hidung Bung Hamid dan mata Bung Jamal. Darah meleleh dan begitu
tubuh mereka rebah, Om Sarjono menekukkan siku lengannya dan sebelah kakinya
ke masing-masing dada mereka. “Pak Kiai, tolong tinggalkan kami, biar mereka
saya yang ngurus!”
|
Dari dialog di atas tampak sekali
kealimannya. Mata hatinya bisa melihat ada niat tersembunyi tamunya yang
sengaja datang untuk silaturahim. Karena kedatangannya sudah terbaca niatnya
oleh Kiai Genggong, ketika mereka mengajukan berbagai permasalahan (semacam
curhat) Sang Kiai jawabannya diplomatis. Jelas, mereka merasa tidak puas dengan
respon Sang Kiai. Sampai-sampai mereka minta ditamparpun oleh Kiai Genggong
tidak direspon. Padahal kedatangan mereka sebenarnya memang minta ditampar
(karena mereka termakan berita hoax
kalau ditampar Kiai Genggong akan sukses hidupnya). Kiai Genggong yang memang
termasuk orang yang tidak tega menampar orang, tidak melakukannya. Akibatnya,
mereka sendiri yang berbuat kasar dengan menampar Sang Kiai. Orang terdekat
Kiai Genggong, Om Sarjono, tidak tinggal diam, mereka dihajar habis-habisan
sampai babak belur.
***
Pengajian yang dipimpin Kiai Genggong
mengalami penyusutan sejak terjadi penamparan oleh Sang Kiai (menurut
kabarnya). Tapi, daerah di lingkungan pesantren Kiai Genggong justru semakin
ramai karena oleh orang-orang yang berziarah ke makam Mama (termasuk salah
seorang pimpinan pesantren sebelum Kiai Genggong). Lingkungan pesantren semakin
ramai sejak adanya aktivitas haulan (tradisi memperingati kematian yang biasa
dilakukan setahun sekali di sebagian kalangan umat Islam terutama di Jawa) yang memakan waktu sampai
lima hari. Selain itu, beredar juga cerita-cerita di sekitar Kiai Genggong yang
diduga punya kesaktian (karomah). Cerita-cerita kesaktian ini yang membuat
orang penasaran di antaranya, yaitu ingin ditampar Sang Kiai agar hidupnya
sukses. Jadi, mereka yang datang berziarah dan juga silaturahim ke tempat Kiai
Genggong umumnya punya niat yang sama: ingin mengubah nasib dengan cara
ditampar oleh Kiai.
Tapi
Gupitan tidak ditakdirkan menjadi kampung yang sunyi. Meski pesantren sepi,
di sekitar kuburan Mama malah tumbuh semacam pasar. Banyak orang berziarah,
malah mereka datang dari kota-kota yang jauh. Warga Gupitan tak
menyia-nyiakan peluang itu. Mereka berdagang: sate kambing, nasi goreng, soto
ayam, ikan goreng, busana muslim, mainan anak, dan lain-lain. Suasana semakin
ramai ketika Kiai Genggong memaklumatkan tiap tahun akan ditradisikan haolan
mangkatnya Mama.
Tradisi
haolan dari tahun ke tahun pun berkembang. Lokasi pasar dekat kuburan meluas.
Di lokasi kuburan, Kiai Genggong membangun gedung besar untuk berdoa. Haolan
yang awalnya cuma semalam dua malam, lama-lama jadi seminggu. Pamor Kiai
Genggong terangkat lagi, jemaah ke pesantrennya kembali bertambah. Pelataran
parkir pesantren kemudian diperluas karena jemaah dan peziarah selalu datang
bermobil-mobil, bahkan berbus-bus.
Seiring
dengan banjirnya jemaah dan peziarah, perilaku Kiai Genggong kembali normal.
Malah warga Gupitan dan para jemaah mulai memandang lain ketika suatu hari
gilinding yang mengaspal lapangan parkir pesantren terjerumus ke jurang
sungai. Semua pekerja panik, tapi Kiai Genggong tampil mencengangkan. Dengan
tenang, diambilnya sehelai benang, dikaitkan ke tiang gilinding, lalu gilinding
itu diangkat ke tempat semula.
Sejak
itu masyarakat percaya, Kiai Genggong kiai sakti. Kesaktiannya terbukti pula
pada suatu hari hujan lebat padahal banyak peziarah di luar bangunan kuburan.
Hanya dengan mengangkat kedua tangan dan mengibaskan sorbannya, hujan di
sekitar kuburan tiba-tiba reda. Bukan hanya itu, bila masjid pesantren tidak
cukup menampung jemaah, Kiai Genggong meminta santrinya membentangkan tikar
pandan di atas kolam pinggir masjid dan menyuruh jemaah shalat di tikar itu.
Kesaktian
Kiai Genggong tersiar dari mulut ke mulut, juga berita-berita koran. Jemaah
pun kian berjubel. Sementara itu, kuburan Mama terus dikunjungi peziarah dari
berbagai penjuru. Memang akhirnya ada banyak orang datang hanya berharap
menyaksikan kesaktian Kiai Genggong-entah sebagai hiburan, bahan cerita, atau
berharap dapat barokah kesaktian tersebut.
...................................................................................................................
Pada
suatu hari, dua lelaki bernama Hamid dan Jamal, dari kota provinsi, datang
juga ke Pesantren Gupitan. Mereka shalat di sana, ziarah ke kuburan Mama, dan
menyimak pengajian Kiai Genggong. Seperti jemaah lain, di hati dua petinggi
partai yang juga pengusaha itu tebersit harapan siapa tahu kena tamparan Kiai
Genggong.
|
Niat para peziarah yang datang dengan
niat agar ditampar Kiai Genggong sehingga hidupnya nanti sukses jelas menunjukkan
perilaku kejumudan. Perilaku ini banyak dianut umat Islam yang menjadi
mayoritas di negeri ini. Mereka yang jumud umumnya adalah orang-orang yang
patut diduga ilmu ke-Islam-annya rendah. Ibadah yang mereka lakukan tidak
didasari oleh ilmu yang memadai. Sangat mungkin mereka awam dengan niat, amal,
dan tujuan beribadah. Mereka juga tidak pernah mengkaji nilai-nilai agama
secara benar. Artinya, mereka hanya sekedar melaksanakan ibadah tapi tidak
disertai dengan ilmunya atau syari`atnya (dalam hal ini tidak pernah berupaya
mengambil dari sumber-sumbernya yang benar). Tidak mustahil banyak di antara
mereka yang sekedar bisa baca Qur`an tapi sama sekali tidak memahami isi
kandungan Al-Qur`an. Kalau mengikuti pengajian, sudah menjadi rahasia umum,
mereka telan mentah-mentah semua yang disampaikan gurunya. Boleh jadi sang guru
juga ikut punya saham menanamkan nilai-nilai kejumudah dengan membahasakannya
ke para jamaahnya bahwa semua yang dikatakannya benar dan haram dibantah.
Dalam cerpen “Kiai Genggong” yang
ditulis Moh Wan Anwar, misalnya, itu sebuah contoh kejumudan yang memakan
korbannya di antaranya Bung Hamid dan Bung Jamal. Mereka berdua dikenal sebagai
petinggi partai. Berarti mereka bukan orang sembarang. Sedikitnya mereka
termasuk orang terpelajar, kaya, dan tokoh masyarakat di daerahnya. Meskipun
demikian, mereka yang seharusnya bisa berpikir realistis, karena didasari ilmu
agama yang sempit dan cenderung beragama hanya ikut-ikutan, pada akhirnya malah
melakukan tindakan yang tidak terpuji. Saking mau ditampar oleh Kiai Genggong
mereka sampai berbuat kasar terhadap Sang Kiai. Bukankah ini sebuah contoh
betapa seharusnya orang seperti ini bisa berpikir realistis justru sebaliknya
berperilaku jumud. Karena kejumudan, membuat mereka gelap mata sampai-sampai
orang alim yang seharusnya dihormati malah diperlakukan secara kasar. Dengan
demikian, kejumudah bisa membuat orang hilang akal yang merembet juga pada
hilangnya akhlak.
***
Di awal tulisan ini dikutip dua ayat
Qur`an (Surat Bani Israil: 36 dan Surat Al-A`raf: 179) dan satu petikan hadits
dari Bukhari-Muslim. Kalau diamati isinya sama, yaitu sama-sama menekankan pada
umat Islam agar menuntut ilmu (terutama ilmu agama atau syariat Islam). Di
Surat Bani Israil:36 isinya mengarah pada perintah menuntut ilmu karena nanti
setiap orang yang mengaku muslim ketika
mengambil keputusan (dalam masalah agama) juga harus berdasarkan syariat Islam.
Dalam Surat Al-A`raf: 179 juga sama menekankan agar setiap muslim wajib
menuntut ilmu (dalam hal ini ilmu agama) karena orang yang tidak berilmu itu diibaratkan
seperti hewan ternak bahkan bisa lebih buruk lagi kedudukannya. Di hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim juga sama ada perintah tersirat untuk menuntut
ilmu karena orang yang tidak berilmu akan minta pendapat pada pemimpin-pemimpin
yang dzolim. Pemimpin-pemimpin ini yang akhirnya banyak menjerumuskan orang.
Sebelum kita dijerumuskan oleh
pemimpin-pemimpin yang dzolim sudah saatnya kita ikut kajian-kajian Islam yang
dipimpin oleh para guru yang `mumpuni`. Guru-guru yang mumpuni ini benar-benar
guru yang punya referensi ilmu-ilmu ke-Islam-an
yang memadai. Guru-guru yang `mumpuni`, guru-guru yang berakhlak mulia seperti
Rasulullah. Guru-guru yang mumpuni, guru-guru yang kerap membaca, menghafal,
mentadaburkan, dan juga mengamalkan isi Al-Qur`an. Guru-guru yang mumpuni, guru-guru
yang selalu basah lidahnya dengan dzikir pada Allah. Guru-guru yang `mumpuni`
ini guru-guru yang benar-benar cinta akhirat. Meskipun demikian, guru-guru yang
`mumpuni` ini bukan guru-guru yang membenci dunia. Justru, guru-guru yang
`mumpuni` ini banyak memberikan motivasi pada para jamaahnya agar berperan
aktif dalam segala aspek kehidupan di dunia ini. Mudah-mudahan kita termasuk
orang-orang yang jauh dari kejumudan karena kalau masih saja dalam kejumudan,
tidak mustahil kita akan ditenggelamkan oleh Allah. Naudzubillahi min dzaalik. Wallahu
a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar