KEIMANAN
YANG MEMENUHI KALBU
Subagio S. Waluyo
![]() |
(Surat
Ali Imran: 133—134)
Orang yang kuat
bukanlah orang yang jagoan dalam gulat, namun orang yang kuat adalah orang yang
mampu menguasai dirinya ketika marah.
***
Ada sesuatu yang
indah ketika usai membaca cerpen Hamsad Rangkuti (“Malam Takbir”), yaitu ada
hamba-hamba Allah yang bisa menunjukkan akhlak mulia. Akhlak mulia itu
ditunjukkan Hamsad Rangkuti sederhana saja sebenarnya. Mereka (Tokoh Aku,
Laki-laki setengah umur yang miskin, anak kecil, dan ibu sang anak)
memperlihatkan perilaku yang layak ditiru di tengah-tengah kehidupan kita yang
saat ini cenderung mengabaikan nilai-nilai agama. Tokoh Aku yang diam-diam
peduli terhadap orang kecil di hadapannya. Laki-laki setengah umur yang miskin
(belakangan diketahui sebagai tukang kebun keliling) yang benar-benar bisa
menahan amarahnya. Anak perempuan yang memiliki perasaan bersalah karena telah
mengganggu dan mengotori makanan tukang kebun. Ibu yang mau merespon dan
menolong anaknya agar tidak diliputi rasa bersalah ketika tanpa sengaja boleh
jadi merusak selera makan Bapak tukang kebun keliling.
Ceritanya dimulai dari dua orang
laki-laki yang tidak saling mengenal mampir ke sebuah warung. Menjelang magrib
mereka sudah siap-siap untuk buka puasa. Hari itu merupakan buka puasa terakhir
menjelang lebaran esoknya (malam takbiran). Tokoh Aku memesan teh panas. Bapak
tukang kebun keliling memesan teh tawar. Selesai minum, mereka berdua ke
mushola terdekat untuk sholat magrib. Selesai sholat mereka kembali ke warung
untuk makan malam. Di luar warung ada anak-anak kecil sedang bermain bulu
tangkis. Tiba-tiba saja bola bulu tangkis yang dimainkan anak-anak `nyasar` ke
piring makan Bapak tukang kebun keliling. Bapak itu sempat terkejut. Dia kembalikan bola
bulu tangkis itu ke si anak perempuan. Setelah itu dia meneruskan makan
malamnya.
Beberapa saat ketika sedang makan,
datanglah anak perempuan bersama ibunya. Ibunya menyampaikan kalau anaknya
menangis karena merasa bersalah bola bulu tangkis yang dia mainkan `nyasar` piring makan Bapak tukang kebun keliling itu. Bola bulu tangkis itu
ketika dia bermain sebelumnya masuk ke got yang di dalamnya ada bangkai tikus.
Anak perempuan itu khawatir kalau Sang Bapak telah memakan makanan yang kotor
sehingga dia takut kalau suatu saat Bapak tukang kebun keliling itu jatuh
sakit. Untuk itu, anak perempuan itu dan ibunya minta maaf pada Bapak tukang
kebun keliling itu. Ibunya memberikan amplop berisi uang pada Bapak tukang kebun
keliling. Ternyata, dia menolaknya karena dianggap sebagai peristiwa biasa. Tokoh
Aku yang melihat kejadian itu mengambil inisiatif mengambil amplop pemberian Si
Ibu. Kemudian setelah ibu dan anak perempuan itu pergi, amplop itu diberikan
pada Bapak tukang kebun keliling. Bagi Si Bapak tukang kebun keliling amplop
itu walaupun merupakan rezki yang tidak boleh ditolak, tetap saja ada rasa
khawatir. Dia mengkhawatirkan kalau istrinya takabur karena merasa doanya
dikabulkan. Berkat bujukan Tokoh Aku bahwa pemberian amplop itu merupakan rezki
dari Allah yang bisa dimanfaatkan di Hari Lebaran besok, akhirnya Si Bapak
tukang kebun keliling itu mau menerimanya.
***
Meskipun isi ceritanya demikian
sederhana, muatan nilai-nilai kebaikan yang terkandung tidak sederhana. Di situ
pembaca diajak merenungkan sesuatu yang boleh dikatakan seandainya pernah terjadi sangat
jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan masyarakat Islam yang
sudah jauh dari nilai-nilai Islam sangat tidak mungkin ada orang yang bisa
demikian mudah memaafkan kesalahan orang
lain. Apalagi kesalahannya dianggap fatal, yaitu mengganggu orang yang sedang
makan malam sehingga kenikmatan makan malamnya terusik. Bahkan, bisa jadi
karena ketika sedang menikmati hidangan ada bola bulu tangkis yang hinggap di
piring makannya bukan saja orang terkejut, tapi juga bisa hilang selera
makannya. Yang terjadi sebaliknya. Bapak tukang kebun keliling itu tidak
terusik. Kalau terkejut, itu wajar-wajar saja. Tapi, dia bisa menguasai
keterkejutannya. Dengan tenang dia kembalikan bola bulu tangkis itu ke si anak
perempuan. Tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Kemudian dia teruskan makan
malamnya seolah-olah peristiwa itu tidak pernah terjadi.
Tiba-tiba
secara tak terduga bola bulu ayam itu jatuh kedalam piring laki-laki yang duduk di depanku. Bola bulu
ayam itu bertengger di atas tumpukan nasi. Aku bersikap seolah tidak
melihat peristiwa itu. Di belakang laki-laki itu muncul seorang anak perempuan.
Dia mematung melihat bola bulu ayamnya.
Orang itu bereaksi
menoleh ke belakang. Tampaklah olehnya anak perempuan
itu. Dia berpaling ke piringnya. Dipandangnya bola bulu ayam itu. Diambilnya
dan diberikan kepada anak perempuan
itu.
Dia
melanjutkan makannya tanpa sedikit pun membuang nasi yang tercemar oleh bola
bulu ayam itu. Dia menyuap nasinya seperti tidak terjadi apa-apa. Anak
perempuan itu tercengan melihat kejadian itu. Dia tampak seperti terpukau.
Dia tampak tidak yakin dengan apa yang dia
lihat. Tiba-tiba dia tersentak
dan lari meninggalkan kami. Aku terus saja makan dan melupakan
peristiwa itu. Kukira orang lain
pun tidak akan
menghiraukan kejadian itu.
Bahkan si pemilik warung. Sejurus kemudian
terjadilah hal yang
tidak kuduga sama sekali. Anak perempuan
itu muncul bersama seorang wanita. Dia menunjuk ke arah laki-laki
itu.
|
Seandainya dia harus marah sebenarnya
wajar saja karena gara-gara ada bola bulu tangkis yang menclok di piring
makannya bisa merusak selera makannya. Bisa saja dia marah besar seraya
memaki-maki si anak perempuan. Tapi, itu tidak dilakukannya. Di sini Allah
menunjukkan pada hamba-hamba-Nya, orang yang telah berpuasa sebulan penuh kalau
disertai dengan imanan wahtisaaban
akan bisa menahan amarah seseorang. Hal itu sesuai dengan gambaran yang
terdapat dalam Surat Ali Imran: 133-134 bahwa orang beriman itu dicirikan
dengan bisa menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Puasa yang
telah dijalankan oleh Bapak tukang kebun keliling itu selama sebulan telah
menjadikan dirinya memiliki akhlak mulia. Buktinya dia bisa menahan marah dan
memaafkan kesalahan orang lain. Orang seperti yang Insya Allah diterima
ibadahnya dan dimasukkannya ke dalam orang-orang yang takwa. Jadi, kalau ada
orang yang telah berpuasa sebulan penuh dan diisi waktu-waktunya dengan ibadah
pada Allah, tapi belum bisa juga menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang
lain, orang seperti ini belum bisa dimasukkan sebagai orang-orang yang takwa.
Orang-orang seperti ini sangat banyak di dunia ini.
***
Tokoh Aku yang memiliki kepedulian
dengan sesamanya juga orang yang Insya Allah diterima ibadahnya di bulan Ramadhan. Puasa
sebulan penuh yang dijalankannya telah membentuk pribadi muslim yang peduli
dengan sesamanya. Selain ibadah puasa yang dijalankan, orang tuanya telah
memberikan contoh kebaikan pada anak-anaknya. Orang tuanya (ayah Tokoh Aku)
diceritakan orang yang suka memberikan seperti pakaian layak pakai pada
orang-orang kecil seperti tukang kebun. Padahal pakaian yang dipakai orang tua
dan anak-anaknya terhitung masih layak pakai. Tapi, ayahnya berpikiran lain
sehingga contoh-contoh kebaikan ini terwarisi ke anak-anaknya termasuk Tokoh
Aku. Tokoh Aku di kisah itu menceritakan kalau tukang kebun langganannya suatu saat datang bukan pada waktunya. Karena tahu kalau ada kebutuhan mendesak menjelang lebaran, dia mau tidak mau membiarkan semak-semak di pekarangan rumahnya
dibersihkan. Ini suatu bukti bahwa seorang muslim memiliki kepedulian dan
sekaligus kepekaan pada saudara muslim lainnya.
Memandangnya
aku jadi teringat akan tukang kebun keliling yang sebulan
sekali datang ke
rumah kami untuk
membersihkan pekarangan. Wajah mereka selalu menipu umur mereka.
Kurasa usia orang ini tidak
jauh terpaut dari usia tukang kebun langganan kami. Dua hari yang lalu tukang
kebun itu datang menawarkan jasa. Padahal
bila dicocokan dengan
jadwal kedatangan setiap
bulan, seharusnya dia datang pertengahan bulan depan. Tetapi karena
aku tahu mungkin dia ingin
bersiap-siap menghadapi
lebaran, semak-semak yang
belum begitu meninggi
kubiarkan dipangkasnya.
Untunglah kami masih menyenangi pagar
tumbuhan perdu. Kalau tidak
tentu telah berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling seperti dia.
Dua
hari yang lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak yang
sudah tidak muat
lagi mereka kenakan.
Aku juga menyisihkan
pakaian-pakaian tua milikku, begitu pula milik istriku. Pakaian-pakaian itu
kuberikan kepadanya di samping upah yang dia terima. Kami sebenarnya bukan
orang yang mampu. Tapi kebiasaan seperti itu telah ditularkan orang tuaku
sejak aku masih kecil. Di saat menjelang
lebaran selalu aku bertanya kepada ayah mengapa pakaian-pakaian yang
masih bisa kupakai selalu saja diberikan kepada tukang kebun yang
datang membersihkan
pekarangan rumah kami. Ayah selalu berkata
bahwa mereka membutuhkan
sedangkan kita telah membeli yang baru. Kebiasaan yang
kulihat sejak aku masih kecil itu tertular kepadaku setelah aku berdiri
sendiri membina keluarga. Insya Allah dengan demikian aku telah membina
keluarga menjadi keluarga yang pemberi.
|
Tokoh Aku terbentuk kepribadiannya
melalui pembelajaran yang dilakukan orang tuanya. Walaupun sederhana dalam
pembelajaran, justru di balik kesederhanaan itu memberikan bekas yang mendalam
pada seorang anak. Sama halnya dengan anak perempuan yang bermain bulu tangkis.
Ketika bola bulu tangkisnya jatuh ke tempat makan Bapak tukang kebun keliling,
dia merasa sangat bersalah. Bagi anak-anak lain, mungkin dianggap biasa saja
karena Bapak tukang kebun keliling itu tidak marah. Mungkin karena tidak marah,
apa salahnya kalau meneruskan permainan?
Anggap saja itu angin lalu. Si anak perempuan itu tidak demikian. Dia temui
ibunya. Sambil menangis karena ada perasaan bersalah, dia sampaikan
permasalahannya (mungkin juga dia bujuk ibunya) sehingga Sang Ibu bersama
anaknya mau menemui Bapak tukang kebun keliling itu sambil membawa amplop berisi
uang.
Menanamkan nilai-nilai tanggung jawab
pada anak sehingga anak memiliki rasa bersalah kalau telah berbuat salah bukan
pekerjaan sederhana. Anak tidak cukup, dinasihati tapi juga diberi contoh. Dalam
hal ini proses pembelajaran yang dilakukan ibunya melalui contoh-contoh konkrit.
Ibunya memberikan contoh-contoh nilai-nilai agama yang berkaitan dengan
tanggung jawab dan kejujuran. Selain itu, ada pembelajaran yang berkaitan dengan
saling mempercayai satu sama lain. Dalam hal ini si ibu dalam mendidik anaknya
menjauhkan diri dari kebohongan. Kalau saja sejak kecil anak diajar dengan
kebohongan atau ditakuti-takuti, sampai dewasa nanti si anak akan terbiasa
berbuat bohong. Di sini Hamsad Rangkuti sebagai penulis cerpen menunjukkan
ternyata si ibu yang tahu persis anaknya tidak mengada-ada (berbohong) turut
berempati ketika anaknya memiliki perasaan bersalah pada orang lain. Sikap itu
ditunjukkan dengan mau menemui si Bapak tukang kebun keliling untuk
mengantarkan anaknya agar mau meminta maaf dan memberikan uang yang bisa
digunakan untuk berobat kalau suatu saat si Bapak tukang kebun keliling itu
sakit. Bukankah ini juga pembelajaran yang berkaitan dengan kepedulian sekaligus kepekaan?
Bicara tentang kepedulian dan kepekaan, dalam
cerpen “Wangon Jatilawang” (Ahmad Tohari) juga menggambarkan kepedulian dan kepekaan Tokoh
Aku terhadap Sulam. Sulam digambarkan sebagai orang yang terbelakang mentalnya.
Orang yang selalu wara-wiri jalan kaki dari Wangon ke Jatilawang. Sepanjang
jalan itu tidak ada orang yang peduli. Bahkan, orang menganggap sial kalau
rumahnya dikunjungi Sulam. Anak-anak kecil yang berada di sepanjang jalan itu
malah sering mengolok-olok dengan berbagai cara. Hanya Tokoh Aku yang mau
menerima kehadirannya. Walaupun banyak orang yang tidak setuju dengan sikapnya,
Tokoh Aku bergeming. Tapi, di akhir kisah ada sebuah perasaan bersalah pada
Tokoh Aku karena dia merasa sia-sia puasanya sebulan cuma gara-gara tidak
memenuhi permintaan Sulam sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa. Dia merasa
ibadahnya tidak diterima karena masih bercokol dalam dirinya sangka buruk
terhadap Sulam. Dia khawatir kalau Sulam diberikan pakaian sebelum lebaran,
pakaian itu akan kotor. Sikap Tokoh Aku yang merasa bersalah semakin terpukul
dengan kematian Sulam. Kematian Sulam bagi Tokoh Aku seolah-olah merupakan
sindirian yang paling sarkastik.
“Pak,
Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang.”
Bisa
jadi tukang beca itu masih berkata banyak. Namun kalimat pertamanya yang
kudengar sudah cukup. Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu,
perih. Demikian malu sehingga aku tak berani menjenguk mayat Sulam di
Jatilawang meski istriku berkali-kali menyuruhku ke sana. Sulam telah
menyindirku dengan cara yang paling sarkastik sehingga aku mengerti bahwa
diriku sama sekali tidak lebih baik daripadanya. Atau memang demikianlah
keadaan yang sesungguhnya. Karena dalam hati sejak lama aku percaya, setiap
hari Tuhan tak pernah jauh dari diri Sulam. Dan aku konon telah mencoba
bersuci jiwa hampir sebulan lamanya, malah menampik permintaan Sulam yang
terakhir. Padahal sungguh aku mampu memberikannya.
|
***
Salah satu tujuan ibadah puasa di
bulan Ramadhan adalah menanamkan kepada hamba-hamba-Nya rasa kepedulian,
kebersamaan, dan kepekaan. Pada Tokoh Aku, Bapak tukang kebun keliling, anak
perempuan dan ibunya, atau pada Tokoh Aku di cerpen ‘Wangon—Jatilawang” ibadah
puasa memberikan bekas yang sangat mendalam. Baik Hamsad Rangkuti maupun Ahmad
Tohari telah berhasil lewat cerpennya memberikan pembelajaran kepada kita semua
bahwa puasa Ramadhan yang kita jalankan harus membentuk pribadi muslim yang
peduli, peka, dan memiliki kebersamaan. Kalau semua itu tidak memberi bekas
dalam diri kita, patut kita renungkan, mengapa itu bisa terjadi? Hasil
perenungan harus bisa menjawabnya, yaitu melalui perbaikan niat kita, perbaikan
ibadah kita, dan perbaikan hubungan kita pada Allah. Semoga di setiap kali kita
melaksanakan ibadah Ramadhan ada perbaikan-perbaikan sehingga memasuki bulan
Syawal kita benar-benar menjadi seperti orang yang terlahir kembali. Lahir
sesuai dengan fitrahnya. Wallahu a`lam
bissawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar