Goyang saja Menara Gading agar kaum
akademis yang `bererot` gelar akademisnya, yang terkadang sering membanggakan
almamaternya, bisa mencegah berbagai patologi sosial. Goyang saja Menara Gading
agar `orang-orang intelek` dari kampus ternama di negeri ini sekalipun
menghindari sebutan yang menyakitkan, kaum intelek `borju` dari kampus `borju`.
Goyang saja Menara Gading agar makhluk-makhuk akademis mau terlibat dengan
aktivitas sosial di tengah-tengah masyarakatnya. Goyang saja Menara Gading agar
orang-orang kampus mau turut membenahi carut-marutnya birokrasi di negeri kolam
susu ini. Goyang saja Menara Gading agar insan-insan akademis itu mau merasakan
pahit getirnya kehidupan orang-orang duafa yang semakin hari semakin meningkat
kuantitas dan kualitasnya. Terakhir, Menara Gading juga harus digoyang
agar insan akademis yang katanya punya jam terbang pengajaran dan penelitian
sudah beribu-ribu jam tapi miskin PM mau terlibat membenahi negeri ini.
Bagaimana
cara insan akademis terlibat dalam membenahi carut-marut negeri ini? Penulis di “Catatan dari Menara Gading (2)”
menulis kalau seorang ilmuwan harus bisa membuktikan dirinya bahwa ilmu yang
diperolehnya benar-benar bisa diterapkan dalam menjalankan kehidupannya
sehari-hari. Dengan kata lain, ilmu yang dipelajarinya itu bisa memberikan
manfaat buat dirinya sebagai seorang ilmuwan. Untuk itu, jika ditelusuri
tulisan-tulisan yang terdapat dalam “Catatan dari Menara Gading” Penulis
menyampaikan beberapa hal, di antaranya yang berkaitan dengan integritas, keserakahan,
sikap egaliter, verbalistis, inovatif dan kreatif, (menghidupkan) mimbar bebas
akademik, berdialog, kekritisan dan kepedulian, kejahatan virtual, instantisme,
mengubah mindset, pragmatis-permisif, idealisme, civil society,
subordinasi kekuasaan, berpikir kritis, melakukan kritik sosial, dan kemauan-kemampuan-keterampilan.
Semua itu jika benar-benar dipelajari, sebenarnya lebih merupakan pembekalan
buat para ilmuwan atau bisa juga insan akademis. Dengan memiliki semua itu
diharapkan seorang ilmuwan bisa menggoyang Menara Gading. Artinya, sang ilmuwan
tidak lagi membikin jarak antara dirinya sebagai ilmuwan dan masyarakat
sekitarnya sehingga dirinya bisa benar-benar mengabdikan sepenuhnya bukan saja
pada anak didiknya di PT, tapi juga di masyarakat.
Ketika
berinteraksi dengan masyarakat, sang ilmuwan pasti menemukan adanya berbagai
ketimpangan sosial. Sebut saja ketimpangan sosial sebagai fenomena sosial. Di
sini sang ilmuwan dituntut untuk mengetahui lebih jauh apa saja yang termasuk
dalam fenomena sosial. Selain itu, dia juga harus bisa menjawab faktor penyebab
munculnya fenomena sosial. Bahkan, dia juga dituntut untuk memecahkan berbagai
fenomena sosial. Untuk itu, Penulis berkaitan dengan fenomena sosial mengakhiri
tulisan-tulisan yang terkait dengan “Catatan dari Menara Gading”. Sebagai
gantinya, Penulis membuat judul baru, yaitu “Menggoyang Menara Gading”. Apakah
ada perbedaan di antara kedua judul tersebut? Dalam tulisan-tulisan yang
terdapat di “Catatan dari Menara Gading” seperti diuraikan di atas lebih
merupakan pembekalan bagi para ilmuwan (boleh juga masuk ke dalamnya insan
akademis), setelah mereka memiliki pembekalan, tiba saatnya mereka harus
berbuat sesuatu buat masyarakat sekitarnya. Aktivitas nyata para ilmuwan untuk
masyarakat di luar kampus Penulis masukkan ke dalam “Menggoyang Menara Gading”.
Untuk
bisa `menggoyang Menara Gading` para ilmuwan harus bisa menemukan apa saja yang
termasuk dalam lingkup fenomena sosial. Dalam hal ini yang termasuk fenomena
sosial di antaranya tentang kemiskinan, pengangguran, korupsi, patologi
birokrasi, deforestasi, kerusakan lingkungan, pembangunan yang gagal, negara
gagal, disorganisasi keluarga, penyebaran berita palsu (hoax), kejahatan
virtual, dan masih banyak lagi yang harus ditelusuri oleh para ilmuwan PT.
Jadi, kata kuncinya sang ilmuwan harus secara intens menelusuri masalah-masalah
sosial yang kerap bermunculan di hadapannya. Masalah-masalah sosial itu di
negeri ini semakin hari semakin bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Di sini sekali lagi para insan akademis yang mengaku sebagai ilmuwan tertantang
untuk menyelesaikan berbagai fenomena sosial.
***
Beralihnya kumpulan tulisan dari
“Catatan dari Menara Gading” ke “Menggoyang Menara Gading” menjadi tantangan
bagi Penulis untuk belajar menelusuri semua fenomena sosial. Untuk bisa
menemukan fenomena sosial tidak cukup bersikap menunggu. Di sini Penulis harus
rajin membuka konten-konten yang ada di internet. Setelah menemukannya, Penulis
harus membuka berbagai referensi, baik dalam bentuk cetak (buku, majalah,
jurnal, makalah, laporan hasil penelitian) maupun dokumen softcopy yang
terdapat di internet. Sangat mungkin dalam “Menggoyang Menara Gading” isi
tulisan lebih banyak daripada yang terdapat di “Catatan dari Menara Gading”
karena untuk menyampaikan suatu bukti atau fakta Penulis harus mengutip dari
sebuah tulisan, baik dalam bentuk cetak maupun dokumen softcopy yang
terdapat di internet. Mudah-mudahan saja bahan yang Penulis sajikan bisa
bermanfaat buat para insan akademis yang termasuk dalam lingkup ilmuwan yang
memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Wallahu a`lam bissawab.
(Selesai)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar