Rabu, 24 Agustus 2016

Artikel Agama (27)

Rendah Diri-Rendah Hati  


Subagio S. Waluyo   

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ketika membuat definisi `rendah diri` dan `rendah hati` terlihat adanya perbedaan yang jelas. Di KBBI tercantum frase `rendah diri`: `hal (sifat) diri`; `merasa dirinya kurang`. Sementara frase `rendah hati`: hal (sifat) rendah hati, tidak sombong atau `tidak angkuh`. Tetapi, ketika kedua frase tersebut diberikan imbuhan me-kan sehingga menjadi `merendahkan diri` dan `merendahkan hati` mempunyai makna yang sama, yaitu `menjadikan diri tidak sombong`; `tidak congkak`; `tidak angkuh` (KBBI,1999:833). Lho, kok, bisa sama ya? Bukankah seharusnya dibedakan. Untuk frase `merendahkan hati` memang bisa diterima pengertian tersebut. Lha, kalau frase `merendahkan diri` bukankah lebih baik didefinisikan sebagai `menjadikan dirinya merasa kurang`?

Minggu, 21 Agustus 2016

Artikel Agama (26)

Menegakkan Benang Basah

Subagio S.Waluyo
         
Ada pribahasa yang berbunyi `kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana`. Pribahasa yang demikian sederhana itu jika ditilik dari segi isinya ternyata tidak sederhana. Di sana ada kata `kejujuran` yang justeru sampai saat ini kata itu masih dianggap punya nilai tersendiri karena secara hati nurani manusia masih menghendaki adanya sebuah kejujuran. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah memang benar banyak manusia yang masih mengikuti hati nurani?”  Pertanyaan itu bisa dipastikan hanya segelintir saja manusia yang masih mengikuti hati nurani. Sebagian besar manusia sudah jauh menyimpang dari hati nurani termasuk ke dalamnya sudah tidak bisa lagi berlaku jujur.   

Pembelajaran Penulisan (5)

MULAILAH DARI MASALAH


Subagio S.Waluyo

/a/

Batang singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda. Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya?  Selama ini orang akan selalu digiring menulis dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.

Pembelajaran Penulisan (4)

ASAH KEPEKAAN

Subagio S.Waluyo

/a/

Orang banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan. Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra (almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu (masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah dengan  input yang diperoleh dari hasil mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP. 

Pembelajaran Penulisan (3)

SIAPKAN BAHAN


Subagio S. Waluyo

/1/
`Sedia payung sebelum hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan. Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi, harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis. Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.

Pembelajaran Penulisan (2)

MENULIS SAMPAI KE LIANG LAHAT

Subagio S.Waluyo



/a/
Orang menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis.  Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?

Pembelajaran Penulisan (1)

Dinamakan Pembelajaran Penulisan

Subagio S.Waluyo

Submenu Bahasa ini dinamakan Pembelajaran Penulisan karena memang sengaja disediakan kolom untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...