Minggu, 21 Agustus 2016

Pembelajaran Penulisan (2)

MENULIS SAMPAI KE LIANG LAHAT

Subagio S.Waluyo



/a/
Orang menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis.  Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?


/b/
Kalau sudah punya niat mau jadi penulis, jangan sampai mundur dari niat tersebut. Sekarang persiapkan diri untuk mulai menulis. Modal utamanya harus punya tekad kuat.Penulis-penulis tua seperti Goenawan Mochamad masih aktif menulis walaupun lebih banyak menulis di Majalah Tempo terutama di Catatan Pinggir. Di kolom itu tidak boleh ada orang lain yang menulis karena akan terasa hambar jika bukan Goenawan yang mengisi kolom itu. Mochtar Loebis sampai menjelang wafatnya masih tetap menulis. Dari tangan beliau lahir puluhan karya-karya fiksi dan nonfiksi. Ada penulis muda, ibu rumah tangga, yang menulis sejak awal tahun 2000-an menulis karya-karya fiksi dan nonfiksi sampai lima puluh judul. Dalam rentang waktu sepuluh tahun menghasilkan karya sebanyak itu. Setiap tahun paling tidak ada lima buku yang ditulis. Sebuah prestasi luar biasa. Kalau mau didata bisa puluhan bahkan ratusan penulis di Indonesia. Tidak semua penulis zaman kiwari di Indonesia menulis dengan komputer atau laptop atau notebook. Sebagian penulis masih bertahan menulis dengan bantuan mesin. Penulis seperti Remy Silado, sampai sekarang masih menulis dengan mesin tik. Di samping memang gaptek, Remy merasa lebih pas jika harus menggunakan mesin tik. Tidak perlu dipermasalahkan dengan apa mereka menulis. Tetapi yang perlu kita jadikan motivasi untuk tetap bertekad menulis adalah semangat mereka yang tidak pernah padam menggeluti dunia penulisan.

Jika ditilik dari latar belakangnya, Mochtar Loebis dan Goenawan Mochamad keduanya selain sastrawan juga wartawan. Tidak aneh kalau dalam novel-novel Mochtar Loebis lebih merupakan sebuah hasil reportase daripada sebuah karya fiksi yang sarat dengan imajinasi. Sementara itu, Goenawan Mochamad walaupun seorang wartawan lebih cenderung menulis puisi dan esei. Jauh sebelum mereka menulis karya-karyanya ada seorang ulama besar yang juga sastrawan yang mulai menulis di tahun-tahun `20-an. Orang mengenalnya sebagai Buya Hamka (Allah ya arham) walaupun nama aslinya sebenarnya Abdul Malik Karim Amrullah Beliau sendiri yang menulis namanya Hamka. Karena  dikenal sebagai ulama dari Sumatra Barat, akhirnya orang memberikan embel-embel di depannya Buya, yaitu sebutan seorang ustadz atau ulama. Sejak itu beliau lebih dikenal sebagai Buya Hamka. Ratusan karya  baik fiksi maupun nonfiksi lahir dari tangannya. Banyak juga tulisannya yang tersebar di berbagai majalah Islam yang terbit sejak di masa-masa penjajahan sampai menjelang beliau wafat, yaitu tahun 80-an. Novelnya yang cukup terkenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck baru-baru ini diangkat ke layar perak (difilmkan). Karya beliau yang monumental adalah Tafsir Al-Azhar sebanyak 30 juz. Untuk ukuran Indonesia kemungkinan besar belum ada penulis seproduktif beliau. Perlu juga diketahui, selain sebagai sastrawan dan ulama, beliau pernah terjun di dunia politik di masa penjajahan, yaitu di Serikat Islam pada tahun 1925. Pada Pemilu pertama tahun 1955 beliau terpilih sebagai anggota dewan konstituante dari Partai Masyumi. Dengan demikian, Buya Hamka bukan hanya  penulis, tetapi juga sastrawan dan tokoh politik di negara ini.

/c/
Di luar sana, maksudnya di belahan dunia lain, begitu banyak penulis dunia yang sampai saat ini masih aktif menulis. Di Inggris, Agatha Christie penulis novel-novel detektif sampai dengan tahun 2003 buku-bukunya telah terjual sebanyak 1 miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan 1 miliar eksemplar lagi dalam 45 bahasa. Di Prancis saja buku-buku beliau terjual sampai 40 juta eksemplar. Jumlah tersebut mengalahkan penulis sainganya Emile Zola (penulis Prancis) yang karya-karyanya terjual 20 juta eksemplar.  Agatha Christie menulis lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang semuanya bercerita tentang dunia kriminal atau detektif. Beberapa penulis dunia lain  yang sampai saat ini masih aktif sebut saja J.K. Rowling penulis novel-novel Harry Potter yang sebagian besar karyanya telah difilmkan, pada mulanya menulis karena desakan ekonomi. Saking miskinnya, penulis wanita ini menulis di lembaran-lembaran tisu. Penerbit-penerbit banyak yang menolak hasil tulisannya yang ditulis di lembaran-lembaran tisu. Tekad yang kuat untuk tetap menulis disertai dorongan karena kemiskinan membawakan hasil. Belakangan penerbit-penerbit tersebut mau menerima hasil karya-karyanya. Begitu karya-karyanya melejit di pasaran berebutan penerbit ingin menerbitkan buku-bukunya. Lagi-lagi prestasi ini diukir oleh seorang wanita generasi penerus sepeninggal Agatha Christie. Bedanya, jika Agatha Christie lebih konsens di dunia penulisan novel-novel detektif sedangkan J.K. Rowling di dunia penulisan novel-novel sihir.

/d/

Penulis-penulis besar baik penulis lokal (dalam negeri) maupun mancanegara tidak lahir tanpa adanya tekad yang kuat untuk tetap menulis. Buat mereka tidak ada mantan penulis. Seandainya, ada di antara mereka yang sempat berhenti menulis, pada kesempatan berikutnya langsung `ngebut` mengejar target untuk mengisi kekosongan selama berhenti menulis. Memang, tidak sedikit di antara mereka yang menulis karena adanya kesibukan yang dinilai lebih menguntungkan. Tetapi, penulis sejati tidak pernah berhenti untuk  memberikan yang terbaik pada pembacanya, yaitu tulisan yang berbobot. Untuk itu, jadilah penulis sejati yang tidak akan berhenti menulis walaupun sempat ditolak redaksi atau penerbit tulisan-tulisannya. Seandainya, media cetak tidak berkenan memuat tulisan-tulisannya, masih ada ruang buat penulis melalui media seperti blogspot atau website. Artinya, tulisan-tulisan yang ditulis sendiri bisa diedit sendiri dan dimuat sendiri kapanpun dan di manapun walaupun tidak ada honor untuk itu. Tapi, yakinlah bahwa suatu saat akan ada penerbit yang melirik dan tertaribk untuk menerbitkannya. Bukankah di zaman kiwari ini orang yang rajin ber-tweet-tweet di twitter saja ada penerbit yang berminat menerbitkannya? Mau? Cobalah!

1 komentar:

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...