Minggu, 21 Agustus 2016

Pembelajaran Penulisan (3)

SIAPKAN BAHAN


Subagio S. Waluyo

/1/
`Sedia payung sebelum hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan. Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi, harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis. Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.


Apakah seseorang hanya mencari referensi ketika menulis ilmiah? Tidak juga. Seorang penulis fiksi sekalipun agar tulisannya tidak kering mau tidak mau harus rajin mencari referensi. Ada seorang penulis fiksi terkenal yang menulis sebuah novel yang latarnya bukan di tempat tinggal dia. Tetapi, penulis ini dengan apiknya bisa menceritakan sedetil mungkin mungkin sudut-sudut kota yang dijadikan latar cerita. Apakah dia harus terjun ke lokasi yang dijadikan latar cerita itu? Ternyata dia tidak pernah ke lokasi yang dimaksud. Usut punya usut ternyata dia hanya banyak membaca dari berbagai referensi tentang gambaran lengkap kota yang dijadikan latar cerita. Sama halnya seorang penulis fiksi yang menulis dunia kedokteran, apakah dia harus seorang dokter? Tidak juga. Dia cukup menjadi seolah-olah seorang jurnalis yang menerapkan prinsip-prinsip 5 W+1 H yang biasa digunakan dalam dunia kewartawanan. Selebihnya, dia cari bahan-bahan yang membahas secara langsung tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Dalam hal ini cukup, misalnya, dia hanya menulis di sekitar penyakit epidemi, seperti demam berdarah. Memang hasil karyanya tidak lebih baik dari seorang yang benar-benar dokter. Tapi, itulah dunia penulisan bisa dilakukan seseorang manakala dia mau membaca. Jadi, untuk menulis sebuah karya fiksi tidak semata-mata mengandalkan imajinasi atau kontemplasi, tapi juga harus banyak mencari referensi.

Bagaimana untuk tulisan yang bukan nonfiksi? Sama saja harus banyak mencari referensi untuk memperkaya wawasan penulis. Semakin tinggi kadar ilmiah sebuah tulisan harus semakin banyak referensinya. Tentang jumlah referensinya tidak ada ketentuan. Tulisan-  tulisan yang berangkat dari hasil penelitian entah itu yang namanya makalah atau kertas kerja, karya ilmiah yang dilombakan, skripsi, tesis, atau disertasi wajib mencantumkan daftar pustaka. Kalau perlu di setiap kutipan harus disebutkan sumber kutipannya.   Untuk tulisan nonfiksi walaupun tulisan yang cenderung ilmiah populer juga dibutuhkan referensi. Hanya untuk tulisan jenis ini tidak mutlak digunakan daftar pustaka. Tetapi, kalau ada kutipan sudah selayaknya mencantumkan sumber datanya. Sekali lagi modal utama penulis bukan hanya punya tekad, tetapi juga mau membiasakan diri membaca.  Menjadi penulis harus juga rajin mencatat segala hal yang dia lihat dan didengar. Semua yang dilihat dan didengar harus diperkuat dengan data-data tertulis: bahan-bahan bacaan. Dengan menjadi penulis seseorang akan memulai budaya baca yang justru budaya ini belum tumbuh di negara ini.   
/2/
Kata kunci untuk bisa menulis itu `membaca`.  Budaya baca di negara ini masih tergolong rendah. Di dunia pendidikan bisa dihitung dengan jari seberapa banyak guru atau dosen yang membiasakan diri untuk membaca? Murid-murid atau mahasiswa-mahasiswa di negara ini masih kurang minat bacanya. Hal ini bisa dibuktikan dengan seberapa banyak buku-buku serius diterbitkan dan berapa lama buku itu akan terjual? Di negara ini orang hanya mau membaca buku-buku yang cenderung tidak banyak membutuhkan energi otak alias tidak mau capek untuk berpikir. Buku-buku yang ringan dibaca akan jadi best seller seperti `kacang goreng` (kata orang jadul kalau sekarang apa ya?).  Ini menunjukkan anak bangsa ini belum menjadi orang serius untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan bidang-bidang kehidupan manusia.

Orang yang banyak membaca bukan hanya menambah wawasan keilmuan, tapi juga akan memiliki daya kritis atau kepekaan. Lha, kok bisa begitu? Ya, karena orang yang banyak membaca akan banyak menemukan masalah. Masalah tidak akan dia dapat kalau dia tumpul alias tidak punya konsep untuk memecahkan masalah. Dia tahu baik-buruk suatu kebijakan, misalnya, karena dia punya konsep tentang kebijakan yang ideal. Dari mana dia peroleh itu? Ya, dari hasil membaca. Mungkin, ini suatu hal yang berat karena berhubungan dengan masalah kebijakan. Bagaimana dengan masalah adanya jurang pemisah yang sangat dalam antara orang kaya dan miskin? Mungkin ini lebih mudah. Untuk mengetahui konsep tentang orang kaya dan orang miskin, dia harus punya konsep gambaran yang sesungguhnya orang yang tergolong kaya dan miskin. Dia tidak cukup mengandalkan visualnya dengan melihat di depan matanya ada orang kaya dan miskin. Dia harus tahu setidaknya kriteria orang kaya dan orang miskin. Untuk mengetahui kriteria kedua golongan itu mau tidak mau harus lewat bahan bacaan.   Dia harus punya referensi tentang ukuran kekayaan dan kemiskinan dengan melihat pada pendapatan perkapita tertinggi dan terendah. Begitupun ketika seorang penulis ingin menyampaikan masalah ketertiban, dia harus punya konsep tentang ketertiban. Dari mana dia tahu tentang konsep ketertiban, ya dari literatur yang khusus membahas tentang ketertiban. Di sana bisa jadi didapati kriteria ketertiban, syarat-syaratnya, dan seterusnya. Singkatnya, siapapun orangnya yang menyampaikan suatu hal dia harus punya konsep. Konsep tidak bisa datang begitu saja atau gratis. Dia harus dilakukan dengan kerja keras. Dia akan diperoleh dengan banyak membaca.
/3/
Belajar menulis memang banyak dituntut bukan hanya tekad yang kuat, tetapi juga kesabaran, kekomitmenan, dan kekonsistenan. Dia harus sabar menghadapi cibiran pembaca yang memang tulisannya dinilai tidak/kurang berbobot atau memang ada orang yang sentimen dengan hasil tulisannya. Dia harus punya komitmen untuk tetap menulis sesuai dengan hati nuraninya. Dia tidak boleh terganggu untuk menulis yang menyimpang dari keinginan hatinya atau menjual idealismenya. Dia juga harus konsisten untuk tetap menjadikan dunia menulis sebagai cara untuk menuangkan gagasannya. Kalau perlu, dengan tulisan dia bisa mengekspresikan dirinya. Namun, untuk melengkapi itu semua harus didukung dengan minat baca. Membaca harus menjadi tekad untuk mengubah paradigma yang selama ini melekat di kalangan anak bangsa ini, yaitu minat baca yang rendah. Wallahu a`lam bissawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...