SIAPKAN BAHAN
Subagio
S. Waluyo
/1/
`Sedia payung sebelum
hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum
menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa
artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini
begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan.
Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat
pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh
saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan
dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa
juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau
ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi,
harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis.
Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media
elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa
dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan
penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.
Apakah seseorang hanya
mencari referensi ketika menulis ilmiah? Tidak juga. Seorang penulis fiksi
sekalipun agar tulisannya tidak kering mau tidak mau harus rajin mencari
referensi. Ada seorang penulis fiksi terkenal yang menulis sebuah novel yang
latarnya bukan di tempat tinggal dia. Tetapi, penulis ini dengan apiknya bisa
menceritakan sedetil mungkin mungkin sudut-sudut kota yang dijadikan latar
cerita. Apakah dia harus terjun ke lokasi yang dijadikan latar cerita itu?
Ternyata dia tidak pernah ke lokasi yang dimaksud. Usut punya usut ternyata dia
hanya banyak membaca dari berbagai referensi tentang gambaran lengkap kota yang
dijadikan latar cerita. Sama halnya seorang penulis fiksi yang menulis dunia
kedokteran, apakah dia harus seorang dokter? Tidak juga. Dia cukup menjadi
seolah-olah seorang jurnalis yang menerapkan prinsip-prinsip 5 W+1 H yang biasa
digunakan dalam dunia kewartawanan. Selebihnya, dia cari bahan-bahan yang
membahas secara langsung tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia
kedokteran. Dalam hal ini cukup, misalnya, dia hanya menulis di sekitar
penyakit epidemi, seperti demam berdarah. Memang hasil karyanya tidak lebih
baik dari seorang yang benar-benar dokter. Tapi, itulah dunia penulisan bisa
dilakukan seseorang manakala dia mau membaca. Jadi, untuk menulis sebuah karya
fiksi tidak semata-mata mengandalkan imajinasi atau kontemplasi, tapi juga
harus banyak mencari referensi.
Bagaimana untuk tulisan
yang bukan nonfiksi? Sama saja harus banyak mencari referensi untuk memperkaya
wawasan penulis. Semakin tinggi kadar ilmiah sebuah tulisan harus semakin
banyak referensinya. Tentang jumlah referensinya tidak ada ketentuan.
Tulisan- tulisan yang berangkat dari
hasil penelitian entah itu yang namanya makalah atau kertas kerja, karya ilmiah
yang dilombakan, skripsi, tesis, atau disertasi wajib mencantumkan daftar pustaka.
Kalau perlu di setiap kutipan harus disebutkan sumber kutipannya. Untuk tulisan nonfiksi walaupun tulisan yang
cenderung ilmiah populer juga dibutuhkan referensi. Hanya untuk tulisan jenis
ini tidak mutlak digunakan daftar pustaka. Tetapi, kalau ada kutipan sudah
selayaknya mencantumkan sumber datanya. Sekali lagi modal utama penulis bukan
hanya punya tekad, tetapi juga mau membiasakan diri membaca. Menjadi penulis harus juga rajin mencatat
segala hal yang dia lihat dan didengar. Semua yang dilihat dan didengar harus
diperkuat dengan data-data tertulis: bahan-bahan bacaan. Dengan menjadi penulis
seseorang akan memulai budaya baca yang justru budaya ini belum tumbuh di
negara ini.
/2/
Kata kunci untuk bisa
menulis itu `membaca`. Budaya baca di
negara ini masih tergolong rendah. Di dunia pendidikan bisa dihitung dengan
jari seberapa banyak guru atau dosen yang membiasakan diri untuk membaca?
Murid-murid atau mahasiswa-mahasiswa di negara ini masih kurang minat bacanya.
Hal ini bisa dibuktikan dengan seberapa banyak buku-buku serius diterbitkan dan
berapa lama buku itu akan terjual? Di negara ini orang hanya mau membaca
buku-buku yang cenderung tidak banyak membutuhkan energi otak alias tidak mau
capek untuk berpikir. Buku-buku yang ringan dibaca akan jadi best seller seperti `kacang goreng`
(kata orang jadul kalau sekarang apa ya?). Ini menunjukkan anak bangsa ini belum menjadi
orang serius untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan bidang-bidang
kehidupan manusia.
Orang yang banyak
membaca bukan hanya menambah wawasan keilmuan, tapi juga akan memiliki daya
kritis atau kepekaan. Lha, kok bisa begitu? Ya, karena orang yang banyak
membaca akan banyak menemukan masalah. Masalah tidak akan dia dapat kalau dia
tumpul alias tidak punya konsep untuk memecahkan masalah. Dia tahu baik-buruk
suatu kebijakan, misalnya, karena dia punya konsep tentang kebijakan yang
ideal. Dari mana dia peroleh itu? Ya, dari hasil membaca. Mungkin, ini suatu
hal yang berat karena berhubungan dengan masalah kebijakan. Bagaimana dengan
masalah adanya jurang pemisah yang sangat dalam antara orang kaya dan miskin?
Mungkin ini lebih mudah. Untuk mengetahui konsep tentang orang kaya dan orang
miskin, dia harus punya konsep gambaran yang sesungguhnya orang yang tergolong
kaya dan miskin. Dia tidak cukup mengandalkan visualnya dengan melihat di depan
matanya ada orang kaya dan miskin. Dia harus tahu setidaknya kriteria orang
kaya dan orang miskin. Untuk mengetahui kriteria kedua golongan itu mau tidak
mau harus lewat bahan bacaan. Dia harus punya referensi tentang ukuran
kekayaan dan kemiskinan dengan melihat pada pendapatan perkapita tertinggi dan
terendah. Begitupun ketika seorang penulis ingin menyampaikan masalah
ketertiban, dia harus punya konsep tentang ketertiban. Dari mana dia tahu
tentang konsep ketertiban, ya dari literatur yang khusus membahas tentang
ketertiban. Di sana bisa jadi didapati kriteria ketertiban, syarat-syaratnya, dan
seterusnya. Singkatnya, siapapun orangnya yang menyampaikan suatu hal dia harus
punya konsep. Konsep tidak bisa datang begitu saja atau gratis. Dia harus
dilakukan dengan kerja keras. Dia akan diperoleh dengan banyak membaca.
/3/
Belajar menulis memang banyak dituntut bukan hanya
tekad yang kuat, tetapi juga kesabaran, kekomitmenan, dan kekonsistenan. Dia
harus sabar menghadapi cibiran pembaca yang memang tulisannya dinilai
tidak/kurang berbobot atau memang ada orang yang sentimen dengan hasil
tulisannya. Dia harus punya komitmen untuk tetap menulis sesuai dengan hati
nuraninya. Dia tidak boleh terganggu untuk menulis yang menyimpang dari
keinginan hatinya atau menjual idealismenya. Dia juga harus konsisten untuk
tetap menjadikan dunia menulis sebagai cara untuk menuangkan gagasannya. Kalau
perlu, dengan tulisan dia bisa mengekspresikan dirinya. Namun, untuk melengkapi
itu semua harus didukung dengan minat baca. Membaca harus menjadi tekad untuk
mengubah paradigma yang selama ini melekat di kalangan anak bangsa ini, yaitu
minat baca yang rendah. Wallahu a`lam
bissawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar