MULAILAH DARI MASALAH
Subagio S.Waluyo
/a/
Batang
singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha
mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda.
Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya
dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma
timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya? Selama ini orang akan selalu digiring menulis
dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan
toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan
karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.
/b/
Dalam
pelajaran bahasa Indonesia, guru-guru (yang tentu saja diperkuat dengan buku
pegangan atau buku paket) selalu mengajarkan pada siswa-siswanya ketika ingin
menulis paragraf (terutama untuk tulisan nonfiksi) dimulai dengan menentukan
tema atau topik. Sering juga mereka menyebutnya sebagai pikiran utama
(lagi-lagi konsep ini pun dari buku)
yang kemudian dijabarkan ke dalam pikiran-pikiran penjelas. Pikiran utama itu
sendiri bisa diletakkan di awal atau di akhir paragraf atau bisa juga
diletakkan di awal dan akhir paragraf. Guru-guru bahasa Indonesia pada akhirnya
disibukkan dengan mencari pikiran utama atau paling banter siswa-siswa diminta
meneruskan kalimat utama yang terletak di awal paragraf sehingga menjadi
paragraf yang utuh dengan tidak lupa menjelaskan ada kata-kata kunci atau
kata-kata pengikat satu kalimat dengan kalimat yang lain. Apa hasilnya?
Siswa-siswa itu tetap saja tidak bisa menulis dengan baik.
Pembelajaran
penulisan dengan gaya seperti itu yang cenderung normatif tidak akan menjadikan
anak bisa menulis karena sudah digiring untuk mengikuti aturan-aturan baku
kebahasaan. Kalau ada anak-anak didik yang kelak mereka menjadi penulis, hal
itu sangat jarang. Boleh jadi mereka menjadi penulis lebih banyak belajar di
luar sekolah (bisa saja melalui pembelajaran di rumah atau ikut kursus
penulisan yang saat ini cukup banyak di setiap kota di Indonesia). Kalau dikaitkan
dengan talenta, apakah kemampuan menulis
memang ada faktor keturunan dari orang tuanya? Jawabannya bisa ya, bisa
tidak karena sering dijumpai penulis-penulis besar keturunannya belum tentu
akan melahirkan penulis besar. Namun, yang pasti untuk menjadi penulis perlu
pembelajaran. Perlu proses yang berkesinambungan. Aktivitas yang harus tetap
dilakoni dengan konsisten dan penuh kesabaran.
/c/
Kembali
pada uraian di atas, untuk menulis dengan baik orang tidak bisa diminta
mengikuti norma-norma baku yang terdapat dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Terlalu sulit bagi anak didik untuk menentukan temanya dulu. Setelah tema
ditentukan, jabarkan tema (pikiran utama) tersebut ke dalam pikiran-pikiran
penjelas yang kemudian dituangkan ke dalam kalimat-kalimat penjelas. Pola
seperti ini jelas `ribet`, bertele-tele (tidak praktis). Sering anak didik itu `g mudeng` alias `g
nyambung` sehingga timbul persepsi yang berbeda-beda di antara mereka. Mengapa
tidak dimulai dari masalah saja? Caranya?
Pancinglah mereka dengan menunjukkan sebuah gambar yang memuat sebuah
masalah yang tersirat (karena di balik gambar itu ada masalah). Dari gambar itu
suruh mereka bercerita tentang kisah di balik gambar itu ke dalam tulisan.
Biarkan mereka menulis yang ada di benak mereka. Setelah jadi tulisan utuh
(gaya anak-anak) baru diperbaiki. Gambar berikut ini bisa dijadikan stimulus agar mereka bercerita tentang isi
gambar itu.
Untuk anak didik cukuplah
mereka menceritakan isi gambar dengan berpatokan pada 4 W, yaitu What (apa yang
terjadi?), When (kapan kejadiannya?), Where (di mana kejadiannya?), dan Who
(siapa pelakunya/siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu?). Seiring dengan perkembangan usia dan
pendidikan, pada saatnya boleh juga diajukan pertanyaan Why (mengapa hal itu
bisa terjadi) dan How (bagaimana
mengatasi masalah itu?). Pertanyaan
tambahan Why lebih menggiring orang untuk mencari faktor-faktor penyebab.
Sedangkan How sudah mengarah pada mengajukan solusi terhadap masalah tersebut.
Jelas, untuk menjawab kedua pertanyaan terakhir itu dibutuhkan keruta n dahi.
/d/
Cara
lain bisa juga dilakukan dengan mengajukan pertanyaan masalah apa yang sedang
dihadapi? Jawaban yang dikehendaki cukup dengan satu kata atau satu frase.
Jawaban itu bisa diangkat menjadi masalah. Di tahap awal silakan saja orang
membuat deskripsi tentang sesuatu yang dia lihat atau diperoleh dari hasil
bacaan. Mereka bisa membuatnya dalam satu paragraf atau satu wacana yang
panjangnya tidak lebih dari lima paragraf. Untuk yang baru belajar menulis bisa
melihat contoh yang sudah ada yang dalam hal ini tulisan yang berisikan berita
(bahasa jadulnya pandangan mata) yang berintikan pada 4 W (What, When, Where,
Who). Berikut ini bisa dilihat contoh
sederhana.
Kecelakaan
lalu lintas kembali terjadi. Kali ini tabrakan KA dengan truk tanki BBM
Pertamina, senin, 9 Desember 2013 . Peristiwanya di tempat yang sama, Bintaro,
tempat yang 26 tahun lalu pernah terjadi tabrakan KA. Kali ini yang jadi korban
bukan saja supir dan crew truk tanki BBM Pertamina tapi juga masinis, crew-nya,
dan banyak penumpang yang sebagian besar wanita. Terhitung ada tujuh penumpang
yang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Umumnya, mereka baik yang
meninggal dunia maupun luka-luka adalah penumpang di gerbong pertama yang
memang dikhususkan buat wanita sehingga sebagian besar penumpang yang menjadi
korban adalah kaum wanita.
Tulisan
di atas tidak diungkapkan faktor penyebab dan solusinya atau opini dari
penulis. Jadi, cenderung hanya sampai sebatas menceritakan yang terjadi. Kalau
sudah sampai mencari jawaban pertanyaan Why dan How dibutuhkan daya analisis
yang tajam. Di sini dituntut penulis sudah memiliki konsep yang diperoleh dari
hasil banyak membaca atau belajar atau melalui pengalaman hidup (?). Singkatnya,
penulis kalau sudah berhasil mengorek faktor penyebab (apalagi kalau sudah
sampai mengaitkannya dengan hal-hal yang bersifat akademis) dan memberikan
solusi/pendapat dibutuhkan kompetensi intelektual. Intelektual ini agar
memiliki kompetensi harus diasah melalui banyak baca, belajar, brainstorming,
dan secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keilmuan.
Tulisan-tulisan
yang bersifat fiksi, seperti novel atau cerpen juga sama bisa diajukan sebuah
stimulus dalam bentuk tayangan-tayangan film atau gambar karikatur seperti yang
terdapat di atas. Bedanya, dalam karya fiksi penulis dituntut untuk
berimajinasi dan berkontemplasi. Dia bukan hanya sebatas memberikan deskripsi
atas sebuah kejadian, tetapi juga harus memasukkan tokoh-tokoh yang diperlukan dalam
sebuah novel atau cerpen yang kemudian terjadi dialog, mungkin juga terjadi
keributan antartokoh, terjadi klimaks, dan terjadi pula antiklimaks yang
semuanya bisa diketahui oleh alur cerita dan dialog di antara tokoh-tokoh
ceritanya. Akhir cerita dengan kekuatan daya khayal penulis bisa happy ending,
bisa juga sebaliknya berakhir dengan sesuatu yang tidak mengenakkan atau boleh
juga penulis yang dengan sengaja membuat PR pembaca untuk menyimpulkannya
sendiri. Dengan demikian, untuk menulis fiksi juga dibutuhkan kemampuan
intelektual karena penulis apabila melihat suatu kejadian baik untuk mencari
faktor penyebab maupun solusi berupaya menyampaikannya. Hanya saja untuk
karya-karya fiksi semua itu dibungkus dengan imajinasi dan kontemplasi.
/e/
Sebagai
penutup dari tulisan ini, sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa menulis harus
dimulai dari mencari masalah. Setelah masalahnya ditemukan, buat deskripsi
timbulnya masalah tersebut dengan berpatokan pada 4 W. Kemudian, seandainya mau
diteruskan agar terpenuhi 5 W + 1 H, siapkan bahan (referensi) dari mana saja
baik dari media cetak maupun elektronik atau hasil sharing dengan beberapa
orang. Kalau tulisan tersebut disiapkan
untuk kebutuhan akademis (laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, atau makalah/kertas
kerja) cantumkan daftar pustaka. Jadi, mulailah
menulis dengan masalah bukan judul atau menentukan tema.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar