Minggu, 21 Agustus 2016

Pembelajaran Penulisan (5)

MULAILAH DARI MASALAH


Subagio S.Waluyo

/a/

Batang singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda. Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya?  Selama ini orang akan selalu digiring menulis dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.

 /b/

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru-guru (yang tentu saja diperkuat dengan buku pegangan atau buku paket) selalu mengajarkan pada siswa-siswanya ketika ingin menulis paragraf (terutama untuk tulisan nonfiksi) dimulai dengan menentukan tema atau topik. Sering juga mereka menyebutnya sebagai pikiran utama (lagi-lagi konsep ini pun  dari buku) yang kemudian dijabarkan ke dalam pikiran-pikiran penjelas. Pikiran utama itu sendiri bisa diletakkan di awal atau di akhir paragraf atau bisa juga diletakkan di awal dan akhir paragraf. Guru-guru bahasa Indonesia pada akhirnya disibukkan dengan mencari pikiran utama atau paling banter siswa-siswa diminta meneruskan kalimat utama yang terletak di awal paragraf sehingga menjadi paragraf yang utuh dengan tidak lupa menjelaskan ada kata-kata kunci atau kata-kata pengikat satu kalimat dengan kalimat yang lain. Apa hasilnya? Siswa-siswa itu tetap saja tidak bisa menulis dengan baik.

 Pembelajaran penulisan dengan gaya seperti itu yang cenderung normatif tidak akan menjadikan anak bisa menulis karena sudah digiring untuk mengikuti aturan-aturan baku kebahasaan. Kalau ada anak-anak didik yang kelak mereka menjadi penulis, hal itu sangat jarang. Boleh jadi mereka menjadi penulis lebih banyak belajar di luar sekolah (bisa saja melalui pembelajaran di rumah atau ikut kursus penulisan yang saat ini cukup banyak di setiap kota di Indonesia). Kalau dikaitkan dengan talenta, apakah kemampuan menulis  memang ada faktor keturunan dari orang tuanya? Jawabannya bisa ya, bisa tidak karena sering dijumpai penulis-penulis besar keturunannya belum tentu akan melahirkan penulis besar. Namun, yang pasti untuk menjadi penulis perlu pembelajaran. Perlu proses yang berkesinambungan. Aktivitas yang harus tetap dilakoni dengan konsisten dan penuh kesabaran.

/c/
Kembali pada uraian di atas, untuk menulis dengan baik orang tidak bisa diminta mengikuti norma-norma baku yang terdapat dalam pelajaran bahasa Indonesia. Terlalu sulit bagi anak didik untuk menentukan temanya dulu. Setelah tema ditentukan, jabarkan tema (pikiran utama) tersebut ke dalam pikiran-pikiran penjelas yang kemudian dituangkan ke dalam kalimat-kalimat penjelas. Pola seperti ini jelas `ribet`, bertele-tele (tidak praktis).  Sering anak didik itu `g mudeng` alias `g nyambung` sehingga timbul persepsi yang berbeda-beda di antara mereka. Mengapa tidak dimulai dari masalah saja? Caranya?  Pancinglah mereka dengan menunjukkan sebuah gambar yang memuat sebuah masalah yang tersirat (karena di balik gambar itu ada masalah). Dari gambar itu suruh mereka bercerita tentang kisah di balik gambar itu ke dalam tulisan. Biarkan mereka menulis yang ada di benak mereka. Setelah jadi tulisan utuh (gaya anak-anak) baru diperbaiki. Gambar berikut ini bisa dijadikan  stimulus agar mereka bercerita tentang isi gambar itu.

Untuk anak didik cukuplah mereka menceritakan isi gambar dengan berpatokan pada 4 W, yaitu What (apa yang terjadi?), When (kapan kejadiannya?), Where (di mana kejadiannya?), dan Who (siapa pelakunya/siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu?).  Seiring dengan perkembangan usia dan pendidikan, pada saatnya boleh juga diajukan pertanyaan Why (mengapa hal itu bisa terjadi) dan How  (bagaimana mengatasi masalah itu?).  Pertanyaan tambahan Why lebih menggiring orang untuk mencari faktor-faktor penyebab. Sedangkan How sudah mengarah pada mengajukan solusi terhadap masalah tersebut. Jelas, untuk menjawab kedua pertanyaan terakhir itu dibutuhkan keruta n dahi.

/d/
 Cara lain bisa juga dilakukan dengan mengajukan pertanyaan masalah apa yang sedang dihadapi? Jawaban yang dikehendaki cukup dengan satu kata atau satu frase. Jawaban itu bisa diangkat menjadi masalah. Di tahap awal silakan saja orang membuat deskripsi tentang sesuatu yang dia lihat atau diperoleh dari hasil bacaan. Mereka bisa membuatnya dalam satu paragraf atau satu wacana yang panjangnya tidak lebih dari lima paragraf. Untuk yang baru belajar menulis bisa melihat contoh yang sudah ada yang dalam hal ini tulisan yang berisikan berita (bahasa jadulnya pandangan mata) yang berintikan pada 4 W (What, When, Where, Who).  Berikut ini bisa dilihat contoh sederhana.

Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi. Kali ini tabrakan KA dengan truk tanki BBM Pertamina, senin, 9 Desember 2013 . Peristiwanya di tempat yang sama, Bintaro, tempat yang 26 tahun lalu pernah terjadi tabrakan KA. Kali ini yang jadi korban bukan saja supir dan crew truk tanki BBM Pertamina tapi juga masinis, crew-nya, dan banyak penumpang yang sebagian besar wanita. Terhitung ada tujuh penumpang yang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Umumnya, mereka baik yang meninggal dunia maupun luka-luka adalah penumpang di gerbong pertama yang memang dikhususkan buat wanita sehingga sebagian besar penumpang yang menjadi korban adalah kaum wanita.

Tulisan di atas tidak diungkapkan faktor penyebab dan solusinya atau opini dari penulis. Jadi, cenderung hanya sampai sebatas menceritakan yang terjadi. Kalau sudah sampai mencari jawaban pertanyaan Why dan How dibutuhkan daya analisis yang tajam. Di sini dituntut penulis sudah memiliki konsep yang diperoleh dari hasil banyak membaca atau belajar atau melalui pengalaman hidup (?). Singkatnya, penulis kalau sudah berhasil mengorek faktor penyebab (apalagi kalau sudah sampai mengaitkannya dengan hal-hal yang bersifat akademis) dan memberikan solusi/pendapat dibutuhkan kompetensi intelektual. Intelektual ini agar memiliki kompetensi harus diasah melalui banyak baca, belajar, brainstorming, dan secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keilmuan.

Tulisan-tulisan yang bersifat fiksi, seperti novel atau cerpen juga sama bisa diajukan sebuah stimulus dalam bentuk tayangan-tayangan film atau gambar karikatur seperti yang terdapat di atas. Bedanya, dalam karya fiksi penulis dituntut untuk berimajinasi dan berkontemplasi. Dia bukan hanya sebatas memberikan deskripsi atas sebuah kejadian, tetapi juga harus memasukkan tokoh-tokoh yang diperlukan dalam sebuah novel atau cerpen yang kemudian terjadi dialog, mungkin juga terjadi keributan antartokoh, terjadi klimaks, dan terjadi pula antiklimaks yang semuanya bisa diketahui oleh alur cerita dan dialog di antara tokoh-tokoh ceritanya. Akhir cerita dengan kekuatan daya khayal penulis bisa happy ending, bisa juga sebaliknya berakhir dengan sesuatu yang tidak mengenakkan atau boleh juga penulis yang dengan sengaja membuat PR pembaca untuk menyimpulkannya sendiri. Dengan demikian, untuk menulis fiksi juga dibutuhkan kemampuan intelektual karena penulis apabila melihat suatu kejadian baik untuk mencari faktor penyebab maupun solusi berupaya menyampaikannya. Hanya saja untuk karya-karya fiksi semua itu dibungkus dengan imajinasi dan kontemplasi.

/e/
Sebagai penutup dari tulisan ini, sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa menulis harus dimulai dari mencari masalah. Setelah masalahnya ditemukan, buat deskripsi timbulnya masalah tersebut dengan berpatokan pada 4 W. Kemudian, seandainya mau diteruskan agar terpenuhi 5 W + 1 H, siapkan bahan (referensi) dari mana saja baik dari media cetak maupun elektronik atau hasil sharing dengan beberapa orang.  Kalau tulisan tersebut disiapkan untuk kebutuhan akademis (laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, atau makalah/kertas kerja) cantumkan daftar pustaka. Jadi, mulailah menulis dengan masalah bukan judul atau menentukan tema.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...