Minggu, 21 Agustus 2016

Pembelajaran Penulisan (4)

ASAH KEPEKAAN

Subagio S.Waluyo

/a/

Orang banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan. Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra (almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu (masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah dengan  input yang diperoleh dari hasil mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP. 

Bagaimana dengan tulisan-tulisan nonfiksi? Sama saja. Setiap membaca sebuah tulisan secara tanpa disadari pembaca sebenarnya menangkap adanya ide seorang penulis mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya. Jika ada tulisan tentang tingkat kriminalitas di setiap kota besar di Indonesia sudah memprihatinkan, berarti si penulis telah banyak memperoleh masukan lewat bacaan atau paling tidak lewat tayangan-tayangan televisi atau dari hasil mendengar berbagai berita yang memuat berbagai berita kriminalitas. Ada orang yang sekedar tahu. Tapi, ada orang yang ingin lebih jauh menelusuri sehingga memunculkan pertanyaan: mengapa di negeri ini terjadi tingkat kriminalitas yang semakin memprihatinkan? Orang tersebut bisa lebih jauh lagi bertanya dan berupaya memberikan solusi dengan mengajukan pertanyaan: bagaimana cara menurunkan tingkat kriminalitas di negeri ini?  Kalau seorang sosiolog, dia akan menelusuri faktor penyebab dari tinjauan sosiologi. Kalau seorang psikolog, dia akan menelusurinya dari sisi kejiwaan. Begitulah seterusnya setiap orang berupaya mencari faktor penyebab dan solusinya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensinya. Bagi seorang penulis, orang yang peka semacam ini yang layak ditiru. Bukan orang yang berderet gelar kesarjanaannya sampai mengalahkan namanya tapi `cuek bebek` terhadap kondisi sekitarnya. Dia cuma pintar untuk diri sendiri. Gelar kesarjanaan yang berderet cuma jadi sarana untuk mengais fulus (uang).
/b/

Kepekaan tidak muncul begitu saja. Kepekaan tidak bisa diperoleh dengan gratis. Kepekaan tidak bisa dipaksakan pada setiap orang. Kepekaan harus dimulai dengan pembelajaran. Pembelajaran yang mengajar orang untuk peka butuh waktu. Orang tidak bisa langsung peka lewat pendidikan dan pelatihan (diklat) kepekaan walaupun dilakukan sebulan penuh. Buktinya, penataran P4 yang pernah secara masif dilakukan di masa orde baru dengan berbagai pola yang menunjukkan waktu penataran di setiap instansi pemerintah dan pendidikan tinggi tidak menghasilkan manusia Indonesia yang bersih dari praktek-praktek KKN. Bahkan, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah dan diteruskan di perguruan-perguruan tinggi ternyata `g ngepek`, `g ngaruh`, atau tidak berpengaruh terhadap anak didik atau mahasiswa. Buktinya, mereka tetap saja punya banyak perilaku buruk, seperti kebiasaan `nyontek` atau `tawuran` atau berkembangnya budaya `copas` di kalangan mahasiswa dan dosen. Jadi, tidak ada jaminan diklat atau pendidikan yang menahun memberikan kepekaan.

 Penanaman rasa peka yang paling efektif dari keluarga. Setiap orang tua harus bisa memberikan contoh pada anak-anaknya kalau mereka punya kepekaan. Praktek-praktek kepekaan melalui contoh-contoh kongkret dari orang tua jelas lebih mudah ditiru oleh anak-anak ketimbang anak diceramahi sampai si orang tua berbusa-busa mulutnya atau anak-anak hanya disuruh tapi orang tua tidak memberikan contoh yang kongkret. Kalau di rumah saja orang tua tidak pernah berusaha menunjukkan kepekaannya, jangan berharap anak-anak punya kepekaan. Selain itu, masyarakat di lingkungan tempat tinggal atau sekolah atau tempat kerja juga turut berpengaruh. Boleh-boleh saja di rumah (kalau bisa jangan sampai terjadi) orang tua tidak punya kepekaan, tetapi di sekolah guru-guru memberikan contoh kongkret tentang kepekaan. Dengan sendirinya anak-anak didik (karena selama ini guru merupakan panutan buat mereka) akhirnya tanpa disadari memiliki kepekaan yang sama dengan guru-gurunya. Justru, yang paling repot sudah di rumah orang tua tidak pernah memberikan contoh kepekaan, di sekolah guru-guru bersikap sama. Akhirnya, muncullah generasi penerus yang tidak punya kepekaan sekaligus kepedulian. Sebut saja generasi `cuek bebek`.
/c/
Di dunia ini begitu banyak objek yang bisa ditulis. Untuk bisa menulisnya dibutuhkan kepekaan. Untuk memperoleh kepekaan tidak bisa orang hanya semata-mata mengandalkan wangsit atau ilham agar bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Untuk memiliki kepekaan selain melihat contoh kongkret di rumah, di sekolah, atau di masyarakat lingkungan, bisa juga melalui pembelajaran lewat membaca. Jadi, kata kuncinya terletak pada membaca, Tentu saja bacaan yang banyak menggugah hati seseorang bukan bacaan yang `murahan` atau `picisan` atau kitsch yang berselera rendah. Orang yang sering membaca bacaan yang serius akan menghasilkan penulis yang serius. Untuk masalah membaca tidak dibutuhkan orang yang harus berpendidikan tinggi atau orang akademis. Membaca itu aktivitas yang gratis kok. Yang harus keluar uang `kan beli bukunya atau beli sarana lain di luar buku. Masih banyak orang/lembaga yang berbaik hati untuk meminjamkan buku. Untuk mengakses internet banyak tempat gratis yang menyediakan hotspot dan sejenisnya. Yang jadi masalah `kan bagi seseorang karena tidak punya sarana untuk bisa mengakses hotspot atau wifi gratis. Syukur-syukur kalau masih ada lembaga yang menyediakan PC gratis plus tersedia sarana untuk berselancar di dunia maya. Jangan jadi orang yang sebenarnya sudah banyak diberikan kemudahan tapi tetap saja malas untuk membaca. Akhirnya, orang seperti ini hanya cenderung mengandalkan telinga atau mata untuk mendengar atau melihat sesuatu yang bernilai itu tadi: `murahan` atau `picisan` atau kitcsh yang berselera rendah.


 Memang benar latar belakang pendidikan seseorang berpengaruh untuk bisa mencerna sebuah tulisan. Bisa mencerna tapi tidak mau atau tidak bisa menuangkan ke dalam tulisan, akhirnya tulisan yang dia baca hanya ada di benaknya. Hanya jadi referensi di otaknya. Dia terpendam seperti air yang tidak disalurkan. Selanjutnya, air itu keruh, bau, dan jadi sumber penyakit. Daripada sudah sekian banyak referensi yang dibaca yang nantinya jadi sumber penyakit, coba disalurkan bahan-bahan yang seharusnya sudah bisa membantu itu ke dalam sebuah gagasan. Apa salahnya kalau memulainya dengan menggoreskan pena atau menekan tuts-tuts PC atau laptop atau notebook sehingga menghasilkan kata-kata yang kemudian diteruskan dengan kalimat-kalimat dan seterusnya sehingga menjadi sebuah tulisan utuh? Orang yang peka manakala telah menuntaskan gagasannya ke dalam sebuah tulisan seperti orang yang selesai melaksanakan sebuah kewajiban. Ada perasaan lega yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tentang hasilnya tidak perlu dibahas dulu. Seiring perjalanan waktu ketika suatu saat orang itu membaca kembali tulisan-tulisannya yang terdahulu, sudah pasti orang tersebut akan `nyengir-nyengir` sendiri (walaupun tidak gila) karena menganggap tulisan-tulisannya yang dulu dinilai berbobot ternyata untuk saat ini sudah lawas gagasannya. Meskipun demikian, orang semacam ini lebih beruntung daripada seorang akademis yang berderet gelar kesarjanaannya, yang sampai-sampai gelar sarjana itu jika ditulis lengkap akan menutupi nama aslinya, seumur-umur hanya menulis serius dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi (itupun terkadang hasil `copas`) tetapi berhasil mendapat gelar akademis tertinggi: profesor!  Masih beruntung orang semacam ini bergelar profesor permanen alias seumur hidup, bagaimana kalau gelar profesor itu hanya diberikan setahun sekali berdasarkan hasil evaluasi dari tulisan-tulisannya atau penelitian-penelitiannya? Begitu sang profesor yang bangga dengan gelar akademis tertingginya ternyata dari hasil evaluasinya minim tulisannya atau hasil-hasil penelitiannya boleh dikatakan nihil sehingga gelar profesor itu dicopot (berikut tunjangannya). Sang profesor akan senewen dan siap-siap jadi penghuni rumah sakit jiwa atau minimal hipertensinya naik, gula darahnya naik, sakit jantungnya kumat, dan …siap-siap saja berhadapan dengan Sang Khalik. Untuk itu, setiap orang harus belajar mengasah kepekaan karena hanya yang peka yang bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kapan lagi? Wallahu a`lam  bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...