ASAH
KEPEKAAN
Subagio S.Waluyo
/a/
Orang
banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan.
Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya
kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat
melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada
orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari
hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat
menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan
kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga
nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra
(almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi
yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi
tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu
(masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya
tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah
dengan input yang diperoleh dari hasil
mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu
munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya
diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah
kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP.
Bagaimana dengan tulisan-tulisan nonfiksi?
Sama saja. Setiap membaca sebuah tulisan secara tanpa disadari pembaca
sebenarnya menangkap adanya ide seorang penulis mengekspresikan sesuatu yang
dirasakannya. Jika ada tulisan tentang tingkat kriminalitas di setiap kota
besar di Indonesia sudah memprihatinkan, berarti si penulis telah banyak
memperoleh masukan lewat bacaan atau paling tidak lewat tayangan-tayangan
televisi atau dari hasil mendengar berbagai berita yang memuat berbagai berita
kriminalitas. Ada orang yang sekedar tahu. Tapi, ada orang yang ingin lebih
jauh menelusuri sehingga memunculkan pertanyaan: mengapa di negeri ini terjadi
tingkat kriminalitas yang semakin memprihatinkan? Orang tersebut bisa lebih
jauh lagi bertanya dan berupaya memberikan solusi dengan mengajukan pertanyaan:
bagaimana cara menurunkan tingkat kriminalitas di negeri ini? Kalau seorang sosiolog, dia akan menelusuri
faktor penyebab dari tinjauan sosiologi. Kalau seorang psikolog, dia akan
menelusurinya dari sisi kejiwaan. Begitulah seterusnya setiap orang berupaya
mencari faktor penyebab dan solusinya sesuai dengan latar belakang pendidikan
dan kompetensinya. Bagi seorang penulis, orang yang peka semacam ini yang layak
ditiru. Bukan orang yang berderet gelar kesarjanaannya sampai mengalahkan
namanya tapi `cuek bebek` terhadap kondisi sekitarnya. Dia cuma pintar untuk
diri sendiri. Gelar kesarjanaan yang berderet cuma jadi sarana untuk mengais
fulus (uang).
/b/
Kepekaan tidak
muncul begitu saja. Kepekaan tidak bisa diperoleh dengan gratis. Kepekaan tidak
bisa dipaksakan pada setiap orang. Kepekaan harus dimulai dengan pembelajaran.
Pembelajaran yang mengajar orang untuk peka butuh waktu. Orang tidak bisa
langsung peka lewat pendidikan dan pelatihan (diklat) kepekaan walaupun dilakukan
sebulan penuh. Buktinya, penataran P4 yang pernah secara masif dilakukan di
masa orde baru dengan berbagai pola yang menunjukkan waktu penataran di setiap
instansi pemerintah dan pendidikan tinggi tidak menghasilkan manusia Indonesia
yang bersih dari praktek-praktek KKN. Bahkan, Pendidikan Moral Pancasila (PMP)
yang merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah dan
diteruskan di perguruan-perguruan tinggi ternyata `g ngepek`, `g ngaruh`, atau
tidak berpengaruh terhadap anak didik atau mahasiswa. Buktinya, mereka tetap
saja punya banyak perilaku buruk, seperti kebiasaan `nyontek` atau `tawuran`
atau berkembangnya budaya `copas` di kalangan mahasiswa dan dosen. Jadi, tidak
ada jaminan diklat atau pendidikan yang menahun memberikan kepekaan.
Penanaman rasa peka yang paling efektif dari
keluarga. Setiap orang tua harus bisa memberikan contoh pada anak-anaknya kalau
mereka punya kepekaan. Praktek-praktek kepekaan melalui contoh-contoh kongkret
dari orang tua jelas lebih mudah ditiru oleh anak-anak ketimbang anak
diceramahi sampai si orang tua berbusa-busa mulutnya atau anak-anak hanya
disuruh tapi orang tua tidak memberikan contoh yang kongkret. Kalau di rumah
saja orang tua tidak pernah berusaha menunjukkan kepekaannya, jangan berharap anak-anak
punya kepekaan. Selain itu, masyarakat di lingkungan tempat tinggal atau
sekolah atau tempat kerja juga turut berpengaruh. Boleh-boleh saja di rumah
(kalau bisa jangan sampai terjadi) orang tua tidak punya kepekaan, tetapi di
sekolah guru-guru memberikan contoh kongkret tentang kepekaan. Dengan
sendirinya anak-anak didik (karena selama ini guru merupakan panutan buat
mereka) akhirnya tanpa disadari memiliki kepekaan yang sama dengan
guru-gurunya. Justru, yang paling repot sudah di rumah orang tua tidak pernah
memberikan contoh kepekaan, di sekolah guru-guru bersikap sama. Akhirnya,
muncullah generasi penerus yang tidak punya kepekaan sekaligus kepedulian.
Sebut saja generasi `cuek bebek`.
/c/
Di
dunia ini begitu banyak objek yang bisa ditulis. Untuk bisa menulisnya
dibutuhkan kepekaan. Untuk memperoleh kepekaan tidak bisa orang hanya
semata-mata mengandalkan wangsit atau ilham agar bisa menuangkan gagasan ke
dalam tulisan. Untuk memiliki kepekaan selain melihat contoh kongkret di rumah,
di sekolah, atau di masyarakat lingkungan, bisa juga melalui pembelajaran lewat
membaca. Jadi, kata kuncinya terletak pada membaca, Tentu saja bacaan yang
banyak menggugah hati seseorang bukan bacaan yang `murahan` atau `picisan` atau
kitsch yang berselera rendah. Orang yang sering membaca bacaan yang serius akan
menghasilkan penulis yang serius. Untuk masalah membaca tidak dibutuhkan orang
yang harus berpendidikan tinggi atau orang akademis. Membaca itu aktivitas yang
gratis kok. Yang harus keluar uang `kan beli bukunya atau beli sarana lain di
luar buku. Masih banyak orang/lembaga yang berbaik hati untuk meminjamkan buku.
Untuk mengakses internet banyak tempat gratis yang menyediakan hotspot dan
sejenisnya. Yang jadi masalah `kan bagi seseorang karena tidak punya sarana
untuk bisa mengakses hotspot atau wifi gratis. Syukur-syukur kalau masih ada
lembaga yang menyediakan PC gratis plus tersedia sarana untuk berselancar di
dunia maya. Jangan jadi orang yang sebenarnya sudah banyak diberikan kemudahan
tapi tetap saja malas untuk membaca. Akhirnya, orang seperti ini hanya
cenderung mengandalkan telinga atau mata untuk mendengar atau melihat sesuatu
yang bernilai itu tadi: `murahan` atau `picisan` atau kitcsh yang berselera
rendah.
Memang benar latar belakang pendidikan seseorang
berpengaruh untuk bisa mencerna sebuah tulisan. Bisa mencerna tapi tidak mau
atau tidak bisa menuangkan ke dalam tulisan, akhirnya tulisan yang dia baca
hanya ada di benaknya. Hanya jadi referensi di otaknya. Dia terpendam seperti
air yang tidak disalurkan. Selanjutnya, air itu keruh, bau, dan jadi sumber
penyakit. Daripada sudah sekian banyak referensi yang dibaca yang nantinya jadi
sumber penyakit, coba disalurkan bahan-bahan yang seharusnya sudah bisa
membantu itu ke dalam sebuah gagasan. Apa salahnya kalau memulainya dengan
menggoreskan pena atau menekan tuts-tuts PC atau laptop atau notebook sehingga
menghasilkan kata-kata yang kemudian diteruskan dengan kalimat-kalimat dan
seterusnya sehingga menjadi sebuah tulisan utuh? Orang yang peka manakala telah
menuntaskan gagasannya ke dalam sebuah tulisan seperti orang yang selesai
melaksanakan sebuah kewajiban. Ada perasaan lega yang tidak bisa dilukiskan
dengan kata-kata. Tentang hasilnya tidak perlu dibahas dulu. Seiring perjalanan
waktu ketika suatu saat orang itu membaca kembali tulisan-tulisannya yang
terdahulu, sudah pasti orang tersebut akan `nyengir-nyengir` sendiri (walaupun
tidak gila) karena menganggap tulisan-tulisannya yang dulu dinilai berbobot
ternyata untuk saat ini sudah lawas gagasannya. Meskipun demikian, orang
semacam ini lebih beruntung daripada seorang akademis yang berderet gelar
kesarjanaannya, yang sampai-sampai gelar sarjana itu jika ditulis lengkap akan
menutupi nama aslinya, seumur-umur hanya menulis serius dalam bentuk skripsi,
tesis, atau disertasi (itupun terkadang hasil `copas`) tetapi berhasil mendapat
gelar akademis tertinggi: profesor!
Masih beruntung orang semacam ini bergelar profesor permanen alias
seumur hidup, bagaimana kalau gelar profesor itu hanya diberikan setahun sekali
berdasarkan hasil evaluasi dari tulisan-tulisannya atau
penelitian-penelitiannya? Begitu sang profesor yang bangga dengan gelar
akademis tertingginya ternyata dari hasil evaluasinya minim tulisannya atau
hasil-hasil penelitiannya boleh dikatakan nihil sehingga gelar profesor itu
dicopot (berikut tunjangannya). Sang profesor akan senewen dan siap-siap jadi
penghuni rumah sakit jiwa atau minimal hipertensinya naik, gula darahnya naik,
sakit jantungnya kumat, dan …siap-siap saja berhadapan dengan Sang Khalik.
Untuk itu, setiap orang harus belajar mengasah kepekaan karena hanya yang peka
yang bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kapan lagi? Wallahu a`lam bissawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar