Minggu, 21 Agustus 2016

Pembelajaran Penulisan (1)

Dinamakan Pembelajaran Penulisan

Subagio S.Waluyo

Submenu Bahasa ini dinamakan Pembelajaran Penulisan karena memang sengaja disediakan kolom untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.


Setiap orang yang mau belajar menulis harus punya komitmen. Tulisan yang mau dibuat hanya akan mengarah pada dua tujuan, tulisan yang berangkat dari ide-ide cemerlang, smart, atau cerdas akan melahirkan tulisan yanga cemerlang, smart, atau cerdas, Sementara itu, tulisan-tulisan yang mengarah pada hal-hal yang negatif, yang berangkat dari ide-ide gila atau senewen akan melahirkan tulisan-tulisan yang penuh kegilaan atau kesenewenan. Di submenu ini hanya disediakan bagi mereka yang mau belajar menulis dengan tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Jadi, yang akan dilakukan adalah pembelajaran penulisan yang diawali dengan ide-ide cemerlang, smart, atau cerdas. Tidak ada tempat bagi penulis `nyeleneh` yang hanya menghasilkan tulisan-tulisan murahan. Tulisan-tulisan yang cenderung ke arah pembodohan. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan banyaknya orang bodoh yang terjerembab ke dalam lubang yang sama. Jangan lagi ada orang-orang bodoh yang terjerembab di lubang yang sama. Karena itu, buatlah program pencerdasan bangsa melalui tulisan-tulisan yang cemerlang, smart, dan cerdas agar bangsa ini terselamatkan dari kebodohan.

Imbuhan peN-an pada kata belajar dan tulis mengandung arti `proses`.  Untuk menjadi penulis handal memang membutuhkan proses. Di dunia ini untuk diketahui saja tidak ada segalanya serba instan. Semuanya membutuhkan proses. Tidak ada orang menjadi besar dan tersohor tanpa ada sebuah perjalanan panjang, sebuah proses. Karena dia merupakan sebuah proses, diperlukan kesabaran, ketekunan, keseriusan, dan kekonsistenan. Terasa berat bagi siapa saja yang mau menjalaninya. Tapi, memang harus demikian caranya dan tidak ada cara lain. Penulis-penulis pemula siap-siap saja diuji oleh pembaca yang akan mengomentari tulisannya. Siap-siap saja kalau ada yang mengomentari dengan cara yang memerahkan telinga. Semua penulis yang sekarang ini telah menjadi penulis besar dan tersohor di awal-awal menulis selalu diuji dengan penolakan untuk diterbitkan oleh redaksi-redaksi surat kabar atau majalah. Mereka, para redaksi, ada juga yang memberikan motivasi untuk tetap semangat menulis. Tetapi, ada juga yang langsung berkomentar kalau tulisannya tidak berbobot dan layak dimasukkan ke keranjang sampah. Itulah ujian yang memang harus dilalui. Dalam hidup ini bukankah manusia diuji dengan sesuatu yang tidak mengenakkan? Orang yang punya tekad kuat akan tetap menulis, tetapi orang cepat putus asa akan berhenti untuk menulis lagi. Berarti dia orang yang tidak tahan ujian. Jadilah orang yang tahan ujian meskipun harus berkali-kali jatuh bangun menghadapi berbagai ujian.

Pembaca yang baik, Insya Allah, menjadi penulis yang baik. Banyak membaca akan memberi manfaat bagi siapa saja yang ingin tulisannya dinikmati pembacanya. Penulis yang miskin kosa kata karena kurang baca akan menghasilkan tulisan yang kering. Membiasakan diri untuk membaca juga merupakan pekerjaan kebiasaan yang sulit. Tetapi, memang tidak ada cara lain mau tidak mau harus dipaksa diri ini untuk membaca. Sesuatu yang awalnya berat, Insya Allah, akan menjadi terasa nikmat manakala mau mencobanya. Awali dulu dengan bacaan-bacaan yang ringan, yang mudah dicerna, yang tidak membutuhkan banyak kerja otak. Setiap kata yang dianggap sulit dicatat. Cari padanannya atau definisinya di kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Pusat Bahasa bisa dijadikan rujukan. Nanti, perlahan-lahan sesuai dengan kebutuhan membaca bacaan-bacaan yang sedikit berat. Mulailah membaca sehari 10-20 halaman dan berkelanjutan. Dengan cara demikian, diharapkan sesuatu yang di awalnya berat akan terasa ringan bahkan tidak mustahil ternyata membaca itu merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.


Setelah kebiasaan membaca telah menjadi sebuah kebutuhan, buku-buku yang dibaca setidak-tidaknya akan membentuk pemikiran seseorang. Orang yang kerap membaca buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan karakter diharapkan akan terbentuk karakternya persis seperti yang digambarkan dalam buku tersebut. Begitu juga orang yang sering membaca karya fiksi sastra yang banyak mengajarkan tentang perilaku yang baik akan terbentuk perilaku seperti yang digambarkan di karya fiksi sastra tersebut meskipun ada penolakan dalam dirinya. Pada saat seseorang telah terbentuk kepribadiannya melalui bacaan, dia akan memiliki konsep nilai. Konsep nilai yang dimilikinya boleh jadi bertentangan dengan yang didapati dalam kehidupannya sehari-hari. Di saat-saat seperti itu dia telah menemukan masalah. Sekarang masalah yang didapatkannya akankah didiamkan saja sehingga tersimpan di arsip pikirannya atau diselesaikan dengan cara menuangkannya dalam tulisan?  Kembali pada judul tulisan ini yang dijadikan submenu dari menu bahasa: “Pembelajaran Penulisan”, menulis merupakan sebuah proses. Menulis juga butuh untuk fokus perhatian pada masalah yang ditemukan. Untuk itu, catat dengan teliti hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang ditemukan. Siapkan bahan-bahan yang diperkirakan akan mendukung tulisan yang akan dibuat. Setelah itu, coba cari gagasan atau ide untuk memecahkan masalah itu. Corat-coret yang telah dibuat jangan sampai dibuang karena boleh jadi ada manfaatnya nanti. Karena sebuah proses, tulisan ini Insya Allah bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...