YANG
DIPANDANG SEBELAH MATA
Subagio
S.Waluyo
Ketika mempelajari
masalah pemberdayaan daerah, ada kompetensi dasar yang perlu dipenuhi, yaitu mendiskusikan
pemberdayaan pegawai. Salah satu indikator untuk bisa mendiskusikan
pemberdayaan pegawai adalah mahasiswa dapat mengapresiasikan adanya pelayanan
publik yang baik di daerah yang dijadikan objek penelitian. Indikator yang
perlu dipenuhi dalam mempelajari masalah pemberdayaan pegawai jelas bukan
pekerjaan mudah karena ada target yang harus dicapai mahasiswa, yaitu bagaimana
caranya mengapresiasi aktivitas pelayanan publik di sebuah tempat atau daerah
yang dijadikan objek penelitian. Perlu juga diketahui, yang harus dilakukan
mahasiswa bukan semata mengapresiasi pelayanan publiknya, tetapi mencari
jawaban pertanyaan mengapa sampai bisa terwujud sebuah pelayanan yang baik di
daerah yang dijadikan objek penelitian itu. Jika dikaitkan dengan kompetensi
dasarnya, yaitu masalah pemberdayaan daerah, jelas yang harus ditelusuri sang
mahasiswa adalah tentang pemberdayaan pegawai/birokrat sehingga para
pegawai/birokrat di tempat objek penelitian itu layak diapresiasi.
Sebelum melangkah
lebih jauh, ada hal yang sangat penting yang perlu dilakukan, dosen terlebih
dahulu harus membuat kisi-kisi penugasan. Kisi-kisi tugas yang berkenaan dengan
pemberdayaan daerah tersebut nantinya berisikan butir-butir berikut ini.
1.
Data Geografis dan Demografis
2.
Visi dan Misi daerah yang dijadikan
objek penugasan
3.
Tujuan dan Strateginya
4.
Definisi-Definisinya
5.
Kriteria dan Indikatornya
6.
Fungsi dan Peranannya
7.
Hasil Temuan
8.
Faktor Penyebab Keberhasilan atau
Kegagalannya
9.
Langkah-Langkah Penyelesaiannya
10.
Kesimpulan
11.
Referensi
Dengan adanya kisi-kisi di atas, sang mahasiswa
akan banyak terbantu ketika mengerjakan tugasnya. Meskipun demikian, berkaitan
dengan masalah yang diangkat untuk dapat melaksanakan tuntutan indikator dari
kompetensi dasar itu, yaitu pemberdayaan pegawai sehingga para pegawai dapat
melakukan pelayanan publik dengan baik bagi sang mahasiswa bukan pekerjaan
mudah. Sang mahasiswa dituntut harus memahami dulu kata-kata kunci yang
terdapat di dalamnya. Jadi, kalau sang mahasiswa menulis “Efektivitas
Pemberdayaan Pegawai dalam Mewujudkan Pelayanan Publik yang Berkualitas di
Kantor Pemerintah Kota XYZ”, sudah harus disiapkan terlebih dahulu hal-hal yang
berkaitan dengan judul tersebut. Kata-kata seperti `efektivitas` harus dicari
dari definisinya sampai dengan kriteria dan indikatornya sesuai dengan yang
terdapat dalam kisi-kisi. Berikutnya, frase `pemberdayaan pegawai` juga harus dilakukan
hal yang sama. Singkatnya, untuk semua hal yang berkaitan dengan efektivitas,
pemberdayaan pegawai, maupun pelayanan publik harus mengutip beberapa pakar
administrasi publik untuk diambil pendapatnya. Kalau perlu juga
undang-undangnya karena di undang-undang selain definisi juga ada butir-butir
yang bisa diambil yang berkenaan dengan semua itu.
Bagaimana dengan
Kantor Pemerintah Kota XYZ yang dijadikan tempat penelitian tersebut? Terlebih
dahulu sang mahasiswa harus memasukkan data-data geografis, demografis, sampai
dengan gambaran singkat objek penelitian. Di skripsi, tesis, atau disertasi
biasanya dimasukkan di bab tersendiri pada saat memberikan deskripsi tentang
objek penelitian. Kalau hanya diminta membuat kertas kerja/paper yang akan
didiskusikan, sang mahasiswa cukup membuat bahan presentasi (biasanya dalam
bentuk hand out) yang siap
dipresentasikan. Karena hanya berupa bahan untuk dipresentasikan, cukup
butir-butir penting yang dimasukkan
dalam hand out. Jadi, seperti
definisi dan uraiannya yang dikutip dari beberapa pendapat pakar administrasi
publik atau undang-undang tentang efektivitas, pemberdayaan pegawai, dan
pelayanan publik tidak perlu ditulis lengkap dalam hand out. Bahan selengkapnya, jika dipandang perlu, dimasukkan ke
dalam lembar-lembar tersendiri dalam bentuk lampiran. Dengan demikian, setiap mahasiswa yang
terlibat dalam mendiskusikan masalah pemberdayaan daerah akan membuat dua
bahan, yaitu bahan presentasi dan lampirannya.
Bahan-bahan yang
dipresentasikan para mahasiswa ketika mendiskusikan masalah pemberdayaan daerah
tentu saja belum dianggap final. Dalam diskusi di kelas masukan-masukan baik
dari dosen sebagai fasilitator maupun teman-teman sesama mahasiswa sebagai
peserta diskusi diharapkan dapat menyempurnakan isi bahan presentasi tersebut.
Dosen sebagai fasilitator mempunyai peranan penting untuk membantu sang
mahasiswa agar bahan presentasinya suatu saat bisa dijadikan bahan pengayaan
pembelajaran mata kuliah yang diampunya. Bahkan, tidak mustahil di tangan dosen
yang kreatif bahan-bahan hasil diskusi itu akan dikumpulkan dan suatu saat bisa
saja dijadikan buku teks pembelajaran di perguruan tinggi. Seandainya, ada tiga
puluh mata kuliah di setiap program studi melakukan hal yang sama, akan ada tiga puluh buku teks yang
siap diterbitkan. Kalau di sebuah perguruan tinggi ada sepuluh program studi
akan ada tiga ratus buku teks yang dapat menjawab masalah kelangkaan buku-buku
teks. Bukankah ini merupakan jawaban terhadap miringnya orang yang menganggap
remeh tentang proses belajar-mengajar di perguruan tinggi yang selama ini hanya
mirip-mirip lembaga kursus?
Selain melalui jalur
penugasan pada para mahasiswa bisa juga dilakukan dengan menyeleksi
skripsi-skripsi, tesis-tesis, atau disertasi-disertasi yang bisa dijadikan bahan
pembelajaran. Semua hasil karya mahasiswa calon sarjana pada prinsipnya jangan
disia-siakan karena penelitian yang benar-benar murni justru hasil karya
mereka. Bagaimana tidak murni kalau semua itu benar-benar hasil jerih payah
mereka di bawah bimbingan dosen yang siap membantu mereka setiap saat? Mereka melakukan penelitian atas
biaya sendiri. Kalau memang ada orang atau lembaga yang membantu mereka,
umumnya orang-orang atau lembaga-lembaga tersebut sebatas memberikan bantuan
keuangan. Tidak ada ketentuan yang biasanya diberlakukan ketika orang-orang
`pintar` di luar mereka di perguruan tinggi mengerjakan proyek-proyek
penelitian yang biayai oleh lembaga donor.
Skripsi, tesis, atau
disertasi yang diterbitkan menjadi buku bukan barang baru. Sejak tahun `60-an
sudah ada hasil karya insan akademis yang diterbitkan jadi buku. Memang, untuk
mengubah hasil karya akademis menjadi buku bukan pekerjaan yang mudah. Biar
bagaimanapun ada kriteria yang diberlakukan jika hasil karya mahasiswa calon
sarjana yang mau diterbitkan menjadi buku.
Buku-buku tersebut ternyata sangat membantu pembelajaran di perguruan
tinggi. Berikut ini ada beberapa contoh skripsi, tesis, atau disertasi yang
diterbitkan berikut sedikit uraian penggunaannya.
Buku ini semula
merupakan skripsi yang ditulis oleh Bambang Trimansyah ketika kuliah di
Fakultas Sastra Unpad. Skripsi yang ditulisnya dibukukan dan lolos dalam
penilaian Program Pustaka I kerjasama Adikaya Ikapi dan Ford Foundation. Buku
yang bisa digolongkan sebagai studi karya sastra ini berisikan tentang analisis
struktural karya sastra anak (novel) Indonesia. Penulisnya mengubah total outline skripsinya meskipun kontennya
tidak berubah. Untuk mengubah skripsi menjadi buku diperlukan konversi di
sana-sini. Menurut pengakuan si penulis untuk mengkonversi dari skripsi menjadi
buku tidak memerlukan waktu yang lama. Hal itu menurutnya tergantung pada niat
seseorang. Dengan demikian, seseorang yang baru saja selesai menyelesaikan
studinya, jika berniat mau menerbitkan bukunya dari skripsi yang ditulisnya mau
tidak mau harus sedikit menguras tenaga dan waktu untuk melakukan konversi
karena pekerjaan tersebut tidak mungkin dilakukan oleh pihak penerbit. (https://manistebu.
com /2013/03/mengubah-skripsi-tesis-disertasi-menjadi-buku/)
Buku
Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru
semula merupakan tesis yang ditulis Abdul Azis Thaba ketika menempuh pendidikan
S2 di Fisipol UGM. Buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press ini berisikan tentang
hubungan Islam dan negara di masa Orde Baru yang dibaginya dalam tiga priode,
yaitu periode antagonistic (1967-1982), resiprokal kritis (1982-1985), dan
akomodatif (1985-1994). Tidak seperti buku yang ditulis oleh Bambang Trimansyah
ada sedikit uraian penjelasan konversi dari skripsi ke buku, dalam buku yang merupakan
hasil konversi dari tesis ke buku ini memang sangat minim informasi yang
diperoleh. Meskipun demikian, sebagai sebuah contoh bahwa tesis juga bisa
diterbitkan menjadi buku sudah dianggap mewakili. Selain itu, yang patut
diberikan nilai tambah, buku ini ternyata banyak dirujuk oleh para calon
sarjana baik yang menulis skripsi, tesis, maupun disertasi yang konsens
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan politik Islam. Salah satu di antaranya
adalah Dedek Sulaiman dari Jurusan Pemikiran Politik Islam, Fakultas Ushuluddin
dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah. (http://
repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/8230/1/DEDEK%20SULAIMAN-FUF.pdf)
Buku Demokrasi di Tangan Netizen Tantangan &
Prospek Demokrasi Digital semula juga merupakan disertasi yang ditulis
Fayakhun Andriadi dari FISIP UI. Buku
ini juga merupakan hasil konversi penulisnya dari disertasi yang berjudul "Demokrasi
Era Digital: Studi Kasus Penggunaan Media Sosial dalam Partisipasi Politik Oleh
Pendukung Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilihan Gubernur
DKI Jakarta Periode 2012-2017". (https://id.wikipedia.org/
wiki/Fayakhun_Andriadi). Sama halnya dengan tesis yang dikonversikan Abdul Azis
Thaba dari tesis ke buku, tidak ada informasi yang jelas. Sebagai contoh saja
bahwa ada disertasi yang bisa diterbitkan menjadi buku tampaknya hal itu sudah
cukup.
Sebagai pelengkap saja bahwa
dosen yang cenderung inovatif dan kreatif bisa menjadikan bahan-bahan
pembelajaran selama perkuliahan menjadi buku teks di perguruan tinggi yang siap
digunakan. Bahkan, buku-buku tersebut tidak sedikit yang dijadikan referensi
oleh penulis-penulis lainnya. Salah satu buku yang juga merupakan hasil kerja
kreatif sang dosen selama pembelajaran adalah Ismail Marahimin dosen FSUI.
Selama hidupnya sebagai dosen di FSUI, Ismail Marahimin yang dikenal sebagai
sastrawan mengumpulkan hasil karya anak-anak didiknya. Meskipun hasil karya
para mahasiswanya hanya dijadikan sebagai contoh, ternyata setelah menjadi buku
layak untuk dijadikan buku teks dan rujukan oleh beberapa penulis dan dosen
yang mengajarkan penulisan kreatif. Buku hasil karyanya juga bisa dijadikan
rujukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Sebagai
tambahan, Ismail Marahimin dikenal sebagai sastrawan pemenang Sayembara
Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1977. Buku roman tersebut diterbitkan
Pustaka Jaya tahun 1979 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan
judul And the War is Over oleh John H. Mc Glynn yang kemudian
diterbitkan oleh Lousiana State University Press tahun 1986.
Dari uraian di atas
perlu ditekankan bahwa selama pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh dosen
dan para mahasiswanya merupakan sebuah peluang emas untuk melakukan kerja
penelitian. Kerja-kerja penelitian selama proses belajar-mengajar di ruang
kuliah itu terjadi tidak bisa dianggap remeh karena justru dari situlah bisa
digali kemampuan dosen dan para mahasiswanya dalam berpikir ilmiah. Dari
hasil-hasil proses berpikir ilmiah akan diperoleh hasil-hasil penelitian yang
tidak sedikit. Semua produk dari proses belajar-mengajar itu jika ditekuni oleh
dosen-dosen yang kreatif dan inovatif akan menghasilkan sekian banyak buku
teks. Buku-buku teks yang dihasilkan dari produk pembelajaran selama di
ruang-ruang kuliah tentu saja akan bermanfaat bukan saja bagi sang dosen dan
para mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat luas baik yang mereka berkecimpung
di dunia akademis maupun di luar dunia akademis. Semoga saja di masa depan akan
bermunculan dosen-dosen kreatif dan inovatif yang siap menghadapi tantangan
zaman. Wallahu`alam bissawab.








