Sabtu, 30 November 2019

All You Need Is Love (53)



DIDIKTE

Subagio S. Waluyo


”Ya, apa saja bisa diproyekkan. Tidak hanya pembangunan
jembatan atau infrastruktur lain, tapi juga pengadaan
kotak pemilu, pembagian sembako untuk orang miskin,
pengadaan bacaan untuk anak sekolah, program transmigrasi,
program penanggulangan bencana alam.
Bahkan Sidang Umum MPR dan penyusunan undang-undang
bisa mereka jadikan proyek yang mendatangkan duit.
Orang-orang proyek rakus dan licin,
 dan mereka ada di mana-mana.”

(Orang-Orang Proyek/Ahmad Tohari)

Selasa, 26 November 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (52)

MEMBUNUH HARIMAU 

DALAM DIRI SENDIRI

Subagio S. Waluyo


Setiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga
kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang memencilkan diri,
dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang
menimpa diri orang lain ... besar kecil kezaliman, atau ada
dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya
terjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia
harus mencintai manusia, dan untuk menjadi manusia
haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam
dirinya. Dia kini mengerti benar apa yang dimaksud oleh Pak
Haji dengan kata-katanya - bunuhlah dahulu harimau dalam
dirimu ....
(Harimau! Harimau!/Mochtar Lubis)

Jumat, 22 November 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (51)

BERAGAM WAJAH

Subagio S. Waluyo




PANGGUNG SANDIWARA

                              Taufik Ismail

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura

Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?

Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang

Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?

Selasa, 19 November 2019

All You Need Is Love (52)

PANGGUNG ORANG-ORANG YANG TERALIENASI

Subagio S. Waluyo




Orang mengenal Sutardji Calzoum Bachri (SCB) sebagai penulis puisi mantra. Konon kabarnya SCB memang pada tahun 1973 pernah menulis manifesto dalam “Kredo Puisi” yang diterbitkan di majalah satra Horison (Desember 1974) bahwa penciptaan puisi pada dasarnya pembebasan kata-kata yang berarti mengembalikan kata pada mulanya, yaitu mantra (https: //id.wikipedia.org/wiki/Sutardji_Calzoum_Bachri). Jadi, dengan manifesto itu,  tidak aneh kalau puisi SCB cenderung ke arah mantra. Puisi-puisi mantranya yang terkumpul dalam tiga kumpulan puisi: O, Amuk, Kapak ditulis sejak tahun 1966 sampai dengan 1979. Pada tahun 1981 ketiga buku kumpulan puisi itu digabung menjadi satu dengan judul O, Amuk, Kapak. Kumpulan puisi tersebut diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan (https://contohpantunpuisicerpen.blogspot.com/2015/11/10-contoh-puisi-sutardji-colzoum-bachri.html). Berikut ini bisa dilihat salah satu contoh puisi mantra yang ditulis SCB.

Rabu, 13 November 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (50)


HARGA ASASI KEMANUSIAAN

Subagio S. Waluyo



“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(Surat Al-Fajr: 27-30)

Senin, 04 November 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (49)



KITA ORANG SUSAH



Subagio S. Waluyo




DI BAWAH SELIMUT KEDAMAIAN PALSU
            
                 Wiji Thukul

apa gunanya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong
di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu

Selasa, 29 Oktober 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (48)


BERPUPUR DARAH

Subagio S. Waluyo



Bulan kabangan ditandai dengan mega menutupi bulan tatkala bulan bersinar penuh pada purnama tanggal lima belas. Orang percaya pada ketika itu bencana akan datang dikarenakan raja penguasa para rakyat jelata meminta persembahan darah untuk membasuh segala dendam dan peneguhan atas kekuasaannya.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...