LELAH DAN LENGAH
Subagio S.Waluyo
Kata `lelah` sudah melekat dalam hidup kita sejak kita lahir. Lelah dalam hal ini jelas tertuju pada fisik. Suatu hal yang wajar kalau fisik kita suatu saat mengalami kelelahan. Semakin tua, semakin cepat fisik ini merasa lelah. Hal ini jelas merupakan sunnatullah yang tidak bisa kita hindari. Kalau kita sudah mengalami kelelahan (fisiknya), tidak ada cara lain memang sudah saatnya kita harus beristirahat. Fisik yang lelah solusinya jelas harus mengistirahatkan fisik. Tapi, dalam hidup kita sehari-hari mungkinkah hanya fisik yang lelah? Ternyata, hati ini juga mengalami kelelahan. Kalau hati yang lelah apakah sama dengan fisik solusinya? Apakah hati ini perlu diistirahatkan? Ternyata, bisa berbeda jawabannya. Justru, hati ini tidak boleh kosong atau menganggur. Hati ini harus disibukkan dengan dzikir pada Allah SWT. Insya Allah dengan hati yang banyak berdzikir kita tidak mengalami kelelahan hati.
Kata `lelah` juga bisa melekat dalam konteks yang lebih luas bukan hanya fisik dan hati (keduanya lebih tertuju pada konteks kata benda), tetapi juga pada konteks kata kerja, misalnya mendidik. Jadi, ada bahkan, sangat mungkin, orang lelah mendidik baik diri sendiri maupun orang lain. Mendidik orang lain boleh jadi anak sendiri, istri/suami, murid/siswa, atau masyarakat sekitarnya. Adalah hal yang wajar jika banyak orang yang lelah mendidik orang lain karena setiap manusia memiliki hati. Hati manusia terkadang bisa membaik, terkadang bisa memburuk. Hati manusia itu sering berbolak-balik. Hati manusia memang sudah dari `sononya` diciptakan Allah SWT tidak pernah stabil. Pada saat hati itu membaik, semua yang dikerjakannya akan baik. Sebaliknya, kalau hati ini `runyam` (kurang/tidak baik) semua yang dikerjakannya tidak ada yang positif alias minus. Kelelahan mendidik orang lain sangat bergantung pada kelelahan hati. Jangan coba-coba mendidik orang lain bermodalkan pada kelelahan hati.
Kata `lengah` juga sangat melekat pada setiap insan yang diciptakan Allah dengan berbagai kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Orang bisa lengah ketika diberikan amanah untuk menjaga barang baik miliknya maupun orang lain. Karena lengah, dia menjadi korban orang-orang yang memang pekerjaannya `lengbet` alias `meleng/lengah sabet` (begitu orang lengah, pasti barang milik orang itu hilang) alias maling (termasuk koruptor). Kalau barang/harta baik milik sendiri maupun orang lain karena lengah hilang, bisa tergantikan. Kalau milik sendiri, suatu saat ketika Allah SWT memberikan rezki padanya Insya Allah bisa dimiliki lagi. Kalau milik orang lain atau instansi tempat dia bekerja atau milik pemerintah bisa tergantikan dengan harus menguras kocek miliknya walaupun perlu waktu untuk itu. Bisa juga tergantikan lewat pengadilan yang ujung-ujungnya masuk penjara.
Bagaimana kalau ada orang lengah dalam mendidik diri sendiri dan orang lain? Untuk kasus ini sudah beda babnya. Orang yang lengah mendidik diri sendiri korbannya diri sendiri. Misalnya, ada orang yang selama ini menyia-nyiakan waktu untuk menuntut ilmu, orang ini sudah bisa dipastikan ketika dewasa nanti dia akan terbelakang baik intelektual maupun kompetensinya. Orang ini akan hidup tanpa ilmu atau kalau memang ada itupun sedikit sekali. Mengarungi hidup ini `kan butuh ilmu. Tanpa ilmu orang akan meraba-raba menjalani kehidupannya alias buta (walaupun matanya sebenarnya melek atau melihat). Jadi, lengah mendidik diri sendiri bisa menimbulkan bahaya tersendiri bagi dirinya. Bagaimana jika ada bahkan banyak orang yang lengah mendidik orang lain? Ini lebih berbahaya lagi. Korbannya bukan hanya dirinya tetapi juga orang lain, masyarakat, bahkan pemerintah pun turut menjadi korban.
Kasus-kasus konflik horisontal, misalnya, lebih dipicu oleh kelengahan orang untuk mendidik orang lain. Di sini, orang tua, guru, tokoh masyarakat, atau semua orang yang mendapat predikat `pendidik` telah lengah untuk menanamkan pada orang lain tentang pentingnya kebersamaan. Orang tua mungkin karena direpotkan oleh urusan dunia lengah untuk mendidik anaknya tentang kebersamaan. Guru-guru karena sudah luntur rasa pengabdiannya sebagai guru juga melakukan hal yang sama. Guru-guru di negara ini lebih cenderung memikirkan tentang cara memperoleh benda-benda yang tergolong tersier atau `wah` ketimbang cara mendidik anak agar berkualitas atau punya kepeduliaan pada sesama (silakan baca di `Guru Ada, Guru Tiada`). Kalau ada anak didik yang melakukan perilaku menyimpang (kekerasan pada sesama teman sekelas misalnya), ini lebih disebabkan oleh kesibukan guru yang memikirkan diri sendiri dari-pada memikirkan orang lain. Tokoh masyarakat karena bermodalkan ketokohannya ditambah lagi dengan gaya hidup yang sudah doyong ke arah kematre-matrean alias materialistis, tidak terpikirkan cara memperbaiki kondisi masyarakatnya. Dia hanya memikirkan `bagaimana cara menikmati hidup yang bergelimang dengan benda-benda `wah` atau tersier yang bisa menaikkan gengsi dirinya?`. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya diayomi menjadi liar, menjadi arogan, menjadi masyarakat yang tidak terkendali perilakunya. Seperti rumput yang didiamkan berhari-hari, berbulan-bulan, dan sampai bertahun-tahun, semakin hari semakin tinggi rumputnya. Bahkan, bukan hanya rumput yang semakin bertambah tinggi tetapi juga terus merambah sehingga tumbuh tanaman-tanaman liar lainnya yang kemudian menjadi semak belukar yang membahayakan.
Mendidik diri sendiri dan orang lain harus menghindari kata `lelah` dan `lengah`. Keduanya (lelah dan lengah) kalau sampai terjadi membahayakan diri sendiri dan orang lain. Bagaimana cara menghindari lelah dan lengah dalam mendidik diri sendiri dan orang lain? Untuk diri sendiri selain melakukan aktivitas rutin evaluasi diri juga sangat diperlukan kedekatan diri ini dengan Sang Khalik (Tuhan yang menciptakan makhluk-Nya dan seluruh isi alam semesta) yang memang selain Pencipta juga memiliki sifat-sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selain itu, diperlukan keyakinan bahwa apapun yang terjadi pada diri ini lebih disebabkan adanya faktor takdir karena Tuhan juga telah menentukan takdir seseorang ketika masih di dalam rahim ibunya. Di luar kerapkali melakukan evaluasi diri juga dibutuhkan mitra untuk bisa mengoreksi diri ini agar tidak tumbuh perasaan `merasa benar sendiri` atau perasaan-perasaan yang timbul karena penyakit hati. Dibutuhkan mitra karena diri ini ibarat orang yang sedang mengendarai kendaraan sangat membutuhkan kaca spion (lihat tulisan tentang `blind spot`). Jadi, sibukkan diri ini dengan evaluasi diri dan meminta masukan dan kritikan dari orang lain sebagai mitranya. Insya Allah, kalau cara ini secara rutin dilakukan, tidak ada dalam diri ini rasa lelah dan lengah. Bahkan, sangat-sangat mungkin aktivitas ini berpengaruh dalam mendidik orang lain. Mendidik orang lain dibutuhkan bukan hanya skill tetapi juga harus dimulai dengan pemberian contoh konkrit dari diri ini bahwa diri yang stabil ini layak untuk dijadikan contoh teladan. Bukankah hal ini telah dilakukan oleh Rasululllah SAW yang telah menjadi teladan bagi seluruh umat manusia?
Untuk orang lain, kalau diri ini sudah layak menjadi contoh yang baik sebenarnya sudah mudah. Lewat tutur kata, tingkah laku, dan kerja-kerja positif yang secara konsisten tetap dilakukan, orang lain dengan mudah akan mentaatinya. Tapi, tidak cukup sampai di situ karena ternyata masih banyak yang dituntut dari diri ini. Salah satu di antaranya harus sering mengingatkan orang lain untuk berperilaku baik dan melakukan kerja-kerja positif. Justru, pekerjaan yang berhubungan dengan mengingatkan orang lain terkadang sering ada gangguan baik gangguan dari dalam diri maupun di luar diri ini. Di sini dibutuhkan sangat evaluasi diri dan mitra hidup (bisa suami/istri, bisa anak/anggota keluarga yang lain, bisa juga teman yang memang dinilai dekat dan baik perilakunya). Mendidik orang lain dibutuhkan sangat keuletan, kesabaran, dan tentu saja kekonsistenan. Selain itu, sangat dibutuhkan juga pengorbanan. Pengorbanan bisa dalam wujud waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja dana. Untuk yang terakhir ini (dana) memang tidak mutlak, tetapi sedikit banyak pada akhirnya keberhasilan suatu aktivitas juga boleh jadi ditentukan adanya dana walaupun sedikit atau pas-pasan. Orang yang tergolong memiliki intelektual memadai adalah orang yang bisa mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lain ada benang merah, ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Kalau ada kasus kekerasan di kalangan anak-anak muda, sangat boleh jadi ada yang tidak terselesaikan dalam mendidik mereka. Perilaku anak-anak muda yang cenderung meresahkan orang lain karena tindak kekerasan yang mereka lakukan, lebih disebabkan oleh adanya kekosongan. Kekosongan itu berkaitan dengan kelelahan dan kelengahan dalam mendidik mereka. Siapapun dia, apakah dia orang tua, guru, tokoh masyarakat, pimpinan di negeri ini, atau aparat pemerintah sekalipun punya kewajiban untuk mendidik sesama umat manusia. Kata kunci keberhasilan mendidik sesama umat manusia hanya terletak pada tidak boleh ada kata `lelah` dan `lengah`. Wallahu`alam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar