Jumat, 11 April 2014

Artikel Agama (23)


KARAKTERISTIK KEHIDUPAN SAHABAT RASUL SEBAGAI SARANA DAKWAH, JIHAD, TARBIYAH,DAN TAZQIYATUN NAFS




Gambar Kartun Sahabat Rasulullah saw
Merekalah yang telah mendapat petunjuk Allah, dan merekalah yang memiliki akal (Az-Zumar : 18).
Di antara orang-orang mu`min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya (Al-Ahzab : 23).
 Hai jiwa yang tenang.  Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku 
(Al-Fajr : 27-30)
***
            Tiga ayat yang dijadikan pembuka tulisan ini salah satu di antaranya ditujukan kepada para sahabat Rasulullah saw. Mengapa bisa demikian? Secara pasti kita bisa mengatakan bahwa mereka telah membuktikan dalam sejarah panjang umat ini sebagai mujahid-mujahid dakwah yang syahid di jalan Allah.  Bagaimana mereka bisa menjadi syahid?  Mereka bisa seperti itu karena mereka generasi awal yang langsung ditarbiyah oleh Rasulullah saw. Kalau memang demikian sudah selayaknya kita banyak belajar dari mereka tentang aktivitas yang mereka lakukan.  Artinya, kita mengadopsi bulat-bulat hasil sebuah tarbiyah Rasulullah yang ditampilkan melalui karakteristik para sahabat tersebut.
Karakteristik para sahabat Rasulullah perlu kita tiru (bahkan kalau perlu bisa dijadikan panutan) karena mereka telah menampilkan diri sebagai sosok pribadi muslim dan mukmin yang sebenarnya.  Sosok yang bisa memberikan kesegaran di tengah-tengah kekeringan ruhiyah kita. Tampaknya, kisah-kisah kehidupan mereka merupakan obat penawar yang justru tanpa kita sadari telah banyak mentarbiyah diri kita.  Kisah-kisah mereka telah menjadikan kita hamba-hamba Allah yang ingin banyak belajar dari mereka tentang kedermawanannya, kerendahanhatinya, ketekunannya dalam ibadah, dan kekesatriaannya di medan juang.  Secara singkat, kita rindu akan suasana kehidupan di tengah-tengah para sahabat di saat-saat kita memasuki suasana kehidupan yang sudah serba materi seperti sekarang ini.
***
Seperti telah kita ketahui bersama ada sepuluh sahabat Nabi saw yang dijamin masuk surga.  Kesepuluh sahabat tersebut antara lain:
  1.     Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assidiq);
  2.    Umar Ibnul Khattab (Al Faruq);
  3.    Utsman Ibnu Affan Dzunnurain;
  4.    Ali bin Abi Thalib;
  5.    Thalhah bin Ubaidillah;
  6.    Azzubair Ibnul Awwam;
  7.    Abdurrahman bin Auf;
  8.    Sa`ad bin Abi Waqqash;
  9.    Said bin Zaid; dan
  10.    Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.
Mereka tergolong sebagai ahlu jannah karena masing-masing memiliki rahasia kebesaran.  Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini Abu Bakar Assiddiq yang memiliki ketinggian akhlak dan kesempurnaan iman.  Khusus masalah iman Abu Bakar ini, Rasulullah bersabda:
Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat akan lebih berat keimanan Abu Bakar (HR Al Baihaqi).
Selain Abu Bakar, kita  mengenal Umar Ibnul Khattab yang diberi gelar oleh Nabi sebagai AL Faruq yang artinya pembeda antara haq dan bathil.  Gelar tersebut memang terbukti di saat Umar Ibnul Khattab memegang tampuk pemerintahan sebagai khalifah kedua.  Beliau yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah dan merantau sampai ke pelosok-pelosok negeri untuk menuntut ilmu ternyata beliau dapat memberi contoh kepada kaumnya dalam mengurus pemerintahan dan kekuasaan yang penuh dengan keadilan, kebijaksanaan, keutamaan, dan berlandaskan fiqih (hukum) Islam.  Masih banyak lagi sahabat Rasulullah saw yang memiliki banyak kelebihan yang apabila kita uraikan satu per satu dalam kesempatan ini kita hanya bisa mengatakan “Subhanaallah”  karena kita benar-benar menemukan banyaknya keindahan dari hasil tarbiyah Rasulullah saw.   
            ***
            Kalau kita teliti secara mendalam, di samping kita menemukan pada setiap diri mereka adanya keistimewaan, secara global ada beberapa aktivitas yang tampaknya merata pada semua sahabat (termasuk di luar sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga), yaitu mereka melakukan dakwah, jihad, tarbiyah, dan tazqiyatun nafs.  Keempat aktivitas tersebut tidak pernah lepas dari kehidupan mereka sehari-hari.  Bahkan, kalau bisa dikatakan, semua itu sudah mendarah daging dalam dirinya.  Inilah yang merupakan sarana kejayaan Islam di masa lalu yang seharusnya kita pun bisa melaksanakannya.
Di masa Khalifah Utsman Ibnu Affan perluasan wilayah dakwah Islamiah mengalami jaman keemasan karena pada tahun ke-24 hijriah perluasan dakwah sudah meliputi wilayah Azerbaijan dan Armenia.  Tahun berikutnya memasuki Iskandariah.  Sampai dengan tahun ke-32 hijriah dakwah telah meliputi wilayah Afrika, Andalusia, Pulau Siprus, Kerajaan Parsi, Tibristan, Konstantinopel, Marwarrauz, Thaliqon, Fariab, Jauzjan, dan Thakharstan.  Para ahli sejarah sepakat di masa Khalifah Utsman Ibnu Affan-lah dakwah benar-benar meluas sehingga layak jika masa itu sebagai jaman kemenangan kaum muslimin karena di masa itulah kekuatan-kekuatan besar di masa lalu (Romawi, Parsi, dan Turki) benar-benar tunduk.  Meskipun pada akhirnya terjadi penggantian kekhalifahan, perluasan dakwah tidak pernah berhenti.
Perluasan dakwah tidak mungkin bisa berhasil jika tidak dibarengi dengan aktivitas-aktivitas lainnya.  Artinya, pada saat seseorang melakukan dakwah ia juga harus melakukan jihad, tarbiyah,dan tazqiyatun nafs. Jihad diperlukan dalam berdakwah karena tanpa jihad kegiatan dakwah hanya mengarah pada refreshing bagi orang-orang yang memang memerlukannya di saat-saat mereka mengalami kejenuhan.  Bagi orang yang berdakwah tanpa jihad, kegiatan dakwah lebih cenderung sebagai pemenuhan kebutuhan hidupnya atau hanya sebagai pencari pahala.  Akibatnya, umat tidak memiliki izzah atau keberanian.  Dengan kata lain, umat yang terbentuk adalah umat inferior atau rendah diri.
Dakwah juga memerlukan tarbiyah.  Dakwah dan tarbiyah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.  Dakwah tanpa tarbiyah akan menghasilkan umat yang tidak memiliki fikroh, tidak memahami konsepsi ibadah yang sebenarnya, dan tentu saja tidak memiliki akhlaq karimah.  Dakwah tanpa tarbiyah hanya akan menghasilkan bentuk dakwah sebagai sekumpulan orang-orang sufi yang tidak pernah memikirkan sesama umat.  Dakwah tanpa tarbiyah hanya menghasilkan umat yang jumud, yang demikian mudah untuk diombang-ambingkan umat-umat lain.  Dakwah tanpa tarbiyah tidak akan bisa tercapai tujuan dakwah yang sebenarnya, yaitu menegakkan kekhalifahan di muka bumi.  Dengan kata lain, kita tidak akan mungkin bisa mewujudkan kembali masa-masa kejayaan kita di masa lalu di saat kita waktu itu dipimpin oleh seorang khalifah.  Jadi, dakwah dan tarbiyah adalah suatu keharusan.
Dakwah juga harus disertai dengan tazqiyatun nafs.  Dakwah tanpa tazqiyatun nafs akan menghasilkan umat yang kering sehingga muncullah di tengah-tengah kita umat yang beringas atau arogan karena kering ruhi-nya.  Dakwah dengan tazqiyantun nafs akan memproduk umat yang selalu basah bibirnya dengan zikir.  Umat yang hatinya selalu bergetar jika dibacakan ayat-ayat Allah.  Umat yang selalu bersyukur jika mendapatkan kenikmatan atau sebaliknya ber-istighfar manakala mendapat musibah.  Di samping itu, ini yang cukup urgen,  dakwah dan tazqiyatun nafs akan menciptakan umat yang kerap kali mengambil suatu ibrohdari setiap peristiwa yang dialaminya.
Memadukan dakwah dengan jihad, tarbiyah, dan tazqiayatun nafs adalah suatu keharusan.  Ia menjadi suatu keharusan karena generasi Nabi saw telah membuktikannya.  Mereka telah berhasil memperluas wilayah dakwah, tetapi mereka justru menunjukkan diri sebagai orang-orang yang tawadhu`.  Mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh Allah, tetapi justru di malam hari mereka memperbanyak taqarrub ilaallah.  Mereka sibuk berjihad, tetapi mereka juga mentarbiyah umat.  Setelah negeri-negeri yang mereka kuasai takluk di bawah kekuasaannya, mereka dirikan pusat-pusat keilmuan. Mereka telah membuka mata dan telinga umat-umat lain dengan gaya arsitektur tinggi yang terpancar dari istana-istana dan gedung-gedung yang mereka bangun. Ulama-ulama mereka telah menghasilkan jutaan buku yang kini tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa. Mereka telah berhasil mengubah kebiasaan buruk bangsa-bangsa tidak beradab pada waktu itu.
Pada saat mereka kalah dalam peperangan dan terpaksa meninggalkan wilayah yang dulu dikuasainya, apakah mereka melakukan pengrusakan?  Ternyata, hal itu tidak dilakukan.  Umat seperti apa mereka itu kalau bukan merupakan hasil dari perpaduan antara dakwah, jihad, tarbiyah, dan tazqiyatun nafs?  Sejarah ternyata membuktikan bahwa umat seperti itu adalah benar-benar umat pilihan yang patut diteladani oleh kita semua.
***
            Kita ingin menciptakan jutaan umat seperti Abu Bakar yang demikian tinggi budi pekertinya dan kuat imannya.  Kita ingin menciptakan jutaan umat seperti Umar Ibnul Khattab yang memiliki tempramen keras namun pandai, adil, dan bijak dalam mengurus pemerintahan. Kita ingin menciptakan jutaan umat seperti Utsman Ibnu Affan yang pemalu, tetapi piawai dalam melakukan perluasan dakwah. Kita ingin menciptakan umat seperti Ali bin Abi Thalib yang berani menghadapi musuh-musuhnya dan tidak pernah terkalahkan.  Kita, sekali lagi, ingin menciptakan berjuta-juta umat yang banyak memiliki keistimewaan di kalangan para sahabat agar tujuan dakwah kita tercapai.  Namun, semua itu tidak akan mungkin tercapai tanpa kita mengkaji ulang kehidupan para sahabat yang memang sudah banyak tersedia di hadapan kita.  Kalau kita kerap mengkaji Al-Qur`an, Hadist, Fiqih, dan Fiqih Shiroh, mengapa kita tidak mengkaji kehidupan para sahabat?  Wallahu`alam bisawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...