Membangun
Kreativitas,
Membangun
Kepemimpinan,
Membangun
Bangsa (1)
Subagio
S. Waluyo
Membangun
Kreativitas
Masa depan adalah hasil kreativitas.
Masa depan sesuatu yang tidak kita ketahui karena semuanya masih tanda tanya.
Boleh juga dikatakan masih samar-samar. Masa depan dikatakan samar-samar karena
manusia itu serba terbatas kemampuannya. Keterbatasan itu tidak boleh
menjadikan kita menjadi manusia yang pasrah terhadap nasib atau fatalis. Kita
harus kerja keras untuk menerobos yang masih samar-samar. Kerja keras di sini
mencakup kerja fisik, kerja otak, dan kerja ruh/rohani/jiwa. Karena kita
berupaya menyeimbangkan ketiga faktor itu (kerja fisik, otak, dan rohani),
muncullah sebuah kreativitas.
Hasil perpaduan ketiga faktor di atas
akan menghasilkan kreativitas yang memiliki nilai tambah. Jika demikian, apakah
ada kreativitas yang tidak memiliki nilai tambah (nilai kurang)? Ada, yaitu
kreativitas yang hanya bermodalkan fisik dan otak. Kerja yang hanya bermodalkan
dua faktor tersebut menghasilkan sebuah kreativitas yang tidak ada unsur/kurang
unsur positifnya. Ini yang disebut sebagai kreativitas yang memiliki nilai
kurang (boleh juga negatif). Katakanlah ada sebuah seni kreatif yang kata
sebagian orang ahli seni memiliki nilai luar biasa. Tetapi, ada kevulgaran yang
memberi efek negatif dari sisi etika/moral, jelas kreativitas seperti ini
termasuk kreaativas yang nilainya minus. Meskipun Di bidang sains dan teknologi
(sainstek), dengan ditemukannya nuklir bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan
sesama manusia, yaitu bisa digunakan di dunia kesehatan, industri tekstil, atau
pertanian/perkebunan, karena sainstek itu netral, bisa saja
digunakan untuk membuat alat pembunuh massal sesama manusia, seperti yang
terjadi di Hiroshima dan Nagasaki ketika kedua kota di Jepang itu dibombardir
Amerika di Perang Dunia II.
Sebagai makhluk sosial, manusia pasti
menginginkan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, kenyamanan, dan keamanan.
Untuk mencapai itu semua dibutuhkan kerja-kerja kreatif. Kerja-kerja kreatif
yang kita lakoni jelas kerja kreatif yang mengarah ke nilai-nilai positif. Masa
depan yang masih samar-samar bagi kita tidak boleh sama sekali menyurutkan niat
kita untuk melakukan kerja-kerja kreatif yang memberikan nilai tambah. Untuk
bisa melakukan kerja-kerja kreatif kita harus memiliki tiga modal utama, yaitu
kemauan, kemampuan, dan keterampilan.
Kita tahu bahwa kondisi kekinian
negara kita boleh dikatakan acakadul. Apakah dengan kondisi acakadul kita
berdiam diri sehingga kita cenderung berat kepala dan berat kaki? Kalau ada
orang benar-benar berat kepala dan berat kaki berarti orang tersebut tidak
punya kemauan. Orang yang tidak punya kemauan jelas tidak akan bisa melakukan
kerja-kerja kreatif. Jadi, kemauan lebih merupakan landasan utama untuk bisa
berkreativitas. Kemauan yang boleh dikatakan menggebu-gebu tanpa disertai
kemampuan yang ada juga akhirnya hanya `seperti katak hendak menjadi lembu`.
Artinya, orang kecil yang bercita-cita terlalu tinggi, akhirnya binasa oleh
karena cita-citanya itu. Kemauan sudah ada. Kemampuan juga tidak
kurang-kurangnya. Tetapi, tidak punya keterampilan, orang seperti ini ada
kemungkinan ketika dia bekerja akan cenderung lamban. Selain itu, karena lamban,
dia akan tertinggal jauh dari orang lain. Dengan demikian, hasil kerjanya pun
terbilang tidak/kurang memadai sehingga tidak mustahil sering tidak mencapai
target. Seandainya berkarya, hasil karyanya
sudah jadul (kadaluwarsa).
Kreativitas harus dibangun dari tiga
faktor di atas. Untuk punya kemauan, orang harus banyak diberi motivasi. Motivasi
menurut Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen
Sumber Daya Manusia (2003:359) bisa diberikan dalam bentuk motivasi
intrinsik (pendorong kerja yang bersumber dari dalam diri pekerja sebagai
individu) dan motivasi ekstrinsik (pendorong kerja yang bersumber dari luar
diri pekerja sebagai individu). Dalam prakteknya motivasi ekstrinsik lebih
banyak digunakan daripada motivasi intrinsik. Hal itu lebih disebabkan oleh
tidak mudahnya menumbuhkan kesadaran dari dalam diri seseorang. Untuk bisa
kerja kreatif seseorang harus lebih mengutamakan motivasi intrinsik daripada
motivasi ekstrinsik. Kalau lebih mengutamakan motivasi ekstrinsik, orang
tersebut akan selalu meminta kompensasi untuk melakukan aktivitas. Karya-karya
besar hasil kerja kreatif manusia selama ini lebih disebabkan oleh adanya
kemauan sendiri dari orang menciptakan karyanya. Karya-karya yang diciptakan
atas dasar adanya kompensasi biasanya tidak terlepas dari adanya iming-iming
atau boleh juga pesanan. Karya-karya pesanan tidak memiliki nilai lebih karena
karya tersebut telah dicampuri oleh keinginan orang yang memberi pekerjaan. Bayangkanlah
kalau negara dibangun oleh pemimpin yang lebih mengutamakan motivasi ekstrinsik
akan seperti apa pemimpin tersebut dalam menjalankan pemerintahannya? Dia akan memiliki mental `jaim` alias
`jaga imej` (pencitraan). Kemana saja dia melakukan aktivitas, dia selalu minta
dipublikasikan media massa, baik media cetak maupun online. Media-media massa
yang sudah `doyong` ke fulus memang tidak lagi punya idelogi. Ideologinya `kan
memang ideologi `wani piro`. Sementara itu, sang pemimpin tidak mustahil dia
juga punya mental yang rendah, yaitu mental peminta-minta (pengemis). Untuk
memenuhi APBN, karena dari pajak dan beacukai sudah tidak memenuhi target,
akhirnya harus meminta bantuan ke negara-negara donor yang berjiwa kapitalis
dan liberalis.
Setelah memiliki kemauan yang dibangun
atas dasar motivasi intrinsik, seseorang yang mau melakukan kerja-kerja kreatif
juga harus memiliki kemampuan (potensi diri). Untuk bisa memiliki potensi diri,
seseorang minimal mengenal tujuh potensi diri berikut ini.
- Kenali diri
sendiri
- Tentukan tujuan
hidup
- Kenali motivasi
hidup
- Hilangkan
negative thinking
- Jangan mengadili
diri sendiri
- Bertanya kepada
orang yang terdekat
- Banyak
membaca, melihat, dan merasakan
Langkah selanjutnya, kalau sudah
mengenal potensi diri, seseorang harus melakukan pengembangan diri. Langkah-langkah
penting yang dilakukan dalam pengembangan diri di antaranya sebagaimana
terlihat pada butir-butir berikut ini.
1.
Harus diawali dengan niat
2.
Harus berpikir positif dalam setiap
hal
3.
Harus memiliki komitmen
4.
Jangan menganggap remeh orang lain
5.
Menerima saran, kritik, dan masukan
yang membangun dari orang lain
6.
Konsisten terhadap apa saja yang telah
dilakukan
7.
Meyakini bahwa setiap orang bisa
melakukan sesuatu
Di luar itu semua, sebagai makhluk
yang ber-Tuhan, kita harus meyakini bahwa manusia diciptakan Sang Khalik dengan
berbagai kelebihan yang justru tidak dimiliki makhluk-makhluk lain. Salah satu
yang diberikan Tuhan, yaitu akal. Dengan akal inilah manusia bisa mengembangkan
potensi dirinya kalau memang masih ada keinginan dan kesempatan untuk
menggunakannya.
Faktor terakhir yang tidak kalah
pentingnya dalam melakukan kerja-kerja kreatif adalah keterampilan. Kita tahu
di era globalisasi ini segalanya serba cepat dan terukur. Untuk bisa
mengantisipasinya dibutuhkan kerja-kerja terampil. Keterampilan itu sendiri
beragam. Kali ini kita konsens pada keterampilan kepemimpinan yang lebih
ditujukan pada diri sendiri. Untuk bisa mengembangkan kepemimpinan pada diri
sendiri diperlukan sepuluh langkat berikut ini.
- Rendah hati
- Menentukan
tujuan
- Berusaha keras
untuk mencapai yang terbaik
- Mempertahankan
posisi
- Belajar dari
kesalahan
- Berpikiran
terbuka
- Percaya diri
- Bersedia untuk
memberi
- memenuhi janji
- mendengarkan
Di samping kesepuluh butir di atas,
seseorang yang mau melakukan kerja-kerja kreatif (termasuk untuk kerja kreatif
seorang pemimpin), harus punya konsenstrasi menjadi orang yang baik dengan bersikap
jujur pada diri sendiri. Sebagai tambahan, orang tersebut sepanjang hidupnya
harus bisa membimbing diri sendiri dengan baik (reni-em.blogspot.com).
Dengan melihat uraian di atas, memang
tidak mudah melakukan kerja-kerja kreatif. Sebuah kreativitas tidak bisa
dilakukan secara instan seperti kita ingin makan mi (indomie, supermie) atau makanan cepat saji. Dia
perlu proses. Ada yang memang cepat prosesnya, ada juga yang lambat. Baik proses
yang cepat maupun lambat semuanya harus berangkat di awal sekali adanya kemauan
yang lebih didominasi oleh motivasi intrinsik. Termasuk ke dalam motivasi
intrinsik ini seseorang harus menyingkirkan jauh-jauh pola pikir yang semuanya
ingin serba instan. Atau orang yang tidak mau berlelah-lelah untuk melakukan
aktivitas. Mindset kita yang
cenderung untuk, misalnya, melakukan sesuatu dengan serba instan (meminjam
istilah yang dipakai Koentjaraningrat dalam Kebudayaan,
Mentalitas dan Pembangunan, mental menerabas) harus dihilangkan. Seandainya
mindset kita masih `doyong` ke mentalitas menerabas, kita jangan berharap akan
bisa melakukan kerja-kerja kreatif atau bahkan membangun kreativitas. Membangun
kreativitas membutuhkan perubahan mindset yang semula ingin segalanya serba
instan harus diubah menjadi kerja yang membutuhkan proses, waktu, dan
kesabaran. Dengan demikian,membangun kreativitas membutuhkan proses kreatif
bukan membutuhkan `karbit` sehingga menghasilkan kerja-kerja `karbitan`
(instan). Semoga saja hal itu tidak terjadi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar