Variasi-Variasi
Bahasa Puisi
Darmanto
Yatman (3)
Subagio
S.Waluyo
Fokus puisi adalah bahasa. Bahasa bagi
penyair merupakan materi. Untuk seorang penyair bahasa adalah zat yang akan
dibentuk dan diciptakan. Bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam prosa.
Begitu pula dalam penyusunan kata-katanya. Kata-kata yang disusun merupakan
suatu kesatuan yang padu. Penyair di sini harus pandai-pandai memilih kata
(diksi). Karena itu seorang penyair harus pandai menggunakan mekanisme bahasa. Kata-kata
dalam puisi berbeda dengan kata-kata dalam prosa. Meskipun wujud dan bentuknya
sama, kata-kata dalam puisi memiliki banyak makna dan penafsiran.
Sebuah kata dalam puisi jika
diparaferensikan akan menjadi sebuah kalimat. Karena kata-kata dalam puisi
merupakan satu kesatuan yang utuh, apabila satu kata dihilangkan akan berubah maknanya.
Untuk itu, kata-kata bahasa Jawa yang terdapat dalam puisi-puisi Darmanto kali
ini bisa merupakan satu konteks kalimat. Kesimpulannya, yang terjadi pada
puisi-puisi Darmanto adalah alih kode. Jika kata-kata itu digunakan dalam
bentuk prosa, mungkin itu hanya sekedar campur kode. Namun karena penjelasan di
atas, saya bisa mengatakan telah terjadi alih kode dari bahasa Indonesia ke
bahasa Jawa dan sebaliknya. Alih kode di sini bersifat intern. Sebagai bukti
terjadinya alih kode dapat kita lihat bait-bait puisi di bawah ini.
Semula ia
diparabi Marto legi, karena lahir pada hari legi, paing,pon,wage,kliwon
Kemudian dia
diparabi Marto Klungsu
Karena setelah
putus sekolah ngko loro, dia sudah merasa seperti Raden Panji Raras
Membawa
ijasahnya, cari tahu siapa bapaknya yang tinggal dibilangan kraton Sala.
Lha sudah
pasti Kanjeng Raden Tumenggung tak sedia ngaku anak si kemproh bercelana kolor,
procotan “Lembu Peteng”nya dari desa
Plumbon, Karanglo
Delanggu
Pulang-pulang
sebuah benjolan menclok di kepala Marto
Itulah
sebabnya dia diparabi Marto Klungsu
Ibunya bok
randa dadapan, umur 13 tahun sehabis mens pertama, jatuh kasmaran pada Den Jeng
Gung, yang bersedia untuk membenihinya
(“Marto
Klungsu dari Leiden”)
Lhailah ompong
gompong
Mamah kacang
geyang geyong
Nerada tak
henti henti merdi sekti jadi sang Katong
Tak betah jadi
manusia biarpun jari penguasa
Malas ngatur
pegawai negeri supaya tidak pada korupsi
Malas ngatur
ABRI supaya pada tahu diri
o.lae,lae. Lha
kok tega teganya
memaksa
Punakawan menjaga kesejahteraan negara
sementara enak
enak si Narada
kasih nasehat
cas cis cus sama si Guru
dipakai sukur,
tak dipakai yang matur nuwun
- Apa memper perilaku staf ahli begitu
itu.
(“Hal-Hal
yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada”)
Sekali lagi
dengan mengucapkan “Alhamdulillah” kami bersyukur kepada Yang Maha Agung, telah
sudi mengirimkan para mahasiswa kedesa kami dengan persiapan batin yang sudah
demikian manteb “Sewiji, Greget, Sengguh, Ora mungkuh” seperti ajaran
Sultan Agung
pada para penari Beksan Lawung.
Total mengabdi
pada masyarakat desa kami. Siap “Rumengsa anduweni, Melu angrungkebi” desa kami
Semoga Yang Maha Agung memecahkan pamor bapak bapak sekalian, serta memberikan
pepadang di jalan bapak menuju kesuksesan karier bapak.
(“Pidato
Ki Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa Kakaen di Desanya”)
Merebung
sesuatu yang perlu untuk kesejahteraan bersama
Sementara
dibelakang pendapat ada pringgitan dimana
Kelak kau bisa
duduk bersama anak-anak
Menyaksikan ki
dalang Karungrungan
Menghidupkan
ringgit wayang ditangannya
Medar
kebijaksanaan sastra jendra
Lewat tutur,
sulur, dan tembang
Ah Ah Ah
Rumah kita
bisa bak istana Junggringsalaka
Bila gamelan
dimainkan
Dan waranggana
nembang sahut sahutan
Sementara
digodok sebelah
Para batih
serumaad
Biasa silih
asah, silih asih, silih asuh
Dan
menyerahkan kepercayaannya dalam rumeksa kita.
(“Rumah”)
Dari bait-bait puisi di atas bisa dilihat
agaknya penyair sengaja menyisipkan unsur-unsur bahasa Jawa. Apabila kata-kata
atau ungkapan-ungkapan di atas diganti dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan
di atas diganti dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan dari bahasa Indonesia
ada sesuatu yang dirasakan kurang enak bagi si penyair. Penyisipan kata-kata
atau unsur-unsur bahasa Jawa itu berkaitan erat dengan rasa bahasa. Hasilnya
bisa dilihat, sebuah karya sastra Indonesia yang tampat kejawa-jawaan. Di
samping rasa bahasa yang begitu kuat berpengaruh pada diri si penyair, juga
sifat-sifat khusus si penyair (misalnya: latar belakang sosial, tingkat
pendidikan, rasa keagamaan, dan sebagainya). Untuk itu saya sengaja membagi
sebab-sebab timbulnya alih kode ke dalam dua bagian, yaitu untuk membangkitkan
rasa humor dan untuk menunjukkan situasional. Tentang kedua sebab itu
dijelaskan lebih lanjut.
Sebab-Sebab
Timbulnya Alih Kode dalam Puisi-Puisi DY
(1) Untuk
Membangkitkan Rasa Humor
Jika kita perhatikan baik puisi nomor "Marto Klungsu dari Leiden" dan “Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada”, jelas sekali di sini penyair sengaja melakukan alih kode dengan
maksud untuk membangkitkan rasa humor. Coba saja kita baca puisi “Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada” .
Mengapa si penyair memasukkan semua nama hari pasaran sekedar mempertegas nama
seseorang (Marto Legi)? Kemudian ia memasukkan kata-kata si kemproh, kolor,
procotan, lembu peteng, benjolan, menclok, bok randa dadapan, dan klungsu. Bagi
orang yang mengerti bahasa Jawa, ia akan tersenyum. Begitu juga pada puisi “Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada” . Di sini kita jumpai alih kode yang sengaja dilakukan oleh si
penyair. Seandainya kata-kata tersebut diganti dengan kata-kata dalam bahasa
Indonesia (terutama yang ada padanannya) kemungkinan si pembaca tidak akan
tersenyum. Sebaliknya yang timbul adalah kesan kekakuan. Bahkan, mungkin
juga puisi tersebut tidak komunikatif.
Karena itulah di sini pentingnya alih kode. Agaknya, alih kode seperti itu pada
saat-saat tertentu sangat dibutuhan karena ia berfungsi agar pembaca merasa
puas/senang.
(2) Untuk
Menunjukkan Situasional
Sebagian penutur ada yang beralih kode
untuk menunjukkan situasional. Orang melakukan alih kode seperti ini karena
faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor-faktor sosiosituasional yang
lain, yang sebenarnya juga mengharuskan untuk beralih kode. Alih kode semacam
ini akan menimbulkan kesan dipaksakan sehingga ada ketidakwajaran dan sering
juga tidak komunikatif. Pada bait-bait puisi “Pidato Lurah Karangkedempel
Sewaktu Menerima Mahasiswa Kakaen di Desanya” dan “Rumah”. Di situ penyair
agaknya ingin menunjukkan bahwa ia orang Jawa yang paling tidak, tahu tentang
pribahasa bahasa Jawa. Hal ini jelas terlihat pada kata-kata “Sewiji, greget,
sengguh, ora mingkuh” dan “Rumangsa anduweni, melu angrungkebi”. Pribahasa
tersebut sudah jarang dipakai oleh orang-orang Jawa dalam berbicara. Mungkin
hanya orang-orang tertentu yang bisa
menggunakannya. Dengan memasukkan unsur-unsur pribahasa seperti itu, orang bisa
menilai siapa dia, apa pekerjaannya, apa pula jabatannya, dan bagaimana juga kedudukannya
dalam masyarakat.
Pada bait puisi “Rumah” penyair
memperkenalkan nama-nama tempat yang dipakai di lingkungan kraton, seperti
pendapa, pringgitan, dan gandok. Di samping itu juga diperkenalkan
nama-nama/istilah-istilah yang bisa dipakai dalam pewayangan. Khusus untuk
istilah-istilah tersebut sudah jarang orang Jawa yang mengenalnya (terutama
untuk generasi mudanya) sehingga timbul pertanyaan di benak kita: apa maksud
penyair mencantumkan istilah-istilah tersebut? Mungkin jawaban kita ialah agar
si penyair jangan sampai dicap sebagai orang Jawa yangt idak kenal lagi budaya
Jawa. Dengan demikian, ia bisa menunjukkan kepada orang lain (pembaca) bahwa ia
adalah orang Jawa yang cinta kepada kebudayaannya dan mengajak para generasi muda
(khususnya orang Jawa) agar memelihara dan mencintai kebudayaan Jawa. Keempat
bait puisi yang saya cantumkan di sini hanya sekedar sampel saja. Masih bayak
puisi lain yang semacam itu.
Maksud penyair menyisipkan kata-kata
bahasa Jawa bukan berarti penyair mau menulis sebuah karya sastra Jawa.
Melainkan hanya sekedar ingin memperkenalkan bahwa suku Jawa adalah suku yang
terbesar di Indonesia dan memiliki kebudayaan yang terpelihara. Di Indonesia (mungkin juga di kawasan Nusantara
ini) orang Jawa sejak dulu telah mengenal tulisan. Mereka adalah orang-orang
yang pandai memelihara kebudayaannya. Mereka agaknya juga telah memikirkan
utnuk mewarisi kebudayaannya kepada generasi
selanjutnya. Karena itu tidaklah aneh jika ada seabagian orang Jawa yang
menganggap bahwa kebudayaannya adalah yang paling tua di republik ini.
Kembali kepada Darmanto, agaknya
penyair ingin membanggakan bahasanya. Menulis puisi dengan cara penyisipan
seperti itu akan terasa lebih enak dinikmati. Tidak ada maksud penyair ingin
merusak undan usuk bahasa Jawa. Kita tahu di Indonesia ada beberapa suku yang
memiliki undu usuk, termasuk di dalamnya bahasa Jawa. Dalam puisi-puisi
tersebut penyair hanya menyisipkan kata-kata bahasa Jawa Ngoko sehingga tidak
dapat dibuktikan kalau penyair ingin merusak unda usuk yang telah ada. Tentang
penyisipan itu apakah merusak bahasa Indonesia atau tidak? Saya tidak berhak
menentukannya. Masalah ini saya serahkan kepada para ahli bahasa karena bidang
itu termasuk bidang linguistik.
Sesuai dengan permulaan tulisan ini
(mengenai alih kode), saya dapat mengambil kesimpulan bahwa adanya gejala alih
kode pada puisi-puisi DY karena berikut ini.
(1) Penyair
adalah seorang bilingual atau boleh juga multilingual.
(2) Penyair
menguasai bahasa Indonesia setelah mempelajarinya di bangku sekolah.
(3) Penyair
biasa berkomunikasi dengan bahasa ibu jaitu bahasa Jawa.
(4) Penyair
dibesarkan di lingkungan masyarakat Jawa meskipun dilahirkan di Jakarta.
(5) Penyair
memiliki rasa bangga dan hormat terhadap bahasanya.
(6) Penyair
merasa bahwa suku Jawa adalah suku yang terbesar di Indonesia dan memiliki
kebudayaan yang paling tua dan terpelihara.
(7) Penyair
ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang lincah berfikir, santai dalam
memandang masalah, penuh humor, karya dengan imaji-imaji moderen yang
diungkapkan dalam bahasa yang populer.
(8) Penyair
juga ingin menunjukkan agar masyarakat luas bisa melihat siapa dia, bagaimana
status sosialnya, bagaimana pula identitas pribadinya di dalam masyarakat.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar