Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (26)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (3)


Subagio S.Waluyo

Fokus puisi adalah bahasa. Bahasa bagi penyair merupakan materi. Untuk seorang penyair bahasa adalah zat yang akan dibentuk dan diciptakan. Bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam prosa. Begitu pula dalam penyusunan kata-katanya. Kata-kata yang disusun merupakan suatu kesatuan yang padu. Penyair di sini harus pandai-pandai memilih kata (diksi). Karena itu seorang penyair harus pandai menggunakan mekanisme bahasa. Kata-kata dalam puisi berbeda dengan kata-kata dalam prosa. Meskipun wujud dan bentuknya sama, kata-kata dalam puisi memiliki banyak makna dan penafsiran.

Sebuah kata dalam puisi jika diparaferensikan akan menjadi sebuah kalimat. Karena kata-kata dalam puisi merupakan satu kesatuan yang utuh, apabila satu kata dihilangkan akan berubah maknanya. Untuk itu, kata-kata bahasa Jawa yang terdapat dalam puisi-puisi Darmanto kali ini bisa merupakan satu konteks kalimat. Kesimpulannya, yang terjadi pada puisi-puisi Darmanto adalah alih kode. Jika kata-kata itu digunakan dalam bentuk prosa, mungkin itu hanya sekedar campur kode. Namun karena penjelasan di atas, saya bisa mengatakan telah terjadi alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa dan sebaliknya. Alih kode di sini bersifat intern. Sebagai bukti terjadinya alih kode dapat kita lihat bait-bait puisi di bawah ini.

Semula ia diparabi Marto legi, karena lahir pada hari legi, paing,pon,wage,kliwon
Kemudian dia diparabi Marto Klungsu
Karena setelah putus sekolah ngko loro, dia sudah merasa seperti Raden Panji Raras
Membawa ijasahnya, cari tahu siapa bapaknya yang tinggal dibilangan kraton Sala.
Lha sudah pasti Kanjeng Raden Tumenggung tak sedia ngaku anak si kemproh bercelana kolor, procotan “Lembu Peteng”nya dari desa  Plumbon, Karanglo
Delanggu
Pulang-pulang sebuah benjolan menclok di kepala Marto
Itulah sebabnya dia diparabi Marto Klungsu
Ibunya bok randa dadapan, umur 13 tahun sehabis mens pertama, jatuh kasmaran pada Den Jeng Gung, yang bersedia untuk membenihinya

(“Marto Klungsu dari Leiden”)

Lhailah ompong gompong
Mamah kacang geyang geyong
Nerada tak henti henti merdi sekti jadi sang Katong
Tak betah jadi manusia biarpun jari penguasa
Malas ngatur pegawai negeri supaya tidak pada korupsi
Malas ngatur ABRI supaya pada tahu diri
o.lae,lae. Lha kok tega teganya
memaksa Punakawan menjaga kesejahteraan negara
sementara enak enak si Narada
kasih nasehat cas cis cus sama si Guru
dipakai sukur, tak dipakai yang matur nuwun
-        Apa memper perilaku staf ahli begitu itu.

(“Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada”)

Sekali lagi dengan mengucapkan “Alhamdulillah” kami bersyukur kepada Yang Maha Agung, telah sudi mengirimkan para mahasiswa kedesa kami dengan persiapan batin yang sudah demikian manteb “Sewiji, Greget, Sengguh, Ora mungkuh” seperti ajaran
Sultan Agung pada para penari Beksan Lawung.
Total mengabdi pada masyarakat desa kami. Siap “Rumengsa anduweni, Melu angrungkebi” desa kami Semoga Yang Maha Agung memecahkan pamor bapak bapak sekalian, serta memberikan pepadang di jalan bapak menuju kesuksesan karier bapak.

(“Pidato Ki Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa Kakaen di Desanya”)

Merebung sesuatu yang perlu untuk kesejahteraan bersama
Sementara dibelakang pendapat ada pringgitan dimana
Kelak kau bisa duduk bersama anak-anak
Menyaksikan ki dalang Karungrungan
Menghidupkan ringgit wayang ditangannya
Medar kebijaksanaan sastra jendra
Lewat tutur, sulur, dan tembang
Ah  Ah   Ah
Rumah kita bisa bak istana Junggringsalaka
Bila gamelan dimainkan
Dan waranggana nembang sahut sahutan
Sementara digodok sebelah
Para batih serumaad
Biasa silih asah, silih asih, silih asuh
Dan menyerahkan kepercayaannya dalam rumeksa kita.

(“Rumah”)


Dari bait-bait puisi di atas bisa dilihat agaknya penyair sengaja menyisipkan unsur-unsur bahasa Jawa. Apabila kata-kata atau ungkapan-ungkapan di atas diganti dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan di atas diganti dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan dari bahasa Indonesia ada sesuatu yang dirasakan kurang enak bagi si penyair. Penyisipan kata-kata atau unsur-unsur bahasa Jawa itu berkaitan erat dengan rasa bahasa. Hasilnya bisa dilihat, sebuah karya sastra Indonesia yang tampat kejawa-jawaan. Di samping rasa bahasa yang begitu kuat berpengaruh pada diri si penyair, juga sifat-sifat khusus si penyair (misalnya: latar belakang sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan, dan sebagainya). Untuk itu saya sengaja membagi sebab-sebab timbulnya alih kode ke dalam dua bagian, yaitu untuk membangkitkan rasa humor dan untuk menunjukkan situasional. Tentang kedua sebab itu dijelaskan lebih lanjut.

Sebab-Sebab Timbulnya Alih Kode dalam Puisi-Puisi DY

(1)      Untuk Membangkitkan Rasa Humor

Jika kita perhatikan baik puisi nomor "Marto Klungsu dari Leiden" dan “Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada”, jelas sekali di sini penyair sengaja melakukan alih kode dengan maksud untuk membangkitkan rasa humor. Coba saja kita baca puisi “Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada” . Mengapa si penyair memasukkan semua nama hari pasaran sekedar mempertegas nama seseorang (Marto Legi)? Kemudian ia memasukkan kata-kata si kemproh, kolor, procotan, lembu peteng, benjolan, menclok, bok randa dadapan, dan klungsu. Bagi orang yang mengerti bahasa Jawa, ia akan tersenyum. Begitu juga pada puisi “Hal-Hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada” . Di sini kita jumpai alih kode yang sengaja dilakukan oleh si penyair. Seandainya kata-kata tersebut diganti dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia (terutama yang ada padanannya) kemungkinan si pembaca tidak akan tersenyum. Sebaliknya yang timbul adalah kesan kekakuan. Bahkan, mungkin juga  puisi tersebut tidak komunikatif. Karena itulah di sini pentingnya alih kode. Agaknya, alih kode seperti itu pada saat-saat tertentu sangat dibutuhan karena ia berfungsi agar pembaca merasa puas/senang.

(2)      Untuk Menunjukkan Situasional

Sebagian penutur ada yang beralih kode untuk menunjukkan situasional. Orang melakukan alih kode seperti ini karena faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor-faktor sosiosituasional yang lain, yang sebenarnya juga mengharuskan untuk beralih kode. Alih kode semacam ini akan menimbulkan kesan dipaksakan sehingga ada ketidakwajaran dan sering juga tidak komunikatif. Pada bait-bait puisi “Pidato Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa Kakaen di Desanya” dan “Rumah”. Di situ penyair agaknya ingin menunjukkan bahwa ia orang Jawa yang paling tidak, tahu tentang pribahasa bahasa Jawa. Hal ini jelas terlihat pada kata-kata “Sewiji, greget, sengguh, ora mingkuh” dan “Rumangsa anduweni, melu angrungkebi”. Pribahasa tersebut sudah jarang dipakai oleh orang-orang Jawa dalam berbicara. Mungkin hanya orang-orang tertentu  yang bisa menggunakannya. Dengan memasukkan unsur-unsur pribahasa seperti itu, orang bisa menilai siapa dia, apa pekerjaannya, apa pula jabatannya, dan bagaimana juga kedudukannya dalam masyarakat.

Pada bait puisi “Rumah” penyair memperkenalkan nama-nama tempat yang dipakai di lingkungan kraton, seperti pendapa, pringgitan, dan gandok. Di samping itu juga diperkenalkan nama-nama/istilah-istilah yang bisa dipakai dalam pewayangan. Khusus untuk istilah-istilah tersebut sudah jarang orang Jawa yang mengenalnya (terutama untuk generasi mudanya) sehingga timbul pertanyaan di benak kita: apa maksud penyair mencantumkan istilah-istilah tersebut? Mungkin jawaban kita ialah agar si penyair jangan sampai dicap sebagai orang Jawa yangt idak kenal lagi budaya Jawa. Dengan demikian, ia bisa menunjukkan kepada orang lain (pembaca) bahwa ia adalah orang Jawa yang cinta kepada kebudayaannya dan mengajak para generasi muda (khususnya orang Jawa) agar memelihara dan mencintai kebudayaan Jawa. Keempat bait puisi yang saya cantumkan di sini hanya sekedar sampel saja. Masih bayak puisi lain yang semacam itu.

Maksud penyair menyisipkan kata-kata bahasa Jawa bukan berarti penyair mau menulis sebuah karya sastra Jawa. Melainkan hanya sekedar ingin memperkenalkan bahwa suku Jawa adalah suku yang terbesar di Indonesia dan memiliki kebudayaan yang terpelihara. Di  Indonesia (mungkin juga di kawasan Nusantara ini) orang Jawa sejak dulu telah mengenal tulisan. Mereka adalah orang-orang yang pandai memelihara kebudayaannya. Mereka agaknya juga telah memikirkan utnuk mewarisi kebudayaannya kepada generasi  selanjutnya. Karena itu tidaklah aneh jika ada seabagian orang Jawa yang menganggap bahwa kebudayaannya adalah yang paling tua di republik ini.

Kembali kepada Darmanto, agaknya penyair ingin membanggakan bahasanya. Menulis puisi dengan cara penyisipan seperti itu akan terasa lebih enak dinikmati. Tidak ada maksud penyair ingin merusak undan usuk bahasa Jawa. Kita tahu di Indonesia ada beberapa suku yang memiliki undu usuk, termasuk di dalamnya bahasa Jawa. Dalam puisi-puisi tersebut penyair hanya menyisipkan kata-kata bahasa Jawa Ngoko sehingga tidak dapat dibuktikan kalau penyair ingin merusak unda usuk yang telah ada. Tentang penyisipan itu apakah merusak bahasa Indonesia atau tidak? Saya tidak berhak menentukannya. Masalah ini saya serahkan kepada para ahli bahasa karena bidang itu termasuk bidang linguistik.

Sesuai dengan permulaan tulisan ini (mengenai alih kode), saya dapat mengambil kesimpulan bahwa adanya gejala alih kode pada puisi-puisi DY karena berikut ini.
(1)      Penyair adalah seorang bilingual atau boleh juga multilingual.
(2)      Penyair menguasai bahasa Indonesia setelah mempelajarinya di bangku sekolah.
(3)      Penyair biasa berkomunikasi dengan bahasa ibu jaitu bahasa Jawa.
(4)      Penyair dibesarkan di lingkungan masyarakat Jawa meskipun dilahirkan di Jakarta.
(5)      Penyair memiliki rasa bangga dan hormat terhadap bahasanya.
(6)      Penyair merasa bahwa suku Jawa adalah suku yang terbesar di Indonesia dan memiliki kebudayaan yang paling tua dan terpelihara.
(7)      Penyair ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang lincah berfikir, santai dalam memandang masalah, penuh humor, karya dengan imaji-imaji moderen yang diungkapkan dalam bahasa yang populer.
(8)      Penyair juga ingin menunjukkan agar masyarakat luas bisa melihat siapa dia, bagaimana status sosialnya, bagaimana pula identitas pribadinya di dalam masyarakat.

(bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...