Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (25)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
DarmantoYatman (2)

Subagio S.Waluyo

Puisi-puisi DY yang dibahas ini terdapat dalam kumpulannya Karto Iya Bilang Mboten (KIBM). Pembahasan ini dilakukan dengan cara kerja sosiolinguistik. Pembahasan dengan cara kerja sosiolinguistik mencakup di antaranya pemakaian variasi bahasa. Ada dua belas buah puisi yang terdapat dalam kumpulannya itu. Masing-masing puisi tersebut saya beri kode dengan huruf latin. Kedua belas buah puisi itu antara lain: Jeng,  Marto Klungsu dari Leiden, Pidato Ki Lurah Karangkedempel sewaktu menerima Masiswa kakaen di Desanya, Surat dari Soma Transmigran untuk saudaranya Manggunkarsa,  Hal-Hal yang mokal-mokal dalam lakon mokal Badranaya lawan Narada,  Teori probabiliti Tukini, Kisah Karto Tukul dan saudaranya Atmo Boten,  Anak,  Nyanyian Matahari Tambran, Rumah,  Dunia teduh sesudah Topan, dan  sambel bawang dan terasi. Berdasarkan data-data yang saya peroleh, saya hanya akan melihat puisi-puisi di atas dari dua aspek saja yang terdapat dalam pemakaian variasi bahasa. Kedua aspek itu, yaitu alih kode dan ragam sapaan. Masing-masing variasi bahasa tersebut saya sertakan contoh-contohnya berupa bait-bait puisi yang dibuat oleh penyair tanpa mengalami perubahan.

Alih Kode dan Campur Kode

Akhir-akhir ini banyak sastrawan yang memasukkan baik kata-kata, ungkapan-ungkapan, maupun kalimat-kalimat bahasa daerah ke dalam karya-karya sastranya. Banyak baik kata, ungkapan-ungkapan, maupun kalimat yang tidak kita pahami. Hal itu karena tidak diketahui bahasa si sastrawan. Bahasa Indonesia bagi mereka merupakan bahasa kedua meskipun mereka dikenal sebagai sastrawan Indonesia. Para sastrawan  umumnya menguasai lebih dari satu bahasa. Bahasa Indonesia mereka kuasai setelah mereka mempelajarinya di bangku sekolah. Lingkungan tempat tinggal sisastrawan juga turut mempengaruhinya. Mereka biasa berpikir dan berkata-kata dalam bahasa daerahnya. Mereka adalah masyarakat bilingual atau boleh juga multi lingual. Mereka tidak mungkin menggunakan satu bahasa secara mutlak murni tanpa sedikit pun memanfaatkan bahasa atau unsur bahasa lain. Salah satu di antaranya KIBM karya DY.

Akibat penguasaan lebih dari satu bahasa, timbulah saling ketergantungan bahasa. Karena ketergantungan bahasa inilah sering terjadi penyimpangan-penyimpangan (interferensi). Harimurti Kridalaksana dalam bukunya Kamus Linguistik (1982:66) membagi definisi interferensi atas dua bagian, yaitu penggunaan unsur bahasa lain oleh bahasawan yang bilingual secara individual dalam suatu bahasa. Ciri-ciri bahasa lain itu masih kentara (berlainan dari integrasi). Interferensi ini berbeda-beda sesuai dengan medium, gaya ragam, dan konteks yang dipergunakan oleh orang yang bilingual itu. Sedangkan secara pengarahan bahasa interferensi didefinisikan sebagai kesalahan bahasa berupa unsur bahasa sendiri yang dibawa ke dalam bahasa atau dialek lain yang dipelajari.

Interferensi timbul akibat adanya kontak bahasa yang dimiliki oleh dwibahasawan. Dalam hal ini harus dibedakan dengan integrasi. Perbedaan yang pokok, yaitu interferensi umumnya dianggap sebagai gejala tutur yang hanya terjadi pada dwibahasawan dan peristiwanya dianggap sebagai penyimpangan. Sedangkan intergrasi lebih cenderung sebagai gejala bahasa, dapat terjadi dalam setiap anggota masyarakat dan peristiwanya tidak terasa lagi sebagai akibat penyimpangan (Suwito, Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema, 1983:54). Interferensi dapat terjadi dalam semua komponen kebahasaan. Ini berarti bahwa peristiwa interferensi dapat terjadi dalam bidang-bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikal.

Berkaitan dengan interferensi dalam kumpulan puisi DY kali ini tidak perlu dikaji dari komponen kebahasaan karena yang semacam itu merupakan pekerjaan para ahli linguistik. Saya hanya ingin meninjau dan meneliti cara penyair menggunakan kata-kata varian dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Kalau diteliti secara linguistik, mungkin penggunaan varian bahasa Jawa ke dalam konteks varian bahasa Indonesia banyak terjadi kesalahan. Sebagai contoh di sini pemakaian imbuhan bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi, dalam puisi tersebut penyair menggunakan kata-kata varian bahasa Jawa, tanpa mempertimbangkan betul atau salah.

Di atas telah dinyatakan bahwa ketergantungan bahasa sering terjadi pada komponen-komponen kebahasaan. Namun, ada pula menyimpangan di luar linguistik dikenal kemudian dengan alih kode dan campur kode. Tentang pengertian keduanya itu saya mengutip beerapa pendapat dari para ahli sosiolinguistik. Kemudian membedakan di antara keduanya berikut contoh-contoh konteks kalimatnya. Terakhir kali saya mengambil suatu keputusan; apa yang terjadi pada kumpulan puisi tersebut? Alih kode atau campur kode?

Kode menurut Soepomo Poedjosoedarmo dalam tulisannya “Kode dan Alih Kode” menyebutkan kode sebagai suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai  ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan lawan bicara dan situasi tutur yang ada. Jadi dalam kode itu terdapatkan unsur-unsur bahasa seperti kalimat-kalimat, kata-kata, morfem dan fonem (Seopomo Poedjosoedarmo, 1978:4). Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik menyebutkan kode sebagai lambang atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu. Bahasa manusia adalah sejenis kode. Sistem bahasa dalam suatu masyarakat atau boleh juga variasi tertentu dalam suatu bahasa (Harimurti, 1982: 87). Sementara itu Suwito mendefinisikan istilah kode dimaksudkan untuk menyebutkan salah satu varian di dalam hirarki kebahasaan.  Masing-masing varian merupakan tingkat tertentu dalam hirarki kebahasaan dan semuanya tercakup dalam kode. Sedangkan kode merupakan bagian dari bahasa (1983:67).

Jika orang menyebutkan cabang lingistik yang mempelajari leksikon disebut leksikologi, maka kata-kata/istilah-istilah linguistik, leksikon, dan leksikologi merupakan kode-kode tertentu yang digunakan di kalangan/bidang bahasa. Dalam percakapan sehari-hari kadang-kadang bahkan sering didengar orang bercakap dengan mengganti kode bahasanya. Penggantian itu dapat disadari dapat pula tidak. Akibatnya, mereka telah menyuguhkan arti kode yang bermacam-macam. Hal itu bisa terjadi di masyarakat Indonesia yang majemuk. Terutama pada masyarakat yang menguasai lebih dari satu bahasa (bilingual dan multilingual). Pada masyarakat tertentu peralihan kode tampak kentara sekali. Termasuk di sini masyarakat Jawa.

Alih kode adalah peristiwa peralihan kode yang satu ke kode yang lain. Timbulnya alih kode karena faktor kompenen bahasa yang bermacam-macam. Sebab-sebab timbulnya alih kode menurut Soepomo (1978: 21-22) antara lain berikut ini.
(1)      Suasana hati pembicara pertama yang tiba-tiba berganti.
(2)      Ada pembicara lain yang tiba-tiba muncul.
(3)      Suasana pembicaraan yang berganti.
(4)      Adanya pengaruh dari pokok pembicaraan yang lain.
(5)      Adanya suatu kenyataan bahwa pembicara pertama tidak begitu menguasai kode yang tengah dipakai nya.
(6)      Adanya pengaruh kalimat-kalimat atau kode yang baru saja terucapkan dan macamnya lain dengan kodenya semula.

Alih kode ada yang bersifat sementara dan ada pula yang bersifat permanen (selamanya). Alih kode bisa terjadi antarbahasa, antarvarian, antarregister, atau antargaya. Apabila alih kode itu terjadi antar bahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa nasional. Antara dialek dalam satu dialek, alih kode seperti itu disebut alih kode interen. Alih kode yang terjadi antarbahasa asli dengan bahasa asing disebut alih kode eksteren.

Di samping alih kode kita mengenal campur kode. Antara keduanya harus dibedakan. Alih kode melibatkan peralihan kalimat. Sedangkan campur kode hanya ditandai oleh pemakaian kata-kata dari lain kode.  Soepomo (1978:33) menyebutkan campur kode ini dengan pinjam leksikon. Campur kode digunakan untuk menyebutkian aspek lain dari saling ketergantungan bahasa dalam masyarakat. Campur kode timbul karena seseorang memiliki lebih dari satu bahasa. Latar belakang terjadinya campur kode berdasarkan atas latar belakang sikap dan kebahasaan yang saling bergantung. Kesalinggantungan ini menimbulkan adanya campur kode. Untuk lebih memperjelas perbedaan alih kode dengan campur kode bisa dilihat contoh-contoh di bawah ini.

Contoh Alih Kode
Pelawak      : Kamu itu diberi tahu kok malah “emoh-emoh rupane medeni”, itu gimana? Wong ki nek rung pengalaman, ya, ta ngono kuwi. Sudah sekarang gini, kalo dengan saya, gimana?

Padanan alih kodenya

Emoh-emoh “tidak mau-tidak mau” rupane  ‘rupanya’, medeni “menakutkan”, wong ‘ orang’ ki ‘itu’, nek ‘kalau’ pengalaman ‘oengalaman’ ngono ‘ begitu’ kuwi ‘itu’, dan rung ‘belum’

A       :         Mas, Mas, saya ikut,ya ?
B       :         Tidak, tidak, tidak boleh ikut. Wong iki keperluane penting. Sudah di rumah saja kamu! Aja melu, yo ?!

Padanan Alih Kodenya

Wong ‘orang’, iki, ‘ini’, keperluane ‘keperluannya’ aja ‘jangan’, melu ‘ ikut, dan yo ‘ya’.

Contoh campur Kode

A       :Wah, piye? Semalam saya tunggu-tunggu kok tidak datang? Katanya mau datang jam 9.00.

B       :Soale, begini. Saya sebenarnya mau datang meriki. Sepeda motor saya rusak. Jadi kowe menghadiri rapat jam pinten?

A       :Sampai jam 9.15 kamu tidak datang lantas tak tinggal. Lha ulemane jam 9.00 kok.

Padanan Campur Kodenya

Piye ‘bagaimana’, soale ‘soalnya, meriki ‘kemari, kowe ‘kamu, pinten ‘berapa, tak ‘saya’, dan ulemane ‘acaranya’


(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...