Variasi-Variasi
Bahasa Puisi
DarmantoYatman
(2)
Subagio
S.Waluyo
Puisi-puisi DY yang dibahas ini terdapat
dalam kumpulannya Karto Iya Bilang Mboten
(KIBM). Pembahasan ini dilakukan dengan cara kerja sosiolinguistik. Pembahasan
dengan cara kerja sosiolinguistik mencakup di antaranya pemakaian variasi
bahasa. Ada dua belas buah puisi yang terdapat dalam kumpulannya itu.
Masing-masing puisi tersebut saya beri kode dengan huruf latin. Kedua belas
buah puisi itu antara lain: Jeng, Marto
Klungsu dari Leiden, Pidato Ki Lurah Karangkedempel sewaktu menerima Masiswa
kakaen di Desanya, Surat dari Soma Transmigran untuk saudaranya
Manggunkarsa, Hal-Hal yang mokal-mokal
dalam lakon mokal Badranaya lawan Narada,
Teori probabiliti Tukini, Kisah Karto Tukul dan saudaranya Atmo
Boten, Anak, Nyanyian Matahari Tambran, Rumah, Dunia teduh sesudah Topan, dan sambel bawang dan terasi. Berdasarkan
data-data yang saya peroleh, saya hanya akan melihat puisi-puisi di atas dari
dua aspek saja yang terdapat dalam pemakaian variasi bahasa. Kedua aspek itu,
yaitu alih kode dan ragam sapaan. Masing-masing variasi bahasa tersebut saya
sertakan contoh-contohnya berupa bait-bait puisi yang dibuat oleh penyair tanpa
mengalami perubahan.
Alih
Kode dan Campur Kode
Akhir-akhir ini banyak sastrawan yang
memasukkan baik kata-kata, ungkapan-ungkapan, maupun kalimat-kalimat bahasa
daerah ke dalam karya-karya sastranya. Banyak baik kata, ungkapan-ungkapan,
maupun kalimat yang tidak kita pahami. Hal itu karena tidak diketahui bahasa si
sastrawan. Bahasa Indonesia bagi mereka merupakan bahasa kedua meskipun mereka
dikenal sebagai sastrawan Indonesia. Para sastrawan umumnya menguasai lebih dari satu bahasa.
Bahasa Indonesia mereka kuasai setelah mereka mempelajarinya di bangku sekolah.
Lingkungan tempat tinggal sisastrawan juga turut mempengaruhinya. Mereka biasa
berpikir dan berkata-kata dalam bahasa daerahnya. Mereka adalah masyarakat
bilingual atau boleh juga multi lingual. Mereka tidak mungkin menggunakan satu
bahasa secara mutlak murni tanpa sedikit pun memanfaatkan bahasa atau unsur
bahasa lain. Salah satu di antaranya KIBM karya DY.
Akibat penguasaan lebih dari satu
bahasa, timbulah saling ketergantungan bahasa. Karena ketergantungan bahasa
inilah sering terjadi penyimpangan-penyimpangan (interferensi). Harimurti
Kridalaksana dalam bukunya Kamus
Linguistik (1982:66) membagi definisi interferensi atas dua bagian, yaitu penggunaan
unsur bahasa lain oleh bahasawan yang bilingual secara individual dalam suatu
bahasa. Ciri-ciri bahasa lain itu masih kentara (berlainan dari integrasi).
Interferensi ini berbeda-beda sesuai dengan medium, gaya ragam, dan konteks
yang dipergunakan oleh orang yang bilingual itu. Sedangkan secara pengarahan
bahasa interferensi didefinisikan sebagai kesalahan bahasa berupa unsur bahasa
sendiri yang dibawa ke dalam bahasa atau dialek lain yang dipelajari.
Interferensi timbul akibat adanya
kontak bahasa yang dimiliki oleh dwibahasawan. Dalam hal ini harus dibedakan
dengan integrasi. Perbedaan yang pokok, yaitu interferensi umumnya dianggap
sebagai gejala tutur yang hanya terjadi pada dwibahasawan dan peristiwanya
dianggap sebagai penyimpangan. Sedangkan intergrasi lebih cenderung sebagai
gejala bahasa, dapat terjadi dalam setiap anggota masyarakat dan peristiwanya
tidak terasa lagi sebagai akibat penyimpangan (Suwito, Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema, 1983:54).
Interferensi dapat terjadi dalam semua komponen kebahasaan. Ini berarti bahwa
peristiwa interferensi dapat terjadi dalam bidang-bidang fonologi, morfologi,
sintaksis, dan leksikal.
Berkaitan dengan interferensi dalam
kumpulan puisi DY kali ini tidak perlu dikaji dari komponen kebahasaan karena
yang semacam itu merupakan pekerjaan para ahli linguistik. Saya hanya ingin
meninjau dan meneliti cara penyair menggunakan kata-kata varian dari bahasa
Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Kalau diteliti secara linguistik, mungkin
penggunaan varian bahasa Jawa ke dalam konteks varian bahasa Indonesia banyak
terjadi kesalahan. Sebagai contoh di sini pemakaian imbuhan bahasa Jawa ke
dalam bahasa Indonesia. Tetapi, dalam puisi tersebut penyair menggunakan
kata-kata varian bahasa Jawa, tanpa mempertimbangkan betul atau salah.
Di atas telah dinyatakan bahwa
ketergantungan bahasa sering terjadi pada komponen-komponen kebahasaan. Namun,
ada pula menyimpangan di luar linguistik dikenal kemudian dengan alih kode dan
campur kode. Tentang pengertian keduanya itu saya mengutip beerapa pendapat
dari para ahli sosiolinguistik. Kemudian membedakan di antara keduanya berikut
contoh-contoh konteks kalimatnya. Terakhir kali saya mengambil suatu keputusan;
apa yang terjadi pada kumpulan puisi tersebut? Alih kode atau campur kode?
Kode menurut Soepomo Poedjosoedarmo
dalam tulisannya “Kode dan Alih Kode” menyebutkan kode sebagai suatu sistem
tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai
ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur
dengan lawan bicara dan situasi tutur yang ada. Jadi dalam kode itu terdapatkan
unsur-unsur bahasa seperti kalimat-kalimat, kata-kata, morfem dan fonem
(Seopomo Poedjosoedarmo, 1978:4). Harimurti Kridalaksana dalam Kamus
Linguistik menyebutkan kode sebagai lambang atau sistem ungkapan yang dipakai
untuk menggambarkan makna tertentu. Bahasa manusia adalah sejenis kode. Sistem
bahasa dalam suatu masyarakat atau boleh juga variasi tertentu dalam suatu
bahasa (Harimurti, 1982: 87). Sementara itu Suwito mendefinisikan istilah kode
dimaksudkan untuk menyebutkan salah satu varian di dalam hirarki
kebahasaan. Masing-masing varian
merupakan tingkat tertentu dalam hirarki kebahasaan dan semuanya tercakup dalam
kode. Sedangkan kode merupakan bagian dari bahasa (1983:67).
Jika orang menyebutkan cabang
lingistik yang mempelajari leksikon disebut leksikologi, maka
kata-kata/istilah-istilah linguistik, leksikon, dan leksikologi merupakan
kode-kode tertentu yang digunakan di kalangan/bidang bahasa. Dalam percakapan
sehari-hari kadang-kadang bahkan sering didengar orang bercakap dengan
mengganti kode bahasanya. Penggantian itu dapat disadari dapat pula tidak.
Akibatnya, mereka telah menyuguhkan arti kode yang bermacam-macam. Hal itu bisa
terjadi di masyarakat Indonesia yang majemuk. Terutama pada masyarakat yang
menguasai lebih dari satu bahasa (bilingual dan multilingual). Pada masyarakat
tertentu peralihan kode tampak kentara sekali. Termasuk di sini masyarakat
Jawa.
Alih kode adalah peristiwa peralihan
kode yang satu ke kode yang lain. Timbulnya alih kode karena faktor kompenen
bahasa yang bermacam-macam. Sebab-sebab timbulnya alih kode menurut Soepomo
(1978: 21-22) antara lain berikut ini.
(1) Suasana hati pembicara pertama yang
tiba-tiba berganti.
(2) Ada pembicara lain yang tiba-tiba muncul.
(3) Suasana pembicaraan yang berganti.
(4) Adanya pengaruh dari pokok pembicaraan
yang lain.
(5) Adanya suatu kenyataan bahwa pembicara
pertama tidak begitu menguasai kode yang tengah dipakai nya.
(6) Adanya pengaruh kalimat-kalimat atau kode
yang baru saja terucapkan dan macamnya lain dengan kodenya semula.
Alih kode ada yang bersifat sementara
dan ada pula yang bersifat permanen (selamanya). Alih kode bisa terjadi
antarbahasa, antarvarian, antarregister, atau antargaya. Apabila alih kode itu
terjadi antar bahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa nasional. Antara dialek
dalam satu dialek, alih kode seperti itu disebut alih kode interen. Alih kode
yang terjadi antarbahasa asli dengan bahasa asing disebut alih kode eksteren.
Di samping alih kode kita mengenal
campur kode. Antara keduanya harus dibedakan. Alih kode melibatkan peralihan
kalimat. Sedangkan campur kode hanya ditandai oleh pemakaian kata-kata dari
lain kode. Soepomo (1978:33) menyebutkan
campur kode ini dengan pinjam leksikon. Campur kode digunakan untuk
menyebutkian aspek lain dari saling ketergantungan bahasa dalam masyarakat.
Campur kode timbul karena seseorang memiliki lebih dari satu bahasa. Latar
belakang terjadinya campur kode berdasarkan atas latar belakang sikap dan
kebahasaan yang saling bergantung. Kesalinggantungan ini menimbulkan adanya
campur kode. Untuk lebih memperjelas perbedaan alih kode dengan campur kode bisa
dilihat contoh-contoh di bawah ini.
Contoh Alih Kode
Pelawak : Kamu itu diberi tahu kok malah “emoh-emoh
rupane medeni”, itu gimana? Wong ki nek rung pengalaman, ya, ta ngono kuwi.
Sudah sekarang gini, kalo dengan saya, gimana?
Padanan
alih kodenya
Emoh-emoh “tidak mau-tidak mau”
rupane ‘rupanya’, medeni “menakutkan”,
wong ‘ orang’ ki ‘itu’, nek ‘kalau’ pengalaman ‘oengalaman’ ngono ‘ begitu’
kuwi ‘itu’, dan rung ‘belum’
A : Mas,
Mas, saya ikut,ya ?
B : Tidak,
tidak, tidak boleh ikut. Wong iki keperluane penting. Sudah di rumah saja kamu!
Aja melu, yo ?!
Padanan
Alih Kodenya
Wong ‘orang’, iki, ‘ini’, keperluane
‘keperluannya’ aja ‘jangan’, melu ‘ ikut, dan yo ‘ya’.
Contoh
campur Kode
A :Wah, piye? Semalam saya tunggu-tunggu
kok tidak datang? Katanya mau datang jam 9.00.
B :Soale, begini. Saya sebenarnya mau
datang meriki. Sepeda motor saya rusak. Jadi kowe menghadiri rapat jam pinten?
A :Sampai jam 9.15 kamu tidak datang lantas
tak tinggal. Lha ulemane jam 9.00 kok.
Padanan
Campur Kodenya
Piye ‘bagaimana’, soale ‘soalnya,
meriki ‘kemari, kowe ‘kamu, pinten ‘berapa, tak ‘saya’, dan ulemane ‘acaranya’
(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar