Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (27)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi

Darmanto Yatman (4)


Subagio S.Waluyo

Ragam Sapaan


Ragam rapaan memegang peranan penting dalam masyarakat. Dalam pergaulan pertama-tama yang dilakukan seseorang kalau berjumpa dengan sesamanya adalah dengan menyapanya. Kalau hendak menyapa seseorang tentu orang tersebut menyebutkan nama kecil orang tersebut atau jawaban yang dipegang oleh orang tersebut. Bentuk sapaan digunakan untuk menyapa ganti orang kedua. Sapaan merupakan panggilan seseorang, dengan menambahkan suatu nama di depan nama orang itu. Kata sapaan erat hubungannya dengan kata ganti orang. Sapaan diletakkan di depan nama yang sebenarnya. Dalam penyapaan tidak perlu menyebutkan nama  yang seharusnya, cukup kependekannya saja.
Sapaan menurut Harimurti adalah morfem, kata, atau frasa yang dipergunakan untuk saling merujuk dalam sitasi yang berbeda-beda menurut sifat hubungan antara pembicara itu (1982:47). Dalam menyapa juga harus memperhaitkan beberapa segi, yaitu 1) Terhadap siapa saja orang menyapa. Apakah itu bersifat kekeluargaan atau hanya singkat saja. 2) Dalam situasi yang bagaimana. Apakah dalam situasi santai atau resmi. 3) Apa yang akan dibicarakan.4) Lawan bicara orang itu pria atau wanita. 5) Pendidikannya.

Di atas sudah dijelaskan bahwa bentuk sapaan dipakai untuk menyapa kata ganti orang kedua. Dalam bahasa Indonesia kata sapaan untuk orang kedua bermacam-macam. Ada engkau, kamu, anda, saudara, bapak, ibu, mas, adik, dan sapaan untuk sapaan utnuk peristiwa-peristiwa resmi adalah saudara atau bapak. Dalam prakteknya sehari-hari orang kedua laki-laki disapa dengan bapak atau ibu kalau wanita karena perbedaan latar belakang sosial.
Berkaitan dengan latar belakang sosial, orang Jawa pada saat menyapa orang yang akan diajak berbicara sangat pada contoh percakapan di bawah ini.
A       :         Penjenengan badhe tindak pundi?
B       :         Kulo badhe dateng Yojo (Yogya).
                   Menawi panjenengan badhe tindak pundi?
A       :         Kulo ugi badhe meriko.

Terjemahannya

A       :         Saudara mau pergi ke mana?
B       :         Saya mau ke Yogya. Kalau Saudara mau kemana?
A       :         Saya juga mau ke sana.

Percakapan di atas adalah percakapan dua orang yang belum saling mengenal. Karena itu mereka mempergunakan bahasa Jawa Kromo. Namun, apabila sudah saling mengenal dan secara kebetulan mereka sederajat, baik dari segi usia, pendidikan, maupun jabatan, percakapan tersebut tidaklah berbunyi demikian. Cobalah diperhatikan percakapan dua orang pemuda yang sudah saling mengenal di bawah ini.

Agus           : Yon, le arep mangkat Jakarta kapan?
Yono          :  Aku arep mangkat sesok. Kowe arep melu ora?
Agus           : Ora. Aku ora melu. Aku ora duwe duit.

Terjemahannya

Agus           : Yon, berangkat ke Jakarta kapan?
Yono           :  Saya mau berangkat besok. Kamu mau ikut, tidak?
Agus           : Tidak. Saya tidak ikut. Saya tidak punya uang.

Jelas sekali ada perbedaan dalam penyapaan antara percakapan pertama dan kedua. Pada percakapan pertama untuk mengucapkan kata ganti orang pertama dengan “kulo” dan kata ganti orang kedua dengan “panjenengan”, sebaliknya pada percakapan kedua menggunakan ‘aku’ dan ‘kowe’.
Orang Jawa pada saat menyapa sangat memperhatikan segi-segi yang saya jelaskan. Apabila seseorang menyapa orang lain (kebetulan kedua duanya juga orang Jawa) tidak memperhatikan segi-segi tersebut, ia akan mudah dituduh sebagai orang yang tidak tahu tata krama. Meskipun sudah saling mengenal sangat pantangan sekali seseorang menyapa orang yang lebih tua dengan kata kowe. Agaknya dalam hal penyapaan, bahasa Indonesia telah terpengaruh oleh unda usuk bahasa Jawa. Sebagai bukti seorang anak tidak akan menyapa orang tuanya dengan `kamu` atau `anda` seperti orang Amerika `You`. Untuk itu sia-sia saja jika ada orang yang ingin mempopulerkan kata `anda` dan `saudara` sebagai ganti sapaan untuk bapak dan ibu. MPRS juga pernah mengeluarkan keputusan untuk mempergunakan perkataan `saudara` kepada setiap pejabat termasuk presiden. Namun, keputusan itu tinggal keputusan saja nyatakan sampai saat ini belum juga dijalankan sebagaimana mestinya.

Penyebab ketidakjalanan pemakaian kedua kata itu karena adanya rasa bahasa. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa ini mempunyai sifat-sifat yang khas, yaitu berupa beragamnya kata ganti orang kedua, seperti ‘tuan’,’saudara’, ‘bapak’, ibu,’engkau’, dan ‘kamu’. Untuk itu tidaklah aneh jika Amir Macmud selaku Ketua Umum DPR/MPR (di masa Orde Baru dulu) perlu minta izin dulu untuk menyapa presiden dengan perkataan “saudara”. Kenyataan yang dihadapi saat ini perkataan ‘anda’ dan ‘saudara’ umumnya dipakai untuk orang-orang yang disegani tetapi belum begitu akrab. Setiap orang di negeri ini pun sering mempergunakan kata ‘beliau’ sebagai pengganti ‘ia/dia’ kepada orang-orang yang kita segani.

Ragam sapaan sebagai bagian dari pembicaraan variasi bahasa memiliki beberapa jenis, di antaranya  ragam sapaan beku, ragam sapaan formal/ resmi, ragam sapaan usaha, ragam sapaan santai, dan ragam sapaan akrab. Penjelasan dan contoh-contoh masing-masing ragam sapaan tersebut dapat dilihat berikut ini.

(1)      Ragam Sapaan Beku

Ragam sapaan paling resmi yang dipergunakan dalam situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi. Ragam ini sudah jarang digunakan kecuali dalam bentuk tertulis yang terdapat dalam dokumen-dokumen penting.
Contoh :     

-1.Paduka Yang Mulia Bapak Presiden dipersilahkan meninggalkan tempat upacara.
2.Mohon ampun Mahapatih, Patik benar-benar tidak bersalah.
3.Ya, Tuhanku maafkanlah segala dosa-dosa hambaMU ini!
4.Paduka raja sri baginda yang kami muliakan.

(2)      Ragam Sapaan Formal/Resmi

Ragam ini biada dipakai dalam pidato-pidato resmi, rapat dinas, dan rapat pimpinan suatu badan/perusahaan. Ragam sapaan ini banyak dipakai dalam suasana resmi yang dihadiri oleh orang-orang yang memiliki jabatan, pangkat,atau orang-orang terhormat.
Contoh  :    
1. Bapak Direktur Jenderal Kebudayaan
    Bapak Direktur Jenderal Pendidikan serta hadirin yang kamu muliakan
2. Pertama-tama perkenankanlah kami mengucakpkan selamat datang dan menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kehadiran Bapak-bapak, Ibu-Ibu, dan Saudara-saudara pagi ini.
3. Yang terhormat Bapak Lurah Tebet Timur
    Yang terhormat Bapak RW 09 Tebet Timur
    Yang terhormat Bapak-bapak Ketua RT Serta hadirin dan hadirat  yang kami muliakan
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

(3)      Ragam Sapaan Usaha

Ragam ini dipergunakan oleh seseorang untuk membujuk orang yang disapanya agar menurut kehendaknya. Suasana yang digunakan tidak dalam keadaan formal/resmi, namun memerlukan keseriusan bagi kedua belah pihak.
Contoh :     

1. Barangnye si belon saye bawa, tapi ini gambarnye ude cukup jelas. Ukurannya age, harganye ade, termasuk modelnye. Pokoknya asal bu ude liat gambarnye, pasti de ngiler!
2. Eh Mat, kalu tuker tambe gimana? Bisa enggal? Kan gue jadi ringanan
3. Bang, tolong iketin rambutannye lima, bang sekalian itung de semuenye berape.
4. Selamat Pagi. Tante! Kami dari Unilever ingin menawarkan barnag-barang keluaran kami untuk kebutuhan rumah tangga yang mungkin dibutuhkan Tante!
5. Socrates selalu menganjurkan:”Kenalilah Diri Anda” Tetapi ia lupa menerangkan bagaimana caranya. Kini kami persembahkan kehadapan Anda. MAJALAH PSIKOLOGI POPULER ANDA!

(4)      Ragam Sapaan Santai

Ragam sapaan ini digunakan antarteman pada saat berbincang-bincang dalam suasana santai dan usianya sebaya.
Contoh :     

1.Hai, Friend ! Kemana aje luh enggak tau keliatan. Ape ude Joker (Kerja) luh?
2. Bek….tambah gemuk saja, sekarang kerja dimana kowe?
3. Heh Wani…. Itu kok ade yang anterin tv warna. Lu yang pesen ya?
4. Entar sore deh lu bawa barangnye kemari, bisa enggak?

(5)      Ragam Sapaan Akrab

Ragam ini bisa digunakan antar teman/keluarga pada saat terjadi pembicaraan yang serius dan penuh dengan suasana keakraban.

Contoh :     
1.Bang….disini aje ye, bang ye? Udah enggak keliatan orang. Malu di sana bang!
2.Aaah…….gampang! Gue kan tau, gaji pegawai bakalan naek. Masa ‘ kite enggak mampu bayar cicilan?
3.Henny, maafkanlah abang. Sungguh mati abang tidak bermaksud melukai hatimu.
4.Duhai pahlawanku, kau adalah benar-benar kekasihku. Laksanakanlah tugasmu di medan juang. Kukan sabar menantimu, kasih!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...