Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (4)
Subagio
S.Waluyo
Ragam Sapaan
Ragam rapaan memegang peranan penting
dalam masyarakat. Dalam pergaulan pertama-tama yang dilakukan seseorang kalau berjumpa
dengan sesamanya adalah dengan menyapanya. Kalau hendak menyapa seseorang tentu
orang tersebut menyebutkan nama kecil orang tersebut atau jawaban yang dipegang
oleh orang tersebut. Bentuk sapaan digunakan untuk menyapa ganti orang kedua.
Sapaan merupakan panggilan seseorang, dengan menambahkan suatu nama di depan
nama orang itu. Kata sapaan erat hubungannya dengan kata ganti orang. Sapaan diletakkan
di depan nama yang sebenarnya. Dalam penyapaan tidak perlu menyebutkan
nama yang seharusnya, cukup
kependekannya saja.
Sapaan menurut Harimurti adalah
morfem, kata, atau frasa yang dipergunakan untuk saling merujuk dalam sitasi
yang berbeda-beda menurut sifat hubungan antara pembicara itu (1982:47). Dalam
menyapa juga harus memperhaitkan beberapa segi, yaitu 1) Terhadap siapa saja orang
menyapa. Apakah itu bersifat kekeluargaan atau hanya singkat saja. 2) Dalam
situasi yang bagaimana. Apakah dalam situasi santai atau resmi. 3) Apa yang
akan dibicarakan.4) Lawan bicara orang itu pria atau wanita. 5) Pendidikannya.
Di atas sudah dijelaskan bahwa bentuk
sapaan dipakai untuk menyapa kata ganti orang kedua. Dalam bahasa Indonesia
kata sapaan untuk orang kedua bermacam-macam. Ada engkau, kamu, anda, saudara,
bapak, ibu, mas, adik, dan sapaan untuk sapaan utnuk peristiwa-peristiwa resmi
adalah saudara atau bapak. Dalam prakteknya sehari-hari orang kedua laki-laki
disapa dengan bapak atau ibu kalau wanita karena perbedaan latar belakang
sosial.
Berkaitan dengan latar belakang
sosial, orang Jawa pada saat menyapa orang yang akan diajak berbicara sangat
pada contoh percakapan di bawah ini.
A
: Penjenengan
badhe tindak pundi?
B
: Kulo
badhe dateng Yojo (Yogya).
Menawi panjenengan badhe
tindak pundi?
A
: Kulo
ugi badhe meriko.
Terjemahannya
A
: Saudara
mau pergi ke mana?
B
: Saya
mau ke Yogya. Kalau Saudara mau kemana?
A
: Saya
juga mau ke sana.
Percakapan di atas adalah percakapan
dua orang yang belum saling mengenal. Karena itu mereka mempergunakan bahasa
Jawa Kromo. Namun, apabila sudah saling mengenal dan secara kebetulan mereka
sederajat, baik dari segi usia, pendidikan, maupun jabatan, percakapan tersebut
tidaklah berbunyi demikian. Cobalah diperhatikan percakapan dua orang pemuda
yang sudah saling mengenal di bawah ini.
Agus
: Yon, le arep mangkat Jakarta
kapan?
Yono
: Aku arep mangkat sesok. Kowe arep melu ora?
Agus
: Ora. Aku ora melu. Aku ora
duwe duit.
Terjemahannya
Agus
: Yon, berangkat ke Jakarta
kapan?
Yono
:
Saya mau berangkat besok. Kamu mau ikut,
tidak?
Agus
: Tidak. Saya tidak ikut. Saya
tidak punya uang.
Jelas sekali ada perbedaan dalam
penyapaan antara percakapan pertama dan kedua. Pada percakapan pertama untuk
mengucapkan kata ganti orang pertama dengan “kulo” dan kata ganti orang kedua
dengan “panjenengan”, sebaliknya pada percakapan kedua menggunakan ‘aku’ dan
‘kowe’.
Orang Jawa pada saat menyapa sangat
memperhatikan segi-segi yang saya jelaskan. Apabila seseorang menyapa orang
lain (kebetulan kedua duanya juga orang Jawa) tidak memperhatikan segi-segi
tersebut, ia akan mudah dituduh sebagai orang yang tidak tahu tata krama.
Meskipun sudah saling mengenal sangat pantangan sekali seseorang menyapa orang
yang lebih tua dengan kata kowe. Agaknya dalam hal penyapaan, bahasa Indonesia
telah terpengaruh oleh unda usuk
bahasa Jawa. Sebagai bukti seorang anak tidak akan menyapa orang tuanya dengan `kamu`
atau `anda` seperti orang Amerika `You`. Untuk itu sia-sia saja jika ada orang
yang ingin mempopulerkan kata `anda` dan `saudara` sebagai ganti sapaan untuk
bapak dan ibu. MPRS juga pernah mengeluarkan keputusan untuk mempergunakan
perkataan `saudara` kepada setiap pejabat termasuk presiden. Namun, keputusan
itu tinggal keputusan saja nyatakan sampai saat ini belum juga dijalankan
sebagaimana mestinya.
Penyebab ketidakjalanan pemakaian
kedua kata itu karena adanya rasa bahasa. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Melayu. Bahasa ini mempunyai sifat-sifat yang khas, yaitu berupa beragamnya
kata ganti orang kedua, seperti ‘tuan’,’saudara’, ‘bapak’, ibu,’engkau’, dan ‘kamu’.
Untuk itu tidaklah aneh jika Amir Macmud selaku Ketua Umum DPR/MPR (di masa
Orde Baru dulu) perlu minta izin dulu untuk menyapa presiden dengan perkataan
“saudara”. Kenyataan yang dihadapi saat ini perkataan ‘anda’ dan ‘saudara’
umumnya dipakai untuk orang-orang yang disegani tetapi belum begitu akrab. Setiap
orang di negeri ini pun sering mempergunakan kata ‘beliau’ sebagai pengganti
‘ia/dia’ kepada orang-orang yang kita segani.
Ragam sapaan sebagai bagian dari
pembicaraan variasi bahasa memiliki beberapa jenis, di antaranya ragam sapaan beku, ragam sapaan formal/ resmi,
ragam sapaan usaha, ragam sapaan santai, dan ragam sapaan akrab. Penjelasan dan
contoh-contoh masing-masing ragam sapaan tersebut dapat dilihat berikut ini.
(1) Ragam
Sapaan Beku
Ragam sapaan paling resmi yang
dipergunakan dalam situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi. Ragam ini
sudah jarang digunakan kecuali dalam bentuk tertulis yang terdapat dalam
dokumen-dokumen penting.
Contoh :
-1.Paduka Yang
Mulia Bapak Presiden dipersilahkan meninggalkan tempat upacara.
2.Mohon ampun
Mahapatih, Patik benar-benar tidak bersalah.
3.Ya, Tuhanku
maafkanlah segala dosa-dosa hambaMU ini!
4.Paduka raja
sri baginda yang kami muliakan.
(2) Ragam
Sapaan Formal/Resmi
Ragam ini biada dipakai dalam
pidato-pidato resmi, rapat dinas, dan rapat pimpinan suatu badan/perusahaan.
Ragam sapaan ini banyak dipakai dalam suasana resmi yang dihadiri oleh
orang-orang yang memiliki jabatan, pangkat,atau orang-orang terhormat.
Contoh :
1. Bapak
Direktur Jenderal Kebudayaan
Bapak Direktur Jenderal Pendidikan serta
hadirin yang kamu muliakan
2. Pertama-tama
perkenankanlah kami mengucakpkan selamat datang dan menyatakan penghargaan yang
setinggi-tingginya atas kehadiran Bapak-bapak, Ibu-Ibu, dan Saudara-saudara
pagi ini.
3. Yang
terhormat Bapak Lurah Tebet Timur
Yang terhormat Bapak RW 09 Tebet Timur
Yang terhormat Bapak-bapak Ketua RT Serta
hadirin dan hadirat yang kami muliakan
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh!
(3) Ragam Sapaan Usaha
Ragam ini dipergunakan oleh seseorang
untuk membujuk orang yang disapanya agar menurut kehendaknya. Suasana yang
digunakan tidak dalam keadaan formal/resmi, namun memerlukan keseriusan bagi
kedua belah pihak.
Contoh :
1. Barangnye
si belon saye bawa, tapi ini gambarnye ude cukup jelas. Ukurannya age, harganye
ade, termasuk modelnye. Pokoknya asal bu ude liat gambarnye, pasti de ngiler!
2. Eh Mat,
kalu tuker tambe gimana? Bisa enggal? Kan gue jadi ringanan
3. Bang,
tolong iketin rambutannye lima, bang sekalian itung de semuenye berape.
4. Selamat
Pagi. Tante! Kami dari Unilever ingin menawarkan barnag-barang keluaran kami
untuk kebutuhan rumah tangga yang mungkin dibutuhkan Tante!
5. Socrates
selalu menganjurkan:”Kenalilah Diri Anda” Tetapi ia lupa menerangkan bagaimana
caranya. Kini kami persembahkan kehadapan Anda. MAJALAH PSIKOLOGI POPULER ANDA!
(4) Ragam Sapaan Santai
Ragam sapaan ini digunakan antarteman
pada saat berbincang-bincang dalam suasana santai dan usianya sebaya.
Contoh :
1.Hai, Friend
! Kemana aje luh enggak tau keliatan. Ape ude Joker (Kerja) luh?
2. Bek….tambah
gemuk saja, sekarang kerja dimana kowe?
3. Heh Wani….
Itu kok ade yang anterin tv warna. Lu yang pesen ya?
4. Entar sore
deh lu bawa barangnye kemari, bisa enggak?
(5) Ragam
Sapaan Akrab
Ragam ini bisa digunakan antar
teman/keluarga pada saat terjadi pembicaraan yang serius dan penuh dengan
suasana keakraban.
Contoh
:
1.Bang….disini
aje ye, bang ye? Udah enggak keliatan orang. Malu di sana bang!
2.Aaah…….gampang!
Gue kan tau, gaji pegawai bakalan naek. Masa ‘ kite enggak mampu bayar cicilan?
3.Henny,
maafkanlah abang. Sungguh mati abang tidak bermaksud melukai hatimu.
4.Duhai
pahlawanku, kau adalah benar-benar kekasihku. Laksanakanlah tugasmu di medan
juang. Kukan sabar menantimu, kasih!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar