Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (28)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (5)

Subagio S.Waluyo

Dalam puisi-puisi Darmanto saya menemukan ada tiga jenis ragam sapaan. Ketiga jenis ragam sapaan itu adalah seperti terurai berikut ini.

Ragam sapaan Formal/Resmi
Karenanya, kepada Bapak Presiden, yang telah mengangkat Bapak Menteri Pe dan Ka, yang micara lagi pinter, kami mengucapkan “sanget-sanget nuwun”,
Kepada Bapak Menteri yang telah ikhlas mengangkat Bapak Rektor Universitas Diponegoro di Semarang yang pinter lagi trampil, kami mengucapkan “Nuwun nuwun, sanget”
Kepada Bapak Rektor Universitas Diponegoro, yang telah mengangkat Bapak Dosen yang trampil lagi trengginas kami mengucapkan “nuwun”,
Kepada Bapak Dosen yang trengganis lagi ekhlas menghabiskan waktu dan tenaga serta harta untuk  menyelidiki kehidupan kami, kami mengucapkan “Nuw..”
Dan tentu saja kepada para mahasiswa, pemuda harapan bangsa, tumpuan harapan kami, yang telah dengan ikhlas dan greget meninggalkan kampus mereka yang rapih, perpustakaan yang bersih, kelas kelas yang tertib, asrama yang asri, bioskop, disko, rumah bola serta toko-toko serba ada untuk berada bersama kami, kami ucapkan “Sanget sanget nuwun, dan nuwun sanget”.

Ragam sapaan di atas berlaku di tempat-tempat resmi atau pada acara-acara resmi, seperti pidato. Karena itu merupakan pidato sudah selayaknya kalau kata ganti orang pertama tidak diucapkan saya atau aku. Melainkan kami. Agaknya pemakaian kata kami di samping menunjukkan kata ganti orang pertama jamak, juga menunjukkan tingkat kesopanan. Pemakaian kata ganti orang pertama kami agaknya terasa lebih sopan daripada saya pada suasana-suasana resmi/formal.

Dalam hal penyapaan untuk orang kedua dan ketiga, penyair masih mempertahankan pemakaian kata bapak di depan nama jabatannya. Sebagai contoh di sini Bapak Presiden, Bapak Menteri, bapak rektor, dan Bapak Dosen. Namun, kepada para mahasiswa yang berKKN, cukup dengan para mahasiswabukan dengan Saudara-saudara atau adik-adik mahasiswa. Meskipun untuk semua jabatan itu diberikan embel-embel, agaknya embel-embel atau gelar-gelar tambahan itu lebih ditekankan untuk kepentingan dirinya agar orang bisa menilai siapa dia, apa pekerjaannya, apa jabatannya, dan bagaimana kedudukannya dalam masyarakat. Sapaan di atas lahir dari seseorang yang merasa jabatannya lebih rendah dari yang disapa. Merasa latar belakang sosialnya (pendidikan, jabatan, kedudukan, dan lingkungan tempat tinggal) berada jauh sehingga terciptalah sapaan yang melebih-lebihkan. Sapaan tersebut masih banyak dijumpai, bahkan semakin berkembang tingkat pemakaiannya.

Ragam Sapaan Usaha

-lha ini memang lain dengan Atmo dan Mas
Ia selalu bilang “tidak” kepada siapa saja
Digereja Sawo Kembar, sepasar sebelum Karto kawin, pada hari Selasa Wage, dimuka altar gereja, Pendeta Probo bertanya kepada Atmo den Mas:
Apakah saudara akan menerima den Ayu tuku niki sebagai isteri  saudara dalam suka dan duka?
Hanya satu kata keluar dari mulut Atmo den Mas:
-Boten!
Seluruh gereja gemrenggeng oleh gaung suaranya:
Boten, boten, boten
Meniku takkan membaptis den ayu jadi santu!
Lha wong ia yang menantangku waktu ketemu diledok Tukangan tiga bulan yang lalu.
Dibordil madam Tururiki ia berseru:
-Hayo. Sebutkan siapa namamu!
Jangan sampai pada puncak ekstaseku
Kusebut-sebut nama yang keliru.

Pada bait puisi di atas kita jumpai seorang pendeta yang menyapa calon mempelai laki-laki dengan sapaan Saudara. Sapaan itu biasanya dipakai di kalangan pembicara yang seusia (sebaya) atau boleh juga yang memiliki latar belakang sosial yang tidak jauh berbeda. Sebaliknya, sang pendeta (meskipun dari segi usia maupun latar belakangnya jauh berbeda dengan umatnya) ingin agar suasananya lebih akrab antara ia dan umatnya, walaupun sebenarnya acara tersebut termasuk resmi. Sapaan itu agak sopan meskipun tidak terlalu menghormati. Rasanya akan berbai lain jika ia menyapanya dengan adik atau bapak. Dengan menyapa adik ia akan merasa lebih tua dan menciptakan jarak antara ia dan umatnya. Sebaliknya dengan menyapa bapak ia akan merasa lebih menghormati sedangkan selama ini ia orang yang dihormati oleh umatnya.

Khusus kepada kaum wanita ia menyapanya dengan Den Ayu. Suatu sapaan yang berbai agak menghormati. Kebalikan dengan sapaan terhadap mempelai laki-laki. Bisa saja ia menyapanya dengan saudara Tukuniki. Namun, ia akan dinilai oleh orang lain sebagai orang yang tidak tahu tata krama. Karena kaum wanita itu harus dihormati adalah wajar apabila ia  menyapanya dengan Den Ayu Tukuniki. Suatu penyapaan yang bisa menggugah  hati orang agaknya diperlukan juga bagi pendeta. Sama halnya pedagang dengan pembeli. Karena pedagang berpedoman bahwa setiap pembeli adalah raja, ia menghormati dan melayani setiap pembeli meskipun sang calon pembeli hanya melihat-lihat saja. Apabila kalau sang calon pembeli itu tampaknya orang yang beruang, ia akan lebih menghormati lagi. Bagi pendeta sikap menghormati mempunyai tujuan tertentu. Ia tidak membagi jarak antara dirinya dan umatnya. Ia menginginkan suasana keakraban yang bisa mendekatkan dirinya dengan umatnya. Ia menginginkan suasana keakraban yang layak seperti antara anak dengan orang tuanya, meskipun latar belakang yang jauh berbeda.

Ragam Sapaan Akrab

Pada puisi-puisi Darmanto kali ini agaknya pemakaian ragam sapaan akrab dominan sekali. Untuk itu saya sengaja mengambil beberapa baik puisi dan sedikit penjelasannya.

……………………
Jeng,
Hari ini, sudah lebih dupuluh tahun aku menulis
Sajak sejak aku menulis Perahu Layar di Remaja Nasional Yogya, 28 Juli 1959:

Kembang Layar, kembang
Sibak air, ukur wajah laut
Kembang layar, kembang
Tabur angin, renangi langit

Pada nelayan aku berteriak lantang:
Ai abang, abang
Pasang layar abang, pasang layar!

Sapaan Jeng untuk wanita sebenarnya hanya berlaku di kalangan kraton. Namun, lama-lama sapaan itu rupanya dipakai juga di kalangan masyarakat luas. Sapaan tersebut digunakan untuk menyapa seorang wanita yang memiliki kedudukan terhormat, usianya lebih muda dari yang menyapa (penyapa), artinya dengan adik dalam bahasa Indonesia. Sapaan ini tidak ada hubunghannya dengan gelar raden ajeng. Pemakaian sapaan ini hanya berlaku dalam suasana akrab bisa juga santai. Bergantung kepada situasinya.
Pada bait diatas si ‘aku’ sengaja menyapa (entah kekasihnya atau isterinya) dengan Jeng karena ia merasa lebih tua di samping ia ingin menghormati tentunya. Terasa berbeda sekali jika ia menyapanya dengan adikku meskipun memiliki arti yang sama. Tentu saja dalam hal ini berkaitan erat dengan rasa bahasa.

Kepada nelayan si ‘aku’ menyapanya dengan sapaan abang. Dalam bahasa Melayu dialek Jakarta berarti kakak. Namun, sapaan abang belum tentu berarti kakak karena pada perkembangan selanjutnya bisa saja seorang kakek menyapa tukang becak dengan abang. Agaknya pemakaian sapaan abang dipergunakan untuk orang-orang yang mencari nafkah (lelaki) dengan menjual barang atau jasa.

Bait puisi di bawah ini juga lebih menunjukkan keakraban antara kakak dan adik dalam penyapaan. Namun tidak seperti di atas. Di sini si kakak cukup menyapa adiknya dengan kau, adikku, dan nama diri (panggilan nama si adik). Sedangkan utnuk sapaan kata ganti orang pertama cukup dengan aku dan kita. Kemungkinan antara penyapa dengan yang disapa memiliki latar belakang yang sama atau untuk lebih menunjukkan keakraban?

Begitulah kau berangkat kekota “suwita” dan aku beserta mbakyumu, bini hadiah transmigrasi, ikut bedol desa pak lurah Giri tantra.
Sungguh mati, akupun rela, karena aku percaya suatu hari kita akan dipertemukan
Karena bukankah upaya terakhir seorang transmigran adalah membangun kota yang reja, yang sejak lama menjadi idaman batinmu.
Dan sekarang aku didapuk jadi Bima, membabat hutan wanamarta Kalimantan
Tapi hanya mbakyumu Prihati yang tahu dan menyimpan dalam hati, betapa hari demi hari, tenagaku menyusut oleh disentri, dan semangatku nglumpruk oleh janji-janji yang tak terpenuhi
Dan sekarang,
Bagaimanakah kehidupanmu adikku?
……………………………
…………………..
 (“Surat dari Soma Transmigran untuk Saudaranya Mangunkarsa”)

Pada puisi “Anak” ada sapaan sang ayah kepada anaknya. Sapaan tersebut bersifat akrab. Di sini sang ayah menyapa anaknya dengan memberi gelar-gelar tertentu yang seolah-olah manunjukkan bahwa ia cinta akan anaknya dan menginginkan adanya keakraban antara ia dan anaknya. Silakan dilihat bait puisi di bawah ini.
0. Anak. Anakku ngger
Tangismu lebih merdu dari suluk muluk kidalang Jemblung
Lebih laras dari tembang tembangnya nyai bei Maduraras
Lebih gandem dari uyon-uyonnya kiyai Gandes Luwes
Marilah ngger, kuajar ngeja nama baptismu dalam aksara hanacaraka



(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...