Variasi-Variasi
Bahasa Puisi
Darmanto
Yatman (5)
Subagio
S.Waluyo
Dalam puisi-puisi Darmanto saya
menemukan ada tiga jenis ragam sapaan. Ketiga jenis ragam sapaan itu adalah seperti
terurai berikut ini.
Ragam
sapaan Formal/Resmi
Karenanya,
kepada Bapak Presiden, yang telah mengangkat Bapak Menteri Pe dan Ka, yang
micara lagi pinter, kami mengucapkan “sanget-sanget nuwun”,
Kepada Bapak
Menteri yang telah ikhlas mengangkat Bapak Rektor Universitas Diponegoro di
Semarang yang pinter lagi trampil, kami mengucapkan “Nuwun nuwun, sanget”
Kepada Bapak
Rektor Universitas Diponegoro, yang telah mengangkat Bapak Dosen yang trampil
lagi trengginas kami mengucapkan “nuwun”,
Kepada Bapak
Dosen yang trengganis lagi ekhlas menghabiskan waktu dan tenaga serta harta
untuk menyelidiki kehidupan kami, kami
mengucapkan “Nuw..”
Dan tentu saja
kepada para mahasiswa, pemuda harapan bangsa, tumpuan harapan kami, yang telah
dengan ikhlas dan greget meninggalkan kampus mereka yang rapih, perpustakaan
yang bersih, kelas kelas yang tertib, asrama yang asri, bioskop, disko, rumah
bola serta toko-toko serba ada untuk berada bersama kami, kami ucapkan “Sanget
sanget nuwun, dan nuwun sanget”.
Ragam sapaan di atas berlaku di
tempat-tempat resmi atau pada acara-acara resmi, seperti pidato. Karena itu
merupakan pidato sudah selayaknya kalau kata ganti orang pertama tidak
diucapkan saya atau aku. Melainkan kami. Agaknya pemakaian kata kami di samping
menunjukkan kata ganti orang pertama jamak, juga menunjukkan tingkat kesopanan.
Pemakaian kata ganti orang pertama kami agaknya terasa lebih sopan daripada
saya pada suasana-suasana resmi/formal.
Dalam hal penyapaan untuk orang kedua
dan ketiga, penyair masih mempertahankan pemakaian kata bapak di depan nama
jabatannya. Sebagai contoh di sini Bapak Presiden, Bapak Menteri, bapak rektor,
dan Bapak Dosen. Namun, kepada para mahasiswa yang berKKN, cukup dengan para
mahasiswabukan dengan Saudara-saudara atau adik-adik mahasiswa. Meskipun untuk
semua jabatan itu diberikan embel-embel, agaknya embel-embel atau gelar-gelar
tambahan itu lebih ditekankan untuk kepentingan dirinya agar orang bisa menilai
siapa dia, apa pekerjaannya, apa jabatannya, dan bagaimana kedudukannya dalam
masyarakat. Sapaan di atas lahir dari seseorang yang merasa jabatannya lebih
rendah dari yang disapa. Merasa latar belakang sosialnya (pendidikan, jabatan,
kedudukan, dan lingkungan tempat tinggal) berada jauh sehingga terciptalah
sapaan yang melebih-lebihkan. Sapaan tersebut masih banyak dijumpai, bahkan semakin
berkembang tingkat pemakaiannya.
Ragam
Sapaan Usaha
-lha ini
memang lain dengan Atmo dan Mas
Ia selalu
bilang “tidak” kepada siapa saja
Digereja Sawo
Kembar, sepasar sebelum Karto kawin, pada hari Selasa Wage, dimuka altar
gereja, Pendeta Probo bertanya kepada Atmo den Mas:
Apakah saudara
akan menerima den Ayu tuku niki sebagai isteri
saudara dalam suka dan duka?
Hanya satu
kata keluar dari mulut Atmo den Mas:
-Boten!
Seluruh gereja
gemrenggeng oleh gaung suaranya:
Boten, boten,
boten
Meniku takkan
membaptis den ayu jadi santu!
Lha wong ia
yang menantangku waktu ketemu diledok Tukangan tiga bulan yang lalu.
Dibordil madam
Tururiki ia berseru:
-Hayo.
Sebutkan siapa namamu!
Jangan sampai
pada puncak ekstaseku
Kusebut-sebut
nama yang keliru.
Pada bait puisi di atas kita jumpai
seorang pendeta yang menyapa calon mempelai laki-laki dengan sapaan Saudara.
Sapaan itu biasanya dipakai di kalangan pembicara yang seusia (sebaya) atau
boleh juga yang memiliki latar belakang sosial yang tidak jauh berbeda. Sebaliknya,
sang pendeta (meskipun dari segi usia maupun latar belakangnya jauh berbeda
dengan umatnya) ingin agar suasananya lebih akrab antara ia dan umatnya,
walaupun sebenarnya acara tersebut termasuk resmi. Sapaan itu agak sopan
meskipun tidak terlalu menghormati. Rasanya akan berbai lain jika ia menyapanya
dengan adik atau bapak. Dengan menyapa adik ia akan merasa lebih tua dan
menciptakan jarak antara ia dan umatnya. Sebaliknya dengan menyapa bapak ia
akan merasa lebih menghormati sedangkan selama ini ia orang yang dihormati oleh
umatnya.
Khusus kepada kaum wanita ia
menyapanya dengan Den Ayu. Suatu sapaan yang berbai agak menghormati. Kebalikan
dengan sapaan terhadap mempelai laki-laki. Bisa saja ia menyapanya dengan
saudara Tukuniki. Namun, ia akan dinilai oleh orang lain sebagai orang yang
tidak tahu tata krama. Karena kaum wanita itu harus dihormati adalah wajar
apabila ia menyapanya dengan Den Ayu
Tukuniki. Suatu penyapaan yang bisa menggugah
hati orang agaknya diperlukan juga bagi pendeta. Sama halnya pedagang
dengan pembeli. Karena pedagang berpedoman bahwa setiap pembeli adalah raja, ia
menghormati dan melayani setiap pembeli meskipun sang calon pembeli hanya
melihat-lihat saja. Apabila kalau sang calon pembeli itu tampaknya orang yang
beruang, ia akan lebih menghormati lagi. Bagi pendeta sikap menghormati
mempunyai tujuan tertentu. Ia tidak membagi jarak antara dirinya dan umatnya.
Ia menginginkan suasana keakraban yang bisa mendekatkan dirinya dengan umatnya.
Ia menginginkan suasana keakraban yang layak seperti antara anak dengan orang
tuanya, meskipun latar belakang yang jauh berbeda.
Ragam
Sapaan Akrab
Pada puisi-puisi Darmanto kali ini
agaknya pemakaian ragam sapaan akrab dominan sekali. Untuk itu saya sengaja
mengambil beberapa baik puisi dan sedikit penjelasannya.
……………………
Jeng,
Hari ini,
sudah lebih dupuluh tahun aku menulis
Sajak sejak
aku menulis Perahu Layar di Remaja Nasional Yogya, 28 Juli 1959:
Kembang Layar,
kembang
Sibak air,
ukur wajah laut
Kembang layar,
kembang
Tabur angin,
renangi langit
Pada nelayan
aku berteriak lantang:
Ai abang,
abang
Pasang layar
abang, pasang layar!
Sapaan Jeng untuk wanita sebenarnya
hanya berlaku di kalangan kraton. Namun, lama-lama sapaan itu rupanya dipakai
juga di kalangan masyarakat luas. Sapaan tersebut digunakan untuk menyapa
seorang wanita yang memiliki kedudukan terhormat, usianya lebih muda dari yang
menyapa (penyapa), artinya dengan adik dalam bahasa Indonesia. Sapaan ini tidak
ada hubunghannya dengan gelar raden ajeng. Pemakaian sapaan ini hanya berlaku
dalam suasana akrab bisa juga santai. Bergantung kepada situasinya.
Pada bait diatas si ‘aku’ sengaja
menyapa (entah kekasihnya atau isterinya) dengan Jeng karena ia merasa lebih
tua di samping ia ingin menghormati tentunya. Terasa berbeda sekali jika ia
menyapanya dengan adikku meskipun memiliki arti yang sama. Tentu saja dalam hal
ini berkaitan erat dengan rasa bahasa.
Kepada nelayan si ‘aku’ menyapanya
dengan sapaan abang. Dalam bahasa Melayu dialek Jakarta berarti kakak. Namun, sapaan
abang belum tentu berarti kakak karena pada perkembangan selanjutnya bisa saja
seorang kakek menyapa tukang becak dengan abang. Agaknya pemakaian sapaan abang
dipergunakan untuk orang-orang yang mencari nafkah (lelaki) dengan menjual
barang atau jasa.
Bait puisi di bawah ini juga lebih
menunjukkan keakraban antara kakak dan adik dalam penyapaan. Namun tidak
seperti di atas. Di sini si kakak cukup menyapa adiknya dengan kau, adikku, dan
nama diri (panggilan nama si adik). Sedangkan utnuk sapaan kata ganti orang
pertama cukup dengan aku dan kita. Kemungkinan antara penyapa dengan yang
disapa memiliki latar belakang yang sama atau untuk lebih menunjukkan
keakraban?
Begitulah kau
berangkat kekota “suwita” dan aku beserta mbakyumu, bini hadiah transmigrasi,
ikut bedol desa pak lurah Giri tantra.
Sungguh mati,
akupun rela, karena aku percaya suatu hari kita akan dipertemukan
Karena
bukankah upaya terakhir seorang transmigran adalah membangun kota yang reja,
yang sejak lama menjadi idaman batinmu.
Dan sekarang
aku didapuk jadi Bima, membabat hutan wanamarta Kalimantan
Tapi hanya
mbakyumu Prihati yang tahu dan menyimpan dalam hati, betapa hari demi hari,
tenagaku menyusut oleh disentri, dan semangatku nglumpruk oleh janji-janji yang
tak terpenuhi
Dan sekarang,
Bagaimanakah
kehidupanmu adikku?
……………………………
…………………..
(“Surat dari Soma Transmigran untuk Saudaranya
Mangunkarsa”)
Pada puisi “Anak” ada sapaan sang ayah
kepada anaknya. Sapaan tersebut bersifat akrab. Di sini sang ayah menyapa
anaknya dengan memberi gelar-gelar tertentu yang seolah-olah manunjukkan bahwa
ia cinta akan anaknya dan menginginkan adanya keakraban antara ia dan anaknya. Silakan
dilihat bait puisi di bawah ini.
0. Anak. Anakku ngger
Tangismu lebih
merdu dari suluk muluk kidalang Jemblung
Lebih laras
dari tembang tembangnya nyai bei Maduraras
Lebih gandem
dari uyon-uyonnya kiyai Gandes Luwes
Marilah ngger,
kuajar ngeja nama baptismu dalam aksara hanacaraka
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar