Variasi -Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (6)
Subagio S. Waluyo
Dalam
pengajaran bahasa Indonesia siswa sering bertanya kepada gurunya tentang
karya-karya sastra mutakhir yang tidak dimengertinya. Terutama bahasanya.
Termasuk di antaranya sejenis puisi-puisi mutakhir. Salah satu dari puisi-puisi
mutakhir yang banyak menyerap kata-kata bahasa daerah adalah puisi-puisi
DY yang tergabung dalam KIBM. Di samping itu
ditemukan pula dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG. Untuk jenis
karya prosa dapat dijumpai dalam Burung-burung Manyar karya Y.B.Mangunwijaya.
Khusus
untuk puisi-puisi Darmanto, bagi siswa yang baru pertama kali menemukan jenis
puisi seperti itu, ia akan bertanya-tanya puisi macam apa pula ini? Mengapa
bahasanya begini? Serentetan pertanyaan diajukan kepada gurunya karena guru
bahasa Indonesia-lah yang mengajarkan apresiasi sastra di sekolahnya. Guru
yang pengetahuan sosiolingistiknya kurang atau sama sekali tidak dibekali
dengan sosiolingistik, akan mudah saja mengatakan bahwa puisi tersebut merusak
bahasa; puisi tersebut menyimpang dari pengertian puisi yang telah ada selama
ini; puisi tersebut tidak pantas untuk dipelajari; dan masih banyak lagi
cap-cap buruk ditimpakan terhadap puisi tersebut. Sebaliknya seorang guru
yang dibekali pengetahuan sosiolingustiknya cukup akan
menghadapinya dengan penuh perhatian. Ia akan mencoba mempelajarinya dengan
membacanya berulang-ulang. Puisi-puisi yang semacam itu akan diamatinya secara
sosiolinguistik.
Guru-guru
bahasa Indonesia yang sampai saat ini masih saja mengajarkan apresiasi puisi ditilik dari
segi sastranya adalah guru bahasa yang tidak memiliki wawasan yang luas. Mereka
kerap kali menghubungkan sebuah karya sastra dengan masalah moral, pendidikan,
psikologi, maupun sastra. Mereka sendiri tidak menyadari betapa keringnya
pengetahuan mereka tentang masalah-masalah tersebut. Untuk
menghindari kekeringan pada saat mengajarkan apresiasi sastra (puisi) masih
banyak lagi cara yang dapat ditempuh di luar masalah-masalah tersebut di atas.
Bisa dilakukan dengan cara kerja linguistik. Cara kerja seperti itu
(linguistik) masih jarang digunakan di SMA. Cara kerja itu sebenarnya mudah dan
bisa dijamin tidak akan kerung pengajaran yang diberikan. Sebagai contoh di
sini, misalnya menganalisis puisi-puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail secara
gramatikal. Sudah tentu cara ini banyak menyimpang cari cara-cara yang sudah
ada. Namun, bukankah banyak cara yang ditempuh untuk memahami dan menikmati
sebuah puisi?
Cara
lain yaitu dengan cara kerja sosiolinguistik. Cara kerja ini masih jarang
dilakukan orang. Cara kerja ini dilakukan orang untuk meninjau sebuah karya
sastra dengan mengamati pemakaian variasi-variasi bahasa. Puisi-puisi yang bisa
ditempuh dengan cara ini salah satu di antaranya adalah puisi-puisi DY khususnya yang terdapat dalam KIBM. Saya telah menyebutkan bahwa Linus Suryadi AG. DY mencoba
menyisipkan kata-kata bahasa Jawa ke dalam bait-bait puisinya. Dengan adanya
gejala-gejala campur aduknya antara bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia dalam
satu bait puisi, janganlah guru cepat menilai puisi tersebut kurang baik untuk
dipelajari. Guru harus meninjaunya dari segi lain, yaitu secara
sosiolinguistik. Sudah tentu tidak semua aspek sosiolingistik dimasukkan. Kita
amati saja misalnya pemakaian variasi bahasanya. Dari pemakaian variasi bahasa
kita cukup membicarakan adanya gejala alih kode dan ragam sapaan.
Untuk
alih kode guru meminta kepada siswa agar mendeskripsikan kata-kata alih kode yang
terjadi pada kumpulan puisi itu. Kemudian dibuatkan daftar kata-kata alih kode
dan padanya dalam bahasa Indonesia. Terakhir pula diadakan diskusi alasan penyair menggunakan alih kode dalam puisinya. Sedangkan
untuk ragam sapaan juga demikian. Guru minta mereka mendaftarkan pemakaian kata
sapaan dalam kumuplan puisi itu. Kelompokkan kata-kata sapaan ke dalam beberapa
kelompok berdasarkan jenisnya. Kemudian buatlah diagram ragam sapaan
berdasarkan tingkat derajat solidaritasnya. Utnuk itu guru harus memberikan
penjelasan lebih dahulu yang dimaksud dengan ragam sapaan itu. Perlu juga diadakan diskusi khusus tentang ragam sapaan
dengan kumpulan puisi itu sebagai obyeknya.
Agar
pengajaran itu lebih menarik, perlu juga diadakan seminar kelas yang khusus membicarakan
sebuah karya sastra ditinjau dair segi sosiolingistik. Pemrasaran di sini bisa
juga terdiri dari beberapa kelompok siswa. Setidap kelompok kalau bisa hanya
membicarakan saut aspek saja. Kalau itu terdiri dari beberapa kelompok tidak
mustahil kumpulan puisi tersebut bisa dibicarakan secara tuntas dari segi
sosiolingistik. Saya menjamin dengan cara kerja sosiolingistik pengajaran
bahasa Indonesia yang selama ini dikatakan orang membosankan bisa berbalik
menjadi pengajaran yang menarik.
Setiap
guru bahasa Indonesia hendaknya memiliki pengetahuan sosiolinguistik. Dengan
bekal yang dimiliki itu guru setidak-tidaknya memiliki sikap kebahasan yang
luas. Sosiolinguistik akan dapat membantu guru dalam menghadapi masalah-masalah
kebahasan pada saat mengajar. Ia juga akan membuka mata guru bahasa bahwa masih
banyak lagi masalah kebahasan yang bisa dilakukan dengan cara kerja
sosiolinguistik. Termasuk di sini meninjau sebuah karya sastra (puisi) dari
segi sosiolinguistik.
(Selesai)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar