Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (29)

Variasi -Variasi Bahasa Puisi 

Darmanto Yatman (6)

Subagio S. Waluyo

Dalam pengajaran bahasa Indonesia siswa sering bertanya kepada gurunya tentang karya-karya sastra mutakhir yang tidak dimengertinya. Terutama bahasanya. Termasuk di antaranya sejenis puisi-puisi mutakhir. Salah satu dari puisi-puisi mutakhir yang banyak menyerap kata-kata bahasa daerah adalah puisi-puisi DY yang tergabung dalam KIBM. Di samping itu ditemukan pula dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG. Untuk jenis karya prosa dapat dijumpai dalam Burung-burung Manyar karya Y.B.Mangunwijaya.
Khusus untuk puisi-puisi Darmanto, bagi siswa yang baru pertama kali menemukan jenis puisi seperti itu, ia akan bertanya-tanya puisi macam apa pula ini? Mengapa bahasanya begini? Serentetan pertanyaan diajukan kepada gurunya karena guru bahasa Indonesia-lah yang mengajarkan apresiasi sastra di sekolahnya. Guru yang pengetahuan sosiolingistiknya kurang atau sama sekali tidak dibekali dengan sosiolingistik, akan mudah saja mengatakan bahwa puisi tersebut merusak bahasa; puisi tersebut menyimpang dari pengertian puisi yang telah ada selama ini; puisi tersebut tidak pantas untuk dipelajari; dan masih banyak lagi cap-cap buruk ditimpakan terhadap puisi tersebut. Sebaliknya seorang guru yang  dibekali  pengetahuan sosiolingustiknya cukup akan menghadapinya dengan penuh perhatian. Ia akan mencoba mempelajarinya dengan membacanya berulang-ulang. Puisi-puisi yang semacam itu akan diamatinya secara sosiolinguistik.
Guru-guru bahasa Indonesia yang sampai saat ini masih saja mengajarkan apresiasi puisi ditilik dari segi sastranya adalah guru bahasa yang tidak memiliki wawasan yang luas. Mereka kerap kali menghubungkan sebuah karya sastra dengan masalah moral, pendidikan, psikologi, maupun sastra. Mereka sendiri tidak menyadari betapa keringnya pengetahuan mereka tentang masalah-masalah tersebut. Untuk menghindari kekeringan pada saat mengajarkan apresiasi sastra (puisi) masih banyak lagi cara yang dapat ditempuh di luar masalah-masalah tersebut di atas. Bisa dilakukan dengan cara kerja linguistik. Cara kerja seperti itu (linguistik) masih jarang digunakan di SMA. Cara kerja itu sebenarnya mudah dan bisa dijamin tidak akan kerung pengajaran yang diberikan. Sebagai contoh di sini, misalnya menganalisis puisi-puisi Chairil Anwar atau Taufik Ismail secara gramatikal. Sudah tentu cara ini banyak menyimpang cari cara-cara yang sudah ada. Namun, bukankah banyak cara yang ditempuh untuk memahami dan menikmati sebuah puisi?
Cara lain yaitu dengan cara kerja sosiolinguistik. Cara kerja ini masih jarang dilakukan orang. Cara kerja ini dilakukan orang untuk meninjau sebuah karya sastra dengan mengamati pemakaian variasi-variasi bahasa. Puisi-puisi yang bisa ditempuh dengan cara ini salah satu di antaranya adalah puisi-puisi DY khususnya yang terdapat dalam KIBM. Saya telah menyebutkan bahwa Linus Suryadi AG. DY mencoba menyisipkan kata-kata bahasa Jawa ke dalam bait-bait puisinya. Dengan adanya gejala-gejala campur aduknya antara bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia dalam satu bait puisi, janganlah guru cepat menilai puisi tersebut kurang baik untuk dipelajari. Guru harus meninjaunya dari segi lain, yaitu secara sosiolinguistik. Sudah tentu tidak semua aspek sosiolingistik dimasukkan. Kita amati saja misalnya pemakaian variasi bahasanya. Dari pemakaian variasi bahasa kita cukup membicarakan adanya gejala alih kode dan ragam sapaan.
Untuk alih kode guru meminta kepada siswa agar mendeskripsikan kata-kata alih kode yang terjadi pada kumpulan puisi itu. Kemudian dibuatkan daftar kata-kata alih kode dan padanya dalam bahasa Indonesia. Terakhir pula diadakan diskusi alasan penyair menggunakan alih kode dalam puisinya. Sedangkan untuk ragam sapaan juga demikian. Guru minta mereka mendaftarkan pemakaian kata sapaan dalam kumuplan puisi itu. Kelompokkan kata-kata sapaan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan jenisnya. Kemudian buatlah diagram ragam sapaan berdasarkan tingkat derajat solidaritasnya. Utnuk itu guru harus memberikan penjelasan lebih dahulu yang dimaksud dengan ragam sapaan itu. Perlu juga  diadakan diskusi khusus tentang ragam sapaan dengan kumpulan puisi itu sebagai obyeknya.
Agar pengajaran itu lebih menarik, perlu juga diadakan seminar kelas yang khusus membicarakan sebuah karya sastra ditinjau dair segi sosiolingistik. Pemrasaran di sini bisa juga terdiri dari beberapa kelompok siswa. Setidap kelompok kalau bisa hanya membicarakan saut aspek saja. Kalau itu terdiri dari beberapa kelompok tidak mustahil kumpulan puisi tersebut bisa dibicarakan secara tuntas dari segi sosiolingistik. Saya menjamin dengan cara kerja sosiolingistik pengajaran bahasa Indonesia yang selama ini dikatakan orang membosankan bisa berbalik menjadi pengajaran yang menarik.
Setiap guru bahasa Indonesia hendaknya memiliki pengetahuan sosiolinguistik. Dengan bekal yang dimiliki itu guru setidak-tidaknya memiliki sikap kebahasan yang luas. Sosiolinguistik akan dapat membantu guru dalam menghadapi masalah-masalah kebahasan pada saat mengajar. Ia juga akan membuka mata guru bahasa bahwa masih banyak lagi masalah kebahasan yang bisa dilakukan dengan cara kerja sosiolinguistik. Termasuk di sini meninjau sebuah karya sastra (puisi) dari segi sosiolinguistik.    

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    (Selesai)                                                                                                                             





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...