Senin, 05 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (36)

SEGALANYA TENTANG PUISI (7)

Subagio S.Waluyo

4. Macam-Macam Puisi

Puisi dapat dibedakan atas beberapa macam. Macam-macam puisi itu dapat dibagi menurut isi, bentuk, dan ketersuratan serta ketersiratan makna puisi. Berdasarkan isi secara garis besar puisi dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu (1) puisi liris, (2) puisi naratif, dan (3) puisi dramatis. Puisi liris adalah puisi yang berisi curahan perasaan pribadi dan yang diutamakan ialah lukisan perasaannya. Pelukisan perasaan sebagai akibat adanya kontak antara si pembuat puisi dengan alam sekitar, dengan manusia lain baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, dan dengan Sang Pencipta. Sebagai misal, lukisan rasa Mohammad Yamin yang memuja “tanah air”-nya.
Gunung dan bukit bukan sedikit
Melengkung di taman bergelung-gelung
Memagari dataran beberapa lembah;
Di sanalah penduduk tegak dan rebah
Sejak beliung dapat merambah
Sampai ke zaman sudah berubah
Sabas Andalas bunga bergubah
Mari kujunjung, mari kusembah
Hatiku sedikit haram berubah !
                                      (Tanah air)

Dalam puisi selain kita mengenal pernyataan lewat pujian kita juga mengenal ratapan, kesukacitaan, ataupun hal-hal lain yang berhubungan dengan luap rasa manusia. Penyair yang baik adalah penyair yang mampu mengungkapkan luap rasa manusia dengan benar. Benar dalam arti bertolak dari kekhasan penyair, gaya pengungkapan, dan cara penyair memandang sesuatu objek. Perhatikan dua puisi berikut yang berbicara tentang suasana pantai.

BERDIRI AKU

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayang bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
berayun-ayun di atas alas.

Benang raja mencelup ujung
Naik marak menyerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.

Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mengecap hidup bertentu tuju.

                             (Amir Hamzah)

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu pengbabisan bisa terdekap
                                                         
(Chairil Anwar)

Dalam puisi Amir Hamzah alam yang damai, romantis, dan indah mengithami penyairnya untuk beristirahat dan untuk mencari makna batin bagi wujudnya. Bagi Chairil, gerimis yang suram pada waktu senjakala itu melambangkan kesunyian dan kemurahan hatinya - tidak ada sama sekali harapan untuk kedamaian malah pada sedu-sedu yang terakhir sekalipun. Puisi “Berdiri Aku’, dengan kekayaan bunyi dan lukisannya, begitu tersendiri tenaga pengucapannya. Demikian pula tenaga pembayangan pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” Chairil Anwar mempunyai cara pengucapannya sendiri; meskipun sentimen kerinduan Amir terhadap keadaan damai dan hidup bertujuan amat berbeda dengan kemuraman Chairil yang mengalami kesepian yang mutlak.

MAIN CINTA, MODEL KWANG WUNG

om swastiastu
kaleo o kane:        kahi, elua, ekolu!
          ayolah kamboja terbang
          ayolah burung berjalan
          ayolah gelombang tidur
          ayolah pasangan berpasangan - ayoo!
                                                             Ayo
                                                      ayo        ayo
...
          -mahalo
          siang-malam, musnahlah beda kalian
          laut-darat, musnahlah beda kalian
          laki-perempuan, musnahlah beda kalian
half korean, half chinese hawaiian american maideu-satus
          persen wong lanang jawa yogya-Indonesia
…
                                                          (Darmanto Jt.)

SEPISAUPI

                           (Sutardji Calzoum Bachri)

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau sunyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi

(O, Amuk, Kapak, 1981)
Puisi tipografi disajikan dengan menyusun kata-kata atau huruf dan bunyi sedemikian rupa sehingga nampaknya seperti lukisan. Kadang kala berbentuk gambar dengan sepatah kata atau kalimat. Kadang kala hanya menggunakan simbol-simbol tertentu disertai kata atau kalimat. Perhatikan contoh-contoh berikut.

vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
                   V
IVIVA PANCASILA!
                             (Jeihan)

Doktorandus Tikus I

                     (F. Rahardi)

Selusin toga
                   Me
                             Nga
                                      Nga
Seratus tikus berkampus
                                      Di atasnya
                             Dosen dijerat
Profesor diracun
                   Kucing
                             Kawin
                                      Dan bunting
Dengan predikat
                             Sangat memuaskan

Atau boleh juga diapresiasi puisi Sutardji Chalzoum Bahri berikut ini.

Tragedi Wian Sihka

kawin 
           kawin
                      kawin
                                 kawin
                                            kawin
                                                       ka 
                                                 win
                                              ka
                                      win
                                  ka
                           win
                      ka 
              win
         ka
 winka
              winka
                           winka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sihka
                                                                      sih
                                                                  ka
                                                             sih
                                                        ka
                                                   sih
                                               ka
                                          sih
                                      ka
                                 sih
                             ka
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          sih
                                                               ka
                                                                   Ku
Setelah kita mengetahui macam-macam puisi berdasarkan isi dan bentuk, ada satu pembagian lain yaitu berdasarkan ketersuratan dan ketersiratan makna yang dikandung dalam sebuah puisi. Dalam membaca puisi kadang kala kita dapat dengan cepat memahami isi atau maknanya. Kadang kala kita membaca puisi yang demikian gelap isinya, tidak tertangkap maknanya sekali baca. Berdasarkan jelas atau samarnya arti puisi ada dua macam puisi, yaitu puisi transparan atau sering pula disebut diaphan dan puisi prismatis. Transparan berarti jernih, bening. Pakaian yang transparan, seperti nilon, menyebabkan seseorang dapat melihat apa yang tersembunyi di balik pakaian tersebut. Begitu pula puisi transparan, para pembaca akan mudah untuk meluluhkan diri atau berakrab dengannya. Pada umumnya puisi dalam kurun Pujangga baru adalah termasuk puisi transparan. Karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana, Aimir Hamzah, Sanusi Pane, atau J.E. Tatengkeng pada umumnya mudah ditangkap oleh orang awam sekalipun.
Puisi prismatis adalah lawan dari puisi transparan. Sesuatu yang berada di belakang prisma akan terurai kandungan warnanya menjadi aneka warna yang dalam ilmu alam dikenal dengan istilah spektrum atau pelangi (Putu Arya Tirta Wirya 19 .. : ). Untuk lebih jelas akan diperlihatkan kedua jenis puisi tersebut.

SAJAK

Di mana harga karangan sajak,
          Bukan dalam maksud isinya,
Dalam bentuk, kata nan rancak,
          Dicari timbang dengan pilihnya.

Tanya pertama keluar di hati,
          Setelah sajak dibaca tamat
Sehingga maria tersebut sakti
          Mengikat din di dalam hikmat.

Rasa pujangga waktu menyusun
          Kata yang datang berduyun-duyun
          Dari dalam bukan nan dicari.

Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
Harus berguncang hati nurani.
                             (Sanusi Pane)

Jadi, tidak begitu sulit kiranya untuk memahami puisi di atas yang bercerita tentang puisi. Dengan puisi “Sajak” kita bisa mengetahui dengan jelas keyakinan Sanusi Pane tentang puisi. Sebagai bandingan, cobalah pahami apa kira-kira maksud Chairil Anwar dengan puisi berikut.

                             MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
                                                         
                                                                      (Chairil Anwar)

Dapatkah Anda dengan cepat memahami puisi di atas? Cukup sulit bukan? Banyak hal dalam puisi tersebut yang dinyatakan dengan imaje yang samar dan abstrak. Yang perlu Anda ketahui, sebagai penutup adalah bahwa puisi transparan dan puisi prismatif masing-masing pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sederajat dan merupakan ekspresi seorang penyair yang ingin menyampaikan pengalaman batinnya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...