SEGALANYA TENTANG PUISI (7)
Subagio S.Waluyo
4. Macam-Macam Puisi
Puisi dapat dibedakan atas beberapa macam. Macam-macam puisi itu dapat dibagi menurut isi, bentuk, dan ketersuratan serta ketersiratan makna puisi. Berdasarkan isi secara garis besar puisi dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu (1) puisi liris, (2) puisi naratif, dan (3) puisi dramatis. Puisi liris adalah puisi yang berisi curahan perasaan pribadi dan yang diutamakan ialah lukisan perasaannya. Pelukisan perasaan sebagai akibat adanya kontak antara si pembuat puisi dengan alam sekitar, dengan manusia lain baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, dan dengan Sang Pencipta. Sebagai misal, lukisan rasa Mohammad Yamin yang memuja “tanah air”-nya.
Puisi dapat dibedakan atas beberapa macam. Macam-macam puisi itu dapat dibagi menurut isi, bentuk, dan ketersuratan serta ketersiratan makna puisi. Berdasarkan isi secara garis besar puisi dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu (1) puisi liris, (2) puisi naratif, dan (3) puisi dramatis. Puisi liris adalah puisi yang berisi curahan perasaan pribadi dan yang diutamakan ialah lukisan perasaannya. Pelukisan perasaan sebagai akibat adanya kontak antara si pembuat puisi dengan alam sekitar, dengan manusia lain baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, dan dengan Sang Pencipta. Sebagai misal, lukisan rasa Mohammad Yamin yang memuja “tanah air”-nya.
Melengkung
di taman bergelung-gelung
Memagari
dataran beberapa lembah;
Di sanalah
penduduk tegak dan rebah
Sejak
beliung dapat merambah
Sampai ke
zaman sudah berubah
Sabas
Andalas bunga bergubah
Mari
kujunjung, mari kusembah
Hatiku
sedikit haram berubah !
(Tanah
air)
Dalam puisi selain kita mengenal pernyataan lewat pujian kita juga mengenal
ratapan, kesukacitaan, ataupun hal-hal lain yang berhubungan dengan luap rasa
manusia. Penyair yang baik adalah penyair yang mampu mengungkapkan luap rasa
manusia dengan benar. Benar dalam arti bertolak dari kekhasan penyair, gaya
pengungkapan, dan cara penyair memandang sesuatu objek. Perhatikan dua puisi berikut yang berbicara tentang
suasana pantai.
BERDIRI AKU
Berdiri
aku di senja senyap
Camar
melayang menepis buih
Melayang
bakau mengurai puncak
Berjulang datang
ubur terkembang
Angin pulang
menyejuk bumi
Menepuk
teluk mengempas emas
Lari ke
gunung memuncak sunyi
berayun-ayun
di atas alas.
Benang
raja mencelup ujung
Naik marak
menyerak corak
Elang leka
sayap tergulung
Dimabuk
warna berarak-arak.
Dalam rupa
maha sempurna
Rindu-sendu
mengharu kalbu
Ingin
datang merasa sentosa
Mengecap
hidup bertentu tuju.
(Amir Hamzah)
SENJA DI
PELABUHAN KECIL
Ini kali
tidak ada yang mencari cinta
di antara
gudang, rumah tua, pada cerita
tiang
serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini
tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi.
Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung,
masih pengap harap
sekali
tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai
keempat, sedu pengbabisan bisa terdekap
(Chairil Anwar)
Dalam puisi Amir Hamzah alam yang damai, romantis, dan indah mengithami
penyairnya untuk beristirahat dan untuk mencari makna batin bagi wujudnya. Bagi
Chairil, gerimis yang suram pada waktu senjakala itu melambangkan kesunyian dan
kemurahan hatinya - tidak ada sama sekali harapan untuk kedamaian malah pada
sedu-sedu yang terakhir sekalipun. Puisi “Berdiri Aku’, dengan kekayaan bunyi
dan lukisannya, begitu tersendiri tenaga pengucapannya. Demikian pula tenaga
pembayangan pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” Chairil Anwar mempunyai cara
pengucapannya sendiri; meskipun sentimen kerinduan Amir terhadap keadaan damai dan
hidup bertujuan amat berbeda dengan kemuraman Chairil yang mengalami kesepian
yang mutlak.
MAIN CINTA, MODEL KWANG WUNG
om
swastiastu
kaleo o
kane: kahi, elua, ekolu!
ayolah kamboja terbang
ayolah burung berjalan
ayolah gelombang tidur
ayolah pasangan berpasangan - ayoo!
Ayo
ayo ayo
...
-mahalo
siang-malam,
musnahlah beda kalian
laut-darat, musnahlah beda kalian
laki-perempuan, musnahlah beda kalian
half korean, half chinese hawaiian
american maideu-satus
persen
wong lanang jawa yogya-Indonesia
…
(Darmanto
Jt.)
SEPISAUPI
(Sutardji Calzoum
Bachri)
sepisau
luka sepisau duri
sepikul
dosa sepukau sepi
sepisau
duka serisau diri
sepisau
sepi sepisau sunyi
sepisaupa
sepisaupi
sepisapanya
sepikau sepi
sepisaupa
sepisaupi
sepikul
diri keranjang duri
sepisaupa
sepisaupi
sepisaupa
sepisaupi
sepisaupa
sepisaupi
sampai
pisau-Nya ke dalam nyanyi
(O, Amuk,
Kapak, 1981)
Puisi tipografi disajikan dengan menyusun kata-kata atau huruf dan bunyi
sedemikian rupa sehingga nampaknya seperti lukisan. Kadang kala berbentuk
gambar dengan sepatah kata atau kalimat. Kadang kala hanya menggunakan simbol-simbol tertentu disertai kata atau
kalimat. Perhatikan contoh-contoh berikut.
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
vvvvvvvvvvvvvvvvv
V
IVIVA PANCASILA!
(Jeihan)
Doktorandus Tikus
I
(F. Rahardi)
Selusin toga
Me
Nga
Nga
Seratus tikus berkampus
Di
atasnya
Dosen
dijerat
Profesor diracun
Kucing
Kawin
Dan
bunting
Dengan predikat
Sangat
memuaskan
Atau boleh juga diapresiasi puisi Sutardji Chalzoum Bahri berikut ini.
Tragedi Wian Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
Tragedi Wian Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
Setelah kita mengetahui macam-macam puisi berdasarkan isi dan bentuk, ada
satu pembagian lain yaitu berdasarkan ketersuratan dan ketersiratan makna yang
dikandung dalam sebuah puisi. Dalam membaca puisi kadang kala kita dapat dengan
cepat memahami isi atau maknanya. Kadang kala kita membaca puisi yang demikian
gelap isinya, tidak tertangkap maknanya sekali baca. Berdasarkan jelas atau samarnya
arti puisi ada dua macam puisi, yaitu puisi transparan atau sering pula disebut
diaphan dan puisi prismatis. Transparan berarti jernih, bening. Pakaian yang
transparan, seperti nilon, menyebabkan seseorang dapat melihat apa yang
tersembunyi di balik pakaian tersebut. Begitu pula puisi transparan, para
pembaca akan mudah untuk meluluhkan diri atau berakrab dengannya. Pada umumnya
puisi dalam kurun Pujangga baru adalah termasuk puisi transparan. Karya-karya
Sutan Takdir Alisyahbana, Aimir Hamzah, Sanusi Pane, atau J.E. Tatengkeng pada
umumnya mudah ditangkap oleh orang awam sekalipun.
Puisi prismatis adalah lawan dari puisi transparan. Sesuatu yang berada di
belakang prisma akan terurai kandungan warnanya menjadi aneka warna yang dalam
ilmu alam dikenal dengan istilah spektrum atau pelangi (Putu Arya Tirta Wirya
19 .. : ). Untuk lebih jelas
akan diperlihatkan kedua jenis puisi tersebut.
SAJAK
Di mana harga
karangan sajak,
Bukan dalam maksud isinya,
Dalam
bentuk, kata nan rancak,
Dicari timbang dengan pilihnya.
Tanya
pertama keluar di hati,
Setelah sajak dibaca tamat
Sehingga
maria tersebut sakti
Mengikat din di dalam hikmat.
Rasa
pujangga waktu menyusun
Kata yang datang berduyun-duyun
Dari dalam
bukan nan dicari.
Harus kembali
dalam pembaca,
Sebagai
bayang di muka kaca,
Harus
berguncang hati nurani.
(Sanusi Pane)
Jadi, tidak
begitu sulit kiranya untuk memahami puisi di atas yang bercerita tentang puisi.
Dengan puisi “Sajak” kita bisa mengetahui dengan jelas keyakinan Sanusi Pane
tentang puisi. Sebagai bandingan, cobalah pahami apa kira-kira maksud Chairil
Anwar dengan puisi berikut.
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku
berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat
rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini
aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada
bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
(Chairil Anwar)
Dapatkah Anda dengan cepat
memahami puisi di atas? Cukup sulit bukan? Banyak hal dalam puisi tersebut yang
dinyatakan dengan imaje yang samar dan abstrak. Yang perlu Anda ketahui, sebagai
penutup adalah bahwa puisi transparan dan puisi prismatif masing-masing pada
hakikatnya memiliki kedudukan yang sederajat dan merupakan ekspresi seorang penyair yang ingin menyampaikan pengalaman batinnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar