SEGALANYA TENTANG PUISI (5)
Subagio S.Waluyo
D.
Pigura Bahasa
Pembicaraan tentang pigura bahasa atau bahasa figuratif dibagi dalam dua bagian besar, yaitu metafor dan simile. Untuk metafor sudah dijelaskan dan diuraikan di muka secara panjang lebar. Sekarang kita hanya menguraikan tentang simile saja.
Anda pernah
mendengar ungkapan-ungkapan seperti: bagai kerbau dicocok hidung, seperti telur
di ujung tanduk, dan laksana air di daun talas. Ungkapan-ungkapan itu
menunjukkan suatu pemisalan. Sering untuk mengatakan ungkapan digunakan
kata-kata bagai, bagaikan, sebagai, seperti, laksana, dan bak. Simile biasanya
dinyatakan dengan memakai kata-kata tersebut. Oleh karena itu, bisa dikatakan
simile ialah gaya pernyataan dengan membandingkan dua objek atau dua hal yang
tidak sama.
Berikut ini kita
lihat beberapa bait puisi yang cukup sarat dengan simile.
SAJAK UNTUK ANAKKU
Anakku, engkau adalah Sulaiman
yang kutangisi dan balik kandungan
tatkala sejuta anak panah
membuat Daud, ayahmu
tertatih-tatih bagai serangga
....
(Eka Bud
ianta)
PEREMPUAN MALAM
.....
Padangannya membayangkan
napas penderitaan
Suram lampu jalan
suram hidupnya yang akan datang
(Ayat Rohaedi)
SULUK AWANG-UWUNG
.....
Kau jadi saksi
Langit selalu biru dan merendah menyentuh laut
di sudut layar
Sia-sia pelaut menjaring
Sebagai segala yang ajaib lewat dan jangkauan
Ibaratnya:
Yang dekat ialah yang jauh ialah yang dekat ialah yang jauh
Maka ketika sufi menengadahkan tangan
Ia bertemu dengan langit
di pusat semesta
(Kuntowijoyo)
Bait puisi
pertama “Sajak Untuk Anakku” di situ ada simile, yaitu pada baris keempat
tertatih-tatih bagai serangga. Di samping itu jika diperhatikan baris pertama
sebenarnya di situ pun terdapat simile. Kata adalah dalam anakku engkau adalah
Sulaiman bisa diganti dengan seperti sehingga menjadi Anakku, engkau seperti
Sulaiman. Mengapa bisa kita ganti demikian? Oleh karena, larik berikutnya (larik
kedua) yang kutangisi dan balik kandungan turut mendukung pemisalan pada larik pertama.
Ketiga,
bisa ditambahkan kata seperti pada Maka ketika sufi menengadahkan
tangan(seperti) ia bertemu dengan langit/di pusat semesta.
Mencari simile pada puisi memang
memerlukan ketelitian dengan memperhatikan kemungkinan menyisipkan kata yang
berarti seperti, sebagai, laksana, dan sebagainya. Bacalah buku-buku kumpulan
puisi. Cara simile yang terdapat di dalamnya.
E.
Imaji
Dalam rangka peledakan jumlah penduduk
di Indonesia telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah, di antaranya dengan
menggiatkan program Keluarga Berencana (KB). Dapatkah Anda bayangkan:
bagaimanakah seandainya KB tidak berhasil? Anda bisa membayangkan akan terjadi
berbagai masalah yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut.
- Bertambahnya
angkatan kerja.
- Naiknya
jumlah kebutuhan pokok manusia.
- Sarana
pendidikan tidak mencukupi lagi.
- Sarana
angkutan (transportasi) tidak mampu menampung.
- Berbagai
fasilitas tidak cukup untuk manusia yang jumlahnya amat banyak dan
sebagainya yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.
Seandainya
masalah-masalah di atas bisa diatasi dalam arti jumlah dapat ditambah terus
sesuai dengan jumlah penduduk mungkin tidak ada masalah. Akan tetapi, bagaimana
kalau tidak dapat? Sulit sekali membayangkannya, bukan?
Akibat
kegagalan program Keluarga Berencana dapat diimajinasikan dengan membayangkan
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan fakta yang ada sekarang.
Imaji dalam
puisi berkenaan dengan pengguaan kata-kata sedemikian rupa, sehingga pada waktu
orang membacanya terbentuk gambaran-gambaran tertentu dan gambaran itu bisa
merangsang imajinasi kita. Coba Anda baca dua bait puisi karya Ramadhan KH yang
dikutip dari buku kumpulan puisinya Priangan Si Jelita.
Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang Tangkubanprahu
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Coba Anda
perhatikan kata-kata pada bait terakhir, Jamrut di pucuk-pucuk/Jamrut di
air tipis menurun. Anda tahu batu jamrut, bukan? Batu jamrut adalah batu
permata yang warnanya hijau. Lantas, apa kira-kira yang dilukiskan dengan
“Jamrut di pucuk-pucuk (daun)?” Setting puisi di atas ialah daerah kaki gunung.
Bagaimana udara di kaki gunung, dingin bukan? Jadi, yang dimaksud dengan Jamrut
di pucuk-pucuk (daun) di air tipis menurun adalah butir-butir embun di
pucuk-pucuk daun. Ungkapan yang dipakai penyair di atas menyaran pada
pembayangan visual, yaitu butir embun di pucuk-pucuk. Pembayangan visual
seperti itu disebut imaji visual. Tidak setiap puisi selalu mengandung
imaji visual. Anda dapat menemukan imaji visual itu pada beberapa puisi yang
lain. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono atau puisi W.S. Rendra kaya dengan
imaji-imaji visual.
Di samping
imaji visual ada juga imaji auditif, yaitu imaji yang menyaran pada
pendengaran. Coba Anda perhatikan larik kesatu dan larik kedua puisi pada
halaman sebelumnya. Bayangan apa yang timbul dari seruling di pasir ipis
(tipis), merdu? Bukankah kita seolah-olah mendengar suara suling
tipis (halus, samar, tunggal), merdu, menyelinap di antara gundukan pohon pina.
Coba kesan apa yang timbul dalam benak Anda bila Anda membaca penggalan sajak
Sutarji Calzoum Bachri berikut.
Pot pot pot
pot pot pot
Kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot.
mencari pot
pot
hei kau dengar manteraku
(Amuk)
Dari bait
pertama puisi Chairil Anwar yang berjudul “1943” ditemukan imaji pencecapan dan
perasaan.
1943
Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelarn darah dalam nanah
...
(Chairil Anwar, 1943)
Dapatkah
Anda membayangkan bila racun yang diminum itu masih ada diregukan pertama,
masih terasa di tenggorokan? Susah dikatakan tetapi dapat dirasakan, walaupun
kita belum pernah minum racun. Demikian pula bagaimana perasaannya bila dalam
rabu (paru-paru) darah tenggelam dalam nanah; lebih banyak nanahnya dari pada
darahnya. Nah, kesan yang timbul itu merupakan hasil daya bayang puisi,
yang dapat menghasilkan imaji visual, imaji pencecap, dan seterusnya.
F.
Rima
Coba Anda perhatikan puisi-puisi lama di bawah ini.
1.
Pantun
Kemumu di dalam semak,
Jatuh melayang selaranya,
Meski ilmu setinggi tegak,
Tidak sembahyang apa gunanya.
2.
Talibun
Kalau anak pergi ke pekan,
Iyu beli, belanak beli,
Ikan panjang beli dahulu,
Kalau anak pergi berjalan,
Ibu cari sanak pun cari,
Induk semang cari dahulu.
3.
Syair
Inilah gerangan suatu madah,
Mengarangkan syair terlalu indah,
Membentuk jalan tempat berpindah,
Di sanalah i’tikad diperbetuli sudah.
Wahai muda kenali dirimu,
Ialah perahu tamsil hidupmu,
Tiadalah berapa lama hidupmu,
Ke akhirat juga bekal diammu.
(Hamzah Fansuri, Syair Perahu)
4.
Gurindam
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat
Silang selisih jangan dicari
Jika bersua janganlah lari
Apa yang
Anda anggap menarik dari puisi-puisi lama di atas? Tentu saja yang Anda anggap
menarik adalah perulangan bunyi, bukan? Dalam puisi-puisi lama perulangan bunyi yang sama merupakan persyaratan.
Dalam pantun di atas terdapat perulangan bunyi konsonan k di akhir larik, yaitu pada larik pertama dan
ketiga. Begitu juga vokal a di akhir larik kedua dan keempat. Demikian
seterusnya yang terjadi pada talibun, syair, dan gurindam. Perulangan bunyi
tidak selamanya selalu berpasangan. Bisa saja seluruh larik bunyi akhirnya
sama. Dalam gurindam bunyi akhir kedua larik selalu sama.
Persamaan
bunyi yang berulang-ulang akan menimbulkan rasa keindahan, sesuai dengan pola estetika saat itu. Persamaan bunyi yang berulang-ulang
yang kita temukan pada akhir larik atau pada kata-kata tertentu disebut rima.
Rima menurut tempat persamaan bunyinya dibagi dalam dua bagian, yaitu rima
awal dan rima akhir.
- Rima awal:Sabar, setia, selalu
Bagai banjir ulung gemulung
Mengalir mengimbun,
mendesak, mengepung
- Rima akhir:Lari tertumpuk di bukit-bukit
Derita memantul di kulit-kulit
Habis kikis
Segala cintaku hilang
terbang
Pulang kembali aku
padamu
Seperti dahulu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
Menurut sempurna tidaknya persamaan bunyi itu, rima dibedakan atas dua macam, yaitu rima
sempurna dan rima tidak sempurna. Rima sempurna terjadi jika persamaan bunyi
itu terdapat pada hampir seluruh suku kata, sehingga bunyinya hampir sama. Rima tidak sempurna persamaan pada bunyinya saja.
Contoh rima
sempurna: siasat-tersesat, sumur-umur.
dalam-alam
Contoh
rima tidak sempurna: aku-padamu
dahulu-meluku
Menurut susunannya, kita kenal pula jenis-jenis rima sebagai berikut.
1. Rima berangkai :
rumusnya aa, bb, cc, dd, dan
seterusnya.
Contoh : Di mata air, di dalam kolam
Ku cari jawab teka-teki alam
Di
kawan awan kian ke mari
Di situ juga jawabnya ku cari
2.
Rima berselang : rumusnya abab, cdcd, dan
seterusnya.
Contoh : Duduk di pantai waktu senja
Naik
di rakit buaian ombak
Sambil
bercermin di air kaca
Lagi diayunkan lagu ombak
3.
Rima berpekik : rumusnya
abba, cddc, dan seterusnya.
Contoh : Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh
sekuntum bunga teratai
Tersembunyi
kembang indah permai
Tidak
terlihat orang yang lalu
Dalam rangka
pembicaraan tentang rima ini, kita kenal pula istilah aliterasi dan asonansi. Aliterasi ialah perulangan bunyi konsonan, sedangkan asonansi ialah
perulangan bunyi vokal. Coba kita perhatikan bait puisi di bawah ini yang sarat
dengan aliterasi dan asonansi.
...
Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya merah ke pewayangan.
…
Pada bait
pertama puisi di atas tampak adanya perulangan bunyi (rima) vokal u di larik pertama. Di samping itu, ada perulangan bersaling
vokal a-u-i pada larik kedua bait pertama. Pada bait kedua tampak dominan
perulangan vokal a. Larik ketiga dan keempat bait kedua terdapat perulangan
bunyi konsonan k. Perulangan bunyi yang terdengar manis dan indah itu disebut
efoni.
Ada pula
persamaan bunyi dan perulangan yang menunjukkan suasana cerah, ringan, ada
kesenangan, dan kegembiraan. Bunyi-bunyi seperti itu, misalnya bunyi-buriyi
i,e,o diberi “arti” atau disemantikkan. Contoh: Betapa sari/Tidakkan kembang/Melihat terang/Si mata hari. Di
samping itu, juga ada persamaan atau perulangan bunyi yang menyarankan keadaan
yang berat, menekan, mencekam dan mengerikan serta menunjukkan kesuraman,
kekelaman, dan keseraman. Bunyi-bunyi itu disebut kokofoni, misalnya pada bunyi
u,o,e. Contoh: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut namamu/Tuhanku/aku
hilang bentuk/ remuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar