Sabtu, 03 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (34)

SEGALANYA TENTANG PUISI (5)

Subagio S.Waluyo


D.    Pigura Bahasa

Pembicaraan tentang pigura bahasa atau bahasa figuratif dibagi dalam dua bagian besar, yaitu metafor dan simile. Untuk metafor sudah dijelaskan dan diuraikan di muka secara panjang lebar. Sekarang kita hanya menguraikan tentang simile saja.
Anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti: bagai kerbau dicocok hidung, seperti telur di ujung tanduk, dan laksana air di daun talas. Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan suatu pemisalan. Sering untuk mengatakan ungkapan digunakan kata-kata bagai, bagaikan, sebagai, seperti, laksana, dan bak. Simile biasanya dinyatakan dengan memakai kata-kata tersebut. Oleh karena itu, bisa dikatakan simile ialah gaya pernyataan dengan membandingkan dua objek atau dua hal yang tidak sama.

Berikut ini kita lihat beberapa bait puisi yang cukup sarat dengan simile.

SAJAK UNTUK ANAKKU

Anakku, engkau adalah Sulaiman
yang kutangisi dan balik kandungan
tatkala sejuta anak panah
membuat Daud, ayahmu
tertatih-tatih bagai serangga
....
                             (Eka Bud ianta)


PEREMPUAN MALAM
.....
Padangannya membayangkan
napas penderitaan
Suram lampu jalan
suram hidupnya yang akan datang
                                                (Ayat Rohaedi)


SULUK AWANG-UWUNG
.....
Kau jadi saksi
Langit selalu biru dan merendah menyentuh laut
di sudut layar
Sia-sia pelaut menjaring
Sebagai segala yang ajaib lewat dan jangkauan
Ibaratnya:
Yang dekat ialah yang jauh ialah yang dekat ialah yang jauh
Maka ketika sufi menengadahkan tangan
Ia bertemu dengan langit
di pusat semesta

(Kuntowijoyo)

Bait puisi pertama “Sajak Untuk Anakku” di situ ada simile, yaitu pada baris keempat tertatih-tatih bagai serangga. Di samping itu jika diperhatikan baris pertama sebenarnya di situ pun terdapat simile. Kata adalah dalam anakku engkau adalah Sulaiman bisa diganti dengan seperti sehingga menjadi Anakku, engkau seperti Sulaiman. Mengapa bisa kita ganti demikian? Oleh karena, larik berikutnya (larik kedua) yang kutangisi dan balik kandungan turut mendukung pemisalan pada larik pertama. Ketiga, bisa ditambahkan kata seperti pada Maka ketika sufi menengadahkan tangan(seperti) ia bertemu dengan langit/di pusat semesta.
Mencari simile pada puisi memang memerlukan ketelitian dengan memperhatikan kemungkinan menyisipkan kata yang berarti seperti, sebagai, laksana, dan sebagainya. Bacalah buku-buku kumpulan puisi. Cara simile yang terdapat di dalamnya.

E.    Imaji
Dalam rangka peledakan jumlah penduduk di Indonesia telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah, di antaranya dengan menggiatkan program Keluarga Berencana (KB). Dapatkah Anda bayangkan: bagaimanakah seandainya KB tidak berhasil? Anda bisa membayangkan akan terjadi berbagai masalah yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut.

  1. Bertambahnya angkatan kerja.
  2. Naiknya jumlah kebutuhan pokok manusia.
  3. Sarana pendidikan tidak mencukupi lagi.
  4. Sarana angkutan (transportasi) tidak mampu menampung.
  5. Berbagai fasilitas tidak cukup untuk manusia yang jumlahnya amat banyak dan sebagainya yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.
Seandainya masalah-masalah di atas bisa diatasi dalam arti jumlah dapat ditambah terus sesuai dengan jumlah penduduk mungkin tidak ada masalah. Akan tetapi, bagaimana kalau tidak dapat? Sulit sekali membayangkannya, bukan?
Akibat kegagalan program Keluarga Berencana dapat diimajinasikan dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan fakta yang ada sekarang.
Imaji dalam puisi berkenaan dengan pengguaan kata-kata sedemikian rupa, sehingga pada waktu orang membacanya terbentuk gambaran-gambaran tertentu dan gambaran itu bisa merangsang imajinasi kita. Coba Anda baca dua bait puisi karya Ramadhan KH yang dikutip dari buku kumpulan puisinya Priangan Si Jelita.
Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang Tangkubanprahu
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.

Coba Anda perhatikan kata-kata pada bait terakhir, Jamrut di pucuk-pucuk/Jamrut di air tipis menurun. Anda tahu batu jamrut, bukan? Batu jamrut adalah batu permata yang warnanya hijau. Lantas, apa kira-kira yang dilukiskan dengan “Jamrut di pucuk-pucuk (daun)?” Setting puisi di atas ialah daerah kaki gunung. Bagaimana udara di kaki gunung, dingin bukan? Jadi, yang dimaksud dengan Jamrut di pucuk-pucuk (daun) di air tipis menurun adalah butir-butir embun di pucuk-pucuk daun. Ungkapan yang dipakai penyair di atas menyaran pada pembayangan visual, yaitu butir embun di pucuk-pucuk. Pembayangan visual seperti itu disebut imaji visual. Tidak setiap puisi selalu mengandung imaji visual. Anda dapat menemukan imaji visual itu pada beberapa puisi yang lain. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono atau puisi W.S. Rendra kaya dengan imaji-imaji visual.
Di samping imaji visual ada juga imaji auditif, yaitu imaji yang menyaran pada pendengaran. Coba Anda perhatikan larik kesatu dan larik kedua puisi pada halaman sebelumnya. Bayangan apa yang timbul dari seruling di pasir ipis (tipis), merdu? Bukankah kita seolah-olah mendengar suara suling tipis (halus, samar, tunggal), merdu, menyelinap di antara gundukan pohon pina. Coba kesan apa yang timbul dalam benak Anda bila Anda membaca penggalan sajak Sutarji Calzoum Bachri berikut.
Pot pot pot
pot pot pot
Kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot.
mencari pot
pot
hei kau dengar manteraku
(Amuk)
Dari bait pertama puisi Chairil Anwar yang berjudul “1943” ditemukan imaji pencecapan dan perasaan.
1943

Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelarn darah dalam nanah
...
(Chairil Anwar, 1943)

Dapatkah Anda membayangkan bila racun yang diminum itu masih ada diregukan pertama, masih terasa di tenggorokan? Susah dikatakan tetapi dapat dirasakan, walaupun kita belum pernah minum racun. Demikian pula bagaimana perasaannya bila dalam rabu (paru-paru) darah tenggelam dalam nanah; lebih banyak nanahnya dari pada darahnya. Nah, kesan yang timbul itu merupakan hasil daya bayang puisi, yang dapat menghasilkan imaji visual, imaji pencecap, dan seterusnya.

F.    Rima

Coba Anda perhatikan puisi-puisi lama di bawah ini.
1.    Pantun
Kemumu di dalam semak,
Jatuh melayang selaranya,
Meski ilmu setinggi tegak,
Tidak sembahyang apa gunanya.

2.    Talibun
Kalau anak pergi ke pekan,
Iyu beli, belanak beli,
Ikan panjang beli dahulu,
Kalau anak pergi berjalan,
Ibu cari sanak pun cari,
Induk semang cari dahulu.

3.    Syair
Inilah gerangan suatu madah,
Mengarangkan syair terlalu indah,
Membentuk jalan tempat berpindah,
Di sanalah i’tikad diperbetuli sudah.


Wahai muda kenali dirimu,
Ialah perahu tamsil hidupmu,
Tiadalah berapa lama hidupmu,
Ke akhirat juga bekal diammu.

(Hamzah Fansuri, Syair Perahu)

4.    Gurindam
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat

Silang selisih jangan dicari
Jika bersua janganlah lari

Apa yang Anda anggap menarik dari puisi-puisi lama di atas? Tentu saja yang Anda anggap menarik adalah perulangan bunyi, bukan? Dalam puisi-puisi lama perulangan bunyi yang sama merupakan persyaratan. Dalam pantun di atas terdapat perulangan bunyi konsonan k di akhir larik, yaitu pada larik pertama dan ketiga. Begitu juga vokal a di akhir larik kedua dan keempat. Demikian seterusnya yang terjadi pada talibun, syair, dan gurindam. Perulangan bunyi tidak selamanya selalu berpasangan. Bisa saja seluruh larik bunyi akhirnya sama. Dalam gurindam bunyi akhir kedua larik selalu sama.
Persamaan bunyi yang berulang-ulang akan menimbulkan rasa keindahan, sesuai dengan pola estetika saat itu. Persamaan bunyi yang berulang-ulang yang kita temukan pada akhir larik atau pada kata-kata tertentu disebut rima. Rima menurut tempat persamaan bunyinya dibagi dalam dua bagian, yaitu rima awal dan rima akhir.
  1. Rima awal:Sabar, setia, selalu
                   Bagai banjir ulung gemulung
                   Mengalir mengimbun, mendesak, mengepung

  1. Rima akhir:Lari tertumpuk di bukit-bukit
                   Derita memantul di kulit-kulit

                   Habis kikis
                   Segala cintaku hilang terbang
                   Pulang kembali aku padamu
                   Seperti dahulu

                   batu risau
                   batu pukau
                   batu Kau-ku
Menurut sempurna tidaknya persamaan bunyi itu, rima dibedakan atas dua macam, yaitu rima sempurna dan rima tidak sempurna. Rima sempurna terjadi jika persamaan bunyi itu terdapat pada hampir seluruh suku kata, sehingga bunyinya hampir sama. Rima tidak sempurna persamaan pada bunyinya saja.
Contoh rima sempurna:                  siasat-tersesat, sumur-umur.
                                           dalam-alam
Contoh rima tidak sempurna:         aku-padamu
                                           dahulu-meluku

Menurut susunannya, kita kenal pula jenis-jenis rima sebagai berikut.
1.    Rima berangkai   :      rumusnya aa, bb, cc, dd, dan seterusnya.
            Contoh    :    Di mata air, di dalam kolam
                               Ku cari jawab teka-teki alam
                               Di kawan awan kian ke mari
                               Di situ juga jawabnya ku cari
2.    Rima berselang   :      rumusnya abab, cdcd, dan seterusnya.
            Contoh    :    Duduk di pantai waktu senja
                               Naik di rakit buaian ombak
                               Sambil bercermin di air kaca
                               Lagi diayunkan lagu ombak
3.    Rima berpekik     :      rumusnya abba, cddc, dan seterusnya.
       Contoh    :    Dalam kebun di tanah airku
                          Tumbuh sekuntum bunga teratai
                          Tersembunyi kembang indah permai
                          Tidak terlihat orang yang lalu
Dalam rangka pembicaraan tentang rima ini, kita kenal pula istilah aliterasi dan asonansi. Aliterasi ialah perulangan bunyi konsonan, sedangkan asonansi ialah perulangan bunyi vokal. Coba kita perhatikan bait puisi di bawah ini yang sarat dengan aliterasi dan asonansi.
...
Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya merah ke pewayangan.
…

Pada bait pertama puisi di atas tampak adanya perulangan bunyi (rima) vokal u di larik pertama. Di samping itu, ada perulangan bersaling vokal a-u-i pada larik kedua bait pertama. Pada bait kedua tampak dominan perulangan vokal a. Larik ketiga dan keempat bait kedua terdapat perulangan bunyi konsonan k. Perulangan bunyi yang terdengar manis dan indah itu disebut efoni.

Ada pula persamaan bunyi dan perulangan yang menunjukkan suasana cerah, ringan, ada kesenangan, dan kegembiraan. Bunyi-bunyi seperti itu, misalnya bunyi-buriyi i,e,o diberi “arti” atau disemantikkan. Contoh: Betapa sari/Tidakkan kembang/Melihat terang/Si mata hari. Di samping itu, juga ada persamaan atau perulangan bunyi yang menyarankan keadaan yang berat, menekan, mencekam dan mengerikan serta menunjukkan kesuraman, kekelaman, dan keseraman. Bunyi-bunyi itu disebut kokofoni, misalnya pada bunyi u,o,e. Contoh: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut namamu/Tuhanku/aku hilang bentuk/ remuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...