Rabu, 14 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (37)

SEGALANYA TENTANG PUISI (8)

5. Apresiasi Puisi 


Subagio S.Waluyo

Sebelum berbicara tentang apresiasi puisi, sebaiknya kita lihat dulu pengertian puisi. Pengertian puisi dapat dilihat pada Segalanya tentang Puisi (1). Apresiasi dan bahasa Inggris to appreciate yang artinya menghargai, berkenaan atau appreciation yang artinya penghargaan. Kata ini diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi apresiasi yang artinya kira-kira kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni. Apresiasi puisi berarti kegiatan atau usaha merasakan atau menikmati karya seni yang berbentuk puisi.



S. Effendi dalam Bimbingan Apresiasi Puisi mendefinisikan apresiasi sastra yang intinya sama saja dengan apresiasi puisi. Definisi tersebut jika diganti kata-kata sastra dan cipta sastra dengan puisi akan berbunyi sebagai berikut, “Apresiasi adalah kegiatan menggauli puisi dengan sungguh-sungguh hingga tambah pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap puisi” (S. Effendi, Bimbingan Apresiasi Puisi, 1982:7).
Pada definisi di atas tercantum kata-kata “kegiatan menggauli puisi”. Kegiatan menggauli puisi ini ada dua macam, yaitu secara langsung. Maksudnya, kita langsung membaca bermacam-macam puisi atau langsung mendengarkan puisi yang dideklamasikan. Sedangkan secara tidak langsung, yaitu: (1) mempelajari teori-teori puisi; (2) mempelajari esei dan kritik puisi; dan (3) mempelajari sejarah puisi. Kegiatan kedua, menelaah keterangan-keterangan atau esei-esei yang membicarakan segi-segi tertentu dalam puisi. Kegiatan ketiga, menelaah perkembangan puisi dan mulai tumbuh hingga masa kini.
Di sarnping ketiga cara di atas masih ada lagi cara lain. Pada tulisan ini lebih ditekankan pada kegiatan secara langsung. Oleh karena itu, untuk mencapai tahap apresiasi puisi yang baik, khusus pada tulisan ini lebih ditekankan pada pengenalan puisi-puisi itu. Untuk itu coba perhatikan puisi di bawah ini.

TFNTANG SERSAN NURCHOLIS

Taufik Ismail
Seorang sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu

Setiap siang
Terdengar siulnya
Di bengkel arloji

Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi

Dengan senyum ditolaknya
Kartu-anggota
Bekas pejuang

Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di zaman revolusi

Setiap siang
Terdengar siulnya
Di bengkel arloji

Setelah membaca puisi di atas, kita dapat membayangkan apa yang terjadi di belakang puisi itu. Ada beberapa hal yang terbayang, yaitu seorang sersan yang bernama Nurcholis. Sersan itu hilang kakinya sebelah waktu zaman revolusi. Dapat dibayangkan kejadian pada zaman revolusi, zaman perang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Hal ini dapat diperoleh melalui sejarah atau cerita dan orang-orang yang pernah mengalami masa-masa pahit ketika zaman revolusi itu. Banyak korban yang dipersembahkan untuk memperjuangkan negeri ini. Sersan Nurcholis mengorbankan sebelah kakinya. Sepuluh tahun kemudian Sersan Nurcholis tidak lagi menjadi tentara karena kakinya hanya satu. Dia tidak punya pekerjaan tetap. Kawan-kawannya kini sudah ada yang berpangkat dan berkedudukan tinggi. Malah ada yang akan memberi kartu anggota bekas pejuang, tetapi Pak Sersan menolaknya.
Kita lihat puisi berikutnya dari seorang penyair yang bergelar ‘Si Burung Merak’ yaitu W.S. Rendra. Di sini sang penyair menulis surat cinta kepada kekasihnya yang sangat ia cintai.

SURAT CINTA
                                                          Rendra
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan

anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah.
mengeluh dan mendesah
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, dik Narti, kupinang kau menjadi isteriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi
kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak’kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan

Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain .......
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir, dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Egkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu

Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
karena langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak le1aki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
                                      (Empat Kumpulan Sajak, 1961)
Meskipun panjang, puisi di atas tidak kehilangan keindahannya. Dalam ‘Surat Cinta’ itu tampak sekali Rendra sangat mendambakan agar Dik Narti kekasihnya bukan saja menjadi kekasihnya tetapi juga menjadi ibu anak-anaknya.
Rendra mendambakan percintaannya dengan kekasihnya ibarat dua ekor belibis yang bercintaan dalam kolam. Sekali cinta itu tertanam, sekali itu pula Ia terhunjam bagai logam berat gemerlapan yang tidak bisa dicabut lagi. Dalam pesta perkawinan, dengan pakaian pengantin yang anggun, para malaikat akan menghadirinya. Mereka berhias dan mencuci rarnbutnya untuk pesta perkawinanya.
Ia menyadari dirinya seorang penyair, yang kehidupannya bermula dari kata. Kata-kata itu terlahir dari kehidupan, pikiran, dan rasa. Namun demikian, semangat hidup yang kuat seperti semangat cintanya mampu menyebarkan jaring-jaring untuk menyerap hati sang kekasih yang selalu tersenyum, memberi harapan padanya. Kekasihnya diibaratkan putri duyung tawanannya. Putri duyung yang merdu suaranya dan ratapnya, tergolek lemas, dan mengerjap-ngerjapkan matanya yang indah. Oleh karena itu pula ia menjalinnya dan melamarnya.

....
Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku menjaringmu.

....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...