SEGALANYA TENTANG PUISI (8)
5. Apresiasi Puisi
Subagio
S.Waluyo
Sebelum berbicara tentang apresiasi puisi, sebaiknya kita
lihat dulu pengertian puisi. Pengertian puisi dapat dilihat pada Segalanya
tentang Puisi (1). Apresiasi dan bahasa Inggris to
appreciate yang artinya menghargai, berkenaan atau appreciation yang
artinya penghargaan. Kata ini diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
apresiasi yang artinya kira-kira kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati
hasil-hasil karya seni. Apresiasi puisi berarti kegiatan atau usaha merasakan atau menikmati karya
seni yang berbentuk puisi.
S. Effendi dalam Bimbingan
Apresiasi Puisi mendefinisikan apresiasi sastra yang intinya sama saja
dengan apresiasi puisi. Definisi tersebut jika diganti kata-kata sastra dan
cipta sastra dengan puisi akan berbunyi sebagai berikut, “Apresiasi adalah
kegiatan menggauli puisi dengan sungguh-sungguh hingga tambah pengertian,
penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap
puisi” (S. Effendi, Bimbingan Apresiasi
Puisi, 1982:7).
Pada definisi di atas tercantum kata-kata “kegiatan menggauli
puisi”. Kegiatan menggauli puisi ini ada dua macam, yaitu secara langsung. Maksudnya,
kita langsung membaca bermacam-macam puisi atau langsung mendengarkan puisi
yang dideklamasikan. Sedangkan secara tidak langsung, yaitu: (1) mempelajari
teori-teori puisi; (2) mempelajari esei dan kritik puisi; dan (3) mempelajari
sejarah puisi. Kegiatan kedua, menelaah keterangan-keterangan atau esei-esei
yang membicarakan segi-segi tertentu dalam puisi. Kegiatan ketiga, menelaah
perkembangan puisi dan mulai tumbuh hingga masa kini.
Di sarnping ketiga cara di atas masih ada lagi cara lain.
Pada tulisan ini lebih ditekankan pada kegiatan secara langsung. Oleh karena
itu, untuk mencapai tahap apresiasi puisi yang baik, khusus pada tulisan ini lebih
ditekankan pada pengenalan puisi-puisi itu. Untuk itu coba perhatikan puisi di
bawah ini.
TFNTANG SERSAN NURCHOLIS
Taufik Ismail
Seorang sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu
Setiap siang
Terdengar siulnya
Di bengkel arloji
Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi
Dengan senyum ditolaknya
Kartu-anggota
Bekas pejuang
Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di zaman revolusi
Setiap siang
Terdengar siulnya
Di bengkel arloji
Setelah membaca puisi di atas, kita dapat membayangkan
apa yang terjadi di belakang puisi itu. Ada beberapa hal yang terbayang, yaitu seorang sersan yang bernama
Nurcholis. Sersan itu hilang kakinya sebelah waktu zaman revolusi. Dapat
dibayangkan kejadian pada zaman revolusi, zaman perang merebut kemerdekaan dari
tangan penjajah. Hal ini dapat diperoleh melalui sejarah atau cerita dan
orang-orang yang pernah mengalami masa-masa pahit ketika zaman revolusi itu.
Banyak korban yang dipersembahkan untuk memperjuangkan negeri ini. Sersan
Nurcholis mengorbankan sebelah kakinya. Sepuluh tahun kemudian Sersan Nurcholis
tidak lagi menjadi tentara karena kakinya hanya satu. Dia tidak punya pekerjaan
tetap. Kawan-kawannya kini sudah ada yang berpangkat dan berkedudukan tinggi.
Malah ada yang akan memberi kartu anggota bekas pejuang, tetapi Pak Sersan menolaknya.
Kita lihat puisi berikutnya dari seorang penyair yang
bergelar ‘Si Burung Merak’ yaitu W.S. Rendra. Di sini sang penyair menulis
surat cinta kepada kekasihnya yang sangat ia cintai.
SURAT CINTA
Rendra
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah.
mengeluh dan mendesah
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu!
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, dik Narti, kupinang kau menjadi isteriku!
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi
kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak’kan kunjung diundurkan
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain .......
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir, dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Egkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, putri duyung,
Aku menjaringmu
aku menjaringmu
Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
karena langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak le1aki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
(Empat Kumpulan Sajak, 1961)
Meskipun panjang, puisi di atas tidak kehilangan
keindahannya. Dalam ‘Surat Cinta’ itu tampak sekali Rendra sangat mendambakan
agar Dik Narti kekasihnya bukan saja menjadi kekasihnya tetapi juga menjadi ibu
anak-anaknya.
Rendra mendambakan
percintaannya dengan kekasihnya ibarat dua ekor belibis yang bercintaan dalam
kolam. Sekali cinta itu tertanam, sekali itu pula Ia terhunjam bagai logam
berat gemerlapan yang tidak bisa dicabut lagi. Dalam pesta perkawinan, dengan
pakaian pengantin yang anggun, para malaikat akan menghadirinya. Mereka berhias
dan mencuci rarnbutnya untuk pesta perkawinanya.
Ia menyadari
dirinya seorang penyair, yang kehidupannya bermula dari kata. Kata-kata itu
terlahir dari kehidupan, pikiran, dan rasa. Namun demikian, semangat hidup yang
kuat seperti semangat cintanya mampu menyebarkan jaring-jaring untuk menyerap
hati sang kekasih yang selalu tersenyum, memberi harapan padanya. Kekasihnya diibaratkan putri duyung tawanannya. Putri
duyung yang merdu suaranya dan ratapnya, tergolek lemas, dan mengerjap-ngerjapkan
matanya yang indah. Oleh karena itu pula ia menjalinnya dan melamarnya.
....
Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku menjaringmu.
....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar