Sabtu, 03 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (35)


SEGALANYA TENTANG PUISI (6) 


Subagio S.Waluyo


G.    Ritme/Irama

Pernahkah Anda mengamati orang yang berbicara? Anda akan menemukan beberapa hal terutama dalam lagu orang itu berbicara. Pada saat ia marah, ia berbicara dengan nada suara yang meninggi. Sebaliknya, pada saat ia menghiba, ia berbicara dengan nada suara yang merendah. Ada nada yang meninggi-merendah, tekanan yang mengeras-melembut, dan tempo yang mencepat-melambat yang terdengar ketika ia berbicara. Irama itu menyangkut arus ujaran. Coba kita lihat bait puisi di bawah ini.

PAHLAWAN TAK DIKENAL
Toto Sudarto Bachtiar
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya berkata, kita sedang berperang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Bagaimana kalau Anda membaca puisi di atas? Kalau hanya sekedar membaca saja itu mudah Akan tetapi, kalau membaca dengan arus ucapan yang tepat sehingga dapat mengungkapkan dan menafsirkan makna sajak agak sulit. Di sini seorang pembaca harus bisa menangkap maknanya dan menafsirkan makna itu. Imaji apa yang dituangkan penyair dalam puisinya. Pembacanya harus bisa menghayati puisi itu, barulah ia bisa membacanya dengan baik. Pada saat orang membaca puisi dengan penghayatan yang penuh, ritme atau irama pembacaannya akan disesuaikan dengan penghayatannya. Salah satu kemungkinan irama bait puisi itu sebagai berikut:
...
uu – u – u u – – u u u –
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
uu – u – u u – – u u u –
Tetapi bukan tidur, sayang
uu – u – u u – – u u u –
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
uu – u – u u – – u u u –
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang berperang

uu – u – u u – – u u u –
Dia tidak ingat bilamana dia datang
uu – u – u u – – u u u –
Kedua lengannya memeluk senapang
uu – u – u u – – u u u –
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
uu – u – u u – – u u u –
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Tanda (u) menunjukkan tekanan lembut. Tanda (-) menunjukkan tekanan mengeras. Dengan demikian, tekanan melembut dan mengeras saling berselingan mengikuti pola seperti digambarkan di atas.
Pola irama dalam puisi Eropa klasik biasanya sudah tertentu seperti dalam lagu ada pola irama 3/4, 4/4, 6/8, dan sebagainya. Pola irama itu disebut kaki sajak. Kaki sajak itu bermacam-macam, antara lain:
  1. Jambe         :         u - / u –
  2. Anapes        :         u u - / u u –
  3. Troche         :         - u / - u
  4. Dactylus      :         - u u / - u u.
Untuk lebih jelasnya mengenai pemakaian istilah di atas, silakan baca buku 200 Tanya Jawab tentang Sastra Indonesia oleh Usman Effendi.

H.    Tema

Penyair sama saja dengan seniman lainnya. Penyair penulis puisi tentu dengan maksud tertentu; ia mempunyai tujuan dan keinginan yang ingin disampaikan. Tema puisi itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan karena menarik atau mengagumkan. Tema bisa berupa pandangan penyair, dorongan kepada orang atau lembaga tertentu, atau nasihat-nasihat yang berguna kepada sesama umat manusia. Segala aktivitas yang ada di muka bumi ini bisa dijadikan tema sebuah puisi.
Puisi yang baik ialah puisi yang bisa memberikan kesempatan kepada pembaca atau penikmatnya untuk mengambil kesimpulan sendiri dari pengalaman yang dikemukakan dalam puisi itu.
Pembaca dapat mentransferkan pengalamannya dengan puisi itu kepada pengalaman diri sendiri dan pada peristiwa lainnya. Di sinilah letak kelebihan penyair. Ia tidak langsung memberikan pandangannya kepada pembacanya atau mendikte penikmatnya.
Isi suatu puisi merupakan kombinasi atau sintesis dari bermacam-macam pengalaman, cita-cita, ide-ide, dan hal yang ada dalam benak penyair. Puisi di bawah ini merupakan hasil rekaman Chairil Anwar yang mengisahkan para pejuang kita pada masa revolusi kemerdekaan.
KRAWANG BEKASI

Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapa yang tidak lagi mendengar deru kami.

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggai tulang diliputi debu.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Kerja belum selesai, belum bisa meniperhitungkan arti
4 - 5 ribu nyawa.

Kami cuma tulang-tulang berserakan.
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan.

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.

Perlu dicatat di sini tema tidak sama dengan judul. (Anda perlu pula membuka-buka kembali modul bahasa Indonesia yang berbicara tentang paragraf. Diharapkan dengan cara demikian Anda akan mengetahui perbedaan yang pokok antara tema dengan judul).

Dalam puisi judul merupakan bagian yang ikut membangun makna sebuah puisi. Oleh karena itu, dalam puisi judul merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan isi puisi. Hal ini agak berbeda dengan novel atau film misalnya. Dalam novel atau film kadang-kadang judul hanya dipakai untuk menarik perhatian tidak membayangkan isi, misalnya judul roman Siti Nurbaya dan judul film Kabut Sutra Ungu. Judul puisi dapat disamakan dengan judul lukisan atau judul foto seni: judul itu memperkuat atau memberi makna kepada gambar .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...