SEGALANYA TENTANG PUISI (6)
Subagio
S.Waluyo
G.
Ritme/Irama
Pernahkah
Anda mengamati orang yang berbicara? Anda akan menemukan beberapa hal terutama
dalam lagu orang itu berbicara. Pada saat ia marah, ia berbicara dengan nada
suara yang meninggi. Sebaliknya, pada saat ia menghiba, ia berbicara dengan nada suara yang
merendah. Ada nada yang meninggi-merendah, tekanan yang mengeras-melembut, dan
tempo yang mencepat-melambat yang terdengar ketika ia berbicara. Irama itu
menyangkut arus ujaran. Coba kita lihat bait puisi
di bawah ini.
PAHLAWAN TAK DIKENAL
Toto Sudarto Bachtiar
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya berkata, kita sedang berperang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Bagaimana
kalau Anda membaca puisi di atas? Kalau hanya sekedar membaca saja itu mudah
Akan tetapi, kalau membaca dengan arus ucapan yang tepat sehingga dapat
mengungkapkan dan menafsirkan makna sajak agak sulit. Di sini seorang pembaca
harus bisa menangkap maknanya dan menafsirkan makna itu. Imaji apa yang
dituangkan penyair dalam puisinya. Pembacanya harus bisa menghayati puisi itu,
barulah ia bisa membacanya dengan baik. Pada saat orang membaca puisi dengan
penghayatan yang penuh, ritme atau irama pembacaannya akan disesuaikan dengan
penghayatannya. Salah satu kemungkinan irama bait puisi itu sebagai berikut:
...
uu – u – u u – – u u u –
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
uu – u – u u – – u u u –
Tetapi bukan tidur, sayang
uu – u – u u – – u u u –
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
uu – u – u u – – u u u –
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang berperang
uu – u – u u – – u u u –
Dia tidak ingat bilamana dia datang
uu – u – u u – – u u u –
Kedua lengannya memeluk senapang
uu – u – u u – – u u u –
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
uu – u – u u – – u u u –
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Tanda (u) menunjukkan tekanan lembut. Tanda (-) menunjukkan
tekanan mengeras. Dengan demikian, tekanan melembut dan mengeras saling
berselingan mengikuti pola seperti digambarkan di atas.
Pola irama
dalam puisi Eropa klasik biasanya sudah tertentu seperti dalam lagu ada pola
irama 3/4, 4/4, 6/8, dan sebagainya. Pola irama itu disebut kaki sajak. Kaki
sajak itu bermacam-macam, antara lain:
- Jambe :
u - / u –
- Anapes :
u u - / u u –
- Troche :
- u / - u
- Dactylus :
- u u / - u u.
Untuk lebih
jelasnya mengenai pemakaian istilah di atas, silakan baca buku 200 Tanya Jawab tentang Sastra Indonesia oleh Usman Effendi.
H.
Tema
Penyair sama
saja dengan seniman lainnya. Penyair penulis puisi tentu dengan maksud
tertentu; ia mempunyai tujuan dan keinginan yang ingin disampaikan. Tema puisi
itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan karena menarik atau mengagumkan. Tema
bisa berupa pandangan penyair, dorongan kepada orang atau lembaga tertentu,
atau nasihat-nasihat yang berguna kepada sesama umat manusia. Segala aktivitas
yang ada di muka bumi ini bisa dijadikan tema sebuah puisi.
Puisi yang
baik ialah puisi yang bisa memberikan kesempatan kepada pembaca atau
penikmatnya untuk mengambil kesimpulan sendiri dari pengalaman yang dikemukakan
dalam puisi itu.
Pembaca
dapat mentransferkan pengalamannya dengan puisi itu kepada pengalaman diri
sendiri dan pada peristiwa lainnya. Di sinilah letak kelebihan penyair. Ia
tidak langsung memberikan pandangannya kepada pembacanya atau mendikte
penikmatnya.
Isi suatu
puisi merupakan kombinasi atau sintesis dari bermacam-macam pengalaman,
cita-cita, ide-ide, dan hal yang ada dalam benak penyair. Puisi di bawah ini
merupakan hasil rekaman Chairil Anwar yang mengisahkan para pejuang kita pada
masa revolusi kemerdekaan.
KRAWANG BEKASI
Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapa yang tidak lagi mendengar deru kami.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggai tulang diliputi debu.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Kerja belum selesai, belum bisa meniperhitungkan arti
4 - 5 ribu nyawa.
Kami cuma tulang-tulang berserakan.
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Perlu
dicatat di sini tema tidak sama dengan judul. (Anda perlu pula membuka-buka kembali modul bahasa Indonesia yang berbicara tentang
paragraf. Diharapkan dengan cara demikian Anda akan mengetahui perbedaan yang
pokok antara tema dengan judul).
Dalam puisi
judul merupakan bagian yang ikut membangun makna sebuah puisi. Oleh karena itu,
dalam puisi judul merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan isi
puisi. Hal ini agak berbeda dengan novel atau film misalnya. Dalam novel atau
film kadang-kadang judul hanya dipakai untuk menarik perhatian tidak
membayangkan isi, misalnya judul roman Siti Nurbaya dan judul film Kabut Sutra Ungu. Judul puisi dapat disamakan dengan judul lukisan
atau judul foto seni: judul itu memperkuat atau memberi makna kepada gambar .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar