MANUSIA PUNYA MASALAH
Subagio S. Waluyo
Sebagai manusia yang menjalani kehidupan tentunya kita tidak lepas dari berbagai macam masalah. Masalah memang tidak bisa diprediksi dan terkadang datang dalam berbagai macam bentuk yang senantiasa membuat hidup kita semakin sulit baik secara fisik maupun mental. Terkadang kita membutuhkan kata-kata motivasi hidup dari orang-orang terdekat kita untuk senantiasa membuat hidup kita lebih semangat.
Layaknya roda kehidupan yang terus berputar, terkadang kita sering merasa masalah yang kita hadapi berat dan membuat kita berpikir bahwa masalah tersebut tidak akan berlalu. Namun percayalah, semua hal di dunia ini tidak ada yang permanen dan suatu saat akan berlalu termasuk masalah kita.
(https://www.cermati.com/artikel/kata-kata-motivasi-hidup-terbaik-untuk-buat-hidup-kamu-lebih-semangat)
Jangan pernah bermimpi ada orang yang
mengaku tidak punya masalah. Orang itu pasti bohong. Coba saja kita gali memori
kita, ketika masih bayi dulu, mengapa ketika lapar dan haus kita tidak bisa berbicara?
Kita hanya bisa menangis. Hanya sang ibu yang benar-benar memahami yang kita
rasakan. Dia siapkan ASI sehingga kita tidak lagi menangis. Kita pun merasa
nyaman dalam dekapan sang ibu yang pernuh kasih menyusui kita. Jadi, kita punya
masalah karena kita hanya bisa menangis ketika lapar, haus, atau pipis atau
buang air besar (bab). Kita sejak lahir punya masalah. Kita sangat bergantung
pada bantuan orang lain (sang ibu) itu sudah cukup bahwa kita punya masalah.
Apakah setelah itu kita tidak punya masalah? Tetap saja kita punya masalah.
Sejak kita lahir sampai dewasa pun tetap kita punya masalah. Kalau begitu apa
itu masalah?
Dalam tulisan yang berjudul “ Ide-Aktivitas-Produk-Ide” yang ada di blogspot ini, disebutkan bahwa
masalah timbul karena antara ide dan fakta terjadi ketidaksinambungan yang jika
dibuat dalam bentuk simbol seperti ini:≠ . Kalau simbolnya seperti ini : ═
berarti ada kesinambungan antara ide dan fakta sehingga tidak timbul masalah. Tetapi,
lain lagi kalau begini: ≠ berarti tidak
ada kesinambungan ide dengan fakta sehingga timbul masalah. Jadi, masalah itu merupakan
wujud ketidak-sinambungan antara ide dan fakta. Ada orang maunya dapat gaji
sepuluh juta per bulan. Tapi, dia hanya dapat separuhnya. Pasti timbul masalah
karena dia merasakan gajinya masih tidak sesuai dengan yang diinginkannya.
Boleh jadi dengan menerima gaji sebesar itu tidak sesuai dengan kebutuhan
hidupnya. Meskipun demikian, dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang
diberikan rezeki berlimpah juga timbul masalah. Dia merasa tidak aman dan
nyaman hidupnya. Dia tidak aman karena ada rasa khawatir kalau sewaktu-waktu
ada orang yang menguras tabungannya di bank atau ada orang yang merampok
rumahnya. Akhirnya, dia melakukan berbagai cara agar aman dari pencurian atau
perampokan. Walaupun upaya pengamanan telah dilakukan, tetap saja dia merasa
tidak menikmati hidup yang sebenarnya. Berarti dia `kan tidak nyaman hidupnya?
Coba bandingkan dengan petikan cerpen di bawah ini.
Sorga
itu ada di sini. Kalau kau tak percaya, sesekali datanglah ke mari. Kau akan
melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin, kau akan mengatakannya
sebagaimana aku mengatakannya padamu.
Ya,
sorga itu ada di sini. Di pinggiran kali berwarna cokelat, dengan rumah-rumah
kardus atau tripleks, dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini,
melambai-lambai ditiup angin.
........................................................................................................................
Aku
tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. Tidak hanya laki-laki, tetapi juga
perempuan… dan anak-anak. Mereka gembira. Mereka bahagia, bahkan kudengar
mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Tangisan si kecil membuat
mereka kian bahagia. Sempat kudengar ada suara anak kecil, bahkan lidahnya
belum fasih mengucapkan ”r”, mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya
yang lantang, bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil.
Adik?
Aku tersenyum di tengah sampah. Bulan di atas sana membulat putih, bagai
piring perak, membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun, air, gedung,
bahkan sampah. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu, penasaran apa
yang terjadi di sana. Tetapi, tentu saja kuurungkan, karena itu akan
mengganggu kegembiraan mereka.
(Cerpen “Garis Cahaya Bulan”/Yunusa
Nugroho)
|
Yanusa
Nugroho dalam petikan cerpennya di atas mengungkapkan bahwa sorga (bukan sorga
yang sebenarnya tapi kenikmatan hidup) bukan di rumah yang megah dan mewah.
Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang kelebihan uang. Tetapi, di sebuah
gubuk, di pinggiran kali yang airnya keruh kecoklatan. Rumah-rumah mereka tidak
layak disebut rumah karena hanya berupa kardus atau tripleks yang ukuran
rumahnya persis liliput. Rumah-rumah itu juga berfungsi sebagai tiang jemuran.
Rumah-rumah mereka jelas tidak nyaman untuk istirahat. Meskipun demikian,
justru di rumah itu terdengar gelak tawa. Rumah yang ramai dengan kecerian yang
penghuninya seperti tidak mengalami kesusahan hidup ketika sang ayah membawa
bayi merah yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Kehadiran sang bayi
tidak menjadi beban bagi penghuni rumah kardus itu. Mereka seperti mendapat
rezeki yang berlimpah dari Sang Maha Pencipta.
Masih di cerpen yang sama, coba
bandingkan kehidupan orang kaya ketika berhadapan dengan cobaan kehadiran bayi
merah hasil perbuatan zinanya dengan kekasihnya (yang bukan suaminya) dia
merasa takut hasil perbuatannya diketahui suaminya. Suaminya yang pergi lebih
dari setahun tiba-tiba saja memberi kabar mau pulang ke rumahnya. Sang istri
yang tergolong muda (23 tahun) yang selama setahun ditinggal suaminya sempat
berselingkuh dengan kekasih gelapnya melahirkan seorang bayi merah tentu saja
panik. Tentu saja dia merasa tidak nyaman walaupun kehadiran seorang bayi merah
bagi sebuah keluarga seharusnya sebuah karunia Tuhan. Tetapi, bagi penghuni
rumah mewah itu bisa menjadi malapetaka karena dia lahir dari hasil
perselingkuhan dua orang anak manusia yang tidak diikat oleh tali pernikahan
alias zina. Sang calon ibu yang lebih mementingkan egonya (karena takut dicerai
suaminya dan kembali hidup miskin) menyuruh seseorang menyingkirkan bayi itu.
Bayi.
Bayi merah. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf,
aku harus merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). Bayi itu, sebagaimana
mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara
nyonya rumah dan kekasihnya. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting,
dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain.
Yang
penting bayi itu lahir dan harus menyingkir, karena si tuan rumah yang sudah
lebih dari setahun tak pulang-pulang itu, mendadak akan pulang. Bayi yang
cantik, bersih dan menawan hati, tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah
besar itu.
Beberapa
orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu, menasihati
agar anak itu diberikan pada orang lain saja. Tetapi nyonya rumah hanya
menggeleng. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya, karena dia
bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. Hmm… pandangan yang
wajar saja, kurasa.
|
Apakah
dengan menyingkirkan bayi merah yang tidak berdosa bisa menyelesaikan masalah?
Pada saat itu (untuk sementara waktu) bisa-bisa saja masalah terselesaikan.
Tetapi, manusia punya hati nurani yang tidak bisa dibohongi, suatu saat dia
akan dihantui rasa bersalah. Bahkan, tidak mustahil rasa bersalah itu akan
terus mengikutinya. Artinya, sepanjang hidupnya dia akan dihantui dengan rasa
bersalah sehingga menjadi sebuah masalah besar yang kalau tidak juga diselesaikan
hidupnya akan terasa hambar. Biasanya kita sering menyaksikan orang-orang
seperti itu, orang-orang yang telah menipis imannya, akan lari ke dunia
maksiat. Dia akan berupaya lari dari kenyataan. Kenyataan itu tetap
mengejarnya. Supaya aman dari kejaran kenyataan dia akan lari ke dunia dugem,
obat-obatan, atau minuman beralkohol atau (bahkan) narkoba. Semua itu dia
lakukan (katanya) untuk mencari ketenangan. Ketenangan yang semu, ketenangan
yang bersifat sementara. Semua yang dinggapnya obat untuk lari dari kenyataan (yang
berbau maksiat) itu menjadikan dirinya sangat tergantung sehingga dia menjadi
hamba dugem, obat-obatan, miras, atau narkoba. Begitu efek dari dugem,
obat-obatan, miras, atau narkoba itu
hilang dia kembali dihantui rasa
bersalah. Dia tidak bisa menikmati kehidupan karena selalu dihantui rasa
bersalah. Tidak mustahil dosis tuntutannya semakin hari semakin besar dan suatu
saat tidak mustahil dia akan mati entah bunuh diri atau mati dalam lumpur
kemaksiatan.
***
Di
atas disebutkan bahwa orang yang dihantui rasa bersalah tidak bisa menikmati
kehidupan. Perasaan bersalah menjadikan orang lari dari kenyataan hidup. Untuk
itu, banyak orang yang berusaha
menenangkan diri melalui cara-cara abnormal seperti disebutkan di atas.
Cara-cara seperti itu tetap saja tidak memecahkan masalah karena manusia punya
hati nurani yang tidak bisa dibohongi.Meskipun demikian, banyak manusia yang
tetap saja berbohong baik pada diri sendiri maupun pada orang lain (entah anak,
istri/suami, atau kerabat). Di puisi “Sajak Potret Keluarga”(WS Rendra), misalnya, sang ayah berusaha berbohong bahwa dia berhasil menjadikan keluarganya sejahtera
karena semua sarana kehidupan seperti rumah, mobil, TV, pendidikan untuk
anak-anaknya, dan agama telah tercukupi. Jadi, tidak perlu ada yang mengeluh
karena mengeluhkan keadaan tidak ada gunanya. Katanya lagi, orang harus santai
karena hanya orang edan (gila) yang sengaja mencari kesukaran. Tidak perlu
memprotes keadaan karena tidak akan ada perubahan. Malah dengan memprotes akan
hilang jabatan (ini menunjukkan egoisme sang ayah). Itu penjelasan sang ayah sebagai kepala rumah tangga yang merasa bahwa hidupnya tidak punya masalah.
SAJAK POTRET
KELUARGA
WS
Rendra
Tanggal
lima belas tahun rembulan.
Wajah
molek bersolek di angkasa.
Kemarau
dingin jalan berdebu.
Ular
yang lewat dipagut naga.
Burung
tekukur terpisah dari sarangnya.
Kepada
rekannya berkatalah suami itu :
“Semuanya
akan beres. Pasti beres.
Mengeluhkan
keadaan tak ada gunanya.
Kesukaran
selalu ada.
Itulah
namanya kehidupan.
Apa
yang kita punya sudah lumayan.
Asal
keluarga sudah terjaga,
rumah
dan mobil juga ada,
apa
palgi yang diruwetkan ?
Anak-anak
dengan tertib aku sekolahkan.
Yang
putri di SLA, yang putra mahasiswa.
Di
rumah ada TV, anggrek,
air
conditioning, dan juga agama.
Inilah
kesejahteraan yang harus dibina.
Kita
mesti santai.
Hanya
orang edan sengaja mencari kesukaran.
Memprotes
keadaaan, tidak membawa perubahan.
Salah-salah
malah hilang jabatan.”
|
Sang
bapak rupanya telah berbohong. Ungkapan seorang ibu yang jujur justru berbicara
sebaliknya. Sebagai istri, dia merasa hidupnya penuh dengan ketidakjelasan
karena semuanya serba kabur (melayang-layang tidak karuan). Sang suami ternyata
lebih asyik dengan dunianya sendiri padahal hidupnya penuh hutang. Buktinya,
SPP anak-anaknya selalu terlambat dibayar sehingga pendidikan anak-anaknya
tidak terjamin. Kalau pada puisi di atas disebutkan, “Anak-anak dengan tertib
aku sekolahkan. Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa”. Itu hanya sebatas
menipu orang lain agar orang memandang bahwa keluarganya orang yang terdidik.
Namun, dalam kenyataan sehari-hari ungkapan jujur istrinya berkata sebaliknya,
“Semakin kaya semakin banyak pula utangnya. Uang sekolah anak-anak selalu
lambat dibayar. Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku. Apakah jaminan
pendidikannya?”. Padahal kata sang istri ketika remaja suaminya orang yang baik
hidupnya maupun pikirannya sederhana. Tetapi, sekarang jauh berubah. Semua
barang yang dibelinya dengan harga mahal dianggapnya berengsek. Ada saja yang
harus dikutak-katik sehingga barang-barang di rumahnya (termasuk mobilnya)
tidak ada yang beres. Wajar-wajar saja kalau sang bapak terjangkit berbagai
penyakit internis. Kalau sudah seperti itu, istrinya yang dijadikan luapan
kemarahan. Sang suami (juga bapak bagi anak-anaknya) sebenarnya menyembunyikan
masalah yang besar, yaitu kelemahannya. Dia hanyut oleh kemajuan zaman sehingga
membuatnya “tidak gagah, tidak berdaya
melawannya”.
………
Tanggal
lima belas tahun rembulan
Angin
kemarau tergantung di blimbing berkembang.
Malam
disambut suara halus dalam rumputan.
Anjing
menjenguk keranjang sampah.
Kucing
berjalan di bubungan atap.
Dan
ketonggeng menunggu di bawah batu.
Isri
itu duduk di muka kaca dan berkata :
“Hari-hari
mengalir seperti sungai arak.
Udara
penuh asap candu.
Tak
ada yang jelas di dalam kehidupan.
Peristiwa
melayang-layang bagaikan bayangan.
Tak
ada yang bisa diambil pegangan.
Suamiku
asyik dengan mobilnya
padahal
hidupnya penuh utang.
Semakin
kaya semakin banyak pula utangnya.
Uang
sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
Ya,
Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
Apakah
jaminan pendidikannya ?
Ah,
Suamiku !
Dahulu
ketika remaja hidupnya sederhana,
pikirannya
jelas pula.
Tetapi
kini serba tidak kebenaran.
Setiap
barang membuatnya berengsek.
Padahal
harganya mahal semua.
TV
Selalu dibongkar.
Gambar
yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
Akhirnya
tertidur…….
Sementara
TV-nya membuat kegaduhan.
Tak
ada lagi yang bisa menghiburnya.
Gampang
marah soal mobil
Gampang
pula kambuh bludreknya
Makanan
dengan cermat dijaga
malahan
kena sakit gula.
Akulah
yang selalu kena luapan.
Ia
marah karena tak berdaya.
Ia
menyembunyikan kegagalam.
Ia
hanyut di dalam kemajuan zaman.
Tidak
gagah. Tidak berdaya melawannya !”
|
***
Bagaimana dengan ungkapan anak
putrinya? Ternyata, anaknya yang putri merasakan tidak bisa menikmati kehidupan
yang nyaman. Sang anak ingin pergi dari rumahnya. Kalau perlu, dia minta pacarnya
untuk menghamilinya supaya bisa pergi
dari rumahnya. Dia sangat membenci kehidupannya karena sang ayah yang gampang
marah (cuma disebabkan oleh masalah-masalah yang sepele) yang membuat dirinya
tertekan. Pendidikan di sekolah yang dijalaninya ternyata tidak menjadikan
dirinya mandiri. Karena kosong jiwanya, dia mengajak sang pacar untuk menemani merampok bank. Bahkan, yang
lebih gila lagi dia minta pacarnya untuk menyuntikkan morfin ke bagian tubuhnya
yang paling sensitif. Bukankah ini lebih
merupakan jawaban menohok buat sang ayah yang dengan angkuhnya mengatakan “Inilah kesejahteraan yang harus
dibina”. Apa yang harus dibina kalau anak putrinya sudah tidak betah hidup di
tengah-tengah keluarga walaupun bergelimang harta?
…………………………………..
Tanggal
lima belas tahun rembulan.
Tujuh
unggas tidur di pohon nangka
Sedang
di tanah ular mencari mangsa.
Berdesir-desir
bunyi kali dikejauhan.
Di
tebing yang landai tidurlah buaya.
Di
antara batu-batu dua ketam bersenggama.
Sang
Putri yang di SLA, berkata :
“Kawinilah
aku. Buat aku mengandung.
Bawalah
aku pergi. Jadikanlah aku babu.
Aku
membenci duniaku ini.
Semuanya
serba salah, setiap orang gampang marah.
Ayah
gampang marah lantaran mobil dan TV
Ibu
gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.
Suasana
tegang di dalam rumah
meskipun
rapi perabotannya.
Aku
yakin keluargaku mencintaiku.
Tetapi
semuanya ini untuk apa ?
Untuk
apa hidup keluargaku ini ?
Apakah
ayah hidup untuk mobil dan TV ?
Apakah
ibu hidup karena tak punya pilihan ?
Dan
aku ? Apa jadinya aku nanti ?
Tiga
belas tahun aku belajar di sekolah.
Tetapi
belum juga mampu berdiri sendiri.
Untuk
apakah kehidupan kami ini ?
Untuk
makan ? Untuk baca komik ?
Untuk
apa ?
Akhirnya
mendorong untuk tidak berbuat apa-apa !
Kemacetan
mencengkeram hidup kami.
Kakasihku,
temanilah aku merampok Bank.
Pujaanku,
suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku “
|
Bagaimana dengan anaknya yang putra?
Anaknya yang menyandang mahasiswa? Sang anak yang putra juga merasa rumahnya
bagaikan neraka karena cara hidup kedua orangtuanya yang mendewakan harta
meskipun cinta kasih dia dapatkan. Apa artinya sebuah cinta kasih (yang mungkin
bagi sang anak yang putra semu) kalau harta yang didewakan kedua orangtuanya.
Sang anak yang putra menolak mengejar kemewahan yang tentu saja menghilangkan
kesejahteraan. Dia tahu benar bahwa ayahnya
yang cenderung mengejar kemewahan kalau dari hasil korupsi sebagai
birokrat. Memang, ayahnya kerap berkata `santai, santai` tetapi ayahnya terbawa
arus kehidupan yang kotor. Sebagai seorang mahasiswa dia merasa seorang petani
yang bekerja keras lebih terhormat daripada ayahnya yang hanya berteriak `santai,santai`
tapi dinilainya tidak produktif karena kekayaannya yang diperoleh dari membuat
peraturan yang cenderung menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain
(rakyat kecil). Ayahnya menurutnya bermental ABS yang tunduk pada atasan
sehingga sang ayah dalam hidup sehari-hari ada kesenjangan dengan orang-orang
di sekitarnya. Ayahnya menurutnya telah menjadi alat penguasa. Sebagai anak
yang kritis, dia tidak mau mengikuti cara hidup kedua orangtuanya. Bagi sang
anak “Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.”
………………………………………
Tanggal
lima belas tahun rembulan.
Atap-atap
rumah nampak jelas bentuknya
di
bawah cahaya bulan.
Sumur
yang sunyi menonjol di bawah dahan.
Akar
bambu bercahaya pospor.
Keleawar
terbang menyambar-nyambar.
Seekor
kadal menangkap belalang.
Sang
Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya:
“
Ayah dan ibu yang terhormat,
aku
pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta
kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi
aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya,
aku menolak untuk mendewakan harta.
Aku
menolak untuk mengejar kemewahan,
tetapi
kehilangan kesejahteraan.
Bahkan
kemewahan yang ayah punya
tidak
juga berarti kemakmuran.
Ayah
berkata : “santai, santai ! “
tetapi
sebenarnya ayah hanyut
dibawa
arus jorok keadaan
Ayah
hanya punya kelas,
tetapi
tidak punya kehormatan.
Kenapa
ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
Hasil
dari bekerja ? Bekerja apa ?
Apakah
produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
Seorang
petani lebih produktip daripada ayah.
Seorang
buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah
hanya bisa membuat peraturan.
Ayah
hanya bisa tunduk pada atasan.
Ayah
hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
Ayah
tidak produktip melainkan destruktip.
Namun
toh ayah mendapat gaji besar !
Apakah
ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
tidak
pernah, bukan ?
Terlalu
beresiko, bukan ?
Apakah
aku harus mencontoh ayah ?
Sikap
hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
Ayah
dan ibu, selamat tinggal.
Daya
hidupku menolak untuk tidak berdaya. “
Yogya,
10 Juli 1975.
Potret
Pembangunan dalam Puisi
|
***
WS Rendra lewat “Sajak Potret Keluarga”
menjawab permasalahan yang ada di kalangan orang-orang atas (pejabat tinggi)
yang ternyata kalau diamati hidupnya jauh dari bahagia atau sejahtera.
Buktinya, walaupun sang ayah teriak `santai,santai` ternyata itu sekedar menutupi
celah-celah kekurangan hidupnya yang sebenarnya penuh dengan masalah. Jadi,
jangan mudah berkata `saya tidak punya masalah` yang ternyata dari kita lahir
saja sudah punya masalah apalagi setelah kita dewasa dan menjalani kehidupan
sampai saat ini. Terlalu angkuh kalau ada orang yang merasa tidak punya masalah.
Justru, dengan masalah kita berupaya memecahkan masalah. Bukankah manusia
modern saat ini bisa menikmati kehidupan yang serba mudah dimulai dari
memecahkan setiap masalah? Dengan adanya masalah manusia berupaya melakukan
pemecahan masalah yang memunculkan ide-ide baru. Tanpa adanya masalah mustahil
akan muncul ide-ide baru atau hasil-hasil kreativitas yang bisa dinikmati oleh
kita semua sehingga kita layak bersyukur kalau kita hidup selalu diliputi
berbagai masalah.
Sumber Gambar:
(https://images.app.goo.gl/ybHKw69hfAURYgrS7)
Sumber Gambar:
(https://images.app.goo.gl/ybHKw69hfAURYgrS7)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar