MASYARAKAT PUNYA MASALAH (3)
Subagio S. Waluyo
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
("Sajak Anak Muda" karya WS Rendra)
***
Salah
satu tuntutan dan juga menjadi tujuan PB adalah pendidikan berkualitas. Dengan
melihat pada anak bangsa yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan, tampaknya bukan hanya mereka
tidak bisa menikmati pendidikan berkualitas, untuk bisa hidup sehat dan
sejahtera (sesuai dengan tujuan PB di atas) sangat tidak mungkin. Mereka yang
hidup di bawah garis kemiskinan dijamin tidak bisa menikmati pendidikan
berkualitas. Paling-paling mereka hanya bisa
menyekolahkan anak sampai tingkat SD. Itupun SD negeri yang gratis.
Karena gratis, wajar-wajar saja kalau guru-gurunya ketika mengajar memberikan
pengajaran yang juga apa adanya alias asal mengajar. Boleh jadi untuk pelajaran
tertentu, karena ada semacam Lembar Kerja Siswa (LKS) yang juga diberikan
gratis, guru cukup meminta murid-muridnya mengerjakan tugas sementara sang guru
dengan enaknya meninggalkan kelas. Sang guru ternyata nongkrong di kantin sekolah sambil merokok dan ngopi. Apa yang mau dihasilkan dari pola pendidikan seperti ini?
Wajar-wajar saja kalau tidak ada pencerdasan buat anak didiknya. Orang tuanya pemulung, misalnya, nanti sang
anak akan mengikuti jejak orang tuanya. Nasibnya tidak jauh dari orang tuanya.
Memang, ada ditemui orang-orang miskin yang bisa menyekolahkan anak sampai
sarjana. Bahkan, ada yang sampai anaknya jadi dokter. Tapi, itu belum jadi
fenomena. Itu hanya kasus yang bisa dihitung dengan jari.
Selain mereka yang tergolong hidup di bawah garis kemiskinan tidak bisa menikmat pendidikan berkualitas, mereka juga tidak mustahil akan terancam karena kalau sakit mereka tidak bisa berobat di rumah sakit dengan alasan tidak bisa membayar iuran BPJS. Kalau ada kebijakan di kabupaten/kota yang menggratiskan pengobatan buat orang-orang miskin, sebuah kebijakan yang layak diacungkan jempol. Tapi, coba kita telusuri, ada berapa kabupaten/kota yang memiliki kebijakan tersebut? Kebijakan itu hanya bisa dilakukan oleh kabupaten /kota yang potensi daerahnya berlebih. Kalau yang pas-pasan (apalagi minus), jangan diharap. Sebuah kebijakan yang sangat luar biasa kalau ada kabupaten /kota yang minus potensi daerahnya tapi karena pimpinannya sangat peduli dengan orang-orang miskin bisa menggratiskan orang-orang miskin berobat di rumah sakit. Pimpinan yang berpihak pada orang-orang miskin ini yang patut ditiru. Hanya yang jadi pertanyaan masih adakan pimpinan di negara ini yang seperti itu?
Selain mereka yang tergolong hidup di bawah garis kemiskinan tidak bisa menikmat pendidikan berkualitas, mereka juga tidak mustahil akan terancam karena kalau sakit mereka tidak bisa berobat di rumah sakit dengan alasan tidak bisa membayar iuran BPJS. Kalau ada kebijakan di kabupaten/kota yang menggratiskan pengobatan buat orang-orang miskin, sebuah kebijakan yang layak diacungkan jempol. Tapi, coba kita telusuri, ada berapa kabupaten/kota yang memiliki kebijakan tersebut? Kebijakan itu hanya bisa dilakukan oleh kabupaten /kota yang potensi daerahnya berlebih. Kalau yang pas-pasan (apalagi minus), jangan diharap. Sebuah kebijakan yang sangat luar biasa kalau ada kabupaten /kota yang minus potensi daerahnya tapi karena pimpinannya sangat peduli dengan orang-orang miskin bisa menggratiskan orang-orang miskin berobat di rumah sakit. Pimpinan yang berpihak pada orang-orang miskin ini yang patut ditiru. Hanya yang jadi pertanyaan masih adakan pimpinan di negara ini yang seperti itu?
Pemimpin
yang cerdas yang juga punya kepedulian (karena juga ada pemimpin yang cerdas
tapi cuek bebek) akan berupaya melakukan inovasi agar daerah yang dipimpinnya
terselamatkan dari kemiskinan. Dia akan berupaya memanfaatkan potensi daerah
yang dimilikinya. Di benaknya cuma ada pemikiran cara meningkatkan potensi
daerahnya. Dengan adanya peningkatan potensi daerah diharapkan akan terjadi
pendapatan daerah. Bukan hanya itu, warganya akan meningkat pendapatannya.
Kalau pendapatan sudah meningkat praktis akan terjadi pengurangan jumlah orang
miskin. Kalau sudah meningkat pendapatannya dan terselamatkan dari kemiskinan,
warganya bisa mengecap pendidikan yang layak. Bahkan, warganya akan hidup sehat
karena sudah dipastikan mereka akan bisa membayar iuran BPJS. Syukur-syukur
dari peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) pemerintah daerah bisa
menggratiskan biaya pengobatan buat warganya. Berikut ini contoh konkrit
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang menanggung biaya pengobatan bagi warganya
yang tergolong benar-benar miskin yang dananya bersumber dari APBD Kabupaten
Kulon Progo.
TRIBUNJOGJA.COM,
KULON PROGO - Proses identifikasi dan validasi belasan ribu warga yang
dicoret dari daftar penerima bantuan iuran (PBI) bersumber APBN untuk program
BPJS Kesehatan masih terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Pemkab
memastikan warga miskinnya itu tetap akan ditanggung biaya pengobatannya.
Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulon Progo, Agus Langgeng
Basuki mengatakan jika warga yang dicoret itu benar-benar tegolong warga miskin,
Pemkab akan menanggung pembiayaannya melalui PBI bersumber APBD Kulon Progo.
Kader penanggulangan kemiskinan di bawah DInas Sosial, Pemberdayaan
Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulon Progo kini masih mengecek
kondisi riil para peserta yang dinonaktifkan itu.
|
***
Berkaitan
dengan Kabupaten Kulon Progo yang bisa membebaskan warga miskinnya untuk
memperoleh pengobatan gratis, sebagaimana telah diuraikan di atas, hal itu
tidak terlepas dari peran pimpinan daerahnya atau bupatinya. Adalah Hasto
Wardoyo sang bupati yang kerap melakukan berbagai gebrakan (dalam hal ini
inovasi) yang membuat warganya layak bersyukur.Beberapa program yang dapat
diapresiasi warganya di antaranya adalah Program Bela dan Beli Kulon Progo.
Maksudnya, Pemkab Kulon Progo mewajibkan para pegawainya baik dari pegawai
Pemkab maupun Kelurahan untuk membeli produk batik yang dihasilkan oleh
warganya sendiri. Kalau selama ini warganya kesulitan memasarkan produk
batiknya, sejak adanya instruksi Pemkab Kulon Progo praktis semua sekolah dan
kantor instansi pemerintah membeli batik `Geblek Renteng` (batik produk
industri rumah warga Kulon Progo). Dengan adanya program tersebut para
pengusaha batik yang semula mengalami kelesuan, mereka `sumringah` karena
ratusan miliar rupiah masuk ke kantongnya.
Bukan
hanya batik, para petani pun diuntungkan. Itu dimulai ketika sang bupati
mewajibkan para pegawainya dari level tertinggi sampai terbawah untuk membeli
beras produk dari petani Kulon Progo. Dengan cara seperti itu industri
pertanian mengalami lonjakan pendapatan.
Inovasi sang bupati terus merambah ke air minum. Kabupaten Kulon Progo
seperti diketahui memiliki sumber air jernih yang melimpah. Melihat kondisi
seperti itu sang bupati membuka perusahaan air produk lokal yang diberi nama
`Airku`. Karena produknya melimpa, air kemasan itu diekspor ke luar daerah.
Dari produk `Airku` ada peningkatan pendapatan daerah dan juga bisa
menyejahterakan masyarakat.
Dari
banyaknya daerah-daerah di Indonesia, nama Kabupaten Kulon Progo mungkin
tidak akan pernah terlintas di pikiran banyak orang. Sunyi, senyap, jauh dari
pemberitaan, membuat daerah yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta ini seakan
tertutupi sebuah tirai besar yang membuat orang noleh pun tidak. Meskipun
demikian, bukan berarti daerah ini tidak memiliki prestasi apa pun yang
pantas untuk dibanggakan.
Di
bawah pimpinan sang bupati bernama Hasto Wardoyo, Kabupaten Kulon Progo
menjadi salah satu daerah yang paling maju dan prestisius di Indonesia. Ya,
sang Bupati melakukan banyak sekali gebrakan maut yang mampu membuat
masyarakat Kulon Progo bersyukur luar biasa dengan keadaannya yang sekarang.
Pujian pun terlontar kepada sang bupati sebagai mastermind dari deretan
capaian greget Kabupaten Kulon Progo.
1.
Program Bela dan Beli Kulon Progo Bikin Rakyat Sumringah
Sama
seperti kebanyakan daerah di DI Yogyakarta lainnya, Kulon Progo juga punya
batik khasnya sendiri yang bernama Geblek Renteng. Sayangnya, kiprah batik
unik tersebut tak setenar Yogyakarta dan Solo. Hingga akhirnya Hasto pun
putar otak, dan akhirnya terciptalah sebuah program ekonomi kerakyatan
bernama Bela dan Beli Kulon Progo.
Program
ini mewajibkan para pegawai negeri dan siswa di Kulon Progo untuk memakai
batik Geblek Renteng pada hari-hari tertentu dalam seminggunya. Alhasil, para
pembatik pun seperti ketimpahan rejeki luar biasa. Bahkan mereka mulai
kewalahan dalam memenuhi pemesanan. Berkat program ini, ratusan miliar pun
mengalir deras ke kantong-kantong pengrajin yang kini jumlahnya sudah
mencapai puluhan.
2.
Hasto Membuat Petani Kulon Progo Makmur
Bagi
sebuah kabupaten, sektor pertanian adalah hal utama yang harus dimajukan.
Hasto pun juga tak lupa melakukan hal yang sama di daerahnya. Namun ia punya
cara unik yang mungkin jadi insipirasi banyak pemimpin lainnya. Lagi-lagi, ia
memanfaatkan rakyat sendiri untuk memasarkan padi-padi petani.
Hasto
mewajibkan para PNS yang jumlahnya hampir 8 ribu itu untuk membeli padi
produksi petani lokal, 10 kilogram dalam sebulannya. Hasilnya mencengangkan,
industri pertanian Kabupaten Kulon Progo pun makin hidup dan terus
berkesinambungan. Bahkan Hasto juga mengatur Bulog agar ikut berpartisipasi
dalam sistem pertanian rakyat ini. Keren!
3.
Sang Bupati Ciptakan Kemasan Air Minum Sendiri
Kabupaten
Kulon Progo patut bersyukur karena memiliki kondisi geografis yang unik.
Namun karunia ini akan jadi sia-sia kalau tidak ada tangan kreatif yang
mengolahnya. Salah satu unggulan Kulon Progo adalah sumber air bersihnya yang
melimpah. Dan tanpa basa-basi, Harto pun memanfaatkan hal tersebut dengan
mendirikan sebuah perusahaan air minum.
Bernama
AirKu (Air Kulon Progo) usaha ini berkembang sangat pesat. Tak hanya mampu
menyuplai kebutuhan air warga, Airku juga mulai dipasarkan dalam bentuk
kemasan air minum ke daerah sendiri dan sekitar yang lebih luas. Saat ini
AirKu mulai melakukan ekspansi besar karena permintaannya yang besar. Program
ini pun menyumbang banyak sekali bagi pemerintah daerah.
|
Dengan
adanya langkah-langkah di atas terjadi penurunan jumlah orang miskin. Memang,
Kabupaten Kulon Progo merupakan kabupaten yang paling tinggi tingkat
kemiskinannya. Data terbaru menyebutkan 17,39% warga Kulon Progo yang tergolong
miskin. Angka tersebut memang telah mengalami penurunan sebesar 1% saja.
Meskipun demikian, dengan sang bupati yang inovatif tidak mustahil dari tahun
ke tahun akan terjadi penurunan jumlah orang miskin di Kabupaten Kulon Progo (https://jogja-politan.harianjogja.com/ read/2020/01/14/514/1029- 457/data-terbaru-ku-lonprogo-masih-jadi-yang
-termiskin-di-diy.).
***
Pemkab
Kulon Progo melarang keras iklan rokok. Di berbagai tempat ada larangan
merokok. Pelarangan iklan rokok yang bagi berbagai daerah bisa menjadi sumber pemasukan lewat iklan-iklan
dan billboard-nya, di Kabupaten Kulon Progo justru ada pelarangan yang tentu
berimbas pada pemasukan kas daerah. Sang bupati berpikir lain, justru dengan
adanya pelarangan iklan rokok membuat hidup warganya baik secara fisik maupun
moral akan lebih sehat. Jadi, sang bupati yang juga seorang dokter ini lebih
mengedepankan sisi kesehatan fisik dan moral daripada membiarkan iklan-iklan
rokok terpampang di berbagai tempat di daerahnya. Bukankah ini merupakan
inovasi yang luar biasa? Sebagai tambahan, sebagaimana telah diuraikan di atas
yang berkaitan dengan kesehatan, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang peduli
dengan kesehatan seluruh warganya, memberikan semacam free of charge sebesar Rp 5 juta per orang pada warganya yang
sakit. Dengan demikian, sebuah kabupaten yang tergolong paling besar jumlah
orang miskinnya bisa disejahterakan dengan adanya kemudahan berkat inovasi yang
dilakukan sang pemimpin daerah. Walaupun di daerah yang dipimpinnya tergolong
tinggi jumlah orang miskinnya, karena mereka difasilitasi usahanya dan
dimudahkan untuk memperoleh pelayanan kesehatan, warga yang hidupnya miskin
banyak tertolong oleh kerja-kerja inovatif sang bupati.
.............................................................................................................
5.
Tak Takut Miskin Dengan Anti Rokok
Tak
menampik fakta jika deretan perusahaan rokok di negeri ini menyumbang banyak
sekali ke kas daerah. Entah lewat iklan-iklan billboard sampai produksi
rokoknya sendiri. Sayangnya, hal ini juga berimbas pada moral serta kesehatan
masyarakat. Hasto sendiri bukan tipe orang yang suka melakukan apa pun untuk
memperkaya daerahnya. Yang diperhatikannya justru aspek yang lebih
fundamental tadi yakni moral dan kesehatan.
Alhasil,
ketika kita mampir ke Kabupaten Kulon Progo hampir tak ada yang namanya iklan
rokok atau semacamnya. Bahkan sudah berkali-kali perusahaan rokok
mendatanginya dengan tujuan numpang ngiklan saja. Namun, lagi-lagi sang
Bupati menolak ini dengan alasan rokok akan berpengaruh besar kepada moral
dan kesehatan masyarakat.
6.
Program Kesehatan untuk Rakyat Kecil Tanpa Pandang Bulu
Untuk
urusan kesehatan rakyat, Hasto sudah sejak lama memberlakukan program free of
charge bagi siapa pun warga yang sakit, dengan nilai mencapai Rp 5 juta
rupiah per orang. Program ini berlaku kepada siapa saja tanpa pandang bulu.
Tak
hanya bebas biaya, Hasto juga memberikan kebebasan layanan kesehatan tanpa
dibedakan menurut kelas. Jadi, rakyat miskin juga bisa diurus di kamar-kamar
kelas I dan juga VIP ketika kelas lainnya penuh.
|
Bagaimana
dengan bidang pendidikan yang juga menjadi masalah sosial di negara kita
termasuk yang diambil contoh kasus di sini Kabupaten Kulon Progo? Untuk
Kabupaten Kulon Progo warga yang bisa membaca huruf latin laki-laki sebesar
97,34% dan perempuan sebesar 91,53%. Sementara itu, sebesar 37,67 % (laki-laki)
dan 36,60% (perempuan) bisa membaca huruf lain (huruf Arab, Jawa, atau
lainnya). Dilihat dari sisi umur (5 tahun ke atas) ada 4,14% (laki-laki) dan
(8,54%) belum bersekolah. Yang bersekolah SD/sederajat ada 11,36% (laki-laki)
dan 9,56% (perempuan). Sebanyak 3,26% (laki-laki) dan 3,77% (perempuan)
bersekolah di SMP/ sederajat. Sementara itu, warga yang bersekolah SMA ke atas
(perguruan tinggi) sebesar 7,20% (laki-laki) dan 6,01% (perempuan). Selebihnya,
sebesar 74,04% (laki-laki) dan 72,12% (perempuan) tidak lagi bersekolah. Tidak
bersekolah bukan berarti mereka tidak berpendidikan. Mereka sudah dewasa dan
menjadi orang tua. Boleh juga di antara mereka yang sama sekali menganggur
meskipun dari segi jumlah sangat sedikit, yaitu hanya sebesar 1,80% dari jumlah penduduknya (https://
www.medcom. id/ nasi-onal/daerah/ZkerpMAK-69-170-orang-menganggur-di-yogyakarta).
Yang masih menjadi masalah di Kabupaten Kulon Progo sampai saat ini adalah
masih cukup tingginya anak-anak yang berumur 15 tahun belum memiliki ijazah SD
(artinya mereka tidak tamat SD), yaitu 17,24% (laki-laki) dan 24,51%
(perempuan). Masalah ini menjadi PR tersendiri bagi Pemkab Kulon Progo.
***
Setelah
faktor kesejahteraan yang menyangkut ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang
juga termasuk masalah sosial yang sampai saat ini sulit untuk dituntaskan
adalah masalah pengangguran. Kembali pada Pemkab Kulon Progo dengan sang bupati
yang inovatif yang telah berhasil melakukan banyak perubahan. Salah satu yang
juga patut untuk diapresiasi adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPT
untuk Kulon Progo terendah di DIY, yaitu sebesar 1,8% dibandingkan dengan
tingkat provinsi yang sebesar 3,14%. Itu data yang diperoleh sampai dengan
bulan Agustus 2019 (https://www.medcom.id/nasional/daerah/ZkerpMAK-69-170-orang-menganggur-di-yogyakarta).
Meskipun demikian, secara nasional TPT terendah kalau diambil di tingkat
nasional adalah Provinsi Bali sebesar 1,37%. Kenapa bisa Provinsi Bali
memperoleh angkat paling rendah TPT-nya? Ada beberapa argumen yang menunjukkan
bahwa provinsi ini menjadi yang terbaik dalam TPT terendah. Pertama tentu saja
tersedianya lapangan kerja yang cukup dan bersifat permanen. Kedua, di Bali
terdapat sekian banyak hotel/penginapan yang merupakan salah satu industri
pariwisata yang paling potensial. Ketiga, di Bali juga tidak dikesampingkan
sektor pertanian karena kalau suatu saat dunia wisata lesu bisa beraalih
ke pertanian. Selain itu, pertanian juga
bisa dijadikan objek wisata. Keempat, sektor informal seperti berbagai
kerajinan juga termasuk ke dalamnya dunia fesyen menjadi salah satu produk yang
paling banyak diproduk oleh masyarakat Bali. Kelima, masyarakat Bali memiliki
motivasi yang besar akan industri kecil dan menengah (IKM). Singkatnya, sekian banyak investasi, aktivitas
yang produktif, dan semangat yang besar membuat masyarakat Bali bisa dijamin sedikit
sekali yang menganggur.
KOMPAS.com
- Bicara soal pekerjaan, ketersediaan lapangan kerja seringkali menjadi
pembicaraan utama. Lapangan kerja yang tidak mencukupi kerap disebut sebagai
salah satu penyumbang utama jumlah pengangguran yang tinggi. Kendati
demikian, Bali mungkin bisa menjadi contoh yang mengagumkan bagi provinsi
lain di Tanah Air. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis
akhir 2018 lalu, Provinsi Bali menjadi provinsi dengan angka pengangguran
terendah, yaitu 1,37 persen.
Angka
tersebut juga kembali diungkap oleh Kepala Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Bali, I Putu Astawa. Astawa menyampaikan hal itu ketika
menghadiri acara "IKM Go-Digital" yang diselenggarakan oleh
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, di Kuta, Bali
beberapa waktu lalu. "Angka pengangguran di Bali terendah, yaitu 1,37
persen. Hampir tidak ada yang menganggur di Bali," ujar dia.
Nah,
lalu apa 'rahasia' di balik rendahnya angka pengangguran tersebut? Menurut
Astawa, untuk menekan angka pengangguran harus tersedia jumlah lapangan
pekerjaan yang cukup dan bersifat permanen. Lapangan pekerjaan tersebut juga
harus didukung oleh investasi, dan kegiatan ekspor. Untuk Bali, perhotelan
sebagai bagian dari industri pariwisata menjadi salah satu lapangan kerja
yang paling banyak. Meski begitu, sektor lainnya juga tetap dijaga.
"Pertanian, misalnya, juga tidak boleh ditinggalkan. Kami juga tetap
membina pertanian supaya jika suatu saat pariwisata drop mereka pasti larinya
ke pertanian," kata Astawa. Sektor informal memang menjamur di Bali.
Jumlahnya mencapai sekitar 8,5 persen dari total masyarakat Bali. Mulai dari
kerajinan patung, perak, bambu, busana, anyaman, dan lainnya banyak ditemukan
di Pulau Dewata. Bidang fesyen, menurut dia, menjadi salah satu produk yang
paling banyak dihasilkan oleh masyarakat Bali.
"Fesyen
kan mulai dari perhiasan kepala sampai kaki. Jadi inovasi, diberi sentuhan
misalnya seperti tenun lokal Bali," ucap dia. Ketersediaan lapangan
pekerjaan saja sebetulnya tidak cukup untuk menekan angka pengangguran di
suatu daerah, tanpa diiringi dengan semangat dari masyarakat itu sendiri.
Termasuk dalam menjalankan industri kecil dan menengah. Menurut Astawa,
banyak masyarakat Bali antusias dalam menjalankan IKM karena mendapat
apresiasi yang bagus dari pasar. "Kalau pasar tidak mengapresiasi ini
tidak akan jalan. Jadi yang paling penting bagi kami pasar. Ibaratnya, orang
Bali bikin apa aja dia bisa kok (laku)," tutur dia.
|
a Sangat disayangkan
masyarakat Indonesia bukan seperti masyarakat Bali (walaupun Bali juga bagian
dari Indonesia) yang punya semangat bekerja sehingga tingkat pengangguran di
negara ini masih cukup besar. Dilihat
dari pendidikan tertinggi, tingkat pengangguran tertinggi justru terjadi pada
masyarakat yang berpendidikan SMK sebesar 11,24%. Yang jadi pertanyaan kenapa
tamatan SMK justru paling tinggi tingkat penganggurannya? Bukankah tamatan SMK
memiliki keterampilan sesuai dengan bidangnya, misalnya mereka yang dari
otomotif pasti tidak asing dengan dunia otomotif dan diharapkan terampil ketika
menangani otomotif? Sejajar dengan SMK adalah SMA yang juga tingkat
penganggurannya cukup tinggi meskipun di bawah SMK (7,95%). Mereka yang
mengantongi ijazah D3 atau S1 juga tidak dijamin tidak menganggur. Buktinya pengangguran dari perguruan tinggi masih
tergolong cukup tinggi, seperti D3 (6,02%) dan S1 (5,89%). Coba saja kita bandingkan dengan
mereka yang tamatan SMP (4,80%) jauh di bawah tamatan PT (D3 dan S1). Bahkan,
mereka yang tamatan SD justru paling rendah tingkat penganggurannya, yaitu sebesar
2,43% (https:// images.app.goo.gl/nMqcbHwqjSGda4wq6).Kesimpulan-nya, semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat tidak menjamin
semakin rendah tingkat pengangguran. Justru, mereka yang berpendidikannya
semakin tinggi, semakin tinggi juga tingkat penganggurannya. Sesuatu yang
ironis kalau di negara yang kita cintai ini banyak pengangguran dari
kalangan yang berintelektual cukup
tinggi. Kita namakan pengangguran terdidik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar